Paulus & Barnabas feat Anathasius

Oktober 18, 2010 pukul 9:30 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Suatu waktu di abad ke tiga, Anathasius seorang diri harus berjuang menekankan kebenaran Kitab Suci
di tengah pengajaran yang lebih dominan. Kala itu pengajaran kekristenan memang sedang berada di sarang budaya Yunani. Budaya Yunani sarat dengan pemikiran-pemikiran, filsafat.
Sehingga tidak jarang orang membaca Alkitab lalu menjelaskan isinya, atau mungkin menafsirnya dari terang filsafat, kita mengatakan itu menerangkan Kitab Suci dari hikmat manusia.
Manusia menggiring maksud yang terkandung di dalamnya sesuai keinginannya sendiri.

Salah satu tokoh di dalamnya adalah para tokoh-tokoh Kristen dari Alexandria. Alexandria (di Mesir), memang
menjadi pusat pendidikan theologia kuno. Dan memang itu masih terpengaruh sampai hari ini, bahwa jika kita ingin menemukan terjemahan Alkitab dengan bahasa sederhana kita bisa menemukannya dari mata rantai Alexandria. Kemungkinan para pemikir kala itu telah membuat bahasa-bahasa dari Surat-surat Rasul menjadi sedikit lebih relefan dengan pemikiran awam, sehingga mudah dikomunikasikan dengan rakyat biasa. Kita bisa membandingkannya antara versi terjemahan KJV dengan NIV pada masa sekarang ini. Sehingga ada salah satu metode untuk menentukan root terjemahan mendekati ke aslinya, yaitu mana tulisan yang tersulit itu dianggap adalah bagian paling asli dari aslinya, sebab jika sudah terlalu mudah dimengerti berarti sudah merupakan penjelasan supaya lebih mudah dimengerti. Tidak jarang, atau mungkin umum kita ketahui bahwa infiltrasi filsafat kepada Alkitab sangat jauh pada suatu masa dimana Alexandria adalah pusatnya. Bandingkan dengan ke 12 rasul yang hanya nelayan biasa yang tidak memiliki basis pendidikan tertentu, jelas itu sangat kontra dengan sekolah tinggi theologia dan orang-orang yang berhasil ia ciptakan, di Alexandria. Tidak ada yang salah dengan berpendidikan tinggi, sebab Paulus juga seorang yang terdidik, Anathasius juga “ahlinya”, tetapi yang salah adalah ketika Kristus menjadi di dalam keadaan tidak menjadi Kepala, itu sudah repot namanya. Itu ibarat sebuah sekte tertentu yang mengaku Kristen tetapi mengatakan Kristus bukanlah Allah Yang Esa,…itu upsidedown. Dampaknya sangat besar, seperti mengaku manusia tetapi ada ekornya 3 meter,.. apa manusia? apa Kristen?…

Meski Anathasius berkembang di Alexandria, tentu basis filsafatnya masih kental, tetapi dia jauh lebih mendasarkan pandangannya kepada Alkitab.
Alkitab di jelaskan dengan menggunakan Alkitab, ayat-ayat dikuatkan dan didukung oleh ayat-ayat berikutnya di kitab yang lain, sebab kita ketahuai bahwa Alkitab terdiri dari 66 buah Kitab.
Tentu kita mengetahui istilah yang ditawarkan pada pemikir itu, “Alkitab kita sama, hanya pemikiran kita berbeda”, tetapi Anathasius berkata: “Alkitab satu maka pengajarannya juga hanya satu”. Dasar utama para Reformis di abad 16 sudah sangat tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kakinya sudah tertancap pada pengajaran Anathasius ini.

Contoh ini dapat kita lihat pada saat Paulus dan Barnabas menekankan akan arti “anugerah” dibanding usaha manusia. Suatu waktu orang-orang percaya di Anthiokia didatangi beberapa pengajar dari Yerusalem, sepertinya dapat dipastikan pengajar-pengajar ini adalah orang berbasis agama Yahudi, meski mereka sudah percaya kepada YESUS Kristus. Mereka mengajarkan, syarat untuk beroleh selamat adalah harus
melakukan sunat. (dapat kita baca di Kisah Para Rasul 15:1).
TUHAN memilih Yakub bukan karena perbuatannya, sebab ia masih bayi kala ia dipilih. Atau kita kembalikan kisah Abraham, ia baru disunat jauh sebelum ia dipilih oleh TUHAN bukan?. Artinya TUHAN berotoritas memilih, dan pilihanNYA tidak melesat, FirmanNya pasti kembali dengan tidak sia-sia. Berotoritas berarti tidak bergantung kepada apa yang dapat kita lakukan, salah satu aspek pengenalan TUHAN yang dapat kita
ketahuai adalah TUHAN memperkenalkan DiriNYA sebagai “AKU adalah AKU”, IA tidak bergantung kepada ciptaanNYA, kepada perbuatan manusia, dan kepada apapun itu, IA benar-benar Tunggal, ESA, Mutlak.
Bicara soal sunat tentu dasarnya dapat ditemukan di Kitab Suci, mereka mengatakannya sebagai adat istiadat sejak jaman Musa, malah sering disebut Hukum Musa. Dapat kita bayangkan memang jika sebuah kepercayaan sudah menjadi adat istiadat, sungguh hebat dampaknya bukan?, itu sesuatu yang luar biasa.

Suatu waktu saya pernah diskusi dengan seorang India, ia mau menikah, ia seoarang Kristen, tetapi ia terhambat tentang kasta yang melekat pada darahnya.
Seorang Perancis ‘nyletuk’, “Lho kamu ‘kan sudah Kristen, kenapa harus pusing dengan adat istiadat lagi?”,…
Yah itu tamparan kecil kepada seorang yang tidak menjadikan Ajaran Kristus sebagai suatu adat, suatu kebiasaan, suatu yang seharusnya mendarah daging.

Orang Yahudi yang kita bicarakan di atas sudah menjadikan Hukum Musa sebagai suatu adat istiadat, suatu yang luar biasa. Tetapi apa yang kita perhatikan adalah ketika mereka melandaskan perbuatan adat istiadat itu untuk mendapatkan sesuatu yang sudah TUHAN berikan secara cuma-cuma. Ibarat pencaloan koran-koran di jalanan Jakarta. Jelas di koran tersebut diberi label “SAMPLE”, artinya gratis, tetapi oleh ulah pedagang kali lima koran itu dihargai Rp 2000 rupiah. Artinya telah menjadi ada sesuatu yang harus kita lakukan untuk mendapatkan kora itu, yang seharusnya gratis. Keselamatan oleh Kristus itu gratis, sebab Kristus sudah melakukan segala tuntutan kekudusan di atas Salib, … apakah kita harus berperan sebagai Kristus? bukankah Kristus hanya Satu? bukankah ALLAH ESA?…
Kasih karunia adalah pemberian secara cuma-cuma oleh ALLAH,… perbuatan kita yang paling penting adalah meresponi pemberian itu, menerima karena percaya, atau menolak karena tidak percaya. Hanya itu.

Meski Anathasius dikucilkan beberapa kali, termasuk pada saat pra-Nicea, dia tetap kuat mengajarkan tentang isi Kitab Suci, dan kita harus berterimakasih kepada DIA yang mau menguatkan Anathasius, dan kita mengenal proses ini dari buah Anathasius sebagai seorang yang teguh, dan kita diwariskan kebenaran Kitab Suci sampai sekarang. Diwariskan dari minoritas kala itu. “Hanya dengan jumlah yang sedikit saja”, kata Kitab Suci.

Sebuah kenang-kenangan yang ditekankan oleh Anathasius adalah pondasi Yohanes 1 yang ia ungkapkan secara gamblang.
Para mayoritas kala itu berkata: “Manusia menjadi Tuhan, menjadi Kristus, sehingga pasti ada masa tertentu Tuhan ini diciptakan”,… sementara Anathasius berbasis Yohanes 1 menjelaskan: “TUHAN-lah yang menjadi manusia, sehingga dasar dari Penyelamatan itu menjadi kuat dan kokoh”.

Bagaimanapun pola Arian vs Anathasius, hampir mirip dengan pola guru-guru dari Yerusalem vs Paulus + Barnabas, bicara mengenai pondasi kebenaran Kitab Suci.
Arian dan guru-guru dari Yerusalem berlandaskan kebiasaan, hikmat manusia, sementara Anathasius dan Paulus serta Barnabas berlandaskan kebenaran yang berlandaskan kebenaran Kitab Suci, sehingga dapat kita lihat dari begitu banyaknya Roh Allah menggunakan kehidupan Paulus di dalam penulisan Perjanjian Baru. Serta begitu banyaknya pengajaran kekristenan abad modern ini yang berdiri atas pondasi dari pengajaran Anathasius. Perjuangan minoritas vs mayoritas inilah yang terkadang membuat masalah semakin besar, dan yang membuat para guru-guru yang benar terkadang dibuang, dihujam, didera, bahkan sampai mati martir. Mati demi menghidupkan orang yang ‘mati’ lainnya, bukan mati demi membinasakan manusia-manusia ‘mati’ lainnya.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: