Penderitaan Badani

Juli 14, 2010 pukul 12:11 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

(1Petrus 4:1 [ITB])
Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, –karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa–,

Paulus menegaskan di lain Kitab,

(Roma 6:7 [ITB])
Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.

Mungkin kita pernah secara tidak sengaja menginjak cacing, terkadang si cacing tidak akan serta merta langsung mati, ia masih bergerak-gerak, “melawan”, atau mungkin meronta, tubuhnya masih terlihat hidup.

(Ibrani 12:1 [ITB])
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Nah jika kita membandingkan antara cacing yang terinjak yang mau mati di atas, dari konteks menuju mati itu bisa menjelaskan peristiwa mati tubuh di kutipan-kutipan di atas.
Memang tidak semua orang mengalami hal menuju mati perlahan itu, sebab ada juga yang langsung “mati”, tetapi ada yang lama merontanya, dan semakin lama meronta semakin ia merasakan kesakitan yang hebat, untuk kasus Paulus itu disebut “peristiwa galah ransang”.

Mengikut Kristus artinya menerima baptisan YESUS, yaitu menerima Roh Kudus,… YESUS telah mati secara badaniah, dan IA bangkit di dalam ROH… nah karena orang yang percaya atau penganut Jalan TUHAN, maka otomatis ada Roh Kristus pada kita, dan karena Roh Kristus adalah ROH HIDUP, yang sudah lepas dari penderitaan badaniah, maka siapapun yang menerima DIA, wajib mematikan tubuhnya, mematikan keinginan tubuhnya secara tepat, menjadi manusia rohaniah….

Seperti contoh cacing di atas, ada orang yang “mati”nya tidak langsung, masih melawan, meronta. Ia harus berjuang, mungkin sepanjang hidupnya, untuk memenangkan tubuhnya dari keinginan tertentu, mungkin dapat dijelaskan, sebagai contoh di dalam konteks susah menghentikan kebiasaan saja, ada orang susah menghentikan kebiasaan merokok…. walau ada orang yang sangat mudah menghentikannya. itu ibarat perbandingannya antara Saulus yang kemudian Paulus dengan Lidia. Paulus susah menerima Kristus, Lidia malah sebaliknya. Tetapi Paulus langsung mematikan “tubuh”nya ketika menerima Kristus, berbeda dengan Ananias dan istrinya Safira yang tidak mau mematikan tubuhnya, akhirnya ia mati benaran.

Jadi, kalau kita mengaku pengikut Jalan TUHAN, Jalan Lurus, Jalan Kebenaran, –yang dihina oleh Yahudi jaman lampau sebagai Nasrani dan yang dihina oleh orang non-Yahudi sebagai Kristen, maka kita harus belajar, sekiranya tidak bisa mematikan langsung, untuk mematikan keinginan-keinginan tubuh kita secara bertahap, pelan-pelan,…yang disebut belajar hidup kudus…Keinginan tubuh jangan menjadi tuan atas kita, itu jika di dapat maka pada saat yang bersamaan kita sudah menyadari Kuat Kuasa Kristus…Alkitab berkata: “Kuduslah kamu sebab ALLAH adalah Kudus”.–dan hinaan itupun menjadi kemuliaan bagi kita, menjadi kebanggaan, sama seperti bapa-bapa iman kita, mereka dihina demikian, tetapi kesaksian mereka menggoreskan tinta yang amat sangat patut dibanggakan…

Kesaksian orang yang mematikan keinginan tubuhnya bukan batu-batu nisan, atau tulisan-tulisan R.I.P di kuburan, dan bukan juga kuburan-kuburan megah, atau gedung-gedung WAH, sebab itu semua keinginan tubuh, tetapi adalah tulisan-tulisan firman ALLAH yang hidup, kesaksian-kesaksian iman, bahkan beberapa di antara mereka telah dipercayakan TUHAN untuk menuliskan bagian ALKITAB….itu adalah keinginan ROH,
memang kita tidak dapat lagi menambahi Alkitab karena sudah genap dan sudah selesai, sudah ditutup dengan AMIN, (Wahyu 22:21) Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin., tetapi kita akan terus membuktikan bahwa Kristus sebagai Raja, di tubuh kita, di peperangan keinginan tubuh kita, peperangan rohaniah masih ada, dan masih berlaku.
Ibarat mati tubuh, maka sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, demikian juga bagi kita yang hidup, siapa yang sudah tidak merasakan penderitaan-penderitaan badaniah, berarti ia sudah berhenti berbuat dosa.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: