si Filsuf vs si Nelayan

Agustus 5, 2010 pukul 12:53 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag: , , , , , , ,

Judul dari artikel ini sebenarnya adalah LOGOS, λογου, tetapi saya merangkumnya sebagai Logos ala filsuf dan Logos ada si Nelayan saja.
Siapa filsuf itu?, tentu para helenis, yang dalam hal ini, saya rangkum saja pada diri Philo, seorang filsuf Yunani-Yahudi hasil didikan suatu pusat pendidikan di Alexandria Mesir. ….
Siapa nelayan yang saya maksud?, siapa lagi kalau bukan Rasul Yohanes.
Mereka berdua ini hidup sejaman…. Dan dari pencatat Perjanjian Baru kata Logos hanya dapat ditemukan ditulisan-tulisan Yohanes.
Logos, dalam cara pandang filsuf memang berbeda-beda, tetapi dalam pandangan Philo tentu diambil dalam pondasi Alkitab Yahudi, Perjanjian Lama Kristen, yang dipadunya dengan filsafat Yunani yang terkenal itu, ia menyebutnya dalam term umum Yahudi, davar ADONAI, kalimat ALLAH, Firman.
Dalam pandangan para filsuf, macam Heraclitus: “Logos tidak dapat dimengerti sepenuhnya, kita hanya bisa mendengarnya”…, Aristoles berbicara lebih ke teknis, “oleh logos kita dapat mengerti orang lain”,… dan seterusnya oleh Philo yang lebih condong kepemikiran ala Plato, “Bahwa ALLAH Yang sempurna, atau apapun itu”, di dalam kepercayaan Plato, “tidak dapat dijangkau oleh apapun itu yang tidak sempurna”. Jadi kesimpulannya Philo berkata: “Saya hanya mendengarnya.”……..”saya hanya dapat mendengar logos”.
Secara umum bagi filsuf Logos itu tersembunyi, Allah itu tersembunyi,…mungkin Ia pernah sekali datang ke dunia yang tidak sempurna itu tetapi setelah itu IA tersembunyi, Ia hanya kita dengar dari Logos”, kira-kira begitu…

Bandingkan dengan si Nelayan yang satu ini,

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.
(1Yohanes 1:1-5)

Note: Firman adalah Logos.

Inilah yang membedakan LOGOS ala pemikiran dan LOGOS yang realistis. LOGOS pemikiran memang hanya dibayangkan dan dipermainkan dalam legalisasi perkataan-perkataan, lainnya nonsen, tidak ada kuasa tidak ada power.Tetapi seorang nelayan, yang tidak terpelajar, telah melampaui apa yang tidak dapat filsuf itu lakukan, bahkan jauh melampaui, membubung tinggi bagai awan-awan permai…
Para filsuf hanya mendengar dan memberitakan kepada orang yang banyak juga memakaianya, tetapi si Nelayan ini mendengar, melihat, menyaksikan, menjamah…dan memberitakan itu semua kepada mereka yang mau mendengar juga…. Ia benar-benar sedang bermain di laboratorium LOGOS, dan ia berhasil, ia tidak berdiri di sisi retorika dan luasnya angan-angan…. Tetapi ia menjamahNYA….

Artinya, katakanlah kasat mata kata dan pengertiannya sama mengenai “LOGOS”, tetapi dari apa yang dapat diberitakan, dari apa yang didapat dari itu semua, kita dapat melihat jarak yang tidak dapat diperdamaikan, ibarat antara sorga dan neraka.

Sekarang, bagaimana dengan kita, percaya oleh hasil pemikiran ala retorika atau percaya kepada pemikiran oleh dasar yang kuat? Bukan berkata retorika tidak perlu, tetapi jika retorika tidak dipijakkan di bumi, itu hanyalah awan, air menguap yang akan kering, hilang entah kemana….
Dan Yohanes bukan berbicara tetang apa yang disebut lidah dan apa yang diterima pikiran mengambang, tetapi perkara apa yang ia saksikan sendiri…

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Bukan lautan hanya kolam susu, tapi petani dan nelayan masih miskin

    http://pobersonaibaho.wordpress.com/2011/11/15/indonesia-kolam-susu-tapi-nelayan-dan-petani-miskin/

    • di negara kita belum ada industri pertanian yang merakyat…
      bagaimana kalau kita mulai?
      tanaman padi ditanam oleh rakyat secara tradisional, dikumpulkan secara “kulakan” rata2 ke tengkulak..
      pengusaha kaya, petani cukup2an saja
      bagaimana kalau kita bangun industri pertanian padi yang merakyat?

  2. saya setuju, kalo memang menyaksikan sendiri emang paling mantep… Karena itu harap maklum jika banyak orang yang skeptis sebab memang selayaknya demikian , bukankah memang selalu ada perbedaan antara yang mendengar, melihat dan meraba dan seorang yang hanya mendengar tetapi tidak ada yang dilihat. Tunjukkanlah bukti yang bisa dilihat, didengar diraba sama seperti kata Yohanes itu maka semuanya akan beres. 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: