Palsu

Juli 22, 2010 pukul 12:13 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 133 Komentar
Tag: , ,

Petrus menasehatkan tentang adanya guru, pengajar, panutan, tetapi yang satu ini adalah palsu….
….dapat diketahui bahwa para palsu itu sudah banyak yang menyusup ke dalam tubuh gereja, seperti halnya nabi-nabi palsu juga menyusup di dalam Jemaah Allah pada masa lampau,….

(2Petrus 2:1-22 [ITB])
Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu.

ini saya sebut pembukaan, menjelaskan landasarn akan apa yang pernah terjadi, dan menubuatkan akan apa yang akan terjadi, dan sudah sedang melihat apa yang terjadi, yaitu perihal banyaknya guru, nabi, rasul, imitasi saja…apa saja yang dilakukan para imitasi itu?, mari kita lanjut kutipan satu pasal penuh dari pasal ke dua, dua Petrus berikut, saya akan membuat text warna purple terhadap apa yang para imitasi itu lakukan, dan membuat text warna hijau terhadap hukuman apa yang para imitasi, para palsu tersebut dapatkan,….


– Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan,
– bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan
dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.
Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.
Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.

lalu Petrus kembali membuat perbandingan-perbandingan untuk menjelaskan betapa semuanya akan menjadi nyata dan akan terjadi, hukuma kepada para palsu, para imitasi, yang terkadang menunggu waktu, yang terkadang tidak dapat kita terima, yang terkadang membuat umat Allah menderita,….antara lain contohnya sebagai berikut,


– Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman;

– dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik;

– dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian,
tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, —
sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa–


maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman,


– terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah.
– Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan,
padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah.

Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar,
dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka.


– Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan.
Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu.


– Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa.
– Mereka memikat orang-orang yang lemah.
– Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan.

Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!


-Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.

Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu.


– Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.
– Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan.
– Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.
– Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya,
maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.
Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.
Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.”

Iklan

133 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Palsu…., tiruan, bajakan, tak original,…. terus merajalela dan menjamur di berbagai aspek kehidupan….

    Uang palsu, meski sdh jelas bikin kacau ekonomi, bikin negara merugi, namun tetap aja banyak pihak yg memproduksi, meski para pelaku terus dicari polisi, atau dipenjara dibalik jeruji besi……

    Tas, sepatu, parfum, perhiasan dan pernik2 aksesoris imitasi (palsu)…. terbukti amat digemari dan diminati, dan orang2 terus mencari…… (apalagi yg KW 1,.. hihihi…)

    CD, DVD lagu dan film bajakan (palsu), begitu leluasa diproduksi dan leluasa ditransaksi…. (konon akal2an produsen asli biar ga bayar pajak dan royalti…..???). Terbukti ketika ada video mesum selebriti, meski hampir semua orang mencaci… tapi diem2 terus mencari…. dan mengoleksi!

    Palsu, palsu, palsu….
    Meski palsu mudah dideteksi, diidentifikasi oleh mata dan juga logika, namun tetap saja …. nafsu, egoisme dan kepentingan individu jua yg lebih mendominasi kehidupan manusia…….

    salam

    • @fanya

      fanya tahu ngga kenapa begitu?

      • @ Om Parhobass

        kayaknya sebagaimana fanya tulis dlm paragraph terakhir…
        …namun tetap saja …. nafsu, egoisme dan kepentingan individu jua yg lebih mendominasi kehidupan manusia…….

        salam

      • @fanya

        yup,
        kenapa bisa begitu?
        kenapa ada nafsu, egoisme, kepentingan individu?

        fanya tahu ngga kenapa?

      • @ Om Parhobass

        Yang pasti adalah karena manusia…….hidup, dan ingin nikmati hidup… hihihi!!
        (ga ada khan orang mati yg masih bernafsu atau egois… hihi – jgn sewot loh)

        Penyebab utama berikutnya jelas adalah rendahnya kecerdasan spiritual…. karena dimensi spiritual selalu lebih mengedepankan nilai2 moral, kepatutan dan baik-buruk bagi segenap manusia dan seisi bumi dibanding faktor untung-rugi; salah-benar; menang-kalah; enak-nggak enak…. dst.

        gitu kali Om….

        O ya…, dan yg tak kalah pentingnya, menurut fanya sih…, adalah rendahnya kemauan dan upaya orang2 utk menempatkan segala sesuatu pada tempat dan tatanan yg semestinya……… atau mungkin dgn kata lain rendahnya kemauan dan upaya utk mengalahkan dorongan nafsu dan egoisme….. kayaknya sih gitu.

        salam

      • @fanya

        ok terimakasih atas jawabannya,

        Yang pasti adalah karena manusia…….hidup, dan ingin nikmati hidup… hihihi!!
        (ga ada khan orang mati yg masih bernafsu atau egois… hihi – jgn sewot loh)
        so pasti…

        Penyebab utama berikutnya jelas adalah rendahnya kecerdasan spiritual…. karena dimensi spiritual selalu lebih mengedepankan nilai2 moral, kepatutan dan baik-buruk bagi segenap manusia dan seisi bumi dibanding faktor untung-rugi; salah-benar; menang-kalah; enak-nggak enak…. dst.

        gitu kali Om….
        hmmm,
        bisa diperjelas apa itu kecerdasan spiritual?

        O ya…, dan yg tak kalah pentingnya, menurut fanya sih…, adalah rendahnya kemauan dan upaya orang2 utk menempatkan segala sesuatu pada tempat dan tatanan yg semestinya……… atau mungkin dgn kata lain rendahnya kemauan dan upaya utk mengalahkan dorongan nafsu dan egoisme….. kayaknya sih gitu.
        justru inti pertanyaannya kan di situ, kenapa bisa begitu, kenapa kemauan itu bisa rendah?…

        salam
        salam juga

      • @ Om Parhobass

        weleh weleh….si Om ni sukanya ngetes orang…… masa tanya kecerdasan spiritual segala? (tuh Pak Ary Ginanjar jadi garuk-garuk kepala deh…..hihihi…)

        Namun begitu, keberadaan kecerdasan spiritualpun menjadi kurang berarti tanpa kemauan kuat utk mewujudkan nilai2 kebaikan dlm kehidupan sehari-hari.

        kenapa kemauan itu bisa rendah?…. jawabannya kembali lagi antara lain karena tergoda nafsu, lebih mengedepankan egoisme dan kepentingan individu; kurang memahami nilai2 moral, nilai2 kepatutan dan baik-buruk; atau ………. emang tabiatnya rusak begitu….. (buktinya banyak “kepalsuan” yg dilakukan oleh orang-orang kalangan agamis dan spiritual hehehe…..)

        udah ah… kepala fanya jadi pusing nyari jawaban buat pertanyaan2 Om nih….!

        salam

      • @fanya,

        hehehehehe,…
        saya hanya ingin tahu bagaimana fanya memaknai manusia itu…

        jawabannya adalah…..
        karena manusia sudah rusak…
        hanya itu…

        karena rusak itulah maka dijanjikan “perbaikan”,
        “perbaikan” sudah datang,

        pertanyaan,
        mau ngga mengakui “kerusakan”-mu
        kalau Anda mengakui, maka selanjutnya adalah…
        mau ngga menerima “perbaikan”,.. kalau mau
        maka buktikanlah kepada dunia bahwa Anda adalah manusia yang sudah mau menerima “perbaikan”, berjuanglah dan bertumbuhlah….

        salam

  2. @Bapa Tua Parhobass dan Mbak Fanya

    Mau dibuatkan teh ataukopi??? 😀

    • @inang borusasada

      ooo mantap, teh hanget inang sama rootii kaaalaaapaa hehehhe

    • @borusasada

      fanya sih pingin gulai daun singkong tumbuk pake tekokak…. hihihi

  3. Coba kupikirkan dialog ala Socrates makan kates(pepaya) :

    Karena manusia sudah rusak

    Mengapa manusia rusak ?

    Karena dosa.

    Mengapa ada dosa ?

    Karena …apa hayoooo….

    Karena eh karena …. karena eh karena apa ya ?

    • @lovepassword

      dosa ada karena manusia menggunakan hak pilih yang diberikan Allah kepadanya kepada hal yang tidak sesuai dengan kemauan TUHAN.

      ALLAH memberikan hak pilih karena ALLAH mengasihi manusia
      Kasih terbesar adalah ketika kita bisa membiarkan orang yang kita kasihi menentukan pilihannya sendiri…

      Sokrates makan kates KO, saya kira, karena ia tidak mau percaya ALLAH…

  4. Tadinya mah aku mau menanggapi jawaban komentarmu, tapi rada males… Hi Hi hi mendingan aku menulis kisah drama dulu..

    Hmmm …

    Setidaknya Sokrates cukup gagah meminum racun yang diberikan padanya dengan tersenyum mringis…

    Yunani oke deh kuminum racunmu tapi jangan kau tangisi aku. Sebab aku tidak ingin melawan tatanan walaupun ada konsekuensi ketidakadilan. Tetapi jika semua orang bebas berbuat semaunya dengan mengatas namakan keadilan , lalu apa kata dunia… bukankah begitu kata dirjen pajak …

    Jadi yah kuminum racunku, bukan karena kuakui kesalahanku tetapi karena kuhormati hukum dan aturan, sebab aku tidak ingin memberikan contoh bahwa atas nama keadilan, seseorang boleh mengaktulisasikan diri semaunya sebab akan menimbulkan benturan kepentingan…

    Yunani tertawalah sekarang, tapi jangan kau tangisi kematian orang yang kau inginkan…

    Sebab apa artinya kematian bagi manusia yang pasti akan mati. Aku memilih mati dengan gagah berani. Sini berikan saja racunku biar kuminum sepenuh cinta…

    Hi hi hi…

    Kayaknya begitulah suasana hati Sokrates…
    Dan seperti lazimnya drama, Yunani pun benar2 menangis ,

    Manusia sungguh aneh : Dalam sekejab menginginkan nyawa orang lain.

    Dalam sekejab lainnya : Menyesali dan menangisi kematiannya…

    Oh manusia manusia …

    Apakah Sokrates KO ? Ya mana kutahu… aku gak pernah melihat pertandingannya….

    • @lovepassword

      pertanyaan balik ke Anda

      kenapa manusia begitu?

  5. karena manusia bisa memilih untuk menjadi begini atau begitu. Ada yang memilih begini ada yang memilih begitu ada yang memilih begini begitu ada yang tidak memilih begini begitu. gini gitu gini gitu.

    • @lovepassword

      dan… kenapa Anda bisa memilih?

  6. Di dalam hidup ini tentu ada sisi dimana kita bisa memilih dan ada juga sisi dimana kita tidak bisa memilih. Saya bisa memilih karena memang saya bisa memilih pada bagian yang saya bisa memilih.

    Intinya : Ada hal2 yang sudah sejak semula secara mendasar menjadi atribut manusia, ada hal2 dimana manusia tetap terbatas juga, misalnya saya toh juga gak bisa memilih dilahirkan siapa dan lahir dimana. Ibu saya mungkin bisa memilih saya dilahirkan di rumah sakit mana, tapi saya gak bisa. Saya juga gak bisa memilih minum ASI atau minum kopi susu , atau minum jus jambu waktu saya bayi kan. Jadi tidak semua hal saya bisa memilih.

    Lha dalam kondisi saya masih bayi, tentu tanggung jawab orang tua saya untuk membantu memilihkan, dengan cara membatasi pilihan saya bukan karena tidak cinta tetapi karena saya memang belum mampu memilih.

    Rasanya gak mungkin kan atas nama cinta ibumu memberikan pilihan dua gelas yang satu berisi baygon yang satu jus jeruk. Silahkan anaknya mau milih mana.

    Itulah sisi lain yang layak dilihat.

    SALAM

    • @lovepassword

      terimakasih atas pandangan Anda,
      yang saya tanya kenapa Anda bisa memilih?

      bukan bertanya tentang batasan dan aturan dan lainnya…
      memang tepat ada suatu waktu kita tidak dapat memilih, mati contohnya, manusia ada yang ingin memilih lebih lama, tetapi manusia sudah pasti akan mati, jadi tidak ada pilihan,…

      tetapi bukan berkaraitu kawan,… perkara pada suatu saat kita bisa memilih,
      pertanyaannya,
      kenapa pada suatu masa itu kita bisa memilih?

      kenapa?

      • @Om Parhobass

        pertanyaannya,
        kenapa pada suatu masa itu kita bisa memilih?

        ======>

        menurut fanya sih karena pd titik (momen) tertentu manusia memang “dipaksa” untuk membuat pilihan……; pd momentum tsb manusia tidak bisa cuma “diam” atau abstain…..

        apakah mungkin manakala Tuhan bertanya : “apakah kamu terima Aku sebagai Penolong/Juru Selamatmu?”…. trus kita jawab ..hmmm… hamba mau abstain aja, abis bingung milih antara “ya” …. atau “tidak” ……….

        Tuhan mungkin akan bilang: “dalam hal ini ga ada abstain; kalau kamu tidak menerima Aku, berarti kamu sudah memilih “tidak”, meski kamu tidak memilih siapapun, apalagi kalau kamu milih tuhan lain selain Aku”.

        nah dari situasi tsb fanya simpulkan bhw berbeda dgn momen permulaan (lahir) dan momen pengakhiran (mati) yg tidak bisa kita pilih, ketiadaan hak memilih tsb penyebabnya adalah karena Tuhan tlh menetapkan “tidak boleh memilih” (tidak memberi hak pilih), sedangkan ketika kita diberi hak pilih, kita mutlak “wajib” memilih….. dmk pendapat fanya, meski belum tentu bener loh…

        Mengenai mengapa manusia cenderung semakin “lemah” terhadap godaan hawa nafsu, egoisme dan gemerlap duniawi….?

        fanya kira jawabannya adalah karena benih2 kepalsuan yang semakin marak di berbagai aspek kehidupan ini justru bersumber dari sosok/lembaga/institusi yg secara hukum bertanggung jawab sbg sumber hukum “asli”, baik yg dilakukan secara individual oleh oknum2 internal maupun terorganisir sbg “mafia hukum” atau “mafia kasus”, sehingga muncul berbagai “aspal” (asli tapi palsu).

        kita sering mendengar berbagai kasus aspal, a.l. Ijazah aspal; STNK aspal (bodong); uang aspal (sejumlah uang asli yg dicetak melampaui rasio national reserve) dan berbagai aspal-aspal lainnya disamping yg palsu tulen, yg sangat sulit diidentifikasi kepalsuannya, kecuali oleh pihak terkait melalui gerakan introspeksi dan perbaikan dari dalam.

        hal tsb dapat diperbaiki apabila setiap individu bersedia utk memulai gerakan “menempatkan segala sesuatu pada tempat dan tatanan yg seharusnya”,
        atau secara singkat adalah “be professional and proportional”.

        akibat yg paling parah dari maraknya berbagai merk Aspal tsb adalah terjadinya krisis kepercayaan di berbagai aspek kehidupan (sosial, ekonomi, politik, budaya maupun spiriotual)—> anarkisme—> chaos>>>> kehancuran.

        demikian menurut analisa fanya (mustinya fanya tuangkan dlm bentuk academic writing nih hihihi…), yg intinya adalah, kita seyogianya memulai segala sesuatunya dari diri sendiri secara ikhlas demi mencapai kebenarandan keadilan yg hakiki bagi kita sendiri….. kayaknya sih begituu…… maaf kalo keliru.

        salam

      • @fanya

        lovepassword sedang menjelaskan dan saya timpali bahwa memanga ada keadaan terntentu kita tidak ada pilihan atau tidak ada waktu untuk memilih atau waktu kita “dipaksa”…. tidak ada yang protes di situ…

        pertanyaannya kan kenapa kita pada masa tertentu itu bisa memilih?

        nah Anda menjelaskan paragraf di atas dengan berbagai contoh dan akibatnya, dan Anda sebut sebagai contohnya adalah justru “kepalsuan” bersumber dari orang yang seharusnya tidak menjadi sumber kepalsuan…

        pertanyaannya balik lagi, kenapa orang yang seharusnya menjadi sumber “asli” bisa memilih untuk tidak asli?

        kenapa bisa?

      • @ Om Parhobass

        pertanyaannya, kenapa pada suatu masa itu kita bisa memilih?

        =======

        jawab :

        sbgmn fanya sampaikan dimuka bahwa manusia pd hakekatnya “dipaksa” Sang Pencipta utk memilih sehingga pasti Tuhan melengkapi hidup manusia dgn tool dan mekanisme utk memilih yaitu:
        1. potensi utk membuat pilihan;
        2. hasrat untuk melakukan pilihan;
        3. kemampuan utk mengidentifikasi dan pengetahuan ttg konsekwensi dari setiap pilihan;
        4. kebebasan memilih; dan
        5. opsi-opsi untuk dipilih.

        pertanyaannya balik lagi, kenapa orang yang seharusnya menjadi sumber “asli” bisa memilih untuk tidak asli?

        =======

        juga sama seperti yg tlh fanya sampaikan terdahulu, penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        fanya pikir demikian, dan fanya kira ttg apa penyebab sesungguhnya (“hakiki”) dari setiap perbuatan manusia, sesungguhnya hanya dirinya sendiri dan Tuhan-lah yg tahu… kita semua, pada hakekatnya hanya menduga-duga saja……

        salam utk semua

      • @fanya

        ok terimakasih atas jawaban Anda,..

        bisa ngga lebih diperdalam arti manusia pada hakekatnya “dipaksa” untuk memilih itu?

        dari jawaban berikutnya,
        1. dapat saya simpulkan bahwa keserakahan, kebodohan, dan d.l.l atribut yang Anda sebut itu sudah ada pada manusia itu sendiri sejak awalnya, gitukah?

        2. bahwa Allah (katakanlah demikian, karena saya tidak tahu allah Anda), sengaja menciptakan “tool” yang kerjaanya hanya “memaksa” untuk memilih, gitukah?

        3. memang banyak yang tidak dapat kita mengerti, tetapi kalau dikatakan hanya diri kita sendiri dan Tuhan yang mengerti, apakah itu tidak bertentangan dengan kenyataan?

        salam

      • bisa ngga lebih diperdalam arti manusia pada hakekatnya “dipaksa” untuk memilih itu?

        Kalo menurutku sih setiap ada pilihan kan ya manusia harus memilih. Lha kalo nggak memilih ? Iya pada saat tidak memilih pun manusia sebenarnya sedang memilih untuk tidak memilih.

        Jadi sisi manusia harus memilih memang ada.

        Jika ada alternatif ujian lingkari B jika benar dan S jika salah.

        Kamu bisa melingkari B atau S atau keduanya atau tidak keduanya. Tetapi konsekuensi pilihan itu memaksa. Dalam kasus itu. Tidak ada bedanya memilih B dan S atau tidak memilih B dan S atau memilih yang salah . Itu pilihannya dan harus dipilih. Kalo memilih tidak memilih atau memilih yang bukan pilihan ya efeknya sama saja dengan salah memilih. ^_^

        Jadi memang ketika ada pilihan manusia harus memilih.

      • @lovepassword

        sembari menunggu fanya, (tetapi sepertinya seh dia banyak setujunya dengan Anda hehehhe)….

        katakanlah kesimpulannya menjadi, pilihan benar,salah, dan tidak dua-duanya,…. ya toh….

        pertanyaan mendasarnya adalah …. kenapa bisa memilih benar, salah, atau tidak dua2nya…

        saya sedang tidak bertanya pilihan2nya, dan efek dari pilihan2 itu, tetapi kenapa kita bisa memilih,…..

      • @Om Parhobas

        bisa ngga lebih diperdalam arti manusia pada hakekatnya “dipaksa” untuk memilih itu?

        =======

        sebagaimana dikemukakan dlm komen fanya sebelumnya:

        pd titik (momen) tertentu akan terjadi hanya tersedia 2 pilihan yaitu menerima atau menolak Tuhan. Untuk kasus tsb manusia “dipaksa” membuat pilihan, karena abstain atau bahkan tidak memilih sekalipun, pasti akan dikategorikan sbg menolak-Nya.

        Untuk itu fanya gambarkan melalui ilustrasi ketika Tuhan bertanya: “Hai manusia, apakah kamu mau terima Aku sebagai tuhanmu, Penolong danJuru Selamatmu?”…

        trus kalo kita jawab: … Maaf tuhan, hamba tlh memilih abstain aja, abis bingung memilih antara “ya” dan “tidak” bhb sulit mementukan tuhan mana yg hendak hamba pilih mengingat semua figur “tuhan” dlm setiap agama menyatakan: “Akulah Tuhanmu; Akulah penguasa alam semesta; ikutilah Aku; berjalanlah di jalan-Ku jika kau ingin selamat di kehidupan mendatang…..”
        maka hamba memilih abstain….”. Terus Tuhan berkata: “Baiklah, jadi selama ini kamu tidak memilih Aku sbg tuhanmu bukan?”—> “Matilah kau, kamu tak patut hidup di dalam surga-Ku…………”

        “Ampunkah hamba oh Tuhan, bukankah seharusnya hamba tidak bersalah karena faktanya hamba tidak memilih untuk menolak?, bukankah hamba berhak utk tidak memilih? mengapa Engkau memaksa hamba membuat pilihan?”…..
        terlambat……ketetapan Tuhan harus ditegakkan, maka si pulan pun… termehek mehek…
        .
        .
        .

        1. dapat saya simpulkan bahwa keserakahan, kebodohan, dan d.l.l atribut yang Anda sebut itu sudah ada pada manusia itu sendiri sejak awalnya, gitukah?

        ========

        Kok lucu banget kesimpulan Om? coba baca lebih teliti tulisan fanya ….hihihi…..,

        Begini ya Om, dlm pelajaran agama tingkat SLTP pun diajarkan bhw:

        Tuhan menciptakan manusia lengkap dgn akal, nurani dan potensi kecerdasan melebihi mahluk apapun. Tuhan menciptakan ilmu pengetahuan bagi manusia utk dimanfaatkan spy “tidak bodoh”.

        Tuhan mengajari manusia dan memberlakukan tatanan, perintah serta larangan utk dipatuhi agar segenap manusia selamat, damai, tenteram, sejahtera dan bahagia di dunia maupun di kehidupan kekal.

        – Manusia kemudian disebut (dan memilih menjadi) bodoh manakala dia tidak mau menyerap dan memanfaatkan ilmu pengetahuan ciptaan Tuhan tsb.

        – Manusia juga disebut (dan menjadi) orang serakah, jahat, biadab, rendah dll manakala dia memilih utk tidak peduli pd tatanan, perintah dan larangan Tuhan tsb.
        .
        .
        .
        2. bahwa Allah (katakanlah demikian, karena saya tidak tahu allah Anda), sengaja menciptakan “tool” yang kerjaanya hanya “memaksa” untuk memilih, gitukah?

        ====

        Kembali Om Par tergesa-gesa menyimpulkan …. (rasanya cukup jelas fanya tulis)

        nih fanya copas lagi ya…..

        Tuhan melengkapi hidup manusia dgn tool dan mekanisme utk memilih yaitu:
        1. potensi utk membuat pilihan;
        2. hasrat untuk melakukan pilihan;
        3. kemampuan utk mengidentifikasi dan pengetahuan ttg konsekwensi dari setiap pilihan;
        4. kebebasan memilih; dan
        5. opsi-opsi untuk dipilih.

        cukup jelas khan? justru tool tsb adalah perangkat/fasilitas yg memungkinkan manusia mampu memilih dan menentukan pilihan secara bebas mengikuti kemauannya sendiri, berikut kemampuan utk mengidentifikasi segala konsekwensi yg bakan diterima sesuai dgn pilihannya tsb.
        .
        .
        .

        3. memang banyak yang tidak dapat kita mengerti, tetapi kalau dikatakan hanya diri kita sendiri dan Tuhan yang mengerti, apakah itu tidak bertentangan dengan kenyataan?

        ======

        Kembali Om Par tidak secara cermat memaknai paragraph terakhir dari komen fanya tsb yg berbunyi :

        fanya pikir demikian, dan fanya kira ttg apa penyebab sesungguhnya (“hakiki”) dari setiap perbuatan manusia, sesungguhnya hanya dirinya sendiri dan Tuhan-lah yg tahu… kita semua, pada hakekatnya hanya menduga-duga saja……

        begini Om, ketika Tulang Robinson Sihotang bilang “fanya sangat pintar”…. apakah Om Par atau fanya tahu “kebenaran hakiki” dari ucapan Om RAS tsb? atau

        Ketika Amerika menyerbu Iraq, apakah kita tahu kebenaran sesungguhnya dari niat, maksud dan tujuan Amerika melakukan hal tsb?

        fanya yakin, hanya si pembuat keputusan dan Tuhan sajalah yg mengetahui maksud dan tujuan sesungguhnya (hakiki) dari penyerbuan tsb….

        demikian, mudah2an penjelasan fanya diatas cukup mudah utk pahami dan ditangkap, sehingga dapat dimaknai sesuai dgn esensi yg fanya maksudkan….. (tidak keliru menduga hihihi….)

        salam

      • @fanya

        saya bertanya supaya tidak salah tangkap dari argument Anda, kalau bukan begitu ya silahkan dikoreksi, kan begitu tho….

        jadi mari kita lanjut,…
        pertama.
        penjelasan Anda di bisa ngga lebih diperdalam arti manusia pada hakekatnya “dipaksa” untuk memilih itu?, dapat saya terima,
        terimakasih….

        kedua.
        mengenai kesimpulan saya dari bacaan argument Anda, yaitu bahwa atribut jahat dan d.l.l itu sudah ada pada manusia itu sejak awalnya adalah didasari dari argument Anda berikut:

        juga sama seperti yg tlh fanya sampaikan terdahulu, penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        gini fanya, kalau kita buat penelusuran, maka titik tertentu akan mentok di Adam dan Hawa, manusia yang diciptakan pertama kali, dalam hal ini, mereka pernah memilih sesuatu yang salah, … so, jika dikaitkan dengan argument Anda di atas, berarti pada awalnya Adam dan Hawa sudah tidak benar, sudah korupsi dari baik d.l.l,… itulah dasar kesimpulan saya yang ternyata tidak sampai pada pemahaman Anda….baiklah katakan saya terlalu jauh kesana, tetapi jika pernyataan Anda di atas sebatas bukan manusia pertama, maka pertanyaan saya yang pertama ke Anda menjadi tidak terjawab, yaitu, kenapa manusia bisa seperti itu?….

        tetapi jawaban Anda yang dua ini

        – Manusia kemudian disebut (dan memilih menjadi) bodoh manakala dia tidak mau menyerap dan memanfaatkan ilmu pengetahuan ciptaan Tuhan tsb.

        – Manusia juga disebut (dan menjadi) orang serakah, jahat, biadab, rendah dll manakala dia memilih utk tidak peduli pd tatanan, perintah dan larangan Tuhan tsb.

        akan kembali membawa kita kepada manusia pertama bukan,
        memang jawaban ini sedikit menjawab pertanyaan terdahulu, yaitu karna manusia memilih hal yang salah, sehingga “bodoh”…

        ketiga:
        kembali ke quote pertama, dengan tekanan yang berbeda tentunya

        juga sama seperti yg tlh fanya sampaikan terdahulu, penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        kesimpulan saya tidak tergesa2,hanya sekedar memperdalam maksud yang Anda ucapkan di argument Anda saja,…
        nah coba Anda perhatikan yang garisbawahi tersebut,….
        seperti 5 point Anda, bahwa manusia diperlengkapi “tool” untuk memilih, dan ternyata ia harus menggunakan itu secara terpaksa, karena ternyata ada kesengajaan dari Pencipta karena ternyata “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll sengaja diciptakan untuk mempergunakan “tool” itu, dan saya kira ini menjadi bertentangan dengan contoh beserta ilustrasi Anda di atas, bahwa di situ, Tuhan yang sedang bertanya, bukan “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll tersebut….

        bisa lebih diperjelas,…

        keempat:
        mengenai 3. memang banyak yang tidak dapat kita mengerti, tetapi kalau dikatakan hanya diri kita sendiri dan Tuhan yang mengerti, apakah itu tidak bertentangan dengan kenyataan?

        saya sedang tidak menyimpulkan sesuatu dari pernyataan Anda, saya hanya bertanya bukanlah pendapat seperti itu bertentangan dengan kenyataan?
        baiklah contoh Anda bisa diterima, tetapi katakanlah itu adalah suatu kemungkinan yang terjadi, tetapi ada juga suatu kemungkinan yang lain, sehingga pernyataan di atas saya sebut berntentangan dengan kenyataan, yaitu bahwa kadang kala kita sendiri tidak tahu apa yang kita perbuat, terkadang kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan,… jadi kemungkinan adanya keadaan ini, akan menjadi tidak akuratlah pernyataan bahwa :”Hanya diri kita sendiri dan Tuhan yang tahu”….

        kelima;
        memang diskusinya menjadi sedikit alot karena begitu banyaknya kemungkinan-kemungkinan yang Anda sebut…
        dengan pertanyaan kenapa manusia bisa memilih,
        paling tidak Anda telah menyebut dua kemungkinan,

        1. penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau
        2. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        pertanyaan, dapatkah saya katakan tidak ada kepastian pada diri fanya? bisa diperjelas?,
        note:
        sekiranya kemungkinan hanya satu kan lebih mudah diskusinya,nyatanya dari semua kemungkinan yang ada itu sepertinya Anda terima semua, bisa diperjelasjuga dimana posisi Anda?
        salam

      • @ Om Par,

        Sangat dimaklumi jika Om Par menangkap dan menyimpulkan komen fanya spt itu mengingat cara dan sudut pandang orang-perorang memang berbeda-beda. Itulah dinamika kehidupan. Namun itulah pemahaman dlm benak fanya yg fanya coba utarakan dlm keterbatasan kemampuan merangkaikan kata-kata shg boleh jadi diinterpretasikan sbgmn Om Par sampaikan.

        Namun demikian, dgn maksud utk memperkecil misinterpretasi, fanya coba ulas kembali beberapa hal:

        @PB:
        ..maka pertanyaan saya yang pertama ke Anda menjadi tidak terjawab, yaitu, kenapa manusia bisa seperti itu?…. (pertanyaannya balik lagi, kenapa orang yang seharusnya menjadi sumber “asli” bisa memilih untuk tidak asli?)
        .
        .
        .
        .
        sudah fanya jawab, fanya copas :

        ===>penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain (antara 1 individu dgn individu lainnya) berbeda dan sangat variatif;
        ==bisa saja ( antara lain) akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll …
        ==atau bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya… (misalnya iblis berwujud manusia) …..hanya Tuhan yg tahu.
        .
        .
        .
        Pertanyaan Om PB:

        1. dapat saya simpulkan bahwa keserakahan, kebodohan, dan d.l.l atribut yang Anda sebut itu sudah ada pada manusia itu sendiri sejak awalnya, gitukah?
        .
        .
        .
        jawaban fanya:

        – Manusia kemudian disebut (dan memilih menjadi) bodoh manakala dia tidak mau menyerap dan memanfaatkan ilmu pengetahuan ciptaan Tuhan tsb.
        – Manusia juga disebut (dan menjadi) orang serakah, jahat, biadab, rendah dll manakala dia memilih utk tidak peduli pd tatanan, perintah dan larangan Tuhan tsb.

        frasa ..“kemudian disebut dan menjadi/memilih menjadi”…. jelas menunjukkan bhw awalnya (sejatinya) manusia tidak ada yg bodoh, serakah, jahat dsb, sehingga kesimpulan Om Par diatas jelas tidak klop.
        :
        :
        :

        @Om PB:
        ….baiklah contoh Anda bisa diterima, tetapi katakanlah itu adalah suatu kemungkinan yang terjadi, tetapi ada juga suatu kemungkinan yang lain, sehingga pernyataan di atas saya sebut berntentangan dengan kenyataan, yaitu bahwa kadang kala kita sendiri tidak tahu apa yang kita perbuat, terkadang kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan,…

        Menurut fanya pada umumnya orang waras TAHU APA YG DIPERBUATNYA, meski belum tentu sepenuhnya tahu DAMPAKNYA thd dirinya, orang lain, lingkungan maupun masa depannya. Tapi Tuhan PASTI tahu, sementara orang lain, paling hanya memperkirakan dan menduga-duga saja.
        Oleh sebab itu fanya tidak memandang hal tsb sbg bertentangan dengan kenyataan, meskipun tak menutup kemungkinan thdp adanya exceptionals dlm kehidupan yg memiliki dimensi begitu luas….

        salam

      • @fanya…

        lagi pertama,

        ya tujuan saya bertanya kan untuk meluruskan maksud apa yang sedang akan Anda katakan, jadi sekali lagi kalau saya tanya, itu berarti ingin menegaskan saja, bukan berarti itu kesimpulannya, OK.

        lagi kedua,.
        mengenai jawaban Anda “kenapa bisa memilih itu” dengan dua hal yang Anda utarakan sudah saya terima, saya hanya menangkap kesan berputar2 dari argument Anda….
        tolong Anda baca sekali lagi argument saya di point dua, atau saya quote kalimat terakhir (jangan sepotong2 tentunya baca argumentnya OK)

        memang jawaban ini sedikit menjawab pertanyaan terdahulu, yaitu karna manusia memilih hal yang salah, sehingga “bodoh”…

        tapi mari ngga usah ber-ribet ria di sini,toh jawban Anda sudah dapat saya mengerti maksud apa yang sedang Anda ucapkan…

        lagi ke tiga:..
        sekali lagi saya tidak membuat kesimpulan, saya sedang merangkum atau mengira2 maksud apa yang sedang akan Anda jelaskan, makanya saya bertanya,…. kira2 begitukan yang benar?….

        tapi mari sekali lg ngga berlarut2 di sana,
        pertanyaan saya yang di nomor terakhir di atas adalah,,…
        bahwa fanya telah mengajukan dua kemungkinan, yang nyatanya diterima semua oleh fanya, yang menurut hemat saya itu dua2nya tidak bisa saling mendukung, itu dua hal yang berbeda sama sekali, dan tidak munkin menyatu…..
        yaitu:

        1. penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau
        2. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        so dimana posisi Anda?
        kalau posisi Anda jelas mungkin diskusi ini akan selesai…

        salam

      • @fanya

        yang ini sengaja saya pisah,
        pernyataan,
        orang lain hanya bisa menduga-duga, yang tahu hanya orang itu sendiri dan Tuhan yang tahu…

        memang tepat kita tidak dapat mengerti orang lain, karena terkadang kita sendiri ngga bisa mengerti diri kita sendiri… itulah penekanan saya…

        nah karena memang kita tidak dapat mengerti orang lain sepenuhnya,
        1. so mari bertanya kepada diri Anda sendiri, apakah Anda mengerti diri Anda sepenuhnya
        2. kenapa saya sebut ini bertentangan dengan kenyataan, antara lain adalah…. tetapi sebelum melanjut fanya Islam atau bukan?

        salam

      • @ Om Parhobass
        :
        1. so mari bertanya kepada diri Anda sendiri, apakah Anda mengerti diri Anda sepenuhnya
        :
        :=====

        pertanyaan Om bergeser dari pernyataan fanya sih karena tahu dan mengerti adalah dua hal yg jelas berbeda…….

        fanya bilang (copas):
        Menurut fanya pada umumnya orang waras TAHU APA YG DIPERBUATNYA, meski belum tentu sepenuhnya tahu DAMPAKNYA thd dirinya, orang lain, lingkungan maupun masa depannya.

        tahu yg diperbuat belum tentu dipastikan tahu akibat dari perbuatan tsb.

        Contoh:
        Orang yg hendak bunuh diri, tahu apa yg hendak diperbuatnya shg dia bisa memilih dan memilah tempat atau cara yg dpt memuluskan rencananya tsb. Apakah ysb tahu dampak/akibat dari perbuatannya? belum tentu!
        Orang2 tak habis mengerti mengapa ybs ingin nekat bunuh diri, bahkan mungkin dia sendiri pun tak benar2 mengerti mengapa ia jadi sepicik itu hingga nekat mau melakukan perbuatan bodoh tsb.
        —> jelas khan Om perbedaan tahu dan mengerti?

        Siapapun, termasuk fanya, memang kadang tidak mengerti mengapa sampai melakukan sesuatu perbuatan (positif maupun negatif). Hal tsb menurut fanya adalah karena ada kekuatan lain di luar kekuasaan diri manusia, (a.l.Tuhan utk hal positif; dan syetan utk perbuatan negatif) yg ikut berperan dlm kehidupan ini.

        demikian.

        O’ya… fanya memeluk agama Islam Om.

        salam

      • @fanya.

        1. mengerti dan tahu itu di dalam bahasa jawa kayaknya sama yah hehehhe
        tapi tidak apalah daripada larut dimasalah bahasa,…..

        a. okleh pertanyaan saya ulang, apakah fanya tahu segala sesuatu tentang apa yang fanya ucapkan dan lakukan?

        b. okleh pertanyaan saya ulang, apakah fanya mengerti segala sesuatu tentang apa yang fanya ucapkan dan lakukan?

        (tujuannya adalah untuk memperdalam pengertian tahu itu sebenarnya, artinya kalau orang tahu semua yang diperbuatnya, itu sama dengan tahu dampaknya, tetapi sepertinya fanya membedakannya, sehingga, daripada berpikir ke orang lain yang fanya juga ngga tahu sepenuhnya kenapa ngga bertanya pada diri sendiri, ya toh..)…

        hmmm sebaiknya ngga usah menghindar kepada contoh2 orang lain, kalau fanya berkata tidak dapat tahu tentang orang lain, lalu kenapa contoh2nya selalu orang lain? emannya fanya tahu kenapa orang lain itu bunuh diri? bukankah fanya sudah katakan bahwa hanya dia dan Tuhan yang tahu?….

        2. Ok terimakasih atas jawaban Anda….saya dari awal yakin Anda pemeluk Islam, tetapi daripada mendahului kan ngga enak, nah pertanyaan saya berhubunan degan pernyataan dari saya yaitu: “bahya hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu, bukankah itu bertentangan dengan kenyataan”, seperti ini… coba fanya pikirkan, jika hanya nabi Anda dan allah Anda yang tahu tentang wahyunya, apakah dapat diartikan bahya sebenarnya hanya nabi atau allah Anda yang tahu apa itu wahyu, sementara yang lain hanya menduga2 (ini terlihat dari pandangan fanya yang berkata,.. bahwa hakekatnya kita hanya menduga2, dan karena menduga2 itulah kemungkinan-kemungkinan selalu hadir, dan hebatnya kemungkinan2 itu nyatanya jauh berbeda dan bertolak belakang, contohnya adalah…

        a. penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau
        b. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        salam

      • @ Om Parhobass

        a. okleh pertanyaan saya ulang, apakah fanya tahu dan ngerti segala sesuatu tentang apa yang fanya ucapkan dan lakukan?

        jawab:

        Karena fanya waras dan tidak mengidap somnambulism – parasomnia, yaitu penyakit berjallan sambil tidur, fanya jelas tahu apa yg fanya katakan dan lakukan, kecuali kalo fanya …….. ngigo, jarang sih… hihihi……

        Selalu ngerti segala sesuatunya?

        —-> nah jawabannya adalah: setiap mahluk TIDAK SELALU mengerti SEGALA SESUATUNYA, melainkan sebatas pd apa yg diberitahu Tuhan melalui wahyu kepada Rasul dan Kitab-Nya, atau melalui ilham dan hidayah-Nya.

        mengapa tidak selalu mengerti segala sesuatunya? ya karena fanya hanyalah manusia biasa dgn segala keterbatasannya……. disamping ada Tuhan yg menguasai jagat raya dan seisinya, termasuk jiwa dan kehidupan manusia.
        Bukankah nabi Musa pun jelas tidak mengerti mengapa tongkat yg dilemparkannya bisa berubah jadi ular sehingga ia melarikan diri (Kel 4:3)? demikian pula dgn Kel 4:11 dan 4:13.
        :
        :
        :

        mengenai tulisan fanya berikut :

        b. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        Pendapat diatas fanya rasa sejalan dgn Keluaran 14:4-5, dimana Tuhan malah sengaja “mengeraskan” hati Fir’aun, sehingga hatinya berubah dan kembali mengejar Musa dan pengikut2nya utk dibinasakan!. Fir’aun dijadikan Tuhan sbg sosok laknat yg tak henti menentang Musa-menentang Tuhan, untuk dijadikan contoh dan ujian bagi komunitas manusia disekelilingnya!

        wallahu ‘alam
        Salam

      • @fanya

        a. Oklah kalau fanya mengerti dan tahu segala sesuatu tentang apa yang fanya ucapkan sendiri.

        b. menghubungkan jawaban Anda dengan Alkitab itu saya kira hanya teknik melepaskan diri dari diskusi…

        tetapi semisal itu pegangan fanya, (yang saya yakin bukan itu makna utamanya), berarti fanya telah mengesampingkan kemungkinan yang satunya ya toh? jadi pertanyaan diulang, apakah Anda menjawab seadanya, lalu mengutip Alkitab, atau memang fanya tidak tahu apa yang sedang fanya ucapkan sendiri?

        salam

      • @ Om Parhobass

        b. menghubungkan jawaban Anda dengan Alkitab itu saya kira hanya teknik melepaskan diri dari diskusi…

        ======
        :
        :
        duh Om ini gimana ya? … kalau ga ada rujukan dibilang ngawur tak ada dasar
        merujuk Alkitab…. di bulang teknik melepaskan diri dari diskusi…..

        fanya jawab apa adanya…. Om malah mengira fanya menjawab seadanya…… padahal fanya dah sungsang sumbel merumuskan isi benak fanya melalui tulisan ee… malah MEYAKINI BUKAN ITU makna utamanya…….) jadi heran,…. yg punya pemikiran, yg punya pemahaman dan yg mendeskripsikan pendapat fanya kan fanya?, koq Om malah bilang yakin bukan itu makna utamanya…….(??? bingun abisss….!!!!!)

        Kalau Om Par dari awal sdh tidak beriktikad mendengar dan menerima pendapat, pandangan dan pemahaman fanya karena hanya mau mendengar dan berpegang pd dugaan subyektif Om dg berlindung pd YAKIN dan keyakinan sepihak, mestinya Om TIDAK USAH TANYA PENDAPAT DAN PEMAHAMAN fanya titik!!!

        setahu fanya, maaf kalau keliru, pengertian umum diskusi adalah membicarakan suatu masalah antar peserta diskusi dengan tujuan untuk menemukan kesimpulan terbaik berdasarkan berbagai masukan dari semua peserta, bukan hanya berpijak pd keyakinan sepihak.

        demikian.

        salam

      • @fanya

        pemikirannya begini,
        -fanya berkata bahwa fanya mengerti/tahu segala sesuatu yang fanya ucapkan,
        -ketika fanya mengutip Alkitab, itu berarti fanya memaksa makna Alkitab itu seperti apa yang fanya pikiran
        -makna Alkitab kutipan Anda itu tidak seperti yang Anda pikiran,

        jadi Anda tidak mengerti apa yang Anda ucapkan sendiri

        pemikirannya begini,
        -fanya berkata bahwa fanya mengerti/tahu segala sesuatu yang fanya ucapkan,
        -ketika fanya mengutip Alkitab, sementara fanya seorang Islam, apakah dapat dikatakan Anda lebih percaya Alkitab atau Al Quran?
        -karena dasar Anda mengatakan 2 kemungkinan itu adalah Alkitab, lalu apakah fanya tahu apa yang fanya ucapkan sendiri?

        pemikirannya begini,
        -fanya berkata bahwa fanya mengerti/tahu segala sesuatu yang fanya ucapkan,
        – di awal fanya mengucapkan 2 kemungkinan, satu kemungkinan fanya paksa sesuai dengan Alkitab,… lalu dimana kemungkinan yang satunya lagi?
        -posisi Anda dimana? di nomor 1 atau di nomor 2?

        nah dengan mengutip Alkitab yang mana bukan landasan iman Anda, sudah menjadi blunder diskusi kita, yang pada akhirnya mengalir ke diskusi Alkitab,…itulah yang saya sebut teknik lari dari diskusi…
        atau saya yang terlalu jauh melangkah? saya kira tidak.

        jadi dari dua kemungkinan yang fanya ucapkan,
        yaitu:

        a. penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau
        b. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        dimana posisi Anda, karena kalau diteliti dua perkara ini muaranya 2 hal yang tidak mungkin bersatu….

        salam

        kalau Anda mau menghentikan diskusi saya persilahkan, komen ini ngga usah dijawab…

      • a. penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau
        b. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        dimana posisi Anda, karena kalau diteliti dua perkara ini muaranya 2 hal yang tidak mungkin bersatu….

        ====> Saya rasa endingnya gampang ” Takdir dan kehendak bebas manusia emang sama2 ada. Lha masalah ada manusia yang karena suka yang satu tidak suka yang lain itu beda urusannya… Masalah ada manusia yang mempertentangkan itu juga lain urusannya

        SALAM

      • @lovepassword

        dari dua pernyataan itu
        muaranya bukan ke situ saya kira…

      • @ Om Parhobass

        Om Par bertanya (1):

        pertanyaannya balik lagi, kenapa orang yang seharusnya menjadi sumber “asli” bisa memilih untuk tidak asli?
        :
        :

        fanya jawab :

        banyak kemungkinan mengapa orang yang seharusnya menjadi sumber “asli” bisa memilih untuk tidak asli, yaitu:

        a. penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau

        b. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.
        (dhi. Keluaran 14:4-5).
        Selesai, dmk jawaban fanya utk pertanyaan Om Par diatas.
        (Terlepas dari apakah jawaban fanya tsb dianggap Betul atau Salah menurut Om Par, jawaban diatas 100% adalah jawaban fanya, pendapat fanya.)
        :
        :
        :
        Pertanyaan Om Par berikutnya (2):

        apakah fanya tahu dan ngerti segala sesuatu tentang apa yang fanya ucapkan dan lakukan?
        :
        :
        :
        Jawaban fanya :

        a. Karena fanya waras dan tidak mengidap somnambulism – parasomnia, yaitu penyakit berjallan sambil tidur, fanya jelas tahu apa yg fanya katakan dan lakukan, kecuali kalo fanya …….. ngigo, jarang sih… hihihi……

        Selalu ngerti segala sesuatunya?

        b. jawabannya adalah: setiap mahluk (termasuk fanya tentunya)TIDAK SELALU mengerti SEGALA SESUATUNYA, melainkan sebatas pd apa yg diberitahu Tuhan melalui wahyu kepada Rasul dan Kitab-Nya, atau melalui ilham dan hidayah-Nya.

        Jawaban yg fanya sampaikan utk menjawab pertanyaan Om Par (2) tsb adalah jawaban apa adanya, 100% milik fanya dan merupakan pendapat fanya selaku individu yg merdeka. Kembali masalah Betul atau Salahnya ya terserah pd penilaian Om. Kalau jawaban2 fanya itu salah… paling-paling berarti fanya bodoh di mata Om; kalau bener ya mungkin dianggap pinter… that’s all.

        Sebagai tambahan, berdasarkan apa yg fanya pahami, mayoritas isi Al-Qur’an SELARAS dgn Alkitab. Maka dari itu dlm membahas sebuah topik, manakala terdapat ayat yg relevan dlm Al Qur’an maupun dlm Alkitab, maka rujukan pd ayat manapun fanya pikir sama saja…. (dalam kasus inipun Om Par tidak harus setuju dgn pendapat fanya).

        salam

      • @fanya

        baiklah dariapda berlarut2 hanya masalah klarifikasi dan masalah permaikan kata2

        Pertama:
        di antara dua kemungkinan itu fanya berada di mana?
        saya quote dari pernyataan Anda:

        a. penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau

        b. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        dah yang ini dulu dituntaskan, pertanyaan selanjutnya menyusul, terutama perihal Alkitab vs Al Quran…

        salam

      • @ Om Parhobass yg suka menggebu-gebu’

        Pertama:
        di antara dua kemungkinan itu fanya berada di mana?
        saya quote dari pernyataan Anda:

        :
        :
        :
        jawaban fanya:

        Jawaban fanya yg terbagi dlm kelompok hrf (a) dan (b) diatas sudah jelas merupakan SATU KESATUAN dan, sama sekali tidak dimaksudkan sbg 2 (dua) opsi kemungkinan, yakni faktor/sumber penyebab menjadi “palsu”-nya manusia.

        Kedua kelompok (a) dan (b) tsb masing2 merupakan: (a) faktor/sumber intrinsik dan (b) faktor/sumber ekstrinsik. Itu berulang kali fanya kemukakan. sehingga meski berulang kali Om Par meminta fanya memilih antara (a) dan (b), jawaban fanya ya tetap begitu, bahwa penyebabnya bisa karena faktor intrinsik (a) maupun ekstrinsik (b).

        Mengapa fanya bersikukuh dgn kedua faktor tsb? karena sejak awal fanya kemukakan bhw penyebab manusia menjadi “Palsu”, katakanlah antara si A dgn si B, belum tentu sama. Untuk si Korun (misalnya) dia Palsu karena keserakahan atau kebodohannya (pengaruh [a] – faktor intrinsik), sementara Fir’aun yg sebelumnya sempat mengakui Tuhannya Musa, Tuhan merubah hatinya utk kembali menolak Tuhan hingga akhir hayatnya.

        Dalam periode awal Islam juga dikenal sosok Umar ibn Khattab yg mulanya begitu memusuhi dan berusaha mati-matian membunuh Muhammad SAW, dgn kuasa Allah diubah hatinya sehingga berbalik menjadi sosok pembela Muhammad yg paling depan.

        Berbeda dengan Abu Talib, paman Rasulullah yg semasa hidupnya senantiasa membela dan melindungi Muhammad, namun meskupun Rasulullah mengajaknya mengucapkan “laailaah illallaah” di saat-saat akhir hidupnya, ia malah memilih ajakan Abu Jahl dan Abdullah untuk tetap menyembah berhala.
        :
        :
        Jadi itulah landasan mengapa fanya bersikukuh dgn (a) atau (b), dan tidak memilih salah satunya, karena jawaban fanya utk pertanyaan Om Par: mengapa manusia “asli” memilih untuk menjadi “palsu” penyebabnya ada dalam kedua faktor (a) dan (b) tsb.

        salam

      • @fanya

        terimakasih sudah menjawa ,dan sudah menjabarkan sesuai keyakinan Anda, tidak perlu bersandiwara mengutip2 Alkitab, yang jelas tidak sesuai maknanya jika Anda mengutip sembarangan… hehhehe

        ok jika ternyata fanya memegang dua2nya, dan memang penelurusan Anda tidak terlalu menohok sehingga tetap berkutat di situ,

        manusia kita katakan salah pilih karena kemungkinan berikut, sesuai point fanya saja:
        a. penyebab terjadinya hal tsb bisa jadi satu sama lain berbeda dan sangat variatif; bisa saja akibat kebodohan, keserakahan, terperangkap manipulasi/korupsi data secara internal maupun eksternal; efek psikologis kebersamaan; terperangkap sistem disorder; dll … atau

        maka:
        a.1. kembali ke asal muasal karena memang pangkalnya ada di sana, Adam dan Hawa, dia pernah melakukan kesalahan
        a.2. oleh kemungkinan a di atas maka oleh a.1. itu artinya pada dasarnya pada diri Adam dan Hawa itu sudah ada kebodohan, keserakahan, d.l.l…
        a.3. anda akan berdalih, TIDAK, pada awalnya ada pengetahuan, tetapi Adam dan Hawa tidak menggunakannya sehingga bodoh.
        a.4.. maka pertanyaan akan berputar kembali, kenapa ia memilih tidak menggunakan pengetahuannya itu?
        a.5. jawabannya kembali ke a.
        a.6. dead lock.

        b. bisa jadi memang sengaja diciptakan sbg sosok “si rusak”, “si bejat”, “si korup” dll dgn fungsi sbg “ujian” bagi komunitas disekitarnya….. hanya Tuhan yg tahu.

        b.1. Artinya allah Anda sengaja menciptakan “si rusak”
        b.2. pada manusia ada “tool”
        b.3. akhirnya manusia dipaksa menggunakan “tool” karena b.1.
        b.4. jadi manusia bisa memilih yang tidak baik, karena dipaksa atau karena sandiwara allah Anda sendiri..
        b.5. dalih akan ada,TIDAK.
        b.6. jika Anda katakan tidak,maka mari melangkah ke “si rusak” itu, kenapa ia kerjaannya merusak?
        b.7 “si rusak”, khusus merusak karen ia dicptakan untuk itu
        b.8. kembali ke b.1. lalu mutar2 lagi
        b.9. dead lock.

        saya katakan muaranya berbeda kenapa?
        c.1. kalau mengacu ke a. maka pada manusia itulah ‘kerusakan’ itu sendiri
        c.2. kalau mengacu ke b. maka manusia itu hanya object dari ‘kerusakan’ itu
        c.3. dari c.1. dan c.2. maka fanya imannya masih linglung, tidak pasti.

        salam
        Note:
        artinya kalau Anda mendasarkan semua ide di atas, maka iman Anda DEAD LOCK…

      • @ Om Parhobass

        Terima kasih kembali.
        Memang dalam diskusi atau tukar pikiran, konon tidak mesti harus berujung pd tercapainya persetujuan (agreement) ataupun kesepahaman bersama (mutual understansing). Sepanjang masing2 pihak yg berdiskusi mengedepankan pandangan positifnya, pasti masing-masing pihak yg berdiskusi akan mendapatkan keuntungan, yakni bertambah luasnya pengetahuan ttg topik yg didiskusikan, dan meningkatnya kemampuan utk bertoleransi, menghargai dan menghormati pola pikir maupun sudut pandang partner diskusi kita.

        Bagi fanya diskusi ini dirasakan sangat menunjang upaya fanya dlm memahami mata kuliah negotiation technique di bidang international relation dimana perbedaan prinsip dan kepentingan antara pihak-pihak yg bernegosiasi terkadang sangat ekstrim dan mendasar.

        Pola pikir dan argumen2 yg fanya sampaikan dlm diskusi kita, umumnya fanya lontarkan secara spontan, apalagi faktanya kan kita tidak pernah rembugan dulu ttg pertanyaan2 yg akan diajukan dalam setiap sesi hihihi…

        Maka dari itu, fanya rasa “anggapan” bhw fanya bersandiwara hanya karena ada mengutip Alkitab, fanya pikir kurang pas, mengingat dlm diskusi ini fanya tidak mempermasalahkan validitas/originalitas ayat yg diangkat tsb, melainkan justru menempatkannya sbg dasar pendukung bagi posisi (pendapat) fanya, meskipun mungkin menurut pandangan Om Par, ayat tsb tidak relevan dgn pendapat fanya.

        Jadi inilah fanya, maaf kalau sering bawel dan ngeyel, mungkin bawaannya aja begitu hihihi.

        salam

      • @fanya

        sebenarnya saya sudah mewarning Anda dengan klaim Anda mengetahui/mengerti apa yang Anda ucapkan….
        nyatanya dari analisa di atas, nonsens, hehhehehe

        ya sudahlah,….
        memang kita harus terus bertumbuh di dalam iman….
        dan semoga kita mengenal TUHAN lebih dan lebih dalam lagi, dan berbahagialah mereka yang sudah dijamah TUHAN…

        note:
        mungkin ini kesannya “murahan”, tetapi harap Anda berhati2, sebab Alkitab mewanti2 siapapun untuk tidak menggunakan Alkitab secara serampangan….

        apakah saya mengklaim saya tidak serampangan?,…
        bisa saja saya serampangan, tetapi keputusan saya untuk menceburkan diri kepada Iman di dalam Alkitab itu sudah menjadi perbedaan mendasar antasa saya dan Anda, paling tidak pandanglah dari sana, ngga usah memandang ajaran dan Allahnya Alkitab, OK.
        Anda bisa menggunakan Alkitab, tetapi ibarat dipemandian air, Anda hanya menyentuh-nyentuhkan jemari, Anda bisa merasakannya tetapi Anda tidak dapat melihat kekuatan air itu, Anda dapat merasakan kekuatannya kalau Anda menjebur di dalamnya…

        salam
        maaf juga kalau saya ngomong suka 2 the point hehehhe….

        sekian dan terimakasih

  7. Mengapa pada suatu ruang dan waktu tertentu manusia bisa memilih ?

    Karena ada pilihan.

    Lha pilihan itu tergantung sisi internal dan sisi eksternal.

    Misalnya : Manusia pasti akan mati. Lha dalam hal ini kemampuan memilih manusia terbatas, tidak bisa manusia pengin hidup selamanya.

    Pada contoh lain : Kita bisa memilih misalnya jeruk atau apel atau keduanya atau tidak keduanya ketika yang terhidang adalah jeruk dan apel. Jadi ada kondisi yang membatasi pilihan kita. Jika ada satu kondisi misalnya pilihannya A atau B, maka kita bisa saja tidak mungkin memilih C.

    Pilihan itu bisa saja tidak selalu sama “bobotnya” atau tingkat kemampuan memilihnya. Misalnya orang kaya mungkin memiliki kemampuan memilih makan di restoran A, B atau C atau D karena dia mampu membayar. Sedangkan bagi sebagian orang pilihan itu dianggap tidak ada pada mereka pada ruang dan waktu tertentu karena keterbatasan mereka .

    Jadi intinya :

    Anda memilih karena ada pilihan.
    Lha pilihan itu ada terkait dengan sisi internal anda , kemampuan anda , serta terkait juga dengan sisi eksternal sisi yang mungkin tidak anda kuasai.

    Manusia bisa mengendalikan sebagian pilihannya, sebagian lainnya terkait eksternal yang tidak bisa dia kendalikan.

    Misalnya kamu membangun jembatan. Yang bisa kamu upayakan adalah membangun jembatan itu sebaik-baiknya.

    Misalnya kamu sudah membangun semaksimal mungkin , kamu memilih melakukan itu – kemudian ada force majeure tertentu misalnya gempa bumi superduper dasyat , atau ada kecelakaan hebat truk tangki BBM meledak di atasnya sehingga jembatan rusak. Itu adalah hal2 eksternal yang tidak bisa anda kendalikan.

    Jadi di dalam pilihan itu terkait dengan kemampuan dan keterbatasan manusia.

    • @lovepassword

      ya kita bisa memilih karena ada pilihan

      pertanyaannya koq ra dijawab2 yah hehehe
      pertanyaannya adalah kenapa Anda bisa memilih pilihan-pilihan yang ada itu?

      pilihan ada A dan B, tetapi ada batasan karena pilihan tidak adaC, maka kita tentu tidak akan memilih C
      tepat
      pertanyaannya kenapa Anda bisa memilih salah satu dari A dan B itu?

      kenapa bisa memilih?

    • Kenapa anda bisa memilih ?

      Ya karena ada pilihan. Apakah itu jawaban sirkular ? Ya nggaklah.

      Pilihan itu kan harus ada dulu baru bisa dipilih.

      Jadi kalo pertanyaan nya mengapa bisa memilih ? Ya jawabannya karena ada pilihan .

      Lha adanya pilihan itu terkait kemampuan dan keterbatasan manusia baik secara umum maupun bisa saja secara spesifik.

      Misalnya manusia akan mati, tidak bisa memilih hidup terus. Tetapi dalam kasus makan ayam goreng kan kamu bisa memilih, tetapi bisa saja ada orang yang saat makan ayam goreng pun tidak bisa memilih atau pilihannya lebih terbatas.

      pertanyaannya kenapa Anda bisa memilih salah satu dari A dan B itu? Lha pilihannya A dan B ya saya tentu saja bisa memilih antara A dan B itu.

      Kalo pilihannya A, B, C ya lain lagi urusannya. Jadi bagaimana saya memilih itu tergantung pilihan yang ada. Lha sebeerapa banyak pilihan yang ada , itu erat kaitannya dengan kemampuan maupun keterbatasan kemampuan manusianya.

      Kalo pertanyaannya : kenapa Anda bisa memilih pilihan-pilihan yang ada itu?

      mengapa diantara dari sekian banyak pilihan yang mungkin ada, saya bisa memilih salah satu, mungkin maksudnya gitu. Yah itu tergantung dari pemikiran saya pendapat saya terkait kasus tertentu itu dong.

      Saya memilih A dibandingkan B tentu erat kaitannya dengan pendapat subjketif saya terhadap perbandingan A dan B itu. Lha unsur subjketif itu rada rumit, misalnya terkait dengan pemikiran, pengalaman, napsu, hati nurani, dsb dsb. Lha semua itu membentuk tindakan subjektif saya mau memilih mana diantara pilihan yang mungkin ada.

      SALAM

      • @lovepassword

        oklah kalau menurut Anda itu tidak muter-muter bak roda pedati…

        hidup dan mati itu kan pilihan,…
        artinya ada pilihan hidup dan ada pilihan mati,
        tetapi manusia tidak bisa memilih untuk hidup terus ya toh,
        jadi kalau landasan seseorang bisa memilih karena ada pilihan, maka menjadi tidak tepat….
        pilihan hidup dan pilihan mati itu ada terus, tetapi kita tidak bisa memilih itu terus, ….

        jadi bukan semata melingkar-lingkar, tetapi itu berlawanan dengan argument pertama bahwa ada kalanya kita tidak bisa memilih….karena Anda katakn kita bisa memilih karena ada pilihan….

  8. Lho gini : Yang namanya pilihan itu bisa saja ada , bis juga a tidak selalu ada, dalam ruang dan waktu tertentu.

    Jadi ketika ngomong pilihan : tidak selalu yang ada itu akan selalu ada. Ada juga saat2 atau kondisi yang membuat pilihan itu tidak ada. Atau hanya ada satu , tidak bisa lagi dipilih karena ada keadaan yang mengharuskan itu terjadi.

    Jika memang manusia harus mati ya mati. Pada saat itu manusia tidak punya pilihan. Pilihan itu tadinya ada lengkap dengan konsekuensinya tetapi bisa saja pada satu waktu menjadi tidak ada.

    Bisa saja sebaliknya ketika kamu lahir kan ya kamu tidak bisa memilih, tetapi ketika sudah semakin besar pilihan itu semakin banyak dalam hal2 tertentu.

    Pilihan untuk mati itu bisa saja kamu anggap ada terus , karena bisa saja manusia memilih misalnya kita ngomong ekstrim bunuh diri. Tetapi ini tidak berlaku sebaliknya : Pilihan untuk hidup itu terbatas , walaupun kamu ingin hidup terus ya kan pasti akan mati.

    Jadi kamu bisa memilih mengakhiri hidupmu misalnya sekarang tentu dengan konsekuensinya. Tetapi kamu tidak bisa memilih melanjutkan hidupmu jika waktu mati itu tiba…

    SALAM

    • pilihan hidup dan pilihan mati itu ada terus, tetapi kita tidak bisa memilih itu terus, ….===> Saya tidak mengatakan bahwa yang namanya pilihan itu ada terus. Ada masa ada keadaan dimana pilihan yang tadinya ada bisa saja menjadi tidak ada.

    • @lovepassword

      tadi Anda katakan kita bisa memilih karena ada pilihan
      sekarang pilihan tidak selalu ada
      apakah artinya kita memilih juga tidak selalu ada?

      pertanyaan dasarnya adalah
      ….
      kenapa bisa memilih,
      nah Anda bilang karena ada pilihan
      sekarang kan pilihan itu selalu ada terus
      tetapi ada kalanya kita tidak bisa memilih,
      jadi kalau adanya pilihan menjadi acuan utama untuk bisa memilih berarti itu bertentangan…

      piye tho?

  9. @ par,

    Lama tak jumpa…sekali-sekala nonjol lah di FK.

    Selamat berjuang.

    • @CB

      yah, saya agak sibuk di kerjaan, jadi harus agak mengurangi aktifitas di dunia FK, hehehhe jadi saya fokuskan di sini

      selamat berjuang juga

  10. kenapa bisa memilih,
    nah Anda bilang karena ada pilihan
    sekarang kan pilihan itu selalu ada terus
    tetapi ada kalanya kita tidak bisa memilih,
    jadi kalau adanya pilihan menjadi acuan utama untuk bisa memilih berarti itu bertentangan…

    ===> Lho justru karena pilihan itu tidak selalu ada terus , maka kita juga tidak selalu bisa memilih.

    sekarang kan pilihan itu selalu ada terus
    tetapi ada kalanya kita tidak bisa memilih, ===> Pilihannya bukannya selalu ada terus , pilihannya kadang ada kadang nggak. Lha pas ada pilihan kita bisa memilih. Pas nggak ada pilihan ya kita tidak bisa memilih.

    Misalnya dalam soal kita dilahirkan di mana ya kita gak bisa memilih, atau kita ingin hidup terus nggak mati-mati ya kita gak bisa memilih tetap saja kita akan mati.

    Saya rasa Gitu.. Jadi yah nggak bertentangan.

    Jadi kalo pertanyaannya kenapa bisa memilih ? Ya karena ada pilihan untuk dipilih. Dalam ruang dan waktu tertentu ada pilihan yang bisa diambil

    Kenapa tidak bisa memilih ? Ya karena pilihan pada saat itu nggak ada.

    Lha ada atau tidaknya pilihan itu sendiri, tergantung dari sisi kemampuan manusia maupun faktor yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan manusia.

    Jadi keberadaan pilihan itu terkait dua sisi : Sisi Internal dan Sisi Eksternal.

    SALAM

    • @lovepassword

      baiklah kalau sudah mentok di situ, tentu ngga baik juga maksa Anda…

      Anda bisa memilih itu adalah efek
      Pilihan itu adalah object

      jadi kalau Anda katakan efek ada karena object, maka saya tahu sebenarnya Anda tidak percaya Pencipta…

      silahkan koreksi saya kalau sudah berkesimpulan jauh….

  11. Om Par Om Par…

    Hi Hi Hi …

    Daripada ngomong sama kamu tambah pusing bingung njelasinnya , kamu juga sama-sama pusing, mendingan langsung kukasih contoh praktis saja ya :

    Pada suatu hari di depan meja makan :

    Parhobass hendak memilih makanan apa yang hendak dia makan.

    Ada delapan menu di restoran itu, anggap saja begitu.

    Misalnya :

    1. Sate Kambing
    2. Gulai Kambing
    3. Kambing Guling
    4. Bakso Sapi
    5. Nasi Goreng

    Dsb… Dst

    Mengapa Parhobass memilih ? Ya karena ada pilihan.

    Mengapa Parhobass memilih diantara delapan pilihan ? Ya karena pada satu ruang dan waktu itu pilihannya emang adanya delapan.

    Apakah Nasi goreng , Sate Kambing dsb itu objek ?

    Ya memang objek yang hendak dipilih Parhobass..

    Misalnya Parhobas makan nasi goreng. “Nasi goreng” kan objek . Jadi benar juga kalo pilihan objek .

    Lha kesalahan kekacauan berpikirmu di mana ???

    Apakah penyebabnya berarti kita anggap objek itu? Berhenti sampai di situ ? Ya nggak lha wong tulisan saya tidak menunjukkan itu.

    kalo kasusnya kamu potong ya pengambilan kesimpulannya jadi aneh gitu.

    Mestinya kan juga dipikir gini ya : Mengapa pilihan itu menjadi ada ? Yang membuat pilihan itu ada siapa?

    Ada objek . Okelah. Objek itu setelah ada menimbulkan efek. Kan ya perlu dilihat, lha yang menyebabkan objek itu ada ????

    Jadi penyebabnya bukan objek tetapi yang membuat objek itu ada untuk dipilih.

    Dalam kasus ini : Mengapa pilihan delapan menu itu menjadi ada ????

    Sekali lagi seperti kukatakan : ada faktor internal dan faktor eksternal . Penyebabnya berasal dari dalam diri Parhobass serta juga dari luar Parhobass….

    Mengapa pilihan delapan menu itu menjadi ada ????

    Kalo dilihat dari sisi eksternal : Yang menyediakan pilihan delapan menu itu siapa ???? Restoran itu…- Jadi pilihan itu ada disebabkan restoran itu.

    Kalo dilihat dari sisi internal : Yang memilih restoran itu siapa ? Kan ya parhobas sendiri ( anggap saja begitu) …

    Apakah saat Parhobass memilih restoran itu ada juga faktor internal dan eksternal ? Ya bisa saja ada, misalnya yang menyarankan makan di situ mungkin teman kamu … Ini misal…

    Lha kaitannya dengan faktor eksternal dalam memilih, tentu saja itu tidak seluruhnya bisa dikendalikan manusia .

    Misalnya Parhobas suatu hari pengin makan soto ayam di warungnya Pak Rebo laire dino Kemis…

    Eh sotonya pas tutup karena kebetulan Pak Rebo lagi ada acara menikahkan anaknya.

    Itu kan faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan oleh Parhobass…

    Lha kaitannya dengan agama . Agama termasuk juga Kristen juga ada dua sisi itu .

    Di satu sisi ada pilihan bagi manusia. Di sisi lain juga tidak selalu ada pilihan bagi manusia ^_^

    Di satu sisi ada anjuran manusia untuk berusaha. Di sisi lain juga ada pernyataan bahwa bukan manusia semata yang menentukan. Manusia itu lemah, dsb.

    Lha pilihan manusia itu sebenarnya berada di dalam dua titik tegang ini :

    Pilihan terkait dengan internal dan eksternal.
    Terkait usaha manusia , tetapi juga terkait aspek lain yang tidak bisa dikendalikan oleh usaha manusia.

    Karena itulah sejak awal saya katakan yang namanya pilihan itu tergantung juga dengan kemampuan manusia dan juga keterbatasan manusia. Tergantung diri sendiri tetapi juga bukan semata2 diri sendiri.

    SALAM

    • endingnya ya saya lagi2 ngomong : kehendak bebas itu ada, predestinasi itu juga ada.

      Nyambungnya lagi-lagi ke situ kalo itu diterus-teruskan.

      Pilihan itu memang tergantung manusia dan juga faktor lain diluar manusia , lha kalo umat beragama mengatakan itu kehendak Tuhan

      Lha konsep kehendak bebas itu sendiri : Jika segalanya dikaitkan dengan usaha manusia punya kelebihan dan juga kekurangan

      Begitu juga sebaliknya konsep Takdir atau Predestinasi murni juga ada kelebihannya tetapi juga ada kekurangannya.

      Misalnya : Jika segalanya dianggap karena usaha manusia , maka mendorong manusia berusaha. disisi lain membuat manusia yang sukses jadi sombong , di sisi lain mengajarkan manusia bertanggung jawab. Itu plus minusnya

      Begitu juga sebaliknya : Jika segalanya dianggap sudah ditentukan oleh Tuhan , maka seakan membuat manusia kurang berusaha, kaitannya dengan dosa lalu mengapa manusia harus mempertanggung jawabkan dosa jika semuanya sudah ditentukan…Pada sisi lain lagi : Karena penentunya bukan manusia maka manusia belajar untuk tidak sombong.

      Jadi sekali lagi Ada dua sisi ini . Lha pihak yang menolak yang satu dan pro yang lain biasanya melihat dari sisi jeleknya yang satu dibandingkan dengan bagusnya yang lain. Tetapi aslinya kalo dilihat menyeluruh ya konsep itu sendiri ada plus minusnya.

      Dari kemarin dulu kan aku sudah ngomong gini.

      Di dalam Kristen ada konsep Takdir/Predestinasi dan juga konsep Usaha Manusia. Dalam Islam ya ada.

      Lha masalah bahwa ada satu kelompok lebih condong berat kemana itu tidak memungkiri bahwa konsep2 tersebut berikut ayat2nya memang beneran ada.

      Misalnya kelompok yang nggak sreg dengan konsep takdir mungkin akan mengait-ngaitkan takdir dengan pelemparan tanggung jawab manusia.

      Pada sisi lain kelompok yang nggak sreg dengan konsep kehendak bebas mungkin akan mengaitkan kehendak bebas dengan kesombongan manusia, bahkan mempertuhankan manusia.

      • @lovepassword

        kembali Anda berputar2, membawa2 Kristen,
        saya sudah katakan koreksilah saya di kalimat di atas
        yaitu: Anda sebenarnya tidak percaya Pencipta,

        dari kalimat Anda sudah jelas, bahwa
        objectlah yang mengubah subject,
        dan biasanya ini didapati pada orang2 agnostic, atau orang yang percaya evolusi,

        salam

  12. Hi Hi hi… Om Par yang manis…

    Ada banyak kesalahan dalam logikamu :

    1> Kamu nggak mempelajari contok kasusku dengan baik. Atau jangan2 malah kamu cuekin. ^_^ Saya mengatakan bahwa objek itu menyebabkan efek itu oke, pendapatmu masih oke di sini .

    Tetapi objek itu ada kan ya ada penyebabnya. Lha penyebabnya terkait sisi internal yang bisa dikendalikan manusia dan sisi yang tidak bisa dikendalikan manusia.

    Dalam bahasa yang lebih mudah kamu mengerti mudah-mudahan . kalo internal dan eksternal ini ditelusuri terus menerus sampai ke ujung
    :

    Pilihan yang ada di depan mata kita itu terkait dua point : Usaha Manusia dan Kehendak Tuhan.

    Apakah dengan ngomong gini Saya tidak percaya Pencipta ???

    Itulah makanya Fanya sempat juga mengutip ayat di keluaran itu. Karena nanti endingnya memang lagi2 akan membahas ini. Ini emmang kalo diteruskan lagi masuknya ke perdebatan dalam topik kehendak manusia dan kehendak Tuhan. Fanya lagi2 benar ^_^

    Jika memang menurutmu Fanya salah dalam menafsirkan misalnya ayat Keluaran itu mestinya itu kamu tanggapi, bukan justru kamu yang melarikan diri dong.

    Apalagi saya rasa ayat2 yang membahas mengenai takdir itu juga banyak . Lha kalo dianggap salah, bahaslah itu. jangan berdiskusi ala jelasnggak, kalo membahas Alkitab malah kamunya yang lari.

    Gunanya kamu membuat blog ini kan mengajarkan Alkitab kepada manusia yang menurutmu belum tahu.

    Lha kalo emang ada yang menurutmu salah, jauh lebih bijaksana jika kamu berani menjawab. Oh pendapat kamu salah, wahai lovepassword atau wahai fanya pendapatmu salah. Mestinya ayat itu ditafsirkan begini begini.

    Lha begitulah diskusi yang gagah berani.

    Bukan dikasih ayat malah melarikan diri.

    2> bahwa saya cukup agnostik itu benar, saya harus mengambil jarak karena saya harus membandingkan agama2 secara lebih menyeluruh seperti Karen Armstrong gicu lho.

    tetapi juga gak ada hubungannya antara agnostik dan tidak percaya pencipta… Kamu perlu belajar psikologi agama lebih baik.

    Saya rasa Bagus juga kalo Kamu sekali2 mempelajari psikologis Karen Armstrong vs Richard Dawkins misalnya.

    Di mana posisi Karen dibandingkan Dawkins misalnya. Lha mudah-mudahan kamu bisa tahu bedanya.

    Apakah saya percaya evolusi ? Evolusi yang bagaimana ? Kalo evolusi itu diidentikkan dengan bahwa setiap makhluk hidup perlu beradapatasi ya itu masih oke.

    Tetapi kalo evolusi yang mengaitkan dengan perubahan MH dsb… Saya tidak mengatakan Ya atau Tidak. Saya tidak perduli itu… karena itu diluar kemampuan pengetahuan saya.

    Saya tidak akan menolak atau pun menerima apa yang saya tidak tahu.

    Bagi saya mengkritik ateisme atau pada sisi lain agama dengan mengaitkan dengan serangan terhadap evolusi – itu bukan tindakan efektif. Karena bahkan andaikata teori evolusi hancurpun ateisme ada.

    Jadi jika saya berdebat misalnya dengan ateis , saya tidak akan repot2 membahas teori evolusi yang

    1> tidak saya kuasai
    2> saya tahu bahkan jika saya menang dalam topik itupun gak ada pengaruhnya bagi ateisme.

    Point dua itu membuat saya juga kurang berminat mempelajari teori evolusi lebih jauh.

    Saya lebih berminat mempelajari filsafat Ketuhanan versus fisafat ala ateis karena itu lebih mendasar. Dan logika yang mendasar lebih sulit dipatahkan, jadi bukan sekedar banyak-banyakan data.

    SALAM

    • @lovepassword

      pertama:
      contoh kasusmu itu hanya mengaburkan diskusi saja,
      yang mana dari awal sudah saya katakan contoh2 kasus itu mudah dapat saya terima,
      tetapi akan tetap kepada pertanyaan

      kenapa bisa memilih ?,…kan gitu

      kita bisa memilih itu adalah EFEK,
      sedang pilihan kita itu adalah Object

      dalil pertama Anda adalah
      karena Ada object maka ada Efek
      ini jelas sudah salah…

      kedua:
      Anda salah orientasi lagi dari diskusi kita ini,
      Anda masih berkutat di Kehendak manusia dan otoritas Allah,
      pertanyaan saya adalah.. kenapa ada kehendak manusia itu?
      simple kan?,… intinya adanya kehendak manusia itu adalah efek dari sesuatu, ada yang menyebabkan manusia mempunyai kehendak,…yang oleh Anda, Anda sebut objectnyalah yang menyebabkan manusia memiliki kehendak…

      ketiga:
      terimakasih atas pengakuan Anda yang rada2 agnostik itu.

      keempat:
      saya tidak melarikan diri diskusi perihal kutipan fanya di atas, tetapi menjadi kabur karena mengutip Alkitab, karena kalau sudah Alkitab yang didiskusikan tentu sudah berbeda landasannya,..
      jadi diskusi saya dengan fanya tidak usah dicampuri ok bung?

      kelima;
      saya tidak menyalahkan Anda karena agnostik atau penganut evolusi, tetapi kesalahan besar Anda adalah berperilaku seolah mempercayai TUHAN, saya sudah pernah katakan kepada Anda di lain post, orang seperti Anda bertuhan pada pikirannya sendiri,…meski manusia beragama juga banyak seperti itu,… yang pasti saya tegaskan dari awal, inilah yang SALAH, bahwa TUHAN bukan perkara pikiran, tetapi di atasnya, yaitu iman, pikiran tidak dapat menjangkau mujijat, tetapi iman dapat. pikiran tidak dapat menjagkau nurani, tetapi roh dapat, iman dapat…pikiran bisa beradu pada pikiran itu sendiri, tetapi iman itu beradu kepada TUHAN itu sendiri…

      salam

  13. So selain kamu nyamber soal diriku, apa jawabanmu , apa pendapatmu sendiri soal pilihan itu my friend ? ^_^

    • @lovepassword

      masak Anda tidak bisa menduga jawaban saya?
      lagian saya sedang menyelidiki Anda berdua,

      semoga dengan demikian bisa membuka pikiran hehehheh

      salam

  14. Kamu itu selalu saja gitu, menyuruh aku menduga-duga pikiranmu. Lha kalo aku menanggapi berarti aku bukan benar2 menanggapimu tetapi menanggapi dugaanku sendiri dong.. ^_^
    Hi Hi Hi

    Apakah pendapatmu A ? Salah lovepassword
    Apakah B ? Bukan gitu tepatnya…
    Apakah C ? Nggak…

    Whaduh…

    lagian saya sedang menyelidiki Anda berdua ===> Kayaknya detektif saja dikau Par..he he he…

    ===============================

    Sudahlah kutanggapi saja pendapatmu yang atasnya :

    kenapa bisa memilih ?,…kan gitu

    kita bisa memilih itu adalah EFEK,
    sedang pilihan kita itu adalah Object

    dalil pertama Anda adalah
    karena Ada object maka ada Efek
    ini jelas sudah salah…

    ===> Jelas salahnya dimana coba? Gini ya Par, coba kamu simak iya :

    Kamu makan soto . mengapa kamu makan soto? Ya karena adanya soto

    Mengapa kamu makan bakso? karena adanya bakso dan nasi goreng sedangkan kamu suka bakso dibandingkan nasi goreng.

    Kamu makan soto karena soto itu ada.

    Kamu makan bakso karena ada bakso dan ada nasi goreng, kamu milih bakso.

    Jadi karena ada bakso itulah kamu bisa makan bakso.
    Kalo nggak ada bakso mana bisa kamu makan bakso.

    Nggak ada yang salah Par..hi hi hi…

    Lha apakah saya mengatakan bahwa bakso itu ada begitu saja? Kan nggak gitu omonganku . Bakso itu ada karena dibuat penjual bakso.

    Itu logika utuhnya, jangan dilihatnya cuma sebagian.

    ================================

    pertanyaan saya adalah.. kenapa ada kehendak manusia itu?

    ===> Lha kan kemarin-kemarin pertanyaannya nggak gitu…^_^

    Kenapa ada bakso ya karena ada pembuat bakso.
    Kenapa ada kehendak manusia ? Ya karena diberikan Tuhan.

    ===============================

    saya tidak melarikan diri diskusi perihal kutipan fanya di atas, tetapi menjadi kabur karena mengutip Alkitab, karena kalau sudah Alkitab yang didiskusikan tentu sudah berbeda landasannya,..
    jadi diskusi saya dengan fanya tidak usah dicampuri ok bung?

    ===> Landasan udara kali Par…^_^

    Nggak mencampuri gimana lha wong saya sejak kemarin juga terlibat di sini.. Hi Hi hi…Nggak usah gitu lah Par…

    RAS kadang juga nyamber diskusimu kepadaku juga gak ada masalah kan… ^_^

    Kalo menurutku sih sebaiknya kalo memang tidak sependapat ya kamu jelaskan.

    Pertama : Itu membantu menjelaskan kepada Fanya atau kepadaku mengenai pendapatmu

    Kedua : Kalo ini misalnya dibaca orang lain, termasuk teman2 Kristen , setidaknya mereka tahu pendapat kamu mengenai itu gimana. Penafsiran kamu mengenai ayat Keluaran yang dipost Fanya gimana?

    Jadi yah nggak usah ngeles ya? Hi Hi Hi …^_^

    SALAM Par

    See You

    SALAM

    • @lovepassword

      duh duh, makin ngawur ajah neh kayaknya diskusi

      Satu.
      pendapat saya sudah saya ucapkan di atas banget, cari saja

      Dua.
      kalau Anda tidak bisa makan soto
      biarpun soto ada, emang Anda bisa makan soto?
      simple kan?
      jadi Anda telah mempercayai, bahwa
      Efek ada karena Object,
      salah total…

      Ketiga.
      Clear.
      kehendak manusia ada karena diciptakan Tuhan demikian
      sehingga
      Anda bisa memilih karena demikianlah Anda diciptakan TUHAN
      …bandingkan dengan jawaban ngotot dari Anda dibagian kedua di atas..
      pertanyaan selanjutnya, ini hanya jawaban di mulut atau sebenarnya Anda masih belum percaya Pencipta? Andalah jawablah di hati…

      Keempat.
      Ajakan saya untuk tidak campur ke diskusi saya dengan fanya ada alasan tertentu, bukan karena saya tidak mau Anda berdiskusi, tetapi karena ternyata diskusi kita bertiga akhirnya kan berbeda, antara saya dan fanya dan antara saya dengan Anda, jadi kalau dicampur2 jadi ngga fokus…, sebelum2nya kan saya tidak pernah menolak Anda atau fanya saling “beradu” dengan saya, karena memang arahnya sama,… tetapi di sini beda.. kalau Anda tidak terima ya tidak apa2, itukan saran,…

      • Satu.
        pendapat saya sudah saya ucapkan di atas banget, cari saja ==> gak ketemu Par.

        Dua.
        kalau Anda tidak bisa makan soto
        biarpun soto ada, emang Anda bisa makan soto?
        simple kan?
        jadi Anda telah mempercayai, bahwa
        Efek ada karena Object,
        salah total…

        ===> Salah total apanya. Kan aku sudah bilang pilihan itu terkait juga dengan kemampuan dan keterbatasan manusia.

        Jika ada soto nggak bisa makan iya itu terkait dengan keterbatasan itu.

        Lha ketika saya ngomong keterbatasan manusia tendensinya kemana menurutmu ? ya ke Tuhan yang Maha Kuasa.

        ============================

        Ketiga.
        Clear.
        kehendak manusia ada karena diciptakan Tuhan demikian
        sehingga
        Anda bisa memilih karena demikianlah Anda diciptakan TUHAN
        …bandingkan dengan jawaban ngotot dari Anda dibagian kedua di atas..
        pertanyaan selanjutnya, ini hanya jawaban di mulut atau sebenarnya Anda masih belum percaya Pencipta? Andalah jawablah di hati…

        ===> Clear . Memang kamu yang salah tangkep. ^_^. Kamu memotong pendapat orang lain sehingga membingungkan kamu sendiri.

        ==============================

        Keempat.
        Ajakan saya untuk tidak campur ke diskusi saya dengan fanya ada alasan tertentu, bukan karena saya tidak mau Anda berdiskusi, tetapi karena ternyata diskusi kita bertiga akhirnya kan berbeda, antara saya dan fanya dan antara saya dengan Anda, jadi kalau dicampur2 jadi ngga fokus…, sebelum2nya kan saya tidak pernah menolak Anda atau fanya saling “beradu” dengan saya, karena memang arahnya sama,… tetapi di sini beda.. kalau Anda tidak terima ya tidak apa2, itukan saran,…

        ==> Lha kalo menurutku sih arahnya ya samalah, lha wong topiknya sama2 pilihan. Masalah sependapat tidak sependapat kan tetap topiknya sama. Tapi agar fokus njawabnya dipisah juga baik juga.

        SALAM

      • @lovepassword

        pertama,
        cari saja…
        hehehhe

        kedua
        kalau Anda ngotot ini tidak salah, berarti bs dianggap Anda asal bunyi di nomor tiga

        nomor tiga:
        semua karena Pencipta memperlengkapi ciptaanNYA, manusia, kemampuan untuk memilih. TITIK.
        perkara ada kemampuan itu uang sudah tidak benar, itu sudah diskusi lain lagi. yang mana sudah juga saya jawab di atas banget…
        kalau di sini clear, otomatis nomor dua di atas tidak usang ngotot..

        keempat
        kalau menurut Anda masih satu jalur, tidak apa2,
        tetapi nyatanya, diskusi kita di waktu saya ajak supaya Anda tidak campur itu sudah lain jalur.
        Anda masih berkutat di
        Efek karena object. sementara diskusi saya dengan fanya sudah melewati itu… jadi kalau Anda ngotot nimbrung, otomatis Anda harus menerima bahwa efek tidak oleh object gimana?

        tetapi kalau point tiga di atas clear, nimbrung lagi gpp

      • Whaduh gw dipaksa he he he..

        Resto Paijo membuat menu misalnya bakso dan soto. Mengapa Parhobass bisa makan bakso? Ya karena memang ada bakso , siapa yang menyediakan bakso dan soto ? Ya Paijo…

        Jadi kronologisnya gini :

        Paijo punya dua pilihan yang diberikan untuk pengunjung restonya, yaitu bakso dan soto.

        Lah dari adanya dua pilihan itu maka pengunjung resto dalam hal ini Parhobass memillih.

        Itu Clear.

        Jadi pilihan itu dari Allah dan kehendak bebas itu dari Allah.

      • @lovepassword

        karena Anda pasti ngotot itulah saya yakin bahwa Anda sebenarnya tidak percaya Pencipta.

        dan penyelesaian2 berikutnya itu hanya ide dan pemikiran, bukan iman…

        salam

      • Saya tidak pernah memaksa keyakinan seseorang. Jadi yah itu masalahmu itu hak kamu meyakini apapun .^_^

        Bukankah saya sudah bilang terkait kemampuan dan ketidakmampuan manusia.Internal dan eksternal…?
        Lha mengubah keyakinanmu itu jelas di luar kemampuanku..Kayaknya gicu sih. Jadi kau nikmati sajalah penghakimanmu..

        Masalah iman dan pikiran, jawabanku juga kurasa jelas.

        Jika iman kita ibaratkan statika , pikiran itu dinamika. Bagus mana ? Ya ada plus minusnya.

        Karena percaya membuta bisa saja orang malahan jadi bodoh atau diperbodoh guru2nya taklid buta.

        Orang yang seperti itu jika tidak menggunakan pikiran selama-lamanya akan mati di dalam sumur yang dia nikmati. Dia merasa nyaman tinggal di tempurung di dasar sumur karena kebodohannya. Bahkan berusaha keluar juga tidak.

        Sekte Sesat yang aneh2 yang mau tidur sama pemimpinnya, hidup mati ikut gurunya, bom bunuh diri dsb itu saya rasa ada hubungannya karena mereka sedemikian percaya membuta tetapi kurang memakai otaknya dengan baik.

        Jadi sekali lagi : Ada plus minusnya. Saya juga tidak mendewakan pikiran. Saya cuma menghargai keduanya. Itu saja.

        SALAM

      • @lovepassword

        saya juga tidak memaksa keyakinan kepada Anda,
        tetapi karena landasan Anda adalah pikiran, maka pikiranlah yang sy kasih ke Anda,… yang nyatanya Anda tolak,…kenapa karena iman itu lebih tinggi dari pikiran….

        contoh pemikiran Anda adalah
        Efek ada karena object…
        saya katakan, dan kenyataan berkata lain,

        coba ajah Anda cari,
        tetapi semisalpun Anda cari, kalau Anda tidak mau mengubah pikiran Anda, tidak ada yang bisa mengimbangi pikiran Anda, ya sudah Anda tidak akan bisa menerima kesalahan itu, dan malah sibuk mencari2 pembenarasn..

        selamat berjuanglah kalau begitu…

  15. TUHAN bukan perkara pikiran, tetapi di atasnya, yaitu iman, pikiran tidak dapat menjangkau mujijat, tetapi iman dapat. pikiran tidak dapat menjagkau nurani, tetapi roh dapat, iman dapat…pikiran bisa beradu pada pikiran itu sendiri, tetapi iman itu beradu kepada TUHAN itu sendiri…

    ===> Iman dan pikiran itu sama-sama asalnya dari Tuhan , untuk apa dibentur-benturkan ? Pikiran bisa salah bisa benar, iman ya bisa saja salah bisa benar.
    Tidak ada yang bisa menjamin bahwa iman seseorang 100 persen benar. Begitu juga pikiran.

    pikiran tidak dapat menjangkau mujijat, tetapi iman dapat. ===> Atas nama percaya, orang juga bisa dibodohi Par… Lihatlah sisi plus minus secara lebih seimbang. Apa yang dikatakan mujizat pada suatu waktu bisa saja menjadi lebih logis ketika dijelaskan pikiran. Pikiran memang terbatas tetapi pikiran tidak lelah berusaha menyibak satu tabir demi satu tabir. Walaupun tabir baru akan selalu ada. Saya tidak mendewakan pikiran aslinya. Saya cuma ingin melihat keduanya secara lebih seimbang…

    SALAM

    • @lovepassword

      inilah yang selalu salah orientasi dari Anda
      siapa yang mengatakan dua2nya tidak dari TUHAN? semua adalah anugerah

      perbandingannya gini,
      tubuh dan jiwa dan roh itu adalah pemberian TUHAN, benar? Benar
      tubuh itu ada anggota tubuh, benar? Benar

      nah salahkah saya jika mengatakan tanpa kukupun kamu masih bisa hidup, tetapi kalau tanpa leher ke atas emang bisa?

      nah pandanglah iman dan pikiran itu seperti itu…
      bukannya pikiran tidak dipakai, tetapi di atas pikiran ada namanya HIKMAD,…

      salam

  16. nah salahkah saya jika mengatakan tanpa kukupun kamu masih bisa hidup, tetapi kalau tanpa leher ke atas emang bisa?

    ===> Lha emangnya kalo nggak punya pikiran apa manusia masih bisa beriman ?
    Apa kamu bisa hidup kalo nggak punya pikiran ?

    Saya tidak setuju itu. Bahwa pikiran bisa menjerumuskan ? yah , tetapi banyak juga toh orang yang menjadi dekat dengan Tuhan karena ilmu karena penelitiannya dalam bidang tertentu. Mendadak mendapatkan semacam kilat menyambar pikiran… yang mengubah hidup nya. Bagi orang semacam itu asal muasalnya ya malah dari pikiran.

    Artinya tetap saja iman dan pikiran punya kemungkinan yang sama untuk benar atau salah.

    di atas pikiran ada namanya HIKMAD,…==> Hikmad itu pikiran atau nggak ?

    • @lovepassword

      esensinya diperhatikan,
      esensi jika tanpa kuku dan esensi tanpa leher…

      banyak orang mendekat karena pikiran, tetapi kalau pikiran itu tidak tertangkap oleh iman, maka selamanya pikiran itu akan terombang-ambing….
      cari sana cari sini, ambil baik sana, ambil baiknya sini, dst…
      padahal iman itu perkata SUDAH BERTEMU dengan Pencipta… di dalam ROH, jadi pertentangan di pikiran itu tuntas,
      sebaliknya yang mengedepankan pikiran jika tidak bertemu dengan ROH, dengan iman, selamanya akan linglung,… membenarkan pikirannya sendiri… mencari untung sendiri….

      • banyak orang mendekat karena pikiran, tetapi kalau pikiran itu tidak tertangkap oleh iman, maka selamanya pikiran itu akan terombang-ambing….
        cari sana cari sini, ambil baik sana, ambil baiknya sini, dst…
        padahal iman itu perkata SUDAH BERTEMU dengan Pencipta… di dalam ROH, jadi pertentangan di pikiran itu tuntas,

        ===> Kalo iman seseorang memang bertemu Pencipta itu bagus, tetapi kalo iman itu bertemu genderuwo, wewe gombel, crayon sinchan, power rangers, dsb serta tidak ada upaya mengoreksi itu. Pertentangan pikiran orang itu memang tuntas tetapi selamanya makhluk hidup tersebut statis stabil dalam keyakinannya yang salah. Itulah masalahnya.

      • @lovepassword

        itulah contoh pemikiran yang sudah rusak dari Anda….
        Anda harus bisa membedakan mana pilihan yang benar dan mana yang hanya angan2 dan ketakutan2…..

        karena tidak ada iman, maka Anda susah membedakannya….

  17. Ini bukan masalah saya Parhobass, ini nggak ada kaitannya dengan pribadi saya ^_^

    Saya kan menyebutkan ada kemungkinan itu. Lha kau tidak bisa memungkiri bahwa itu memang benar ada. karena itulah saya mengatakan bahwa iman maupun pikiran punya kelebihan , tetapi juga bisa saja salah.

    Lha orang yang sedemikian beriman, kalo iman itu salah, rasanya tak terbayangkan. Seperti orang yang menikmati hidup dalam sumur nggak pengin keluar.

    Faktanya itu ada, kamu bisa melihatnya ada. Kecuali kalo kamu mengingkari realitas yang semestinya pernah kamu lihat. Misalnya atas nama iman bisa ngebom manusia yang lain yang gak ada juntrungannya, atas nama iman diapusi gurunya diajak berhubungan seks, atas nama iman bla bla bla.. dsb.
    Itu juga masalah. jadi bukan cuma pikiran saja yang bermasalah, temanku. Iman juga punya potensi salah juga.

    SALAM

    • @lovepassword

      ini akan kembali ke pertanyaan awal,
      kenapa manusia begitu?

      yaitu, jawaban saya di atas, karena manusia itu sudah rusak.
      iman itu mengajarkan, pandanglah kepada TUHAN, kepada YESUS sebagai Batu Penjuru, salah siapa kamu memandang orang yang bisa salah? kan salahmu sendiri…

      ini akan menjadi masalah pribadimu karena pribadimu ada suatu ciptaan ALLAH, salah satunya bisa memilih,

      jadi tidak usah diperpanjang lebar, jawablah pada diri Anda sendiri…

      salam

    • @Om Lovepassword

      Selain terror bom bunuh diri, fanya pikir Kenisah Rakyat bentukan Pendeta James Warren Jones (Jim Jones) yg tahun 1960 berafiliasi dengan denominasi Protestan, Murid-murid Kristus, yang melakukan bunuh diri massal tahun 1978, juga merupakan bukti dan dampak paling mengenaskan dari eksploitasi iman yang mengabaikan pikiran dan akal sehat.

      Meski sebelumnya beberapa mantan jemaat yg berhasil melepaskan diri dari Balai Kenisah Rakyat sempat melaporkan Jim Jones kpd pihak berwajib dengan tuduhan melakukan tindak kriminal a.l.: mencuri dari anggota-anggotanya, memalsukan penyembuhan-penyembuhan ilahi, menghukum anggota-anggotanya dengan keras, mempraktikkan sodomi dan menganggap dirinya sebagai Mesias yang baru, namun Pendeta Jim Jones tetap berhasil melangsungkan acara bunuh diri massal jemaat Kenisah Rakyat tgl 18 November 1978 di Jonestown, Guyana, yg menewaskan 913 jiwa, termasuk 276 diantaranya adalah anak-anak.

      salam

      • @fanya

        tidak usah jauh2 ke situ
        Yudas Iskariot murid langsung Yesus saja berkhianat,
        Akhan orang Yehuda yang melihat mujijat pelepasan Israel dari Mesir juga berkhianat,
        Ananias dan istrinya safira,
        Demas,
        dan banyak lagi

        tetapi di antara semua manusia yang rusak itu jarang ada orang seperti dan jarang juga orang melihat2 ini, antara lain:
        Paulus yang bertobat,
        Petrus yang bertobat,
        Raja Daud yang bertobat,
        Konstantin yang bertobat,
        Luther yang bertobat,
        dan banyak lagi….

        sekali lagi, kalau Anda mengambil contoh yang salah, itu sudah menjadi salah Anda…

        salam

      • @Om Parhobass

        Pokok pembicaraan yg dikemukakan Om LP kan adalah Kalo iman seseorang memang bertemu Pencipta itu bagus, tetapi kalo iman itu bertemu genderuwo, wewe gombel, crayon sinchan, power rangers, dsb serta tidak ada upaya mengoreksi itu. Pertentangan pikiran orang itu memang tuntas tetapi selamanya makhluk hidup tersebut statis stabil dalam keyakinannya yang salah.

        KasusYudas Iskariot dll yg dikemukakan Om Par fanya pikir kurang relevan dgn pokok pembicaraan Om LP, karena Yudas dll justru contoh dari orang yang meninggalkan iman kpd Kristus.

        Sangat berbeda dengan kasus Kenisah Rayat, mereka melakukan bunuh diri massal justru karena imannya yg luar biasa kuat terhadap ajaran Kristus yg disampaikan oleh pendeta kharismatis Jones!

        Mungkin sejatinya Pendeta Jim Jones adalah “dajjal”, tetapi karena yg dia sampaikan adalah ajaran Kristus, ia juga pandai mencitrakan diri laksana Kristus kpd masayarakat luas sehingga sosiolog terkemuka John Hall mendeskripsikan Jones dan Kenisah Rakyat sebagai pemimpin dan birokrasi kharismatis, maka iman para jemaatnya semakin bulat bahwa Jones adalah Mesiah!

        Dalam hal ini fanya sependapat dgn Om LP bahwa iman tanpa diimbangi dengan pikiran dan akal sehat (yg nota bene diberikan Tuhan kdp manusia spy a.l. tidak keliru mengenai Tuhan yg sesungguhnya), adalah sangat riskan dan justru sangat mudah utk disesatkan.

        salam

      • @fanya

        justru saya memberi contoh yang langsung mengena, dan akurat
        bukanlah Yudas dan nama2 yang saya sebut di atas lebih WAH dibanding nama2 yang Anda sebut?
        di dalam hal ini saya katakan bahkan mereka, yaitu nama2 yang saya sebut itu bahkan sudah bertemu langsung dengan TUHAN…
        tetapi karena iman mereka tidak pada apa yang sudah mereka lihat, pikiran mereka yang lebih dominan,

        contohnya Yudas, ultra nasionalis yang cerdas dan koruptor ini lebih mementingkan pemikirannya daripada tunduk kepada Gurunya…

        sudah saya katakan di atas, iman itu bukan nya tidak memerlukan pikiran, tetapi iman perkara sudah merasakan hadirat TUHAN…dan oleh karena itulah iman berkata Tunduklah kepada TUHAN, Kristus adalah kepala, jadi kalau sudah ada iman seperti itu, maka segala yang ada pada kita, termasuk pikiran harus tunduk pula kepada Kristus…
        begitu kawan…

        di lain artikel saya sebut,
        perut itu perlu, uang itu perlu, segala sesuatu perlu, tetapi apakah kita tunduk kepada itu semua?
        kalau kita tidak memiliki iman maka kita telah akan sedang tunduk kepada pikiran, kepada perut, kepada uang, kepada yang lain,
        yang mana salah satunya kepopularitasan (seperti contoh nama yang Anda sebut), kekuasaan sesaat (seperti Yudas) d.l.l

        iman inilah yang diwariskan oleh Abraham kepada kita, bagi mereka yang percaya kepada Kristus…
        iman di dalam ROH

        lalu Anda akan berkata
        tetapi si Jim ini mengajarkan tentang Kristus,
        saya jawab, Kristus berkata hati2lah kalau ada orang datang mengaku2 ada kristus di sana ada Kristus di sini, d.l.l, nah kalau beliau ini mencari popularitas dengan mengaku sebagai Mesias, berarti dia sama seperti Yudas, sama seperti Akhan, sama seperti Demas, d.l.l yaitu tidak mengenal Kristus… kan gitu…

        bisa dimengerti saya kira
        salam

      • @ Om Parhobas & Om LP

        Tragedi Kenisah Rakyat yang fanya angkat sbg evidence bagi topik ini, sama sekali bukan sosok Jim Jonesnya maupun aspek keimanan Jim Jones yg nyata2 sdh amburadul, melainkan justru model keimanan para jemaatnya yg mendominasi pikiran dan akal sehat mereka, berkat kepiawaian pengabaran dan demonstrasi Kasih dari “Pendeta” Jones yg kharismatis, sehingga akal sehat para jemaat tak mampu lagi melihat dan mengidentifikasi berbagai kepalsuan Jim Jones berikut tindak2 kriminal ybs sbgmn diadukan oleh segelintir “pembelot” Kenisah Rakyat.

        Dalam buku Seductive Poison terbitan Anchor Books 1998 karya Deborah Layton, seorang pembelot awal Kenisah Rakyat, dimuat sepucuk surat dari teman baik Deborah di Jonestown, yang isinya antara lain menceriterakan kepiluan hati ibu kandung Deborah atas kaburnya ybs yg diyakini sang Ibu dan para jemaat Kenisah Rakyat lainnya sbg destruksi iman Deborah terhadap Kristus.

        Demikian pula sebagaimana ditulis Jeannie Mills — alias Deanna Mertle — pengarang buku “Six years with God yang juga adalah seorang pembelot awal Kenisah Rakyat, yaitu :

        “Bila anda bertemu dengan orang-orang yang paling ramah yang pernah anda kenal, yang memperkenalkan anda dengan sekelompok orang yang paling mengasihi yang pernah anda jumpai, dan anda temukan pemimpinnya sebagai yang paling memukau, peduli, penuh kasih saying, dan pengertian yang pernah anda jumpai, dan kemudian anda belajar perjuangan kelompok ini sebagai sesuatu yang tidak pernah anda harapkan akan tercapai, dan bahwa semuanya ini kedengarannya terlalu indah untuk menjadi kenyataan – barangkali memang semuanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan! Jangan tinggalkan pendidikanmu, harapanmu, dan ambisi-ambisimu untuk mengejar pelangi”. Secara tegas Jeannie mengingatkan masyarakat utk tetap menggunakan akal dan pikiran dalam menggapai cita-cita dan harapan hidup manusia.

        Demikian sekedar berbagai pendapat dan pandangan.

        salam

      • @fanya

        siapapun mereka, baik Jim dan pengikutnya, jika mengaku pengikut Kristus tanpa mendahului apa yang sebenarnya mereka alami, tentu wajib mengetahui berita ini: “Jika ada orang mengaku-ngaku Mesias, maka jangan kita percaya kepada dia, dia pasti Mesias Palsu”.

        jadi ngga usah sibuk dengan sample2 yang salah…

        Ok!!!

      • “Bila anda bertemu dengan orang-orang yang paling ramah yang pernah anda kenal, yang memperkenalkan anda dengan sekelompok orang yang paling mengasihi yang pernah anda jumpai, dan anda temukan pemimpinnya sebagai yang paling memukau, peduli, penuh kasih saying, dan pengertian yang pernah anda jumpai, dan kemudian anda belajar perjuangan kelompok ini sebagai sesuatu yang tidak pernah anda harapkan akan tercapai, dan bahwa semuanya ini kedengarannya terlalu indah untuk menjadi kenyataan – barangkali memang semuanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan! Jangan tinggalkan pendidikanmu, harapanmu, dan ambisi-ambisimu untuk mengejar pelangi”.

        ===> Sip Markusip Fanya… Kalimat keren itu… ^_^

      • @fanya

        kalimatnyaseh mantap,
        tetapi tetap saja pengandaiannya tidak bagus,….

        jika ada orang yang mengajarkan sesuatu, maka Alkitab terbuka,
        dan landasan utama bagi yang mengaku percaya TUHAN, ya pandanglah TUHAN.

      • Rasanya itu bukan pengandaian. Itu fakta yang pernah terjadi . Yang versi lainnya juga banyak. Kisah yang mirip kan banyak.

        Kalimat itu kan ditulis oleh seseorang yang di “detik-detik terakhir” sempat terpikir menggunakan otaknya yang mungkin sebelumnya dia simpan di kulkas atas nama iman. Karena pikiran sehatnya yang mendadak muncul akhirnya dia selamat.

        Jadi dia menceritakan suasana kebatinan suasana psikologis yang sedang terjadi. Nuansanya seperti itu.

        Jadi kalo kita ngomong secara lebih menyeluruh, sedikit banyak mungkin rada terkait psikologis manusianya :

        Paijo pernah mempelajari filsafat yang menjauhkan dia dari Tuhan, setelah dia merasa bertobat , dia melihat pikiran, filsafat , dsb dengan cara pandang yang sama sekali baru, seakan menjadi takut kembali ke keadaan semula.

        Pada sisi lain Paimin dulunya adalah anggota sekte sesat yang bahkan mengajarkan anggotanya siap mati bunuh diri. Sehari-hari dia diindoktrinasi mengenai iman , percaya kepada pemimpin alirannya. Pada suatu hari akal sehatnya berbicara, dia selamat ketika teman2nya mati bunuh diri.
        Dari sudut pandang Paimin, alangkah berbahayanya percaya kepada konsep2 angin surga yang terlalu ideal tetapi tidak realistis.

        Di sini Paijo dan Paimin mengalami pengalaman yang berbeda terkait iman dan pikiran, sehingga makhluk hidup yang satu terkesan sedemikian paranoid terhadap pikiran bahkan takut dengan otaknya sendiri. Sementara makhluk hidup yang lain menjadi sulit percaya, karena juga tidak mau pengalamannya yang nyaris mati dibodohi guru2 agama terulang.

        Lha semestinya ya gak perlu terlalu ekstrim gitu. Iman dan Pikiran harus dilihat secara bersama-sama secara lebih seimbang.

        SALAM

      • @lovepassword

        biar semakin jelas, gini amangboru

        a. YESUS berkata, AKU MESIAS,
        b. karena a, maka Yesus mewanti, siapapun yang mengaku Mesias, pasti pendusta.
        c. Jim mengaku Mesias
        d. Pengikutnya menerima
        e. Alkitab sudah ada
        f. d bisa terjadi karena e tidak dijangkau.
        g. c bisa terjadi berarti dia bukan pengikut Kristus, karena pengikut Kristus akan tahu b.

        lalu Anda akan berkata, tetapi kan blabla bla bla bla…
        saya katakan contoh Anda itu sudah salah, jadi ngga usah dibawa2..

        paham ngga?
        sepertinya seh sudah…

        masih belum terima?
        sepertinya belum seh….

        ngotot lg ngga?
        sepertinya seh begitu..
        koq bisa?

        ya karena menjangkau TUHAN, Alkitab dengan pikiran, bukan iman…

      • @ Om Parhobass

        biar semakin jelas, gini amangboru
        a. YESUS berkata, AKU MESIAS,
        b. karena a, maka Yesus mewanti, siapapun yang mengaku Mesias, pasti pendusta.
        c. Jim mengaku Mesias
        d. Pengikutnya menerima
        e. Alkitab sudah ada……… etc etc…
        :
        :
        :
        =====

        kalaupun prosesnya sesederhana itu dimana Jim ujug-ujug menyebut dirinya Mesiah dan orang2pun langsung percaya………….. berarti ribuan orang yg berbondong-bondong jadi jemaatnya benar2 guoooblok….. ga punya otak! betul?
        Tapi krn faktanya mrk punya otak, berarti mereka tlh tidak gunakan akal dan pikirannya sehingga mereka terjerumus!! betul?…..
        Kalau tidak pake pikiran berarti hanya pake iman., betul?
        Dan karena akhir dari semua itu terbukti merupakan kesia-siaan dan sesat, maka mestinya dalam beriman mrk juga mendasarinya dgn pikiran betul? betul…… !

        Faktanya, Pendeta Jim Jones telah menghabiskan waktu 20 tahun (periode 1950-1970 di California dan 1970-1978 di Guyana) mendemonstrasikan KEBAJIKAN, KEDERMAWANAN, KEPEDULIAN SOSIAL, KASIH dan berbagai program kemanusiaan lainnya guna merebut kepercayaan lebih dari 3000 warga terpelajar Amerika utk masuk menjadi jemaatnya.

        Dalam periode Guyana (1970-1978) Pendeta Jones secara periodik mendemonstrasikan Mukjizat2 (palsu) dirinya sehingga para jemaatnya yakin bahwa Pedeta Jones yg kharismatik, welas asih, hidup didalam ROH Tuhan, benar-benar Mesiah atau Mesiah yang baru.

        Dengan dikondisikan spt itu, meski ada jemaat yg ragu karena gunakan pikiran dan akal sehatnya, malah dianggap tlh kehilangan iman oleh jemaat2 lainnya termasuk oleh ibu kandungnya sendiri (yang juga tersihir oleh demontrasi/sandiwara kekudusan Pendeta Jones shg si ibupun dgn sukacita bunuh diri mengikuti perintah “Sang Juru Selamat”). ——-> dalam kondisi itupun terlihat betapa penting keberadaan akal sehat yg digunakan sebagai imbangan keimanan.

        Melihat kenyataan tsb, baik proses terbentuknya taklid buta tsb sesimpel deskripsi Om Par atau memakan waktu relatif panjang, sistimatis dan terencana, tetap saja penyebab terjadinya tragedi tsb adalah akibat “iman yg sangat tulus”, atau hilangnya akal sehat akibat pencucian otak.

        Don Lattin menulis :

        Jonestown, in my view, represents the death of the Sixties, but it did not end my fascination with children who grew up in religious cults. That obsession was rekindled with another murder/suicide on January 8, 2005. That’s when Ricky “Davidito” Rodriguez, a young man christened to be the prince and future prophet of the another revolutionary Christian movement, stabbed a leader of the sect, then took his own life. Like countless other children raised in the Children of God, Ricky was sexually abused by adult members following the “free love” teachings of their charismatic prophet. My latest book, Jesus Freaks – A True Story of Murder and Madness on the Evangelical Edge, is the story of the events leading up to this murder/suicide – a story of messianic delusion, political paranoia, sexual abuse, and blind faith.

        Don Lattin is a freelance journalist and the author of four books. His most recent work, THE HARVARD PSYCHEDELIC CLUB – How Timothy Leary, Andrew Weil, Ram Dass and Huston Smith Killed the Fifties and Ushered in a New Age for America, was a national bestseller in 2010.Don has taught religion writing at the Graduate School of Journalism at the University of California at Berkeley, where he holds a degree in sociology. He served as Managing Editor of the God, Sex and Family project for the “News21” program at UC Berkeley. For more information, go to http://www.new21.org.
        Demikian sekedar tambahan masukan.

        Salam

      • @fanya

        PERTAMA
        a. jika mereka memiliki iman artinya mereka telah mengalami “sentuhan”, “pertemuan rohaniah” secara ROH dengan ALLAH,
        b. karena mereka sudah memiliki iman, maka mereka memiliki pengetahuan tentang YESUS,
        c. apakah mereka percaya Jim ?
        c1. kalau YA, berarti mereka bukan b
        c2. kalau TIDAK, berarti mereka b
        d. jika c1, berarti bukan a
        e. jika c2, berarti a…

        f, apakah fanya mengerti a, dan b?
        f.1, jika YA, ia tidak akan terus mempermasalahkan tentang iman
        f2, jika TIDAK, ia akan bertanya, iman menurut bung parhobass ini apa seh?

        g, jika f1, maka selesai
        h, jika f2, maka baca a dan b, dan seterusnya…

        KEDUA
        fanya saya harap jangan membawa dikotomi luar, dalam hal ini saya kira Islam, contohnya di perihal, melakukan mujijat sudah pasti beriman,…
        kembali Anda harus perhatikan ucapan YESUS, saya singkat saya. “Jika ada yang mengaku Mesias, meski dari langit manapun, meski melakukan mujijat, maka dia pasti palsu”… kenapa? karena TUHAN Maha ESA, dan karena ESA, maka Esapulalah Kristus, Esapulalah Mesias, tidak mungkin ada dua Mesias, tidak mungkin ada dua Al Masih…
        Paham?,… kalau tidak, berarti Anda salah satu orang yang tidak memiliki iman….

        salam

        selesai

        Note:
        bingung?
        wajar, karena biarpun kamu memiliki pikiran, tetapi tidak ada imannya…
        akhirnya mencari2 terus…
        sekali lagi, iman mengatasi pikiran
        bukan berarti pikiran tidak perlu, karena saya menganalisa dan menjawab Anda juga menggunakan pikiran…

        INGAT itu, ok fanya!!!

  18. @Parhobass :

    Apakah bisa dimengerti ? Tentu pendapatmu bisa dimengerti apa maksudmu, tetapi yang kamu contohkan itu kan contoh yang baik-baik menurut kamu. Padahal kan ada juga contoh yang tidak baik.

    Jika ada contoh lain yang menunjukkan penarikan kesimpulanmu salah ya berarti kamu salah, meskipun bahkan kamu bisa memberikan contoh yang menunjukkan penarikan kesimpulanmu benar.

    Misalnya binatang berkaki empat pemakan daging ?
    Kamu bisa menujukkan contoh macan makan daging, tetapi ketika saya bisa menunjukkan sapi makan rumput kamu ya salah, karena ada contoh yang menunjukkan bahwa kamu salah. Itu logika sederhana. Analogi sederhananya kan gitu.

    Kamu boleh saja mengajukan contoh iman yang menurut kamu baik, tetapi itu tidak sama artinya bahwa iman pasti baik.

    Iman bisa saja salah, lha aku sudah menunjukkan contohnya, misalnya saking beriman terus ngebom, saking beriman malah bunuh diri masal seperti kata Fanya. Lha itu adalah contoh2 yang menunjukkan cara kamu menarik kesimpulan memang bermasalah.

    Karena kamu sudah sedemikian jenius bisa menganalisa diriku ini.. Hi Hi Hi, maka biar kucoba gantian kuanalisa dirimu.

    Menurutku mengapa pendapat maksa ala kamu ini bisa muncul ? Karena ya salah satunya bisa saja ada preseden kamu pernah bermasalah dengan pikiranmu.

    Di Aboutmu kamu kan mengaku pernah terjerumus dalam aliran Filsafat yang membuat kamu jauh dari Tuhan , ya akibatnya kamu mungkin punya ketakutan terpendam terhadap pikiran jeniusmu sendiri.

    Kamu menjadi takut pikiranmu akan kembali menjerumuskan kamu ke kesulitan masa lalu, sehinggga kamu memilih memberangus pikiran.
    Kurang lebih miriplah sama teologi Agustinus, karena Agustinus punya pernah mengalami semacam trauma terpendam terhadap pemikirannya sendiri.

    Berhati2 itu boleh, kamu pinter kan karena tidak ingin terantuk batu yang sama dua kali. Tetapi tidak perlu terkesan terlalu paranoid, serta bahkan melarikan diri terhadap fakta realitas yang ada di sekelilingmu yang bisa kamu lihat.

    Iman itu bisa saja bermasalah. Itu jelas. Contohnya banyak. Tetapi juga bukan berarti pikiran bebas masalah. Baik iman maupun pikiran bisa saja salah, bisa juga benar, bisa saja punya masalah masing-masing.

    Kelemahan pikiran : Pikiran membawa seperti burung terbang. Memangnya burung kalo terbang apa tidak perlu beristirahat , pikiran melihat semua hal melayang tinggi tetapi tidak stabil karena kan selalu ada koreksi terus menerus.

    Lha iman memang terkesan lebih stabil kuat kokoh. Itu bagus2 saja kalo iman itu benar, lha kalo stabil kuat kokoh itu dalam kesalahan, ya seperti kamu kecemplung sumur, ditolongin keluar nggak mau bahkan marah. Karena merasa nyaman di sumur itu malahan.

    Jadi lihatlah dua hal tersebut secara lebih utuh lebih seimbang.

    Saya rasa demikian Par

    SALAM

    • @lovepassword

      saya kira sudah jelas ulasannya di atas,

      jika nama yang si fanya bawa ia sebut sebagai pengikut dan mengiktui ajaran Kristus, tentu ia tidak akan mengaku sebagai Mesias.

      di sini masih perlu diperpanjang?

      dari contoh si fanya itu, saya malah bertanya, apakah benar si fanya ini tahu apa yang ia omongkan?

      apakah saya salah mengambil sample?
      perhatikan apa kata iman,
      a1. Iman berkata TUHAN itu baik.
      a.2. Yesus itu baik dan menjadi sample buat siapapun yang masih mengaku beriman.
      a.3. manusia sudah rusak
      a.4. ada manusia yang rusak itu yang mengikuti TUHAN
      a.5. maka manusia yang di a4. referencenya harus ke a2.
      a.6. jika a5 gagal berarti ia tidak merefer ke a2.
      a7. ada ngga manusia yang rusak itu berhasil menjadikan Kristus sebagai reference? ADA, banyak.
      a.8. kalau ada orang yang mengambil reference yang dapat dipandang manusia, kira2 a6 atau a7?

      nah Anda kebanyakan melakukan kesalahan, yaitu berkutat di a8, makanya oleh pikiran, menjadi tidak akan pernah melihat TUHAN, kenapa? karena yang dipandang saja salah, gimana mau benar?

      ngerti ngga yah?
      saya kira ngerti

      iman vs pikiran
      nah kembali ke point2 di atas perhatikan baik2 di point a6-a8, Anda berkutat di situ, karena Anda2 tidak pernah melihat dan merasakan a1 dan a2, dan Anda sendiri merasa baik sehingga tidak melihat a3.

      salam

  19. @Parhobass :

    Yang namanya sampel itu ya sampel..He he he. ^_^ Semuanya harus dilihat dong.

    ===============================
    jadi ngga usah sibuk dengan sample2 yang salah…

    Ok!!!

    ===>
    Dalam pengambilan kesimpulan semua sampel harus diperhatikan. Jangan main tebang pilih data.

    Jangan kalo ada sampel yang sesuai dengan kesimpulanmu dipakai, eh kalo sampel tidak mendukung kesimpulan lalu dibuang. Itu namanya bukan menarik kesimpulan secara benar, tetapi tebang pilih data .
    Mana diperbolehkan cara menarik kesimpulan seperti itu.

    Semua data semua contoh tentu perlu dilihat sebelum mengatakan sebuah hipotesis tertentu benar atau tidak. Bukan cuma contoh2 yang membenarkan dugaanmu yang diungkap tetapi contoh pada sisi sebaliknya dicuekin.

    Contohnya kan sudah jelas : Walaupun kamu memberikan contoh macan itu berkaki empat dan macan makan daging, tidak bisa serta merta bisa kamu kaitkan kalo yang berkaki empat pasti makan daging. Jika ada contoh yang membuktikan sebaliknya ya kesimpulannya perlu direvisi dong.

    Dalam kasus kita ini terbukti bahwa yang namanya iman pun juga bisa bermasalah. Bukti contohnya seabrek.

    Jadi kalo kamu ngomong soal potensi salah , ya iman punya potensi salah juga, tetapi bukan berarti pikiran nggak bisa salah. Yang namanya manusia ya iman, pikiran, dsb dsb tetap bisa salah.

    Kamu mengatakan jangan ambil sampel yang salah, lha itu kan namanya tebang pilih data. Lha wong nyatanya memang ada yang jelas2 terbukti salah kok. Kalo salah diabaikan gicu ??? Hi hi hi …

    Lha kalo kamu maksa begitu ya kamu lakukan hal yang sama dengan pikiran. Jangan ambil sampel pikiran yang salah. Kan ya sama saja hasilnya. Kalo yang salah2 dibuang ya yang ada yang tersisa yang benar baik iman maupun pikiran.

    Lha kalo terhadap iman, kamu katakan abaikan sampel2 yang salah, lha terhadap pikiran kamu tidak mengatakan hal yang sama, lha itu bukan standard berpikir yang benar, bahkan kayaknya juga bukan standard iman yang benar karena berlaku tidak adil semacam itu. ^_^

    SALAM

    • @lovepassword

      persentasi error akan lebih kecil jika yang ternyata sudah jelas error dibuang….

      • persentasi error akan lebih kecil jika yang ternyata sudah jelas error dibuang….

        ===> Lha itu namanya bukan menarik kesimpulan tetapi tebang pilih.

        Apakah kalimatmu ini hanya berlaku untuk iman atau juga berlaku untuk pikiran ???

        Jika hanya berlaku untuk iman lalu bagaimana dengan pikiran ?

        Jika berlaku untuk iman dan pikiran mengapa kamu malah mendikotomikan iman dan pikiran ?

        SALAM

      • @lovepassword

        ngga usah nyari2 masalah istilah bahasa sehari2nya,
        kalau Anda sudah tahu teriak2 di pertemuan itu salah, ngapain Anda teriak2?.. kan kelihatan bodoh jadinya,

        jadi…
        mau didunia apapun, apalagi matematika,
        apalagi di dunia kontrol,

        kalau sudah jelas ERROR nya besar, ngga usah dipakai…

        kalau masih ngotot di sini, artinya apa? artinya pikiran Anda memang banyak ERRORnya…

        salam

  20. contohnya Yudas, ultra nasionalis yang cerdas dan koruptor ini lebih mementingkan pemikirannya daripada tunduk kepada Gurunya…

    ===> Dalam hal ini karena gurunya Yesus maka kamu bisa ngomong gitu. Kalo guru Yudas itu Mak Lampir apa kamu juga menyarankan hal yang sama, agar Yudas tunduk pada gurunya ?

    Jadi intinya itu : Kalo ngasih contoh lihatlah sisi lain juga. Iman memang bisa saja bermasalah, pikiran juga.

    Dalam contoh kau itu dikau menujukkan sampel yang baik2 saja. Ketika pikiran jelek mengalahkan kepercayaan .
    Tetapi kalo kasusnya lain ya hasilnya bisa lain.

    Dalam kasus murid Pendeta simelekete sekte bunuh diri itu, Murid yang memberontak terhadap gurunya justru yang lebih waras dan layak dihargai.

    Mereka memakai otaknya dengan baik berbeda dengan murid lain yang terlalu beriman tetapi tidak memakai otaknya sehingga disuruh bunuh diri kok ya mau. Itu kan jelas salah. Lha iman2 juga memiliki sisi bahaya semacam itu. Jadi lihatlah keduanya bukan malah membuat dikotomi aneh-aneh.

    SALAM

    • @lovepassword

      pengandaian yang buruh dan tidak baik…
      Jelas2 Yesus gurunya, masak harus lari ke mak lampir

      jelas2 Alkitab terbuka kepada Anda, masak harus berguru kepada manusia lainnya?

      clear thingking man….
      berpikirlah sehat…. saya nasehatkan sekali lagi, orang bertuhankan pikiran ada kecenderungan tidak memiliki pemikiran yang sehat….

    • pengandaian yang buruh dan tidak baik…
      Jelas2 Yesus gurunya, masak harus lari ke mak lampir

      ===> Kalo Paijo berguru kepada Paimin, menurutmu Paijo harus menilai ajaran Paimin dengan iman atau dengan pikiran ???

      berpikirlah sehat…. saya nasehatkan sekali lagi, orang bertuhankan pikiran ada kecenderungan tidak memiliki pemikiran yang sehat….
      ===> Tidak memiliki pikiran yang sehat gimana sih.

      Yang tidak berpikir sehat itu ya manusia yang sedemikian beriman sehingga mau sedemikian gebleknya diajak mati bunuh diri seperti contoh fanya itu.

      Mengapa bisa begitu ? Karena mereka beriman tetapi tidak punya otak. Jelas gamblang itu. Apa kamu anggap mereka yang mati bunuh diri berjamaah itu berakal sehat ???

      saya nasehatkan sekali lagi, orang bertuhankan pikiran ada kecenderungan tidak memiliki pemikiran yang sehat…. ===> Kalo manusia jelas2 kecemplung sumur tetapi malah nggak merasa kalo sudah dijerumuskan ke dalam sumur, menurutmu mereka murid2 pendeta sesat itu bertuhankan apa ???

      Apakah bertuhankan iman kepada genderuwo , iman kepada pendeta sesat tidak berbahaya.

      Itulah potensi bahaya dari iman jika iman itu kebangeten ngawurnya. Sudah ngawur diberitahu malah marah karena merasa super duper yakin atas nama iman. Itu bahaya. Bahaya serius bahkan.

      Jadi iman itu memang kuat stabil, tetapi yang kuat dan stabil itu kalo salah, ya alangkah pusingnya. Justru manusia2 semacam itulah yang menitipkan akal sehatnya kepada pendeta, kepada guru2 sesat yang ngajak mati bunuh diri, dsb dsb.

      Kalo manusia2 menggunakan otaknya ya mana mau , disuruh nyumbang sementara pemimpinnya kaya raya mereka tetap miskin , disuruh ini itu, apalagi kalo endingnya diajak mati bersama bunuh diri. Ya gak mau dong orang waras gak ada apa-apa mau diajak mati bunuh diri .

      Cuma manusia yang irasional yang bisa begitu, karena taklid buta percaya membuta pada guru2nya.

      SALAM

      • @lovepassword

        masih belum mengena ternyata….

        gini amangboru,

        di situ sudah dijelaskan Yesus adalah Gurunya Yudas Iskariot,
        lha kenapa Anda berkata dengan pengandaian seolah kalau gurunya adalah Mak Lampir?

        itu artinya ada sesuatu masalah dengan Anda…
        itu indikasi pemikiran yang tidak sehat.

        Anda sedang berbicara dengan saya di blog ini,
        lalu ada angan2 Anda, bagaimana kalau saya tidak berdialog dengan parhobass?, lha piye iki, jelas2 Anda berdialog dengan saya, bagaimana rumusannya mengandaikan saya bukan parhobass….

        sedemikian, sudah saya katakan iman itu artinya mengenal TUHAN di dalam ROH,
        lha masak dikatakan genderuwo, setan bla bla bla, artinya Anda selalu membawa orientasi yang ngawur itu,

        contoh yang dikasih sifanya dibawa2 lagi
        sudah saya katakan, sample ERRRRRORRR ngga usah dibawa2..karena kalau sudah ERORR dan Anda masih menganalisan maka hasil yang Anda dapat itu ERROR nya pasti besar…

        salam

  21. Kalo kamu membatasi bahwa ketika iman seseorang tersambung ke Tuhan, yah itu bagus. Tetapi bagus juga kan kalo pikiran tersambung ke Tuhan. Menurutmu bagus apa nggak ??? ^_^

    Kalo kita korelasikan dengan Tuhan ya semuanya jadi bagus.

    Kalo sudut pandangnya keterbatasan manusia , yah baik iman dan pikiran ya bisa bermasalah karena manusia itu penuh masalah.
    Kalo iman itu sarang, pikiran itu sayap . Hi Hi hi…

    SALAM

    • @lovepassword

      saya bukan mengatakan iman tanpa pikiran
      tetapi saya katakan iman mengendalikan pikiran
      jadi ketika dikatakan di dalam ROH, menurutmu gimana? masak masih mengatakan pikirannya lari kesana kemari…

      pikiran itu sudah terkendali?
      kenapa?
      mungkin Kitab Yohanes surat Pertama cocok buat Anda,
      karena sudah menjamah, sudah mendengar, sudah merasakan, sudah menyaksikan sendiri, maka tidak ada lagi tempat buat pikiran untuk mencari2…

      lain hal dengan pikiran yang tidak ada iman, ia terus mencari2, kenapa? karena memang belum menemukan…
      kenapa bisa belum menemukan?
      karena iman itu bukan perkara apa yang diketahui oleh pikiran, bukan perkara menguasai atau apapun yang dimiliki oleh pikiran, tetapi perkara sudah menemukan di dalam ROH…

      salam

      • saya bukan mengatakan iman tanpa pikiran
        tetapi saya katakan iman mengendalikan pikiran

        ===> Yah saya tahu itu. Yang saya katakan kan kalo misalnya iman salah kan ya bahaya. Sama pikiran salah ya juga bahaya.

        Justru karena sifat iman itu jauh lebih stabil itu. Lha kalo stabil tetapi stabil dalam kesalahan kan ya bisa kacau beliau , plus mbenerinnya setengah mati, seperti murid2 aliran aneh2 sekte bunuh diri dsb.

        masak masih mengatakan pikirannya lari kesana kemari…===> Lho masalah di iman itu justru bukan soal lari ke sana kemari. Itu kan masalah pikiran. Masalah di iman itu ya kaitannya dengan sifatnya yang relatif kalo semakin kuat ya semakin sulit diubah. Tetapi keyakinan yang super duper yakin, kalo memang itu salah, kan bisa jadi kesalahan permanen itu. Seperti yang dicontohkan Fanya itu contoh gamblang .

        Hati mereka memang yakin aduhai yakin tetapi yakinnya ngawur sehingga malah menimbulkan peristiwa mengerikan bunuh diri masal.

        SALAM

      • @lovepassword

        iman yang masih salah berarti bukan iman,
        dan sekali lagi, kalau sudah salah ngga usah dibawa2….

        timbul pertanyaan retorika,
        ya kan orang ngga tau dia benar apa ngga?

        sudah dikatakan di awal, manusia itu bisa salah, makanya carilah yang tidak bisa salah, siapa? ROH NamaNya, ALLAH…

        pertayaan, sudah kenal ALLAH belum? tepatnya sudah mendapat anugerah persatuan di dalam roh belum?

        kalau belum, berarti memang Anda tidak akan pernah menemukan iman.
        Karena belum menemukan maka Anda masih menggunakan pikiran untuk mencari…

        padahal iman itu bukan dicari, tetapi diterima… karena iman adalah anugerah…

        “saya tidak mau makan bu”,

        si ibu, “Tapi saya kasih kamu makanan buat kamu bertumbuh nak!”,…

        “tidak bu, saya mau mencari makanan sendiri”,…

        si ibu, “ya sudah sana cari makanan sendiri, kakimu ajah ngga bisa bergerak, gimana bisa cari makanan sendiri”….

        yup si anak cacat secara tubuh,… sedemikian banyak yang cacat secara pikiran….

        salam

      • @ Om Parhobass

        “padahal iman itu bukan dicari, tetapi diterima… karena iman adalah anugerah…”
        :
        :
        =====

        Betul sekali Om Par!!!, fanya 1000% setuju…….!

        demikian pula Kecerdasan, Pengetahuan dan Akal pikiran, semua anugrah-Nya!!!

        Menurut fanya, kewajiban manusia adalah mensyukuri dan memanfaatkan segala anugrah-Nya secara benar dan proporsional…..

        Dalam istilah fanya, “manusia harus tahu menempatkan segala sesuatu pada tempat dan tatanan yang seharusnya”!

        Manusia harus bisa MENYEIMBANGKAN segala sesuatunya, menyeimbangkan orientasi Dunia-Akhirat, Lahir-Batin, Iman-Logika, Pribadi-Masyarakat luas.

        Demikian menurut pendapat fanya, bisa benar – atau mungkin ga salah. hihihi

        Salam

      • @fanya

        kalau dah tau anugerah,
        masak harus membawa2 yang salah dan errrrorrrr dan palsuu

        kadang ngga jelas kamu ini….

      • Maksud Fanya itu pikiran juga anugrah. Kalo masalah contoh yang salah, itu kan untuk menunjukkan padamu bahwa iman pun bisa bermasalah.

        Tetapi kalo kamu bilang yang semestinya dipakai adalah yang tidak salah, baik iman atau pikiran, ya okelah… Keinginan kita kan ya itu ..^_^

        SALAM

      • @lovepassword

        dari awal saya katakan, smua adalah anugerah,.. tak terkecuali….

        kalau acuannya anugerah, maka tentu ada Subject penganugerah,..
        ada Subject, berarti kita objectNYA…

        Sucject dan object ini diikat di dalam ROH, nah yang begini inilah yang iman yang benar, dimana di dalam iman itu ada pikiran, wawasan, d.l.l….

        saya katakan dari awal…. saya sedang tidak mengatakan tidak memerlukan pikiran, karena saya menjawab Anda berdua juga menggunakan pikiran…

        salam

      • Kalo itu mah yang bermasalah analogimu… Analogi yang lain banyak, kamu malah membuat cerita sendu merayu.

        Paijo : Bu makan bu
        Ibu : Kamu makan melulu, kerja kek. Kamu kan sudah besar mestinya ya harus mandiri.
        Paijo: Kemarin saya salah terus dipecat bu sama bos.
        Ibu : Yah jangan menyerah. minta maaf kek lalu berusaha bekerja lebih baik.
        Paijo : Iya bu…tapi sekarang saya makan dulu ya bu ? 🙂
        Ibu : Kamu itu hobinya makan melulu. Iya sono. Tapi gulenya jangan kamu habisin ye…

        Gicu kan ya manis analoginya…

      • @lovepassword

        masih membawa2 pemikiran yang ngawurd…
        kalau kita sedang membicarakan A, maka kita carilah perumpamaan dan analogi2 yang kita2 bisa menjelaskan A, disitulah letak pemikiran yang dilandasi iman digunakan…

        banyak analogi, tetapi yang salah ngga usah dibawa2…

        PR, PR Anda itu…. jgn lupa…

      • Ngawur gimana, lha wong analogiku manis gicu .. DIbandingkan analogimu: Seakan manusia itu produk cacat seumur hidup harus disuapi sama orang tuanya. Ngenes betul malang betul analogimu itu..

        Manusia itu kan punya kebebasan, diberi juga kemampuan jadi kafilah , bahkan ada yang ngomong sesuai gambar dan rupa Allah, tugasnya mengelola bumi mengelola alam semesta Memayu hayuning bawana . Kamu gambarkan seperti makhluk yang gak bisa kemana-mana tiap hari mesti disuapi ortunya…
        Suram sekali idemu itu.

        Ya manusia memang bisa salah , tempatnya salah . Lha kalo salah ya minta maaf perbaiki kesalahannya . Tetapi kalo atas nama takut salah jadi balita seumur hidup yang bangga disuapin ya kebengeten. ^_^

      • @lovepassword

        manusi memang diberi kebebasan, tetapi untuk menjaga harmonisasi, membatasi kebebasan mutlak, karena TUHAN juga teratur,maka dibuatlah HUKUM….

        tetapi karena HUKUM dilanggar maka seolah kebebasan itu menjadi mutlak seluas2nya…, nah orang yang beranggapan kebebesan terlalu luas inlah yang cenderung memiliki pemikiran-pemikiran yang banyak,…
        yang sayangnya kalau ia tidak memiliki iman, ia tidak dapat menyaring yang mana yang benar dan yang mana yang salah… kenapa tidak bisa? karena ia tidak dapat membedakan antara abu-abu dan hitam, ia bisa menerima yang abu-abu, sementara menurut HUKUM tadi tidak ada abu-abu, yang ada adalah HITAM atau PUTIH….

        termasuk di analogi dan analogi, kita berusaha menggunakan analogi supaya konteksnya masuk dan dapat diterima,…. namanya juga analogikan tidak mesti begitu semua, ada juga analogi yang lain, tetapi kalau kita gunakan yang lain, konteks dan makna jadi tidak masuk….

        mengenai manusia yang “cacat”, Anda saja yang tidak mau menerima, bahwa manusia itu pada dasarnya sudah rusak… kalau Anda tidak rusak, kenapa begitu susah menerima kebenaran? kan gitu toh? karena kita rusaklah maka susah menerima kebenaran, susah menerima nasehat d.l.l, tetapi tidak semua orang begitu, ada yang menyadari kerusakannya, bertobat dan berpaling kepada DIA yang tlah menyediakan perbaikan,….makanya orang2 yang begini dimampukan untuk membagikan cerita-cerita perbaikan, cerita-cerita iman, …

        salam

  22. Menurut saya “Mengapa manusia bisa memililih?”, adalah karena manusia punya kemampuan untuk memilih, terlepas dari pilihannya benar atau salah.

    • @reggi

      Anda sungguh bijaksana reggi,
      itu tepat sekali,… karena memang manusia diciptakan diperlengkapi dengan “bisa memilih”….

      istilah bahasa sehari2nya sudah dari sononya.

      nah sekarag pertanyaan ke reggi balik lagi,
      kenapa manusia sekarang cenderung salah pilih? sehingga ada kepalsuan?

  23. @ Fanya , Lovepasword

    Anda ini berdua terlampau canggih dalam memutar dan mempermainkan kalimat demi kalimat . Pada intinya adalah dlm hal apa yg hendak diutarakan sdr Parhobas adalah bhw pengajar-pengajar sesat itu selalu ada pd setiap waktu dan tempat . Hanya ketahuilah sekalipun ilmu dan cara pikiran kelian berdua tidak mengenal Kristus maka semua adalah kesia-sian saja. Kenalilah bhw KEBENARAN itu datang dari setiap perkataan Kristus dan setiap kalimat yg mengatasnamakan setiap perintahNYa. Kelian berdua memiliki pengetahuan dan kadar insting pengetahuan humaniora ttg itu . Hanya itu tidak akan berguna sebelum kelian percaya dlm namaNYa yg kekal. Sudah panjang diskusi kelian itu tetapi hanya akan berputar-putar tidak akan henti pada hal-hal KEPALSUAN .
    Semoga kamu memahaminya

    • Terimakasih atas dukunganmu RAS.. ^_^ :

      Hanya ketahuilah sekalipun ilmu dan cara pikiran kelian berdua tidak mengenal Kristus maka semua adalah kesia-sian saja.

      ===> Jadi mengenal Kristus menurutmu memang dari pikiran iya kan ya ? Mengenalnya dengan ilmu dan pikiran iya ? Kamu serius ngomong gini atau salah ketik RAS ? ^_^

      • @lovepassword

        hehehhe Anda ngga dapat2 juga memahami…

        sahali nari (sekali lagi),
        iman bukan tidak tanpa pikiran
        tetapi iman mengayomi pikiran,

      • Kalo saling mengayomi gak boleh ya ???

      • @lovepassword

        diskon 20 persen buat kamu bolehlah…
        tambahan lagi…
        beli 2 dapat 1 heehheh

      • Kalo beli dua dapet satu rugi dong ^_^
        bagaimana kalo beli satu dapet dua ? He he he

  24. iman yang masih salah berarti bukan iman,
    dan sekali lagi, kalau sudah salah ngga usah dibawa2….

    ===> Lha kalo iman yang salah bukan iman ya anggap saja pikiran yang salah juga bukan pikiran ^_^ gampang kan itu.

    Jangan kalo pikiran salah itu kamu anggap kesalahan pikiran kalo iman salah bukan iman. Lha itu argumentasi model apaan itu…

    Jika iman yang salah nggak boleh dibawa-bawa , mengapa juga pikiran yang salah mesti dibawa-bawa. Yang adil dong.

    Kalo iman itu benar, kalo pikiran juga benar ya bagus. Kalo salah. Lha yang salah yang nggak bagus…

    Mengapa mesti mengadu iman dan pikiran
    Mengapa mesti bertanya bendera atau angin yang bergerak
    Burung camar mringis tertawa tergelak…
    Bukan bendera atau angin yang bergerak
    Pikiranlah yang bergerak…^_^

    ^_^ ^_^ ^_^

    • @lovepassword

      Anda yang membawa contoh Jim, dan pasukannya, jadi dari awal saya katakan salah melakukan begitu…

      nah pikiran yang salahpun ngga usah dibawa2 benar sekali,
      masalahnya adalah pikiran Anda sudah salah dari awal sehingga tidak dapat menjangkau pikiran yang benar, pikiran saya saya ngga dapat Anda jangkau gimana menjangkau iman yang bersifat rohaniah?

      contoh pemikiran Anda yang salah Adalah.. efek ada karena object,… itu indikasi pikiran Anda sedang sekarat… jadi pikiran yang sekarat ini ngga usah dibawa2 untuk diskusi sebenarnya, …
      nah timbul pertanyaan, dapatkah Anda sadari pikiran Anda salah?
      tidak dapat, kenapa? karena pikiran Anda telah dinaungi sesuatu iman yang salah juga… kenapa bisa begitu? karena Anda tidak menerima ROH KEBENARAN?, bahkan yang menerimapun masih ada ujian kesetian dan kekudusan dan kesucian…. apalagi yang tidak menerima kan gitu toh?

  25. Wah kumat lagi deh..

    Efek ada karena objek itu ngawur jika nggak ada subjeknya . Jika ada subjeknya ya logikanya jadi utuh. Lha masalahmu adalah kamu suka bermain potong bebek angsa.

    Manusia bisa memilih karena ada pilihan yang diberikan oleh Allah.

    Gamblang dan jelas.

    Lha kamu memotong kasusnya seakan pilihan itu timbul dari alam antah berantah. Itu masalahmu bukan masalahku…

    SALAM Parhobass

    Met Ultah blogmu deh….

    • @lovepassword

      heheheh, nahitulah, pikiran itu terkadang ngga bisa nerima kalau dia sudah salah,… itu karena iman yang bukan iman…

      sudahlah, ngga usah diperpanjang
      PR Anda beberapa saat ini, adalah…
      Efek tidak mungkin terjadi karena object…

      selamat mengerjakan PR..

      • Allah memberikan air untuk kamu minum sehingga kamu gak haus

        Allah memberikan makanan untuk kamu makan.

        Istrimu memberikan baju batik untuk kamu pakai sehingga kelihatan keren

        Apapun gaya potong bebek angsa kamu. Memang kronologis kejadiannya kan begitu.
        Kalo gaya potong bebek angsa itu soal iman atau pikiran ??? ^_^

      • @lovepassword

        PR kamu
        Efek tidak mungkin terjadi karena object…
        kalau kamu tidak bisa makan soto, ada soto 1000 mangkokpun ngga ada gunanya…

        itu kata kuncinya….

        kalau kamu tidak memiliki iman, 1000 pemikiranpun tidak ada gunanya….

        itu kata kuncinya..

        selamat mengerjakan PRnya….

  26. Ya mungkin saja toh objek itu nggak berdiri sendiri wong ada subjeknya .. Hi Hi hi…

    kalau kamu tidak bisa makan soto, ada soto 1000 mangkokpun ngga ada gunany

    ===> Kalo gak ada soto lha apa kamu juga bisa makan soto. kalo soto gak ada, agar soto bisa dimakan ya dibuat ada dulu, dibuat dimasak dulu terus dimakan…Kalo soto gak ada ya soto gak bisa dimakan. Gini saja kok perlu diberitahu lho…

    Lha kecuali kalo gak ada soto kamu ganti bakpao itu lain soal. Tetapi agar kamu bisa makan soto ya soto perlu ada. Lha soto itu ada kan bukan ada dengan sendirinya tetapi ada yang membuat soto itu. Gitu lho ceritanya…^_^

    kalau kamu tidak memiliki iman, 1000 pemikiranpun tidak ada gunanya…. ======> Ya samalah kalo kamu gak punya pemikiran bisa2 seseorang terbujuj bunuh diri seperti contoh di atas, dengan alasan iman yang menjerumuskan itu tadi. Jadi yah lihat keduanya secara seimbang…

    PR sudah dikerjakan sejak kemarin lho… Hi hi hi

    SALAM deh

    • @lovepassword

      hehehehe…..

      Anda tidak percaya Pencipta itu saja intinya kawan….

      6 hari TUHAN menciptakan segala isinya, AMIN
      pada hari terakhirlah TUHAN menciptakan manusia,diperintahkanlah manusia itu untuk memelihara dan menjaga dan menggunakan ciptaan lain itu, kita sebut object. AMIN

      jadi “Object” diberikan oleh “Caused”
      itulah disebut Causa Prima, The Ultimate Caused adalah TUHAN…..
      itulah Hukum Caused and Effect…yang benar..AMIN

      tetapi logika orang agnostik yang dasarnya ngga percaya Pencipta akan berkata:
      Efek ada karena Object,….
      jadi si lovepassword ada karena ada soto, karena ada pakaian, karena ada object2 mati lainnya…..
      dan salah satu contoh mutakir adalah… alam semesta ada karena waktu…
      lucu dan lucu dan lucu… beginilah apa yang harus kita hadapi di dunia nyata ini, banyak pengajaran dan pemikiran yang salah tetapi sayangnya amat sangat popular…dan korbannya banyak, salah satunya lovepassword si amangboru yang mau menjngkau TUHAN dengan pikirannya tanpa iman….

      salam

      • he he he.. kamu itu rada hobi mengadili menghakimi orang lain. Aslinya itu gak bagus sih..
        Tapi Ya silahkan sih itu kan masalahmu.

        aku sih oke2 saja apapun pendapatmu asalkan kamu nggak memelintir omonganku , terus mengarang indah mengklaim kalo itu pendapatku.. ^_^. Itu namana menfitnah . ^_^

        Masalah Causa Prima, dsb memangnya kamu anggap pendapatku gimana sih ???

        Jauh hari sebelum aku ngedumel sama kamu, aku sudah ngobrol duluan sama Karl Karnadi admin ateis Indonesia Wiki di blog pemikir bebas, sudah juga ngobrol di FB sama Gani dan kawan-kawan.

        Bahkan aku membuat postingan khusus threat terbuka di forum ateis seputar argumentasi kosmologis. Kalem2 saja aku masuk ke markas mereka dan membuat posting yang jelas pasti diserang dibedah kanan kirilah.. Hi hi hi…dan sekarang kamu dengan santainya memelintir omonganku seakan aku menentang argumentasi kosmologis itu. Hi Hi Hi.. Kejam nian dikau… ^_^

        jadi saya rasa kamu tidak perlu mengarang indah dengan mengatas namakan pendapatku. Lha wong aku gak ngomong seperti apa yang kamu kutip itu.
        ===============================
        jadi si lovepassword ada karena ada soto, karena ada pakaian, karena ada object2 mati lainnya…..
        dan salah satu contoh mutakir adalah… alam semesta ada karena waktu… ===> kayaknya kamu kebanyakan makan duren deh .^_^

        Soto itu ada karena dibuat istrimu. Lha setelah kamu makan soto maka kamu jadi kenyang.

        Cerita utuhnya begitu .

        Bagaimana cara kamu menyimpulkan kalimat di atas menunjukkan apakah “terlalu beriman” menyebabkan kamu mengorbankan nalar atau tidak. Sampai kalimat semudah itupun tidak terpahami olehmu.

        Apakah efek ada karena objek ? lha kamu pikirkanlah itu kamu baca lagi kalimatku sambil menikmati sotomu, my friend hi hi hi

        SALAM …

      • @lovepassword

        anggaplah apa yang sy ucapkan itu sebagai nasehat,
        kecuali Anda sdh merasa menjadi terdakwa ya janganlah mengasihani diri sendiri….

        sejak Anda berkata efek ada karena object,… dan masih ngotot mutar2 disitu, …sekarang Anda sebut saya saya kutip sana sini….

        sudahlah, PRnya dikerjain dulu, dan kalau Anda ikut di forum2 atheis, ngga usah membawa pemikiran mereka ke sini atau sebisamungkin ngga usah ditanamkan pemikiran nya di pikiranmu, karena banyak errornya, dan metode utama kita adalah kalau sudah error ngga usah dibawa2 karena hasilnya tidak akan pernah baik, ok bung

        saya kira diskusi selesai di sini, karena bolak balik lagi ke awal…

  27. Oke, sebagai nasehat bisa diterima. Tetapi substansi omonganmu gak nyambung aslinya.

    sejak Anda berkata efek ada karena object, ==> Itu kesimpulanmu sendiri dari hasil memotong argumentasiku. Hi Hi Hi

    Soto itu ada karena dibuat istrimu. Lha setelah kamu makan soto maka kamu jadi kenyang.

    Kamu kenyang karena makan soto. Tetapi bukan berarti soto itu ada begitu saja. Kan aku sudah bilang gicu.

    Allahlah yang membuat matahari yang menghangatkan bumi
    Allah membuat air supaya kamu tidak haus.

    Kalo kamu haus apa yang kamu lakukan ? Minum air kan ? Lha yang menghilangkan hausmu ya air. Kamu bisa tanyakan itu pada semua orang , anak TK juga boleh.

    yang menghilangkan haus ?? Ya air atau minuman. Hi Hi hi
    Tetapi air itu ada kan sebagai karunia Tuhan.
    Kamu mestinya tahu logika sederhana ini karena anak TK saja tahu, kalo airlah jika kamu minum membuat kamu tidak haus.

    Konteks utuhnya begitu.
    Bukan seenaknya dipotong sesuai kesimpulanmu. ^_^

    Karena saya mengatakan air menghilangkan haus lalu kamu samber berarti menyepelekan Tuhan. Itu gak nyambung plus maksa. ^_^, karena sudah jelas saya katakan bahwa air itu diciptakan atau ada penyebabnya.

    ===============================

    anggaplah apa yang sy ucapkan itu sebagai nasehat,
    kecuali Anda sdh merasa menjadi terdakwa ya janganlah mengasihani diri sendiri….
    ===> He he he.. okelah. Nasehat diterima biarpun konteksnya jelas gak nyambung.^_^

    saya kira diskusi selesai di sini, karena bolak balik lagi ke awal…===> Bolehlah, ntar kapan2 kita ngobrol lagi di kesempatan lain. ^_^

    SALAM

    • @lovepassword

      ya sudahlah, Anda memang yang selalu nyambung terus dari awal

      silakan dikerjakan PRnya…

      • PR apalagi bos? ^_^ jangan sungkan-sungkan lho kalo masih belum puas … Ntar kalo kamu gak bisa tidur kan aku jadi gak enak ati…he he he….

        Kayaknya makan bakso siang2 enak juga Par. Kamu doyan gak ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: