TERANG atau GELAP

Juni 23, 2010 pukul 11:59 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 67 Komentar
Tag: ,

(Yahobus 1:26 [ITB])
Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

Ini bukan menyatakan bahwa kita harus diam sama sekali, karena melarang setiap ucapan lidah…melainkan:


(Mazmur 34:13 [ITB])
(34-14) Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;

Menjaga lidah dari yang jahat dan ucapan-ucapan yang menipu di sini menjelaskan bahwa kita harus benar-benar menyangkal jahat dan tipu, dan ketiadaan jahat dan tipu itu adalah lidah untuk beribadah, yaitu mengucapkan damai sejahtera, kasih, cinta kedamaian dan sebagainya, yang merupakan buah-buah Roh, dan berlaku juga sebaliknya, ketiadaan Roh hanya melahirkan jahat dan tipu.

Kita memuji TUHAN dengan lidah kita, tetapi…. ternyata bisa juga kita mengucapkan kata-kata yang jahat dengan lidah yang sama….betapa najisnya, …

Ini perkara TERANG atau GELAP,… yang keluar dari GELAP adalah gelap, dan yang keluar dari TERANG adalah terang,….
tetapi ada yang abu-abu, suam-suam kuku, Oh TUHAN saya masih salah satu di antara ini….kita memang harus terus belajar untuk menanggalkan jahat dan tipu itu…
tidak mungkin dari sumber air tawar mengeluarkan air yang pahit secara bersamaan,…atau sebaliknya yang pahit mengeluarkan air yang tawar secara bersamaan… karena pahit adalah pahit dan tawar adalah tawar..

Yakobus 3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

Mari melihat dengan amat sangat jelas, supaya kita bisa membungkam para pendakwa dengan mengatakan demi TERANG tidak apalah sedikit GELAP atau sebaliknya dan seterusnya, sampai kapan harus bersembunyi di balik angan-angan pemikiran manusia yang sesat itu?

Yohanes 1:1-5
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Karena kita percaya Kristus, dan Kristus adalah TERANG, maka seharusnya kita juga menjadi terang. Karena TERANG melahirkan terang, dan terang berasal dari TERANG,… dan kegelapan tidak menguasai kita.

Menipu demi kebaikan?, hmmmm tepu tepu namanya itu,
Mencuri karena kelaparan?, hmmm tepu tepu namanya itu,…

67 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. @ Lae Parhobas

    Saya ingat perkataan Tuhan ,
    jika dalam pandangan seseorang itu terang itu adalah gelap betapa gelapnya kegelapan itu.

    .
    .
    Dalam Kristus itu ada terang yg ajaib dan Dia lah segala jawaban akan apapun masalah hidup tetapi selalu saja orang mengganggap DIA adalah OKNUM hasil karangan (imajiner) manusia.
    .
    .
    Berbahagialah yg percaya kepadaNya sekalipuntidak pernah melihat perbuatan dan mendengar perkataanNYa. Maka spt tertulis Dalam dirinya akan mengalir air-air yg menghidupkan. Dan Kartini mengatakan
    Habis gelap terbitlah terang…
    .
    .
    Salam kasih ma di lae naburju

    • @Lae Sihotang

      Salam kasih juga lae;

      kiranya kita senantiasa menunjukkan betapa DIA YANG Perkasa, telah ada di dalam hati kita, sehingga kita memancarkan TerangNya Yang Ajaib,

      salam lae

  2. jika dalam pandangan seseorang itu terang itu adalah gelap betapa gelapnya kegelapan itu.

    ===> Ya kau suruh saja orang itu membuka kacamata hitamnya… 😀

    Mungkin saja yang mengaku anak-anak terang sedemikian menyilaukan sehingga jadi banyak yang malah butuh kacamata hitam agar matanya tidak jadi buta… karena terlalu silau…

    • @lovepassword

      argument anak kecil… ngga pantas Anda mengucapkan seperti itu…

      memalukan saja

  3. Ya mikirnya simpel saja Par, kalo memang mata ditutup ya bukalah penutup matanya… Nggak usah muter-muter malah ngebayangin yang aneh…

    Kalo lihat matahari tetap gelap, itu artinya apa ? kacamatanya perlu dibuka…

    Lha bagi yang merasa jadi matahari ya tidak perlu menjadikan dirinya menjadi sedemikian menyilaukan…

    Ini saran serius….Super duper serius

    Kalo kamu nggak mudeng ya urusanmu lah….

  4. Saya tambahkan :

    berbohong demi kebaikan. :mrgreen:

    intermezzo saja, jangan marah.

    • @triani

      terimakasih atas masukannya

    • @Mbak Triani,

      “berbohong demi kebaikan. ”

      =====>

      Apakah yg dimaksud adalah terkait dgn ayat2 berikut?

      (Roma 3:7) –> “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?”

      (Gal, 2:16-17) –> “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yg dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tapi hanya karena iman dalam Yesus Kristus.”

      Sementara Yesus berfirman:

      (Matius 5:17-19 ) –> “Janganlah kamu menyangka Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para Nabi, Aku datang bukan untuk meniadakannya, tapi untuk menggenapinya… sesungguhnya sebelum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkan demikian kepada yang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di kerajaan sorga.”.

      salam

      • @fanya,

        kutipan Anda tidak bermaksud seperti yang Anda harapkan dan bayangkan…

        Anda bisa mencek diskusi topik yang Anda sebut di atas di lain artikel…

        tetapi kalau Anda masih kesulitan silahkan ditanya…

        salam

      • @Fanya:

        Maksud mbak ngutip ayat itu buat apa? Untuk membenarkan apa yang dikatakan mbak Triani?

  5. Lovepassword

    Hmm bisa serius tidak?

  6. @Triani : Itu omongan serius lho Mbak…. Sumpeh dicium Sandra Dewi juga gw berani kalo itu emang serius…

    hallo Pa Kabar?

    Avatarmu keren juga ya ….

  7. Banyak orang pengin menjadi terang, terobsesi menjadi cahaya agar menerangi dunia, agar semua orang melihat . Tetapi ketika obsesi terang itu berubah sedemikian menyilaukan, maka siapapun yang tidak ingin rusak matanya ya pasti akan pakai kacamata hitam….Itu adalah sebab akibat yang pasti terjadi….

    Jadilah terang yang membantu orang, membantu makhluk bisa melihat , jangan jadi terang yang malah membutakan mata saking silaunya….

    Hi hi hi ….

    Masalah utama dalam agama itu apa ? Banyak orang pengin baik, semakin baik, semakin baik. Terobsesi menjadi baik bahkan super duper baik….Lha endingnya adalah kebaikan itu menjadi obsesi yang kemudian mulai dipertandingkan dengan orang lain… Merasa diri benar, merasa boleh mengadili orang lain, dan sebagainya….

    Akibatnya apa ? Terang itu hanya membutakan mata siapapun yang melihatnya. Apa yang dianggap kebaikan itu endingnya cuma membuat manusia memakai kacamata hitam agar tidak buta matanya…

    Semakin hitam kacamatanya semakin membuat manusia yang merasa jadi cahaya meningkatkan intensitasnya. Lha semakin silau maka kacamata akan semakin tebal dipasang. Terjadilah bola salju kekonyolan berjamaah.

    Yang merasa baik merasa heran mengapa orang lain diajak baik kok sulit.
    Sementara orang lain mungkin tidak melihat dari sisi baiknya karena yang diterima justru silaunya tadi ….

    Ini bisa kamu lihat dimana saja lintas agama…

    Jadi yah : Tidak ada yang tidak serius sih, walaupun aku menyampaikannya sambil cengar cengir nyamber kanan kiri…

    • @lovepassword

      mungkin lovepassword lupa apa kata Kitab Suci,…. “jangan terlalu….cukupkanlah dirimu dengan anugerah yang ada padamu”…

      hikmat yang dari atas itu bicara masalah lemahlembut, hati nurani,… jadi kalau ada yang mengejar menjadi “terlalu terang”, itu sudah keinginan daging, bukan dari surga lagi….

      konyolnya pernyataanmu adalah menyisipkan “terang” yang seolah menjadi sumber masalah bagi dunia… dan dunia sangat layak menjadi gelap karena ada terang, itu identik dengan menyalahkan TUHAN oleh karena dosa-dosamu, sepertinya seh memang dari dulu logika penyelesaiannmu seperti itu…

      si nilai 10 skala seratus telah menyalahkn si nilai 80 skala seratus, himat iblis… semoga bukan karena Anda mengimani seperti itu, kalau ternyata ia, saya katakan iblis telah bersarang di hati Anda….

      • Saya hanya memaparkan fakta yang bisa dilihat dirasakan semua orang.

        Kalo kamu ngomong : jadi kalau ada yang mengejar menjadi “terlalu terang”, itu sudah keinginan daging, bukan dari surga lagi….

        ===> Yah baguslah itu…

        SALAM Par…

      • @lovepassword

        karena memang Kitab Suci berkata demikian… TERANG cukup dijelaskan dengan TERANG, tidak ada Terang +1 atau Terang -1, yang ada TERANG atau GELAP,….

        TERANG +1 bukan lagi TERANG, tetapi cacat
        TERANG -1 bukan lagi TERANG, tetapi cacat

        implikasinya,kalau ada yang mengejar TERLALU TERANG, berarti dia memang tidak mengerti apa itu TERANG…

        kan gitu toh?
        Jadi pilihan hanya dua, dan nyatanya perlakuan juga hanya dua, TERANG atau GELAP… karena tidak ada abu-abu, atau suam suamkuku, atau kata Triani di atas, tidak ada berbohong demi kebaikan,itu hikmad dunia itu kacau balau, iri hati, tepu tepu…

  8. @Lovepassword,

    bwetull. bwetulll itu… betullll!

    dan ketika seseorang sdh menempatkan diri sbg “terang” cenderung memanadang pihak lain sbg obyek kegelapan yg mesti diteranginya. Maka dari itu kecil kemungkinan ybs bersedia menerima “cahaya” dari pihak lain tanpa kemauan menempatkan diri sebagai “gelap”…..

    salam ya Pak Eko

    • @fanya

      antara hikmat dunia dengan hikmat sorgawi itu sangat jauh bedanya…
      sepertinya Anda ngiri karena ada orang yang telah menjadi “terang”

      dan Anda tahu apa yang terjadi oleh karena “iri”, hanya ada kacau balau…

      tetapi sesuai logika kalimat Anda ya fanya,
      gini….

      ketika kita menerima TERANG Yang dari Sorga, maka kita telah menjadi terang…

      nah terang itu mau ditempatkan dimanapun, baik oleh himpitan jaman, atau iri seperti Anda, ia tetaplah terang, namanya terang ya memancarkan sinarnya, perbuatan-perbuatan baik, kelemahlembutan, damai sejahtera…
      nah kalau Anda silau dengan kebaikan, kelemahlembutan, damai sejahtera, berarti ada yang salah dengan Anda, ada setan-setan, iblis-iblis yang sedang merasuk pikiran relijius Anda, ….

      jadi bukan perkara ia mau menerangi “kegelapan”, tetapi perkara ia sudah terang, yang namanya terang yang bersinar, menampakkan perbuatan-perbuatan dari ROH, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati.

      nah sekarang Anda membenturkan antara “terang” yang satu dengan “terang” yang lain,… ini juga pemikiran yang picik, dengki dan maaf kata tolol,… kalau sudah dikatakan terang berarti ia sudah mengetahui dengan nuraninya bahwa ada hukum utama dari Kitab Suci, salahsatunya mengasihi sesamanya manusia…kalau sudah mengasihi sesama manusia, apakah masih ada penolakan dari didikan, hajaran, nasehat dari sesama terang?
      tetapi meskipun ada kegagalan, karena terkadang manusia tidak dapat mengontrol perasaannya, sebab emosi selalu ada, tetapi ada kalanya tidak kuasa mengalahkannya, maka janganlah memfitnah, jangan menghakimi, karena TERANG Yang sama sudah menerangi mereka juga…

      salam damai yang tulus…
      saran saya kepada Anda, berbuatbaiklah bukan oleh karena Anda ingin berbuat baik, melainkan karena KEBAIKAN sendiri sudah ada pada Anda…

    • SALAM Kembali Fanya… 😉

  9. Hubungannya terang sama iri apa Par ? Senenge ngono lho, sukanya kamu itu gicu deh… Bikin terharu…

    Gini ya Par, secara analogi maupun faktanya pernyataanku, perasaan nyatanya emang gicu….

    Kalo kamu hobi ngefans sama terang ya okelah. tetapi kalo ada lampu halogen terang di sorotkan ke matamu ya pastilah kau tutup mata…

    Di tengah pantai terik misalnya di Kuta siang hari yah kau pakai kacamata hitammu… Itu reaksi wajar .

    Ini bukan soal membenturkan terang dengan terang tetapi fakta yang bisa kamu lihat dengar bahkan rasakan emang gicu….

    Jika terang itu ada membuat manusia dalam gelap menemukan jalan , itu oke.

    Tetapi jika terang itu sedemikian obsesif sehingga membutakan mata, lha apa bedanya kemudian terang dan tidak terang. Bukankah ketika terang itu membutakan mata maka jalan itu tidak akan terlihat…

    Itu analoginya. Pada kenyataannya ya faktanya juga bisa kamu lihat.

    Ada manusia , sekelompok manusia tadinya berusaha baik berusaha semakin baik semakin benar, dalam bahasa pendeta mungkin kita ngomong bertumbuh, semakin lama semakin berusaha baik. dst … Lha dalam proses itulah masalah bisa muncul ketika orang itu mulai membandingkan dirinya dengan orang lain…

    Tetanggaku maling, aku gak pernah maling.
    Tetanggaku rampok, aku bukan perampok
    Sebelah itu sesat lha aku selalu beriman, beribadah, dsb secara khusus, dekat dengan Tuhan dsb

    Perlahan-lahan kisah ini berlanjut berlanjut dan berlanjut, sampai ada manusia yang merasa berhak merasa diri benar dan menyerang orang lain. Atau kalopun serangannya bukan fisik bisa saja non fisik, misalnya berupa hinaan, cemoohan, dsb.

    Lha terjadilah siklus bola salju kekonyolan. Manusia yang sok baik ini merasa boleh menghajar oang lain atau setidaknya boleh menghina orang lain karena merasa maksudnya baik.

    Lha orang lain justru silau dengan “kebaikan” dengan “sinar” yang tidak menunjukkan jalan tetapi sinar itu sedemikian obsesifnya sehingga malah membutakan mata.

    Akibatnya apa secara refleks, respons normal manusia yang akan mempertahankan dirinya… Mereka pakai kacamata hitam makin tebel biar matanya gak rusak….

    Di dunia ini , ada dua macam kesombongan :

    Kesombongan Pertama adalah Mengabaikan Tuhan, kamu pernah dengar Titanik yang dengan jumawa mengatakan tidak bisa tenggelam toh langsung tenggelam dalam pelayaran pertamanya.

    Tetapi kesombongan yang lain juga gak kalah seriusnya yaitu Merasa diri sebagai Tuhan. Sejarah juga membuktikan manusia2 semacam itu akan diingatkan misalnya ketika pendeta senior jaman Wright bersaudara dengan jumawa mengatakan : Jika Tuhan ingin manusia dapat terbang tentu Tuhan memberi manusia sayap.

    Nyatanya toh manusia memang bisa terang, pesawat terbang yang tadinya dianggap mustahil benar2 tercipta. Sekarang ini ilmuwan skeptis bisa saja balik meringis menjawab manusia2 sok tahu itu : Ya mungkin saja Tuhan ingin manusia dapat terbang karena itulah Tuhan memberi manusia otak…

    Belum lagi yang lain semisal Konsep Heliosentris yang ditentang oleh agamawan waktu itu dengan dalih agama tentu saja.

    Ini membuktikan apa ? Mengabaikan Tuhan dan Sok Tahu menganggap diri sendiri Tuhan sama-sama bahayanya…

    Apakah kalimat ini cuma retorika, cuma ngeles ala lovepassword ???? Mungkin saja, mana bisa kunilai diriku sendiri. Tetapi saya sendiri berharap mudah-mudahan saya pribadi juga terhindar dari dua jenis kesombongan2 model gitu. Saya berusaha meskipun saya tidak yakin , karena yah seperti katamu kadang esmosi bisa muncul, kadang ego bisa muncul…

    Semoga kita semua tidak cukup sombong dengan membuang Tuhan, pada sisi lain semoga kita juga tidak terjebak dengan kesombongan yang lain merasa diri seolah Tuhan sendiri…

    SALAM

    • @lovepassword

      intinya, kalau Anda percaya Terang telah membuat Anda terang, tentu perkara seseorang silau dengan itu, itu pertanda seseorang itu bukan terang, dan kebinasaan sudah dekat….

      sekali lagi, kalau Anda saya bilang konyol dengan mengatakan di awal bahwa si nilai 10 skala seratus protes karena ada nilai 80 skala 100, sebab memang logika retorika Anda selalu berkutat di situ. Itulah inti kekonyolan Anda yang saya sebut dengan segala bahasa simbol kacamata itu… ok bung!… nah kecuali memang Anda mengimani hal seperti itu ya sudah itu terserah Anda mau menerima nasehat apa tidak… dan tidak ada obsesi menyebut diri saya sebagai TUHAN, Anda bisa berdalih dengan apapun, tetapi selama logika penyelesaian Anda di situ, tetapi konyol bagi saya….

      dan logika seperti itu cengeng dan mengasihani diri sendiri…

      Ada batasan yang sama sekali tidak Anda sentuh dari argumen saya di atas,…
      memang tepat bahwa perbutan baik itu harus disempurnakan dan dilakukan senantiasa, tetapi kita berbuatan baik bukan karena kita ingin dilihat baik, tetapi karena KEBAIKAN ADA di sini, di dalam diri kita, nah karena kebaikan sudah di sini, maka tugas selanjutnya bukanlagi mengejar menjadi BAIK atau KEBAIKAN, tetapi mengalahkan kemauan daging, …. ITULAH terang itu…namanya terang yang memancarkan sinar, sinarnya siapa? yaitu SINAR DIA yang mau tinggal di sini di dalam hati yaitu ROH …kalau Anda silau dengan terang, itu menandakan Anda di luar terang,…sangat jauh memang logika Alkitab dengan logika theologia apapun di luar Alkitab…

    • tentu perkara seseorang silau dengan itu, itu pertanda seseorang itu bukan terang, dan kebinasaan sudah dekat….

      ===> Terang itu ada untuk membantu seseorang melihat jalan. Kalo kamu jalan di tebing kanan kiri jurang, lha ketika ada cahaya di situ , semoga kamu tidak nyemplung jurang …Itu gunanya terang.

      Tetapi terang sebagaimana gelap ya punya penyakitnya masing2, kalo terlalu obsesif . Kamu sendiri kan ya sadar kalo lebay bawang bombay merasa sok terang juga gak bagus…

      Jika terang itu menunjukkan jalan sehingga manusia gak nyemplung jurang itulah Terang yang dibutuhkan. Terang yang dalam bahasamu memiliki hikmat kebijaksanaan dsb

      Tetapi jika terang itu sedemikian obsesif menyilaukan sehingga malah membutakan mata, sehingga mengganggu orang membedakan jalan. Tidak ada bedanya terang dan gelap. Toh jika mata menjadi buta karena silau juga orang tidak bisa melihat jalan. Toh karena silau orang bisa nyemplung jurang juga.

      Dan itu kejadian faktual yang bisa anda lihat. Betapa banyak terang, orang2 yang merasa terang, merasa baik bermaksud baik,dsb tetapi endingnya diterima orang lain dengan kacamata hitam.

      Jangan selalu menyalahkan pihak2 yang memakai kacamata hitam. Pihak yang apriori dsb . Bisa saja jika kacamata itu dilepas endingnya mata bisa rusak karena ditembaki sinar obsesif manusia yang merasa baik, terang dan sebagainya.

      Jika yang kamu maksud dengan Hikmat itu tidak berlebihan , yah itulah masalahnya…

      ================================
      karena memang Kitab Suci berkata demikian… TERANG cukup dijelaskan dengan TERANG, tidak ada Terang +1 atau Terang -1, yang ada TERANG atau GELAP,….

      ===> Saya kira itu bukan masalah Kitab Suci, … Yah itu karena kamu hobi saja melihat dengan pola pikir gitu.

      Misalnya ada orang bawa pelita, pelita itu ya untuk menunjukkan jalan bagi orang itu .
      Ada kisah lilin menerangi , ya lilin itu untuk menunjukkan jalan, biar nggak nabrak-nabrak bukan untuk membakar rumah.

      Terang cukup dijelaskan dengan Terang ===> Sesuai katamu sendiri pakailah hikmat , yang saya katakan kan fakta semua yang bisa kamu lihat. Yang namanya terang memang ada intensitasnya…Anak SD saja tahulah kalo cahaya itu beda-beda, mulai dari yang rada terang sampai yang terang benderang menyilaukan.

      Lha terang yang baik adalah terang yang intensitasnya sesuai kebutuhan. Bukan misalnya saja memindahkan matahari di plafon rumahmu.

      Jika Tidak ada terang ya jalan memang nggak terlihat, tetapi kalo terang yang diberikan menyilaukan mata sampai buta ya sama saja jalan nggak terlihat juga.

      Kalo menurutku gicu sih…

      SALAM Par…

      See You

      • @lovepassword

        tentu perkara seseorang silau dengan itu, itu pertanda seseorang itu bukan terang, dan kebinasaan sudah dekat….

        ===> Terang itu ada untuk membantu seseorang melihat jalan. Kalo kamu jalan di tebing kanan kiri jurang, lha ketika ada cahaya di situ , semoga kamu tidak nyemplung jurang …Itu gunanya terang.

        Tetapi terang sebagaimana gelap ya punya penyakitnya masing2, kalo terlalu obsesif . Kamu sendiri kan ya sadar kalo lebay bawang bombay merasa sok terang juga gak bagus…

        Jika terang itu menunjukkan jalan sehingga manusia gak nyemplung jurang itulah Terang yang dibutuhkan. Terang yang dalam bahasamu memiliki hikmat kebijaksanaan dsb

        Tetapi jika terang itu sedemikian obsesif menyilaukan sehingga malah membutakan mata, sehingga mengganggu orang membedakan jalan. Tidak ada bedanya terang dan gelap. Toh jika mata menjadi buta karena silau juga orang tidak bisa melihat jalan. Toh karena silau orang bisa nyemplung jurang juga.

        Dan itu kejadian faktual yang bisa anda lihat. Betapa banyak terang, orang2 yang merasa terang, merasa baik bermaksud baik,dsb tetapi endingnya diterima orang lain dengan kacamata hitam.

        Jangan selalu menyalahkan pihak2 yang memakai kacamata hitam. Pihak yang apriori dsb . Bisa saja jika kacamata itu dilepas endingnya mata bisa rusak karena ditembaki sinar obsesif manusia yang merasa baik, terang dan sebagainya.

        Jika yang kamu maksud dengan Hikmat itu tidak berlebihan , yah itulah masalahnya…

        ================================
        karena memang Kitab Suci berkata demikian… TERANG cukup dijelaskan dengan TERANG, tidak ada Terang +1 atau Terang -1, yang ada TERANG atau GELAP,….

        ===> Saya kira itu bukan masalah Kitab Suci, … Yah itu karena kamu hobi saja melihat dengan pola pikir gitu.

        Misalnya ada orang bawa pelita, pelita itu ya untuk menunjukkan jalan bagi orang itu .
        Ada kisah lilin menerangi , ya lilin itu untuk menunjukkan jalan, biar nggak nabrak-nabrak bukan untuk membakar rumah.

        Terang cukup dijelaskan dengan Terang ===> Sesuai katamu sendiri pakailah hikmat , yang saya katakan kan fakta semua yang bisa kamu lihat. Yang namanya terang memang ada intensitasnya…Anak SD saja tahulah kalo cahaya itu beda-beda, mulai dari yang rada terang sampai yang terang benderang menyilaukan.

        Lha terang yang baik adalah terang yang intensitasnya sesuai kebutuhan. Bukan misalnya saja memindahkan matahari di plafon rumahmu.

        Jika Tidak ada terang ya jalan memang nggak terlihat, tetapi kalo terang yang diberikan menyilaukan mata sampai buta ya sama saja jalan nggak terlihat juga.

        Kalo menurutku gicu sih…

        SALAM Par…

        See You

        saya kira jawaannya bisa sama, dari argument Anda di atas,..

        intinya tetap sama, kalau ada orang merasa lebih terang, berarti memang ia tida tahu apa itu terang….

        itu identik dengan tidak ada TERANG+1 atau TERANG – 1, cukup TERANG, selesai,… kenapa Kitab Suci berkata demiian, dan bukan hobi saya karena memang saya percaya bahwa ALLAH adalah ESA, tidak ada ALLAH+1 atau ALLAH-1, dan ALLAH adalah TERANG…
        Konsep ALLAH Yang ESA menjadi tidak jelas dan semakin tidak jelas kalau logika Anda masih dipertahankan, sekali lagi itu sesuatu yang memalukan dari argument Anda,…. dan sangat tidak pantas diucapkan oleh Anda, kecuali, saya katakan kecuali itu memang iman Anda,… terserah Anda, dan terserah Anda juga mau menerima nasehat apa tidak…

        nah masalah di argument Anda adalah…. mengatakan seseorang terang, tetapi selalu ngotot mengatakan bahwa ada orang yang mengaku-ngaku terang dan terobsesi dengan terang atau terlalu terang…. sekali lagi saya kembali ke awal, berarti orang tersebut, yang Anda sebut itu, benar-benar memang belum tahu apa itu terang….sebab banyak yang mengaku terang tetapi tidak terlihat dari fakta yang terjadi, ia tidak bersinar, ia tidak membuat silau kegelapan….

      • Kamu ngambek ya Par ? 😦

        Tapi emang faktanya emang gicu…Anak SD pun tahu yang namanya terang itu ada macam2 intensitasnya. Lha terang yang baik adalah terang yang intensitasnya sesuai dengan kebutuhan. Kalo ada sinar sebesar matahari di plafon rumahmu, itu daripada menunjukkan jalan malah membuat orang buta semua jadi gak tahu jalan.

        Isi Kitab SUci apapun itu, dari dulu memang bisa ditafsirkan atau diaku-aku sesuai pendapat manusianya… Kan aku sudah bilang TV kamu hitam putih. Lha kalopun TV kamu hitam putih itu masih lain urusannya dengan Kitab Suci isinya sama dengan TV kamu kan?

        Lha apa Kitab Suci nyuruh jadi terang untuk membutakan mata orang ? Kan ya tidak…

        Ketika kamu ngasih garam ke makanan itu apa ada yang nyuruh garam segentong dimasukkan ke panci semua ???

        Lha manusia yang hobinya mikir serba pokoknya ya endingnya bisa jadi gitu.

        Pokoknya terang, semakin terang semakin baik, pokoknya asin semakin asin semakin baik.

        Pokoknya TERANG titik. Tidak ada TERANG plus satu atau min satu. Yang bilang TERANG plus satu ya siapa ? Yang kuomongkan TERANG itu ada intensitasnya.

        Kitab Suci ngomong soal TERANG, nggak pernah ngomong TERANG ada berapa ??? Ya kalo nggak tahu TERANG ada berapa mengapa tidak kau cari saja sample2 sumber Terang baik dalam Kitab Suci atau dalam kenyataan yang bisa kamu lihat di sekelilingmu. Misalnya : Ada lilin , ada pelita lampu minyak tanah, ada bohlam, ada lampu neon, lampu halogen, matahari.

        Lampu sendiri nyalanya juga beda-beda tingkat terangnya. Lha arsitek yang pinter pasti tahu lampu x cocok dipasang dimana, dan lampu y cocok dipasang dimana. Nggak cuma dengan gagah berani bilang ASAL Terang. Atau pokoknya TERANG…

        ================================
        nah masalah di argument Anda adalah…. mengatakan seseorang terang, tetapi selalu ngotot mengatakan bahwa ada orang yang mengaku-ngaku terang dan terobsesi dengan terang atau terlalu terang…. sekali lagi saya kembali ke awal, berarti orang tersebut, yang Anda sebut itu, benar-benar memang belum tahu apa itu terang….sebab banyak yang mengaku terang tetapi tidak terlihat dari fakta yang terjadi, ia tidak bersinar, ia tidak membuat silau kegelapan….

        ===> Masalahnya bukan mengaku terang atau mengaku gelap. Tetapi kalo mau memberikan terang sesuaikanlah dengan ruangannya. Sesuaikanlah dengan penerima terang itu butuh seberapa terang. Lha kalo matahari kamu pindah ke rumahmu ya itu bukannya membantu malah nambahin penyakit… Itulah yang dinamakan bijaksana. Kayaknya teorinya gicu sih…. 😉

        ================================
        karena memang Kitab Suci berkata demikian… TERANG cukup dijelaskan dengan TERANG, tidak ada Terang +1 atau Terang -1, yang ada TERANG atau GELAP,….
        ===> Kayaknya kamu kurang rajin baca Alkitab itu Par ? 😉

        Emangnya ada berapa sumber2 terang yang ditulis dalam Kitab Suci.

        Misalnya Tuhan memberikan matahari yang sama untuk orang baik dan orang jahat . Matahari sumber terang . Ada satu.

        Ada lagi misalnya ada kisah pembawa pelita . Pelita sumber terang. Dua…

        Dsb Dsb

        Lha semua terang yang diberikan itu baru klop jika intensitasnya cocok sama kebutuhan.
        Saya gak ngomong TERANG plus satu. Yang saya katakan adalah Terang ada intensitasnya masing2 , lha manusia yang sok terang atau pengin jadi terang ya sadarlah bahwa banyak orang yang malah jadi silau jika terang yang diberikan tidak proprsional plus lebay bawang bombay.

        Jika itu terjadi kan ya berarti terang tsb gak ada gunanya karena bukannya menunjukkan jalan malah membuat orang jatuh ke jurang…
        Jadi yah…. gicu deh….Hi Hi Hi

        dan logika seperti itu cengeng dan mengasihani diri sendiri…

        ===> Saya rasa gak mudeng maksud omonganmu. Tapi mungkin penyebabnya gini . Kamu lagi membayangkan dirimu anak terang lha aku ini kegelapan yang ngeyelan. Diberitahu ngeyel terus gicu kan ? Persis seperti bola salju yang aku kisahkan itu. Ada manusia yang merasa diri baik berusaha membuat baik orang lain, lha dia heran dan lama2 jengkel mengapa orang lain diajak baik kok gak mau. Lama2 kalo perasaan itu gak terkendali bisa jadi anarki itu.

        Masalahnya itu nggak sesederhana dibatasi sekedar kau atau aku Par. Aku itu tidak sedang membela diriku sendiri.. 😀 kau pikir gicu ya ???
        Whaduh …

        Aku cuma mengingatkan pada semua orang bahwa ada fakta yang bisa kita lihat seperti itu. Ada masalah dalam agama seperti itu. Lha masalah gituan itu sifatnya umum, bisa kamu lihat dimana-mana…

        Paijo misalnya berusaha baik, taat beribadah dsb. Gak ada masalah dengan itu semua. Tetapi kemudian yang jadi masalah gimana ? Jika mulai timbul sedikit kesombongan mulai membandingkan ibadahnya dengan ibadah orang yang menurutnya jelek dsb. Lha dia mulai merendahkan orang lain. Bisa jadi gitu.

        Atau karena Paijo itu nggak terlalu sombong, dia berusaha mengajak orang lain supaya jadi baik menurut standardnya dia. Lha karena caranya ngajak mungkin berlebihan atau analoginya : MENYILAUKAN, maka sangat mungkin yang diajak malah membuat benteng kacamata hitam.
        Paijo merasa heran , orang kok diajak jadi baik gak mau. Terjadilah bola salju kekonyolan yang makin membesar.

        Lama2 Paijo mungkin putus asa atau malahan bisa jengkel marah karena melihat orang diajak baik sesuai pikiran Paijo kok nggak mau -mau…
        Paijo makin maksa. Lha yang dipaksa makin takut malah makin Apriori mungkin. Itulah makanya Bagi manusia2 yang emang kepengin jadi terang atau istilahnya apaan kek, kalo mau jadi terang ya jangan jadi terang yang menyilaukan. 😦

        Ini kisah sosial yang sebenarnya bisa kamu lihat lho. Jadi harapanku sih kamu tidak menutup mata bahwa semuanya memang ada dan terjadi.

        Sebab Hikmat Allah jauh melebihi segala pemikiran manusia, sebab kita percaya DIA kita sebut Maha Kuasa ===> kayaknya gak ada yang gak setuju Par…

        SALAM

      • @lovepassword

        Kamu ngambek ya Par ? 😦
        maksudnya?

        Tapi emang faktanya emang gicu…Anak SD pun tahu yang namanya terang itu ada macam2 intensitasnya. Lha terang yang baik adalah terang yang intensitasnya sesuai dengan kebutuhan. Kalo ada sinar sebesar matahari di plafon rumahmu, itu daripada menunjukkan jalan malah membuat orang buta semua jadi gak tahu jalan.
        Dan Tuhan berkata, “Cukuplah anugerahKu kepadamu…”, artinya masing2 orang berbeda anugerahnya…ada orang yang “terang”nya mengajar, ada juga yang lain,….

        Isi Kitab SUci apapun itu, dari dulu memang bisa ditafsirkan atau diaku-aku sesuai pendapat manusianya… Kan aku sudah bilang TV kamu hitam putih. Lha kalopun TV kamu hitam putih itu masih lain urusannya dengan Kitab Suci isinya sama dengan TV kamu kan?
        TUHAN saja bisa dicari cara untuk membela manusianya padahal TUHAN tidak mau seperti itu, apalagi kitab suci, lihat saja contohnya si Fanya di atas, dia mengambil ayat sekutip, dengan maksud menyimpan maksud dia di dalamnya, sehingga dapat menyalahkan Paulus, kan gitu,.. ALKITAB terbuka buat siapa saja, tetapi Kitab Suci itu berkata juga,”berbahagialah yang menyimpan Firman di dalam hatinya, merenungkan dan melakukannya…”, nah Anda gimana selama ini?bukankah Alkitab terbuka buat Anda? apa yang Anda lakukan untuk itu? Prinsip/pondasi hanya dua, HITAM atau Putih, Terang atau Gelap, YA atau TIDAK, apa selebihnya berasal dari si jahat, tepu-tepu…TUHAN atau dunia/iblis/setan-setan… hanya itu, seperti kata saya di atas, ada abu2, tetapi itu bagi orang beriman harus diletakkn pada wacana “belajar” untuk sempurna…tidak ada “iblis” demi TUHAN, atau “TUHAN” demi iblis, yang di dalam bahasa sehari-hari disebut, tidak apalah berbohonf demi kebaikan, itu tepu tepu… karena ALLAH tidak akan berbohong…

        Lha apa Kitab Suci nyuruh jadi terang untuk membutakan mata orang ? Kan ya tidak…
        masih jauh api dari panggang….baca artikel di sebelah… ketakutan Anda dan retorika Anda telah membuat Anda semakin kelihatan aneh bagi saya…

        Ketika kamu ngasih garam ke makanan itu apa ada yang nyuruh garam segentong dimasukkan ke panci semua ???
        apa perlu saya menjawab ini?… argument saya di atas sudah saya sebut……ADA HIKMAT…dan mengenai “garam”, coba Anda cariargument saya di artikel lain, sudah pernah kita bahas…Anda masih terlalu sering sambil lalu kawan…

        Lha manusia yang hobinya mikir serba pokoknya ya endingnya bisa jadi gitu.

        Pokoknya terang, semakin terang semakin baik, pokoknya asin semakin asin semakin baik.

        Pokoknya TERANG titik. Tidak ada TERANG plus satu atau min satu. Yang bilang TERANG plus satu ya siapa ? Yang kuomongkan TERANG itu ada intensitasnya.
        lihat argument di atas….. TUHAN tidak bodoh memberi anugerah, dan TUHAN Hanya Satu…jangan lari dari masalah kawan, karena argument Anda berkata, bahwa ada orang yang terobsesi sangat terang, itu mengartikan bahwa ada terangnya terang….artnya Anda belum paham konsep TUHAN YANG MAHA ESA…

        Kitab Suci ngomong soal TERANG, nggak pernah ngomong TERANG ada berapa ??? Ya kalo nggak tahu TERANG ada berapa mengapa tidak kau cari saja sample2 sumber Terang baik dalam Kitab Suci atau dalam kenyataan yang bisa kamu lihat di sekelilingmu. Misalnya : Ada lilin , ada pelita lampu minyak tanah, ada bohlam, ada lampu neon, lampu halogen, matahari.

        Lampu sendiri nyalanya juga beda-beda tingkat terangnya. Lha arsitek yang pinter pasti tahu lampu x cocok dipasang dimana, dan lampu y cocok dipasang dimana. Nggak cuma dengan gagah berani bilang ASAL Terang. Atau pokoknya TERANG…
        saya nggta tau apa lagi yang Anda ucapkan ini…Ketakutanmu untuk mengakui bahwa TERANG HANYA SATU, dan ALLAH adalah TERANG apa lovepassword?

        ================================
        nah masalah di argument Anda adalah…. mengatakan seseorang terang, tetapi selalu ngotot mengatakan bahwa ada orang yang mengaku-ngaku terang dan terobsesi dengan terang atau terlalu terang…. sekali lagi saya kembali ke awal, berarti orang tersebut, yang Anda sebut itu, benar-benar memang belum tahu apa itu terang….sebab banyak yang mengaku terang tetapi tidak terlihat dari fakta yang terjadi, ia tidak bersinar, ia tidak membuat silau kegelapan….

        ===> Masalahnya bukan mengaku terang atau mengaku gelap. Tetapi kalo mau memberikan terang sesuaikanlah dengan ruangannya. Sesuaikanlah dengan penerima terang itu butuh seberapa terang. Lha kalo matahari kamu pindah ke rumahmu ya itu bukannya membantu malah nambahin penyakit… Itulah yang dinamakan bijaksana. Kayaknya teorinya gicu sih…. 😉
        Anda telah menuduh ALLAH bodoh karena sumber terang adalah ALLAH, jadi maksud Anda apa sebenarnya? saya nga tau apakah Anda sudah paham konsep di artikel ini atau hanya sekedar beretorika dengan saya?… sekali lagi saya jelaskan, TERANG hanya SATU, TERANG inilah yang mau tinggal di dalam orang percaya, dan ALLAH adalah TERANG, jadi karena ADA TERANG, maka kita harus mengalahkan keinginan daging kita, karena keinginan daging kita adalah KEGELAPAN…jadi oleh karena TERANG ada di dalam hati, maka kita menjadi terang, dan terang kita kita bukanlah TERANG, karena kita diberukan anugerah-anugerah khusus, unik, dan disesuaikan dengan Rangangan TUHAN,.. nah kalau oleh karena terang itu Anda silau, dan merasa perlu mengasihani sendiri, itu pertanda ada masalah dengan Anda, ada iblis, setan2, dunia, sedang bertengger akut di hati Anda,.. kenapa?, karena terang itu salah satu buahnya adalah kelemah lembutan, damai sejahtera, nah kalau Anda risih dengan lemah lembut atau damai sejahtera, berarti Anda kan aneh?,… bisa ditangkap?

        ================================
        karena memang Kitab Suci berkata demikian… TERANG cukup dijelaskan dengan TERANG, tidak ada Terang +1 atau Terang -1, yang ada TERANG atau GELAP,….
        ===> Kayaknya kamu kurang rajin baca Alkitab itu Par ? 😉

        Emangnya ada berapa sumber2 terang yang ditulis dalam Kitab Suci.

        Misalnya Tuhan memberikan matahari yang sama untuk orang baik dan orang jahat . Matahari sumber terang . Ada satu.

        Ada lagi misalnya ada kisah pembawa pelita . Pelita sumber terang. Dua…

        Dsb Dsb

        Lha semua terang yang diberikan itu baru klop jika intensitasnya cocok sama kebutuhan.
        Saya gak ngomong TERANG plus satu. Yang saya katakan adalah Terang ada intensitasnya masing2 , lha manusia yang sok terang atau pengin jadi terang ya sadarlah bahwa banyak orang yang malah jadi silau jika terang yang diberikan tidak proprsional plus lebay bawang bombay.

        Jika itu terjadi kan ya berarti terang tsb gak ada gunanya karena bukannya menunjukkan jalan malah membuat orang jatuh ke jurang…
        Jadi yah…. gicu deh….Hi Hi Hi
        hahahahaha, asli saya ketawa dengan argument Anda ini, dan Anda masih melupakan arti huruf besar di setiap argument saya,… Anda harus membedakan antara TERANG/Terang dengan terang…ALLAH adalah TERANG/terang,…
        tetapi memang Anda tidak akan pernah/semoga tidak memahami, karena kalau saya perhatikan Anda selalu berargument duniawi tidak rohaniah, ranah2nya saja yang berbau relijius, tetapi masih jauh, yang saya sebut, semoga bukan iman Anda, dan semoga hanya retorika diskusi sama saya…

        dan logika seperti itu cengeng dan mengasihani diri sendiri…

        ===> Saya rasa gak mudeng maksud omonganmu. Tapi mungkin penyebabnya gini . Kamu lagi membayangkan dirimu anak terang lha aku ini kegelapan yang ngeyelan. Diberitahu ngeyel terus gicu kan ? Persis seperti bola salju yang aku kisahkan itu. Ada manusia yang merasa diri baik berusaha membuat baik orang lain, lha dia heran dan lama2 jengkel mengapa orang lain diajak baik kok gak mau. Lama2 kalo perasaan itu gak terkendali bisa jadi anarki itu.

        Masalahnya itu nggak sesederhana dibatasi sekedar kau atau aku Par. Aku itu tidak sedang membela diriku sendiri.. 😀 kau pikir gicu ya ???
        Whaduh …
        wadduh juga deh,….. saya sedang menjelaskan kepada Anda konse, pondasi Kekristenan,… Anda ngeyel saya senang, sebab saya tahu kegundahan hati Anda atas Kristus, dan semoga diskusi kita tidak sekedar diskusi, tetapi dapat Anda renungkan, saya renungkan, sehingga kalau TUHAN berkenan dapat menjamah hati Anda, kan gitu….Nah di setiap argument Anda semuanya hanya hikmat2 dunia, memandang cara dunia,…seperti kata terang itu ada berapa, intensitas gimana yang cocok bagi manusia hehehe aneh bin ajaib,… padahal saya sebut dari awal, TERANG adalahSATU, dan TERANG ini yang membuat kita terang, dan TERANG tidak bodoh seperti dugaan Anda, kenapa demikian? karena Anda selalu berkata bahwa terang itu dicari, saya katakan dari awal, TERANG tidak dapat dicari, tetapi TERANG membuat kita menjadi terang…
        Gini lovepassword, kalau ada orang dengan nilai 10 skala 100 menyalahkan orang yang nilainya 80 skala 100, maka orang itu mengasihani dirinya sendiri, coba cek argument awal Anda….semuanya berbau demikian, karenga orang terlalu terang, maka saya jadi silau d.l.l,… itu sama… bisa kah Anda memilahnya?

        Aku cuma mengingatkan pada semua orang bahwa ada fakta yang bisa kita lihat seperti itu. Ada masalah dalam agama seperti itu. Lha masalah gituan itu sifatnya umum, bisa kamu lihat dimana-mana…

        Paijo misalnya berusaha baik, taat beribadah dsb. Gak ada masalah dengan itu semua. Tetapi kemudian yang jadi masalah gimana ? Jika mulai timbul sedikit kesombongan mulai membandingkan ibadahnya dengan ibadah orang yang menurutnya jelek dsb. Lha dia mulai merendahkan orang lain. Bisa jadi gitu.

        Atau karena Paijo itu nggak terlalu sombong, dia berusaha mengajak orang lain supaya jadi baik menurut standardnya dia. Lha karena caranya ngajak mungkin berlebihan atau analoginya : MENYILAUKAN, maka sangat mungkin yang diajak malah membuat benteng kacamata hitam.
        Paijo merasa heran , orang kok diajak jadi baik gak mau. Terjadilah bola salju kekonyolan yang makin membesar.

        Lama2 Paijo mungkin putus asa atau malahan bisa jengkel marah karena melihat orang diajak baik sesuai pikiran Paijo kok nggak mau -mau…
        Paijo makin maksa. Lha yang dipaksa makin takut malah makin Apriori mungkin. Itulah makanya Bagi manusia2 yang emang kepengin jadi terang atau istilahnya apaan kek, kalo mau jadi terang ya jangan jadi terang yang menyilaukan. 😦

        Ini kisah sosial yang sebenarnya bisa kamu lihat lho. Jadi harapanku sih kamu tidak menutup mata bahwa semuanya memang ada dan terjadi.

        Sebab Hikmat Allah jauh melebihi segala pemikiran manusia, sebab kita percaya DIA kita sebut Maha Kuasa ===> kayaknya gak ada yang gak setuju Par…

        SALAM
        Kan sudah diucapkan oleh Kitab Suci melalui artikel di atas, (Yahobus 1:26 [ITB])
        Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
        … Paijo yang Anda sebut di atas berarti menipu dirinya sendiri, ibadahnya dia itu sia-sia,….
        satu nasehat kepada Anda, kalau Anda mau membandingkan sesuatu jangan ambil sampel dari yang error, itu membuat Anda pesimis dan semakin lari dari TUHAN.. contoh, Kristen adalah pengikut Kristus,… dan Kristus adalah TUHAN,… itu konsep utama yang saya ucapkan, lalu Anda berkata, tetapi Kriten kan ada juga yang tidak seperti KRISTUS, ada yang membunuh ada yang mencuri,…lha saya katakan berarti dia belum Kristen, … karena KRISTUS tidak pernah melakukan seperti itu…artinya si dia itu masih memenangkan dagingnya ketimbang ROH TUHAN Yang diberikan ALLAH di dalam hatinya…. semisalpun ada yang gagal, kenapa harus yang gagal Anda ambil sebaga sampel?…orang kalau belajarkan ngga bagus kita kata2i,..nah kalau kira2 begini, semua argument di atas bisa ngga Anda sarikan?

      • lihat saja contohnya si Fanya di atas, dia mengambil ayat sekutip, dengan maksud menyimpan maksud dia di dalamnya, sehingga dapat menyalahkan Paulus, kan gitu,..

        Horeee….. namaku disebut dlm komen Om Parhobass….!!

        fanya sih sebetulnya cuma curious pd komen Mbak Triani ttg “dusta utk kebaikan” tsb, apakah beliau maksudkan “OK” atau justru tergolong tepu menepu spt dikatakan Om Parhobass. Kebetulan fanya menjumpai dlm Alkitab ayat yg menyinggung masalah “dusta demi kebaikan” (Roma 3:7) dan sabda Paulus yg menurut fanya kontradiktif dgn firman Yesus….
        fanya jadi bertanya-tanya juga, apakah komen Mbak Triani tsb dimaksudkan sbg penjelasan logis atas (Gal, 2:16-17) dan (Matius 5:17-19 ) sehubungan dgn Petrus 3:15-16 tentang nubuat-nubuat yang ditulis oleh rasul Paulus dalam kitab-kitab Perjanjian Baru demikian:

        ” …. seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, etc ……………”

        btw, fanya ga nyangka loh Om Parhobass biasa “membaca” pikiran orang lain …

        salam

      • @fanya

        hehehhe…. Anda teriak Horee karena senang apa gimana?
        semoga karena Anda senang, karena saya turut berbahagia karena itu….

        kutipan Anda mengenai “paulus berdusta demi kebaikan itu”, tidak stop dan klop di situ…

        Paulus sedang dituduh sebagai seorang penipu atau pendusta, si peleter….oleh musuh2nya..
        nah saking banyaknya tipu2 dan trik2 musuhnya yang ternyata sebagian berhasil menyeret orang Kristen awal membuat Paulus heran,…. karena Paulus sedang dipenjara karena Kristus, karena imannya, dan ia telah menjadi terang, maka ia mengucapkannya demikian itu, kalau dibahasa sederhanakan; “kalau saya pendusta bagaiman mungkin saya memberitakan Injil, atau semisal saya kamu sebut pendusta apakah dari kehidupanku kamu tidak lihat bahwa saya tidak berdusta, apakah pendusta ada yang perduli dengan orang lain?, adakah pendusta mau menderita demi orang lain?”

        Kutipan Anda bisa juga menjawab tentang TERANG atau GELAP di atas,… Paulus yang tadinya gelap telah menjadi terang karena menerima TERANG, tetapi dia tetap setia dan kokoh di dalam terang itu, meskipun ia dituduh sebagai sumber gelap, dengan bahasa kutipan Anda, “kalau saya kamu sebut gelap, kenapa saya berrsinar?, emang ada kegelapan yang bersinar?”…

        dan itu juga menjadi pelajaran buat kita sekarang, bahwa ada yang dituduh “terlalu terang” sehingga menyilaukan mata si gelap, ya itu terserah dia, … kalau itu sebagai produk mengasihani diri sendiri, oh betapa cengengnya bukan?
        kalau itu diucapkan karena iri, ohh betapa tdak tahu brsyukurnya, ya toh… karena di dalam perang iman, tidak mungkin semua jadi jenderal toh? selalu ada prajurit, panglima, d.l.l, karena TUHAN menganugerahkan pemberian-pemberian dengan hikmat yang tidak terukuroleh manusia…

        nah dengan bhs demikian bskah dipahami?
        saya kira sih bisa.

      • @Om lovepassword

        Dari Om:
        Tapi emang faktanya emang gicu…Anak SD pun tahu yang namanya terang itu ada macam2 intensitasnya. Lha terang yang baik adalah terang yang intensitasnya sesuai dengan kebutuhan. Kalo ada sinar sebesar matahari di plafon rumahmu, itu daripada menunjukkan jalan malah membuat orang buta semua jadi gak tahu jalan.

        Om yang baik, benar yang Om bilang tentang pelajaran akan terang dalam ilmu pengetahuan seperti itu. Terang (dalam hal ini Om umpamakan dengan bohlam, lampu neon, lampu pijar atau apalah) pemasangannya memang sesuai intensitasnya, sesuai kebutuhan ruangan atau tempat yang mau dipasangi bohlam yang Om maksud sebelumnya.
        Tapi TERANG yang dimaksud dalam Alkitab bukan seperti terang yang dihasilkan bohlam yang Om bilang. Bohlam misalnya, bisa menyala kalau ada aliran listrik. Trus klu ada pemadaman bergilir, bohlamnya ga menyala, ga menghasilkan terang. Apakah TERANG begitu yang dimaksud dalam Alkitab? Sama sekali tidak. TERANG dalam Alkitab harus bercahaya dalam setiap kondisi.

        Lalu, “..terang itu jangan sampai menyilaukan orang lain..” Begitu Om pernah bilang. Om yang baik, orang yang terlalu lama dalam ruangan gelap, tiba-tiba melihat terang, wajar matanya silau. Karena dia tak terbiasa dengan terang. Lampu senter yang 5 watt juga bisa silau buat “dia” yang tinggal lama dalam keGELAPan. Nah, apakah TERANG itu yang salah dan terlalu besar “intensitasnya” untuk situasi seperti itu?

        Salam hangat Om.

        ps: jangan lupa kasih coklat silverqueen buat Tulang RAS 🙂

  10. Terang-gelap adalah dua hal berbeda yg saling melengkapi dan meniadakan. Tanpa keduanya, hidup ini terasa tidak menarik dan berharga seperti kehidupan di sorga maupun di neraka. ^_^

    • @Dawkintz,…

      segala sesuatu memang bisa benar, tetapi tidak semuanya berguna….
      segala sesuatu bisa berguna, tetapi tidak semua dapat membangun…

      Sebab Hikmat Allah jauh melebihi segala pemikiran manusia, sebab kita percaya DIA kita sebut Maha Kuasa

      salam

  11. @ Om Parhobass,

    Terimakasih atas penjelasan Om yg menyatakan: …. maka ia mengucapkannya demikian itu, kalau dibahasa sederhanakan; “kalau saya pendusta bagaiman mungkin saya memberitakan Injil, atau semisal saya kamu sebut pendusta apakah dari kehidupanku kamu tidak lihat bahwa saya tidak berdusta, apakah pendusta ada yang perduli dengan orang lain?, adakah pendusta mau menderita demi orang lain?”

    Mungkin saja Om menafsirkannya kutipan Roma 3:7 tsb seperti itu….. tapi menurut hemat fanya kalimat dlm Alkitab sama sekali tidak sinkron dgn penjelasan yg Om sampaikan……..

    Mengenai Allah adalah Terang dgn asumsi bahwa terang datang dari (diciptakan oleh) Allah, …. bukankan berdasarkan Yesaya 45:5-7 sebagaimana halnya Terang, Gelap juga datang dari (diciptakan oleh) Allah? Sbb :

    Yesaya 45:5-7 —> 5 Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, 6 supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, 7 yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.

    Selain hal yg tersurat tsb, selain Kebaikan, bukankah berdasarkan Samuel 16 :14 dan 2 Thessalonians 2:11-12 Kejahatan yg sering direpresentasikan sbg Gelap/Kegelapan juga bersumber dari Tuhan ?

    Samuel 16 :14 —> 14 Adapun Saul telah ditinggalkan oleh Roh TUHAN, dan kini ia disiksa oleh roh jahat yang diutus TUHAN.
    2 Thessalonians 2:11 —>11 Itulah sebabnya Allah mendatangkan pada mereka suatu kuasa yang menyesatkan, sehingga mereka percaya akan apa yang tidak benar.

    Kontradiksi antara (Gal, 2:16-17) dan (Matius 5:17-19 ) tentang pelaksanaan hukum2 Taurat juga nampaknya belum disinggung dlm tanggapan Om diatas…

    salam

    • @fanya
      Terimakasih atas penjelasan Om yg menyatakan: …. maka ia mengucapkannya demikian itu, kalau dibahasa sederhanakan; “kalau saya pendusta bagaiman mungkin saya memberitakan Injil, atau semisal saya kamu sebut pendusta apakah dari kehidupanku kamu tidak lihat bahwa saya tidak berdusta, apakah pendusta ada yang perduli dengan orang lain?, adakah pendusta mau menderita demi orang lain?”

      Mungkin saja Om menafsirkannya kutipan Roma 3:7 tsb seperti itu….. tapi menurut hemat fanya kalimat dlm Alkitab sama sekali tidak sinkron dgn penjelasan yg Om sampaikan……..


      makanya saya sebut di awal, Anda menyusupkan keinginan Anda sehingga dapat menyalahkan Paulus atau Kristen sekaligus….

      untuk memperjelas Roma 3:7 Anda tidak boleh melupakan ayat2 sebelumnya dan sesudahnya, atau dengan singkat bandingkan dengan ayat 5-nya saja

      Roma 3:5 Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah–aku berkata sebagai manusia–jika Ia menampakkan murka-Nya?

      di dalam bahasa sederhananya, bagaimana mungkin kegelapan memancarkan terang?…. jadi karena Anda menuduh Paulus berdusta, Paulus tanyakan kepada Anda,bagaimana mungkn pendusta mau perduli dengan orang lain?,…

      Mengenai Allah adalah Terang dgn asumsi bahwa terang datang dari (diciptakan oleh) Allah, …. bukankan berdasarkan Yesaya 45:5-7 sebagaimana halnya Terang, Gelap juga datang dari (diciptakan oleh) Allah? Sbb :

      Yesaya 45:5-7 —> 5 Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, 6 supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, 7 yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.

      Memang tidak ada TUHAN selain ALLAH yang memilih Israel, pertanyaannya, karena Anda bingung di ‘terang’ dan ‘gelap’ di atas apakah Anda menjadi percaya allah lainkah?
      atau sekali lagi membawa2 Alkitab untuk menunjukkan sy salah? atau seolah Anda benar?…siang dan malam, terang dan gelap, Iblis dan malaikat memang TUHAN yang menciptakan,… tetapi Anda harus membedakan antara TERANG/Terang denan terang… ok.
      bisakah Anda bedakan?, kalau tidak bisa, Allah Adalah TERANG… dan kita yang menerima dan percaya DIA menjadi terang, TERANG memampukan kita menjadi terang…
      Terang itu dapat dilihat dari buah-buah yang ia kerjakan salah satunya kedamaian, damai sejahtera d.l.l, nah ketika saya berbicara tentang damai sejahtera dan kedamaian apakah Anda masih berpikir bahwa terang yang dimaksud adalah sumber2 terang seperti matahari? atau kegelapan2 yang disebut malam?,…. come on, you have to move…

      Selain hal yg tersurat tsb, selain Kebaikan, bukankah berdasarkan Samuel 16 :14 dan 2 Thessalonians 2:11-12 Kejahatan yg sering direpresentasikan sbg Gelap/Kegelapan juga bersumber dari Tuhan ?

      Samuel 16 :14 —> 14 Adapun Saul telah ditinggalkan oleh Roh TUHAN, dan kini ia disiksa oleh roh jahat yang diutus TUHAN.
      2 Thessalonians 2:11 —>11 Itulah sebabnya Allah mendatangkan pada mereka suatu kuasa yang menyesatkan, sehingga mereka percaya akan apa yang tidak benar.

      Kontradiksi antara (Gal, 2:16-17) dan (Matius 5:17-19 ) tentang pelaksanaan hukum2 Taurat juga nampaknya belum disinggung dlm tanggapan Om diatas…
      supaya tidak panjang lebar penjelasan saya, saya mau tanya Anda, apa yang dimaksud dengan Kontradiksi? saya tunggu…,

      Hikmat ALLAH yang tidk dapat diselami… ANDA percaya TUHAN sebagia Pencipta bukan? nah kalau Anda tidak percaya saya kasih tau, sgala sesuatu TUHAN ciptakan….termasuk iblis dan manusia, TETAPI, manusia dan iblis berkomplot melawan TUHAN, dan meskipun melawan TUHAN, namaNYA adalah MAHA KUASA, IA dapat mengendalikan ciptaan, makanya IA disebut PENCIPTA… IA SANGGGUP dan MAMPU untuk menyelesaikan masalah…tetapi HIKMAT dan KASIH NYA bekerja, kadang kita harus menunggu karena waktu kita tidak sama dengan waktunya TUHAN…jadi ketika Anda melawan TUHAN, ciptaan TUHAN yang lain, idalam hal ini iblis akan dengan senang hati menggunakan Anda untuk terus melawan TUHAN, seperti SAUL, TUHAN mengijinkan itu semua terjadi, tetapi bukan perkara langsung disetujui tetapi ada proses panjang sebelumnya yang Anda tidak ingat, sekali lagi Anda mengutip dengan cara menyusupkan hikmat Anda sendiri sehingga sebisa mungkin menyalahkan TUHAN yang berfirman di ALKITAB…

  12. @Om Parhobas

    fanya terkadang mengkritisi penggunaan kata atau komposisi kalimat dalam artikel2 Om yg sulit dipahami dan dicerna melalui kaidah2 bahasa sehari-hari, mungkin ada relevansinya dgn 1 Korintus 14 sbb :

    14:9 Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!

    14:19 Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

    14:20 Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!

    • @fanya

      yah terserah Anda mau mengkritisinya…lalu menggunakan ALKITAB untuk menyerang saya… ALKITAB Terbuka buat Anda dan saya, dan semoga kita menggunakannya untuk berloleh HIDUP…

      kalau Anda merasa susah mencerna pembicaraansaya, yah bisa jadi memang Anda tidak di bidang itu, masing2 beda anugerahnya…kan ada kata Kitab Suci, jangan memikirkan apa yang tidak sanggup kamu pikirkan, cukupkanlah dirimu dengan anugerah yang ada padamu… Kalau anugerah Anda mungkin memiliki hati yang lembut ya jangan paksa untuk anugerah2 yang tidak dikhususkan untuk Anda….

      Kutipan Anda kesannya memang menohok, tetapi saya tekankan sekali lagi, semakin banyak Anda mengutip Alkitab, semakin saya paham roh dunia yang Ada di diri Anda, saya katakan, itu harus Anda patahkan…di dalam nama YESUS KRISTUS…kutipan Anda di atas coba Anda baca full satu pasal.. kalau sudah coba Anda sebut maknanya… saya tunggu…

  13. @Om Parhobass,

    ——>supaya tidak panjang lebar penjelasan saya, saya mau tanya Anda, apa yang dimaksud dengan Kontradiksi? saya tunggu…,

    =======

    hihihi…. nanya ato ngetes ni ?…..masak ga tau arti kontradiksi dlm bahasa Indonesia hari-hari (fanya sih asli merujuk terminologi yg umum digunakan dlm percakapan sehari-hari, tanpa terminologi khusus yg bisa beda arti manakala ditulis dgn hrf kapital atau hrf kecil).

    OK yg fanya maksud dgn kontradiksi, Kontradiksi atau KONTRADIKSI adalah : kon·tra·dik·si [n]: pertentangan antara dua hal yg sangat berlawanan atau bertentangan (KBBI) dan/ atau sebagaimana didefinisikan berdasarkan kamus bhs Inggris:

    1.a. The act of contradicting.
    b. The state of being contradicted.
    2. A denial.
    3. Inconsistency; discrepancy.
    4. Something that contains contradictory elements.
    [The American Heritage® Dictionary of the English Language, Fourth Edition
    Copyright © 2009 by Houghton Mifflin Company.
    Published by Houghton Mifflin Company. All rights reserved]

    atau contradiction in term:

    1. A statement that seems to contradict itself, with one part of it denying another. For example, I’ve always believed that “a poor millionaire” was a contradiction in terms. [The American Heritage® Dictionary of Idioms by Christine Ammer Copyright © 1997. Published by Houghton Mifflin]

    2. A statement that is necessarily false; “the statement ‘he is brave and he is not brave’ is a contradiction”. [WordNet® 3.0, © 2006 by Princeton University].

    salam

    • @fanya

      terminologi dan arti defenisi bahasa Anda mumpuni,
      sekarang saya tanya,

      1. apakah Anda tahu bahwa kotradiksi ada variable TIMING dan SENSE?
      2. apa saja sinonim dari Kontradiksi?
      3. bisakah Anda membedakan Contradiction dengan Contradictory?
      4. kenapa ada kontradiksi?

      ditunggu…

  14. @Om Parhobas,

    kayaknya kalo fanya turutin jawab pertanyaan bertubi-tubi Om yg tajam tak bertepi (hehehe… kalo ga salah jaman bahula ada lagunya….. rambut fanya bakan rontok abissss….

    mendingan KISS aja deh..(keep it short & simple)
    karena tau ato nggak fanya tokh bisa search lewat Om google ya ga? so, silahkan aja fanya dikuliahi Om Par biar tambah pinter… gitu

    salam

  15. @fanya,

    hehehehe…. semua pertanyaan Anda selalu saya jawab, dengan berkata om google bisa menjawab, lalu kenapa Anda tidak melakukannya ketika diskusi dengan saya? hehehe…

    tetapi tidak apa2lah… toh setiap manusia ada batasnnya..

    saya hanya perlu menjelaskan kepada Anda,
    Anda mengambil sekutip dari Injil lalu menbandingkannya dengan Tulisan Paulus, lalu karena “keterbatasan” Anda langsung mengatakan bahwa Yesus dengan Paulus saling kontradiksi… itu sangat absurd, sangat kontrakdiksi, sangat berlawanan dengan Injil itu sendiri…

    jadi untuk meneliti lebih tajam apa ucapan Yesus dan apa tulisan Paulus, coba seteliti mungkin anda pilah, SENSE dan TIMINGnya, ok… bisa jadi itu cuman paradox, bisa jadi itu cuman contradictory… atau bs jadi cuman contradiksi terhadap orang yang sedang dilawan…

    contoh:
    Imam Agung adalah panutan masyarakat Israel
    Imam Agung melanggar hukum taurat.

    Dua hal di atas bisa ditemukan di Alkitab, tetapi apakah terjadi pada satu orang pada satu waktu yang bersamaan?

    contoh lain:
    Malaikat TUHAN menolong manusia
    Iblis adalah malaikat,

    contoh lain;
    Nabi mengucapkan Firman TUHAN
    Nabi berbohong dan menerima suap..

    contoh lain;
    Yesus adalah Kristus
    Yesus adalah hanya nabi…

    nah dari contoh2 di atas yang mana yang kontradiksi?

    yaitu yang terakhir, karena tidak mungkin terjadi pada SENSE dan TIMING secara bersamaan…

    jadi kalau ada yang mengatakan YESUS hanya Nabi tetapi gelarNya Al Masih atau Kristus, itu kontradiksi… ajaran bahaya… ok

    sedemikian juga,
    kalau ada yang mengatakan Paulus kontradiksi dengan Yesus itu ajaran gila namanya, Paulus mengatakan dirinya hamba Yesus, bagaimana mungkin hamba melawan tuannya, ya toh..

    jadi Anda harus hati2 dengan semua ajaran, terutama ajaran di luar ALKITAB…

    salam

  16. @ Om Parhobass,

    sedemikian juga,
    kalau ada yang mengatakan Paulus kontradiksi dengan Yesus itu ajaran gila namanya, Paulus mengatakan dirinya hamba Yesus, bagaimana mungkin hamba melawan tuannya, ya toh..

    ======

    SENSE atau logikanya memang selaku hamba Yesus, ajaran Paulus mestinya selaras dgn ajaran Yesus dan menjaga kelestarian ketentuan Tuhan yang diajarkan Yesus (Matius 5:17-20), dan tidak malah menganulirnya (Roma 3:28 dan Roma 7:6).

    Pasal2 dan ayat-ayat dalam Alkitab (Kitab suci) tentu merupakan pegangan bagi setiap pemeluknya yg dipahami dari apa yg lestari tertulis didalamnya.
    Faktanya, secara redaksional substansi dari untaian kalimat yg tertulis dlm kutipan2 tsb diatas, jelas merupakan kontradiksi. Tapi, entah jika bukan redaksi yg tersurat yg dibaca……. namun jika bukan itu yg dibaca, lantas apa yg harus dibaca?

    salam

    • @fanya

      nah karena kita tahu Paulus adalah hamba dan Kristus adalah tuannya, maka mulailah menganalisa tulisan Paulus dari term itu… bahwa ia adalah hamba, dan yang namanya hamba, ya harus tunduk kepada tuannya…

      nah kalau Anda masih berkeras mengatakan, seharusnya Tulisan Paulus sejajar atau tidak bertentangan dengan Yesus, kalimatmu itu saja sudah kontrakdiksi, kenapa? karena sekali lagi balik ke awal, Paulus telah bertobat jadi Kristen, nah Kristen artinya tunduk kepada Kristus…, kalau namanya tunduk apa mungkin melawan? tunduk ya tunduk melawan ya melawan, supaya tidak kontradiksi…

      teliti lebih baik lagi, apa SENSE dan TIMING antara tulisan PAULUS yang menolak TAURAT dengan Ajaran YESUS tentang TAURAT…

      saya tunggu…

      • @fanya,

        saya masih menunggu….

        sudah ada progress kah?

        salam

  17. @ Om Parhobas,

    fanya kira yg Om jadikan SENSE dan TIMING adalah Roma 6:11 dan 6:14 yakni eksistensi dan ucapan Paulus yg menyatakan bhw setelah kebangkitan Yesus manusia tidak lagi hidup di dlm dosa sehingga Taurat tidak lagi diberlakukan.

    Yang masih fanya dan banyak orang pikirkan adalah apakah ucapan Paulus tsb betul Firman Tuhan? Mengapa jadi esensial utk dipertanyakan? Ya jelas karena substansi ayat tsb sangat esensial sekaligus krusial.

    Bagi fanya autentikasi dan validitas ayat diatas perlu dievaluasi lebih seksama karena a.l.

    1. Redaksi pasal-pasal dlm Roma 6 tsb menurut fanya lebih merupakan “asumsi” pribadi Paulus, bukan “meng-quote Firman Tuhan” yg mengatakan bahwa Tuhan mengubah/menganulir Firman-Nya yg terdahulu.

    2. Pemberlakuan Taurat yg diberlakukan Tuhan melalui Nabi-nabi-Nya dan diperkuat dgn Firman-Nya yg keluar melalui mulut Yesus sendiri ( Matius 5:17-20) koq tiba-tiba dianulir oleh Paulus yg bukan murid langsung Yesus; yg tiba-tiba mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai Rasul (Roma 1:1 dan 1:5). Kalaupun benar Paulus adalah Rasul, sungguh tidak masuk akal jika Firman Tuhan yg diucapkan langsung oleh-Nya malah dianulir oleh sabda Paulus tanpa ada nubuat dari Yesus.

    3. Selaku Murid Yesus, semestinya SEMUA yg disampaikan Paulus selaras dgn apa yang di firmankan Yesus (tuhan), faktanya, semua orang yg tahu membaca, menemukan bhw substansi Firman Tuhan dlm ayat Matius 5:17-20 tsb kontraditif dgn pernyataan Paulus dlm Roma 3:28; 6:14 dan 7:6).

    Pendapat fanya diatas boleh jadi dimata Om dinilai “sesat” dan kekeliruan besar dlm memahami ayat2…., namun sebaliknya penilaian fanya thdp Om juga mungkin serupa.

    Anyway, sebetulnya, diskusi/komen ini sama sekali tidak fanya maksudkan utk mengkkritisi pendapat Om demi membenarkan pendapat fanya pribadi, melainkan hanya sekedar change of views antara dua manusia yg datang dgn cara pandang dan latar belakang berbeda.

    salam

    • @fanya

      Anda termasuk picik juga ternyata, saya perhatikan kutipan2 Anda semakin lain setiap hari… aneh sekali Anda ini…pertama bawa2 Roma 3 sekarang Roma 6,

      coba lebih spesifik, mau Anda apa?

      tetapi kalau saya mau selesaikan dari point2 Anda gini yah fanya,
      seharusnya untuk membahas Alkitab Anda menentukan pijakan dulu, kalau pijakan itu tidak Anda tetapkan maka pikiran Anda yang beradu, saling menguatkan dan saling melemahkan sendiri, itu tidak bagus…

      pijakan Anda untuk membahasa Kitab ROMA adalah baca ROMA 1:1
      kalau itu Anda lewatkan maka pijakan seluruhnya akan kacau…
      sekarang saya test, apa bedanya thema antara Roma 1 dan Roma 2? kalau itu ngga lulus, percuma diskusi sampai ROMA berikutnya…

      tetapi kalau Anda masih bersikukuh, saya tanya lagi
      SENSE apa yang dikatakan PAULUS tentang TAURAT? apakah TAURAT yang sama seperti TAURAT yang dimaksud YESUS?

      saya sudah kasih contoh di di atas;
      Malaikat Tuhan menolong manusia
      Iblis adalah malaikat…

      jangan bawa lagi kutipan lain lagi ya, sebelum yang di atas dijawab…

  18. @Fanya

    Kalau mbak kutip ayat dari Roma 3 : 28, Paulus juga bilang dalam Roma 3 : 31, “Jika demikian, adakah kami MEMBATALKAN hukum Taurat karena iman? SAMA SEKALI TIDAK! Sebaliknya, kami MENEGUHKANNYA.”
    Itu klu kita maen kutip, ya Bu. Jadi, tidak ada kontradiksi antara Yesus dan Paulus. Itu sebabnya Bapa Tua Parhobass bilang, mari memahami Alkitab jangan ayat per ayat. Sebab setiap ayat tidak pernah lepas dari ayat sebelumnya dan ayat sesudahnya. Dan jelas sekali ayat 28 yang mbak kutip masih 1 perikop dengan ayat 31 yang menjawab ayat 28 tersebut (sekaligus menutup tema pasal 3).

    Salam kasih, mbak Fanya.. 🙂

    • @ Borusasada
      adakah kami MEMBATALKAN hukum Taurat karena iman? SAMA SEKALI TIDAK! Sebaliknya, kami MENEGUHKANNYA.”
      .
      .

      Saya senang dgn tambahnya satu lg diblog kita ini si pembawa kasih Kristus itu.
      Teruskan ya ito ku….., ttg koment dan pendapatmu itu.
      Harapan saya dan sdr Parhobas spy partisipasimu terus berlanjut dan jgn putus-putus. Ada lg satu teman kita yg sudah hampir mengenal Kristus tetapi masih disebut anak nakal krn masih tegar tengkuk ( amangboru Lovepasword)

      Salam kasih dari Parhobas dan saya

      • @Tulang RAS

        Salam kasih juga, Tulang. Saya juga senang baca komentar Amangboru Lovepassword (apalagi dalam artikel “Komplain” itu). Standing applaus buat amangboru lovepassword. Boru jadi makin pintar dengan masukan-masukan Amangboru itu.

        Buat Tulang RAS dan Bapa Tua Parhobass, tetap semangat memberikan yang terbaik demi kemuliaan Tuhan.

        🙂

  19. @ Om Parhobass,

    Om menulis:
    Anda termasuk picik juga ternyata, saya perhatikan kutipan2 Anda semakin lain setiap hari… aneh sekali Anda ini…”

    “…nah sekarang Anda membenturkan antara “terang” yang satu dengan “terang” yang lain,… ini juga pemikiran yang picik, dengki dan maaf kata tolol,…

    =======

    Hehehe…. fanya perhatiin tampaknya Om ini tergolong hobby “menyerang” pribadi lawan diskusi dgn sebutan2 “gelap”… hik hik hik. Mudah2an hal tsb bukan dampak dari terlalu lama berinteraksi dgn intensitas terang…

    ——

    OK, Sehubungan dgn berondongan pertanyaan dan “ujian” Om, fanya coba rujuk ke awal pembicaraan ya Om….

    Komen awal fanya sesungguhnya adalah terkait komen Triani yg menulis “berbohong utk kebaikan” pd artikel TERANG atau GELAP yg pd hakekatnya adalah unsur KONTRADIKTIF, terlebih lagi Matius 28:10-14 menyatakan :

    Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu kepala. dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”)

    Kutipan diatas memang tidak fanya kemukakan saat itu.
    .
    .
    .

    Berikutnya Om Parhobass bertanya :

    “supaya tidak panjang lebar penjelasan saya, saya mau tanya Anda, apa yang dimaksud dengan Kontradiksi? saya tunggu…,
    ========

    Nah… guna memenuhi permintaan/pertanyaan Om Par tsb, fanya coba jelaskan maksud kata KONTRADIKSI dgn beberapa contoh yg khusus disediakan kamus, diikuti beberapa kutipan2 yang menurut logika fanya juga bernuansa kontradiktif.

    Namun setelah itu ternyata Om malah memberondong fanya dgn sederet pertanyaan ttg variable TIMING, SENSE dsb.

    Dari jawaban Om tsb, fanya merasa bhw Om tidak recognise atau tidak aware thdp sisi pandang fanya vis a vis nuansa kontradiktif dlm Kutipan2 yg fanya ajukan disitu, sehingga dlm komen berikutnya sengaja fanya unggah kutipan2 lainnya dgn harapan Om Parhobas ‘ngeh dgn apa yg fanya maksudkan, dan ternyata Om Par….. malah sewot!

    Begini deh Om, mudah-mudahan Om bisa melihat dari sisi pandang fanya jika fanya rujuk Yoh 20:1-18 dan Matius 28:1-10 yg menurut logika fanya sarat dgn nuansa ketidak selarasan (inconsistency; discrepancy) meski sequence kejadian yg diangkat oleh keduanya sama.

    Perlu ditekankan disini bahwa dalam dialog lintas agama kiranya bukan sesuatu yg luar biasa jika cara pandang non Kristiani berbeda dgn Kristiani, sehingga untuk memupuk terbinanya toleransi antar umat, sedapat mungkin lebih mengedepankan nalar universal dalam setiap pembahasan topik yg dibicarakan.

    salam

    • @fanya;

      kalau Anda dinasehati biasakan mendengar,
      kalau Anda berdialog biasakan mau menjawab pertanyaan,

      nah kembali ke perbincangan, bagaimana saya tidak mengatakan Anda picik, nyatanya demikian bukan?, Anda bertanya saya jawab, tetapi ketika saya bertanya Anda bilang “tanya ajah google”, dengan bahasa yang sedikit saya hiperbolikkan,…
      dan memang itu sudah saya antisipasi sejak awal, bahwa Anda bukan sekali ini saja membawa2 masalah yang ada di benak Anda lalu seolah2 menghubung2kannya dengan topik di tiap artikel, itupun kalau Anda masih ingat…

      jadi tidak serta merta saya langsung menyerang Anda, kalau Anda tiba2 masuk lalu saya katai begitu betapa jahatnya saya, ya toh…

      sekarang pertanyaan KONTRADIKSI saja belum selesai2 kan?
      secara terminologi saya sudah memuji Anda (hehehe kenapa pujian saya tidak Anda ingat yah, saya memuji Anda dua kali, satu tulus, dan yang kedua kosa kata Anda mumpuni),….
      contohnya gini dalam hal kontradiksi, karena Anda membawa2 data secara detail, maka saya pun harus mengikuti,

      Kontradiksi sudah Anda jelaskan secara terminologi, secara bahasa, tetapi apakah itu sudah cukup? itu butuh penjelasan, sebab kontrakdiksi sendiri memiliki sinonim paling tidak 11 kata, termasuk yang Anda sbut INKONSISTENSI dan DISKREPANSI,… tetapi itu tidak mutlak saling bertentangan, sudah saya kasih contoh, yaitu
      Malaikat Tuhan menolong manusia, Iblis adalah malaikat…. itu kontradiksi di dalam sense apa? …

      semua orang tahu defenisi, tetapi penerapannya tahu ngga?, nah penerapan kontradiksi itu yang saya mau gali dari Anda, yang akhirnya saya simpulkan Anda PICIK tak karuan, Anda hanya sebatas googling, tetapi tidak mengerti ke akarnya, nah keterbatasan Anda inilah yang Anda bawa2 untuk menjelaskan ALKITAB, salah satunya tentang TAURAT di kitab ROMA dan TAURAT di Kitab Injil… Taurat yang dibicarakan Paulus dengan Taurat yang dibicarakan Yesus…

      kalau Anda membaca komennya inangku di atas oleh borusasada, semakin jelas SENSE yang sedang saya tugaskan kepada Anda, itu saya tunggu ok…

      JAdi saya sewot dan amat sangat sewot dengan Anda karena sering mebawa2 masalah tetapi ketika saya mengkounter Anda, Anda sering tidak tuntas dan membawa2 masalah baru, sebenarnya ini tidak perlu saya ucapkan kalau Anda bisa memahami kesewotan saya, ternyata tidak, Anda lebih memilih mengasihani diri ANDA sendiri… itu saya sebut PICIK,..

      semoga dengan kata2 keras dan kejam saya roh Anda merenung dan sekiranya bisa memenangkan tubuh Anda,… karena sekarang tubuh Anda masih menang, makanya melawan waktu di nasehati…

      salam

      Note:
      perbandingan
      saya tahu Anda mengetahui apa itu perkalian
      tetapi ketika menemukan rumus luas adalah panjang kali lebar, saya bertanya kenapa harus dikali kenapa ngga dijumlah, nah kalau Anda tahu landasannya perkalian, maka ucapkan defenisi dan filosofinya, nah itu yang saya tunggu perihal KONTRADIKSI, jangan asal berkata kontradiksi tetapi tidak mengerti
      saya sudah kasih contoh kontradiksi
      yaitu:

      Mengatakan YESUS KRISTUS atau mungkin ISA AL MASIH tetapi mengatakan hanya seorang nabi, itu kontradiksi… Kristus ya Kristus, Nabi ya Nabi… ok…kontradiksi banget tuh…

  20. @fanya

    kalau Anda bisa merenungkan penjelasan saya yang panjang di atas, mari kita lanjut,

    bagaimanapun diskusi jadi bias karena ternyata kosakata KONTRADIKSI-pun tidak terlalu dipahami,

    saya siap meladeni Anda, asal ada dialog dua arah,

    pertama mari kita pecahkan tentang TAURAT itu, ok…

    judulnya kita buat,
    Taurat Paulus vs Taurat Yesus

    karena Anda membawa Kitab Roma, saya sarankan Anda melandaskan kutipan Anda dari mulai Roma 1:1, kalau itu tidak paham, maka selanjutnya akan hancur lebur,….

    menurut Anda Roma 1:1 sedang menjelaskan apa?

    sebagai saran, kalau Anda mau kita lanjutkan diskusi tentang taurat ini di
    Taurat
    atau
    Hukum Taurat – Injil Yesus

    saya tunggu

  21. @ Om Parhobas,

    Tulang ini lucu…., Om buat artikel sesuai pola pikir Om (selaku Kristiani tentunya), kemudian ditangkap oleh fanya yg non Kristiani yg pasti beda dgn Om yg Kristen). fanya tergerak beri komentar secara baik-baik dlm bentuk pendapat dan pertanyaan dgn harapan mendapat jawaban dari orang yg berkompeten utk menjawabnya.

    Namun demikian, thdp pendapat fanya yg cara menginterpretasikan statement atau kata2 dlm artikel tsb tidak sebagaimana yg dimaksudkan atau diharapkan Om selaku penulis (ingat! fanya bukan Om shg wajar jika punya cara pandang yg berbeda); alih-alih menjelaskan dan mendudukkan permasalahan yg fanya kemukakan pd proporsi dan tatanan yg seharusnya berdasarkan sudut pandang ajaran Kristiani, Om Par seakan lebih memposisikan diri sbg JPU Cirus Sinaga, tanya macem2 dan sewot, dan mencela pula……

    Memang harus diakui, Om sempat memuji fanya, tapi apalah kata peribahasa…. “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”…… yaa…. dibuang deh! (rasanya sejauh ini fanya ga sekalipun “menyerang” pendapat apalagi pribadi Om, selain mengatakan “tampaknya om tegolong hobby menyerang pribadi lawan diskusi etc etc…. itupun cuma di komen paling akhir)

    Pendeknya, bukan maksud hati menolak undangan Om membahas Taurat Paulus vs Taurat Yesus, tapi fanya yakin tak ada manfaatnya bagi Om mendiskusikan topik itu dgn fanya yg tidak punya kapasitas dan kompetensi dlm topik dimaksud! It would be wasting & tiring bukan?

    Kalau Om Par memang keberatan utk mendudukan fanya pd posisi sbg outsider yg curious thdp beberapa hal yg menurut fanya patut ditanyakan atau dipertanyakan kpd orang yg berkompeten mengetahuinya, that’s OK, You have no obligation at all to answer or explain it, while I do have no right to force you to answer my questions either.

    Om…., keponakan fanya juga terkadang mengajukan pertanyaan atau pernyataan yg selintas tampak “absurd” or “silly”, semisal : Tuhan itu sebetulnya jahat (karena ibunya sdh “diambil”-Nya); atau:
    “Kalau Tuhan betul sayang sama kita, kenapa tidak panggil aja kita semua bareng2 biar kita bisa hidup sama2 di surga, kan Tuhan Maha Kuasa?

    Kalo fanya yg ajukan pertanyaan tsb, sgt wajar disebut picik atau tolol, tapi bagi ponakan fanya yg baru 7 tahun….. ah…menurut fanya sih wajar, proporsional dan HARUS dijawab dgn gaya bahasa dgn mengacu pd pola pikir dirinya, tahu menempatkan diri sbg orang dewasa dan mau menempatkan diri pd posisi dirinya, berusaha menyelami alur pikiran, pengalaman hidup dan keterbatasan intelektual maupun spriritual dirinya….

    Akhirnya, fanya pikir, mungkin apa yg kita tahu belum tentu selalu selaras dgn yg kita mau, dan yg kita lakukan belum tentu sesuai dgn apa yg seharusnya kita amalkan….

    Salam, MGBU

    • @fanya,

      Tulang ini lucu…., Om buat artikel sesuai pola pikir Om (selaku Kristiani tentunya), kemudian ditangkap oleh fanya yg non Kristiani yg pasti beda dgn Om yg Kristen). fanya tergerak beri komentar secara baik-baik dlm bentuk pendapat dan pertanyaan dgn harapan mendapat jawaban dari orang yg berkompeten utk menjawabnya.

      Namun demikian, thdp pendapat fanya yg cara menginterpretasikan statement atau kata2 dlm artikel tsb tidak sebagaimana yg dimaksudkan atau diharapkan Om selaku penulis (ingat! fanya bukan Om shg wajar jika punya cara pandang yg berbeda); alih-alih menjelaskan dan mendudukkan permasalahan yg fanya kemukakan pd proporsi dan tatanan yg seharusnya berdasarkan sudut pandang ajaran Kristiani, Om Par seakan lebih memposisikan diri sbg JPU Cirus Sinaga, tanya macem2 dan sewot, dan mencela pula……

      dari pada saling tuduh menuduh, dengan singkat,
      sebagai orang yang merasa outsider Anda sebaiknya bertanya maksud artikel, jangan memaksakan juga pola pikirmu dengan pola pikir penulis, jangan menang sendiri…. saya kira itu seh yang benar…. jangan menjadi mengasihani diri sendiri dengan segala pleidoimu….
      Saya keras dan tegas karena memang maksud Anda tidak pernah sejalan dengan maksud di artikel, kalau benar sejalan saya ngga malu dan takut mengakui koq, saya pernah melakukannya sekali buat lovepassword, dan berkali-kali dengan lae Sihotang…

      kalau Anda merasa belum cukup di situ yah terserah Anda, bagi saya sudah cukup, makanya saya mempersilahkan Anda membahas Taurat di artikel yang khusus ada judulnya Taurat,….kalau mau Anda saya tunggu di artikel taurat ok…

      Pendeknya, bukan maksud hati menolak undangan Om membahas Taurat Paulus vs Taurat Yesus, tapi fanya yakin tak ada manfaatnya bagi Om mendiskusikan topik itu dgn fanya yg tidak punya kapasitas dan kompetensi dlm topik dimaksud! It would be wasting & tiring bukan?

      bukan ngga ada manfaatnya fanya, tetapi ada point yang harus Anda tekankan, saya bukan sedang meremehkan atau gimana, dari komen saya yang panjang-panjang itu sudah menandakan saya tidak merasa capek sedikitpun untuk memberitakan ALKITAB, … yang menjadi masalah adalah… maaf kata yah, jangan sampai terjadi seorang anak TK mengajari gurunya cara membaca,…. saya sering menemukan hal seperti itu, dan prakteknya sering begitu, kalau Anda pernah mengalami mengajar anak-anak, terkadang begitu, anak-anak terkadang merasa dia sudah hebat dan serba bisa, susah dibenahin,… nah to the pointnya adalah Anda berkata-kata tentang TAURAT kepada saya, sementara prinsip dasarnya saja ngga bisa, bagaimana Anda mau meyakinkan saya tentang perbedaan TAURAT PAULUS dan TAURAT YESUS….

      Anda berkata A adalah kontradiksi sementara kontradiksi saja ngga bisa tuntas defenisi dan jabaran lanjutnya, trus mau gimana? bukannya menjadi sia-sia?

      jadi mau gimana? heheheh,.. nah dari pada larut2 di kontradiksi itu, mari langsung saja ke pembahasannya,…. sekali lagi, saya tunggu di artikel taurat, dan saya mohon dengan sangat Anda membaca artikel itu terlebih dahulu….

      penyelesaiannya ngga sesulit yang dibayangkan koq,jika pondasinya sudah benar….

      salam;

  22. @

    Mengomentari “diskusi” diatas…..
    Belajar dari sekeping koin yg terdiri dari dua sisi berbeda…..

    Eksistensi koin yg dibuat utk menjadi representasi suatu nilai, bisa terus memiliki nilai dan mampu memberi nilai, karena kedua sisi kokoh bersinergi dan ikhlas untuk saling memaknai.

    salam

    • @viking

      butuh penjlasan lebih lanjut, maksudnya gimana

      apakah kita harus bermuka dua atau gimana?

  23. @Pak Parhobas,

    ====>apakah kita harus bermuka dua atau gimana?

    ——-

    Menurut hemat saya selaku orang awam, andai “koin” dianalogikan dengan “agama” atau ajaran yg diciptakan sbg alat utk merepresentasikan suatu nilai (nilai ilahiah/ruhaniah), maka nilai yg terkandung dlm agama/ajaran tsb akan tetap eksis dan mampu memberi nilai (menerangi) kpd manusia, apabila masing2 sisi koin (pemeluk agama) mensinergikan (bekerjasama) dgn sisi lainnya dan dgn tulus ikhlas saling memaknai keyakinan masing2 agama dan pemeluknya.

    Jika nilai intrinsik “koin” tsb tetap terjaga, niscaya setiap orang akan menginginkannya, mencarinya, membutuhkannya, memenjaganya keberadaannya dan menggunakannya sesuai dgn peruntukkannya.

    salam

    • @viking

      koin kan ada dua sisi,
      satu sisi buat sendiri satu sisi lain buat orang lain,
      itukah maksud Anda?

      apakah itu bisa diartikan kita memiliki dua wajah?

      atau Anda sedang menjelaskan tetang hukum kasih? bahwa kita harus saling mengasihi dan terutama harus mengasihi tidak memandang imbalan dan lain sebagainya.

      salam

  24. @Mas Viking,

    Kayanya yg anda maksud adalah sbb (mudah-mudahan gak salah lho):

    Seperti halnya coin, Agama (as a whole) adalah “nilai” (moral, spiritual, intelektual, sosial dll) yg membuat manusia yg menguasainya jadi memiliki nilai, begitu?

    Meski coin memiliki dua sisi yg fiturnya berbeda, namun masing2 sisi melekat dlm sebuah kesatuan yg utuh demi mewujudkan sebuah nilai (nominal) yg utuh. Artinya, kepingan uang senilai 1000 rupiah jadi tak bernilai (ga laku) jika coin tsb hanya memiliki sebelah sisi saja.

    Dalam hal coin dianalogikan sbg agama, fanya menebak yg di maksudkan mas Viking mungkin adalah masing2 satu sisi coin merepresentasikan sebuah agama. Dengan demikian, harapan beliau adalah, meskipun antara agama yg satu dgn agama lainnya berbeda, mengapa tidak saling bersatu guna mewujudkan nilai2 yg dikandung oleh agama thdp manusia yg menggenggamnya.

    Jika tebakan fanya benar, fanya kira sinergi semacam itu berkembang baik antara agama Hindu dan Budha di Thailand. Orientasi para pemuka masing2 agama adalah bekerja sama dan lebih fokus pd penyebaran NILAI2 moral dan spiritual yg menjadi ajaran masing2 agama, sementara pilihan identitas agamanya lebih diserahkan pd faith convenience masing2 umat.

    Jika antara Hindu dan Budha (di Thailand) dpt bersinergi menumbuh-kembangkan moral and spiritual value pd masyarakat Thai, tidak mustahil antar agama lainpun dpt bersatu dlm “COIN” serupa dengan nilai nominal berbeda (ada coin 100, 200, 500, 1000 dan kedepan bisa jadi 10000).

    Kalau itu yg dimaksudkan oleh Mas Viking, kiranya sangat diperlukan kedewasaan, rasa saling percaya, saling menghormati dan rasa ikhlas yg tulus dari para pemuka agama utk lebih fokus pd penyebaran nilai2 moral, dan mulai mengikis “warisan” masa lalu perseteruan lintas agama.

    Maaf kalo fanya keliru,

    salam

  25. @ Fanya

    Jika tebakan fanya benar, fanya kira sinergi semacam itu berkembang baik antara agama Hindu dan Budha di Thailand. Orientasi para pemuka masing2 agama adalah bekerja sama dan lebih fokus pd penyebaran NILAI2 moral dan spiritual yg menjadi ajaran masing2 agama, sementara pilihan identitas agamanya lebih diserahkan pd faith convenience masing2 umat.
    .
    .

    Saya perhatikan pertanyaan dan dialog sdr Parhobas dgn dirimu sangat jelas . Tetapi yg harus adek perhatikan adalah pesan dari sdr Parhobas mengenai arti TERANG dan GELAP yg sesungguhnya. Barangsiapa mengaku percaya kpd Kristus tetapi tidak melakukan apa yg telah DIA perintahkan itu sama saja dgn bohong. Tetapi barangsiapa percaya kpdNya dan melakukan apa yg Dia perintahkan maka yg bersangkutan sudah tinggal di dalam TERANG. Dan Kegelapan tidak akan menguasainya sebab Kristus Sang Terang itu sudah tinggal bersama-sama dgn mereka.
    .
    .
    Kamu sangat pintar dan sedikit banyak telah memahami postingan sdr Parhobas yg begitu Mantap dan Kuat dalam pesannya. Hanya itu semua sia-sia jikalau kamu tidak tinggal di dalam TERANG itu. Kamu bacalah koment saya yg pertama . JIKALAU di mata seseorang itu Terang itu adalah Kegelapan maka Betapa Gelapnya Kegelapan itu. Semoga kamu memahaminya.

    • @ Tulang Sihotang

      ….Tetapi yg harus adek perhatikan adalah pesan dari sdr Parhobas mengenai arti TERANG dan GELAP yg sesungguhnya. Barangsiapa mengaku percaya kpd Kristus tetapi tidak melakukan apa yg telah DIA perintahkan itu sama saja dgn bohong. ……
      :
      :
      :

      Apa yg fanya kemukakan diatas adalah sinergi yg tumbuh antara agama Budha dan Hindu di Thailand, dimana keduanya lebih fokus pd upaya peningkatan kualitas pengimplementasian nilai2 universal agama terkait nilai-nilai spiritual maupun nilai moral sosial oleh masyarakat, bukan mengejar peningkatan kuantitas umat dari masing-masing agama, apalagi saling “mewakili tuhan” menjudge pemeluk agama lain sbg orang-orang yg tersesat.

      Kalau diresapkan lebih dalam, peningkatan kualitas nilai moral dan keimanan umat justru lebih penting dibanding peningkatan kuantitas umat, karena sekecil apapun komunitas umat yg terbukti memiliki kualitas moral, sosial dan spiritual prima, pasti menjadi daya tarik yg sangat dahsyat bagi siapapun utk masuk menjadi bagian darinya. Sebaliknya, sebesar apapun kuantitas suatu komunitas, tanpa didukung oleh pengimplementasian nilai-nilai luhur yg bersifat universal, justru hanya akan menimbulkan citra buruk thd komunitas tsb dan lambat laun ditinggalkan….

      Sinergi lintas agama sebaiknya tidak dimaknai secara sempit sebagai pengebirian nilai2 keimanan thdp figur Tuhan, karena di era global sekarang ini justru kita seyogianya lebih mampu memposisikan diri sbg fasilitator thdp kodrat Tuhan yg telah menganugrahkan kebebasan/hak menentukan pilihan bagi segenap manusia utk dgn kecerdasan dan keikhlasannya mengenal dan hidup di dalam TERANG (meminjam istilah Om Parhobas) dengan cara-cara yg baik, santun, elegan dan rasional.

      salam damai

      • @fanya

        pesan buat Anda dan juga supaya lebih jelas,
        di sini tidak ada upaya menjadikan Anda penganut agama kristen ok,

        maksud blog ini adalah supaya setiap orang bisa mengenal dirinya dan sekiranya bisa mengenal TUHAN….

        jadi hubungan Anda dengan TUHAN yang perlu diperjelas, bukan status-status yang ada di dunia ini…

        untuk memperjelas hubungan itulah kita harus buktikan bahwa kita juga memiliki hubungan yang baik dengan TUHAN….karena segala hukum hanya bergantung kepada hukum kasih…

        tetapi memang hubungan yang baik dengan TUHAN hanya di dapat di Kristen,… bukan agama Kristen…ok
        salam

      • @ Om Parhobass yang baik,

        pesan buat Anda dan juga supaya lebih jelas, di sini tidak ada upaya menjadikan Anda penganut agama kristen ok,

        maksud blog ini adalah supaya setiap orang bisa mengenal dirinya dan sekiranya bisa mengenal TUHAN….
        :
        :
        :

        jangan marah Om, fanya ga ada sedikitpun mengatakan apalagi menuduh bhw Om atau blog ini bermaksud menjadikan fanya penganut agama kristen loh……

        fanya hanya mencoba menyampaikan kpd Om Sihotang pemikiran bhw sinergi antar agama (sebagaimana kerap dihimbau oleh berbagai kalangan di dunia), sangat dimungkinkan apabila masing2 agama lebih berorientasi pada upaya2 peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan nilai2 universal beragama oleh masing-masing pemeluknya, dan bukan pada peningkatan kuantitas pemeluk agama masing2.

        Pemikiran/pendapat fanya tsb jelas bersifat umum dan tidak menunjuk siapapun, terlebih pd Om atau blog Om ini ya toh?

        Artinya, jika ada pihak (termasuk pihak Islam, Kristen, Hindu, Budha dll) yg tetap berorientasi pd peningkatan kuantitatif dgn cara merekrut sebanyak mungkin pemeluk baru (quantitative oriented); hal tsb jelas akan menjadi batu sandungan thdp upaya memupuk sinergi dan toleransi beragama yg selalu didengung-dengungkan oleh tokoh2 agama, tokoh2 dunia dan segenap masyarakat di dunia.

        maaf, ini juga supaya menjadi lebih jelas aja kok…..

        salam

      • @fanya

        ok saya memahami maksud Anda,..

        kenapa kalimat saya selalu dikesankan “marah” yah ehhehehe,…

        jika kita merenungkan ke dalam, sebenarnya “upaya” peningkatan kuantitas itu wajar, itu hanya sebagai salah satu pembuktian arti “benar”….
        cuman seperti kata Anda, terkadang di dalam upaya itu orang salah kaprah…di dalam keterangan borusasada di atas bisa diambil contoh, bahwa orang yang terbiasa tinggal di kegelapan kalau melihat lilinpun bisa menjadi silau…. jadi marilah membuktikan “benar” itu dengan menyinari sesama dengn TERANG Yang dari sorga…dengan cara hidup saling mengasihi…

        dan “iri” adalah sejajar dengan perpecahan dan kekacauan, kita terkadang merasa memiliki semua penganut agama kita, karena memang ada ikatan emosional, di dalam Kristen di sebut ikatan rohaniahnya ada,… nah ketika saudara kita memilih pilihannya misalnya, jelas terkadang ada rasa “iri”, dan karena “iri” selalu ada dan setiap manusia tidak bisa mempertontonkan bahwa ia adalah “terang”, maka ia akan lebih mengutamakan “iri”-nya lalu timbullah kekacauan….
        padahal kalau kita perduli apa salahnya kita menunjukkan kepada saudara kita itu cara hidup yang “benar” dari kebiasaan kita sehari-hari, ya toh?

        masalah yang lain adalah terkadang kita tidak bisa memahami sepenuhnya arti ucapan kita dan arti iman kita, kita mengaku ALLAH adalah HAKIM, tetapi dengan lantangnya kita sering melampaui DIA, kita sering menghakimi sendiri siapapun dengan dalih bahwa kita layak untuk itu….

        banyak hal memang, ……
        yah memang itulah manusia jika dipandang dari sudut “kerusakan”nya hehehe…. parah bin kacau…..bin rusak…

        prinsip “koin” ala Viking bisa diterima juga, sebab siapa ALLAH Yang kita sembah terlihat dari perbuatan kita sehari-hari, oleh karena itulah perlunya memancarkan terang….dan perlunya membuktikan bahwa kita adalah manusia yang percaya kepada TUHAN…

        salam;

  26. @Fanya

    Luar biasa, saya salut. Apa yg anda sampaikan ternyata jauh lebih advance dan rinci dibanding apa yg mampu saya kemukakan sebelumnya. Memang seperti itulah yg saya maksudkan.

    Banyak pihak, agamawan, LSM, tokoh2 dunia, organisasis internasional dan juga PBB, berkumpul dalam forum “interfaith dialog” guna membicarakan pentingnya kerjasama, harmoni dan toleransi antar agama, mengingat betapa esensialnya “nilai2” yg terkandung dlm agama, sensitivitas masalah2 lintas agama serta prihatin atas masih besarnya potensi konflik berbasis agama yg dpt mengancam kedamaian dunia.

    Sementara itu secara naif saya mencoba menganalogikan “nilai” agama dgn nature “koin” yg juga eksis guna memenuhi kebutuhan masyarakat sbg representasi nilai nominal tertentu dlm bentuk kepingan yg terdiri dari 2 sisi dgn FITUR berbeda.

    Kedua belah sisi koin melekat satu sama lain dgn padu tanpa saling mengganggu, tanpa saling mengurangi atau saling meniadakan, bahkan sebaliknya keberadaan sisi2 dgn fitur berbeda tsb justru saling bersinergi menunjang dan memperkuat nilai nominal koin tsb.

    Koin dibutuhkan manusia lebih karena kandungan NILAInya – bukan karena FITUR pd masing2 sisi koinnya. Namun begitu, fitur koin tetap sangat penting karena fitur itulah yg menentukan identitas dan legalitas dari nilai nominal yg dikandung koin tsb.

    Menurut hemat saya, kita bisa menikmati manfaat dari keberadaan koin tsb mungkin karena orientasi kita lebih fokus pd NILAI dan MANFAAT yg terkandung dlm koin tsb, bukan pada fitur atau ornamen pada kedua sisinya.

    Secara pribadi orang bebas menyukai salah satu fitur yg lebih membuat hatinya nyaman, namun begitu ia akan tetap menjaga keutuhan sisi/fitur koin sebelahnya agar KOIN yg ada pdnya tetap memiliki NILAI sebagaimana mestinya.

    demikian, salam.

    • Analogi dan penafsiran analogi yang sama-sama keren….

      • @ Om Lovepassword,

        Kalo boleh tanya, siapa yang Om maksudkan “penafsir”? …. fanya kah? hihihi…
        (iya gitu ….. biar aku seneng)

        tengkiu, spaciba, muchos gracias, obrigada, hamsa hamidah, syukron… de el el,
        meski ga ada apa-apanya dibanding komen2 dan deskripsi Om LP ttg takdir misalnya, atau dibanding pembahasan artikel2 menggelitik dari Tulang Parhobas maupun komen dari para kontributor lainnya….

        harus fanya akui, I learn many things from you guys…. and I’m highly flattered by your sweet compliment. tq.

        gracas a deus, MGBU all.

        salam

      • @fanya : Bukan masalah biar kamu seneng, emang sejak semula sedari awal ya yang kumaksud penafsir di situ memang kamu 😀

        Viking membuat analogi yang menarik. Kamu menjelaskannya sedemikian bagus sehingga analogi itu jadi semakin menarik…

        Kalian bersua siplah….

        SALAM

  27. Salah ketik : Maksudnya Kalian berdua Siplah…

    He he he

    SALAM

    • @lovepassword

      tidak apalah, mereka “bersua” beneran juga gpplah, akan lebih mantap kayaknya…sehati sepikir gitu lho hehehheh

      iseng ajah….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: