Tidak memihak dan Tidak munafik

Juni 27, 2010 pukul 6:02 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 4 Komentar
Tag: ,

(Yakobus 3:17 [ITB])
Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

Mungkin contoh yang paling kena adalah ketika kita harus memutuskan suatu pilihan di dalam keputusan antara benar dan salah.
Terkadang kita bisa memutuskan seseorang salah karena agamanya berbeda, meski nurani kita berteriak mengatakan bahwa ia benar.
Ketika diskusi-diskusi relijius bersileweran di dunia maya ini, kata-kata kotor sering membumbui, malah menjadi senjata ampuh untuk menghina orang, agama atau apapun itu, selama ia atau dia bukan di pihak kita, tetapi karena si cakap busuk itu satu agama dengan kita, maka… cing,… pasti dia benar….karena kita sudah memihak maka kita sudah tidak dapat lagi melihat segala yang murni, kita buta..

Di dalam dialog langsung juga terkadang demikian, kita tidak tega atau menjaga perasaan sehingga mengucapkan yang sedikit bisa lebih diterima lawan bicara, tetapi di dalam hati masih tidak sreg, nurani berontak, Roh TUHAN mewanti-wanti di dalam degupan jantung yang cepat…
Tetapi karena hikmat yang dari atas murni, maka ketika hikmat itu kita anggap kurang tepat, maka kita lah yang berusaha memasukkan tambahan supaya kedengaran manis oleh lawan bicara, tetapi sayangnya itu sudah tidak murni lagi, itu sudah terkontaminasi dengan hikmat kita sendiri.. itu sudah memihak dunia, itumunafik, berpura-pura….kita menganggap diri kita lebih baik dari Hikmat Allah, artinya kita sendiri sedang memraktekkan KETIDAKPERCAYAAN ADANYA ALLAH.

Dan memang hikmat diperlukan amat sangat untuk dapat meladeni bentuk-bentuk kekanak-kanakan, yang mementingkan diri sendiri, yang mengejar popularitas, yang ingin dilihat WAH…

TUHAN memesankan, … semua yang memerlukan hikmat akan diberikan TUHAN tepat pada saat diperlukan, jadi tidak usah mengejar hikmat, ia tidak jauh, hikmat ada dalam setiap orang yang percaya.
Dan bagi yang tidak suka atau menyukainya, siap-siaplah segala bentuk kuping yang memerah, atau hati yang dongkol,.. dan karena itu selalu ada, yaitu kedongkolan, maka jika kita menghadapinya, kendalikanlah itu, jangan sampai kita berdosa karenanya…

Iklan

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. makasih banyak ilmu nya..sangat membantu…salam hangat…

    • @camera…

      salam hangat juga…
      Kiranya ROH TUHAN bekerja di setiap hati kita… dan bukan ilmunya manusia…

      salam

  2. Keren Par…Baguslah itu …

  3. […] atau dialog dengan hati nurani yang murni. Karena hati nurani yang murni memampukan kita untuk tidak memihak dan tidak munafik.…. Karena kalau kita “memihak”, maka sangat susah menemukan kebenaran, yang ada […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: