Pendapat akibat agama

Maret 19, 2010 pukul 9:05 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 4 Komentar
Tag: ,

Ketika kita diskusi dimana saja, pola pikir kita akan terlihat dari pikiran yang dilahirkan oleh agama, di dalam hal ini saya lebih senang mengatakan hubungan pribadi kita dengan TUHAN.

Seorang Kristen mengajukan pendapatnya demikian, seorang injili mengajukan demikian, seorang pentakosta demikian, seorang methodis demikian, seorang Lutheran demikian,.. d.l.s,…. dan seorang agama yang lain demikian, seorang anti agama demikian, seorang anti Tuhan demikian, seorang atheis demikian,…d.l.s..tetapi terkadang kelompok itu hanya tameng, yang menjadi pola dasar adalah hubungan kita tengan TUHAN…hubungan yang benar akan memancarkan pikiran yang benar.

Melihat perpecahan maka timbul pertanyaan, lalu pendapat siapa yang benar?

Sekiranya dilukiskan dengan garis di atas, akan sangat mudah mata kita melihat mana yang lurus dan mana yang tidak. Tetapi manusia yang berkelat-kelit, berbelat-belit tepatnya, ketika memandang dunia akan memandang dirinyalah yang benar, sementara yang lain pasti salah. Biarpun ada garis putus-putus di dalam dirinya, tetapi memandang ke luar, semuanya itu menyambung, dan garis yang benar-benar lurus itu menjadi terlihat putus-putus baginya,… “Anda pasti salah, saya pasti benar”… begitulah simpang siur terjadi…

Bagi yang sibuk dengan mata relatifitas akan nilai kebenaran, akan indeks kebenaran, ada sedikit kearoganan dilihatnya di mata orang yang merasa dirinya benar yang lain, yang beragama, di mata orang yang sedang mencari mencari kebenaran tentu melihat arogansi tingkat tinggi di mata orang beriman yang lain. Dan orang yang mencari akan kelimpungan sebab sesama yang beragama ternyata tidak jauh dari gambar musang dan domba, serigala dan domba, kucing dan tikus, kejar-kejaran demi perut dan nasi….

Bagi kita yang hidup di jaman yang indah ini kita bisa memandang Raja Daud sebagai tokoh idola, seorang yang beriman dan sangat ditakuti musuhnya, sebab TUHAN menyertainya, seorang penggubah Mazmur. Ia penuh kesaksian hidup tentang hubungan pribadinya dengan TUHAN-nya.
Tetapi mari kita coba bayangkan jika kita hidup di masa Daud. Misalkan kita seorang yang sealiran pemikiran dengan Daud, dan kita sama-sama setuju dengan Daud perihal semua praktek keagamaan dan keimanan akan adanya TUHAN…. lalu..lalu…Kita menyaksikan bahwa Raja Daud…memperistri seorang istri kepala pasukannya sendiri dengan cara yang icik…Betapa terpukulnya kita… betapa ejekan akan lahir… betapa pahit dan getirnya… TUHAN terkadang dilecehkan oleh orang yang percaya kepada TUHAN itu sendiri…

Berita terbaru di biara-biara sering terjadi pelecehan seksual,…di sekolah-sekolah kekristenan ada penyimpangan-penyimpangan perilaku, guru-guru dan pendeta-pendeta mencari untung, “firman TUHAN” dibisniskan….
Dan pahitnya lagi, sampel-sampel yang jorok dan kotor ini lebih tertarik untuk diberitakan ketimbang sembuhnya penyakit akut, kanker d.l.s oleh tumpangan tangan,.. tentang kasih setia seorang istri kepada suami, tentang integritas pendeta-pendeta miskin d.l.s…
Dan karena sampel jorok itu lebih terlihat, lebih tampil di muka, maka lahirlah kesimpulan: “TUHAN pasti tidak ada, TUHAN ini dan itu…”…

Itulah sekian contoh pendapat yang lahir dari akibat hubungan seseorang dengan TUHAN…

Jika hubungan seseorang dengan TUHAN begini maka agamanya begini, jika ingin begitu maka agamanya begitu…ada juga contoh seperti ini. Bahkan orang beragama bisa jadi mempraktekkan hal yang sama, semisal ia sudah menganut agama tertentu, ia masih melakukan prosesi-prosesi tertentu demi hal-hal yang dilihatnya menguntungkan dirinya sendiri…

Pertanyaan,… “Apa hubungan TUHAN dengan kesalahan orang yang bejad ini?”.
Jelas pernyataan mengambinghitamkan TUHAN atas segala kebejatan moral dari orang-orang yang mengaku beragama, Kristen contohnya, adalah akibat dari pendapat agama yang salah dari guru-guru palsu. Guru palsu akan memandang TUHAN yang Mutlak Mengasihi, dan tidak memandang bahwa TUHAN juga adalah HAKIM,… “IA akan memaafkan segala dosamu”, tambahnya,.. lalu dilegalkanlah segala bentuk pelanggaran akan nilai kekudusan… dan jika ini sampai tercium oleh orang yang tidak percaya… maka semakin runyamlah masalah… orang yang mencari akan susah melihat TERANG, dan bahkan semakin buta..

Lalu, jika semua manusia tidak ada yang benar, semua menusia bisa mengeluarkan pendapatnya, dan menganggap itu yang benar, oleh apa kita bisa melihat garis lurus ini?

Alkitab berkata, TUHAN berkata: “AKU ADALAH KEBENARAN”…
Artinya marilah memandang kepada Standard Benar ini, kepada DIA-lah kita membenturkan segala kegalauan pikiran kita, segala pertanyaan kita, sebab sekali DIA juga pernah berkata: “AKU adalah ALLAH YANG HIDUP”, DIA ADA dan DIA masih ADA dan DIA akan ADA…DIA selalu ADA…

Lalu apakah kita pernah bertanya kepada DIA?
Kalau tidak, lalu kenapa Anda mau bertanya kepada manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan? kenapa manusia yang rusak ini Anda buat menjadi patokan?, sekarang yang salah siapa?…

Kesaksian berbeda, karena setiap kita unik. Orang yang dibenarkan akan bercerita kesaksian hidupnya… dan biarlah kesaksian hidup itu menjadi modal, menjadi pendorong bagi setiap insan-insan yang unik yang lain, sebagai bukti bahwa Yang ADA itu mau juga menjamah setiap orang dengan melihat keunikan yang ada pada diri kita sendiri…

Jika menurut Anda pendapat ini tidak berguna, maka memang niat untuk dibenarkan tidak ada.
Daud, Abraham, dan semua manusia yang dipilih TUHAN, tidak ada yang benar, semuanya dibenarkan oleh TUHAN, dan kiranya kita juga, yang tidak luput dari pendapat akibat agama yang kemungkinan ada salahnya, mendapat kasih karunia, dibenarkan.

Yang dibenarkan adalah orang yang salah sama seperti kita juga, sebab tidak ada manusia yang tidak salah, yang merasa dirinya benar, sekali lagi, ia tidak akan pernah mau dibenarkan, itu juga bisa karena pendapat agamanya.
Apolos, Paulus, Petrus, Daud, d.l.s menjadi contoh bagi setiap hati dan dan telinga yang mau terus mendengar berita-berita pembenaran, berita-berita penghiburan dari TUHAN, DIA Satu-satunya Yang BENAR.

TUHAN Yang tidak pernah tidak benar, mau mewahyukan KEBENARAN-NYA, dan biarlah ini menjadi anugerah terbesar bagi kita, dan biarlah kita melihat segala perbuatan yang dapat dilahirkan oleh KEBENARAN itu…

Dan jika kita mendapat berita KEBENARAN, maka hiduplah oleh Kebenaran itu, sebab ada terrtulis,
Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Dan dari semua yang ada kita layak melihat bahwa hanya Satu Kebenaran, yaitu YESUS, yang rela dan mau membenarkan orang-orang yang percaya kepada DIA…

Iklan

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Artikelmu yang ini terkesan sendu mendayu Par. Mungkin saat membuatnya kamu berkali-kali menghela napas panjang. Rasanya prihatin gitu ya Par ???

    Saya bisa bersimpati terhadap kerisauanmu Par. Kadang2 aku juga mikir : Seberapa besar sih kontribusi pemeluk agama terhadap lahirnya paham2 semacam ateisme, dan sejenisnya. Itu rada menggelisahkan. Saya kadang dongkol tetapi mungkin lebih jengkel pada diri sendiri.

    Hi Hi Hi

    SALAM Par

    • tepat sekali Lovepassword..

      tertulis:”Manusia menajamkan manusia”…
      jika manusia lain jatuh, kita berdoa kiranya ia bisa bangkit, jika kita jatuh kiranya ada orang yang mau dan rela membangkitkan kita, menguatkan kita…

      dan memang tidak mudah menerima didikan, apalagi orang yang menganggap dirinya lurus…
      mungkin bisa kita ambil contoh dari perihal antara DAUD-BETSEYBA-Nabi NATHAN

  2. Masalah lurus itu mungkin memang tidak mudah melihatnya. Jika kamu berada dalam garis itu, kamu tidak bisa memastikan 100 persen garis mana yang lurus.

    Jika kamu ada dalam garis, lebih sulit melihat garismu lurus atau aslinya tidak lurus. Hanya yang melihat garis dari luar yang bisa membedakan mana garis yang lurus dan mana yang tidak. Karena itulah mungkin cuma Tuhan yang bisa benar2 membedakan mana yang lurus selurus-lurusnya, mana yang 100 persen benar dan mana yang tidak.

    SALAM Par

    • @lovepassword

      tepat, jika manusia fokus terhadap dirinya sendiri maka ia hanya memandang lurus jalannya, tetapi jika ia mengenal TUHAN, tentu ia akan sadar betapa tidak lurusnya dia, karena hanya TUHAN Yang lurus…

      dan karena hanya TUHAN Yang lurus, maka oleh DIA-lah kita diluruskan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: