Hubungan pribadi dan Agama

Februari 2, 2010 pukul 2:39 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

TUHAN sudah sejak awal membina hubungan dengan ciptaanNYA, terutama manusia. Praktek hubungan pribadi dengan TUHAN terkadang ditandai dengan prosesi-prosesi, ibadah, dan ada juga seperti doa-doa, nyanyian, mazmur. Dari semua itu cahaya yang paling diharapkan adalah berbedanya karakter sang manusia yang mengaku mengenal ALLAH.

Orang-orang yang mengaku mengenal ALLAH yang sama, cenderung mengelompokkan diri, dan mereka ini terkadang lebih nikmat disebut sebagai suatu AGAMA.

Jadi hubungan pribadi dengan TUHAN membuat adanya agama. Keadaan kadang terbalik, orang bisa saja mengenal TUHAN oleh karena pengajaran agama. Karena orang-orang yang berada di agama tertentu, selalu ada yang menjadi panutan dan titik acuan, dan mereka memberitakan itu kepada generasi ke generasi berikutnya. Hubungan intern agama akan indah jika person-person di dalamnya memiliki hubungan pribadi yang sama seperti hubungan pribadi pendahulu kepada TUHAN. Ketika hubungan itu abu-abu maka hubungan kepada sesama akan kacau. Hubungan pribadi masing-masing manusia dengan TUHAN itu unik, karena manusia di dalam banyak hal tidaklah sama, unik. Kalau kita tidak menyadari ini maka yang ada adalah fanatisme-fanatisme. TUHAN memang Satu, dan TUHAN adalah Sama baik dulu dan sekarang, tetapi karena manusia tidak sama, dan manusia unik maka TUHAN menyapa manusia dengan cara TUHAN, dan terkadang penangkapan seorang dengan yang lain bisa berbeda. Tetapi kesatuan makna dan arti dari puluhan orang yang menulis Alkitab dari rentang ribuan tahun, dapat membuktikan bahwa biarpun kepala manusia beragam tetapi TUHAN yang adalah Satu dapat membuat benang merah yang indah.

Jadi jika kita memeluk agama tertentu, buktikan itu sebagai cerminan bahwa kita memiliki hubungan pribadi dengan TUHAN, tetapi bagaimana kita berhubungan dengan TUHAN jikalau kita tidak memiliki kepribadian dan bahkan kita tidak tahu bahwa TUHAN adalah Pribadi? Akhirnya semoga agama tidak menjadi batu loncatan untuk melegalkan bahwa kita telah memiliki hubungan pribadi dengan TUHAN yang padahal tidak sama sekali.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: