Hamba Uang

November 22, 2010 pukul 8:19 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
(2Timotius 3:1-4, Terjemahan Baru)

Kota,…. jika diperhatikan trend budaya sekarang, hampir semua tempat kehidupan bergerak menuju bentuk perkotaan.
Jika kita bandingkan sepuluh tahun yang lalu dengan sekarang, di beberapa sudut kota Jakarta masih dapat kita tempat-tempat yang lapang, itu dulu. Orang Jakarta mengatakannya sepi. Sekarang kendaraan sudah lalu lalang. Angkutan kota sudah penuh, tumpah ruah. Manusia hilir mudik dimana-mana, ramai sekali.
Kota, itulah kota. Dan diperkotaan ada hukum berlaku, tidak ada uang maka siap-siaplah “mati” kelaparan. Dari desa, menjadi kota, dari sepi menjadi ramai, dari hidup sederhana menjadi konsumtif….
Menunggu waktu, dan kita sekarang sudah melihatnya…. bahwa cetak biru “perhambaan uang” sudah sedang dimulai…

Di Indonesia uang cash masih laku deras di pasar, … dimana saja proses tukar menukar. Bayangkan beberapa negara lain yang sudah menggunakan “uang-uang imaginer”. Menunggu jadual semua pendapatan bisa saja hanya singgah beberapa hari untuk kemudian disalurkan secara otomatis ke rekening-rekening perusahaan tertentu untuk pembayaran tagihan-tagihan. Itu juga bisa membentuk budaya “penghutang”, alias hamba uang. Sebab suatu saat akan terjadi kebangkrutan-kebangkrutan. Terlilit hutang…. dan…

Suatu saat saya sedang mengurus visa untuk tujuan ke negara tertentu. Di depan security KTP dijejer untuk menunggu giliran masuk. Saya datang pagi-pagi, tetapi sudah banyak KTP berjejer di meja securitynya. Saya dapat urutan ke lima, kalau ngga salah, yang pasti di sekitaran 5 sampai 10. Si satpam berkata, “Masih pagi pak, cari sarapan ajah dulu”.
Saya menurut, karena memang masih pagi, dan harus menunggu 2 jam lagi. Karena kedutaan itu baru akan melayani pengurusan visa sekitar dua jam lagi dari ketibaan saya di sana.
Setelah kenyang saya balik ke pintu security. Puluhan orang sudah ngantri. Saya penasaran, dan memeriksa urutan KTP saya,…. sekarang urutan saya tiba-tiba berubah menjadi urutan 11.
Apa yang terjadi?….
Setelah beberapa kali saya berkunjung untuk pengurusan visa saya, akhirnya dapatlah saya ketahui. Security itu telah bermain mata dengan orang-orang yang mau mengurus visanya. Dan security-security ini sengaja menjejerkan KTP-KTP dari antah berantah untuk “menggertak” pengunjung. Dengan melihat banyaknya KTP maka pengunjung akan berpikir pintas. Mau didahulukan,.. lalu ‘si merah’-pun berpindah tempat dari kantong yang satu ke kantong yang lain. Dilakukan dengan tangan tersembunyi karena ternyata di daerah itu ada CCTV online. Berpikir pintas juga bisa menciptakan perhambaan uang.
Jika tidak diberi uang, si satpam tanpa malu akan mengorbankan orang tertentu demi melancarkan orang lain yang rela memberi uang. Itu disebut hamba uang. Mungkin di Indonesia tercinta, masih banyak orang seperti saudara security ini….. sepertinya tidak hanya mungkin.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: