Paling ‘Tinggi’ siapa?

September 30, 2010 pukul 10:47 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 26 Komentar
Tag: , , ,

Sering kita melihat dikala diskusi terjadi yang namanya keributan terjadi, seseorang ingin terlihat ‘tinggi’.
Beberapa kejadian yang lalu dapat kita lihat di gedung DPR, para wakil rakyat adu ‘tinggi’ supaya dapat didengarkan, ada yang sampai nyaris pukul-pukulan.

Keponakan saya jika mau ngobrol sama saya terkadang juga meninggikan suaranya (yang padahal sudah kencang untuk ukuran orang Batak), supaya ia dapat perhatian lebih.
Suaranya kencang karena ia harus mengadaptasikan diri kepada suara-suara angkutan kota yang ribut di luar rumah dia.

Kompas.com mengeluarkan judul Dalam 9 Bulan Ada 20 Tawuran. Tawuran-tawuran ini juga sebagai sarana informasi pada kita bahwa di lingkungan kita betapa bentuk dari proses ingin terlihat ‘tinggi’ itu ada.

Ada yang salah ada juga yang benar, ada yang terlihat baik ada juga yang terlihat salah. Ada yang tadinya terlihat benar tetapi pada ujungnya terlihat sangat salah. Itulah proses pewarnaan dari keinginan terlihat ‘tinggi’.

Main hakim sendiri adalah sifat dasar dari kebenaran itu sendiri. Bahwa kebenaran itu bersifat subjektif. Dua orang yang adu pikiran jelas mengeluarkan pendapat-pendapat yang subjektif. Susah menerima kebenaran orang lain membuktikan banyak hal, salah satunya keinginan terlihat ‘tinggi’. Tentu pembuktiaan ini adalah seni proof by contradiction, sebab manusia telah jatuh kedalam dosa, telah rusak. Tetapi dari kerusakan itu kita masih bisa menelusuri banyak hal. Sebab pada hati manusia itu TUHAN telah meletakkan dasar, dan pengenalan dan potensi untuk mengenal sesuatu yang baik. Nurani. Moral.

Mengedepankan kebenaran tertentu akan berujung kepada ujung paling tinggi, yaitu disampaikan dengan kekerasan. Karena kebenaran itu mendukung itu. Kebenaran yang diterima mutlak, kebenaran yang disampaikan oleh ilah-ilah yang menginginkan manusia robot, aturan-aturan. Hukum Yahudi dapat menjelaskan itu, jika tidak Sabat, mati. Bayangkan jika Yahudi adalah mayoritas di dunia ini sejak dahulu kala, dan bayangkan jika mereka taat 100 persen, maka jangan berharap mengunjungi mall atau pasar di hari sabtu. Itu bisa berujung pada kematian. Banyak juga agama yang seperti itu. Itulah jika memandang kebenaran TUHAN dari melakukan hukum dan mentaati peraturan semata.

Ketika manusia jatuh ada juga hal yang terjadi, yaitu manusia rusak, dan salah satu kerusakan itu adalah manusia ingin tampil tinggi, sama seperti si Iblis yang berhasil menggoda manusia itu, Iblis ingin lebih tinggi dari TUHAN. Kain ingin lebih tinggi dibanding Habel, dan karena ternyata ia tidak lebih tinggi dari harapannya, ia membunuh Habel, bentuk kekerasan yang lebih parah tentunya daripada penusukan penatua jemaat tertentu.

Karena kebenaran itu bersifat subjektif, dan sayangnya harus diberitakan supaya orang lain juga ikut benar, dan karena manusia itu sudah rusak alias berdosa alias potensi yang ada selalu berujung kepada pembenaran diri sendiri, maka adu suara harus dipraktekkan, adu urat leher, adu tenaga, adu otot, …. adu senjata pembunuh massal,… adu riset untuk menemukan senjata-senjata canggih lainnya,.. untuk mengatakan bahwa demokrasi lebih tinggi ketimbang sosialis, dan sebagainya dan selanjutnya…

…..jangan salah kalau menemukan orang yang ternyata teroris anu juga sangat relijius….
…..jangan salah kalau menemukan orang yang berdebat hebat masalah keagamaan anu juga sangat egois…
banyak hal…

itulah trend dari manusia yang berdosa… dan TUHAN tahu itu…
sehingga…

YESUS meski adalah Gambar ALLAH Yang tidak terlihat itu, IA rela menjadi manusia, menyampaikan kebenaran itu sendiri, tanpa adu otot, bahkan IA rela mati, meski IA berkuasa untuk bangkit…karena memang kematian bukan ujung dari segala sesuatu. Kalau kita percaya Abraham berani mengurbankan anaknya, maka kita harus juga percaya bahwa kita sama seperti Abraham meyakini bahwa TUHAN sanggup membangkitkan anak perjanjian itu. AKU ADALAH AKU, kata TUHAN menyebut NamaNya, itu sangat absolut, sekaligus sangat subjektif. Tetapi kesubjektifan TUHAN tidak berhenti pada mewahyukan semata, atau memerintah semata, atau lain sebagainya yang dapat diperlihatkan pada Bos-bos yang pintarnya memerintah, itu bos yang menyebalkan bagi orang yang bekerja di level eksekusi. TUHAN Yang subjektif itu berani turun, tidak meninggi, IA turun untuk menjelaskan SUBJECT-NYA, untuk menunjukkan SUBJECT-NYA… dan untuk memberikan SUBJECT-NYA…IA menyampaikan dan memberitakan dan memberikan kebenaran itu dengan jalan menunjukkan kerendahan hati, sehingga IA menderita,… dan karena manusia yang berdosa itu cenderung melakukan kekerasan untuk mengungkapkan beneran subjektifnya maka manusia itu menyalibkan YESUS, menurut mereka itu kebenarna, dan oleh karena YESUS adalah Kebenaran, IA tidak melawan melainkan berkata: “Ampuni mereka Bapa sebab mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat”. IA benar-benar mati. Penolakan dari YESUS Yang mati itu sama dengan penolakan cara-cara damai untuk menyelesaikan masalah. Dan masalah paling berat dari segala masalah adalah masalah yang ditimbulkan oleh bertemunya dua kebenaran oleh dua subject. Jika Karakter Kristus ini tidak ada pada kita, maka jangan salah lagi, pasti akan ada keributan, peperangan, tawuran, pembasmian, kekaisaran, penjajahan,…semuanya disebatkan dari ada dua subjek yang ingin lebih tinggi dari subjek yang lain yang ternyata menyatakan dirinya BENAR.

Salam.

Iklan

26 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Wah, produktif kali nulisnya Lae.
    Salut aku!

    Yea,
    Mungkin banyak yg separuh tau,
    Hanya kasih yg dpt menyelesaikan masalah.
    Dgn amarah masalah kecil pun membesar malah.

    Sekarang-sekarang ini,
    Orang sudah tak bisa bedakan,
    Mana ayat brutal mana ayat sakral.
    Main ribakkk aja!

    GBU!

    • @maren

      terimakasih lae…

      ingin berkarya terus, tetapi terkadang ada yang harus dikorbankan…

      salam

      • Dahulukanlah yg utama!
        Setiap hari keutamaan kita berubah.

        Ya memang,
        Utk segala keinginan memerlukan korban, entah itu korban waktu, uang, perasaan dll. Utk keinginan yg sangat besar, ya korbannya pun hrs sangat besar juga, kan Lae! Maka kita pun tak ragu lagilah bahwa utk keinginan ke Sorga itu, karna Yesus sendiri yg telah menjadi korban bagi kita. Teladan-Nya-lah yg patut dpt membawa kita ke sana.

        Hanya kerja bernafas, berkedip dan bermimpi yg tak memerlukan korban, keknya, karna itu bukan keinginan, hehe.

        Salam Damai!

      • @Maren

        terimakasih lae…

        yup, Kristus adalah kisah pengorbanan terbesar…

        salam

  2. Menurut Lae, apa masalah di Islam ini,
    Selain pendidikannya yg terbalik kutengok,
    Dimulai dari yg supernatural ke yg natural.

    Salam!

    • Kalo kamu melihatnya pake cermin ya kebolak balik…ya kalo pake cermin itu ya sadar kalo pake cermin.

      • Emang sih,
        Aku baru nengok dari cerpi Tipi,
        Kutengok Dai Cilik nasihatin pemirsa.
        Maksudmu apa cermin itu boongan LOP?

        Salam Damai!

      • Apakah cermin itu boongan ? Ya nggaklah. Yang kamu lihat di cermin itu relatif jujur selama ada cahaya yang cukup, cermin itu bening, mata yang melihat cukup sehat serta manusianya juga cukup sadar bahwa posisi yang dilihat melalui cermin menjadi emang terbalik posisinya. Coba kamu jelaskan apa yang dikatakan Dai Cilik itu sehingga malah terkesan terbolak balik menurutmu…? Ceritanya mengenai apa sih

      • Gagasannya adalah peng-khatam-an Kitab sedini mungkin. Semakin dini semakin bangga, walau gedenya nggak ada apa-apa. Aku khawatir prodaknya bisa model si Ucok yg tempoari digeber dgn tiga bahasa di sini: http://tertiga.wordpress.com/2009/11/12/berpikir-lintas-mata-telinga-1/
        Khawatirku yg lain adalah mereka gampang kesurupan gituloh LOP.

        Salam Damai!

      • @Maren Kitatau : Ada ayat dalam Al Quran yang menyatakan bahwa pemuka agama Yahudi itu seperti keledai-keledai pembawa Kitab Suci. Meskipun contoh kasus yang pernah terjadi terkait Yahudi tetapi aslinya yang dikritik kan universal. Kalo misalnya perilakunya sama dengan yang dicontohkan ya berarti kan keledai juga. Menghafal ya tidak bisa lantas dibenturkan dengan tidak memahami. Karena pemahaman itu ya diperlukan .

        Apa hubungannya keledai dengan Kitab ? Ya keledai kan pembawa kitab, pembawa beban berat di punggung tetapi keledai tidak paham , tidak mendapatkan manfaat dari kitab dipunggungnya itu.

        Ada beban tanggung jawab tertentu, ada beban ibadah, tetapi sayangnya karena tidak ada upaya memahami sehingga manfaat yang diperoleh menjadi lebih sedikit. Saya rasa konsepnya kan begitu. Jadi jangan lalu diartikan bahwa Khatam lalu selesai tanpa upaya memahami.

        Menurutku gitu sih.

        SALAM

      • @MK : Sudah kubaca ulang tulisanmu di blog dan tulisanku juga di kotak komentarmu itu. Komentarku kan juga sudah ada :

        Menurutku sih Mata itu alat penangkap paling cepat, telinga selanjutnya, lha pemahaman endingnya. Tetapi seperti kata pepatah : Apa yang didapatkan cepat biasanya cepat pula perginya. Karena itu perlu repetisi bukan sekedar melihat, mendengar sepintas lalu dan yang lebih penting adalah mamahami karena paham itu sulit hilang. Sulit lupa begitu saja.

      • Bukan hanya Kitab yg dijejalkan pd anak sedini mungkin kutengok, tapi juga kebudayaan Arab separuh paksa pd nya. Ini bisa melunturkan budayanya sendiri. Apa kau pikir penglihatanku itu masih dari cermin, sehingga kau anggap itu nggak kebalik? Gituloh maksud ku?

        Anak yg masih dominan tubuh diberi pengajaran pertumbuhan roh dan berbahasa Arab pula lagi, ya kelengerlah dia. Kapasitas otaknya gampang full. Allah segera menjadi panglima di dalam dirinya, sehingga pelajaran lain menjadi digampangkan dan terabaikan.
        Perasaanku sih begitu LOP. Gimana menurutmu!

        Salam Damai!

      • Kalo masalah budaya, lha kalo emang masih ada keturunan Arab atau merasa ngefans dengan Arab kan ya gak ada masalah dengan itu. Sama seperti orang Batak mengajarkan budaya Batak, orang Cina mengajarkan budaya Cina kan ya gak ada masalah. Negara ini konsepnya Bhineka Tunggal Ika. Teorinya gitu. Lha kalo masalah implementasinya kemudian berubah menjadi misalnya Mencari2 perbedaan atau pada sisi lain biar tidak konflik maka semua hal dipaksakan sama , ya itu yang geblek kan implementasinya. Lha wong perbedaan itu gak perlu dicari saja sudah ada sendiri. dan juga tidak perlu dipaksa jadi sama juga. Bhineka Tunggal Ika kan juga tidak memaksakan semua hal jadi seragam maksudnya.

      • Soal pendidikan anak yg kebalik, ini link yg lebih tepat menurutku: http://tertiga.wordpress.com/2009/11/29/berpikir-lintas-mata-telinga-2/

        Kutip:
        Hasilnya mirip dgn aksi sobat-sobatku dulu ketika kanak. Dia menceriterakan siksa kubur kepadaku dgn bumbu-bumbu serem yg kebangetan. Ceritanya seolah mengada-ada dan tak terbantahkan. Kurasa ceritanya itu melebihi dari apa yg dia dengar dari Gurunya atau dari Kakaknya. Yg ginian ini diturun-temurun kayaknya dan dikembangbiakkan kadang hingga dewasa, baik secara sadar ataupun secara pingsan. Mungkin hal itu bertujuan utk segera menyolehkan si anak, kali. Aku pernah membaca cerita komiknya ttg siksa kubur itu sekali saja ketika kanak dan pernah melirik sinetronnya sekilas aja saat dewasa. Dalam hatiku, mubajir mengamatinya, pikiranku bisa mandul lama-lama!

        Salam Damai!

    • @maren…

      sebenarnya bukan masalah di Islamnya, karena TUHAN yang kita percayai tidak memandang agama..tentu jika memandang manusia yang beragama ya lae…
      jika secara pengajaran memang saya dapat katakan sudah salah,… contohnya dari penolakan akan kematian KRISTUS….efek yang dapat saya lihat dari penolakan itu sudah saya sebutkan di paragrap terakhir artikel di atas..

      tetapi mari lepas dari agama, sebab masalah ini adalah masalah semua manusia yang tidak mengenal karakter KRISTUS…

      salam

      • Ya, utk Kristus hampir segala pintu dicoba tutup di Quran, berikut dgn ancaman ayat-ayat penakutannya. Namun demikian, Kristus menjadi lebih hidup rasanya, walau dgn penyiaran-penyiaran kedengkian sekali pun. Mungkin aku pun bisa melupakanNya andai tidak ada stimulus dari mereka-mereka yg bertekun meniadakan missi Kristus itu.
        Entahlah!

        Salam Damai!

  3. tendensi manusia itu emang egois apapun latar belakangnya, ada kecenderungan itu terlepas orang itu bisa mengendalikan atau tidak. Lha selain sisi himbauan, pengendalian diri dsb ya sistem yang menunjang itu harus dibuat. Tidak bisa sekedar menghimbau…tetapi aparat atau orang2 yang punya kuasa harus menggunakan kekuasaannya dengan tegas. Bukan jadi penguasa bisanya cuma menghimbau.
    Saya tidak percaya orang bisa jadi baik hanya karena dihimbau. Bahkan dalam konsep agama manapun sebenarnya isinya juga konsep reward and punishment. Masalah diputer-puter dengan gaya bahasa manapun …ya nyatanya kan ada reward and punishment itu.

    Jadi kalo ada makhluk hidup aneh-aneh ya sikat saja sesuai aturannya.

    Mengapa ada banyak tawuran ? Ya karena penguasanya yang bertugas mengamankan rakyat rada geblek. Kayaknya gitu sih.

    • @lovepassword

      masalah utama sekarang adalah ketika kita ingin menyalahkan seseorang,
      masalah nyata di depan mata, tetapi susah mencari kesalahan harus ditimpakan kemana….si anu lempar ke sana, setelah dituju ke arah lemparan itu ternyata masih bisa dilemparkan ke orang lain… dan…
      pesss hilang, ternyata ngga ada yang salah…

      orang yang sudah direcokin kesalahan akan cenderung berkata: “Wahh ini pasti ulah Zionis, USA dan Yahudi serta antek2nya”,… hahahaha, lucu tetapi coba Anda perhatikan, itu diajarkan ternyata di bumi persada ini…

      menyalahkan orang lain berarti meninggikan diri sendiri, dan tidak mau turun karena sudah tinggi…
      menyalahkan orang lain berarti melihat masalah menjadi tidak begitu nyata…
      menyalahkan orang lain seharusnya menjadi jurus terakhir dari kata merendahkan diri…
      artinya… mari selidiki diri sendiri…

      kesimpulan ANda yang menyalahkan pemerintah bisa jadi sebenarnya disokong oleh apa yang pernah Anda perbuat bukan?
      contohnya, Anda memilih Presiden sekarang bukan? konsekuensinya apa? ya turutilah apa yang telah menjadi keputusan Anda,… menimpakan kesalahan kepada pemerintah adalah menimpakan kesalahan kepada kepalamu sendiri, sebab Anda turut mendirikan tingginya si orang anu itu…

      so lihat dirimu, sebab masalahnya ada di dalam situ, yaitu KRISTUS tidak ada…hampa, kosong,…

      salam

      • @Parhobass : oke, jawaban menarik…^_^. Kita tentukan saja gini .

        Ada seorang rakyat yang rada kecewa dengan pemimpin yang dulu dia pilih. Gampangannya gitu kan …Simplifikasi persoalannya gitu.

        Lha pertanyaannya : Apa yang harus dilakukan rakyat itu menurut kamu ???

      • Seorang rakyat hiduplah sebagai rakyat.
        Pilihan rakyat bukan ditentukan oleh orang itu. Rakyat yg menunjukkan kekecewaannya pd pilihannya akan diketawain oleh rakyat yg kalah pilihannya. Dia bilang “Apa kubilang, jangan pilih dia, kau tak percaya, kan?” Hmm! Dgn kata lain, “rasain loh”.

        Jadi, apa yg hrs dilakukan seorang rakyat yg kecewa? Diem aja lah. Rakyat yg baik tak perlu kecewa, patuhi aturan main, perbaiki diri, rajin menabung, sekolahkan anak tinggi-tinggi supaya tidak dibodohin politisi. Gimana LOP. Aku iseng nimbrung nih.

        Salam Damai!

      • Jawabanmu sama antiknya dengan Parhobass. Kalo setiap rakyat se-nrimo kalian ya enak bener jadi pemimpin. hi hi hi…

        Coba kamu bayangkan : Terhadap pemilih : Pemilih gak berhak protes lah wong kamu sendiri yang pilih itu.

        Terhadap yang bukan pemilih : Juga gak berhak protes, lha wong gak milih kok protes .

        Jadinya ya negeri FASIS lah itu.

        Ketika seorang pemimpin telah terpilih maka tidak ada lagi si A memilih siapa , B memilih siapa , dll . Dia menjadi pemimpin seluruh rakyat baik yang memilih dia atau tidak. Dia harus berlaku adil kepada semuanya. Juga rakyat bisa protes tanpa harus dikaitkan memilih dia atau tidak. Rakyat juga semestinya merasa memiliki misalnya ada upaya pelecehan dari negara lain, terlepas suka atau tidak suka dngan figur itu, karena itu simbol bangsa tersebut.

        Misalnya anggap saja SBY mau dilecehkan di luar negeri tertentu, ya PDIP, atau partai manapun termasuk oposisi harus ikut membela. Begitu juga sebaliknya jika kinerja SBY tidak terlalu memuaskan yang berhak protes kan bukan cuma satu dua kelompok tertentu saja. Siapa saja baik yang memilih maupun tidak memilih ya bisa saja protes.

        Salam

      • Masalah yg kau sodorkan pertama itu alus banget LOP, yaitu “seorang rakyat” dan lagi pula sedang “rada” kecewa, ya kan? Jangan-jangan kecewanya karena baru dikasih hati minta jantung. Heheh!

        Salam Damai!

      • Kontraskanlah masalahmu,
        Antara keinginan daging
        Dengan keinginan roh
        Spt simalakama gituloh.

        Salam Damai!

  4. @Maren

    Kontraskanlah masalahmu,
    Antara keinginan daging
    Dengan keinginan roh
    Spt simalakama gituloh.

    Salam Damai!

    mantap…
    banyak orang belum bisa merenungkan itu…
    bagaimana bisa merenung? sebab antara roh dan dagingnya tidak bisa dibedakan…

    bagaimana bisa dibedakan? sebab rohnya telah mati… jiwanya berhasil dididik oleh dagingnya semata…

    aslam

    • Oke deh…tak turuti ide kalian…Kontraskan keinginan Daging dan Roh ? Kalimatnya puitis juga…

      Pertama : Coba kalian jelaskan itu maksudnya apa…
      Kedua : Caranya gimana
      Ketiga : Apakah kalian sendiri sudah berhasil melakukan cara itu atau tidak…

      Kali-kali saja banyak juga yang lain yang pengin belajar

      SALAM

      • @lovepassword

        sudahlah, penyelesaiannya tidak semegah yang Anda inginkan, teoritis dan defenisitif dan tidak pula seperti jurus Chen Zen yang mematikan…

        dikatakanpun Anda pasti tidak akan mau melakukannya,…karena ini konsumsinya roh, bukan konsumsinya daging, ntar bisa jadi kamu salah obat,… bisa-bisa dikatakan malpraktek lagi…

        salam saja lah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: