Model Lilin

Mei 5, 2010 pukul 2:19 pm | Ditulis dalam Pemikiran | 30 Komentar
Tag:

lilin

Model lilin, berkorban untuk menyediakan terang…

Tertarik?

Ngga, ngga menarik, tetapi …… itulah moral tingkat tinggi, moral sorgawi…

Ah….. itu tertutup buat orang yang mau menguasai dan orang uang ingin tampil di atas…

Ketika Terang itu datang, dunia tidak mengenalNYA, karena IA datang untuk Moral Sorgawi, untuk habis, untuk mati…
Ah…. dunia tidak paham perkara itu….tidak banyak yang seperti Maria yang merenungkannya di kedalaman hatinya…

Iklan

30 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. @Parhobass tercinta :

    Yah mungkin kamu perlu mencium ubun-ubun aparat PLN cs dengan mesra. Tampaknya romantisme lilin akan selalu tetap relevan lebih-lebih di Indonesia, karena kita akan selalu melihat lilin demi lilin yang harus dinyalakan karena PLN tidak kunjung bisa menjamin penyediaan listrik . 😦

    Pertanyaannya adalah : Apakah menjadi lilin itu kerelaan atau keterpaksaan karena jangankan lilinnya, yang masang lilin saja aslinya sudah males bin dongkol karena listrik mati melulu. Duh ??? geleng-geleng

    Yang kedua yang mungkin perlu diperhatikan : Nyala lilin itu entah kenapa selalu kecil tetapi menyala dalam waktu lama. Dan menyalakan lilin di kedua ujungnya tampaknya pemborosan itu … Hi Hi Hi…

    Jika ujung gua bahkan belum terlihat , adalah kesiaan-siaan menyalakan semua lilin, katanya Mak Lampir sih gitu Par…

    Jangan boros-boros lho Par, kita kan gak tahu PLN nyalain listriknya kapan… Itulah masalahnya

    Gimana Par ? Di Perancis apakah PLN-nya juga senang goyang dombret kayak di Indonesia ??? Listrik naik terus , sebentar lagi juga mau naik lagi tapi hobi mati dangdutan tidak pernah berakhir.. Duh…

    • @Lovepassword

      Yah mungkin kamu perlu mencium ubun-ubun aparat PLN cs dengan mesra. Tampaknya romantisme lilin akan selalu tetap relevan lebih-lebih di Indonesia, karena kita akan selalu melihat lilin demi lilin yang harus dinyalakan karena PLN tidak kunjung bisa menjamin penyediaan listrik . 😦
      Wahh ngga nyangka lovepassword ternyata salah satu orang yang tidak mengerti makna artikel di atas… heehhe…
      Kalau masalah PLN, saya sudah kasih komen di artikel lain, MIMPI REVOLUSI TOTAL…

      Pertanyaannya adalah : Apakah menjadi lilin itu kerelaan atau keterpaksaan karena jangankan lilinnya, yang masang lilin saja aslinya sudah males bin dongkol karena listrik mati melulu. Duh ??? geleng-geleng
      itu pilihan,… kalau mengaku kristus kecil dan memilih percaya, maka itu adalah keharusan,… harus rela, TITIK.
      Kalau kembali ke masalah PLN, … maka kembali ke mimpi saya, REVOLUSI TOTAL, ehhehe

      Yang kedua yang mungkin perlu diperhatikan : Nyala lilin itu entah kenapa selalu kecil tetapi menyala dalam waktu lama. Dan menyalakan lilin di kedua ujungnya tampaknya pemborosan itu … Hi Hi Hi…
      jangan terlalu iseng pikriannya, pikiran terlalu iseng tetapi tidak realistis itu juga jahat namanya, orang seperti itu ngga bisa ikut di dalam think tank

      Jika ujung gua bahkan belum terlihat , adalah kesiaan-siaan menyalakan semua lilin, katanya Mak Lampir sih gitu Par…
      apa kata mak lampirlah, .. setan koq dipercaya

      Jangan boros-boros lho Par, kita kan gak tahu PLN nyalain listriknya kapan… Itulah masalahnya
      kamu memang lagi ngomongin PLN beneran yah? bukan masalah “berkorban”,.. wadduh parah juga sampean ini….

      Gimana Par ? Di Perancis apakah PLN-nya juga senang goyang dombret kayak di Indonesia ??? Listrik naik terus , sebentar lagi juga mau naik lagi tapi hobi mati dangdutan tidak pernah berakhir.. Duh…
      di sini aman2 saja tuh, mungkin kalau PLN di sini kayak di Indonesia, bisa berabeh negara, karena di sini jasa KRL sangat mendukung kehidupan.. jadi sekali mati, ekonomi dan kehidupan bisa stagnant…

      • @Parhobass tercinta :

        Kamu itu selain membaca yang tersurat mestinya kan juga membaca yang tersirat . He he he… Kapan-kapan kamu perlu membaca animal farm.

        Kalo kamu melihat dari sisi A, biar diskusi kita rada nyambung maka kulihat dari sisi B. Gicu lho.

        Masalah berkorban siapa juga yang nggak tahu. Ya tahu tho yo…Lha wong cerita lilin-lilin kecil itu kan rada ngetren masak iya sampe nggak tahu…

        Tetapi dari teori sebab akibat ala Dukun Sunat kan ada juga pertanyaan gini :

        Mengapa lilin berkorban ? Apa penyebab lilin berkorban ? Apakah lebih baik terus-terusan mengorbankan lilin demi lilin biar kelihatan melankolis dramatis ketimbang menyelesaikan akar masalahnya ?

        Kedua : Lilin yang berkorban itu aslinya memang berkorban atau dikorbankan oleh sistem yang tidak beres.

        Kalo kita ngomong soal yang ekstrim2 , salah satu contoh pengorbanan itu apa ? Misalnya saja kematian, penderitaan, dsb. Anggap saja kematian iya ? misalnya jadi martir siap mati tanpa melawan gicu kan iya … Siap jadi tumbal untuk membenahi apa yang ada , atau setidaknya menciptakan efek kejut keberanian kepada masyarakat, bahkan walau nyawa taruhannya.

        Pertanyaannya adalah : Seberapa efektif cara itu? Apakah memang cara lain tidak bisa dipakai ? Intinya kan gicu…

        Saya ngomong gini karena banyak orang yang justru terobsesi terhadap kematian. Mereka rindu mati dengan caranya masing-masing , lha dengan kematiannya mereka merasa dalam puncak pengorbanan dsb. Lha sisi itu perlu juga dilihat dari segala aspek. Seberapa rasional cara itu.

        Gampangannya : Kalo kita bisa membenahi PLN kan nggak perlu ada terlalu banyak lilin yang harus jadi tumbal PLN. πŸ˜€

        Mengapa manusia perlu bangga menjadi tumbal sementara masih ada cara lain untuk menyelesaikan masalah secara lebih fundamental.

        Pertanyaan filosofisnya kan gicu . πŸ˜‰

        Saya ngomongin PLN itu sama metaforanya, sama alegorinya dengan kamu saat ngomongin lilin. Gicu lho… Hi Hi Hi

        SALAM Par

  2. Walah. . . .ini kok jadi membahas PLN? πŸ˜€ πŸ˜†

    • Lampuku barusan mati beneran. Bener-bener nyebelin juga… PLN duhai PLN … Lama-lama kamu bisa beneran jadi perusahaan lilin negara…

      • @lovepassword

        kalau pedagang kaki lima tidak mau berkorban, PLN akan selamanya pat pet
        kalau pengusaha tidak mau berkorban, PLN akan selamanya pat pet

        dan kalau kalau yang lain, intinya berkorban…
        nah sementara ini “penguasa” selalu mengorbankan orang lain dengan terpaksa, dan dipaksakan, ituhlah contoh mengorbankan orang lain, tetapi diri sendiri tidak mau mengalaminya, itu namanya amoral; biadab, anjing liar…

      • Oh jadi yang kamu maksud dengan tulisan anjing liar di artikel sebelah itu “penguasa” kurang asem tho? Baru tahu aku… πŸ˜‰

      • @lovepassword

        anjing liar adalah orang yang menginginkan orang lain melakukan kebaikan tetapi dirinya sendiri jahat….

        jadi tidak melulu penguasa, juga rakyat kecil, contohnya selalu protes kalau PLN mati tetapi diri sendiri ajah ngga bayar pajak, itu anjing liar juga

      • Gicu yah .. Kalo anjing liar beneran pada protes , kamu yang tanggung jawab lho… Hi Hi Hi…

      • yah begitulah, memang banyak kan anjing liar di negeri tercinta ini? saking banyaknya menjadi susah untuk diperbaiki, segala sesuatu menjadi begitu sangat kompleks untuk diselesaikan

  3. jangan terlalu iseng pikriannya, pikiran terlalu iseng tetapi tidak realistis itu juga jahat namanya, orang seperti itu ngga bisa ikut di dalam think tank

    ===> Kalo nggak bisa masuk think thank ya memberi masukan di luar kan juga sama-sama baiknya. Hi hi hi.

    Aslinya pikiran iseng tuh perlu Par, agar semuanya nggak cuma jadi paduan suara. Tapi yah mungkin emang dipandang mengganggu kestabilan sistem. Di mana-mana bisa dipelototi kanan kiri .

    Aslinya biarpun kayaknya nggak serius aku tuh selalu serius lho… Bahkan omongan ku juga selalu nyambung. Masalahnya kamu itu rada kurang imajinatif sehingga nggak bisa membayangkan sambungannya.

    Misalnya jika lilin itu kamu anggap sebagai lambang atau simbol semangat rela berkorban sampai mati memberikan cahaya… Aku kan perlu mengingatkan bahwa yang namanya menerangi apapun itu kalo lebay bin boros juga nggak menyelesaikan masalah itu persis sama seperti lilin yang cepat habis plus merepotkan karena kedua sumbunya dinyalakan bersama. Gicu lho… Apakah kalimatku berlebihan ? Faktanya tidak , menurutku sih.

    Banyak makhluk hidup, termasuk aku yang dalam hal atau rencana tertentu berkobar-kobar di awal , semangatnya menyalanya lebih terang dobel terang berapi-api. Tetapi sayangnya biasanya yang terlalu semangat itu terus kehilangan energi karena bahan bakarnya habis duluan, sementara listrik PLNnya ternyata masih mati dengan sukses. Jadi deh malah gelap-gelapan…

    Daripada menyala kebesaran gaya penuh semangat di awal – di dalam sebuah perjalanan hidup yang kita nggak tahu kapan berakhirnya , mengapa tidak lebih ngirit sedikit sehingga tiap lilin itu tidak cepat habis dan bisa menyertai setiap perjalanan sampai ke ujung gua atau setidaknya sampai listrik PLN menyala kembali. πŸ˜€

    di sini aman2 saja tuh, mungkin kalau PLN di sini kayak di Indonesia, bisa berabeh negara, karena di sini jasa KRL sangat mendukung kehidupan.. jadi sekali mati, ekonomi dan kehidupan bisa stagnant ===> Apakah secara psikologis sosiologis di negeri yang jarang mati listrik , lilin sebagai simbol pengorbanan masih terasa gregetnya ?? πŸ™‚

    • @lovepassword;
      iseng tanpa tujuan bisa disebut gila…

      • Kalo tujuan tanpa iseng disebut garing πŸ˜€

        Kalo iseng dengan tujuan namanya terus apa Par ???

      • garing juga…bisa dikatakan gila

        humor diselingi saat meraih tujuan itu yang menyegarkan… lain hal dengan iseng…. misal orang lagi ngetest bom; seseorang iseng ngebom rumah bosnya heheehe itu namanya gila

  4. @lovepassword;

    berkorban adalah “topik utama” dari kehidupan ini,

    matamu harus berkorban lelah, kalau Anda mau online sepanjang hari,

    pantatmu ahrus berkorban panas, kalau mau duduk online sepanjang hari

    perutmu harus berkorban keroncongan, kalau demi online membalas comment harus berlapar2… d.l.l…

    intinya berkorban adalah penyelesaian tepat untuk sesuatu hasil yang khusus…;
    kalau Anda tidak berkorban maka tujuan khusus akan hilang;…

    itu model lilin…

    OK BUNG, hehehehe
    jadi kalau kamu mau lihat dari sisi manapun berkorban adalah model utama, … REVOLUSI juga butuh pengorbanan tingkat tinggi…. nah kalau semua orang tahu MODEL LILIN maka mau apapun system pemerintahan akan beres, ress resss… tetapi acuannya kan MORAL tadi, semua orang menerima keadaan korupsi, itu tidak bagus, jadi ada MORAL, ada hikmat yang harus dikedepankan…

    gimana menurutmu?

    intinya, mau PLN, mau Lilin, mau PNS, mau yang lain kalau ngga ada prinsip berkorban, tidak akan ada penyelesaian masalah…
    berkorban adalah point utama, langkah besar untuk menyelesaikan masalah,… tetapi berkorban tanpa hikmat dan Moral adalah NOL BESAR…

    Salam

    • He he he.. baguslah Par. Semangatmu bagus.. πŸ˜€

      Aku tahulah itu. Mudah-mudahan sih, tapi memang nggak gampang . tetapi bagaimanapun menurutku tetap harus ada sisi lain yang juga dilihat.

      Di dalam pepatah Jawa Par, ada ungkapan Jer Basuki Mawa Beya : Untuk mencapai keberhasilan dibutuhkan pengorbanan.

      Bukubuku semacam The Secret, Quantum Ikhlas, dsb temanya juga sedikit banyak nyangkut ke pengorbanan . Semua agama dan kemanusiaan pasti nyangkut juga ke pengorbanan. Jadi berkorban itu bagaimanapun memang diperlukan… untuk keperluan apa saja.

      Kamu bener itu.

      Lha tetapi kalo menurutku juga harus ada sisi yang layak dilihat yaitu pemberdayaan sistemnya.

      Di dalam sistem yang luar biasa tidak berpihak pada rakyat kecil, perintah berkorban-berkorban berkorban lebih terdengar seperti bemper agama yang pro terhadap ketidakadilan sosial.
      Tentu saja tidak seluruhnya begitu tetapi memang indikasi semacam itu juga terlihat.

      Lha karena salah satu tonggak agama juga keadilan. Mau tidak mau kita tidak cuma bicara dari sisi individu demi individu yang masing2 harus berkorban berkorban berkorban , tetapi juga secara subtansial kita harus melihat sisi yang lain yaitu bagaimana caranya menurutmu membenahi sistemnya sehingga tidak jatuh tumbal-tumbal baru, orang baik harus mati atau “mati” gara-gara berkorban demi sistem.

      Berkorban itu bagusbagus saja. tetapi alangkah baiknya kalo setiap pengorbanan nilainya benar-benar berharga. Tidak sia-sia atau disia-siakan.. Ocree Par … ?

      SALAM deh…

      • @lovepassword

        keadilan itu juga harus diterjemahkan benar, jgn tanpa pengorbanan yang berhikmat tadi,

        karena USA membunuh misalnya, maka kita adil membunuh warga USA dimana saja, itu bukan keadilan tetapi itu kejahatan,…amoral, tidak berhikmat….sebab keadilan demi kepuasan diri sendiri, agama sendiri, kelompok sendiri adalah amoral, fana, duniawi…

        jadi segala sesuatu berguna tetapi tidak semuanya mendatangkan kebaikan, semua yang berguna akan mendatangkan kebaikan jika ada hikmat, dan tidak semua orang memahami itu, dan karena semua orang tidak memahami dan melakukan maka akan selalu ada orang yang berkorban….

      • Yah itu juga gak adil. Sweeping dsb itu gak bagus karena mengkambing hitamkan manusia lain yang belum tentu ikut bersalah.

        Mau warga amerika ya kan juga gak mesti tahu bahkan menerima kebijakan pemerintahnya. jadi warga negara bisa apa emangnya… Jadi ya nggak adil lah kalo yang brengsek misalnya pejabat Amerika, terus rakyat sama-sama jadi korban. Tapi bukan cuma sweeping, bom , dsb – embargo ekonomi pun endingnya ya aslinya rakyat negara itu yang bakal jadi korban.

        Tujuan embargo itu apa sih ? Dalam bahasa gampang kayaknya gini : Menekan ekonomi suatu negara sehingga jadi sulit , sehingga diharapkan muncul pemberontakan di dalam negeri. Lha embargo itu jelas juga pemiskinan yang direncanakan. Supaya sikon negeri itu bergejolak .. -Itu juga nggak adil aslinya untuk rakyat negara yang diembargo…

        Di mana-mana itu selalu saja yang jadi korban itu memang ya rakyat kecil . Kalo pejabatnya mah kebanyakan tak terjangkau Par..

      • yah begitulah,

        makanya dimana2 pengorbanan itu selalu menjadi jalan penyelesaian masalah yang ideal, tidak fana, sorgawi, karena dunia tidak mengenalnya maka mari memulai dari diri sendiri untuk menyinari kegelapan itu, seperti lilin…

        karena kita sudah mengenal dan menjalankan model lilin, maka kalau kita mengalami ketidakadilan, dan kerugian, kita bisa menggunakan hikmat untuk menyelesaikan masalah,
        teriak bukan menyelesaikan, walau kadang bisa juga hehehhe

  5. Sebagai pakar matematika dan ilmu alam Par, kamu pasti pernah mendengar ini. Interaksi atau simbiosis atau hubungan itu ada banyak macamnya, misalnya mutualisme : Masing2 pihak sama-sama untung. Kedua : Komensalisme : Yang satu untung yang lain tidak merasa dirugikan Ketiga : Parasitisme : Yang satu untuk yang lain dirugikan.

    Lha teori berkorbanmu itu menurut kamu termasuk hubungan yang bagaimana ? Apakah memang yang ideal seperti itu ? Even andaikata kita bukan yang jadi parasit tetapi yang dihinggapi parasit ?

    Gimana menurutmu Par ?

    SALAM Iya

    See You Par..

    Salam lagi deh…

    • hahaha pakar apaan, biasa aja kali hehehe

      saya sendiri kurang paham harus mengklasifikasikannya ke tiga bentuk itu, yang pasti bukan parasit…

      dibilang mutualisme ngga juga…

      karena kalau seorang berlaku curang, maka adil bagi orang lain untuk curang juga hehehe

      sementara yang saya bicarakan, yang kita bicarakan adalah sesuatu yang di atasnya, yaitu, kristus kecil, hidup memang bersedia untuk “di bawah”….
      orang yang memandang jauh ke depan melebihi tujuan2 yang fana…

      intinya itu bukan teori, itu realita yang harus dilakukan setiap manusia, tetapi memang dunia tidak mengenalnya…

  6. dibilang mutualisme ngga juga…

    karena kalau seorang berlaku curang, maka adil bagi orang lain untuk curang juga hehehe

    ===> Kalo itu mah memang bukan mutualisme Par, mungkin kita namakan saja geblekisme itu. Lha mutualisme itu saling menguntungkan bukannya malah jadi saling merugikan…

    Kalo ada hubungan, masing2 pihak sama-sama rugi ya itu goblok versus goblok. Sama-sama rugi kok mau . Itu kan ya antik…

    Dan itu nggak masuk mutualisme lah. Mutualisme itu kan misalnya burung membersihkan punggung kebo, kebo seneng karena dibersihkan, burung senang karena dapet makanan. Jadi harus sama-sama untung atau win win solution bahasa Rusianya gicu. πŸ˜‰

    Lha kalo sama-sama rugi ? Yah mungkin itu sejenis hubungan paling geblek yang bisa dilakukan manusia. Masalahnya : makhluk hidup yang lain ya mana mau kalo terus-terusan berada dalam hubungan konyol kayak gicu…
    Hi Hi hi…

    Itulah kelebihan manusia. Kadang pinternya minta ampun, kadang gebleknya juga minta ampun deh…

    Malah ada sejenis hubungan yang lebih serem lagi aslinya sih : Nggak papa saya rugi asalkan orang lain lebih rugi … Biarlah saya hancur , setidaknya kamu kan lebih ancur.

    Dalam cerita silat The Impeccable TWINS , itu lho petualangan sepasang anak kembar yang sengaja dipisah, yang satu diasuh sepasang putri bunga Ih Hoa Kiong yang satu diasuh 10 penjahat ulung Cap Toa Ok Jin.

    Siau Hi Ji vs Hoa Bu Koat πŸ™‚ Devilito vs Samsun versi Tapak Saktinya…

    ada satu tokoh penjahat salah satu 10 penjahat besar, namanya Pek Kek Sim yang hobinya juga siap berkorban , dia siap menderita sepanjang manusia lain juga lebih menderita… Lha hubungan kayak gicu menurutku sangat mungkin hanya ada pada spesies manusia.

    Kalo hewan mana sudi , daripada babak belur bareng mendingan pergi. Lha kalo manusia bisa mikir gicu. Gak papa aku rugi, asalkan kamu ruginya lebih besar… Aneh juga makhluk hidup jenis manusia itu ya ? Itu geblek apa pinter coba…

    • yah begitulah;

      si kebo dibersihin kuping atau punggungnya sama siburung, tetapi taiknya siburung juga bertengger di punggungnya si kebo, kata orang itu bisa adil… makanya yang kita bicarakan di atas jauh lebih dari itu…

      bahasa alkitabnya disebut AGAPE

  7. Hehehehe… jadi panjang nih diskusinya ??

    Pada dasarnya semua sumber penerang/terang selalu mengorbankan dirinya untuk dapat menerangin sekelilingnya. Spt yg dikatakan sdr Parhobas bhw lilin adalah satu contoh benda yg lambat laun akan habis untuk suatu tujuan menjadi penerang. Demikian juga matahari yg akan lambat laun akan habis pelan sebagai sumber energi terang bagi segala kehidupan di alam semesta ini.
    Sama dgn itu maka Kristus mencontohkan diriNya yg rela berkorban mati untuk menjadi Terang bagi banyak manusia dan bangsa di dunia. Jadi sama dgn Dia maka kitapun diminta untuk menjadi terang bagi org-2 di sekeliling kita dgn tidak berusaha mengambil untung atas panggilan Tuhan kpd kita.

    Shalom ma lae …

    • Halo. . . .Om Robin. . . .jangan marah-marah terus ya di facebook.

      πŸ˜€ :mrgreen:

  8. mantap lae, salam juga…

  9. Lovepassword, penjelasan anda sungguh menarik sayang blog putramaryam yang ditinggalkan Parhobas tidak punya kategori untuk membahasnya, jika ada maka akan aku abadikan seperti ini: http://putramaryam.wordpress.com/2010/04/02/penggembala-domba/

    jika ada cara lain yang lebih baik untuk menerangi selain dengan membakar lilin. kenapa mesti memilih dibunuh dan disalib segala, bukankah jika yesus adalah Tuhan semesta alam yang mengetahui segala apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui segala apa yang ada dalam hati bisa memilih cara yang lain, dari pada dibunuh oleh manusia yang Dia beri makan?!

    Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan. yesus hanyalah seorang rasul.

    kita juga harus beribadah hanya kepada Allah seperti Yesus. jangan sampai menyuruh orang berbuat ma’ruf tapi melupakan diri sendiri padahal kita membaca kitab.

    Seperti lilin yang menerangi tapi dirinya sendiri meleleh.

    masalah ibadah ini ada lagu terbaru nih yang saya temukan kita dengarkan yu:
    http://perhatikanlah.wordpress.com/2010/05/07/ingin-diberi-umur-seribu-tahun-2/

    memang bukan saya yang nyanyi, tapi dia juga anak muda, ka fitri dan Robinson juga diajak

    • @Anak Adam

      Jika allah Anda tidak mau berkorban menyampaikan wahyunya ke Jibril dan jika Jibril tidak mau berkorban bertemu Nabi Anda, maka tidak akan Al Quran dan Anda tidak akan menjadi Islam;

      so gimana?

      jadi kalau allah Anda mampu berfirman untuk memasukkan Anda ke sorga, kenapa ngga dilakukannya? kenapa?

      hehehe itu intinya Anda juga telah seperti lovepassword, pikiran yang hanya angan2 tidak menyentuh realita, itu iseng tingkat tinggi, saya sebut gila heheheh

      salam

    • @ Anak Adam

      Berdiskusi dgnmu hanya membuang waktu saja …
      Ya.. mungkin benar perkataan sdr Parhobas , kau itu sudah masuk iseng tingkat tinggi. Sudah agak retak 1000..

  10. Saya malah takjub dengan istilah baru ala Parhobass : Iseng tingkat Tinggi.. πŸ™‚

    Antik juga istilahnya ya …

    Tapi semua realita itu kadang berasal dari angan-angan lho. Kalo berangan-angan gak berani mungkin juga takut menghadapi realita πŸ™‚

    Salam iya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: