Tobia, perihal ekor

September 13, 2010 pukul 10:57 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 7 Komentar
Tag: , , , , ,

Pada masa Yahudi membangun kembali Bait Suci adalah setingnya. Bait Suci sudah dihancurkan oleh Babel puluhan tahun silam, segala perkakasnya diangkut ke Babel, sampai suatu masa pemerintahan Persia mengutus petinggi-petingginya untuk membangun kembali bait itu. Dan semua perkakas yang diangkut ke Babel dikembalikan lagi.

Pada masa itu daerah Israel Raya sudah terpecah belah, sekarang hanya tersisa daerah Yehuda dan Benyamin, dan orang-orang dari sepuluh suku lain sudah tidak memiliki wilayah yang jelas, banyak diantara mereka yang menggabungkan diri di daerah Yudea itu, pusatnya ada di Yerusalem. Yerusalem sudah benar-benar hancur berantakan, sehingga hanya sedikit saja orang yang mau tinggal di sana.

Pada masa pembangunan kembali Yerusalem inilah ada seorang yang disebut Tobia.
Ia seorang yang memiliki darah Amon dan Moab, keturunan Lot, sangat jelas sebagai bukti atau simbol kebencian kepada orang Israel. Tobia ini sepertinya adalah seorang budak atau bisa jadi adalah seorang pembantu gubernur Samaria. Samaria adalah wilayah 10 suku dari Israel. Ia ini sering mengirim surat kepada Nehemia untuk menakut-nakuti dia di dalam pembangunan kembali Bait Suci. Nehemia adalah Gubernur Yudea, wilayahnya adakah 2 suku dari Israel, Yudea nama wilayah itu. Tobia ini memperistri puteri seorang petinggi Yudea, bahkan ia sangat dekat dengan imam-imam, ia menjadi berada di garis keimaman dari keturunan Imam Eli. Disamping kebenciaannya kepada pembangunan kembali Bait Suci yang didengungkan oleh Yudea, kita tidak tahu bagaimana ia menyukai puteri seorang imam. Sebagai seorang yang berhubungan dengan petinggi Yudea kita bisa diceritakan beberapa kebaikan-kebaikannya, ia sering juga mengikat sumpah dengan beberapa petinggi Yahudi. Bahkan ketika Bait Suci sudah rampung direstorasi, ia mendapat satu ruangan di Bait Suci. Sesuatu yang jahat tentunya, ia dahulu membenci pembangunannya, tetapi setelah selesai ia mau juga diberi satu ruangan di Bait Suci, penjilat juga teman satu ini.

Pada suatu acara saya menemui seorang yang sangat kaya, ia sering berseloroh dengan kencang dan leluconnya terkadang garing, tetapi ia menghentakkan pikiran saya ketika ia berkata: “Kalau kita mau memanggil si anu sekarang, ia akan datang, dan pasti datang”. Si Anu yang disebut adalah seseorang yang jabatannya tinggi di suatu jajaran di negara ini. Ia berani berkata begitu tentu karena si Anu itu telah “mengikat” sumpah-sumpah tertentu kepada dia, si Anu itu telah terhutang budi oleh segala kebaikan teman ini. Dan sayapun semakin berpikir dalam, orang ini amat susah untuk dinasehati, karena sayapun telah “terhutang hormat” kepada dia sebab ia seorang penatua perkumpulan tertentu, ia penyandang dana yang mumpuni, celaka.
Si orang ini mirip keadaannya dengan si Tobia.
Dan orang seperti inilah yang dihadapi oleh Nehemia, orang-orang seperti inilah yang dihadapi Ezra, sampai Ezra mengeluarkan titah, “Siapapun yang mengikat pernikahan dengan non Yahudi, harus diceraikan atau dibunuh, pilih yang mana?”. (bisa dibaca di Ezra-Taurat-Perkawinan campur. Orang-orang seperti inilah, dan kebudayaan seperti inilah yang mendarah daging di bumi persada ini.

Di dalam keadaan banyaknya penjilat macam Tobia inilah Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang ini berada. Ingat, ketegasan selalu menjadi jalan terakhir jika kita telah menjadi di dalam keadaan terikat kepada sumpah-sumpah, hutang-hutang budi, atau apapun itu, baik kepada negara lain, orang lain, dan atau lain sebagainya.

Tobia dan beberapa imam, –si anu dan beberapa petinggi negara telah mengikatkan diri kepada kelompok-kelompok ekor–, yang bergerak sesuai naluri keserakahan. Ketika si anu bergerak, maka yang lain akan mengikut, karena mereka adalah ekor. Dan jangan salah melangkah, karena begitu jugalah kenapa keadilan sangat susah ditegakkan, jangan salah langkah di dalam menghadapi secara hukum segala ikatan ekor ini. Bahkan jika ekor cecak atau ular di potong, ia masih sanggup bergerak-gerak, jadi itu sebuah peringatan bagi mereka yang berani menghadapi mereka ini tanpa mengandalkan hikmat TUHAN. Sama sepeti Nehemia mengandalkan TUHAN, maka kita juga harus mengandalkan TUHAN, sebab IA yang mampu melihat segala ekor-ekor yang busuk itu. Yang kita hadapi adalah Tobia, adalah petinggi-petinggi yang relijius juga, beragama, bertuhan…. camkanlah itu.

Kita berdoa juga supaya ikatan-ikatan ekor ini dapat dipatahkan pada Gereja TUHAN, pada anak-anakNYA, sehingga pada waktuNYA, pada waktu TUHAN, keberanian yang ditanamkan kepada kita dapat menjadikan kita sebagai pejuang-pejuang perkasa, tembok-tembok iman yang kuat, menjadi pahlawan-pahlawan yang memanggul senjata perang, berperang melawan musuh. Sebab ketika kita mengaku percaya, kita telah berhadapan dengan perang rohani yang luar biasa, ingat juga, musuh kita bukanlah darah dan daging, tetapi roh dan jiwa-jiwa tersesat, dan senjata kita bukanlah parang dan busur, tetapi Firman ALLAH.
Jika bukan oleh hal yang terlihat nyata, maka mari memulai dengan mengeluarkan buah-buah rohaniah kita. Dan katakan KITA BUKAN EKOR.

7 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Yes!
    Kita bukan ekor
    Kita adalah kepala.
    Kita buakan reaktor,
    Kita hrs menjadi aktor.

    GBU!

    • Yes, amin….

    • @Boss Maren
      @Om Parhobass
      …..”Sama sepeti Nehemia mengandalkan TUHAN, maka kita juga harus mengandalkan TUHAN, sebab IA yang mampu melihat segala ekor-ekor yang busuk itu. Yang kita hadapi adalah Tobia, adalah petinggi-petinggi yang relijius juga, beragama, bertuhan…. camkanlah itu.” …..
      :
      :
      =====
      fanya rasa problematikanya bukan ada pd aspek EKOR melainkan pd aspek BUSUKnya.

      Ekor diciptakan Tuhan dengan berbagai aspek dan fungsi positifnya bagi kehidupan. Mustahil Tuhan menciptakan sesuatu tanpa makna dan manfaat.

      fanya kira KEPALA yg BUSUK justru jauh lebih berbahaya dibanding dengan ekor yg busuk. Petinggi-petinggi, baik dari unsur pemerintahan maupun keagamaan, pd hakekatnya adalah Kepala yg membawahi ekor (umat/rakyat).

      Mungkin sangat tidak relevan dan justru akan semakin menambah permasalahan kalau kita dikotomikan antara Ekor dengan Kepala; bukan antara BAIK dgn BURUK atau SALAH dan BENAR sbgmn diajarkan Tuhan. Bukankah Tuhan mengajari kita untuk senantiasa mensyukuri apapun yg diberikan Tuhan utk masing-masing undividu? bahkan andaikatapun sepanjang hidup kita harus tetap menjadi EKOR, syukurilah, hargailah dan jadilah ekor yg baik, seperti halnya ekor pesawat yg terbang diudara ataupun bahtera yg melaju dilautan> justru sang ekorlah yg menjadi unsur penentu arah perjalanan pesawat dan bahtera tersebut.

      salam

      • @fanya

        lihat jawaban lovepassword di bawah…
        itu menjawab dilema “busuk” yang Anda sebut..dan sekaligus makna “ekor”, bukan seperti yang Anda maksud..

        salam

      • @Bapa Tua Parhobass

        Horasssssssssss….!!! Baru bisa main lagi ke rumah Bapak. Mesti semangat neh..
        Apa kabar?

        Ya, boru setuju. Boru ga mau jadi “ekor” busuk..

        -salam-

      • @inang borusasada

        horas juga, baik2 di sini…

        semoga di situ juga hehehe…

        seeplah… semoga kita bisa mengenali jalan hidup kita sehingga tidak menjadi ekor busuk heehehe

        salam

  2. hi hi hi, mudah-mudahan yang jadi ekor bukannya malah para pemimpin kita ^_^…. bisa berabe urusannya kalo luarnya pemimpin tetapi faktanya cuma buntut yang dikendalikan oleh pihak lain…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: