Relatifnya Raja Ahas

September 7, 2010 pukul 10:35 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Raja Ahas adalah raja kesebelas dari raja-raja yang memerintah di Yehuda. Ia adalah anak Yotham yang memerintah sekitar pertengahan abad ke tujuh sebelum masehi. Ketika Raja Ahas memerintah ada seorang nabi besar yang berada di wilayahnya yaitu Nabi Yesaya.

Kala ia memerintah usianya masih muda, memegang tampuk kerajaan sampai sekitar 16 tahun, dan ia sangat jahat di mata TUHAN. Ia bahkan mengurbankan anaknya sendiri, seperti kebiasaan orang-orang Kanaan, kepada dewa-dewa sesembahannya.

Bukan perkara singkat ia berani sejahat itu, tentu ada proses panjang, ada pengalaman-pengalaman, ada pemikiran-pemikiran, dan ada petunjuk-petunjuk yang dapat ia lihat sebagai pijakan sampai berani berbuat jahat.

TUHAN berkenan ditemui jika kita dengan giat dan gigih mencari DIA, dan jika kita memulai dari selangkah menghindar dari DIA, maka lambat laun DIA akan menjauh dan pengenalan kita akan DIA-pun akan semakin kabur.

Raja-raja di Israel ditandai keberhasilannya dengan kedekatan mereka kepada TUHAN, secara fisik dimateraikan dengan kedekatan mereka kepada Rumah TUHAN, dan bagaimana mereka menerima hardikan-hardikan dari TUHAN dengan perantaraan nabi-nabi.

Dan inilah dasarnya maka Raja Ahas meletakkan mata relatifnya,…
Pada masa itu Israel, raja Asyur, dan daerah-daerah tetangganya sering mengganggu kerajaan Yehuda, temasuk Filistin, orang-orang Arab, dan oleh unjuk kekuatan yang besar ia berpihak kepada Asyur, ia yakin bahwa Asyur sangat diberkati TUHAN karena mereka selalu berhasil mengalahkan wilayah-wilayah di sekitarnya. Ia berpikir bahwa leluhurnya juga berhasil di dalam pemerintahannya karena dekat dengan TUHAN. Lihat apa kata mata relatifnya bermain:

Ia mencelakakan dirinya dan rakyatnya karena mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa orang Siria yang sudah mengalahkan dia. Ia berpikir, “Dewa-dewa Siria telah membantu raja-raja Siria, jadi kalau saya mempersembahkan kurban kepada mereka, barangkali saya akan ditolongnya juga.
(2 Tawarikh 28:23, IBIS)

Ternyata allah yang dia anggap TUHAN yang memberi kemenangan kepada leluhurnya bukan ALLAH, melainkan allah-allah lain, dewa kesia-siaan, allah-allah yang pernah dihancurkan oleh TUHAN melalui tangan-tangan leluhurnya. Tetapi oleh mata relatifitas dari pondasi kekuatan dan kemenangan ia telah keliru, sesat.

Kenapa bisa begitu?
Tak lain karena ia tidak menyenangkan hati TUHAN, ditandai dengan perbutannya yang semata-mata jahat, seperti kalimat pembuka di atas, ia telah berani mengurbankan anaknya sendiri kepada dewa-dewa, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh leluhurnya. Ia menjadi sangat tergantung kepada hikmatnya sendiri, ia sangat tergantung kepada instring, kepada data yang ia peroleh, data yang tidak lengkap karena ada unsur kecil tetapi perkasa yang ia lupakan, iman.

Bahkan ia bisa saja mengetahui bahwa TUHANlah yang mengangkat para penguasa-pengusa di bumi, tetapi pengetahuan itu hanya sebatas di benak dan tidak dimulai dari roh.
Bisa dibuktikan dengan perihal berikut:
Jika ditilik dari kerelaan dia mengurbankan persembahan kepada dewa-dewa itu, kita bisa mengangkat jempol, tetapi jika kita dapat melihat kepada siapa dia menyampaikan sesembahannya, menyerahkan hatinya, maka kita dapat berkata, dia ini amat sangat jahat. Artinya prosesi bisa sama, kerelaan bisa sama, tetapi periksalah hati kita masing-masing, apakah sudah berhadapan di dalam ROH dan KEBENARAN kepada TUHAN yang hakekatNya adalah ROH? Sekiranya Raja Ahas menyelidiki sedikit saja perbuatannya di masa-masa pemerintahannya, maka ia akan sadar betapa ia telah dihukum sedemikian hebat dengan perantaraan Siria, eh malah ia beranggapan Sirialah yang diberkati TUHAN karena Siria begitu kuat dan gagah perkasa, dan ia tidak mengetahui di dalam keadaan mana Siria mendapat semua kekuatan itu, karena ia tidak mendekat kepada DIA YANG MAHA TAHU. Ketidaktahuan itu dan ketidakberanian dia mendekat kepada TUHAN di dalam ROH dan KEBENARAN telah dimateraikan dengan kekeliruan dia memandang segala keberhasilan dan keperkasaan di bumi.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: