Contoh tuh binatang!!!

Agustus 7, 2010 pukul 12:28 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 13 Komentar
Tag: , , , ,

Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.
(Amsal 6:6-8)

‘Binatang’ dalam intonasi yang rendah akan mengubah mind set kita di dalam membaca judul di atas dan seterusnya artikel ini, sebab kalau intonasinya menaik dan tinggi akan melahirkan konotasi yang buruk. Dan tentu akan menjadi bertolak belakang dengan maksud Alkitab untuk mendidik, mengajar dan menuntun.

Pemalas, dapat diterjemahkan semakai orang yang berhenti, atau orang yang tidak berbuat apa-apa di dalam bahasa umumnya disebut tidak mau bekerja atau tidak mau mengerjakan sesuatu.

Sampai-sampai Amsal menulis tentang berbahayanya pemalas ini jika ada pada tubuh kita.

Seperti cuka bagi gigi dan asap bagi mata, demikian si pemalas bagi orang yang menyuruhnya.
(Amsal 10:26)

Orang Indonesia, apalagi orang yang tinggal merakyat di Jakarta, tentu umumnya tahu rasanya disemprot asap, perihnya minta ampun, pasti dibarengi dengan mengucurnya air mata.
Sepanjang yang saya lihat, orang Palembang dan orang Korealah yang bangun pagi-pagi bisa makan makanan bercampur cuka, tetapi dari perhatian saya memang tidak jarang juga orang yang melakukan demikian itu giginya rusak berantakan….Seperti itulah perihal berhadapan dengan orang yang disebut pemalas…. Akibatnya itu langsung terasa ditempat, dan efek panjangnya juga berjalan terus sampai menghancurkan, seperti yang dirasakan gigi oleh sentuhan cuka.

Dari Amsal 6:6-8 di atas, Amsal mengajak kita bagaimana memecahkan masalah pemalas, yaitu mencari guru. Guru bukan sembarang guru, tetapi guru yang memiliki keahlian, guru yang diperlengkapi oleh keahlian luar biasa oleh TUHAN. Guru ini akan mengajari pemalas dalam hal, melihat tanda-tanda, bagaimana industri berjalan, dan ekonomi, katakanlah dalam bahasa sederhananya mengatur apa yang ia miliki.
Dari ayat kutipan itu kita bisa langsung menemukan ilmu sang guru ini, yaitu:
-guru ini dapat merasakan musim berganti
-guru ini bekerja oleh kemauannya sendiri tanpa harus disuruh-suruh
-guru ini bukan ekor (pengekor) tetapi kepala (tuan) pada dirinya sendiri atas tujuan hidupnya
-guru ini tidak serakah, ia mengumpulkan seperlunya untuk satu musim berlalu

Dan sebagainya dan seterusnya…

Hal yang sama diperingatkan pada Perjanjian Baru,

2Tesalonika 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Dan siapakah guru ini, dia adalah si binatang (ingat intonasinya jangan dinaikkan dan jangan ditinggikan), ialah si semut.

Hai pemalas pergilah ke guru, jangan hanya pergi, tetapi perhatikan sang guru, bukan hanya perhatikan, tetapi jadilah bijak seperti guru…biar kamu dapat makan…

Hai manusia, pergilah ke Guru,… jangan hanya pergi, tetapi perhatikan Sang Guru,… bukan hanya perhatikan, tetapi jadilah bijak seperti Guru, biar kamu dapat makan, sebab kata Alkitab, “Kita makan bukan hanya karena roti saja, tetapi oleh setiap firman yang keluar dari mulut ALLAH”.

Yang tidak berguru kepada Guru, bahkan disebut pemalas, pemalas yang tidak akan mendapat makanan, bagaimana tidak, sudah ada milyiradan alkitab dari berbagai bahasa yang ada di dunia ini, kalau Anda tidak pergi, tidak memerhatikan, tidak seperti Guru… maka jangan berdalih, bahwa semuanya sudah diucapkan dahulu apa yang akan terjadi, Anda tidak akan dapat makan, dan makanan kita kelak adalah makanan rohani dari setiap Firman Yang TUHAN berikan sampai kekal.

Iklan

13 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. semut semut kecil
    saya mau tanya
    apakah kamu di dalam tanah tidak takut cacing?

    oek oek di jawabmu
    oek oek itu katamu…

    semut emang terkenal hewan rajin. bisa mengangkat beban yang bahkan lebih berat ketimbang berat badannya. Pandai bekerjasama sampai ngangkat cecak pun bisa.

  2. @ Lovepasword

    Kamu memang seperti semut juga ya love ?? Rajin berdebat dan berdialog dengan semangat semut. Hanya walaupun sifat semut itu kamu tahu sangat rajin dan pandai bekerj sama . Hanya saja ada satu karakter semut yg tidak kamu tiru.. yakni rajin bekerja dan tidak banyak ngomong. Semut itu kalem dan tidak pernah bersuara. Tidak pernah cerita atau bertanya ke sana menjawab ke sini. Semut adalah bangsa hewan yg juga mengetahui tanda-2 alam . Nah sifat-2 itu yg tidak ada kulihat pada dirimu ..?

  3. Coba kamu ngomong gitu sama pendetamu RAS, bisa dicium mesra ntar kamu. Semut itu gak banyak omong Pak pendeta . ^_^ Whaduh

    Tapi untungnya
    karena gw bukan pendeta yah saranmu rada masuk akal sih. 🙂
    Tapi kalo semut nyanyi pun kan kau tak tau RAS. Lha wong kamu bukan semut.

    Tuh buktinya ada suaranya : Oek Oek …gicu …

    kamu doyan es krim gak RAS ?

  4. @ Lovepasword

    Love .. love ..
    Sepertinya hanya kau saja dan nabi Sulaiman yg ngerti bahasa semut . Cuman.., kamupun harus juga memahami, bhw semut juga mengetahui tanda-tanda alam ..? Kamu mengetahui tidak arti tanda akhir jaman itu ??

  5. tanda2 akhir jaman?…
    a.l. maraknya dan dilegalisirnya perilaku sex bebas, homoseksual, perkawinan sejenis dll oleh pemerintah dan institusi keagamaan sbgmn terjadi di jaman nabi Luth…..

  6. @ Fanya

    Sangat benar ucapapanmu itu dek Fanya ttg tanda-tanda akhir jaman itu…
    Tetapi akar dan dasar dari segala tanda-tanda akhir jaman itu adalah cinta akan uang. Itulah kejahatan yg mengiringin tanda-tanda akhir jaman sekarang ini. Manusia telah meletakkan moral dan harga dirinya dalam bentuk mata uang. Sehingga sekalipun manusia itu pemalas dan tidak rajin jikalau ia memiliki harta dan uang cukup uang maka semua orang akan menghormatinya. Dari sinilah harusnya kita memahami keMALASAN yg menghinggapin hampir semua manusia. Contohnya seorang wanita yg ingin memiliki uang banyak tetapi tidak mau bekerja keras akan berupaya menghalalkan segala cara utk mendapatkan banyak uang yg penting dia berkelimpahan segala sesuatu. Cintanya akan uang telah mengaburkan arti hidupnya yg benar-benar di hadapan ALLAH yg Benar.

    • @Ito RA Sihotang

      Tetapi akar dan dasar dari segala tanda-tanda akhir jaman itu adalah cinta akan uang. Itulah kejahatan yg mengiringin tanda-tanda akhir jaman sekarang ini. Manusia telah meletakkan moral dan harga dirinya dalam bentuk mata uang.
      :
      :
      :
      Betul, betul betul….
      Kemalasan yg menguasai jiwa seseorang dpt menjerumuskan manusia pada posisi yg sangat hina, bahkan lebih rendah daripada hewan..

      Salam

  7. Jadi ingat diskusi antara dua kutup kemakmuran dan penderitaan.

    Ada yang mengaitkan dengan kemiskinan identik dengan dosa ada juga yang mengatakan justru beragama berarti siap menderita..Hi Hi Hi..

    Ada yang menekankan Nabi Muhammad hidupnya sederhana , ada yang mengaitkan dia pedagang yang sukses. Ada yang ngomong pemimpin mesti sederhana, ada yang ngomong kalo pemimpin miskin gimana nolong rakyatnya. ^_^. Ada yang risih kalo lihat tokoh agama hidupnya bergelimang kemewahan. Ada yang malah bangga .

    Dalam Kristen ya sama ramenya. Sampe-sampe ada debat keras Yesus itu kaya atau miskin ???

    Yang mengatakan Yesus itu kaya : Karena kalo nggak, tidak mungkin orang2 Romawi membuang undi atas pakaian orang gembel. Pengikut Teologi Kemakmuran berkampanye di mana mana : Yesus tidak mungkin bisa memiliki murid-murid atau banyak pengikut jika Dia miskin. Dia tidak mungkin bisa mendapatkan rasa hormat dari mereka. “Yang miskin akan mengikuti yang kaya, yang kaya mengikuti yang kaya, tapi yang kaya tidak pernah mengikuti yang miskin,”

    Kehormatan bisa diperoleh dengan kekayaan. Bahkan miskin diidentikkan dengan dosa. Hik hiks…

    Padahal Gandhi, Teresa toh juga gak kaya2 amat. Logika idiot.

    Bahkan di forum Kompas pernah diperdebatkan Yesus itu kaya atau miskin? Tentu saja ujung2nya adalah legalisasi pendapatnya…

    Mengapa agama dengan keras dikritik sebagai candu dunia , ya salah satunya yah karena masalah-masalah seperti ini :

    Pada satu sisi agama tidak berbuat apa-apa terhadap kemiskinan selain ngomong : Jika kamu begini begini akan diberi rahmat berkat dsb berdagang dengan Tuhan, agama secara tidak langsung ngomong elo miskin karena kebanyakan dosa bertobatlah 😦
    tetapi pada sisi lain agama justru menghakimi orang2 miskin bahkan menjadi bemper orang2 kaya untuk menghadapi orang miskin. Kemiskinan menjadi identik dengan dosa atau kesalahan yang patut dihukum, atau tidak mau berusaha. Sementara agama diam saja terhadap sistem2 yang tidak berpihak terhadap rakyat kecil … Memalukan sebenarnya.

  8. @Om LP.

    Pada satu sisi agama tidak berbuat apa-apa terhadap kemiskinan selain ngomong : Jika kamu begini begini akan diberi rahmat berkat dsb berdagang dengan Tuhan….
    :
    :

    Sudah sewajarnya jika semuanya memang bergantung pd usaha masing-masing individu, …. agama kan pd hakekatnya hanya merupakan pedoman dan petunjuk hidup utk dipelajari dan diimplementasikan oleh manusia agar selamat sejahtera hidupnya. Yang menentukan segala sesuatu adalah Tuhan dgn segala hukum-Nya.

    Kekayaan dan Kemiskinan duniawi fanya pikir tak mesti punya korelasi langsung dengan pahala dan dosa, atau tak lebih merupakan salah satu ujian.

    Nabi Sulaiman adalah nabi yang sangat kaya sementara Nabi Ayyub adalah nabi yang miskin…..kaya atau miskin bukanlah aspek penentu bagi seseorang untuk menjadi patuh dan taat kpd Sang Pencipta. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana seseorang bisa menjadikan dirinya survive ketika ia miskin atau bahkan menjadi kaya dan mengetahui untuk apa kekayaannya; begitu pula bagaimana mengisi kemiskinannya bagi kebaikan dirinya dan orang-orang disekitarnya….

    salam

  9. @ Lovepasword

    Kau ini lari lagi arah kompasmu …
    Mengapa menuding bhw Yesus adalah seorang kaya atau miskin ?? Apa kamu belum tahu bhw Dia adalah pemilik segala yg ada di dunia ini ?? Bagi Dia itu semua tidak ada arti krn Bapa sudah mengatakan melalui Kristus bhw yg terbesar dari segala sesuatu itu adalah KASIH . Jangan kita hanya tahu ngomong doang tetapi bertindak menurut apa yg kita katakan itu kita tidak pernah mau . Not Action Talk Only ( NATO ) . Jadi kemiskinan itu juga bagian dari rencana yg tidak kita mengerti ..? Apakah memang kita harus membantu sesama kita utk membuktikan iman atau beriman untuk membantu sesama. Tokoh agama bukanlah acuan tentang yg kamu katakan itu ..

  10. Perasaan aku gak menuding apa-apa deh. Apa pentingnya Yesus kaya atau miskin. ^_^

    Tetapi yang aku katakan sederhana : Memang ada perbantahan semacam itu yang dilakukan pakar2 teologia, pakar tafsir dsb Tujuannya apa? Ya membenarkan teologia masing-masing. Yang pro penderitaan ya ngomong Yesus miskin. Yang pahamnya teologi Kemakmuran ya ngomong Yesus kaya.

    Yang satu ngomong : kalian miskin karena diikat dosa. Yang satu ngomong : kalian penyembah mamon yang menjual agama.

    Sebenarnya gini ya : Terkait soal kemiskinan kan ada banyak aspek yang perlu dilihat kalo tinjauannya adalah tafsir2 keagamaan.

    Ada yang mengaitkan dengan takdir , ada orang kaya ya pasti ada orang miskin.
    Ada yang mengaitkan dengan kurang berusaha, jika berusaha pasti nggak miskin.
    Ada juga yang perlu dilihat yaitu karena sistem yang tidak berpihak pada pengentasan kemiskinan. Sistem kapitalis penyebab kesenjangan dsb. Lha karena ada aspek sosial dalam agama , maka mau tidak mau ya itu tetap perlu dilihat. Agama( kalo aku ngomong agama maksudnya pemeluk agama^_^) harus kritis terhadap hal2 yang menyebabkan ketidakadilan dalam masyarakat. Jangan misalnya karena disumbang milyaran maka tokoh agama diam saja menikmati hidup.
    Justru menjadi bemper terdepan ketidakadilan. Sejarah membuktikan ketika pemuka2 agama menulikan dirinya maka agamanya juga akan terdistorsi muncul gerakan-gerakan anti agama, misalnya klaim agama adalah candu dsb.

    Jadi bagaimanapun ada aspek pribadi dan sosial.
    Misalnya saya atau kamu atau siapapun mensyukuri kemiskinannya ya silahkan saja atau berusaha tidak miskin ya bagus2 saja. Itu dalam perspektif pribadi masing2 kan. Instropeksi pribadi. Tetapi dalam perspektif bangsa atau masyarakat yang lebih luas ya mestinya sistem juga perlu dikritisi.

    Jika kamu ngomong ke orang miskin : elo miskin karena sudah bawaanmu miskin . dah dari sononya. Takdirmu emang jadi orang miskin

    Atau kamu miskin pasti karena kamu kurang berusaha.

    Yah itu penarikan kesimpulan yang parsial dan rada menyebalkan. Karena mestinya ada aspek lain juga yang perlu dilihat. Sistem yang rusak dsb dsb.

    SALAM

  11. Kekayaan dan Kemiskinan duniawi fanya pikir tak mesti punya korelasi langsung dengan pahala dan dosa, atau tak lebih merupakan salah satu ujian.

    ===> Yah bisa saja diartikan ujian. Bahkan kekayaan juga ujian. Tetapi kan ada perspektif juga akibat dosa maka dihukum. Misalnya kamu bisa melihat banyak tayangan TV yang menunjukkan itu kan ? Orang jahat sering mengganggu sesamanya kemudian endingnya orang itu menderita , miskin, terkena musibah dsb.

    Persepsi soal miskin, derita, dsb itu sendiri memang bervariasi : Bisa dikaitkan dengan hukuman, bisa dikaitkan dengan ujian, bisa dikaitkan dengan rencana indah di masa depan(rahmat yang masih tersembunyi) dsb. Jadi memang kaya perspektif.

    Lha seseorang dengan paham kemakmuran cenderung melihat kemiskinan hanya secara parsial yaitu : Karena elo kebanyakan dosa maka elo miskin. Atau elo kurang saleh dsb dsb maka ya nggak kaya-kaya. Fenomena semacam itu memang beneran ada.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: