Ini memang berbeda

Juni 12, 2010 pukul 4:18 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 18 Komentar
Tag: , ,

(John 20:26-29 [ITB])
Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Pembuktian, ya pembuktian adalah sarana yang amat sangat penting. Ketika banyak hal yang tidak kita ketahui maka penelitian akan sangat diperlukan. Dari banyak penelitian kemungkinan gagal selalu ada, tetapi oleh sekian kegagalan akan ditemukan keberhasilan, dan oleh keberhasilan itu didapatlah kesimpulan. Dan kita akan berkata: “Terbukti”.

Ada banyak hal memang disajikan cukup sekali saja, tanpa harus diulang-ulang, contohnya, kita beruntung mempunyai seorang Thomas, yang cenderung berpikiran kritis, “Aku ingin bukti katanya”. Memang bisa diterima akal, kalau kita masih terlalu sederhana di dalam pengenalan akan Kristus, dan harus diakui bahwa memang Thomas modern dan klasik yang masih mengandalkan analisa dan kehausan pikirannya ketimbang nalar rohaninya, seperti kita umumnya, termasuk yang ragu-ragu dengan segala keraguannya, bahwa meskipun sekian lama bersama Yesus, tetapi oleh suatu hal tertentu tidak dapat menyelami segala sesuatu yang terjadi dan tidak dapat menyelami perkataan-perkataan Yesus maupun Nubuat Kitab Suci. Thomas beruntung sekali bahwa kehausan pikirannya dijawab oleh YESUS, dan semoga cukup disitulah kehausan-kehausan pikiran yang seperti itu, sebab Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”. Memang Thomas amat sangat berbahagia bahwa ia dapat memuaskan pikirannya, tetapi betapa kita juga akan sangat berbahagia, jika memiliki iman, mengaku percaya, meski kita tidak dapat selalu merasakan lobang paku di tangan dan kakiNYA, atau luka di rusukNYA….Sekali saja, pembuktian itu disetujui…dan semoga rumusan pembuktian ala Thomas menjadi formula, hukum ketetapan bagi kita…

Dan Yesus berkata, “Percayalah”,…. cukuplah Thomas,… karena Ini memang berbeda, sebab satu atau sekali saja kiranya cukup dan kuat dan kokoh. Yesus tidak perlu berulang-ulang kali menemui Thomas-thomas modern, cukuplah si Thomas klasik itu menjadi contoh buat kita, menjadi batu penjuru iman kita.

Dan oleh tangan Thomas, maka kutipan ini akan menjadi amat sangat kuat artinya di dalam pembuktian,..

(1 John 1:1 [ITB])
Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Berbahagialah orang yang menghentikan pencarian dan menetapkan hatinya untuk berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku!”. Sebab ini memang beda, tidak selamanya dan tidak semua seperti Thomas. Pencarian akan melelahkan, allah lain akan menyesatkan, tuhan lain akan menipu, membawa kepada kematian yang kekal. Tetapi TUHAN kita bangkit dan hidup, dan tidak mempertahankan HIDUP itu sebagai milikNYA sendiri, melainkan membagikan HIDUP itu kepada kita yang seharusnya mati supaya beroleh KESATUAN di dalam KASIH KARUNIA-NYA Yang besar.

Iklan

18 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Oh iya Par, aku lagi ngedumel dengan murid TKku soal inerranci… Bagaimana menurutmu soal inerranci itu ? Menurutmu murid TKku emang benar ? Atau dia aslinya kurang sajen ?

    • @lovepassword

      apaan yang sedang dibahas?
      kasih poin dong, menurut muridmu apa, menurut kamu apa?

      lanjutkan!

      salam

  2. Kalo menurut murid TKku : Alkitab bisa/mungkin salah itu tidak bertentangan dengan inerrancy karena ada kata “mungkin” di situ… Kan dia tidak bilang pasti salah atau salah tetapi “MUNGKIN SALAH”… Kalo menurutku biarpun ada kata mungkin tetap saja itu bukan inerranci.

    Lha menurutmu inerrancy itu artinya apaan ?

  3. @lovepassword

    Kalo menurut murid TKku : Alkitab bisa/mungkin salah itu tidak bertentangan dengan inerrancy karena ada kata “mungkin” di situ… Kan dia tidak bilang pasti salah atau salah tetapi “MUNGKIN SALAH”… Kalo menurutku biarpun ada kata mungkin tetap saja itu bukan inerranci.

    Lha menurutmu inerrancy itu artinya apaan ?


    menurut muridmu:

    Kalo menurut murid TKku : Alkitab bisa/mungkin salah itu tidak bertentangan dengan inerrancy karena ada kata “mungkin” di situ… Kan dia tidak bilang pasti salah atau salah tetapi “MUNGKIN SALAH”…

    menurut Anda:

    biarpun ada kata mungkin tetap saja itu bukan inerranci

    pertanyaan supaya “apa menurutku” masuk,

    Lha menurutmu inerrancy itu artinya apaan ?

    saya jawab general,
    Kalau maksud Anda kata inneracy di atas adalah Bible Inneracy, maka menjelaskan tentang doktrin bahwa Alkitab akurat dan bebas dari segala kesalahan.

    Timbul pertanyaan, masing-masing agama kan memiliki Kitab Suci?, Nah namanya saja Kitab Suci, mana mungkin salah, kan gitu…

    Nah karena ada pula doktrin bahwa BENAR itu hanya Satu, maka masing-masing Kitab Suci di atas haruslah ada kesalahannya, sehingga menyisakan satu yang benar.

    Yahudi memiliki Kitab Suci, yang seluruhnya diambil oleh Kristen disebut Perjanjian Lama lalu dengan tambahan Perjanjian Baru, nah sekarang ada Kitab Suci baru yang sama sekali berbeda secara doktrinal dengan itu semua yaitu Al Quran… , tetapi saya tidak akan menyinggung Al Quran, karena saya masih yakin allah/tuhan yang disaksikan AL Quran bukan TUHAN Yang disaksikan oleh Alkitab, maka saya ambil Mormon saja, karena mereja juga mengambil Alkitab PL dan PB lalu menambahkan Kitab Suci Mormon.

    Nah perhatikan persoalan ini,
    Yahudi dengan PL
    Kristen dengan PL + PB
    Mormon dengan PL + PB + K.Mormon
    Maka Yahudi akan menganggap PB sebagai error terhadap PL apalagi K.Mormon,
    Kristen akan menganggap K. Mormon sebagai error terhadap PL + PB dan menganggap PL tanpa PB tidaklah lengkap,
    Mormon akan menganggap tanpa K. Mormon Alkitab tidak akurat,…

    lalu?, ya lalu mana yang bebas dari inneracy dong? dilihat dari segi manusianya, maka memang tidak ada yang bebas dari inneracy….
    sekali lagi dari segi manusianya,

    sekarang kita lanjut karena segi subjective manusianya ternyata bisa gagal menentukan “inneracy”, dalam arti secara umum bahwa campur tangan manusia bisa membuat ada kemungkian salah, seperti contoh di atas, Yahudi memandang PL sebagai inneracy tetapi PB tidak, Kristen memandang PL dan PB inneracy, dan Mormon dengan PL+PB+KM…

    nah dimana letaknya dong?
    bahwa apa yang diucapkan Kitab Suci itu menjadi acuan inneracy, bukan lagi apa yang ada, karena jelas PL dari Yahudi, Kristen dan Mormon tetaplah sama, tetapi apa yang disari dari sana bisa berbeda, sehingga perbedaan inilah yang melepaskan mereka keluar sementara dari inneracy, Yahudi menganggap apa yang diucapkan PL tidak seperti apa yang diucapkan PLnya Kristen, dan seternya ke Mormonr, biarpun tulisannya secara teks sama, totally sama.

    Jadi akhirnya, kemungkinan inneracy itu ada, jika memandang iman seseorang, sama seperi kawan Islam menuduh Alkitab full of error karena mereka memiliki Kitab Suci juga,… d.l.l, kalau mereka tidak memiliki Kitab Suci, tentu tuduhan itu tidak akan ada, dan tuduhan itu semakin kencang karena ada label “samawi”, … hehehe

    (dan …. apa yang dihasilkan manusia akan amat sangat melelahkan,…. terlihat jelas kan di penjelasna di atas?)

    Untuk membaca Alkitab memang butuh iman, karena kita berhadapan dengan TUHAN, karena TUHAN Maha, dan memang tidak semua orang memiliki anugerah iman yang kuat… maka oleh iman yang kuatlah yang sanggup melabeli Kitab Suci sebagai inneracy, tidak selamanya TUHAN berhadapan langsung dengan kita, karena kita tidak selamanya sanggup mendengar suaraNYA oleh ROH KUDUS-Nya, tetapi Kitab Suci ada bersama kita selama hidup kita, … nah kalau Landasannya tidak ia percayai sebagai BENAR, apa artinya berpijak di tanah gersang ya toh?,…. jadi inneracy seharusnya dibatasi oleh iman seseorang, bukan oleh hukum-hukum orang itu sendiri,….

    iman seseorang akan terlihat dari buah rohaniahnya, jikalau seseorang berkata Alkitab bebas dari Error, tetapi pebuatannya ERROR setiap hari, maka apa gunanya?, orang akan menhakimi Alkitab sebagai Error karena orang yang mempercayainya ternyata berbuat Error… sering terjadi demikian walaupun tidak seluruhnya…

    Apa yang dihasilkan hati juga perlu,
    contoh… Kita percaya nabi tidak akan berbohong,
    tetapi bagaimana jika ternyata nabi berbohong?
    (Nabi di sini, adalah seluruhnya nabi, sebab ternyata ada nabi yang asli dan ada yang palsu)
    Jika nabi asli dituduh berbohong, artinya kitab yang ia tulis dituduh berbohong, maka ia akan mati dengan imannya untuk mempertahankan bahwa kitab yang ia tulis tidaklah berbohong,
    tetapi jika nabi itu benar-benar berbohong, maka ia akan berjuang mati-matian untuk untuk membungkus kebohongannya…
    aplikasinya, Jika nabi-nabi ini percaya TUHAN MAHA KUASA, maka buktikanlah IA MAHA KUASA….

    Nah ada satu hal yang perlu juga,
    Alkitab memang ditulis oleh manusia,… tetapi manusia yang mana dan yang bagaimana?
    ada sedikit kesalahan pada kita, kita cenderung meneliti teks dan logika tulisan Kitab Suci, padahal penulis jelas berbeda dari kita dari segi iman, mereka, penulis bertemu langsung dengan Penginspirasi, lha kita yang membaca? belum tentu toh? Petrus misalkan pernah membangkitkan orang mati, nah iman seperti apa yang Petrus miliki sampai2 kita harus mengklaim apa yang ia tulis salah, sementara kita untuk menghilangkan dosa-dosa kecil saja susah, bahkan untuk mempercayai TUHAN saja susah, kan gitu?…

    salam

  4. Dari tulisanmu yang cukup panjang lebar ini, saya rasa bisa kita rangkum beberapa kesimpulan ( kalo saya nggak salah tangkep sih)

    Pertama : Secara umum saya rasa bisa kita katakan wajar bahkan seharusnya jika pemeluk agama percaya dengan iman mereka bahwa Kitab Suci mereka benar, tidak mungkin salah…

    “kalau Landasannya tidak ia percayai sebagai BENAR, apa artinya berpijak di tanah gersang ya toh”

    Kedua : Iman Subjektif ini sangat mungkin akan “mengalami pertemuan” dengan Iman orang lain, pemeluk agama lain dsb yang sama-sama percaya bahwa iman mereka memberitahukan bahwa Kitab Suci mereka benar …, Inerrancy dsb…

    Ketiga : Ada gap jaman, perbedaan pengalaman iman dan sebagainya antara orang2 yang hidup pada masa agama diturunkan/mulai ada dengan masa sekarang, sehingga tidak sedemikian mudah kita bisa menilai bahkan mengadili mereka dengan perspektif jaman sekarang….

    Keempat: Menurutmu perbuatan atau buah itu penting, karena dari buahnyalah seseorang akan dinilai oleh orang lain…

    ================================
    Menarik…menarik….

    dari paparan ini kalo saya tidak salah tangkep, kamu mestinya menganggap bahwa semestinya yang namanya pemeluk agama ya wajar saja bahkan semestinya mempercayai inerrancy atau kebebasan dari kesalahan Kitab Suci mereka…

    Pertanyaannya : Terkait dengan Inerrancy, batasan Inerrancy yang seperti apa yang layak dipercayai ? Karena kata bukunya Tatang Sutarman, yang namanya Inerrancy sendiri ada banyak, bukan cuma satu jenis…

    Misalnya saja Inerranci yang Absolute di segala sektor atau setiap isinya…
    Atau Inerrancy dalam hal tertentu saja…

    Bagaimana menurutmu… ?

    SALAM

    • @lovepassword

      dari sari yang Anda ambil, hanya satu yang kurang,
      bahwa memang ada nabi, biarpun ia mengaku nabi, tetapi ia sebenarnya pembohong,.. contoh Bileam di Perjanjian Lama, ia memang nabi, tetapi nabi yang disuap….

      ada juga nabi di jaman keruntuhan Israel, pada jaman pembangunan kembali Bait Suci, nabi palsu… banyak nabi palsi, dan nabi palsu ini jg mengklaim bahwa mereka BENAR…

      nah karena tercecer satu ini, maka saya bergerak dari sini saja…
      Nabi ada kecenderungan menulis Kitab, karena ALLAH mempercayakan FirmanNYA kepada manusia seperti itu…

      so bagaimana kita menilai Nabi yang benar dan Nabi yang palsu dari segi ultimate inneracy atau mutlak benar, absolute benar?

      Kalau Anda percaya TUHAN, tentu Anda juga harus percaya bahwa Yang Absolute hanya DIA, dan Yang Ultimate hanya DIA, dan karena itulah orang Yang percaya TUHAN seharusnya tidak memandang relatif atas apapun yang bernilai BENAR, sehingga BENAR hanya 0 dan 1, YA atau TIDAK, 0 atau TIDAK artinya KETIADAAN BENAR…
      Nah hubungannya dengan Absolute Inneracy adalah….
      ROH KUDUS, dan karena Petrus dan rasul dan Nabi memang mengakui dan menyelidiki akan itu semua, tentang ALLAH, dan mereka benar mengalami perjumpaan dengan TUHAN melalui ROH KUDUS, sehingga oleh ROH KUDUS segala sesuatu yang salah dari kita segala sesuatu yang menjadi potensi ketiadaan inneracy dijadikan DIA absolute inneracy karena ALLAH tidak mungkin berdusa…

      lovepassword, itulah keunggulan dasar dan kesaksian ALKITAB dari Kita Suci lain, sebab dasarnya ALLAH, dan sumbernya ALLAH dan saksinya ALLAH itu sendiri….
      nah di sinilah kenapa setiap Pendeta di jaman yang jauh dari pada penulis Alkitab ada klaim diurapi Roh KUDUS, diurapi ALLAH, karena hanya ALLAH-lah Yang Benar…

      karena ALLAH YANG benar maka iman kita kepada DIA memampukan kita benar. Dan karena tidak selamanya kita merasakan hadiratNYA maka ALKITAB yang dibangun diatas kesaksian ROH ALLAH menjadi sahabat sepanjang jaman manusia…

      Tidak mungkin ALLAH menginginkan dunia ini, karena dunia akan kiamat,
      lalu bagaimana mungkin agama mengajarkan pengambilan kekuasaan?nah kalau ada agama yang mengajarkan tentang berbagai-bagai kekuasaan, berarti Kitab Sucinya tidak diilhami Roh Kudus… berarti Kitab Suci itu ketiadaan inneracy…

      Salam

  5. diskusi yg enak disimak, terlalu berharga buat dilewatkan…. bahkan dibanding world cup !

  6. Jawabanmu ini ada aroma semangat, meskipun tetap penuh kehati-hatian… Saya harus mikir kalem-kalem dulu sebelum ngomong…

    Hmmm….

    Pertama : Saya tidak tahu apa relevansi omongan kita dengan kekuasaan.
    Saya menangkap kesan : Seakan dalam pola pikir sebagian orang Kristen sekarang , ada semacam trend , bahwa PL itu seperti itu, PB seperti itu. PB memperbarui PL…

    Sah-sah saja pola pikir beginian, tetapi kan ada juga sisi yang lain yang perlu dilihat . Yaitu akar sosiologisnya, PL begitu mengapa kok begitu. PB begitu , lha mengapa kok begitu…

    Mengapa dalam PL , Allah digambarkan begitu keras, lebih berwajah Keadilan sementara dalam PB misalnya Allah digambarkan begitu lembut , berwajah Kasih misalnya… Alasannya apa kok bisa gitu…Mengapa jika dalam satu kurun waktu keadaan semacam dalam PL itu bisa ditorelir dengan aneka alasan. Keadaan dengan suasan sosiologis yang sama yang menghasilkan hasil yang sedikit banyak mirip menjadi diartikan lain…

    contoh Bileam di Perjanjian Lama, ia memang nabi, tetapi nabi yang disuap….===> Lha mudah-mudahan saja tokoh2 agama jaman sekarang punya ilmu ajian kebal suap 😀

    lovepassword, itulah keunggulan dasar dan kesaksian ALKITAB dari Kita Suci lain, sebab dasarnya ALLAH, dan sumbernya ALLAH dan saksinya ALLAH itu sendiri….===> Sebagai seorang yang cukup menguasai agama, intens juga dalam diskusi antar agama, saya rasa anda paham bahwa konsep yang seperti ini juga merupakan satu konsep yang juga cukup wajar bila dipercayai oleh umat beragama, termasuk Kristen dalam hal ini. Dalam Islam sebagai contoh, bahkan dipercaya bahwa AlQuran berasal dari Allah sendiri…

    Kalau Anda percaya TUHAN, tentu Anda juga harus percaya bahwa Yang Absolute hanya DIA, dan Yang Ultimate hanya DIA, dan karena itulah orang Yang percaya TUHAN seharusnya tidak memandang relatif atas apapun yang bernilai BENAR, sehingga BENAR hanya 0 dan 1, YA atau TIDAK, 0 atau TIDAK artinya KETIADAAN BENAR…
    ===> Seperti dua point ucapanku di atas : Secara umum bisa kita anggap wajar bila pemeluk agama menyakini bahwa agamanya benar, lha keyakinan tersebut akan mengalami perjumpaan dengan keyakinan umat yang lain…

    Tetapi perlu juga dicatat :
    Meskipun secara umum umat beragama meyakini Kitab Sucinya pasti benar. Kecuali mungkin yang liberal dalam agama masing2. Tidak berarti juga absolute mutlak itu bisa diraih manusia. Karena kalopun Kitab Suci dianggap benar, tidak ada yang mengatakan bahwa tafsir pasti benar.

    Tidak mungkin ALLAH menginginkan dunia ini, karena dunia akan kiamat, ===> Apa yang diinginkan Allah dengan penciptaan manusia dan alam semesta saja aku tidak tahu Par…

    • @lovepassword

      Pertama : Saya tidak tahu apa relevansi omongan kita dengan kekuasaan.
      hehehe ngga nemu yah,
      gini lovepassword,… jika YESUS mau mencai muka dan kekuasaan secara duniawi maka dengan mudah IA dapat memimpin pemberontakan melawan ROMAWI; nyatanya tidak… dan hampir semua NABI tidak ada yang berminat akan kekuasaan… kenapa dengan kekuasaan?; karena dengan kekuasaan orang bisa mengubah sejarah, tulisan d.l.l, nah dengan demikian akan mudah memanipulasi “tulisan dari TUHAN” demi diri sendiri, kebayangkan jika DAUD orientasi kekuasaan, maka kisah tentang PERSELINGKUHANNYA dengan Betsyeba tidak akan tertulis di ALKITAB, IA akan memerintahkan siapa saja untuk dapat mengubahnya.. nyatanya tidak bukan…keluarga DAUD, Raja-raja Yehuda tidak akan ada yang berani mengubahnya… karena INNERACY di tangan TUHAN,…

      Saya menangkap kesan : Seakan dalam pola pikir sebagian orang Kristen sekarang , ada semacam trend , bahwa PL itu seperti itu, PB seperti itu. PB memperbarui PL…
      entah Kristen mana yang Anda maksud, tetapi nyatanya PB tidak ada sedikitpun memperbaharui PL; tetapi PB menggenapi apa yang disebutkan di PL…so harus lebih spesifik apa yang Anda maksud yang diperbaharui…

      Sah-sah saja pola pikir beginian, tetapi kan ada juga sisi yang lain yang perlu dilihat . Yaitu akar sosiologisnya, PL begitu mengapa kok begitu. PB begitu , lha mengapa kok begitu…

      Mengapa dalam PL , Allah digambarkan begitu keras, lebih berwajah Keadilan sementara dalam PB misalnya Allah digambarkan begitu lembut , berwajah Kasih misalnya… Alasannya apa kok bisa gitu…Mengapa jika dalam satu kurun waktu keadaan semacam dalam PL itu bisa ditorelir dengan aneka alasan. Keadaan dengan suasan sosiologis yang sama yang menghasilkan hasil yang sedikit banyak mirip menjadi diartikan lain…
      yang tidak paham dan kurang iman saja yang bilang begitu…
      Kalau digambarkan berwajar sangar; lalu kenapa ada mazmur berbunyi:”TUHAN adalah gembalaku tak akan kekurangan aku…”

      contoh Bileam di Perjanjian Lama, ia memang nabi, tetapi nabi yang disuap….===> Lha mudah-mudahan saja tokoh2 agama jaman sekarang punya ilmu ajian kebal suap 😀
      itu akan selalu ada; makanya ALKITAB menulisnya

      lovepassword, itulah keunggulan dasar dan kesaksian ALKITAB dari Kita Suci lain, sebab dasarnya ALLAH, dan sumbernya ALLAH dan saksinya ALLAH itu sendiri….===> Sebagai seorang yang cukup menguasai agama, intens juga dalam diskusi antar agama, saya rasa anda paham bahwa konsep yang seperti ini juga merupakan satu konsep yang juga cukup wajar bila dipercayai oleh umat beragama, termasuk Kristen dalam hal ini. Dalam Islam sebagai contoh, bahkan dipercaya bahwa AlQuran berasal dari Allah sendiri…
      sayangnya tidak ada satupun Islam yang mengenal siapa ROH KUDUS…dan sepertinya Anda belum menangkap point utama saya di situ. Gini lovepassword, jika seorang Islam hebat di dalam pengetahuan agamanya, maka bisa dikatakan ia lebih mengenal agama otomatis lebih dekat ke allahnya, tetapi di Kristen tidak demikian; acuan utama tetap ROH KUDUS, seberapa besarpun pengetahuan Anda, kalau tidak ada buah ROH, semuahya hanya kehampaan, jadi SAKSI tetaplah ROH KUDUS dari sejak IA turun sampai maranatha… dimana ada yang seperti itu?….

      Kalau Anda percaya TUHAN, tentu Anda juga harus percaya bahwa Yang Absolute hanya DIA, dan Yang Ultimate hanya DIA, dan karena itulah orang Yang percaya TUHAN seharusnya tidak memandang relatif atas apapun yang bernilai BENAR, sehingga BENAR hanya 0 dan 1, YA atau TIDAK, 0 atau TIDAK artinya KETIADAAN BENAR…
      ===> Seperti dua point ucapanku di atas : Secara umum bisa kita anggap wajar bila pemeluk agama menyakini bahwa agamanya benar, lha keyakinan tersebut akan mengalami perjumpaan dengan keyakinan umat yang lain…
      ok, silahkan lihat argument saya di atas

      Tetapi perlu juga dicatat :
      Meskipun secara umum umat beragama meyakini Kitab Sucinya pasti benar. Kecuali mungkin yang liberal dalam agama masing2. Tidak berarti juga absolute mutlak itu bisa diraih manusia. Karena kalopun Kitab Suci dianggap benar, tidak ada yang mengatakan bahwa tafsir pasti benar.
      jangan membawa kepada manusia lagi acuannya kawan, kita sudah melangkah dari manusia itu, sebab di mata manusia semuanya masih ada potensi relatif, ya toh?… jadi kalau Anda masih membawa2 manusia repot,… saya kira Anda sudah setuju ternyata tidak, kalau kita membawa2 manusia, maka cuan utama atas inneracy adalah iman masing2.. dan iman adalah anugerah…

      Tidak mungkin ALLAH menginginkan dunia ini, karena dunia akan kiamat, ===> Apa yang diinginkan Allah dengan penciptaan manusia dan alam semesta saja aku tidak tahu Par…
      makanya sampean ngga usah terlalu repot mengurusi ALKITAB kalau hati Anda jauh dari ALKITAB…, apa maumu?…
      Masak hal mendasar saja masih bingung tapi berlagak membahas hal2 yang di atasnya? hahahaha aneh sekali memang…
      Segala sesuatu ada demi kemulianNYA… pernah dengar kata ini? saya jamin ya, paham tidak maknanya? saya jamin tidak, karena statementmu di atas menjadi acuan saya…

    • Saya rasa penarikan kesimpulanmu rada parsial Par…

      Kalo masalah teguran , teguran terhadap Muhammad itu juga tertulis di AlQuran…

      jika YESUS mau mencai muka dan kekuasaan secara duniawi maka dengan mudah IA dapat memimpin pemberontakan melawan ROMAWI; ===> Yah sebagian Yahudi memang mengambil sudut pandang ini…Lalu mengapa mereka bisa berpikir bahwa Mesias itu adalah orang atau pemimpin yang memerdekakan Yahudi dari Romawi ? Karena mereka punya alasan sosiologis historis dalam PL mereka bahwa para Nabi dan tokoh2 PL misalnya Musa, dsb adalah seorang pemimpin masyarakat…

      yang tidak paham dan kurang iman saja yang bilang begitu…
      Kalau digambarkan berwajar sangar; lalu kenapa ada mazmur berbunyi:”TUHAN adalah gembalaku tak akan kekurangan aku…” ===> Saya rasa perdebatan mengenai bagaimana memandang PL dari sudut pandang PB adalah perdebatan klasik yang kaya warna, tetapi kalo kamu cukup mudah mereduksi hal itu menjadi kurang iman atau kelebihan iman, tentu hakmu.

      Saya rasa data kekerasan dalam PL itu kan emang lebih banyak. Mazmur tidak bicara soal data itu. Mazmur adalah ungkapan seorang hamba kepada Tuhannya… Sebagian isinya ya puji-pujian buat Tuhan seperti kalo Bimbo nyanyi , dsb…

      sayangnya tidak ada satupun Islam yang mengenal siapa ROH KUDUS…dan sepertinya Anda belum menangkap point utama saya di situ. Gini lovepassword, jika seorang Islam hebat di dalam pengetahuan agamanya, maka bisa dikatakan ia lebih mengenal agama otomatis lebih dekat ke allahnya, tetapi di Kristen tidak demikian; acuan utama tetap ROH KUDUS, seberapa besarpun pengetahuan Anda, kalau tidak ada buah ROH, semuahya hanya kehampaan, jadi SAKSI tetaplah ROH KUDUS dari sejak IA turun sampai maranatha… dimana ada yang seperti itu?…. ===> Di dalam banyak agama termasuk Islam dan Kristen, ada dua aspek yang harus dilihat. Agama memang menyuruh manusia berusaha tetapi hasil usaha itu terkait dengan kemurahan Tuhan. Kemurahan Tuhan tidak bisa dijadikan pembenar manusia tidak perlu berusaha, belajar dsb – tetapi sebaliknya juga ada kesadaran bahwa penentunya memang bukan manusia…

      Dua jawabanmu paling bawah itu kontradiktif.

      1>jangan membawa kepada manusia lagi acuannya kawan, kita sudah melangkah dari manusia itu

      2>Masak hal mendasar saja masih bingung tapi berlagak membahas hal2 yang di atasnya? hahahaha aneh sekali memang…
      Segala sesuatu ada demi kemulianNYA… pernah dengar kata ini?

      Perintah menyembah Allah, dalam bahasa Kristen memuliakan Allah, dsb adalah perintah yang saya rasa perlu dilihat dari sudut pandang manusia. Mengapa ? Karena yang butuh memuliakan Allah, menyembah Allah ya manusia. Sementara pada sisi lain saya tidak yakin Allah sedemikian membutuhkan manusia.
      Yang butuh Allah kan manusia. Bukan sebaliknya Allah butuh manusia agar ada yang menyembah, ada yang memuja muji, dsb…Jadi segala ibadah saya rasa sudut pandangnya adalah dikembalikan untuk kebaikan manusia itu sendiri…

      Dalam bahasa yang lebih Kristiani 😀 ada istilah – Cinta Allah itu istilahnya kalo nggak salah Agape… Cinta yang tidak mengharapkan balasan….

      Jadi di satu sisi kamu menolak sudut pandang dari sisi manusia, pada sisi sebaliknya : Ketika kamu mengatakan kemuliaan Allah dsb, saya sendiri tidak yakin Allah membutuhkan kemuliaan dari manusia karena Allah toh sudah mulia dari sononya….

      SALAM
      GBU

      • @lovepassword

        Saya rasa penarikan kesimpulanmu rada parsial Par…

        Kalo masalah teguran , teguran terhadap Muhammad itu juga tertulis di AlQuran…
        no comment

        jika YESUS mau mencai muka dan kekuasaan secara duniawi maka dengan mudah IA dapat memimpin pemberontakan melawan ROMAWI; ===> Yah sebagian Yahudi memang mengambil sudut pandang ini…Lalu mengapa mereka bisa berpikir bahwa Mesias itu adalah orang atau pemimpin yang memerdekakan Yahudi dari Romawi ? Karena mereka punya alasan sosiologis historis dalam PL mereka bahwa para Nabi dan tokoh2 PL misalnya Musa, dsb adalah seorang pemimpin masyarakat…

        selami lebih dalam, bukan perkara ‘pemimpin pembebasan’,…. tetapi kalau niat Anda kesana di dalam mengkontraskan PL dan PB, perhatikan kisah Israel, ketika mereka berdosa kepada TUHAN, apakah TUHAN mengutus ‘pembebas’? TIDAK, malah mereka dihukum. So,ketika YESUS datang, apakah ISRAEL sedang berdosa? atau mereka membutuhkan orang semacam ‘pembebas’ di masa HAKIM-HAKIM?….
        nah kalau Anda ingat komen Anda di artikel lain mengenai ‘kejahatan2’ pemuka agama maka Anda seharusnya mengerti dan paham bahwa orang2 seperti itu layak dihukum dan bukan dibebaskan, karena hatinya sudah keras, salah satu contohnya menghakimi YESUS tidak melakukan SABAT,padahal Kitab Suci saja mereka tolak di dalam prakteknya….

        yang tidak paham dan kurang iman saja yang bilang begitu…
        Kalau digambarkan berwajar sangar; lalu kenapa ada mazmur berbunyi:”TUHAN adalah gembalaku tak akan kekurangan aku…” ===> Saya rasa perdebatan mengenai bagaimana memandang PL dari sudut pandang PB adalah perdebatan klasik yang kaya warna, tetapi kalo kamu cukup mudah mereduksi hal itu menjadi kurang iman atau kelebihan iman, tentu hakmu.

        gini kawan, di PL banyak berita penghakiman, karena memang banyak narasi keberdosaan, banyak gambaran tentang hukuman dosa, di PB dijelaskan tentang bagaimana menyelesaikan keberdosaan itu, …
        nah kalau imanmu tidak sampai menyadari bahwa ada HUKUMAN, maka akan mencoba mereduksi arti KUDUS, SETIA d.l.l, sehingga ingin menang sendiri….ujungnya tidak membutuhkan KRISTUS,….itulah PLOT besarnya. Jadi iman ditumbuhkan, KRISTUS diterima, selami lebih dalam, sehingga bisa menemukan GARIS Besarnya, sama seperti Paulus, saya yakin dia sepikiran dengan para ahli taurat dan ahli agama pada saat itu, bedanya, dia ini memang murni hatinya….Dia membunuh karena ia yakin Kristen pasti salah, tetapi nyatanya? ia berani mengutip PL untuk mengisi PB….

        Saya rasa data kekerasan dalam PL itu kan emang lebih banyak. Mazmur tidak bicara soal data itu. Mazmur adalah ungkapan seorang hamba kepada Tuhannya… Sebagian isinya ya puji-pujian buat Tuhan seperti kalo Bimbo nyanyi , dsb…
        Jadi maksud Anda, Mazmur bukan PL….sedikitlah spesifik, jgn buat generalisasi… bahkan Kejadianpun banyak menceritakan tentang KASIH Allah sama seperti di PB,…. saya kira orang kadang gagal menemukan LINKnya karena memang imannya sedang kacau balau…Paulus, Petrus Yohanes,Yakobus d.l.l bisa menemukan LINKnya sehingga mereka tidak kacau balau…

        sayangnya tidak ada satupun Islam yang mengenal siapa ROH KUDUS…dan sepertinya Anda belum menangkap point utama saya di situ. Gini lovepassword, jika seorang Islam hebat di dalam pengetahuan agamanya, maka bisa dikatakan ia lebih mengenal agama otomatis lebih dekat ke allahnya, tetapi di Kristen tidak demikian; acuan utama tetap ROH KUDUS, seberapa besarpun pengetahuan Anda, kalau tidak ada buah ROH, semuahya hanya kehampaan, jadi SAKSI tetaplah ROH KUDUS dari sejak IA turun sampai maranatha… dimana ada yang seperti itu?…. ===> Di dalam banyak agama termasuk Islam dan Kristen, ada dua aspek yang harus dilihat. Agama memang menyuruh manusia berusaha tetapi hasil usaha itu terkait dengan kemurahan Tuhan. Kemurahan Tuhan tidak bisa dijadikan pembenar manusia tidak perlu berusaha, belajar dsb – tetapi sebaliknya juga ada kesadaran bahwa penentunya memang bukan manusia…
        makanya karena penentunya bukan manusia, maka setiap orang harus percaya dan yakin bahwa penentu adalah ALLAH itu sendiri, dan Alkitab mengajarkan setelah Roh KUDUS turun, IA adalah penentu, IA adalah ALLAH….makanya jika diselami dan didalami dan diimani, itulah keunggulan yang tidak dapat diterima dunia ini

        Dua jawabanmu paling bawah itu kontradiktif.

        1>jangan membawa kepada manusia lagi acuannya kawan, kita sudah melangkah dari manusia itu

        2>Masak hal mendasar saja masih bingung tapi berlagak membahas hal2 yang di atasnya? hahahaha aneh sekali memang…
        Segala sesuatu ada demi kemulianNYA… pernah dengar kata ini?

        di bagian mananya yang kontradiktif?
        yang pertama itu saya tekankan untuk mengingatkan Anda bahwa kalau manusia dibuat sebagai acuan maka tidak akan ada yang benar…

        sedang yang kedua saya sebut, karena pernyataan Anda yang mengatakan bahwa kenapa Allah menciptakan manusia saha Anda masih belum menemukan jawabnnya…. saya katakan, semua dan segala sesuatu ada demi kemulianNYA…

        so dimana kontradiktifnya?
        Anda tahu defenisi kontradiktid toh? bahwa di dalam kotradiksi ada variable SENSE dan TIMING yang harus dipertimbangkan…Anda telah mengilangkan SENSE, dan seolah TIMINGnya secara bersamaan…

        Perintah menyembah Allah, dalam bahasa Kristen memuliakan Allah, dsb adalah perintah yang saya rasa perlu dilihat dari sudut pandang manusia. Mengapa ? Karena yang butuh memuliakan Allah, menyembah Allah ya manusia. Sementara pada sisi lain saya tidak yakin Allah sedemikian membutuhkan manusia.
        Yang butuh Allah kan manusia. Bukan sebaliknya Allah butuh manusia agar ada yang menyembah, ada yang memuja muji, dsb…Jadi segala ibadah saya rasa sudut pandangnya adalah dikembalikan untuk kebaikan manusia itu sendiri…
        kalau point Anda di sini, kira2 begini…Yang memampukan orang sanggup menyembah TUHAN siapa? ROH KUDUS bukan? Anda mau menyembah TUHAN kenapa? karena Anda percaya bukan?, Anda bisa percaya kenapa? karena ROH KUDUS mengetok pintu hati Anda bukan?
        sudut pandang manusia melelahkan dirinya sendiri…. seperti kata lae Sihotang di lain artikel, daging kita memang perlu dilatih, karena ialah yang harus melakukan dan ditundukkan…

        Dalam bahasa yang lebih Kristiani 😀 ada istilah – Cinta Allah itu istilahnya kalo nggak salah Agape… Cinta yang tidak mengharapkan balasan….

        Jadi di satu sisi kamu menolak sudut pandang dari sisi manusia, pada sisi sebaliknya : Ketika kamu mengatakan kemuliaan Allah dsb, saya sendiri tidak yakin Allah membutuhkan kemuliaan dari manusia karena Allah toh sudah mulia dari sononya….
        kawan-kawan… itu karena Anda memahami ‘membutuhkan’ kemuliaan itu sebagai sesuatu yang sya sebut di atas CARI MUKA, atau KEKUASAAN…SENSE dan TIMINGnya harus didapat sebelum ada kesimpulan kontradiksi OK bung…
        gini contohnya,….Firaun ‘dihukum’ untuk menunjukkan KEMULIAAN Tuhan, bahwa IA adalah ALLAH dari segala allah…. tetapi sebelum menunjukkan kemuliaan itu, TUHAN memilih satu bangsa jauh sebelum kejadian itu, ISRAEL dipilih….nah melalu umat ALLAH, ISRAEL, yang TUHAN buat sendiri, IA menunjukkan kemuliaanNYA, Israel disebut umatNYA karena orang ISRAEL dianugerahi ROH TUHAN… itu general… sekarang pribadi, apakah semua orang ISRAEL dianugerahiseperti itu? ternyata tidak, sebab ada pribadi-pribadi yang masih menolak TUHAN, contohnya bani KORAH, d.l.l,…. sekarang ke hal kecil lagi, …. TUHAM menunjukkan KEMULIANNYA kepada DAUD, caranya? DAUD diampuni oleh keberdosaannya….Jadi KEMULIAAN itu sudah ada dari KEKAL ke KEKAL, tidak berubah,… makanya IA disebut ALFA dan OMEGA…IA tidak bertambah kemuliaan karena disembah manusia, KEMULIAANNYA SUDAH ADA, AKAN ADA dan AKAN DATANG….singkatnya, dengan contoh lain TUHAN tidak akan disebut PENCIPTA kalau IA tidak menciptakan dunia dan segala isinya bukan?… Tetapi kita memanggilNYA Pencipta karena kita menyaksikan dan percaya bahwa IA adalah asal dari segala sesuatu…lalu apakah IA menjadi SANGAT PENCIPTA karena kita percaya IA adalah Pencipta? TIDAK? apakah IA tidak menjadi PENCIPTA karena ada orang yang TIDAK percaya TUHAN? TIDAK…. IA KEKAL…

        contoh applikasinya berikut:
        dan hal dasar inilah yang masih jauh dari pemahaman Anda….
        kiranya TUHAN mengetok terus…..tetapi responilah ketokan itu,….
        direspon ataupun tidak TUHAN tetap mengetok… IA tidak berubah,.. Andalah yang berubah jika merespon, setelah merespon Anda akan diubahkan menjadi sama seperti KRISTUS…

        SALAM
        GBU

      • selami lebih dalam, bukan perkara ‘pemimpin pembebasan’,…. tetapi kalau niat Anda kesana di dalam mengkontraskan PL dan PB, perhatikan kisah Israel, ketika mereka berdosa kepada TUHAN, apakah TUHAN mengutus ‘pembebas’? TIDAK, malah mereka dihukum. So,ketika YESUS datang, apakah ISRAEL sedang berdosa? atau mereka membutuhkan orang semacam ‘pembebas’ di masa HAKIM-HAKIM?….
        nah kalau Anda ingat komen Anda di artikel lain mengenai ‘kejahatan2′ pemuka agama maka Anda seharusnya mengerti dan paham bahwa orang2 seperti itu layak dihukum dan bukan dibebaskan, karena hatinya sudah keras, salah satu contohnya menghakimi YESUS tidak melakukan SABAT,padahal Kitab Suci saja mereka tolak di dalam prakteknya….

        ===> Saya rasa akarnya tuh gini saya cuma mau ngomong mengaitkan antara Nabi dan Bukan Nabi dengan alasan kekuasaan atau bukan kekuasaan , saya rasa bukan sebuah alasan yang cukup kuat. Mengapa demikian ? Karena tidak ada relevansinya. Dalam data sejarah PL pun ada juga Nabi yang memegang kekuasaan. Tokoh2 Alkitab lebih2 di PL yang memegang kekuasaan juga banyak.

        Jadi maksud Anda, Mazmur bukan PL….? Tentu bukan gicu kesimpulannya. Yang saya maksud Mazmur itu kan isinya nyanyian puji-pujian bukan berisi Data , semacam pada hari anu atau pada saat itu ada peristiwa X misalnya… Mazmur tidak berfokus pada pencatatan peristiwa itu.

        bahkan Kejadianpun banyak menceritakan tentang KASIH Allah sama seperti di PB,…. saya kira orang kadang gagal menemukan LINKnya karena memang imannya sedang kacau balau…Paulus, Petrus Yohanes,Yakobus d.l.l bisa menemukan LINKnya sehingga mereka tidak kacau balau… ===> Saya rasa sudut pandangku tidak hitam putih kayak gitu. Kalo ada keadilan berarti tidak ada kasih atau sebaliknya kalo ada kasih tidak ada keadilan. Bukan seperti itu kan sudut pandangnya. Yang saya katakan adalah ada kesan penekanan yang berbeda…. dalam kisah itu… Feelnya lain, nuansa psikologisnya memang lain… Ini bukan sekedar mengarang cerita, karena pertanyaan atau kalimat yang saya ucapkan ini adalah pertanyaan banyak orang termasuk banyak juga di berbagai situs Kristen …
        ===============================
        kalau point Anda di sini, kira2 begini…Yang memampukan orang sanggup menyembah TUHAN siapa? ROH KUDUS bukan? Anda mau menyembah TUHAN kenapa? karena Anda percaya bukan?, Anda bisa percaya kenapa? karena ROH KUDUS mengetok pintu hati Anda bukan?
        sudut pandang manusia melelahkan dirinya sendiri…. seperti kata lae Sihotang di lain artikel, daging kita memang perlu dilatih, karena ialah yang harus melakukan dan ditundukkan…

        ===> Sudut pandang manusia melelahkan ? Saya rasa sudut pandang manusia adalah sudut pandang yang paling jujur karena kita ini memang manusia… Kita bisa berpura-pura bahwa kita ini Tuhan atau seakan membayangkan apa yang kita lakukan, yakini dan sebagainya memang sama seperti keinginan Tuhan – tetapi tetap saja kita ini manusia dan tetap manusia ….

        IA tidak bertambah kemuliaan karena disembah manusia, KEMULIAANNYA SUDAH ADA, AKAN ADA dan AKAN DATANG…
        ===> Justru itulah maka saya katakan konsep bahwa manusia memuliakan Tuhan adalah konsep dari sisi manusia . Manusia merasa berbuat sesuatu untuk kemuliaan Tuhan, dsb tetapi jika Tuhan itu kita ibaratkan samudra, tindakan manusia seperti menabur garam di samudra padahal garam yang dia ambil asalnya justru dari samudra…

        Yang memampukan orang sanggup menyembah TUHAN siapa? ROH KUDUS bukan? Anda mau menyembah TUHAN kenapa? karena Anda percaya bukan?, Anda bisa percaya kenapa? karena ROH KUDUS mengetok pintu hati Anda bukan? ===> Dalam agama ada dua aspek : Kehendak Tuhan dan Kehendak Manusia…
        Ada pertemuan, ada perjumpaan dua hal itu…

        Kita bisa mengatakan Tuhan menentukan. Silahkan baik-baik saja. Tetapi mengingat bahwa manusia juga bukan robot ada sisi kehendak bebas manusia juga untuk menerima atau menolak…

        Anda bisa percaya kenapa? karena ROH KUDUS mengetok pintu hati Anda bukan? ===> Ada ayat yang saya rasa cukup terkenal Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Menurutmu yang mengetuk itu manusia atau Tuhan ?

        SALAM Parhobass
        Nice to meet you

      • @lovepasword

        selami lebih dalam, bukan perkara ‘pemimpin pembebasan’,…. tetapi kalau niat Anda kesana di dalam mengkontraskan PL dan PB, perhatikan kisah Israel, ketika mereka berdosa kepada TUHAN, apakah TUHAN mengutus ‘pembebas’? TIDAK, malah mereka dihukum. So,ketika YESUS datang, apakah ISRAEL sedang berdosa? atau mereka membutuhkan orang semacam ‘pembebas’ di masa HAKIM-HAKIM?….
        nah kalau Anda ingat komen Anda di artikel lain mengenai ‘kejahatan2′ pemuka agama maka Anda seharusnya mengerti dan paham bahwa orang2 seperti itu layak dihukum dan bukan dibebaskan, karena hatinya sudah keras, salah satu contohnya menghakimi YESUS tidak melakukan SABAT,padahal Kitab Suci saja mereka tolak di dalam prakteknya….

        ===> Saya rasa akarnya tuh gini saya cuma mau ngomong mengaitkan antara Nabi dan Bukan Nabi dengan alasan kekuasaan atau bukan kekuasaan , saya rasa bukan sebuah alasan yang cukup kuat. Mengapa demikian ? Karena tidak ada relevansinya. Dalam data sejarah PL pun ada juga Nabi yang memegang kekuasaan. Tokoh2 Alkitab lebih2 di PL yang memegang kekuasaan juga banyak.
        justru itu salah satu relevansi,….
        siapa Nabi yang berkuasa? coba sebutkan!!….DAUD?, Ia bukan nabi, tetapi raja, tetapi ia sering kepenuhan seperti nabi….oleh karena itu terkadang disebut nabi, tetapi hakekatnya ia bukan nabi…

        Jadi maksud Anda, Mazmur bukan PL….? Tentu bukan gicu kesimpulannya. Yang saya maksud Mazmur itu kan isinya nyanyian puji-pujian bukan berisi Data , semacam pada hari anu atau pada saat itu ada peristiwa X misalnya… Mazmur tidak berfokus pada pencatatan peristiwa itu.

        makanya ANda harus spesifik, Andapun salah mengatakan Mazmur bukan menjelaskan berbagai peristiwa, coba baca awal-awal dari setiap pasal Mazmur…. semuanya itu menceritakan tentang keadaan apa penulis Mazmur itu…Membaca Mazmur bareng dengan membaca Kitab Raja-raja, Samuel dan Tawarikh, itu satu ikatan yang kuat…

        bahkan Kejadianpun banyak menceritakan tentang KASIH Allah sama seperti di PB,…. saya kira orang kadang gagal menemukan LINKnya karena memang imannya sedang kacau balau…Paulus, Petrus Yohanes,Yakobus d.l.l bisa menemukan LINKnya sehingga mereka tidak kacau balau… ===> Saya rasa sudut pandangku tidak hitam putih kayak gitu. Kalo ada keadilan berarti tidak ada kasih atau sebaliknya kalo ada kasih tidak ada keadilan. Bukan seperti itu kan sudut pandangnya. Yang saya katakan adalah ada kesan penekanan yang berbeda…. dalam kisah itu… Feelnya lain, nuansa psikologisnya memang lain… Ini bukan sekedar mengarang cerita, karena pertanyaan atau kalimat yang saya ucapkan ini adalah pertanyaan banyak orang termasuk banyak juga di berbagai situs Kristen …
        ===============================
        saya tegaskan biar semakin jelas,

        DI PL, antara anugerah dan kasih TUHAN dinarasikan selalu mengikuti berkat dan hukuman, konsekuensi dari penerimaan atau penolakan… sangat banyak contoh diberikan,… nah itu suatu bayangan dari yang akan datang,… bahwa Kristus sudah menganugerahkan KASIH dan pada saatnya akan datang HUKUMAN bagi mereka yang menolak kasihNya itu… cuman rentang waktu di PL tertulis dan sudah terjadi, sementara di PB hukuman itu belum nyata, karena sedang menunggu. Kalau Anda sadar betul arti MASA TRIBULASI, maka penghakiman yang di PL tidak ada apa2nya dibanding yang akan datang itu…manusia aakan amat sangat menderita…Nah manusia yang tidak beriman gagalnya disitu, memandang contoh2, sampel2 kecil yang di PL dengan masa anugerah di PB, padahal timingnya saya yang berbeda,… di PL terkadang antara anugerah ke hukuman akibat pelanggaran berjarak 100 tahun, atau 400 tahun, nah sekarang jaman anugerah ini sudah berusia 2000 tahun…

        kalau point Anda di sini, kira2 begini…Yang memampukan orang sanggup menyembah TUHAN siapa? ROH KUDUS bukan? Anda mau menyembah TUHAN kenapa? karena Anda percaya bukan?, Anda bisa percaya kenapa? karena ROH KUDUS mengetok pintu hati Anda bukan?
        sudut pandang manusia melelahkan dirinya sendiri…. seperti kata lae Sihotang di lain artikel, daging kita memang perlu dilatih, karena ialah yang harus melakukan dan ditundukkan…

        ===> Sudut pandang manusia melelahkan ? Saya rasa sudut pandang manusia adalah sudut pandang yang paling jujur karena kita ini memang manusia… Kita bisa berpura-pura bahwa kita ini Tuhan atau seakan membayangkan apa yang kita lakukan, yakini dan sebagainya memang sama seperti keinginan Tuhan – tetapi tetap saja kita ini manusia dan tetap manusia ….
        marilah jujur pada diri sendiri…Anda cenderung berpandangan relatif, setahu saya seh begitu, tetapi sekarang kenapa tidak keluar? hehehe….sepertinya ada kesan Anda hanya doyan mengomentari saja yah.. hehehe, mencari2 kontra saja…

        IA tidak bertambah kemuliaan karena disembah manusia, KEMULIAANNYA SUDAH ADA, AKAN ADA dan AKAN DATANG…
        ===> Justru itulah maka saya katakan konsep bahwa manusia memuliakan Tuhan adalah konsep dari sisi manusia . Manusia merasa berbuat sesuatu untuk kemuliaan Tuhan, dsb tetapi jika Tuhan itu kita ibaratkan samudra, tindakan manusia seperti menabur garam di samudra padahal garam yang dia ambil asalnya justru dari samudra…

        bisa dibaca ulang lagi….komen sebelumnya…TUHAN itu sudah MULIA, kita menyembah atau memuliakan DIA tidak akan menambah MULiA-nya TUHAN,… sebab IA TETAP dari dulu sekarang dan selamanya…
        nah manusia memang layak memuliakan TUHAN, karena TUHAN memang MULIA, pertanyaan, kenapa manusia memuliakan? apakah karena melihat KEMULIAAN TUHAN, atau ingin mencari muka? kan gitu?… mencari muka di sini adalah melakukan berbagai macam kegiatan2 yang kelihatannya relijius padahal hatinya hampa. .. rajin ke gereja, tetapi hatinya hampa… d.l.l, bahkan ada yang disebut nabi, taunya hatinya hampa…

        Yang memampukan orang sanggup menyembah TUHAN siapa? ROH KUDUS bukan? Anda mau menyembah TUHAN kenapa? karena Anda percaya bukan?, Anda bisa percaya kenapa? karena ROH KUDUS mengetok pintu hati Anda bukan? ===> Dalam agama ada dua aspek : Kehendak Tuhan dan Kehendak Manusia…
        Ada pertemuan, ada perjumpaan dua hal itu…
        Anda harus membedakan antara KONSEP Fisrt Caused sama Effect ok kawan….

        Kita bisa mengatakan Tuhan menentukan. Silahkan baik-baik saja. Tetapi mengingat bahwa manusia juga bukan robot ada sisi kehendak bebas manusia juga untuk menerima atau menolak…

        gini saya kasih contoh kepada Anda, contoh saja ok supaya lebih jelas kontrasnya, antara manusia yang dibuat tuhannya robot dan tidak…
        saya mengetik komen ini tentu TUHAN tidak mengambil alih jari jemari saya untuk menekan tombol2 tertentu sehingga tercipta kalimat2 apologet, tetapi TUHAN mengispirasikan melalui pikiran dan hati… dan sebagainya… nah ada konsep agama yang berkata bahwa allahnya menentukan segala sesuatu secara absolute…ini salah, masak Anda ketombean karena allah Anda? tidakkan?… nah agama, melakukan peraturan-peraturan, tetapi TUHAN Adalah Kasih lebih tinggi dari peraturan-peraturan…kenapa? karena peraturan tidak mengenal ampunan, tetapi oleh kasih pengampunan selalu ada… karena banyak orang yang tidak percaya TUHAN ternyata jauh lebih berbahagia dari yang percaya, maka kita yakin dan diyakinkan bahwa pengampunan itu selalu ada, dan peraturan-peraturan itu di bawahnya, karena kalau ada agama yang mendahulukan peraturan daripada kasih, maka tentu sudah sejak dari dulu dunia ini dihancurkan, nyatanya bukan toh? nah oleh karena itulah agama yang menekankan peraturan adalah agama yang diciptakan allah yang menginginkan manusia robot, tetapi ALLAH yang memberi pengampunan adalah ALLAh KASIH yang rela berbagi dan memberi … Ia tidak memaksa Anda menerima bagian dan pemberian itu, tetapi peraturan akan mengikut, karena Anda menolak KASIH, maka Anda akan MATI…

        Anda bisa percaya kenapa? karena ROH KUDUS mengetok pintu hati Anda bukan? ===> Ada ayat yang saya rasa cukup terkenal Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Menurutmu yang mengetuk itu manusia atau Tuhan ?

        perbandingan dan kutipannya salah kawan karena themanya bukan di situ kutipan itu…

        Orang yang percaya TUHAN, kalau mengetok (meminta), jika TUHAN berkenan maka TUHAN akan melakukannya demi NamaNYA,….

        nah orang yang tidak percaya, hatinya diketok oleh TUHAN, baik oleh umatNYA, ataupun oleh RohNya Yang Kudus,…supaya nanti jika ia menerima dan jika setelah menerima kalau ia mengetok pintu hati TUHAN agar menjawab permintaan maka oleh NamaNYA kiranya TUHAN menjawab

        nah Anda di mana?….

        SALAM Parhobass
        Nice to meet you

  7. @ Parhobas

    Sebenarnya dari runut-2 dialog lae dgn amangboru Love itu.., dia sudah tahu kemana arah maksud tujuan lae tapi kenapa dia muter-muter terus ya lae… ( Spt angkot cari sewa aja dia itu)

    • Saya bisa memahami mungkin sebagian dari maksud Parhobass, tetapi bahkan jika saya memahami tetap saja masih lain artinya bahwa saya setuju dalam semua aspeknya….

      Tentu ada sebagian sisi yang tidak saya pahami, tentu ada sebagian yang saya pahami. Diantara yang tidak saya pahami dan cukup saya pahami, bisa saja sebagian saya setuju atau sebaliknya sebagian saya tidak setuju….

      Tetapi bagaimanapun diskusi ini memang cukup menarik…

      SALAM RAS

  8. @lae sihotang

    otodidak itu memang salah satu cara untuk menjadi tahu,…
    saya rasa, perasaanku seh, si amangboru love ini autodidak di dalam hal belajar KRISTUS

    padahal Kristus bukan untuk dipelajari, tetapi diterima,…dipercayai… teladanNYALAH yang dipelajari dan dilakukan…

    si amangboru love ini terlanjur mengetahui banyak hal, dan bannyak hal itu salah didasarnya, sehingga banyak ngawurnya hehehhe

    salam lae

  9. justru itu salah satu relevansi,….
    siapa Nabi yang berkuasa? coba sebutkan!!….DAUD?, Ia bukan nabi, tetapi raja, tetapi ia sering kepenuhan seperti nabi….oleh karena itu terkadang disebut nabi, tetapi hakekatnya ia bukan nabi…

    ===> kalo berkuasa saya rasa Daud berkuasa, Musa juga berkuasa…. Masalah Daud Nabi atau bukan Nabi , emangnya apa kalo raja tidak bisa disebut sebagai Nabi. Kalo emang sering kepenuhan sebagai Nabi ya apa tidak boleh jika dianggap sebagai Nabi. Rangkap Jabatan apa nggak boleh iya, misalnya sama seperti Yesus menjabat sebagai Nabi, Rasul, Imam, Raja, dsb

    Saya barusan ngobrol di blognya Jephman. Ternyata ada juga yang protes kalo saya bilang Yesus itu juga menjabat sebagai rasul… Aneh juga…

    ===============================

    Iya Mazmur itu kan lebih cenderung ke curahan hati, tetapi kalo dikolaborasikan dengan Kitab teman2nya yang emang benar kalo Kitab semacam Raja-raja, Samuel dsb berisi kisah sejarah.

    ================================

    Coba kamu tolong jelaskan apa yang kamu maksud dengan masa triabulasi…

    ================================
    marilah jujur pada diri sendiri…Anda cenderung berpandangan relatif, setahu saya seh begitu, tetapi sekarang kenapa tidak keluar? hehehe….sepertinya ada kesan Anda hanya doyan mengomentari saja yah.. hehehe, mencari2 kontra saja… ===> Yah kalo pas setuju ya setuju kalo pas nggak ya nggaklah…

    Saya kelihatannya berpandangan relatif ya ? Mungkin ada benarnya tetapi tidak sepenuhnya…
    Saya cuma ngomong manusia mungkin salah. Itu saja sih..

    ===============================

    bisa dibaca ulang lagi….komen sebelumnya…TUHAN itu sudah MULIA, kita menyembah atau memuliakan DIA tidak akan menambah MULiA-nya TUHAN,… sebab IA TETAP dari dulu sekarang dan selamanya…
    nah manusia memang layak memuliakan TUHAN, karena TUHAN memang MULIA, pertanyaan, kenapa manusia memuliakan? apakah karena melihat KEMULIAAN TUHAN, atau ingin mencari muka? kan gitu?… mencari muka di sini adalah melakukan berbagai macam kegiatan2 yang kelihatannya relijius padahal hatinya hampa. .. rajin ke gereja, tetapi hatinya hampa… d.l.l, bahkan ada yang disebut nabi, taunya hatinya hampa…

    ===> Kalo hampa atau tidak, mungkin hanya manusia masing2 yang tahu…

    SALAM Par
    GBU

    • @lovepassword

      justru itu salah satu relevansi,….
      siapa Nabi yang berkuasa? coba sebutkan!!….DAUD?, Ia bukan nabi, tetapi raja, tetapi ia sering kepenuhan seperti nabi….oleh karena itu terkadang disebut nabi, tetapi hakekatnya ia bukan nabi…

      ===> kalo berkuasa saya rasa Daud berkuasa, Musa juga berkuasa…. Masalah Daud Nabi atau bukan Nabi , emangnya apa kalo raja tidak bisa disebut sebagai Nabi. Kalo emang sering kepenuhan sebagai Nabi ya apa tidak boleh jika dianggap sebagai Nabi. Rangkap Jabatan apa nggak boleh iya, misalnya sama seperti Yesus menjabat sebagai Nabi, Rasul, Imam, Raja, dsb
      pertimbangkan peran Nabi Nathan, d.l.l perihal Daud, pertimbangkan peran Harun dan Miriam perihal Musa,… dan perlu Anda ketahuai mereka tidak mengejari kekuasaan, tetapi dipilih oleh TUHAN untuk memimpin RencanaNYA terlaksana.. dls

      Saya barusan ngobrol di blognya Jephman. Ternyata ada juga yang protes kalo saya bilang Yesus itu juga menjabat sebagai rasul… Aneh juga…
      karena Anda sebut rasul kali,; atau mungkin arti dari kata “menjabat” itu mungkin saja, diskusilah dengan baik denga beliau…
      ===============================

      Iya Mazmur itu kan lebih cenderung ke curahan hati, tetapi kalo dikolaborasikan dengan Kitab teman2nya yang emang benar kalo Kitab semacam Raja-raja, Samuel dsb berisi kisah sejarah.

      ================================

      Coba kamu tolong jelaskan apa yang kamu maksud dengan masa triabulasi…

      ================================
      ehhhheeeemmmm; bisa Anda baca di artikel yang lain sepertinya sudaha ada…

      marilah jujur pada diri sendiri…Anda cenderung berpandangan relatif, setahu saya seh begitu, tetapi sekarang kenapa tidak keluar? hehehe….sepertinya ada kesan Anda hanya doyan mengomentari saja yah.. hehehe, mencari2 kontra saja… ===> Yah kalo pas setuju ya setuju kalo pas nggak ya nggaklah…

      Saya kelihatannya berpandangan relatif ya ? Mungkin ada benarnya tetapi tidak sepenuhnya…
      Saya cuma ngomong manusia mungkin salah. Itu saja sih..

      ===============================
      Nah; dengan kesimpulan demikian, apa maksud Anda dengan mengatahan bahwa manusia lebih jujur?


      bisa dibaca ulang lagi….komen sebelumnya…TUHAN itu sudah MULIA, kita menyembah atau memuliakan DIA tidak akan menambah MULiA-nya TUHAN,… sebab IA TETAP dari dulu sekarang dan selamanya…
      nah manusia memang layak memuliakan TUHAN, karena TUHAN memang MULIA, pertanyaan, kenapa manusia memuliakan? apakah karena melihat KEMULIAAN TUHAN, atau ingin mencari muka? kan gitu?… mencari muka di sini adalah melakukan berbagai macam kegiatan2 yang kelihatannya relijius padahal hatinya hampa. .. rajin ke gereja, tetapi hatinya hampa… d.l.l, bahkan ada yang disebut nabi, taunya hatinya hampa…

      ===> Kalo hampa atau tidak, mungkin hanya manusia masing2 yang tahu…
      sayangnya terkadang kita sendiri tidak bisa mengerti sepenuhnya tentang diri kita sendiri… kembali ke awal, apa yang berasal dari manusia itu sangat melelahkan; karena manusia itu sangat tidak konstan, oleh karena itulah kita harus mencari Yang Konstan, Yang Ultimate, ACUAN, Batu Penjuru kata Kitab Suci…

      SALAM Eko
      GBU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: