Ada TUHAN koq semakin menderita?

April 26, 2010 pukul 6:06 pm | Ditulis dalam Pemikiran | 9 Komentar
Tag: , ,

Yesaya berkata: “TUHAN seperti tukang periuk dan kita tanah liatnya”.
Tentu kita tahu prosesnya, bahwa tanah liat harus dilumat-lumat, kemungkinan diinjak malah. Dihancurkan, dihilangkan yang tidak perlunya, dan… untuk hasil akhir harus dibakar, diukir lagi, dipoles, diwarnai… dan sebagainya, semua itu proses yang “menyakitkan”. Masih ada enaknya kalau kita tanah liat, sebab dikasih air bisa melembek dan mudah dibentuknya, bayangkan jika kita adalah batu keras, besi karatan. Tetapi harus diingat, batu yang keras memang memerlukan perhatian khusus, karena hasilnya akan jauh lebih tahan lama dan jauh lebih memukai ketimbang olahan tanah liat, tentu kita harus memandang maksud TUHAN, sebab kita adalah anggota-anggota dengan peruntukan khusus dan unik. Banyak anggota tetapi satu tujuan, yaitu demi kemuliaan TUHAN.

Memikirkan yang sebaliknya tentu sangat berbanding terbalik dengan kasih TUHAN. Dan mengasihani diri sendiri adalah sifat individual yang cengeng. Segala sesuatu pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan, jika kita dimampukan melihat dan menyelami kasih TUHAN.

Karena kita memang dipanggil, terpanggil untuk memikul salib, dan memikul salib membutuhkan latihan, latihan itu akan membuat otot iman yang semakin teguh dan pengharapan yang semakin nyata.

Jadi, di hadapan orang beriman penderitaan, salib, adalah bukti bahwa TUHAN ada, dan membentuk kita,
di hadapan orang lemah penderitaan menjadi batu sandungan…malah bisa bias menjadikan dia jauh dari TUHAN, bagaimana tidak? sebab ia mengasihani dirinya sendiri..

9 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Seperti biasa aku mau OOT sedikit hi hi hi.. Biar nggak terlalu kelihatan OOT kalian sambung saja pake selotip iya ?

    Pada dasarnya patung indah atau jelek , mungkin lebih tergantung dari pembuatnya ketimbang tergantung bahannya…

    Kamu bisa saja membuat patung ondel2 dari kertas, membuat patung warag ngendog dari tanah liat, membuat patung buto ijo dari batu, membuat patung dari besi tempa. Bahkan membuat patung dari es yang dibekukan. itu semua mungkin, dan ditangan pakar masing2 jadinya ya bagus.

    Jadi tidak ada alasan mengatakan kertas lebih baik dari besi untuk dibuat patung, atau tanah liat lebih baik dari perunggu.

    Masalahnya adalah : Jika kamu bisanya membuat patung dari kertas, mungkin kamu merasa membuat patung dari kayu itu sulit, karena tekniknya beda dan kamu tidak terbiasa. Itu jelas masalah pematungnya bukan masalah pada bahannya.

    Pematung lain bisa saja mengatakan membuat patung es lebih mudah dari patung tanah liat, karena mereka pakar di bidang ngukir es. Jadi mungkin, tidak ada bahan yang jelek, yang ada adalah pematung yang tidak mengerti sifat bahan, mencoba membuat patung perunggu dengan cara diukir seperti mengukir kayu.

    Wajarlah jika ujian nasional banyak murid yang gak lulus, karena pematungnya nggak mengerti sifat-sifat bahan. Bahkan membedakan antara es dan tanah liat saja nggak bisa…

    Kalo seorang pengukir es, memperlakukan tanah liat seperti saat dia mengukir es, yang ada adalah kekacauan nasional, ya persis paradigma UNAS itu…

    Kalo ada yang merasa tulisan ini nggak nyambung, disambung saja pake lem iya… 😉

    SALAM

    • @lovepassword

      Seperti biasa aku mau OOT sedikit hi hi hi.. Biar nggak terlalu kelihatan OOT kalian sambung saja pake selotip iya ?
      silotip apaneh yang bisa nyambungin yah? hehehe

      Pada dasarnya patung indah atau jelek , mungkin lebih tergantung dari pembuatnya ketimbang tergantung bahannya…
      yah, karena patung/bahannya benda mati, tetapi kalau bahan/patungnya benda hidup ceritanya akan lain…

      Kamu bisa saja membuat patung ondel2 dari kertas, membuat patung warag ngendog dari tanah liat, membuat patung buto ijo dari batu, membuat patung dari besi tempa. Bahkan membuat patung dari es yang dibekukan. itu semua mungkin, dan ditangan pakar masing2 jadinya ya bagus.
      sepertinya sudah dicover alinea pertama di atas

      Jadi tidak ada alasan mengatakan kertas lebih baik dari besi untuk dibuat patung, atau tanah liat lebih baik dari perunggu.
      tahan lamanya mungkin perlu dipertimbangkan, sesuai uraian paragraf pertama, patung perunggu jika ada banjir bisa bertahan, kalau patung kertas tidak bisa,….makanya perlu perhatian khusus

      Masalahnya adalah : Jika kamu bisanya membuat patung dari kertas, mungkin kamu merasa membuat patung dari kayu itu sulit, karena tekniknya beda dan kamu tidak terbiasa. Itu jelas masalah pematungnya bukan masalah pada bahannya.
      Anda mempermasalahkan pematung atau patungnya sekarang?

      Pematung lain bisa saja mengatakan membuat patung es lebih mudah dari patung tanah liat, karena mereka pakar di bidang ngukir es. Jadi mungkin, tidak ada bahan yang jelek, yang ada adalah pematung yang tidak mengerti sifat bahan, mencoba membuat patung perunggu dengan cara diukir seperti mengukir kayu.
      kalau Anda percaya TUHAN tentu “Pematung” ini ngga perlu dipermasalahlah….

      Wajarlah jika ujian nasional banyak murid yang gak lulus, karena pematungnya nggak mengerti sifat-sifat bahan. Bahkan membedakan antara es dan tanah liat saja nggak bisa…
      maanya di alinea ke dua ada berita, cengeng hehehhe, murid yang tidak lulud, tetapi guru dipermasalahkan/dipersalahkan,… tentu tidak ada guru yang mengajari muridnya untuk selalu “online”, tetapi patung yan bergerak dan hidup ini ada kecenderungan “online” sehingga mengurangi jam belajarnya,…tentu ada orang yang bisa belajar 5 menit, bermain 10jam, masih ok2 saja, tetapi ada orang yang belajar 10 jam juga ngga bisa2,…dan sebaliknya dan seterusnya, masing2 bahan memang berbeda, cuman kalau bisa mengenal dirinya, segalanya akan jelas

      Kalo seorang pengukir es, memperlakukan tanah liat seperti saat dia mengukir es, yang ada adalah kekacauan nasional, ya persis paradigma UNAS itu…
      makanya diperlukan hikmat, dan TUHAN adalah sumber segala hikmat

      Kalo ada yang merasa tulisan ini nggak nyambung, disambung saja pake lem iya… 😉
      selotip apaan yang bisa nyambungin yah? hehhe

      SALAM
      salam juga

    • yah, karena patung/bahannya benda mati, tetapi kalau bahan/patungnya benda hidup ceritanya akan lain… ===> Bukan masalah hidup dan matilah.. Patung hidup sama patung mati memangnya ada bedanya ? hi hi hi

      tahan lamanya mungkin perlu dipertimbangkan, sesuai uraian paragraf pertama, patung perunggu jika ada banjir bisa bertahan, kalau patung kertas tidak bisa,….makanya perlu perhatian khusus ===> Kalo timeframenya abadi, hampir nggak ada bedanya kok perunggu sama kertas. Sama-sama benda yang lapuk dimakan waktu 🙂

      Anda mempermasalahkan pematung atau patungnya sekarang? ===> Ya kita kan sedang membahas semua aspek. Saya sedang menimbang-nimbang segala sisi.

      kalau Anda percaya TUHAN tentu “Pematung” ini ngga perlu dipermasalahlah…. ===> Yang kita bicarakan ini bukan semata-mata Tuhan, tetapi juga manusia 🙂

      maanya di alinea ke dua ada berita, cengeng hehehhe, murid yang tidak lulud, tetapi guru dipermasalahkan/dipersalahkan,… tentu tidak ada guru yang mengajari muridnya untuk selalu “online”, tetapi patung yan bergerak dan hidup ini ada kecenderungan “online” sehingga mengurangi jam belajarnya,…tentu ada orang yang bisa belajar 5 menit, bermain 10jam, masih ok2 saja, tetapi ada orang yang belajar 10 jam juga ngga bisa2,…dan sebaliknya dan seterusnya, masing2 bahan memang berbeda, cuman kalau bisa mengenal dirinya, segalanya akan jelas

      ===> Justru itulah sekarang ini kan anak SMP lebih pinter daripada pejabat pendidikan yang ngarang bikin UNAS itu. Anehnya kok para pejabat itu yang justru berwenang iya…

      Masak manusia yang dari tahun ke tahun membuat pemetaan nggak jadi-jadi boleh kita anggap lebih pintar ketimbang anak-anak kita yang matematikanya saja sembilan tapi bisa-bisanya nggak lulus UNAS 😦 aneh bin ajaib.

      Masalah bahan dan outputnya itu jelas banget.

      Bukan salah bahannya, salah yang membuat patungnya geblek betul , mau membuat patung perunggu, tetapi pisau pahat buah yang dipakai.

      Mestinya kalo aparat pendidikan rada pinter sedikit : Ya kalo bahannya buah, pakailah pisau buah, kalo bahannya kertas ya buatlah bubur kertas buat kerangka lalu pasang di cetakan. kalo bahannya air ya dibekukan dulu lalu diukir .

      Lha ini kan nggak. Semua bahan dianggap sama. Semua dianggap kertas semua dan diperlakukan seperti kertas, padahal ada besi, ada kayu , dsb.

      Kalo kertas kebetulan diperlakukan dengan cara kertas tentu cocok, lainnya minta ampun deh.

      Paradigma pendidikan kita kan kerja keras. Dan itu kadang rada geblek nggak mesti bener.

      Memang ada pepatah : Air setetas demi setetes bisa melubangi batu, tapi kan ada juga pepatah Cina : Menggosok tanah tidak akan membuat tanah jadi cermin. Kalo caranya salah ya tetap saja jungkir balik.

      Substansi masalahnya asliny sederhana ; Yang namanya Makhluk hidup macam manusia itu kebanyakan konsep tetapi nggak mau meneruskan konsep orang lain.

      Akibatnya ya seumur-umur yang dilakukan pejabat pendidikan ya pemetaan terus. Lha wong UNAS sudah berkali-kali kok ngomongin lagi soal pemetaan.

      Ntar menterinya ganti juga pasti ada pemetaan baru pasti. Lha wong jadi pejabat itu nggak mau kalah ego sama pendahulunya. Akibatnya semua menteri , yang dilakukan yang diomongkan juga pemetaan melulu. Padahal disparitas pendidikan Jawa Luar Jawa, ayam di kandang juga tahu nggak harus pake sekolah. eh pake diomongin seakan itu hal yang sama sekali baru. Bikin geleng-geleng.

      Kalo ada pejabat yang seakan kagum heran dengan kesenjangan Jawa Luar Jawa itu masuk akal apa nggak ??? Lha wong anak SD saja tahu.

      selotip apaan yang bisa nyambungin yah? hehhe ===> Silverqueen juga bisa kok… Hi Hi Hi

      Salam Iya…

      • @lovepassword

        kalau Anda mempertanyakan tentang system di Indonesia, penyelesaiannya itu selalu kompleks, tidak akan pernah ditemukan penyelesaian sederhana… tau ngga kenapa?

        mari memberi imputan dari kejadian paska REFORMASI saja:

        menurut saya beberapa point adalah (silahkan dimasukkan beberapa inputan lagi)
        1; sebenar2nya Negara kita ini ngga bisa Negara Kesatuan…cara berpikir orang Jawa sangat berbeda dengan cara Berpikir orang luar jawa, dan pemerintahan kebanyakan orang jawa, jadi semakin amburadul

        2; banyaknya mahluk beragama tetapi tidak mengenal TUHAN-nya agama itu. Contohnya, ntah lah, mana ada agama yang mengajarkan korupsi, tetapi nyatanya budaya korupsi adalah nomor wahid dimana saja di bumi persada ini.

        3; Disiplin NOL besar.

        4; Integritas NOL besar.

        kalau Nomor 2 dan 3 dan 4 beres, atau paling tidak ada progress, maka bisa nomor satu dilakukan, NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.

        dan yang terutama adalah…

        5; banyaknya orang pintar yang tidak bekerja di dunianya. Saya pernah perja praktek di suatu Instansi pemerintah, … ah sudahlah… terlalu MENGERIKAN ehheheh

        silahkan ditambahkan…

        mimpi saya adalah REVOLUSI TOTAL, sudah banyak anjing-anjing liar yang harus diikat di negara ini…

      • Revolusi total yah ? Kata revolusi ini mungkin kedengarannya emang rada seksi untuk anak-anak muda, pendukung Che Guevara dsb, Jadi aku rada terkagum=kagum bengong saja ketika yang ngomong mengenai revolusi total itu justru kamu Parhobass… 🙂

        Revolusi itu emang selalu menarik , ketika sebuah proses diangggap nggak jalan, terlalu lambat dsb. Tetapi ada satu hal juga dalam revolusi, revolusi itu juga selalu menciptakan permasalahan baru 🙂 , setidaknya memendam masalah.

        yang penting kan gabres dulu pikir belakangan.
        Di satu sisi ini masuk akal, karena coba kamu kilas balik sebentar, kalo para pemuda itu nggak berangasan menculit Soekarno ke Rengas Dengklok , Bung Karno yang saat itu nggak terlalu metal, kan masih mikir berkali-kali untuk proklamasi . Karena setengah dipaksa oleh pemuda, kalo Bung nggak mau, kita akan lakukan sendiri, ya sudah akhirnya Soekarno melakukan tonggak sejarah bangsa itu kan. Itu kan revolusi juga…

        Tetapi setelah itu karena segala aturan , dsb belum jelas, kan timbul banyak kekacauan, sistemnya juga belum jelas mau jadi apa kan…
        Intinya revolusi memang ada juga kebaikannya tetapi kalo memang iya perlu revolusi karena reformasi birokrasi gagal, lambat dsb , aneka dampaknya juga perlu dipikirkan itu.

        Jangan sampai karena ada budaya revolusi, sedikit2 terus revolusi akibatnya malah nggak ada yang jalan juga…

        Masalah anjing2 liar, saya rada bingung yang membikin masalah itu emang yang liar atau justru asalnya dari yang nggak liar.

        😀

        SALAM

      • @lovepassword

        yup revolusi tanpa rencana adalah bunuh diri, tetapi kalau ada rencana matang semua akan berjalan baik.

        satu hal jgn samakan REVOLUSI dengan darah…
        sebab ada juga REVOLUSI DAMAI…

        yang penting itu tadi, banyak anjing-anjing yang harus diikat di negara ini, mungkin harus ada sebuah pulau khusus untuk menempatkan tambatannya.

        dengan mimpi saya REVOLUSI TOTAL, maka mimpi kedua akan terlaksana… NEGARA ADIDAYA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

      • Tapi saya masih meraba-raba yang kamu maksud sama anjing-anjing liar itu apaan…( garuk garuk )

        Salam deh

      • @lovepassword

        banyak itu….. hehehhe

  2. @to Parhobass
    Termasuk keledai-keledai liar macam Abubakar Baasyir dkk perlu disikat habis…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: