Dia ‘kan mencintaiku

April 10, 2010 pukul 2:38 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat, Uncategorized | 26 Komentar
Tag: , ,

Pernyataan individualis lainnya adalah…..Karena dia mencintaiku, maka aku bebas melakukan apapun.
Karena aku tahu ia mencintaiku, maka jika aku melakukan kesalahan, sebesar apapun itu, ia pasti tetap mencintaiku…..amoral sekali, selfish sekali,…cinta tanpa tanggung jawab, bukanlah cinta,… itu ego yang luar biasa. Karena dia mencintaiku,… lalu apakah kamu mencintainya? Tanggung jawabmu sebagai manusia yang dicintai mana?

Terkadang, atau mungkin sering?, ini juga kita masukkan kepada TUHAN, karena TUHAN Maha Kasih, maka aku bebas melakukan apapun, IA pasti memaafkan,…Selfish merakyat, selfish merajalela…

Kalau DIA mencintamu, dan Anda tahu Ia selalu mencintaimu, maka buktikanlah bahwa Anda layak dicintai….
Jika dia mencintaimu, dan Anda tahu ia selalu mencintamu, maka buktikanlah bahwa Anda mencintai dia, dan Anda layak dicintai….

ITU BARU NAMANYA YANG TERATUR…No EGOIS. No SELFISH. Sell a fish, buy a car?

Iklan

26 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kok kesimpulannya “buy a car”? :mrgreen: 😆

    • @fitri

      itu parafrase yang baru saya buat hehehe,
      sell a fish, buy a car?
      itu saya ambil dari prinsip “perdagangan”, pengeluaran sedikit, untung banyak…

      jadi menjual seekor ikan demi mendapatkan sebuah mobil,… sebuah hal yang menjelaskan betapa manusia cenderung rakus dan tidak melihat betapa ia tidak bisa menyentuh realita dengan segala usahanya

  2. Kalo jualan ikannya tahunan ya wajar bisa sukses beli mobil 🙂

    • @lovepassword

      Sell a fish, buy a car?

      >>Kalo jualan ikannya tahunan ya wajar bisa sukses beli mobil 🙂

      hehehe, Anda harus sedikit hati2 dengan parafrase itu
      akan terlihat cara berpikir tipikal di situ… maaf ya…
      kadang memang kita tidak fokus di dalam mengertikan kata-kata

      ada kecenderungan manusia ingin memang sendiri, menjual seekor ikan (di sini sudah jelas mengisyaratkan tentang ikan yang biasa), lalu dengan hasilnya bisa membeli sebuah mobil (mobil biasa juga yang tidak mewah)
      tipikal pikiran.

      proposal tipikal manusia:
      1. Ia akan “mengajukan proposal” bahwa ikannya adalah ikan super, ikan langka, ikan jadi-jadian, ikan dari sorga, sehinga kalau dijual harganya bisa melampaui harga sebuah mobil biasa<—pengkhayal, saya sedang tidak mengatakan tidak akan pernah terjadi, tetapi bisa saja terjadi.

      hmm cukup satu saja, biar langsung terlihat kontrasnya,
      tipikal pemikiran selalu fokus di ikannya, yang murah dan kalau dilakukan berkali-kali akan bisa ditabung, tetapi kenapa tidak menganggap mobil yang mau dibeli juga adalah mobil termahal yang pernah ada di jagad ini? <— ini ada prinsip anugerah hehehe, kalau dicermati.

      jadi kalimat
      Sell a fish, buy a car?
      itu linier, hanya seekor ikan untuk mendapatkan sebuah mobil….
      jangan pikiran lebih dari itu

      • Gini Ya Mister Parhobass : Dalam jual beli itu masalahnya bukan harga ikan atau harga mobil. Masalahnya itu apakah penjual dan pembeli sepakat atau tidak .. 🙂 Kalo sepakat ya berarti transaksi bisa terlaksana dengan baik. Kalo nggak sepakat ya nggak ada transaksi jual beli, kalo dipaksa sepakat ya itu bukan transaksi yang baik. 🙂

        Kayaknya gitu deh. Jadi kalo kamu mau nuker satu mobilmu dengan satu ikanku dan aku sepakat dengan kamu, maka terjadilah .

        Jadi normal2 saja mau jualan ikan ngarep mobil, selama jualan itu dilakukan secara baik , tidak menipu, nggak maksa, dan sebagainya…Kamu mau jualan biting ( lidi ) berharap jadi konglomerat juga nggak ada yang melarang kok. Justru yang bahaya itu manusia yang nggak pernah berharap 🙂

        Ada sisi anugrah, ada juga sisi usaha manusia. Dua sisi ini sama-sama diakomodasi.

        Jadi kalo kamu bilang anugrah, okelah… Banyak orang setuju manusia berencana Tuhan menentukan kan… Lha kamu jadi pinter anggap saja emang anugrah. Anugrah yang besar .

        Tetapi anugrah itu kan juga tidak datang begitu saja. Kamu perlu belajar, jungkir balik, koprol, nangis, berusaha keras dsb… Jadi ada sisi itu juga… Kayaknya gitu dehh… 🙂

      • @Lovepassword

        argument Anda out of text
        dan out of context,

        maaf,
        salam

      • Out of context ya ? Outnya dibagian apa ? jelasin dong Om Par… 🙂

        Kamu baik deh 😀

      • @lovepassword;

        Gini Ya Mister Parhobass : Dalam jual beli itu masalahnya bukan harga ikan atau harga mobil. Masalahnya itu apakah penjual dan pembeli sepakat atau tidak .. 🙂 Kalo sepakat ya berarti transaksi bisa terlaksana dengan baik. Kalo nggak sepakat ya nggak ada transaksi jual beli, kalo dipaksa sepakat ya itu bukan transaksi yang baik. 🙂

        Kayaknya gitu deh. Jadi kalo kamu mau nuker satu mobilmu dengan satu ikanku dan aku sepakat dengan kamu, maka terjadilah .

        Jadi normal2 saja mau jualan ikan ngarep mobil, selama jualan itu dilakukan secara baik , tidak menipu, nggak maksa, dan sebagainya…Kamu mau jualan biting ( lidi ) berharap jadi konglomerat juga nggak ada yang melarang kok. Justru yang bahaya itu manusia yang nggak pernah berharap 🙂

        text dan context di paragrah pertama harap diperhatikan,

        Pernyataan individualis lainnya adalah…..Karena dia mencintaiku, maka aku bebas melakukan apapun.

        seorang menjual seekor ikan, ingn mendapatkan sebuah mobil,…

        lalu perhatikan di comment berikutnya:

        pengkhayal, saya sedang tidak mengatakan tidak akan pernah terjadi, tetapi bisa saja terjadi.

        bisa terjadi, jika….. perhatikan saja argument saya di kalimat paling bawah..

        Ada sisi anugrah, ada juga sisi usaha manusia. Dua sisi ini sama-sama diakomodasi.

        Jadi kalo kamu bilang anugrah, okelah… Banyak orang setuju manusia berencana Tuhan menentukan kan… Lha kamu jadi pinter anggap saja emang anugrah. Anugrah yang besar .

        Tetapi anugrah itu kan juga tidak datang begitu saja. Kamu perlu belajar, jungkir balik, koprol, nangis, berusaha keras dsb… Jadi ada sisi itu juga… Kayaknya gitu dehh… 🙂
        perhatikan point di atas, kita sedang membicarakan “pikiran” egoist,…selfish, yang saya buat parafrasenya, sell a fish, buy a car,…itu sama,… nah manusia juga begitu, ia berharap dengan melakukan “pekerjaan” sedikit, ia berharap surga,… hubungannya dengan anugerah yang saya sebut, adalah TUHAN tidak melihat apa yang dapat kamu lakukan pertama kali, tetapi IA pertama kali memberi secara cuma-cuma. Agak tipis jaraknya,…..
        jadi “melakukan” untuk mendapat,… atau “melakukan” karena mendapat, pilih mana?

        nah argument Anda akan masuk di situ,
        bahwa jika seseorang sepakat dan rela memberi sebuah mobil, maka ia rela menerima pertukaran apapun, termasuk seekor ikan.
        itu anugerah….
        Ok bung,..

      • Lho justru tepat disitulah point yang ingin ku diskusikan 🙂 Mengapa anugrah seakan dipertentangkan dengan usaha manusia ?
        Anugrah dulu atau usaha dulu ? Rasanya seperti telor dan ayam. Mengapa tidak anugrah dan usaha … gicuuuu….

        SALAM

      • @lovepassword

        makanya Anda keseringan lari dari masalah yang sedang dibahas,

        hehehe, kebiasaan buruk kah? ahahahaha…

        mengenai anugerah dan usaha manusia, saya kira sudah jelas di atas,
        jika si pemilik/penjual mobil merelakan mobilnya, maka dikasih seekor ikanpun ia akan mau…karena ia sudah merelakan mobilnya….

        TUHAN pun demikian, IA merelakan KASIHNYA kepada manusia, bahkan rela mati…
        jadi mau dikasih doa dan pujianpun IA rela, intinya asal kita mau menerima… kan gitu toh?

        Jd usaha mendapatkan sebuah mobil dengan seeokor ikan itu bertolak belakang dengan anugerah…kalau si pemilik/penjual mobil tidak mau, maka ditukar dengan segudang ikan “mewah” -pun ia tidak akan mau,…

        nah di sini TUHAN sudah mau dan rela menerima kita, pertanyaannya
        kita mau terima kerelaan itu atau tidak?

        banyakan malah mencemooh, dan malah ada yang menghina dan menghujat, payah sekali….

      • makanya Anda keseringan lari dari masalah yang sedang dibahas,

        hehehe, kebiasaan buruk kah? ahahahaha…

        ===> Hi Hi Hi, masak gitu sih. Bukannya gitu, aku cuma menyajikan sisi yang lebih seimbang.Gitu lho…. ( ngeles mode on 🙂 )

        Masalah anugrah dan usaha manusia itu aslinya ya bisa diterima kalo anugrah dulu. Kalo nggak ada anugrah ya penciptaan manusia juga nggak bakal ada kan. Jika Allah tidak membuat manusia kan juga tidak bakal ada manusia.

        Lha perbedaan antar agama itu penekanannya tidak seperti yang kamu pikirkan : Anugrah dulu atau usaha dulu. Perbedaannya setipis kertas, dsb . Jelas bukan di situ. Kalo ada buku2 Kristen atau malah Islam yang ngomong gitu, yah itu kan konsep biar tampil beda , biasalah itu. Tapi aslinya ya nggak gitu-gitu amat …

        Saya rasa banyak umat beragama kecuali ateis atau agama non teis yang percaya kalo Tuhan yang menentukan. Karena Tuhan yang menentukan , usaha manusia yang berhasil atau kejadian tertentu dipandang sebagai anugrah atau rahmah Allah ketimbang karena kekuatan manusia itu sendiri. Tidak ada masalah dengan ini. Manusia itu memang dikaruniai akal, kekuatan, dsb tetapi tentu saja manusia itu memang lemah, lha manusia kuat karena Allah, itu benar.

        Lha perbedaannya jelas bukan pada soal ini. Perbedaannya adalah implementasi anugrah atau rahmah Allah itu seperti apa , yang harus diterima, yang bersinggungan dengan usaha/penerimaan manusia.

        Itu masalahnya. Gitu lho.

        Lha percaya Allah melakukan X sebagai bukti rahmah anugrah Allah serta tidak percaya Allah melakukan Y , tentu berbeda urusannya dengan
        substansi pertanyaan/pernyataan :
        Kalau DIA mencintamu, dan Anda tahu Ia selalu mencintaimu, maka buktikanlah bahwa Anda layak dicintai….
        Jika dia mencintaimu, dan Anda tahu ia selalu mencintamu, maka buktikanlah bahwa Anda mencintai dia, dan Anda layak dicintai….

        Jadi biarpun aku maju mundur belok kanan belok kiri umpan lambung, umpan silang, heading ya substansinya ya menanggapi artikelmu secara tersurat atau tersirat… Bener nggak ? ( pasti kamu mau bilang nggak 🙂 )

        Jika Paijo percaya Allah melakukan X sebagai bukti anugrah/cinta/rahmah Allah , bukannya Y, tidak sama subtansinya dengan Paijo tidak percaya Allah memberikan anugrah. Itu sesuatu yang aslinya beda …

        SALAM Parhobass…
        GBU

      • @lovepassword

        kuncinya, ALLAH itu MAHA, dan kita tidak,
        jadi ngga usah memaksa TUHAN linier, atau proporsional dengan otak kita…

        Ketika kita percaya TUHAN mengatakan x dan bukan y, maka yang pertama dilakukan adalah konfirmasi dengan TUHAN, kan gitu toh?, sebab 1 orang manusia menerima rencana, 1 milyard yang lain kenak dampaknya,
        jadi kebayang kan ketidaklinieran Hikmat ALLAH?

        TUHAN mengerjakan milyaratan variable, sementara kita mengerjakan satu variable yaitu diri kita sendiri kadang dan sering tidak tahu, ya ngga? hehehe

        Jadi semua anugerah dulu, ada anugerah general ada juga yang tidak,…
        anugerah general, contohnya, kita mendapat udara, matahari, hujan dan lain sebagainya sama, yang didasari pada TUHAN menciptakan langit dan bumi….
        tetapi ada anugerah khusus, dan TUHAN dengan hikmatNya tidak melesat, IA sudah mengenal umatNYA,…dan betapa ngerinya orang yang dikenal TUHAN, tetapi menolakNya….

      • @Tumenggung Parhobass : Saya nggak maksa sih, masak pake maksa segala. hi hi hi..

        Saya tidak mengatakan gambaran Tuhan di kepala saya sama dengan Tuhan sesungguhnya, tentu saja tidak. Yang saya katakan adalah : Kalo aku punya kemungkinan salah, kamu kan iya bisa salah. Hi hi hi … Jadi gini : Sebagai manusia kita tidak bisa mengidentikkan pemikiran kita seolah2 itu Tuhan sendiri.

        Yang kita lakukan itu cuma sekedar menafsirkan sedapat mungkin, sebisa-bisa kita … Jadi kalo A tidak sependapat dengan B atau A dan B dan C berbeda pendapat , rasanya A tidak bisa ngomong bahwa B maksa atau C maksa , karena siapa yang maksa juga tidak jelas…

        ===

        Ketika kita percaya TUHAN mengatakan x dan bukan y, maka yang pertama dilakukan adalah konfirmasi dengan TUHAN, kan gitu toh?,===> Idemu menarik juga…

        Masalahnya adalah emangnya ada cara yang bisa kita anggap 100 persen valid untuk konfirmasi ala ide kamu itu.

        Melihat banyaknya buku2 yang membahas perjalanan ke surga, neraka, remalan kiamat dsb – saya justru kuatir makhuk hidup yang merasa mendapat wangsit atau ilham atau apaan kek, itu jangan2 terbayang-bayang oleh halusinasinya sendiri.
        Bagaimana menurutmu manusia bisa membedakan hal itu ???

        SALAM

      • @lovepassord

        berbahagialah orang yang memiliki pijakan,
        seolah Anda masih mencari pijakan,… segera temukan,…
        dan pijakan hanya ada pada TUHAN…

        mengenai tafsir, dan cara mengkorfirmasi benar apa tidak,
        satu2nya cara adalah… hiduplah pada REALITA…

        Ketika YESUS dipertanyakan ke-Mesiasan dan ke-AllahanNYA, IA tidak menjelaskan Alkitab dari A sampai Z, melainkan IA biarkan mereka yang tidak percaya, dan IA kerjakan apa yang IA harus kerjakan,….

        dan ketika AYUB bertanya kepada ALLAH, coba lihat ketika ALLAH benar-benar datang, IA tidak menjawab pertanyaan AYUB, melainkan TUHAN memperkenalkan siapa DIA, nah apa yang terjadi dengan AYUB? ia berkata, dahulu aku hanya mendengar, sekarang aku bertemu langsung dengan TUHAN,…

        Anda bukan seorang Muslim kan?
        Jadi kapan menyentuh realita, semua wawasanmu itu kawan?

        cari dan mencari, berdoa dan berdoa, tetapi tidak mau menjadi jawaban doa… hehehe ngerti nnga maksud ku?

      • Jawabanmu indah Par, tapi kayaknya kamu sama lelahnya dengan aku… Hi Hi Hi…

        Mencari pijakan yah ? Apakah aku memang sedang mencari pijakan, apakah aku ini sedang terbang tak tahu jalan ke hutan ?

        Kuingat kisah Ibrahim mencari Tuhan . Matahari apakah engkau Tuhan ? Kemudian matahari terbenam… Bulan apakah engkau Tuhan kemudian bulan hilang ditelan siang…

        Tuhan menghargai setiap pencaharian…. Hi Hi Hi
        Tuhan menghargai setiap jiwa-jiwa yang memanggil…
        ================================
        dan ketika AYUB bertanya kepada ALLAH, coba lihat ketika ALLAH benar-benar datang, IA tidak menjawab pertanyaan AYUB, melainkan TUHAN memperkenalkan siapa DIA, nah apa yang terjadi dengan AYUB? ia berkata, dahulu aku hanya mendengar, sekarang aku bertemu langsung dengan TUHAN,…dan ketika AYUB bertanya kepada ALLAH, coba lihat ketika ALLAH benar-benar datang, IA tidak menjawab pertanyaan AYUB, melainkan TUHAN memperkenalkan siapa DIA, nah apa yang terjadi dengan AYUB? ia berkata, dahulu aku hanya mendengar, sekarang aku bertemu langsung dengan TUHAN,…

        ===> Cerita yang menarik. Setidaknya substansinya menarik.

        Ketika Ayub bertanya Allah datang ? Oke deh, anggap saja kamu benar.

        Biar aku bertanya terus, kupertanyakan apa saja, kali-kali saja Allah beneran datang entah langsung atau tidak langsung juga nggak papa – memberikan jawaban pertanyaan…

        Gimana Par ? kayaknya aku harus lebih ceriwis ya ngedumel di mana-mana …

        Yang aku sebutkan itu justru realita, manusia melihat realita dan realita itu kadang mungkin menimbulkan pertanyaan . Jadi yah pertanyaan itu adalah bagian dari cara mengungkap realita . Bener nggak ?

      • @lovepassword

        jika ada pijakan akan mudah melangkah, kan gitu toh,
        pikiran bisa melayang-layang, tetapi kalau tak satupun yang bisa menjadi pijakan, ya seperti burung bangau yang terbang tak tau tujuan dan tempat singgah, mati kelelahan… kan gitu..

        saya sebut TUHAN-lah pijakan, karena banyak hal yang tidak bisa dijelaskan tetapi kita tetap masih bisa berpijak,… DIA tidak terselami, tetapi IA rela memberi pijakan, kan gitu…

        Pertanyaan adalah cara mengkonfirmasi realita, tetapi ada orang yang meminta jawaban dari TUHAN, terkadang TUHAN memberi jawaban kasat mata, maka kita bisa melihat ngga? kan gitu,

        itu artinya berdoa, tetapi harus mau juga menjadi jawaban doa kita…
        masak TUHAN dah jawab tetapi hati kita selalu berontak dan berkata:”Ngga mungkin begini ngga mungkin begono…. “, nah terkadang TUHAN juga berkata:”Ya sudah cari ajah apa maumu”, seperti Firaun;

        Jadilah kehendakMu Bapa dan bukan kehendakku, itu doa kita bersama

  3. Kalau mau jualan ikan, di tempat saya juga boleh.

    • @Triani
      hehehe, bisa yah? dimana tuh?

  4. Di rumah baru saya. Siapa tau bisa dapat pengunjung.

  5. @ Lovepasword
    Melihat banyaknya buku2 yang membahas perjalanan ke surga, neraka, remalan kiamat dsb – saya justru kuatir makhuk hidup yang merasa mendapat wangsit atau ilham atau apaan kek, itu jangan2 terbayang-bayang oleh halusinasinya sendiri.
    Bagaimana menurutmu manusia bisa membedakan hal itu ???
    .
    .
    Saya bisa ikutan nimbrung amangboru Love.. Sepertinya akan banyak buku2 yg pasti membahas ttg itu. But it”s depends with your new Spirit . Roh Kudus adalah Roh yg dapat membedakan segala karunia-2 yg ada di dalam gerejaNYa. Baik itu karunia bhs roh, baik karunia menyembuhkan atau karunia pengajaran maka itu semua berasal dari Satu Roh yg ada dlm diri org percaya. Jikalau kamu belum memahami itu semua itu berarti roh mu belum diperbaharui. Pembaharuan rohmu hanya dapat dikerjakan jikalau jiwamu meminta kpd si Yang Empunya Roh yakni Yesus Kristus. Ada tertulis Yesus Kristus membuat itu semua spy Roh yang Dia janjikan itu turun atas orang yg percaya kpdNya. Maka Roh itu akan menerangin segala sesuatu, menelanjangin segala sesuatu, bahkan utk mengujinya , semua roh-2 dari dunia ini akan bertekuk lutut kpd roh yg ada didalam diri setiap org yg percaya. Karena Roh yg ada di dalam dirimu lebih besar dari roh-2 yg ada di dalam dunia ini. Itu makanya santet , teluh dan tenung tidak akan pernah mengenai setiap orang-orang Kudus ( Anak-Anak Kristus).
    .
    .
    Salam kasih ya amangboru

    • @Lae Sihotang

      tambahan lae buat amangboru Lovepassword

      nubuat atau penjelasan hal-hal yang terjadi, biasanya selalu diberitahukan secara tidak individual,…

      mari kita lihat contoh:

      pada saat Musa, ada Harun dan Maryam yang mengkonformasi TUHAN berbicara
      pada saat Daud, ada Nathan, dan nabi-nabi lain yang mengkorfirmasi
      pada saat ELIA, bahkan ada 7000 orang suci yang bisa mengkonfirmasi
      pada saat Yeremia dan nabi-nabi lain, juga bukan hanya satu nabi yang bisa mengkonfirmasi

      pada saat Paulus, ada Ananias, Barnabas, Petrus, Yakobus dan Yohanes yang mengkonfirlasi bahwa Paulus dipilih oleh Kritus..

      jadi.. apa yang kita dapat silahkan dikonfirmasi dengan sesama seiman…

      konfirmasi yang pertama sekali tentu, cek di Alkitab….

      salam,

      • @Parhobass tercinta : Apakah dengan ucapanmu ini kamu mau ngomongb secara diplomatis bahwa buku2 yang membahas soal kiamat, perjalanan ke surga, neraka, dsb lebih banyak gombal-gambul fiksinya daripada layak dipercaya ???

      • @lovepqssword

        saya sedang tidak ngomong diplomatis
        Anda bisa cari sendiri, kalau ada nubuat diartikan oleh seseorang, maka bandingkan dengan ALKITAB pertama kali, lalu bandingkan dengan apa yang ada pada orang percaya yang lainnya,

        seperti kata lae sihotang di atas, ROH Hanya Satu, jadi satu pula arti nubuat…

  6. @om parhobass

    memang sudah sifat dari sebagian besar manusia mungkin untuk lebih banyak meminta daripada memberi….. tapi itulah kasih Allah kepada manusia… tak akan berarhir dan tak akan berkesudahan…..

    dari baca tulisan di atas, cinta itu tidak bisa terus2an di curahkan… tapi juga harus ada memberikan…. karena cinta itu take and give…. bukan hanya take saja atau give saja….

    sebagai contoh…. manusia mengharapkan sesuatu yang indah dari Allah, maka ia harus beribadah (dalam arti luas misalnya berdoa, berbuat baik, dll) nanti begitu manusia itu sudah mendapatkan yang dia inginkan, rata2 mereka akan terlena akan pemberian Allah dan melupakan kewajibannya….. namun karna kasih Allah, Allah tetap saja mencurahkan kasih karunianya tapi di sertai dengan sentilan2 kecil (cobaan…) agar manusia itu sadar dan teringat bhwa dia telah lalai…..

    @lae lovepqsword
    ===========================
    Kuingat kisah Ibrahim mencari Tuhan . Matahari apakah engkau Tuhan ? Kemudian matahari terbenam… Bulan apakah engkau Tuhan kemudian bulan hilang ditelan siang…

    Tuhan menghargai setiap pencaharian…. Hi Hi Hi
    Tuhan menghargai setiap jiwa-jiwa yang memanggil…
    =============================

    ibrahim hidup di masa perjanjian lama lae…. mereka masih mencari2 dan terus mencari siapa itu Allah…..

    Tuhan memang menghargai setiap pencaharian…. tetapi tidak untuk pencarian…….

    sadar atau tidak, Allah telah mengaruniakan anaknya yang tunggal Tuhan kita Yesus kristus untuk di utus ke dunia menjadi Anak manusia…

    jadi Allah sudah mengutus dan memberikan… so buat apa mencari lagi…. ingat lae… yang menyelamatkan itu Iman percaya kita terhadap Yesus…… Iman tidak berarti harus melihat bertemu…..

    berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat…. Itulah IMAN….

    kalo mau lihat Yesus ya balik ke masanya Herodes lae… hehehehe

  7. @om parhobass

    mungkin saya bisa minta YM atau emailnya…. untuk sharing problem…. sepertinya saya bisa mendapatkan pertumbuhan iman dari si om……

    • @mas Reinhart
      maaf telat membalas, agak sibuk neh…

      email saya parhobass@gmail.com
      untuk YM, maaf saya ngga terlalu sering YM-an; saya lebih konsen di hakadosh dan parhobass wordpress. YM-pun biasanya sama Istri saja, karena saya sering keluar kota dan istri juga demikian..

      pertumbuhan iman? ah jgn gitu ah ehehhe, pertumbuhan iman adalah urusan kita sendiri dengan TUHAN, orang lain, saya salah satunya hanya bisa sebagai bukti atau sebagai kesaksian bahwa TUHAN itu baik dan mau berjalan bersama kita,

      Salam,
      saya tunggu kabarnya di email, tetapi kalau bisa di blog ini juga,
      ada juga lae Sihotang tempat “mengadukan” pertanyaan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: