Indonesiaku tersayang

Oktober 1, 2010 pukul 8:24 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag:

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
(1Korintus 15:33)

dalam terjemahan bahasa Indonesia masa kini mungkin sedikit lebih mengena:

Janganlah tertipu! Pergaulan yang buruk merusakkan ahlak yang baik.
(1Korintus 15:33)

Mari melihat kutipan ini dalam konteks ke-Indonesia-an sekarang.
Perjanjian Lama menceritakan banyak hal perkara raja-raja Israel maupun raja-raja Yehuda. Ada yang taat ada yang jahat, meski kebanyakan memang yang jahat. Satu kata yang membuat gamang adalah… Raja berdosa dan jahat di mata TUHAN, maka rakyat Israelpun ikut berdosa.
Raja-raja yang jahat sering membuat patung-patung, penyembahan-penyembahan kepada allah yang bukan ALLAH. Raja-raja yang korup dan jahat ini turut mendemoralized rakyatnya, terlebih mereka memiliki wewenang untuk memaksa rakyatnya menuruti kemauannya. Peristiwa 3 pendekar iman di Babel mungkin bisa kita ingat, ketika petinggi negara memaksa seluruh penduduknya untuk menyembah Dewa mereka, Sadrakh, Mesakh, dan Abed Nego tidak menggubrisnya memang, tetapi jenis pemaksaan itu ada.

Raja-raja memiliki pegawai-pegawai, pegawai-pegawai memiliki sahabat-sahabat, dan sahabat mana yang tidak digolongkan baik sampai ia rela berkorban bagi kita bukan?, ya sahabat yang terbaik adalah sahabat yang rela berkorban demi kita, dan sahabat munafik cenderung ada melekat pada titik-titikt tertentu, ia baik karena ia telah terhutang kebaikan. Ekor.

Itulah lingkaran pergaulan.
Di negara kita juga demikian. Siapa yang tidak mengenal Indonesia, rakyatnya dengan gelar: “Simurah senyum” ?,… Indonesia terkenal dengan keramahannya,………………….(titik yang panjang untuk memberi waktu jeda mikir yang agak lama)……..dahulu begitu, jangan samakan dengan para pujangga setir di jalanan Jakarta sekarang ini. Pujangga itu akan tidak merasa risih lagi menekan klakson sebegitu panjang dan lamanya demi mendapatkan celah yang ia inginkan secepatnya.

Aparat ada yang menjadi sahabat preman,…dan ketika preman berjotos ria, aparatnya yang adalah sang c.s,.. tersipu, dan hanya menepuk pundak sambil berkata, :”Sabar bang.. sabar…”. “Ada prosedur khusus menangani kasus demikian itu”, timpalnya lagi…

Pegawai anu ada yang menumpuk harta…si kaya ini sangat disenangi karena ia bisa saja menyumbang hartanya, ia terkenal…sangat terkenal, tetapi 1 dari 10 hartanya berbau busuk…dan…hebat ia bisa lepas dari jeratan tikus…
si Pejabat anu lepas dari jeratan hukum…

… dan seterusnya… sehingga ada yang berpikir… “Ooo kalau banyak uang itu tentu akan lebih dihargai”.
Memang demikianlah adanya, pejabat lebih dihargai untuk duduk di paling depan setiap barisan kegiatan keagamaan sekalipun. Dan yang banyak uangnya biasanya lebih leluasa membangun gedug, bahkan gedung keagamaan sekalipun. Dan preman berlilitkan uang dapat melakukan hal yang sama…
Dan semua itu diberitakan dengan fulgar, dengan sedikit profokatif….dan bebas…

Sementara di acara hiburan lainnya tersedia gerak-gerik para artis yang ditata untuk mempertontonkan perang antara baik dan si jahat. Meski akhir cerita yang karang serinya sampai puluhan atau ratusan episode, kebaikan menang. Tetapi jalan kebaikan itu tidak mengena, yang teringat adalah kejahatan itu. Kenapa tidak mengena? karena tidak ada alasan yang matang untuk dapat diterapkan, semua terlalu mendongeng, terkadang ada malaikat kecil dengan sebuah tongkat putih,..lalu.. “tadddddaaa”, jadi… ya hanya begitu saja, hanya mengayunkan tongkat itu maka masalah selesai… orang sekarang bilang..”kacangan”, atau..”cemen”.
Dan banyak orang dewasa yang tercengan dan terheran-heran, gerah melihat fenomena itu. Dan memang itulah pasar, yang murah dikejar dan disuka, bahkan orang akan masih menawar harga meski sudah terpampang tulisan warna merah “Discount 50%” di atasnya. Dan tidak ada alasan yang paling tidak masuk akal lagi akan semaraknya barang-barang buatan China di seluruh penghujung dunia ini. Ketika saya memasuki toko olahraga di sebuah pertokoan di LA Defence, Paris, Perancis,… menghentakkan, ya sangat menghentakkan, 70 persen atau mungkin 80 persen isinya adalah MADE IN CHINA. Alasan?… murah booo.

Kita membuka sebuah situs berita terkenal di Indonesia, coba baca komentar-komentar di bawahnya…
sering itu berisi hal-hal yang sangat absurd, mengerikan, … orang dulu mungkin langsung pingsan membacanya. Ternyata ada kemudahan-kemudahan yang diberikan supaya itu terpampang di sana, ada link dari situs-situs pertemanan, kemudahan yang sangat menarik untuk memasukkan komentarnya di sana,… dan ID yang mirip seperti saya tersembunyi, dan ketersembunyian itu dipampangkan dengan kata-kata yang banyak tidak bertanggung jawab….

Banyak hal yang dapat kita lihat…. dan keadaan itu sangat merusak kita.
Tidak jarang orang baik akan secara terpaksa mengeluarkan 300 ribu rupiah demi mendapatkan kemudahan pengurusan SIM.
Dan tidak rahasia lagi untuk para pengusaha tertentu menyelipkan amplop demi sebuah tanda tangan untuk proses tertentu.
Bahkan angkot bisa “ngetem” di sembarang tempat demi menjamu para raja penumpang yang menunggunya di sembarang tempat juga. Terkadang kita tidak dapat angkot karena menunggu di halte nun jauh di hutan sana (agak hiperbolik supaya nyata dan jelas masalahnya), sementara raja-raja yang lain yang sembarangan menunggu dan turun di perepatan lebih dilayani oleh raja-raja angkot lainnya.

Karena kita memiliki tubuh, dan tubuh melihat apa yang nyata, yang terlihat,.. dan karena kita masih hidup. maka kita menimbang apa yang diinginkan tubuh itu, sejurus saja itu sudah menjadi karakter…. dan….
karakter yang bertumbuh itu sudah menjadi karakter yang lain dari yang terdahulu, itu sudah karakter yang rusak.

Karakter yang rusak inilah yang sudah dibangun dengan pelan dan pasti di Indonesia tersayang ini.
Jaman-jaman ini hanya tinggal menuai panen saja. Perhatikan saja. Semoga ada tikus-tikus kebaikan yang merusak panen tersebut,…. kegagalan panen karakter rusak itu adalah demi kebaikan kita.

Iklan

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. @ Parhobas

    Indonesia sekarang ini bukan lagi Indonesia seperti dahulu lae .. Orang tua dahulu sangat toleran dgn berbagai perbedaan di sekelilingnya. Perbedaan itu dibiarkan terjadi agar kebergaman itu memperkaya khasanah kemajemukan budaya bangsa Indonesia ini. Jaman sekarang ini yg menjadi orang tua sekarang adalah generasi yg telah melupakan keberagaman Indonesia . Keberagaman itu berusaha hendak mereka satukan mejadi satu kesatuan yg justru menghancurkan persatuan Indonesia sekarang. Pada akhirnya yg terjadi sekarang adalah Chaos, kebingungan yg mau tidak mau diperbuat pemerintah sendiri.

    • @Lae Sihotang

      Ya lae, sangat berbeda
      Dahulu kita “dibalbal” tetangga kita, orang tua kita akan senang jika ternyata kita “dibalbal” karena salah…

      sekarang, ngga perduli duduk perkaranya dimana, jika “dibalbal” maka dengan senang hati akan membalas…
      dan biasanya ngga cukup 1 lawan 1, biasanya bawa kroco-kroconya…

      salam

  2. Ikatan itu sering ditentukan oleh Kesamaan Pandangan, Rasa Persaudaraan atau Musuh Bersama. Musuh Bersama biasanya menimbulkan ikatan yang rasanya heroik tetapi bagaimanapun itu sebenarnya jangka pendek.

    Kita terbiasa dipersatukan bukan karena rasa persaudaraan tetapi karena musuh yang sama. Bilamana musuh tidak ada, bahkan musuh perlu dibuat agar persatuan ini ada. Sebab jika musuh tak lagi ada dikuatirkan persatuan itu menjadi hilang.

    Ketika musuh2 buatan itu lambat laun masih kurang memuaskan masing2 komponen maka masing komponen yang tadinya bersatu kehilangan ikatannya dan malah menjadi saling bermusuhan.

    Soeharto serta Bush bahkan kelompok2 garis keras dalam banyak ideologi dan banyak agama juga memakai model2 pencarian musuh bersama ini demi persatuan komponen2 mereka. Sebab tanpa musuh bersama internal mereka bisa gebuk gebukan.

    Musuh bersama itu harus kelihatan real bukan abstrak. Kalo kemiskinan tidak bisa jadi musuh bersama yang kuat karena itu abstrak.

    Jika kamu bisa bersatu hanya karena musuhmu sama. Berdoalah agar musuhmu tidak mati sebab jika musuhmu mati maka akan mati juga persatuan kalian. Bahkan Nietzsche pun tidak mengharapkan kematian agama.

    Kekacauan berpikir sistematis ini terus saja terulang. Menciptakan efek kegeblekan berantai.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: