Perlunya kerendahan hati

September 29, 2010 pukul 7:51 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

Perhatikan persamaan di atas.
A dan B adalah dua identitas yang bisa berapa saja.
Hingga pada suatu ketentuan maka ditetapkan bahwa A=A1 dan B=B1.
Dan tidak sampai di situ, ketentuan lain akan di dapat yaitu A akan sama dengan B jika A1 = B1.
Tentu tidak akan ada yang protes, itu sudah kesamaan.

Jika melihat persamaan di atas kita akan setuju pada bagian tertentu, sampai tibalah suatu dilema.
A1 di atas akan menghasilkan perhitungan 0,000001;
sementara
B1 akan menghasilkan perhitungan 0,000001

Yang mengerti akan teriak…:”Itu ‘kan karena Anda membuat 6 angka di belakang koma”.
Jika mata memandang dan pikiran terus beradu maka tidak akan menemukan kesamaan antara A1 dan B1.
Sekilas memang akan didapat bahwa B1 akan lebih kecil dari A1, sebab ada penambahan angka 1 dipembaginya B1. Sebab pikiran akan berbunyi semakin banyak orang yang akan dibagikan maka semakin sedikit jatah yang didapat oleh setiap orangnya.

Terkadang masalah yang sama inilah yang terjadi di dunia dialog, debat, dan lain sebagainya.
Kalau bukan terkadang seh, sebab sepertinya memang itulah yang sering terjadi.

Ada hal yang terlalu sering dipaksakan oleh pikiran kepada sesuatu yang tidak dapat nyata.
Contohnya, jika jumlah orang ada 333 orang sementara uang bantuan/hibah ada 1 milyard rupiah, lalu apakah akan berlaku uang sebesar 3 rupiah atau 0.003? Sebab jika uang 1 Milyard rupiah itu dibagikan maka setiap orang akan mendapat Rp. 3.003.003,003003 (Tiga juta tiga ribu tiga koma sekian sekian rupiah)
Butuh kerendahan hati untuk menerima hilangnya bagian Rp 3,003003 (tiga koma sekian-sekian rupiah) bukan?

Hal-hal seperti inilah yang terkadang membuat orang terapan (Fisikawan) bisa membenci orang-orang Filsafat (Matematikawan).

Bukan kebenaran dari pikiran itu yang diperhadapkan dan dibenturkan dengan kehidupan ini, tetapi ada kenyataan yang bisa membentuk karakter kita, yaitu kerendahan hati.

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan. (Amsal 18:12)

Roma 12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

Kerendahan hati adalah menjadi tipe atau standard Kristus, karakter ALLAH kita, dan bagi mereka yang mengaku percaya Kristus maka karakter ini harus dibentuk dan diakui tersemat di dalam tubuh kita masing-masing.
Kerendahan hati di dalam bahasa Alkitab secara literal dapat diartikan ‘menurun ke bawah’, atau ‘menunduk turun’. Siapa yang lebih rendah hati daripada TUHAN kita?, IA bahkan mau turun dari Tahta SorgaNYA menjadi sama seperti kita?… TIDAK ADA ALLAH SEPERTI DIA, ALLAH YANG ESA… benar-benar tidak ada.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: