Sinis menggonggong kafilah berlalu

Oktober 1, 2010 pukul 11:57 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 48 Komentar
Tag: , , ,

KBBI menjelaskan arti sinis sebagai berikut:
si·nis a
1 bersifat mengejek atau memandang rendah: ia tersenyum — melihat orang itu;
2 tidak melihat suatu kebaikan apa pun dan meragukan sifat baik yg ada pd sesuatu: dia sangat — melihat perkembangan politik dewasa ini;

Kamus Global sbb.:
cynic kb.
seorang yang suka memperolok-olokkan pekerjaan orang lain, pengejek.

Jika ditelusuri dapat dikatakan sinis berasal dari kata dasar “seperti-anjing”, dalam bahasa Yunani, kynikos. Buka Cynic dari Dictionary Reference. Kynikos, Cynic, sinis… seperti anjing
Karena sinis kata dasarnya dari anjing, sehingga judul artikel ini menjadi “sinis menggongong, kafilah berlalu”…. tentu pepatah ini sangat terkenal, sepertinya pepatah ini berasal dari timur tengah sana.

Anjing itu akan menggonggong jika ada sesuatu yang tidak ia sukai, ia menolak keadaan tertentu, maka ia mengonggong. Salah satu dari beberapa alasan kenapa anjing menggonggong tentunya.
Sebab alasan inilah yang membuat saya berpikir kenapa sinis itu terlahir dari kata dasar anjing.
Seba jika merasa tidak nyaman, anjing akan menggonggong. Begitu juga manusia yang memiliki “sinis”.
Orang sinis adalah orang yang melihat keadaan tertentu dan kemudian ia akan menolak. Keadaan menolak ini sering diungkapan dengan bicara (mengonggong, hahahaha).

Sinisme adalah salah satu aliran filsafat dahulu kala di Yunani, buka saja Cynicism supaya jelas. Intinya adalah “penolakan” terhadap hal-hal yang umum.
Seperti di link wikipedia tersebut dapat kita lihat, orang Kristen awal dipandang sebagai orang sinis, sebab mereka menolak hal-hal yang ditawarkan selain tawaran Kristus. Bagaimana tidak, ketika Romawi berkata: “KUASAI DAN SEMAKIN TINGGI”, Kristen berkata: “TURUN DONG.. RENDAHKAN DIRI”…
Orang bisa mengatakan itu orang sinis. Tetapi kita beralih dari situ, sebab orang sinis sepertinya selalu disematkan kepada orang yang setengah-setengah…. munafik. Dan tentu tidak ada orang yang rela martir seperti pendahulu gereja kalau ternyata ada kemunafikan.
Contoh munafik, sinis yang saya sebut adalah…. Ada orang yang senang dikunjungi rumahnya, dia menyodorkan ini dan itu, tetapi ketika tamunya pergi, ia lekas-lekas memeriksa seluruh barang-barang di rumahnya, “jangan-jangan ada yang khilang tercuri neh”, bisiknya di dalam hati.

Mengatakan YESUS bukan TUHAN dari ajaran-ajaran tertentu juga salah satu bentuk dari sinis, seperti anjing, jika ternyata tidak mendalami apa itu KRISTUS.

Dan hebatnya, didalam kepastian adanya sinis, seperti anjing, “YANG BENAR” itu tetap benar, sebab SINIS tidak lahir dari kegagalan, tetapi dipandang dari kesalaharahan. Sinisme paling parah adalah menolak apa saja yang berbau X meski berbau X itu ada nilai benarnya.
Mungkin bisa saya katakan anti-pluralisme adalah bentuk dari “seperti anjing”, sinis yang akut.
FPI mungkin sangar dan mengerikan, tetapi ada nilai yang dapat kita sanjung dari mereka, keberaniannya, dan belakangan ini adalah “penolakan mereka atas homoseksual”. Jika kita memandang sinis kepada FPI maka dengan sedikit gonggongan dari kita akan berkata: “Bubarkan saja tuh FPI”, padahal tanpa FPI lapak-lapak koran dan DVD akan dipenuhi lapak pornografi di Jakarta sampai saat ini.

Kita mungkin sinis sama SSY (saksi Yehovah), tetapi kita bisa belajar tentang keberanian menginjili dari mereka ini.

Ingat saja kata YESUS, “KAMU BUKAN HAKIMNYA”, …”ADA WAKTUNYA yang jahat DIHAKIMI”.
BISA?….

Berat, susah, menyebalkan, dan … bisa jadi kita sinis kepada KEBENARAN,…
tetapi itu yang harus kita terima, dan kalau bisa dipikirkan dalam sense diolah dan ditelusuri, dan dilakukan.
Sebab menolak tanpa berpikir panjang adalah salah satu awal dari sinisme.

Dan lebih ngeri lagi, bayangkan jika TUHAN sinis, maka KRISTUS tidak akan pernah menderita, dan manusia akan tetap pada dosanya…
Jadi rangkullah kafilah itu, jangan gonggongin… kalau dirangkul akan terlihat salahnya, dan kalau Anda benar akan bisa mengalirkan kebenaran. Pluralisme sejati.

salam

Iklan

48 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Secara substansial mungkin ini artikelmu yang paling romantis . Hi Hi hi

    Bagi saya pribadi tindakan FPI itu rada lebay, tetapi juga mumet mikirnya sebab di negeri ini harus lebay dulu baru didengerin. Kalo saya intip youtube pemikiran pemikiran para pemimpin FPI seperti Habib Rizieq juga gak serem-serem amat. Masih bisa diajak ngomonglah itu. Dalam diskusi antar agama pun ya dialog wajar. Munarman entah kenapa mungkin juga lelah atau merasa tidak efektif berjuang di kelompok2 demokrasi akhirnya juga memilih bergabung.

    Saya rasa Konsep berpikir FPI juga tidak sepenuhnya salah : Jika ada satu orang melubangi perahu, semua yang lain semestinya mencegah. Lha yang saya tidak setuju jika mencegah orang melubangi perahu itu malah membuat perahu berlubang makin besar.

    Kalo masing2 kelompok bergerak sendiri sendiri dengan kekuatannya masing2 tentu akan timbul benturan sesuai dengan kepentingan atau idealisme masing2. Ini mengkuatirkan. Tetapi penyakit pemerintah itu seringya baru bergerak jika ditekan. Lha sekarang ini posisinya semua kelompok jadi seakan-akan menekan pemerintah. Itu dilematis. Tidak heran SBY makin lama makin kelihatan lelah tampak cepat tua.

    Kalo SBY meneruskan politik lemah gemulainya dia lama-lama bisa tambah stress tambah tua. Karena tekanan akan makin keras darimana saja. Bahkan preman coropun berani pasang lagak di ibu kota. Lha polisi tercepit ditengah-tengah itu semua. Plus ada sebagian oknum yang menikmati jadi backing. Benar2 repot.

    Heran juga ada pakar Perjanjian Lama yang sedikit banyak mau memuji FPI ^_^ ….

  2. @ Lovepasword

    Seperti biasa kau salah menginterpretasikan posting saudaraku Parhobas. Tinjauan yg beliau maksudkan hanyalah contoh dari pluralitas huamniora di Indonesia saat ini. Saya juga kagum dan sangat hormat dgn FPI yg menolak Homoseks dan keadaan Indonesia yg mulai mengkuatirkan sikap sebagian orang-2 yg mulai memandang pembenaran sifat-2 Waria tumbuh subur . Itu hanya satu contoh yg memang sangat kami benci karena melanggar hukum kebenaran di Alkitab. Ada juga contoh yg dipaparkan sdr Parhobas yakni ttg Saksi Yehuwa yg walaupun mengalami penolakan dari kaum Kristen , tetapi kegigihan mereka malah menjadi teladan dlm penginjilan.

    Dua contoh yg menjadi posting sdr Parhobas itu sbb:

    “FPI mungkin sangar dan mengerikan, tetapi ada nilai yang dapat kita sanjung dari mereka, keberaniannya, dan belakangan ini adalah “penolakan mereka atas homoseksual”.

    Kita mungkin sinis sama SSY (saksi Yehovah), tetapi kita bisa belajar tentang keberanian menginjili dari mereka ini

    Kalau saya memberi analisa komperhensifnya cuman dapat menyimpulkan dgn kalimat sederhana saya saja yakni :

    Manusia yang mengenal dirinya dengan baik sudah pasti mengenal siapa “tuhannya” yg dia kenal.

    Salam kasih

    • @lae Sihotang

      Manusia yang mengenal dirinya dengan baik sudah pasti mengenal siapa “tuhannya” yg dia kenal.

      contoh:

      1. “FPI mungkin sangar dan mengerikan, tetapi ada nilai yang dapat kita sanjung dari mereka, keberaniannya, dan belakangan ini adalah “penolakan mereka atas homoseksual”.

      jika Kristen paham betul, maka FPI bisa menjadi pelecut “gerekan” Kristen, bahwa Kristen seharusnya berdiri paling depan untuk menolak homoseksualitas..

      2. Kita mungkin sinis sama SSY (saksi Yehovah), tetapi kita bisa belajar tentang keberanian menginjili dari mereka ini
      SSY menjadi pelecut semangat Kristen, bahwa Kristen harus mengabarkan INJIL lebih berani lagi, jangan dininabobokkan oleh keadaan…

      Jadi TUHAN bisa memakai siapa saja, sebab IA MAHA KUASA, untuk menunjukkan jalan bagi kita, seperti waktu dahulukala IA memakai MESIR, ASYUR, BABEL, PERSIA d.l.l untuk mendidik/menghajar ISRAEL…
      maka di Indonesia ada FPI, ada SSY yang digunakan TUHAN untuk menghajar Kristen di dalam iman dan kewajiban…
      cara itulah yang dipandang sebagai mengapa pluralisme penting…

      Jika Kristen melihat FPI dan SSY memperjuangakn sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh Kristen juga, seharusnya Kristen malu dan berpikir dan bertobat d.l.l,…. sebab seharusnya itu kewajiban Kristen…
      jadi tidak langsung buru-buru berkata: “bubarkan!!!”, “hanguskan”…

      jadi kesimpulan lae Sihotang sangat tepat:
      Manusia yang mengenal dirinya dengan baik sudah pasti mengenal siapa “tuhannya” yg dia kenal.

      • Banyak juga para calon sufi di sini ya…? …baguslah…

      • @lovepassword

        2000 tahun lalu orang romawi mengatakan orang seperti yang saya sebut itu dengan sebutan Kristen…

        sebab apa yang diucapkan nyata dan terjadi dan bisa dilihat mata

        entahlah apa yang engkau bilang itu, sebab hanya di awang2, di awan…. bisa jadi kolornyapun busuk ia tidak tahu dan tidak perduli

        salam

      • Saya cuma ingat saja kalimat RAS itu rada mirip semboyan terkenal para Sufi. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu..yang mengenal diri mengenal Tuhannya. Konon asal muasalnya dari Hadis kemudian dielaborasi oleh Rumi menjadi banyak puisi-puisi sufi keren.

        Rada heran saja karena kalian memilih memakai idiom yang “tidak terlalu biasa”.

        Tapi konon Socrates, cs juga mengajarkan hal-hal semacam itu.
        http://www.alhassanain.com/indonesian/articles/articles/Philosophy_and_gratitude_library/jalan_menuju_allah/001.html

      • @lovepassword

        pertanyaan

        siapa diantara mereka yang Anda sebut itu dapat mengenal dirinya dengan baik?

        atau Anda gimana? sudah mengenal diri Anda dengan baik?

      • @Parhobass : siapa diantara mereka yang Anda sebut itu dapat mengenal dirinya dengan baik?

        atau Anda gimana? sudah mengenal diri Anda dengan baik?

        ===> Saya tidak tahu, saya bahkan tidak tahu apa parameternya..

        sudah mengenal diri Anda dengan baik? ==> Ya belumlah…

      • @lovepassword

        masih jauh ….

        tidak tau parameter tetapi koq bisa jawab “belumlah”…

        lelucon ajah neh si lovepassword

        permisi ketawa yah (anggap ketawa saya sedang nonton OVJ)
        HAHAHAHHA (jangan anggap sebagai sinis dan ejekan)

        salam

      • Jadi gitu ya…karena saya nggak tahu parameternya maka saya tidak bisa ngomong kalo saya belum mengenal diri saya sendiri…Hi Hi Hi …

        Baguslah..jadi ada kemungkinan aslinya saya sudah mengenal diri saya sendiri… ^_^

        Kamu sungguh pinter ihhh….

      • @lovepassword

        ketawa ajah yoooo…..

        muter muter…

        ada anak TK, dia kalau diajari ngga mau,
        malah bilang dengan ngeyelnya: “Aku tahu sendiri koq”…
        ini bener-bener anak TK…

        ternyata beginilah agnostik sejati bermain-main…
        dia ngga tau apa itu hitam, tetapi berani berkata tau hitam dari ketidaktahuannya…

        ckckkckckc heran …

      • @Om Parhobass & Om LP

        Bahasan ttg pengenalan diri yg sangat menarik. Maaf fanya jadi pingin nimbrung dikiiit……
        :
        :
        @Parhobass : siapa diantara mereka yang Anda sebut itu dapat mengenal dirinya dengan baik?

        atau Anda gimana? sudah mengenal diri Anda dengan baik?

        ===> Saya tidak tahu, saya bahkan tidak tahu apa parameternya..

        sudah mengenal diri Anda dengan baik? ==> Ya belumlah…

        :
        :
        :
        ====> fanya tertarik ikut nimbrung terkait “parameter pengenalan diri” yg menurut hemat fanya disatu sisi sangat esensial namun di sisi lain fanya belum menemukan rumusan mutlak parameter pengenalan diri ini. Boleh jadi selama ini fanya merasa telah atau bahkan sangat mengenal diri fanya sendiri berdasarkan kriteria2 yg diyakini fanya patut dijadikan sebagai parameter. Seorang Presiden pasti mengangkat menteri2nya yg “dikenal baik dan jujur” berdasarkan sejumlah parameter2 yg dimilikinya, meski terkadang keliru, ketika orang yg “dikenal” dan dipilihnya ternyata adalah sosok yg korup dan sama sekali berbeda jauh dari yg dikenal beradasarkan parameter yg dimilikinya. Demikian pula si A yg menurut fanya adalah sosok yg baik dan menyenangkan, ternyata menurut si B justru adalah sosok yg rumit dan menyebalkan. Hal tsb terjadi karena “parameter pengenalan” yg digunakan fanya dan si B mingkin berbeda.

        Maka dari itu pertanyaannya adalah, betulkah ada konsensus atau rumusan mutlak utk parameter pengenalan diri?

        Sehubungan dengan hal tsb seandainya kpd fanya diajukan pertanyaan apakah fanya sdh mengenai diri fanya dengan baik, jawaban fanya kurang lebih sama dengan jawaban Om LP : ===> Saya tidak tahu, saya bahkan tidak tahu apa parameternya.. (kecuali pihak yg bertanya memberikan parameter pengenalan diri yg dijadikan acuan si penanya, pasti fanya bisa berikan jawaban antara “sudah” atau “belum”, karena tanpa parameter yg sama mustahil tercapai persesuaian pendapat).

        sudah mengenal diri Anda dengan baik? ==> Ya belumlah… (jawaban “belum” merupakan pengakuan bhw mengenal diri adalah proses yg harus dilakukan terus menerus sepanjang hidup karena manusia adalah mahluk dinamis yg dapat sewaktu-waktu berubah).

        Salam

      • @Om Parhobass & Om LP

        Maaf fanya tergerak ikutan/nimbrung……

        Apakah ada parameter mutlak/universal pengenalan diri ? siapa yg merumuskan parameter pengenalan diri tsb?

        Seorang Presiden terpilih tentu mengangkat menteri2 kabinetnya yg berdasarkan parameter pengenalan yg jadi acuannya, dinilai tlh “dikenal” baik karakter dan potensinya. Namun tak jarang terjadi sebaliknya, sosok yg dikenal dan dipercaya berkualitas prima tsb malah terbukti adalah sosok korup dan tidak akuntabel…………

        Demikian pula, seseorang yg fanya “kenal” sbg sosok yg cerdas dan OK, bisa jadi menurut Om Par atau Om LP hanyalah setara anak TK dan sama sekali tidak OK……^_^

        Hal tsb sangat wajar manakala tolok ukur atau parameter pengenalan yg di gunakan fanya berbeda dgn tolok ukur Om Par dan Om LP.

        Sehubungan dengan itu jika fanya jiga ditanya apakah fanya sdh mengenal diri fanya dgn baik? jawabannya kl sama dgn jawaban Om LP:

        ===> Saya tidak tahu, saya bahkan tidak tahu apa parameternya..
        (kecuali si penanya menetapkan terlebih dahulu parameter yg digunakan, tentu bisa menjawab pasti apakah sudah atau belum).

        sudah mengenal diri Anda dengan baik? ==> Ya belumlah… (jawaban “belum” mengindikasikan pengakuan bhw “mengenali diri” adalh proses yg hrs dilakukan terus menerus mengingat manusia adalah mahluk dinamis yg dari waktu ke terus berubah, sehingga sulit ditentukan kapan “sudah”-nya).

        Salam

      • @fanya

        pernah “teman” dialog saya dulu dengan PD berkata ia mengerti apa yang ia ucapkan sepenuhnya

        sekarang ia mengaku belum mengetahui dirinya sendiri karena parameter tidak tahu…

        ….

        semoga itu arah yang baik demi perbaikan, dan semoga bukan retorika2 saja…

        salam

      • @Om Parhobass

        pernah “teman” dialog saya dulu dengan PD berkata ia mengerti apa yang ia ucapkan sepenuhnya

        sekarang ia mengaku belum mengetahui dirinya sendiri karena parameter tidak tahu…
        :
        :
        ===>fanya pikir “mengetahui yg DIUCAPKAN” dan “MENGETAHUI DIRI” adalah 2 hal yg sangat berbeda. “Ucapan” hanyalah SATU aspek dari DIRI yg terbentuk oleh multidimensional aspects. Tahu satu tidak berarti tahu segalanya khan?

        Menurut hemat fanya Parameter “MENGETAHUI DIRI” yg hakiki (absolut) hanyalah milik Tuhan. Manusia hanya bersandar pd Parameter subyektif, baik dlm kapasitas individual maupun korporasi. Lihat saja parameter keimanan, masing2 agama (Islam, Kristen, Hindu, Budha dll) jelas memiliki parameter sendiri2 sbg dasar acuan utk mengenal keimanan diri manusia……

        Si A sah-sah saja menyatakan telah atau bahkan sangat kenal dirinya manakala ia tidak memberikan parameter yg digunakannya meski menurut fanya (diukur dgn parameter pribadi fanya) ia termasuk orang yg sama sekali tidak mengenal dirinya……….

        Intinya, selama tidak ada parameter yg absolut, maka parameter yg ada adalah bersifat subyektif dan relatif………

        Salam

      • @fanya

        retorika…

        pertayaan
        agama yang Anda sebut itu siapa yang mengenal dirinya sendiri?

        jangan sebut parameter tidak jelas lagi…

        salam

      • @Om Pahobass

        Klasik…..

        hiiiihh….bukannya ngejawab malah nanya………

        salam

      • @fanya

        apa yang kamu ucapkan itu adalah buah dari apa yang kamu ketahui…
        kalau apa yang kamu ketahui itu tidak seluruhnya bagian dari apa kamu ketahui, lalu bagaimana dengan apa yang kamu ucapkan?
        Jika pondasinya tidak kuat, maka rubuhlah rumah jika diterjang badai…

        jadi ke-PD-an “teman”ku yang dulu itu hanya retorika, pemanis kalimat…tak berdasar…cari-cari masalah…

        retorika…..

        pertayaan
        agama yang Anda sebut itu siapa yang mengenal dirinya sendiri?

        jangan sebut parameter tidak jelas lagi…

        salam

      • @Om Parhobass

        Sesungguhnya hanya Tuhan yg mengenal diriNya sekaligus mengenal segenap mahlukNya.

        Manusia paling2 hanya sebatas berusaha mengenali dirinya berdasarkan parameter yg diberikan oleh sosok yg diimani sbg “tuhan”nya.

        Pendapat diatas jelas bernilai subyektif dari fanya yg beragama Islam, Ntah menurut mereka yg non Islam maupun atheis.

        salam

      • @fanya

        jika hanya “TUHAN” yang mengenal, apakah dapat diartikan bahwa agama Anda yang mengklaim sebagai agama sempurna sebenarnya tidak sempurna?

        tinggal pilih, …
        tinggal pilih…jenis retorika berikutnya…

        kebenaran itu memang bersifat subjektif, itu salah satu bukti bahwa TUHAN itu ada…

        kalau Anda apriori dengan bukti subjektif berarti Anda ngga percaya allah Anda…

        salam
        note:
        semoga sudah selesai sampai di sini…

      • @Om Parhobass

        Tuhan memberi manusia petunjuk dan parameter mengenali dirinya dan parameter mengenal Tuhannya. Tuhan mengajarkan (melalui agama), memberlakukan hukum dan menjadi hakim bagi umat-Nya. Oleh sebab itu, MENURUT LOGIKA FANYA setiap pemeluk suatu agama sudah sepatutnya mengimani dan tunduk pd parameter yg ditetapkan Tuhan yg diimaninya, dan meyakini bahwa ajaran Tuhannya (agama) yg benar dan sempurna!! Maka dari itu berulang kali fanya kemukakan pendapat bhw Agama dan keyakinan, adalah bukan sesuatu yg dpt diperdebatkan.

        Sekedar tambahan penjelasan ttg perbedaan mendasar antara TAHU SESUATU (yg diucapkan, dilakukan, dipakai dsb) dgn MENGENALI DIRI dlm pemahaman fanya:

        ==>jika fanya memakai baju merah> fanya pasti tahu persis warna pakaian fanya dan pasti akan mengatakan bhw baju fanya merah.
        Tetapi, meski fanya tahu pasti bhw fanya berpakaian merah dan tahu pasti saat mengatakan pakaian fanya merah, fanya sangat ngeh bhw PAKAIAN jelas tidak identik dengan DIRI fanya, dan diri (karakter/personality/ideologi dll) fanya belum tentu identik dengan merah terlebih lagi kata “merah” sendiri memiliki kriteria dan parameter yg relatif luas dan kompleks.

        Maka dari itu mengaitkan penyataan “tahu yg diucapkan” dengan “tidak mengenal diri” menurut hemat fanya sungguh sangat tidak kontekstual dan tidak relevan.

        Salam

      • @fanya

        fanya tahu A = a1
        ternyata A = a1+a2+a3+a4+….+ an

        jika fanya mengatakan hanya a1 artinya fanya ngga tau apa-apa tentang A

        karena tahu a1 maka yang diucapkan pun hanya sebatas a1
        padahal A bukan sama dengan a1 melainkan sama dengan a1+a2+a3+….+ an

        artinya fanya tidak bisa mengucapkan A secara komplit
        jadi Anda sering tidak mengetahui apa yang Anda ucapkan
        dan ke-PD-an itu hanya retorika, pemanis debat, d.l.l…

        Hanya TUHAN yang tahu secara sempurna dan komplit, sangat tepat…

        tetapi
        implikasinya adalah… kalau ada agama yang mengatakan dia sempurna, berarti itu nonsen, retorika, keperluan debat sesaat..

        jika
        dikatakan agama yang paling sempurna dari agama2 yang sempurna, berarti sempurna yang dimaksud masih belum komplit, artinya paling sempurna dari yang belum komplit sama juga belum komplit…

        akhirnya
        parametar hanya Satu, dan tidak mungkin menjadi dua, d.l.l

        jika agama saja begitu, apalagi fanya bukan?

        agama dan keyakinan bukan sesuatu yang diperdebatkan (dalam konteks makna hidup), tepat.
        sebab keyakinan adalah ranah aplikasi, sosial d.l.l
        dan karena ada ranah sosial maka ada impact…
        dan akan terjadi adu “pikiran” di dalam kehidupan sosial itu…
        “adu” pikiran itu seharusnya di ranah menginformasikan, bukan debat
        sayangnya harus juga terjun ke debat, karena ada sesuatu yang keliru dengan allah-allah yang bukan ALLAH…dan karena ada manusia yang merasa PD sering menginformasikan apa yang ternyata tidak komplit…

        salam

      • @Om Parhobass

        @fanya

        fanya tahu A = a1
        ternyata A = a1+a2+a3+a4+….+ an
        :
        :
        ====> Om, hihihi …. suer fanya ga pernah bikin statemen yg secara matematis tergambar sbgmn Om kemukakan diatas!
        Yg fanya katakan justru adalah sbb: A (nilai diri) tidak sama dgn a1!

        fanya justru sejak awal mengatakan bhw:
        A (nilai diri) = a1+a2+a3+a4+….+ an (a1=ucapan; a2=pikiran; a3=perbuatan; a4=ahlak; a5=agama……..dst)

        Ketika pikiran(a2) fanya membuahkan x maka ucapan fanya (a1)= x.
        manakala perbuatan(a3) fanya adalah y maka fanya katakan bhw a3=y. Bhb agama fanya(a5) adalah z maka fanya katakan bhw a5=z

        meski fanya tahu pasti nilai a1, a2, a3 dan a5, sejak awal fanya tegaskan bhw fanya tidak berani menyatakan tahu nilai A karena fanya meyakini bhw A merupakan nilai kumulatif dari beberapa komponen “a” yakni a1; a2; a3 hingga …..an , padahal berapa nilai ahlak (a4) fanya, fanya sendiri tidak tahu pasti!

        Mungkin saja ada orang yg menetapkan parameter bhw nilai A = a1+a2;
        atau sepakat bhw A = a1+a2+a3 saja tanpa a4 dan a5…..
        :
        :
        @jika fanya mengatakan hanya a1 artinya fanya ngga tau apa-apa tentang A====> tepat
        :
        @karena tahu a1 maka yang diucapkan pun hanya sebatas a1==> benar
        :
        :
        @padahal A bukan sama dengan a1 melainkan sama dengan a1+a2+a3+….+ an ====> exactly, itulah statement fanya sejak awal!!!
        (nih fanya copas ya : ===>fanya pikir “mengetahui yg DIUCAPKAN” dan “MENGETAHUI DIRI” adalah 2 hal yg sangat berbeda. “Ucapan” hanyalah SATU aspek dari DIRI yg terbentuk oleh multidimensional aspects. Tahu satu tidak berarti tahu segalanya khan?

        ulangi : ucapan (a1) hanyalah SATU aspek dari DIRI (A) yg terbentuk oleh multidimensional aspects (resultante dari berbagai aspek yg saling mempengaruhi).

        Itulah sebabnya fanya menolak menjawab telah MENGENAL DIRI meski fanya tahu pasti ttg apa yg fanya pikirkan (a2); ttg apa yg fanya katakan (a1) maupun ttg apa yg fanya perbuat (a3), bhb fanya tidak tahu PARAMETER yg digunakan si penanya utk menentukan nilai A (apakah cukup A=a1+a2 saja; atau A=a1+a2+a3 saja …atau A= ….dst).

        Anyway, seperti halnya Om LP, honestly fanya angkat topi thdp muatan artikel Om Parhobass kali ini yg mencerminkan obyektifitas, kearifan dan kecerdasan ruhani tingkat tinggi seorang agamawan.

        Tanggapan (timbrungan) fanya sebetulnya lebih tertuju pd perbincangan antara Om Par dan Om LP yg komennya memang terkadang bernuansa jahil bagai pisau bermata dua (hihihi…) seolah sengaja memancing sewotnya Om……..meski kayaknya sekedar spy diskusinya ga hambar.
        kayaknya gitu deeehhh…… (ya ga Om LP??)

        Excellent!

        Salam

      • @fanya

        maaf…
        retorika lagi…

        salam

      • Par…Par kamu itu kalo dipuji kok jadi grogi gitu ya…? Hi Hi Hi…

        Nggaklah…..pujian pujian untukmu itu tulus bukannya retorika…Jangan kuatir…^_^

        Salam Iya…

  3. @Om Robin yang manis semanis madu deh : Seperti biasa kau salah menginterpretasikan posting saudaraku Parhobas ===>

    Ada cerita klasik Cina . Alkisah dua pemuda cendekia sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan. Ketika tiba di atas jembatan kecil kecil, seorang pemuda ( anggap saja namanya Robinson) berkata : “Wow alangkah indahnya ikan-ikan itu, mereka berenang gembira ke sana kemari. Alangkah senangnya .”

    Pemuda yang lain (anggap saja namanya Parhobass) menjawab : Kamu bukan ikan, dari mana kamu tahu ikan itu senang. Lalu Robinson kembali menjawab : Kamu bukan aku, dari mana kamu tahu kalau aku tidak mengetahui ikan itu senang. hi hi hi

    Manusia yang mengenal dirinya dengan baik sudah pasti mengenal siapa “tuhannya” yg dia kenal. ==> Rasanya gaya kau tak kalah sufi dibandingkan Rumi, kalo kau lagi serius begini.

    Salam kasih juga…

    • @mas love

      ❓ ❓ ❓

      • 😉

  4. @ lovepasword

    Mendayu sekali perkataanmu Love .. .?

    Apa yg tersembunyi dari hati seorang sahabat kita pasti mengetahui sedikit banyak dari tulisannya. Saya sedikit banyak sudah membaca hampir 45% posting dr seluruh tulisan sdr Parhobas .., selalu selangkah saya lebih maju dari pada teman yg selalu dlm kiasan “anjing yg menggongong terpaksa kafilah lainnya pakai tutup telinga”. Tidak tahukah kamu arti persaudaraan spt embun yg jatuh dari gunung Hermon..?? Itu mengalahkan sdrmu si Rumi itu .. lho ??

    • @lae sihotang

      hehehe sudahlah lae anggap saja si amang boru itu sok teu hehehe

      salam

      • iya lae, amangboru kita memang rada sok tau…hi hi hi

      • @lovepassword

        agak malu dikit gitu lho, biar ngga cuman teriak2 pemerintah ada malu dan ini dan itu….

        salam

      • Kan kemarin sudah nyanyi : Malu aku malu , pada semut merah. Yang berbaris di dinding menatapku curiga…he he he…

        Par..Par….Whaduh..Lha Yang milih SBY di Indonesia lebih dari 50 persen, cuma aku yang kamu suruh malu….Hiks…Gak kamu suruh ya aku bisa malu-malu kucing sendiri…tersepona …
        Bentrok HKBP, Bentrok Tarakan, Ampera, Ahmadiyah, Kereta Tabrakan ? Sampe melongo …masalah kok banyak banget.

        Hmmm…Padahal perasaan kamu sudah tak puji lho ….tetap saja galak…^_^. Tuh di atas kan tak puji : Artikelmu romantis…

      • @lovepassword

        kamu pujipun artikel itu jika ternyata maknanya tidak sepeti apa yang Anda pujikan itu, itu sama saja non sense…

        jika Anda kecewapun bahwa ternyata apa yang ANda kecewakan itu karena tidak sesuai dengan keinginanmu semata, itu juga sama saja non sense…

        masih jauh….

      • Sebenarnya bukannya gitu, yang saya puji itu bukan saja isi artikelnya tetapi juga kebesaran jiwa penulisnya…Masak gak ngerti…hi hi hi…

        Saya kan rada salut karena penulis artikel itu tampaknya tidak mudah melakukan generalisasi, artinya kan tidak dalam segala aspek lalu dianggap X itu pasti jelek atau Y pasti bagus. Lha kalo mau dianggap salah tangkep…ya silahkan, tangkep saja yang benar hi hi hi..

        Lha suka-suka gw dong mau memuji aspek apa yang aku senangi.. 😉

      • @lovepassword

        semuanya suka2 kamu,….
        ngga ada yang ngelarang

        tetapi kalau kesukaanmu itu membuat engkau malu, mending ngga jadi suka2 saja….

        apalagi parameternya ngga tau kan? (retoris ala amang boru)

      • Kamu itu senengnya gitu lho. Sudah kupuji bagian A, eh malah minta yang kupuji bagian B… Lha yang namanya lagi memuji kan tergantung apa yang menurutku keren…Pujian itu tidak bisa diprotes apalagi pujian yang tulus kayak aku ini …Hiks…
        Gimana kalian ini…..

        Misalnya gini : “Om Par, baju kamu keren lho “…Sudah dipuji bajunya keren masih protes : mestinya yang kamu puji keren itu celanaku soalnya celanaku baru kubeli kemarin…

        Lha wong aku kagum sama bajunya kok dipaksa muji celananya…

        Yang muji ya bisa nyengir terharu dong..Oke deh…celanamu juga keren.

        Daripada aku kamu protes terus, bagaimana kalo kamu beritahukan padaku apa menurutmu dari artikelmu ini yang paling menarik sehingga paling layak kupuji ??? Kamu jelaskan saja, biar aku bisa memujimu sesuai persis dengan seleramu…Gimana ?
        Atau kamu memang gak seneng dipuji, senengnya kuomeli terus ??? Yang bener saja..aku ya rada capek kalo tiap hari ngomel…sekali-kali muji kamu kan gak papa…

      • @lovepassword

        amang boru-amang boru…

        kebanyakan ‘pemerintah’ itu seperti Anda tahu ngga seh?
        masih cari alasan dan alasan dan alasan…
        akhirnya ngga ada solusi

        yang dibicarain bukan bajunya dan bukan celananya
        tetapi Anda memuji baju dan celananya…
        itu maknanya kawan…

        ora nyambung blas piye iki?…

        wes wess….bablas angine dah …
        dah lah yah, ngga usah diperpanjang yang ini…

  5. Internet ngadat berjam-jam, setelah berdongkol-dongkol ria akhirnya hidup juga. Biasanya sudah tidur tetapi berhubung nanggung malahan jadi gak bisa tidur… 🙂 hiks

    @RAS : Gini ya Om Ras….tercinta…

    Pertama : Kamu salah mengartikan cerita komediku.

    Kedua : Andai kamu tahu isi hati Parhobass, apa menurutmu kamu juga tahu isi pikiranku ??? tetapi itu juga baru andai lho…. 🙂

    Mengapa saya katakan baru andai ???

    Ketiga : Walaupun kamu menikmati jadi jubir Presiden Parhobass..he he he…(gak tahu entah dibayar berapa sama Presiden Par ^_^ ), belum tentu juga pesan yang kamu eja wantahkan ( boso opo kuwi ) adalah maksud Parhobass sebenarnya…Bisa iya bisa nggak. Tetapi andai nggak pun karena Parhobass ini ramah baik hati , berbesar hati dan tidak sombong ya pasti dia nggak bakal nyalahin kamu dong.

    Yah paling banter ya dia diem kalo kamu kebangeten ngawurnya, atau dia bilang ya kalo kamu setengah ngawur atau kalo ngomongnya penuh semangat 45 ya kamu baru bisa yakin bahwa caramu menerjemahkan memang ngawurnya tidak terlalu banyak.

    Jadi jangan terlalu PDlah karena isi kepala Parhobass mungkin terlalu kompleks , sampai-sampai kalo nulispun memilih kata2 yang kompleks kan 😉 hi hi hi, bener nggak Par…?

    Jadi kalopun kamu berminat jadi jubir ya bolehlah karena kalimat Parhobass sebagian memang membutuhkan jubir tetapi harapannya ya tentu saja jubir itu memudahkan pemahaman bukan menambah ruwet.

    Misalnya saja : Benarkah artikel Parhobass itu memang bisa disimpulkan menjadi Manusia yang mengenal dirinya dengan baik sudah pasti mengenal siapa “tuhannya” yg dia kenal. Coba kamu tanyakanlah sama dia ..;) apakah memang kesimpulannya bisa jadi begitu. ?

    ================================

    Tidak tahukah kamu arti persaudaraan spt embun yg jatuh dari gunung Hermon..?? Itu mengalahkan sdrmu si Rumi itu .. lho ?? ===> Ini juga contoh lain kalimat ruwet secara logika membandingkan dua hal yang tidak sebanding.

    Coba kamu jelaskan apa hubungannya persaudaraan sama embun yang jatuh dari gunung…? Terus kamu jelaskan juga apa hubungannya sehingga bisa kamu anggap mengalahkan Rumi …?

    Lha dengan cara berpikir yang mulai rada sistemis begitu maka kamu akan tahu beberapa kekacauan berpikirmu sebenarnya ada dimana.

    Banyak tokoh agama yang pandai bicara tetapi bahkan aslinya tidak tahu apa yang dia bicarakan. itu budaya jelek karena sekedar bisa beretorika. Lha kamu tidak perlu ketularan mereka. Bener nggak ?

    Ada masukan lain RAS?

    SALAM

  6. Kenapa iya semua orang mendadak ngefans sama kata Retorika? Hi hi hi…

    • @Om LP

      Retorika yg mana nih Om? deliberatifkah?, forensikkah? atau demonstratifkah?
      Kalau menurut fanya sih, mungkin akibat makin meningkatnya kecenderungan mengedepankan persepsi dibanding fokus pada fakta dan data.
      Ketika orang terlanjur hidup dlm persepsi negatif thd sesuatu atau seseorang maka aspek2 positif termasuk data2 yg bersumber dari ybs hanya akan dianggapnya sebagai retorika belaka…….
      Nampaknya, kondisi spt ini juga menjadi salah satu andil pemicu terjadinya benturan dan anarkisme dlm masyarakat. Asumsi retorika cenderung dijadikan alasan pembenar kelompok yg merasa termarjinalkan utk mengabaikan atau meninggalkan sistem, bahkan kalau perlu ya….memaksakan kehendak.

      salam

  7. secara semantik tulisannya retorika…Retorika yang mana ? Yah masing2 yang ngefans sama kata Retorika punya standard masing2.

    Saya sendiri mengatakan Retorika ketika :

    1> Kalimatnya muluk2 dalam tataran pembangkit semangat dan sejenisnya tetapi secara nalar tidak logis. Dan ini bisa dibuktikan ketika orang tersebut tidak bisa mempertahankan argumentasinya secara cukup memadai. INDAH didengar, mungkin enak di perasaan tetapi tidak enak di otak.

    2> Ada gap antara kalimat dan implementasi kalimat tersebut.

    Tentu saja karena ini pendapat pribadi saya maka sifatnya Subjektif.

    Masalah pro sistem atau meninggalkan sistem , secara netral saja tentu ada bagian dari sistem yang isinya semata retorika tetapi ada juga bagian yang diluar sistem yang isinya juga retorika, termasuk kalimat semua orang punya potensi yang sama ^_^ . Jadi ini bukan monopoli di dalam sistem atau di luar sistem. Menurutku gitu sih.

    SALAM

  8. @ Lovepasword

    Saya sendiri mengatakan Retorika ketika :

    1> Kalimatnya muluk2 dalam tataran pembangkit semangat dan sejenisnya tetapi secara nalar tidak logis. Dan ini bisa dibuktikan ketika orang tersebut tidak bisa mempertahankan argumentasinya secara cukup memadai. INDAH didengar, mungkin enak di perasaan tetapi tidak enak di otak.

    .
    .

    Itu makanya kau selalu bermain dlm tataran wacana dirimu sendiri. Memang benar yg kau katakan bhw ada org yg berkata-kata menurut yg dia ketahui benar tetapi hanya ngomong doang., tetapi secara eksplisit jaman dan waktu yg akan menyeleksi itu semua. Itu makanya secara hukum rohani tidak diperbolehkan orang pintar itu berpengetahuan tanpa takut akan Tuhan.

    @ Lovepasword

    2> Ada gap antara kalimat dan implementasi kalimat tersebut.

    .
    .
    .
    Sangat benar itu wahai amangboruku si godanghata . NATO = Not Aktion Talk Only .., perkataan yg tidak memiliki realisasi itu diserupakan dgn kuburan yg dari luar dan di cat putih tetapi di dalamnya hanya ada tulang belulang. Apa gunanya kita berbicara banyak jikalau kita tidak pernah melakukan perkataan kita itu.

    @ Lovepasword
    Tentu saja karena ini pendapat pribadi saya maka sifatnya Subjektif.

    .
    .
    Terkadang ada pendapat pribadimu dan terkadang ada jugapendapat abangmu si Google.. . Tetapi yang terpenting utk kita renungkan ya Love , pastikan diri kita memiliki arti bagi kemuliaan DIA yg menciptakan kita. Adakalanya kita pun dituntut utk memahami dunia sekeliling ini tanpa terlampau kritis sekali kpd org lain…
    Salam ya Love

    • @Tulang RAS
      Setuju dengan pendapat Tulang: “Adakalanya kita pun dituntut utk memahami dunia sekeliling ini tanpa terlampau kritis sekali kpd org lain…”

      ps: dang tartaon au ekkelhu Tulang uju didok Tulang si godang hata nasida mang boru i..

      -salam-

    • He he he….oke deh…
      Kesabaranmu Om Robin, memang rada menakutkan…
      lama kelamaan kebanyakan mengganggu orang sabar, aku bisa kualat ntar..hi hi hi…
      biarpun kamu tidak terlalu jenius seperti bapa tua Parhobass tetapi kesabaranmu bisa-bisa melelehkan besi ^_^

      Oke, Om Robin secara substansial saran bisa diterima. Kritis itu yah kadang baik tetapi kadang juga melelahkan. Kebanyakan ngedumel di banyak forum membuat aku lebih cepat masuk angin. Semakin aku masuk angin, aku berkomentar makin pedes biar anginku keluar…jadi kentut. Lingkaran antik. Jadinya gak selesai selesai kerokan melulu…Hik hiks…
      Oke, biar aku sementara istirahat dulu dari ngedumel ….mendingan aku bagi-bagi pujian..hi hi hi

      SALAM RAS…
      See You…

  9. Pada ngomong apa sih semua? ❓

    🙄 🙄

    • sedang bercanda…penuh cinta..hi hi hi

    • sambil makan bolang baling kayaknya enak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: