ALLAH adalah Kasih

Juli 19, 2010 pukul 6:24 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

Topik ini jelas sudah banyak ditemukan di artikel lain, … tetapi mari melihat yang satu ini. Supaya tidak terjadi kesalahan, kalau ada ketemu kata “hukum”, harap dianggap dan dibaca sebagai “hukum taurat”.

Yohanes 14:7
/Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”*

sumber ayat, SABDA.org

Kutipan di atas adalah kutipan dari perbincangan Yesus dengan orang-orang yang relijius, dan ada juga yang mengaku mengenal ALLAH, ahli Taurat, ahli agama, imam. Bahkan muridNya sendiri agak susah dan lama bisa mengenal DIA…
Prakteknya, mereka kesulitan mengenal Yesus, bahkan lebih sulit dari para buta dan para lumpuh yang Yesus sembuhkan.

Khusus ahli taurat, ahli agama, para yang mengaku suci dan kudus, yang mengaku menjalankan hukum, mari kita lihat…
(karena muridNya ternyata akhirnya menerima, karena mereka mau terus mengenal Yesus, tidak menolak)…

Banyak penyebabnya, tetapi ada penyebab utama yang bisa dikemukakan, yaitu…… Kasih
Jika kita membaca Perjanjian Baru dibanding dengan Perjanjian Lama; maka otomatis kita akan menemukan banyak hukum di Perjanjian Lama.
Hukum jika dilaksanakan memang bermanfaat, tetapi Hukum Taurat diberikan supaya orang bisa mengenal betapa Kudusnya TUHAN, dan oleh karena itulah disebut hukum utama yang melandasi segala hukum adalah Hukum Kasih, kasih kepada ALLAH dan kasih kepada sesama. Kasih itu melebihi peraturan. Jadi kalau seseorang melaksanakan hukum taurat, kenalilah Yang memberi hukum itu.

Nyatanya karena memang hukum itu sudah ada, jelas, dan dipelihara, maka ada orang yang merasa bahwa ketika melakukan hukum, maka ia sudah dianggap bersih, dianggap layak di hadapan TUHAN,… sehingga ia merasa sudah “WAH”, beda, suci, kudus, tanpa dosa,… jika rasionalisasi diangkat, memang tepat, bahwa hukum diberikan untuk mengatur, dan jika melakukan semua hukum maka kita lepas dari kesalahan, tetapi jika kita tidak mengenal pembuat hukum itu, artinya kita tidak memiliki relasi dengan Pembuat Hukum, jika kita tidak melakukan relasi, berarti kita hanya melakukan peraturan tanpa ada Roh di dalamnya, tanpa ada kasih di dalamnya,… jika tidak ada kasih maka akan mudah menghakimi orang yang tidak melakukan hukum tertentu…karena tanpa landasan maka kasih itu hilang,….

Jika seseorang bersalah, di depan hukum pasti mati, tetapi di hadapan Kasih ada pengampunan, anugerah tebusan, itulah yang ditekankan Paulus, sehingga oleh mati yang diperhadapkan oleh Hukum, maka manusia jika mengenal kematiannya, ia akan meminta dan memohon pengambunan, kasih, dan Kasih sudah nyata di dalam Nama Yesus Kristus, maka terimalah…oleh itulah kita lepas dari jeratan hukuman yang menanti…

Dan oleh mind set bahwa hukum harus dilaksanakan tanpa babibu, tanpa tahu siapa pembuatnya maka akan timbullah ekslusifitas, membenarkan diri sendiri,.. perbincangan Yesus dengan seorang ahli taurat yang mengaku telah melakukan seluruh taurat mungkin contoh yang tepat buat kita. Nah oleh hal inilah penulis-penulis Perjanjian Baru menekankan inti dari Hukum Taurat itu, yaitu supaya mengenal dan supaya memiliki relasi yang baik dan erat dengan TUHAN, dengan Pembuat hukum itu, DIA sudah datang, Yesus namaNYA… jika sudah ada relasi, kasih, maka landasan utama segala hukum telah otomatis dilakukan…otomatis hukum apapun tidak akan ada yang bisa memandang salah kepada kita, mati tidak akan ada… sebab ALLAH ada di pihak kita dan ALLAH adalah Hidup, dan jika sadar akan itu semua, maka ahli agama, ahli taurat, orang-orang relijius di atas otomatis akan mudah mengenal YESUS…. nyatanya tidak… Kasih yang ditunjukkan oleh YESUS kepada si buta lebih mampu dan lebih ampuh, tetapi kasih di mata “jagoan neon” macam ahli taurat, tidak mengena karena landasan itu hilang dari mata mereka.

Di dalam hal ini Paulus sering disalah mengerti, tetapi itu wajar, orang bisa salah mengerti karena memang tidak ada Kasih, tidak ada Roh di dalam mereka, sehingga akan sama seperti “jagoan neon” di atas, akan sama seperti ahli taurat, d.l.l, karena menganggap sudah melaksanakan hukum sehingga merasa sudah mengenal TUHAN, nyatanya tidak.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: