Dasar Yesus melawan Arus

Agustus 25, 2010 pukul 8:05 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 25 Komentar
Tag: , ,


sumber gambar:
http://undergroundlogician.blogspot.com

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
(Matius 5:38)

Jelas kalimat “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi” dikutip Yesus dari Perjanjian Lama (Kristen), atau Kitab Suci (Yahudi), dan sering Yesus mengutip dari Kitab Suci yang bukan berbahasa Ibrani, melainkan dari LXX, Septaguinta, yaitu Kitab Suci berbahasa Yunani yang diterjemahkan sekitar tahun 300-200 SM dari bahasa aslinya Ibrani. Septaguinta sendiri menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Jika kita membandingkannya maka dapat dibandingkan antara bahasa di Kitab Matius dengan bahasa di Kitab Markus. Matius berbau Ibrani sedangkan Markus berbau Yunani.

Kutipan Yesus di atas diambil dari kitab Musa,

(Keluaran 21:24 [ITB])
mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki,

(Imamat 24:20 [ITB])
patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya.

(Ulangan 19:21 [ITB])
Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.”

Masing-masing hukum di atas memang diawali dan diakhiri dengan konteks atau di dalam keadaan mana hukum itu dapat dilaksanakan, yang harus diingat adalah sampai tiga kali hukum itu diulang di Kitab Musa,… artinya amat sangat ditekankan dan amat sangat kuat penuntutannya.

Terlepas dari makna literal yang ditekankan bukanlah pertanyaan sesungguhnya, melainkan makna apa yang harus diambil. Saduki menekankan makna literal, jadi jika mata Anda dibutakan seseorang maka mata seseorang itu harus juga dicungkil sebagai ganti, adil.
Makna yang harus diambil dari hukum itu adalah tentang kekudusan TUHAN, sementara sekte-sekte di Yahudi telah membelokkannya sebagai bentuk kuasa adil untuk membalas dendam. Katakanlah jika rumah ibadah agama X1 di negara Y1 di larang, maka adil bagi suatu negara lain, Y2 untuk melarang membangun tempat ibadah yang melarang tadi, X2, di negaranya.
Jadi Yesus menekankan arti, makna, konteks yang tepat dari hukum itu, sementara arus deras sudah membawa orang, agama, opini, penafsiran kepada bentuk di atas, yaitu keadilan, membalas dendam, d.l.l.

Jadi dasarnya adalah mari melihat kekudusan yang ditekankan… dan bagaimana kekudusan itu ditekankan?
yaitu YESUS, meski harus mati demi kesempurnaan tekanan dan derasnya KEKUDUSAN yang tidak sanggup dilakukan manusia, IA serta merta merubah arah, melawan arus deras, kepada hukum baru, yang meski sudah ada sejak awal, yaitu:
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
(Matius 5:39)

Sebab arus deras yang membawa kita, yang meninabobokkan itu kalau dilihat dan diteruskan akan membawa kita kepada jurang yang dalam, seperti gambar di atas, membawa kematian.
Sementara YESUS mengajak kita melawan arus, tentu akan menguras tenaga, tetapi jika kita berserah kepada DIA yang mengaruniakan segala keperluan tepat pada waktunya, maka pada akhirnya kita hanya bisa bersyukur dan memuji DIA…

Meski dapat ditarik makna keadilan, bukan berarti manusia memiliki keadilannya sendiri, atau terpisah dari keadilan TUHAN, sebab keadilan kita seharusnya dan sepatutnya ditekankan di dalam penerapannya di atas kehendak TUHAN. Sebab jika ada keadilan yang berdasar atau berfokus kepada kemauan kita, maka cenderung akan ada sikap yang melebih-lebihkan dan setelah diimbuhi penyakit-penyakit lainnya maka cenderung yang fana akan dikejar ketimbang damai sejahtera yang pada dasarnya diinginkan oleh TUHAN yang memberi hukum itu, atau bisa jadi ketakukan yang melangit ketimbang hormat kepada DIA yang berfirman di Kitab Suci.

Maka prinsip keadilan yang dilihat TUHAN adalah menanamkan semua tuntutan mata ganti mata itu kepada tubuh Sang Putera Allah di atas salib yang penuh darah dan tangis itu, yang walau dalam keadaan penuh ratap dan derita, tetapi telah akan sedang membawa damai sejahtera kepada manusia yang tidak sanggup adil dan melayakkan kita membawa junjungan hormat kepada DIA yang disebut Raja Penyelamat, Mesias, Kristus.

Karera DIA datang dari sorga, dan kita di dunia, maka dunia adalah arus yang harus di lawan.
Terlebih karena kita adalah warga sorgawi yang untuk sementara berada di dunia ini, maka lawanlah dunia ini sebab dunia ini bukan tempat kita berada.

Iklan

25 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. saya juga berpikir, andaikata semua ajaran2 taurat/PL itu dilaksanakan secara textbook-based dan tidak disempurnakan oleh kedatangan Yesus ke dunia ini, maka yang terjadi hanyalah chaos di mana-mana.

    • @amang rodry

      tepat sekali,
      teks tanpa konteks, apalagi tanpa bimbingan TUHAN, akan memecah belah…

      maka semakin nyata, KASIH lebih menjulang tinggi ketimbang hukum..

  2. @ mr. sectiocadaveris

    Saya apresiasi pendapat bere ..,
    Untuk itulah kedatangan Kristus ke dunia ini. Mewujudkan dan menggenapi semua rancangan Allah di dalam diriNYa. Kristus datang ke dunia ini untuk melarang manusia mendekat dan datang kepada Allah dgn cara-cara manusia. Tetapi pemberitahuan bahwa semua yg akan diselamatkan dlm kekekalan nanti hanya dgn cara Allah itu sendiri. Salam buat bere dan lae terkasih

  3. saya juga berpikir, andaikata semua ajaran2 taurat/PL itu dilaksanakan secara textbook-based dan tidak disempurnakan oleh kedatangan Yesus ke dunia ini, maka yang terjadi hanyalah chaos di mana-mana.

    ==> Lha yang membuat Taurat siapa, sehingga jika dilaksanakan malah bisa menimbulkan saos?

    Jika aturan dibuat, kemudian aturan dilaksanakan malah jadinya gak karuan, ya yang geblek yang membuat aturan.

    Dalam hal ini apa yang dikatakan Yesus ? Satu Iota pun tidak dihapuskan.

    • @lovepassword

      TAURAT itu baik,
      ADAM dan HAWA itu baik,
      karena dibuat yang BAIK,

      tetapi …..

      dah selanjutnya dah tahu kan?

      kalau ngga.. tanya lagi…

      salam

  4. Oke menurutmu Taurat itu tetap baik sebelum ada Yesus atau setelah ada Yesus, atau Taurat berubah jadi tidak baik setelah ada Yesus ? Menurut pendapatmu gimana ? Lumayan juga kamu lagi seneng ditanyain…

    • @lovepassword

      saya tanya kepada Anda, dari dua pilihan ini dimana posisi Anda:
      1. Hukum Taurat diberikan untuk menyatakan atau mengungkapkan jenis kesalahan apa yang telah manusia lakukan di hadapan TUHAN

      atau

      2. Hukum Taurat diberikan sebagai jalan untuk berperilaku benar di dahapan TUHAN

  5. Bagaimana kalo saya pilih ketiga ? ^_^
    Hukum Taurat adalah aturan main yang diberikan Tuhan kepada manusia …

    Gimana mau tanya lagi ? Atau mau memilih menjawab pertanyaan ?

    • @lovepassword

      pilihan yang ketiga mu itu masih masuk di pilihan kedua saya…

      sekarang tegaskan, 1 atau 2?

      salam

      • kalo kamu bisa menyimpulkan kalimatku seindah itu lalu ngapain tanya lagi… :D… Katanya kamu pengin ditanyain eh sekarang kamu malah tanya melulu ^_^

      • @lovepassword

        segala sesuatunya harus jelas supaya menjawabnya tegas dan lugas juga…
        sebab jika ANda memecah point dua yang saya sebut, memberi sinyal kepada saya bahwa Anda tidak mengerti duduk perkaranya…

        kalau ternyata Anda memahami, apakah Anda bisa menjabarnya, kenapa memilih point dua? tentu saya butuh latar belakang pilihan Anda bukan?

        salam

  6. Ketika suatu entitas ada dalam dunianya sendiri. Ketika ada satu manusia tanpa ada entitas lain, maka pendapat benar salah, apa yang mau dilakukan dsb tergantung dari entitas itu semata.

    Lha pada kenyataannya entitas itu banyak , manusia banyak semakin lama semakin banyak. Ada interaksi kan antar manusia, antara manusia dengan entitas2 lain. Lha dalam interaksi itu bisa saja ada friksi.

    Daam filsafat Whitehead, jika ada batu di tengah jalan , batu itu netral saja, tetapi ketika ada orang kesandung batu itu, persepktif terhadap batu menjadi tidak netral lagi. Jadi dalam dirinya sendiri batu itu netral. Begitu juga manusia. Karena ada interaksi antar entitas maka ada benturan2. Lha untuk menyelesaikan benturan-benturan itu diperlukan aturan.

    Jadi aturan main itu ada , diberikan karena apa ? ya untuk menyelesaikan masalah .

    Ada pertanyaan lain ???

    • @lovepassword

      terimakasih atas jawaban Anda…

      jika kita melandaskan kepada pemikiran kita, filsafat salah satu soko gurunya, memang benar bahwa aturan dibuat sebagai tolak ukur, sebagai set point, sebagai acuan…

      tetapi timbul pertanyaan, apakah pemikiran manusia cukup menjelaskan keseluruhan terhadap apa yang TUHAN pikirkan?
      atau tepatnya bagi para penyumbang pikiran apakah mereka juga siap menerima pertimbangan terhadap sesuatu yang manusia itu tidak dapat lihat, atau dapatkah seorang materialis memasukkan persepsi dari sesuatu yang di luar materialisme semacal moralisme?…
      pengetahuan manusia tidak lengkap…makanya butuh sesuatu yang lengkap, kalau ANda percaya TUHAN tentu, anda akan mencari TUHAN, karena kita percaya TUHAN adalah LENGKAP…

      nah dari materialisme yang tidak lengkap itu kita akan berani beranjak ke pilihan PERTAMA, pilihan KESATU..
      kita akan melihat ATURAN yang lengkap di situ.. bahwa aturan main sesungguhnya adalah aturan main yang tidak hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh segala sesuatu yang badaniah… Jika segala sesuatu hanya dilandaskan terhadap apa yang dilihat maka gelombang sinyal telephone selular melalui pemancar hanya dianggap NISBI oleh materalis…

      Jadi Hukum Taurat diberikan untuk menjelaskan kepada manusia apa-apa yang dapat disentuh manusia itu ternyata ada yang disebut sebagai dosa…..manusia diberi kebebasan sejak awal, tetapi kebebasan itu harus bertanggung jawab…bagaimana disebut bertanggu jawab kalau TUHAN tidak mengatakan itu tanggungjawab…
      nah kalau tidak ada tanggung jawab maka itulah yang disebut buta mata hatinya, karena pengenalan sudah diberikan melalui HUKUM.. dan sekiranya mengenal segala sesuatu yang dapat diakibatkan oleh perbuatannya maka ia akan meminta penolong…karena tubuh itu sudah tidak sanggup mengikuti segala keinginan ROH..
      kenginan daging itu selalu bertentangagan dengan kenginan TUHAN… itu dapat dijelaskan kenapa kecenderungan manusia itu BEJAD dan KOTOR.. tetapi bagaimana manusia itu tahu ia BEJAD dan KOTOR kalau TUHAN tidak memperhitungkan itu sebagai BEJAD dan KOTOR?, maka diberilah HUKUM, untuk memperkenalkan tanggung jawab yang harus dipegang teguh.. untuk mengenali di dalam keadaa apa seseorang itu hidup…
      Jika hukum taurat diberikan untuk aturan BENAR dan SALAH, berarti manusia dapat membenarkan dirinya dihadapan TUHAN, persis seperti ahli taurat dan ahli kitab yang berhadapan dengan YESUS… mereka menggap benar di hadapan TUHAN karena mereka telah melakukan taurat, nyatanya gimana? mereka masih bobrok bukan? atau siapa orang Indonesia yang tidak mengaku beragama? nyatanya masih korupsi kan?… jadi ada yang melebihi dari situ, yaitu ketidakpengenalan manusia itu akan dosa, kenapa tidak mengenal dosa? karena tidak mengenal HUKUM… jika mengenal HUKUM, maka ia akan mengerti dosa apa yang ia perbuat,.. dan karena menyadari bahwa tubuh ini akan selalu berdosa, maka ia akan mengerti kepada siapa ia meminta pertolongan…. yaitu kepada DIA yang telah memberikan pertolongan,…
      pertolongan sudah ADA yaitu YESUS yang mengangkat semua tuntutan HUKUM tadi, pertanyaan… ANda mau berjuang melakukan tuntutan HUKUM atau Anda menerima pekerjaan YESUS lalu hidup di dalamNYA?

      manusia itu adalah tubuh dan roh dan jiwa, jika hanya masalah tubuh dan jiwa yang dibahas tidak akan lengkap, sebab ada roh juga yang mengecap segala pekerjaan ROH, dan karena pemikiran hanya berdasarkan tubuh maka ia tidak akan pernah lengkap…

      jadi intinya,…
      HUKUM adalah baik, bagi mereka yang mengerti PIKIRAN TUHAN…
      tetapi HUKUM dibelokkan menjadi sesuai dengan pikiran manusia, maka timbullan perasaan benar dihadapaNya TUHAN…

      pertanyaanya . Anda dapat mengenal TUHAN dengan mengikuti HUKUM atau Anda dapat mengenal TUHAN sebelum mengikuti HUKUM?

      salam

  7. Jika segala sesuatu hanya dilandaskan terhadap apa yang dilihat maka gelombang sinyal telephone selular melalui pemancar hanya dianggap NISBI oleh materalis…===> Contohmu jelas salah. Materialisme tentu saja tidak senaif contoh kamu . Tapi saya paham substansimu…

    Apakah dengan uraianmu yang panjang lebar ini, kamu mau ngomong kamu sedang memilih pilihan pertama.

    Saya rasa filosofi hukum di mana saja Adalah untuk mengatur, untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis antar entitas.
    Prinsip dasarnya itu. Lha dari hukum yang ada , yang dibuat yang diberikan dsb itu memang kemudian dikenali apa yang dianggap benar/salah secara legal menurut hukum itu.

    Misalnya ketika belum ada aturan dilarang terima parcel. Tentu secara legal : Memang terima parcel tidak dilarang. Karena aturannya belum ada, ketika aturan main belum ada.

    Jika belum ada rambu dilarang parkir tentu saja kan gak mungkin nangkep kamu yang parkir di situ dengan dalih dua tahun lagi ada rambu dilarang parkir.

    Tetapi tujuan rambu itu ada di situ tentu ada tujuannya. Untuk menciptakan keteraturan. Interaksi yang lebih baik, lalu lintas gak semrawut, dsb

    Secara mendasar, tujuan aturan itu tidak semata-mata menunjukkan mana yang benar dan salah secara legal saja, tetapi tentu kaitannya dengan hubungan antar entitas yang lebih baik.

    Saya rasa demikian.

    SALAM

    • @lovepassword

      jika HUKUM TUHAN sama dengan hukum yang dilihat manusia maka hukum itu bukan hukum yang dari TUHAN…dan jika hukum dunia ternyata ada mirip2nya dengan HUKUM TUHAN, lalu kenapa kita harus masih percaya bahwa TUHAN ADALAH ESA dan TIDAK ADA TUHAN YANG SEPERTI DIA?

      jadi kalau Anda menekankan dipilihan DUA, maka dipastikan mata rohani Anda masih buta, … Anda manusia duniawi yang hukum kematian kekal sudah menanti…saran saja, segera terima TUHAN…
      Sangat naif jika TUHAN memberikan suatu aturan yang mana tidak ada satupun yang sanggup dilakukan secara sempurna oleh manusia itu,…
      sekarang saya tanya, hukum apa yang sudah pernah Anda lakukan jika dikatakan HUKUM TUHAN adalah aturan semata?…ingat, jika tidak melakukan satu HUKUM maka serta merta juga telah melabrak HUKUM Yang lain…

      tetapi jika Anda pandang HUKUM itu sebagai standard kekudusan TUHAN, sebagai NILAI dari kelakuan manusia yang diperhitungkan sebagai DOSA, maka sangat jelas ARTI YESUS menjadi korban tebusan dan korban salah kepada ANDA…

      salam

  8. Yang kamu katakan itu sederhana : Hukum itu ada untuk membedakan mana yang benar dan salah secara legal menurut hukum itu. Tetapi kamu bahkan tidak menyentuh sama sekali, untuk apa hukum itu dibuat …

    Logika kamu adalah penafsiran tekstual ala ajaran Paulus. Tetapi saya rasa sudut pandangmu sama sekali tidak komprehensip.

    Hukum Manusia itu kan sebagian diturunkan dari penafsiran manusia atas apa yang dianggap Hukum Tuhan juga. Misalnya Konvensi atau Hukum Perang sedikit banyak mengambil aturan main dalam agama2, misalnya di Eropa ya ngambil dari just war yang dianggap penafsiran Kristen soal perang. kasus lain misalnya hukum perkawinan, dsb di Indonesia misalnya ya sedikit banyak dipengaruhi hukum Islam. Tidak ada masalah dalam hal ini.
    Justru saya tidak percaya bahwa hukum bisa 100 persen sekuler. Mungkin tampilannya bisa dibuat netral tetapi isinya kan mencakup juga esensi2 ajaran agama .

    ==============================

    Sangat naif jika TUHAN memberikan suatu aturan yang mana tidak ada satupun yang sanggup dilakukan secara sempurna oleh manusia itu,…
    ===> Lha pada kenyataannya menurutmu bagaimana? Sanggup atau tidak sanggup ? Kalo menurutmu Tidak Sanggup berarti Naif gitu ???
    Ya kalo kamu menaif-naifkan Tuhan ya terserah kamulah.

    Tetapi sudut pandangnya kan tidak selalu harus seperti itu bahkan.

    ==============================

    Ada yang dari Tuhan, ada yang tradisi manusia.
    Seiring berjalannya waktu itu kan berkolaborasi, kadang yang namanya tradisi bisa saja menunjang bisa saja bikin masalah misalnya membuat pelaksanaan agama jadi berat entah biar Pemuka Agama kelihatan hebat atau bisa juga karena rasanya nggak afdol kalo kurang sulit …

    Lha kuk memberatkan yang diambil Yesus itu aturan main ngalor ngidul ala Pemuka Yahudi yang seenak-enaknya mempersulit umat atau Taurat yang diberikan Allah ??? Lalu apa artinya satu iota tidak dihapuskan ?

    Coba mari kita pikirkan bersama . 🙂

    SALAM

    • @lovepassword

      sudah saya utarakan di atas, Hukum itu diberikan supaya orang bisa mengenal standard kekudusan TUHAN… untuk mengetahui keadaan2 perbuatan manusia itu ternyata ada yang disebut dosa…
      Kalau Anda membunuh dan TUHAN tidak memperhitungkan itu sebagai dosa, maka selamanya itu tidak akan menjadi dosa…contoh, perihal Adam dan Hawa, makan adalah pemberian TUHAN, tetapi ada makan yang tidak boleh, yaitu makan buah terlarang… nyatanya gimana? Adam dan Hawa melabrak kekudusan, melabrak kedaulatan TUHAN….

      TUHAN sedang “menggambar” kekudusanNYA ketika hukum itu diberikan, dan kalau ANda manusia rohaniah, tentu Anda paham makna kekudusan TUHAN,.. artinya tidak ada satupun ciptaan yang bisa disebut kudus, karena hanya Satu Yang Kudus, yaitu TUHAN… jadi kalau Anda masih berkata manusia berkolaborasi dengan TUHAN, betapa tidak percayanya Anda kepada TUHAN…

      Jika manusia berusaha mengambil nilai-nilai agama, itu wajar, karena ada nilai universal dari sebuah kata moral bagi setiap orang, terlebih karena setiap orang berasal dari satu orang, yaitu ADAM, ciptaan pertama, tetapi tidak semua orang mau dicipta ulang oleh YESUS di dalam roh…itu masalahnya…

      ANda membawa2 seorang filsuf di atas dan sedikit berfilsafat, maka saya menanggapi ANda ala filsuf hehehe ternyata itu membuat Anda berang…dan malah tidak bisa menangkap maksud saya…

      getirr juga diskusi sama Anda…

  9. Apa aku kelihatan berang tho Par? kayaknya nggaklah. Mengapa juga aku harus berang….Jawabanmu semakin antik juga aku malah semakin semangat.^_^

    Hukum itu diberikan supaya orang bisa mengenal standard kekudusan TUHAN… untuk mengetahui keadaan2 perbuatan manusia itu ternyata ada yang disebut dosa… ===> Logikamu apa gak aneh. Hukum diberikan supaya manusia tahu ada yang disebut dosa. Lha tahunya efek dosa kan setelah berdosa. Jadi apakah tujuan hukum itu memang agar manusia berdosa ??? Jika tidak, lalu darimana kamu katakan dengan itu manusia mengenal standard kekudusan TUHAN ?
    Coba kamu jelaskan pendapatmu…..

    jadi kalau Anda masih berkata manusia berkolaborasi dengan TUHAN, betapa tidak percayanya Anda kepada TUHAN… ===> kalimatmu yang ini menanggapi pendapatku yang mana, Par ?

    ===============================

    ANda membawa2 seorang filsuf di atas dan sedikit berfilsafat, maka saya menanggapi ANda ala filsuf hehehe ternyata itu membuat Anda berang…dan malah tidak bisa menangkap maksud saya…
    ==> Saya gak merasa berang, kalo menurutmu aku salah tangkep ya kamu jelaskan saja masalahnya dimana. Gampang itu kan..^_^..Tetapi masalahnya juga belumtentu salah tangkep. Saya mengambil sisi lain yang sengaja tidak kamu katakan .^_^

    getirr juga diskusi sama Anda… ===> Ada suatu masa kamu akan bahagia karena pernah mengenalku….^_^…Kalo getir mungkin kamu kebanyakan makan jeruk purut, plus kulitnya pula ^_^

    • @lovepassword

      mari kita pelajari perihal ini
      Hukum Taurat diberikan kepada Israel…
      Jika TUHAN menghendaki HUKUM TAURAT sebagai “peraturan” kepada manusia, maka seharusnya sudah diberikan kepada ADAM di EDEN bukan? ternyata tidak. Dan jika HUKUM itu diberikan sebagai aturan dari awal maka tidak ada gunanya menciptakan BABI… (hehehe dengan selera humor saya)

      Tetapi keturunan ADAM itu sudah sangat melenceng, dan dari sekian yang melenceng itu TUHAN memilih sendiri umatNYA, ISRAEL, kemelencengan ISRAEL itu belum diperhitungkan sebagai pelanggaran sampai TAURAT diberikan…arti sederhananya TAURAT diberikan supaya Israel mengenal perbuatan-perbuatan apa yang telah sering mereka lakukan ternyata ada yang tidak disenangi TUHAN…

      Contoh:
      bersetubuh itu baik dan bisa dilakukan oleh siapapun, karena ada berkat yang menyertai itu dari TUHAN, yaitu memenuhi bumi dan segala ciptaanNYA, tetapi kalau bersetubuh dengan zina itu tidak disenangi TUHAN…, (Ingat hukum ini, Jangan kamu berzinah)
      Jadi apapun bisa dilakukan tetapi tidak semuanya KUDUS… jadi dengan diberinya HUKUM kita tahu betapa KUDUSnya TUHAN… HUKUM itu menuntut kekudusan yang shalom (komplit), dan karena HUKUM itu juga membawa berkat dan kutuk maka hiduplah dengan gentar di hadapanNYA…jadi tuntutan HUKUM itu adalah kekudusan, sekaligus menjadi jalan menuju datangnya Sang Mesias, Putra Kudus ALLAH, sebagai penggantu tuntutan yang tidak dapat dilakukan oleh manusia, karena Yang Kudus hanya ALLAH, sehingga oleh Hikmad ALLAH, YESUS Yang Kudus memateraikan hukum itu dengan DarahNYA YANG KUDUS…

      kalau Anda mau berkata Taurat sebagai Peraturan, lalu kenapa Anda tidak melakukannya? kan gitu…

      salam

  10. Jika TUHAN menghendaki HUKUM TAURAT sebagai “peraturan” kepada manusia, maka seharusnya sudah diberikan kepada ADAM di EDEN bukan?

    ===> Pengandaianmu itu terlalu berlebihan , mungkin samalah dengan gaya pendeta jaman Wright Bersaudara : Jika Tuhan ingin manusia dapat terbang maka Tuhan pasti memberi kita sayap ^_^

    Senengnya kok berandai-andai. Andai Tuhan, Andai Nabi..dll…

    Tapi okelah…boleh juga jika kubedah pemikiranmu. Kan sejak awal sudah kukatakan , dengan semakin banyaknya interaksi maka diperlukan lebih banyak aturan. Lha jaman Adam itu , tentu saja jauh lebih sederhana dibandingkan jaman Musa. Ada banyak suku, ada persaingan, ada interaksi, dllyang kadangkala menghasilkan friksi.

    ============================

    Dan jika HUKUM itu diberikan sebagai aturan dari awal maka tidak ada gunanya menciptakan BABI…===> Contoh logika ngawur tuh ya yang kayak gini. ^_^ Justru jika Babi itu nggak ada, maka ya otomatis hukum tentang Babi tidak mungkin ada. Tidak perlu dibuat.

    Apa pernah kamu jumpai aturan yang membahas mengenai entitas yang tidak ada, tidak dikenal …

    ==============================

    kemelencengan ISRAEL itu belum diperhitungkan sebagai pelanggaran sampai TAURAT diberikan…arti sederhananya TAURAT diberikan supaya Israel mengenal perbuatan-perbuatan apa yang telah sering mereka lakukan ternyata ada yang tidak disenangi TUHAN… ===> Lumayan bisa diterima , seperti sudah tak tulis, sebelum ada rambu dilarang parkir di situ, maka ya rasanya aneh jika kamu ditilang gara2 kamu parkir di tempat yang rambunya mungkin baru dipasang dua tahun lagi. Meskipun demikian ada juga contoh kasus yang membuktikan meskipun hukum positipnya belum jelas ada tetapi peristiwanya tetap mendapatkan hukuman. Misalnya pembunuhan anak2 Adam. Tetap ada hukuman meskipun larangan jangan membunuh belum secara tekstual disampaikan.

    ==============================

    kalau Anda mau berkata Taurat sebagai Peraturan, lalu kenapa Anda tidak melakukannya? kan gitu… ===> Yang namanya peraturan kan bisa saja direvisi, disesuaikan dengan kesiapan manusianya, sesuai dengan situasi dan kondisi dsb dsb. Bisa juga peraturan itu berlaku secara spesifik untuk satu kelompok saja, misalnya kode etik Hakin tentu saja tidak berlaku untuk pemain sepakbola. Lha karena hal hal ini tidak bisa lantas kamu kaitkan dengan Taurat bukan peraturan. Taurat itu ya peraturan.

    Lha substansi hukum itu sendiri termasuk Hukum Taurat itu kan mengatur relasi antar entitas. Lha ini diringkas dengan sangat baik oleh Yesus : Hubungan Vertikal dan Hubungan Horisontal : Hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antara sesama manusia.

    Jadi saya rasa jelas bahwa tujuan aturan di manapun juga adalah untuk mengatur interaksi supaya baik.
    Dengan adanya aturan maka emang manusia bisa lebih tegas tahu mana yang benar dan salah menurut aturan itu. Ini benar. Saya tidak menolak ini.

    Tetapi tidak cukup berhenti sampai di sini. Tujuan aturan itu sendiri dibuat ya ada gunanya supaya menimbulkan ketertiban, menyelesaikan masalah yang mungkin ada dalam interaksi-interaksi. Itulah makanya semakin kompleks dan semakin bervariasi komponen interaksi maka aturannya ya jadi makin banyak.

    Tetapi kan tetap harus dibedakan kan, mana yang benar2 aturan dan mana yang sifatnya adalah tradisi atau penafsiran yang kadang berlebihan atas aturan. Lha ketika Yesus datang. Kan ada banyak tradisi antik ala Yahudi , tidak selalu ini bisa langsung kamu kaitkan dengan Taurat juga.

    Jadi ya dua sisi itu perlu dilihat bersama-sama. Meskipun memang harus diakui topik klasik yang selalu dipertanyakan manusia lintas jaman , lintas agama adalah :
    mana yang boleh direvisi dan mana yang tidak.

    Lha yang terakhir ini sungguh debatable..
    Mana hukum yang sifatnya mutlak , dan mana yang relatif yang bisa bebas ditafsirkan manusia.
    Teorinya mungkin mudah, seakan-akan jelas, tetapi faktanya dalam implementasi praktis masalah batasan mana yang harus diterima apa adanya dan mana yang bisa dikompromiskan tetap saja sangat debatable.

    Misalnya aliran Kristen tertentu tidak menerima peribadatan menjadi Minggu. Yang lain bisa saja ngomong itu tidak penting. Tetapi bagi sebagian yang menganggap penting kan ya penting. ^_^

    Jadi saya rasa kamu tidak bisa berhenti melihat hukum manapun hanya sebagai pembeda benar dan salah menurut hukum tersebut, tetapiu juga mesti mikir hukum itu dibuat kan mestinya ada tujuannya.

    SALAM

    • @lovepassword

      pertama:
      manusia ada, hidup, berinteraksi, jika menggunakan pilihanmu, maka aturan diperlukan… dalam hal ini HUKUM TAURAT
      nah sekarang manusia sudah ada, ADAM cs, tetapi apakah HUKUM TAURAT diberikan? TIDAK, kenapa? karena Hukum Taurat bukan hukum untuk mengatur-ngatur manusia…

      contoh, BABI telah diciptakan, ternyata di dalam taurat babi haram…
      pertanyaan, kalau dari awal TAURAT ADA, dan ternyata babi ada, lalu apa gunanya TUHAN menciptakan sesuatu yang nyata2 haram? kan awalnya manusia bebas mengkonsumsi apa saja dari setiap ciptaan itu…

      tetapi coba robah pemikiranmu itu bahwa
      HUKUM diberikan sebagai standard KUDUSnya TUHAN..
      dari ADAM sampai Musa, manusia bebas melakukan apa saja, walau dari semua perbuatan itu ada yang TUHAN tidak suka… tetapi ketidaksukaan TUHAN baru diperhitungkan sebagai kesalahan setelah TAURAT diberikan…

      contoh BABI,
      bagaimana BABI bisa diperhitungkan sebagai standard kekudusan?
      Kristen sudah tidak mengikuti taurat, tetapi secara rohani diartikan bahwa babi itu najis, karena memakan apa saja termasuk kotoran… nah kekudusan TUHAN juga begitu, Firman ALLAH adalah makanan rohaniah, tetapi jika kita mencampur2nya dengan makanan2 macam pemikiran2 sesat, maka itu telah melanggar kekudusan TUHAN..
      itu berlaku pula untuk hari2 kebaktian… mau hari apa saja, jika TUHAN berkenan maka jadilah.. hari tidak mengikat, kenapa tidak mengikat karena hukum itu bukan untuk ngatur2 manusia, … tetapi semoga dengan kebaktian dihariapapun itu kita bisa berkomunikasi dengan TUHAN dan bisa mengucap syukur, d.l.s..

      kedua
      mendapat hukuman..
      dari sejak ADAM sampai taurat diberikan kepada Musa memang banyak orang yang dihukum, tetapi mereka dihukum bukan berdasarkan HUKUM TAURAT….karena Hukum Taurat baru ada di Israel sekitar tahun 1400SM..
      hukuman2 itu sebagai penjelasan bahwa dosa telah merambat sedemikian cepat ditubuh setiap keturunan ADAM… tetapi dosa-dosa itu semua baru jelas setelah TAURAT diberikan, setelah TUHAN menggaris KEKUDUSANNYA di hadapan umatNYA..

      ketiga
      “peraturan tidak Anda lakukan karena bisa direvisi…”, kata Anda begitu…
      padahal hukum yang menyertai Taurat itu adalah JANGAN MENGURANGI ATAU MENAMBAHI, artinya Anda hanya cari2 pengandaian dan mencari2 dalih saja…
      tetapi itu semua logis, dan masuk akal keluar dari orang seperti Anda yang memahami bahwa hukum itu untuk mengatur2 manusia…

      salam

  11. nah sekarang manusia sudah ada, ADAM cs, tetapi apakah HUKUM TAURAT diberikan? TIDAK, kenapa? karena Hukum Taurat bukan hukum untuk mengatur-ngatur manusia…

    ===> Jika tidak untuk mengatur manusia, lalu untuk mengatur siapa ? mengatur genderuwo, wewe gombel, doraemon ???

    ==============================
    pertanyaan, kalau dari awal TAURAT ADA, dan ternyata babi ada, lalu apa gunanya TUHAN menciptakan sesuatu yang nyata2 haram? kan awalnya manusia bebas mengkonsumsi apa saja dari setiap ciptaan itu…===> Coba logika antikmu itu kamu terapkan ke yang lebih mendasar. Apa gunanya Tuhan menciptakan pohon larangan?

    Jika tidak ada babi, ya gak mungkin dong ada larangan soal babi. Justru karena ada babi itulah maka bisa dibuat larangan soal itu.
    Jika tidak ada pohon larangan, ya gak mungkin ada yang bisa dilarang terkait pohon itu. Setelah pohon itu ada, baru bisa ada larangan.

    =============================

    kenapa tidak mengikat karena hukum itu bukan untuk ngatur2 manusia, … tetapi semoga dengan kebaktian dihariapapun itu kita bisa berkomunikasi dengan TUHAN dan bisa mengucap syukur, d.l.s.. ===> Yang namanya hukum itu dimanapun ya untuk mengatur dan itu mengikat . Lha masalah hukum bisa saja berubah atau bisa saja hanya untuk satu kelompok saja tidak berarti bisa kemudian dikatakan hukum tidak mengikat.
    Hukum itu mengikat, tetapi ikatan itu bukan tujuan hukum tetapi konsekuensi adanya hukum. Lha tujuan hukum itu sendiri ya sebagai alat menyelesaikan masalah, alat bantu interaksi antar entitas yang lebih baik, dsb.
    =============================

    padahal hukum yang menyertai Taurat itu adalah JANGAN MENGURANGI ATAU MENAMBAHI, artinya Anda hanya cari2 pengandaian dan mencari2 dalih saja…===> Ada dua hal yang perlu kamu perhatikan. Pertama : Jangan mengurangi atau menambahi itu berlaku untuk siapa ? Untuk manusia, untuk buto cakil atau untuk Tuhan? Coba kamu pikirkan : Jangan menambahi dan jangan mengurangi ditujukan untuk siapa.

    Sejak awal kan aku sudah ngomong :

    Ada perintah ada aturan . Ada juga tradisi manusia. Lha ketika dalam suatu masa, tradisi justru menyulitkan pelaksanaan ajaran agama. Maka apa yang kamu omongkan itu justru jelas maksudnya. Jangan menambah dsb.Justru itulah makanya dikritik.

    Masalah Kedua : Ada juga sisi lain bahwa yang namanya aturan main bisa saja universal tetapi bisa saja memang hanya berlaku untuk sebagian kelompok saja, misalnya kode etik hakim tentu saja tidak perlu dilaksanakan oleh petinju. Aturan tinju tentu saja tidak perlu dilaksanakan pemain sepakbola. Tetapi walaupun bisa saja demikian, tetap saja namanya aturan itu ya mengikat pihak2 tertentu yang menjadi target aturan. Bukan lalu kamu anggap hukum tidak mengikat.

    SALAM

  12. @lovepassword

    nah sekarang manusia sudah ada, ADAM cs, tetapi apakah HUKUM TAURAT diberikan? TIDAK, kenapa? karena Hukum Taurat bukan hukum untuk mengatur-ngatur manusia…

    ===> Jika tidak untuk mengatur manusia, lalu untuk mengatur siapa ? mengatur genderuwo, wewe gombel, doraemon ???
    bukan untuk mengatur, tetapi untuk menunjukkan standard kudusnya TUHAN, kan sudah jelas diatas argumentnya…
    ==============================
    pertanyaan, kalau dari awal TAURAT ADA, dan ternyata babi ada, lalu apa gunanya TUHAN menciptakan sesuatu yang nyata2 haram? kan awalnya manusia bebas mengkonsumsi apa saja dari setiap ciptaan itu…===> Coba logika antikmu itu kamu terapkan ke yang lebih mendasar. Apa gunanya Tuhan menciptakan pohon larangan?

    Jika tidak ada babi, ya gak mungkin dong ada larangan soal babi. Justru karena ada babi itulah maka bisa dibuat larangan soal itu.
    Jika tidak ada pohon larangan, ya gak mungkin ada yang bisa dilarang terkait pohon itu. Setelah pohon itu ada, baru bisa ada larangan.

    karena hukum pertama adalah hukum larangan melawan kehendak TUHAN,… manusia telah ada, ADAM CS, lalu HUKUM langsung diberikan, tetapi bukan hukum taurat yang Anda sebut untuk mengatur manusia, kalau adam adalah manusia maka seharusnya hukum taurat diberikan kepada Adam, nyatanya bukan toh?…

    =============================

    kenapa tidak mengikat karena hukum itu bukan untuk ngatur2 manusia, … tetapi semoga dengan kebaktian dihariapapun itu kita bisa berkomunikasi dengan TUHAN dan bisa mengucap syukur, d.l.s.. ===> Yang namanya hukum itu dimanapun ya untuk mengatur dan itu mengikat . Lha masalah hukum bisa saja berubah atau bisa saja hanya untuk satu kelompok saja tidak berarti bisa kemudian dikatakan hukum tidak mengikat.
    Hukum itu mengikat, tetapi ikatan itu bukan tujuan hukum tetapi konsekuensi adanya hukum. Lha tujuan hukum itu sendiri ya sebagai alat menyelesaikan masalah, alat bantu interaksi antar entitas yang lebih baik, dsb.
    =============================
    kalau demikian pertanyaannya kan kenapa Anda tidak melakukan Taurat?, kembali lagi ke situ…

    padahal hukum yang menyertai Taurat itu adalah JANGAN MENGURANGI ATAU MENAMBAHI, artinya Anda hanya cari2 pengandaian dan mencari2 dalih saja…===> Ada dua hal yang perlu kamu perhatikan. Pertama : Jangan mengurangi atau menambahi itu berlaku untuk siapa ? Untuk manusia, untuk buto cakil atau untuk Tuhan? Coba kamu pikirkan : Jangan menambahi dan jangan mengurangi ditujukan untuk siapa.

    Sejak awal kan aku sudah ngomong :

    Ada perintah ada aturan . Ada juga tradisi manusia. Lha ketika dalam suatu masa, tradisi justru menyulitkan pelaksanaan ajaran agama. Maka apa yang kamu omongkan itu justru jelas maksudnya. Jangan menambah dsb.Justru itulah makanya dikritik.

    Masalah Kedua : Ada juga sisi lain bahwa yang namanya aturan main bisa saja universal tetapi bisa saja memang hanya berlaku untuk sebagian kelompok saja, misalnya kode etik hakim tentu saja tidak perlu dilaksanakan oleh petinju. Aturan tinju tentu saja tidak perlu dilaksanakan pemain sepakbola. Tetapi walaupun bisa saja demikian, tetap saja namanya aturan itu ya mengikat pihak2 tertentu yang menjadi target aturan. Bukan lalu kamu anggap hukum tidak mengikat.

    SALAM
    lha masalahnya Anda sudah menjenerisasi bahwa hukum untuk manusia…sekarang taurat ada, dan Anda adalah manusia, lalu kenapa tidak melakukan taurat?…

    koq lari ke hukum tinju yah, bukannya dari awal dikatakan Taurat?…

    atau katakanlah hukum petinju itu kita pakai, apakah hukum itu jika dilakukan membuktikan dia adalah standard menjadi petinju atau adalah sebagai sesuatu yang mengatur2 petinju…

  13. bukan untuk mengatur, tetapi untuk menunjukkan standard kudusnya TUHAN, kan sudah jelas diatas argumentnya…===> Apa gunanya itu menurutmu disampaikan kepada manusia jika tujuannya bukan untuk menciptakan kondisi yang lebih baik bagi manusia ???
    ===========================
    karena hukum pertama adalah hukum larangan melawan kehendak TUHAN,… manusia telah ada, ADAM CS, lalu HUKUM langsung diberikan, tetapi bukan hukum taurat yang Anda sebut untuk mengatur manusia, kalau adam adalah manusia maka seharusnya hukum taurat diberikan kepada Adam, nyatanya bukan toh?

    ===> Lho itu kan sudah tak jawab.

    Oke tak perjelas .

    Jika misalnya saja ada larangan jangan mencuri , menurutmu apanya yang bisa dicuri oleh ADAM ? Jangan berzinah ? Adam memangnya bisa berzinah dengan siapa ?
    Jangan menginginkan istri sesamamu? Adam bisa bingung pusing kepala mendengarkan semua hukum yang tidak logis sama sekali dijaman ADAM.

    Kan kasusnya lain dengan jaman Nabi Musa, karena permasalahannya memang lebih kompleks sehingga perlu aturan yang lebih jelas untuk mengatur bangsa Israel itu. Lha kalo Taurat diberikan kepada Adam, lalu logikanya gimana tho Par… Par…

    ==============================

    Menurutmu ketika Taurat itu diberikan. Taurat itu diberikan kepada siapa ? Segmen atau pihak yang diikat oleh Taurat itu sebenarnya siapa ? Kamukah ? Menurutku sih nggak.. Wong Taurat itu memang untuk bangsa Israel .

    Bahwa secara substansial substansi dari Taurat dan kitab para Nabi bisa kita terima yaitu Hubungan vertikal dan horisontal, memang iya bisa diterima. Tetapi Taurat dalam setiap detailnya kan bukan untuk kamu . Untuk bangsa Israel itu. Kalo kamu keberatan ya silahkan ajukan argumentasi.

    ==============================

    koq lari ke hukum tinju yah, bukannya dari awal dikatakan Taurat?…

    atau katakanlah hukum petinju itu kita pakai, apakah hukum itu jika dilakukan membuktikan dia adalah standard menjadi petinju atau adalah sebagai sesuatu yang mengatur2 petinju…

    ===> Ya jelas yang namanya aturan ya untuk mengatur. Tinju itu kan analogi biar kamu mudeng bahwa yang namanya aturan main bisa saja beda-beda. Bisa universal bisa juga spesifik.

    SALAM

    • @lovepassword

      bukan untuk mengatur, tetapi untuk menunjukkan standard kudusnya TUHAN, kan sudah jelas diatas argumentnya…===> Apa gunanya itu menurutmu disampaikan kepada manusia jika tujuannya bukan untuk menciptakan kondisi yang lebih baik bagi manusia ???
      pondasinya adalah mengenal kekudusan TUHAN, setelah mengenal kekudusan itu manusia akan selalu dekat kepada TUHAN…itu gunanya
      ===========================
      karena hukum pertama adalah hukum larangan melawan kehendak TUHAN,… manusia telah ada, ADAM CS, lalu HUKUM langsung diberikan, tetapi bukan hukum taurat yang Anda sebut untuk mengatur manusia, kalau adam adalah manusia maka seharusnya hukum taurat diberikan kepada Adam, nyatanya bukan toh?

      ===> Lho itu kan sudah tak jawab.

      Oke tak perjelas .

      Jika misalnya saja ada larangan jangan mencuri , menurutmu apanya yang bisa dicuri oleh ADAM ? Jangan berzinah ? Adam memangnya bisa berzinah dengan siapa ?
      Jangan menginginkan istri sesamamu? Adam bisa bingung pusing kepala mendengarkan semua hukum yang tidak logis sama sekali dijaman ADAM.

      Kan kasusnya lain dengan jaman Nabi Musa, karena permasalahannya memang lebih kompleks sehingga perlu aturan yang lebih jelas untuk mengatur bangsa Israel itu. Lha kalo Taurat diberikan kepada Adam, lalu logikanya gimana tho Par… Par…
      makanya HUKUM diberikan bukan untuk mengatur2… kalau untuk mengatur2 sudah sejak awal diberikan…
      ==============================

      Menurutmu ketika Taurat itu diberikan. Taurat itu diberikan kepada siapa ? Segmen atau pihak yang diikat oleh Taurat itu sebenarnya siapa ? Kamukah ? Menurutku sih nggak.. Wong Taurat itu memang untuk bangsa Israel .

      Bahwa secara substansial substansi dari Taurat dan kitab para Nabi bisa kita terima yaitu Hubungan vertikal dan horisontal, memang iya bisa diterima. Tetapi Taurat dalam setiap detailnya kan bukan untuk kamu . Untuk bangsa Israel itu. Kalo kamu keberatan ya silahkan ajukan argumentasi.
      kamu kan bilang HUkum Taurat untuk ngatur manusia, jadi kalau untuk manusia dan Anda manusia, saya tanya, kenapa Anda tidak melakukannya? itu saja
      ==============================

      koq lari ke hukum tinju yah, bukannya dari awal dikatakan Taurat?…

      atau katakanlah hukum petinju itu kita pakai, apakah hukum itu jika dilakukan membuktikan dia adalah standard menjadi petinju atau adalah sebagai sesuatu yang mengatur2 petinju…

      ===> Ya jelas yang namanya aturan ya untuk mengatur. Tinju itu kan analogi biar kamu mudeng bahwa yang namanya aturan main bisa saja beda-beda. Bisa universal bisa juga spesifik.

      SALAM
      saya bisa terima sample mu, hukum tinju, tetapi pertanyaan saya dijawab juga, hukum petinju diberikan untuk mengatur petinju atau menunjukkan standard seorang petindu??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: