si Satu Talenta

September 3, 2010 pukul 7:28 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , ,

“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

(Matius 25:14-26)

Sebuah kotbah menghubungkan perikop ini dengan tanggung jawab. Di dalam kotbah itu dijelaskan tentang Tuan telah memberikan talenta-talenta, pemberian-pemberian disesuaikan dengan kesanggupan hamba-hamba, lalu ketika Tuan datang kembali (bandingkan dengan Yesus yang naik ke sorga dan memberikan Roh Kudus, lalu akan datang ke dua kali, sesaat pada akhir jaman kelak), Ia mengadakan “perhitungan”.

Saya melihat ada fakta yang menarik perihal tiga golongan yang disebut di atas. Yang menerima lima talenta dan dua talenta menjalankan arti pemberian itu lalu mendapat “berkat” menerima kebahagian Tuannya. Tidak dikatakan perbedaan antara penerima lima talenta dengan dua talenta, melainkan sama-sama menerima kebahagiaan Tuannya.

Mari melihat fakta yang ada pada penerima satu talenta tersebut. Ia berkata: “Aku tahu engkau begini dan begitu, maka aku takut dan pergi lalu menyembunyikan di bawah tanah…”.

Perhatikan alasan yang ia berikan itu,… bahwa karena ia mengetahui maka itu membuat dia takut dan tidak bekerja. Fakta-fakta inilah yang sering terjadi bagi semua manusia, kita mengetahui bahwa TUHAN terkadang menghukum dengan amat sangat kejam, ingat Kanaan, betapa TUHAN meluluhlantakkan wilayah penyembah setan itu, di bawah tangan Israel, anak-anak, hewan dan semua yang bernafas harus dimatikan. Atau perhatikan bangsa pilihan, Israel itu, dua kali mereka pernah terhilang dari sejarah, dihapuskan dari muka bumi karena kekudusan TUHAN dianggap hampa, Oleh Babel, oleh Persia dan oleh Romawi mereka hangus sama sekali. Siapa yang dapat menyangkal pengenalan Israel akan ALLAH, nyatanya mereka adalah bangsa pilihan, bangsa yang kepadanya ALLAH bekerja dan bertindak nyata dan amat sangat penuh kuasa, tiada bangsa kuno lainnya yang seperti itu.

Di dunia modern ini, pengenalan manusia akan ALLAH yang di Alkitab, karena Alkitab sudah menjadi bacaan terbuka bagi setiap orang terkadang membuat mereka menamam ke tanah pemberian dari ALLAH, karena malu dan alasan lainnya, dan bahkan bisa menghujat DIA Sang Pemberi. Pemberian di tanam ke tanah, pemberian menjadi di dalam keadaan di bawah tanah, di bawah tanah hanya ada kematian…. Dan ketidakbekerjaan itu membuahkan kematian, yah sebab apa yang mereka ketahui menjadi penghalang.

Jangan karena kita mengetahui, menjadikan kita apatis atau menganggak sepi akan Hadirat TUHAN, dan dengan berani berkata TUHAN tidak ada, sebab pada ujungnya hukuman akan ada, dan sudah ada. Dan lebih parah lagi, janganlah ketika kita sudah mengetahui tetapi kita menolak yang baik, sama seperti dosa Adam dan Hawa, ketika mereka sudah mengetahui tentang hukum pertama itu, mereka justru tertarik untuk melabraknya… itulah awal dari mati rohaniah, dan mati rohaniah tinggal menunggu waktu untuk mengalami mati tubuh, dan jiwa.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: