Manusia celaka

November 25, 2010 pukul 1:06 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
(Roma 7:24)

Ada sebuah paraphrase: “Hukum diberikan untuk dilanggar”.
Secara kalimat bisa saja benar. Tetapi jika dilihat dari pundasinya, itu salah kaprah.
Hukum diberikan bukan untuk dilanggar, tetapi diberikan untuk memperkenalkan hal-hal apa yang ada pada kita yang tidak boleh dilakukan.
Dalam Kitab Suci dikatakan untuk memperkenalkan standard kudusnya TUHAN, maka Hukum diberikan, diberitakan, dan dikumandangkan.

Jadi karena manusia itu sudah berdosa, terpisah dari ALLAH, maka keadaan dirinya semata-mata lepas dari kendali, lepas dari hukum, lepas dari tataan yang baik. Manusia menjadi di dalam keadaan harus memilih antara berbuat baik atau tidak. Tetapi kemampuan untuk berbuat baik dan tidak itupun harus memiliki acuan, pundasi, sehingga sesuatu itu dapat dikatakan baik, dan dapat dikatakan tidak baik.
Kehilangan acuan ini adalah bagian yang sepaket dari jatuhnya manusia ke dalam dosa. Sehingga dalam dirinya semata-mata cenderung hanya akan berbuat jahat semata. Dan keadaan jahat tertentu yang terkadang diberikan kesempatan untuk menguji kita, dapat membuat kita menjadi besar kepala, dan menganggap itu lumrah. Korupsi satu orang di kantor bisa berbahaya, tetapi jika satu negara korupsi, itu menjadi lumrah, biasa,….dapat diterima… nah rusak satu dunia inilah yang juga sepaket dengan dosa melahirkan dosa. Maut ujungnya,….

Jadi kehilangan acuan dari manusia itulah yang membuat dirinya condong untuk melakukan hal-hal yang salah.
Karena condong melakukan kesalahan itulah maka semisal hukum diberikan pun, tetap saja ia akan melanggarnya, karena di dalam dirinya berjuang antara mengikuti standard pemberi hukum, atau mengikuti hidup tanpa pola, masih di dalam dosa.

Hidup tanpa pola, tanpa acuan ini adalah sangat berbahaya.
Bisa saja seseorang mengatakan mengenal hukum-hukum agama, melakukan hukum-hukum agama.
Tetapi akan menjadi pertanyaan besar adalah…
TUHAN demi agama, atau agama demi TUHAN…
Agama memang mengajarkan tentang TUHAN, tetapi agama tidak dapat menjelaskan sepenuhnya tentang TUHAN, karena TUHAN dan agama tidaklah ESA…
Karena tidak ESA, maka seseorang yang melakukan hukum agama sama dengan orang yang hidup tanpa pola, tanpa acuan,…tetapi seseorang yang hidup bersama TUHAN, maka pada dirinya semoga ia selalu mendapat pencerahan, perubahan, pertumbuhan hari lepas hari, di dalam pengenalan akan TUHAN,.. yaitu DIA yang berkenan hadir di dalam kita.

Orang beragama, tetapi di dalam dirinya tidak ada ROH ALLAH, itu sama saja hidup tanpa agama.
YESUS berkata: ” Jika kamu mengenal AKU, maka kamu mengenal BAPA”.
sekarang ROH ALLAH sedang ada pada kita, maka jika ROH ALLAH ada pada kita maka kita mengenal BAPA.
Kita mengaku mengenal BAPA, artinya kita menuruti semua apa yang dinginkan oleh BAPA.
Jika kita teguh dan setia di dalamnya maka kita tidak lagi manusia celaka.

Pada akhirnya, manusia beragama masih bisa disebut manusia celaka.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: