Kepala dan bukan ekor

Januari 20, 2010 pukul 8:50 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , , , , ,

Ulangan 28:13 ini menjadi dasar yang kuat bagi kita untuk berkata:”Jadilah kepada dan bukan ekor”.

Ekor selalu mengikuti perintah kepala, anggota-anggota mengikuti pemimpin, dan lain sebagainya.
Apakah semua bisa jadi kepala? apakah semua bisa menjadi pemimpin?

Aku baik bukan karena Anda baik kepada saya, tetapi aku baik karena Kristus ada di dalam aku. Inilah prinsip manusia yang menjadi kepala dan bukan ekor.

Ya seperti itu, bahwa begitu banyak orang membalas jasa orang lain, balas budi, untuk membuktikan bahwa ia pernah menerima kebaikan dari seseorang itu. Ia menjadi tunduk kepada kebaikan orang lain, ia telah menjadi ekor. Sebab apakah ia dapat berbuat kebaikan jika tidak ada orang lain yang berbuat baik kepada dirinya? Ekor inilah manusia ekor.

Berbuatlah segala yang baik, karena Kristus telah menjadi Raja bagi tubuh dan roh dan jiwa Anda. Itulah yang membuktikan iman dan percaya kita kepada kedatangan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita disebut anggota tubuh Kristus, dan kita tidak harus dan tidak bisa menjadi Kepala Gereja. Karena kita tidak bisa menjadi Kepala Gereja, maka tunduklah kepada Dia, Tuhan Kristus, Yang adalah Kepala.
Dan karena kita tunduk maka berbuahlah segala kepercayaan kita dengan buah-buah rohaniah. Itu nyata akan terlihat karena terang tidak dapat disimpan atau dikurung, tetapi ia harus ditempatkan di tempat yang tinggi supaya cahayanya terlihat dan berguna. Dan karena buah-buah rohaniah itulah maka kita menjadi kepala kepada tubuh sendiri, kepala kepada hawa nafsu, sehingga kita tidak tunduk kepada kebaikan orang lain, tetapi tunduk kepada Bapa segala roh, yaitu Allah.

Dengan melakukan kebaikan, kita tidak menjadi hidup di bawah bayang-bayang kebaikan orang lain, tetapi dengan senantiasa memancarkan kebaikan itu maka yang dikatakan berbalas budi adalah menjadi turunan kedua dari kebaikan itu sendiri, artinya sudah tidak menjadi alasan utama untuk berbuat baik, tetapi menjadi bukti kesekian dari keadaan tunduk kepada Allah.

Maka jadilah kepala dan bukan ekor!

Iklan

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sebuah interpretasi yang bagus tentang metafora “kepala dan ekor”. Kadang orang menafsirkannya bahwa orang Kristen akan selalu pimpinan. Kalau semua jadi pimpinan, siapa yang mau jadi bawahan. Dan menurut saya, “Leader” bukan hanya sebatas posisi atau status, namun lebih ke sikap hati seseorang untuk membawa dan mengajak orang lain ke arah yang lebih baik.

    • terimakasih….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: