Kuduslah kamu

September 8, 2010 pukul 10:29 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

“Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.
(Imamat 19:2)

Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.
(Imamat 20:7)

Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku.
(Imamat 20:26)

dan 3 kutipan Perjanjian Lama ini (sampai 3 kali ditekankan) ditekankan kembali sampai empat kali oleh Perjanjian Baru melalui Kitab Petrus, untuk mengulang PL dan menegaskannya, sbb:

tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
(1Petrus 1:15-16)

Untuk melihat bagaimana di dalam keadaan kudus ditekankan di dalam kehidupan bertetangga (hidup sosial sehari-hari), baik sebagai bangsa maupun keluarga dan sebagainya mari melihat contoh berikut ini,…

Ini adalah perihal bangsa Yehuda (kita sebut saja Israel, supaya lebih jelas bagi awam) yang sudah kembali dari pembuangan, Babel. Beberapa diantaranya kembali dengan salah satu tugas yang diberikan ALLAH mereka adalah membangun kembali Rumah Allah, Bait Suci yang di Yerusalem. Ada pemimpin-pemimpin puak, ada rakyat biasa dan ada juga imam-imam, bahkan ada juga pegawai-pegawai pemerintahan, yaitu pegawai yang ditugaskan sebagai gubernur, bupati, d.l.l. Yehuda sudah menjadi daerah jajahan, dan sekarang disebut Propinsi Efrat Barat, yang dikepalai seoarang Gubernur, di bawah kendali pemerintahan pusat di Media. Awalnya dikuasai Babel, tetapi ternyata Babel ditaklukkan oleh Persia. Dan oleh pemerintahan Persialah pembangunan kembali Bait Suci itu dikumandangkan. Sebab TUHAN menggerakankan Raja Persia untuk membantu Yahudi kembali ke Yerusalem dan menitahkan pembangunan kembali bait itu.

Proses pembangunan itu bukan tidak mendapat rintangan, bangsa Arab yang diangkat memerintah , sebagai bupati-bupati di daerah itu oleh Persia, sering merintangi. Mereka bahkan sering menghasut raja untuk menghentikan pembangunan itu. Saking sering mau diserang oleh pembenci itu, rakyat yang membangun bait suci harus bekerja satu tangan sementara tangan yang satunya memanggul senjata. Atau ada rakyat yang dibuat berjaga-jaga untuk bersiap perang jika pengacau datang.

Pengacau ini bukannya berdiri sendiri, ternyata sahabat-sahabatnya ada juga orang Yahudi, bahkan pengacau ini ada yang sudah mengikat darah melalui perkawinan dengan umat Yahudi. Sudah ada interaksi.

Di tengah rintangan itu ternyata orang Yahudi, para pembesar, ada yang mempekerjakan sesama mereka, memperbudak. Sehingga rakyat yang turut serta membangun Bait Suci menjadi kewalahan, di samping ia harus membantu membangun ia juga harus menuruti kemauan tuannya. Masalah ini jelas dapat diselesaikan dengan suka rela, para pembesar itu rela membebaskan budak sesamanya, sebangsanya, demi membangun Bait Suci, terutama karena Hukum Musa melarangnya.

Sisa masalah adalah bagaimana dengan pengacau tadi.
Bukan tanpa alasan mereka mengacau, dan bukan sembarang alasan, sebab mereka juga ternyata sering berinteraksi dengan sesamam Yahudi. Dan karena ada batas “kebaikan” yang bisa ditolerir akhirnya orang-orang Yahudi ini ada yang bersifat kompromis terhadap keadaan mana hidup kudus, hidup yang dikhususkan TUHAN. Kita sering mengeluarkan pendapat-pendapat yang enak didengar kala berdiskusi secara langsung, tetapi di dalam hati bisa saja bertentangan dengan hati nurani. Dan itulah yang mungkin sering terjadi sehingga para pengacau ini berani-berani menggangu umat ALLAH. Yang pasti mereka belum di dalam keadaan mampu melihat kuasa ALLAH, karena mereka melihat umatNYA sendiri hidup tidak kudus, mereka hanya sanggup melihat apa yang dilihat manusia biasa akibat dari ketidakpercayaan mereka kepada TUHAN.

Nehemia, seorang petinggi di Yehuda, mengatakan:
(Nehemia 5:9 [IBIS])
Lalu kataku lagi, “Perbuatanmu itu tidak baik! Seharusnya kamu hidup dengan rasa takut kepada Allah. Dengan demikian musuh kita yang tidak bertuhan itu tidak kamu beri kesempatan untuk menghina kita.

Di sini dapat kita lihat, bahwa terkadang kitalah yang sering memberi kesempatan kepada pengacau. Ketika kita tidak hidup khusus, tidak hidup kudus di hadapan TUHAN, dan karena manusia yang tidak percaya kepada TUHAN hanya sanggup melihat apa yang dilihat mata, maka ia dapat menganggap itu sebagai “kelayakan” untuk bertindak lebih jauh,… salah satunya menghina umat ALLAH. Nah kebayang jika pada saat yang sama ternyata umat ALLAH sedang dihukum, maka mata yang fana bisa bekerja di dalam apa yang dapat dilakukan yaitu menolak TUHAN dan bahkan lebih jauh lagi, lebih dan semakin berani menghina semua penghuni sorga sekalipun. Pikirkan itu jika berlanjut di dunia yang majemuk ini, pikirkanlah itu sebab kita sekarang berada di dunia yang informasinya serba mutakhir.

Orang yang tidak percaya TUHAN sudah tersedia hukuman kepada dia sejak dahulu kala, tetapi jika kita tidak hidup kudus, maka kesempatan untuk melakukan kejatan demi kejahatan akan terus berlanjut dan bertambah, bahkan hujatan demi hujatan akan terus mengalir.

Akhirnya, orang bisa menghina kita karena:
1. Kita bahkan sudah menerima sesuatu yang salah sebagai kebiasaan.
2. Kita bahkan sudah lebih tunduk kepada keinginan manusia ketimbang kehendak TUHAN.
3. Kita bahkan berkompromi dengan hal-hal yang sudah nyata salah.
4. Kita bahkan tidak menyadari bahwa kita sudah dikhususkan oleh TUHAN.
5. Kita tidak memiliki hubungan yang baik dengan TUHAN.

Di atas segalanya biarlah kehendak TUHAN yang jadi dan bukan kemauan manusia.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: