Antara memuliakan dan tuntutan agama

Januari 5, 2010 pukul 8:48 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 5 Komentar
Tag: ,

Tuhan Yesus (semasa inkarnasi) memuliakan Bapa dengan melakukan semua apa yang Bapa inginkan, yang semuanya tentunya sudah tertulis di Perjanjian Lama. Dan Bapa mempermulikan Yesus di dalam kebangkitanNYA, dan memberikan hak kepada Yesus, sebagai HAKIM, karena Allah adalah HAKIM. Dikatakan diberi, karena untuk sementara Yesus pernah menjadi manusia. Dan di dalam keadaanNYA yang sudah bangkit, naik ke sorga, maka apa yang IA kosongkan, sehingga berinkarnasi menjadi manusia, dikembalikan, diberikan, dimuliakan sebagai mana IA ADA.

Kita, terkhusus manusia Indonesia ini, tidak ada satupun yang tidak mengakui memiliki agama. Semua beriman, saya tidak mau menggesernya menjadi jenis agama tertentu, yang pasti beragama. Meski tidak berani untuk mengaku gamblang, banyak juga yang pada dasarnya tidak beragama, tidak melakukan tuntutan agama, disebut abangan, ktp doang. Target tidak kesana, karena penjahatpun, terkadang, kalau sudah berbicara agama, bisa langsung menumbuhkan tanduk permusuhan, marah, dan lain sebagainya. Di sini, saya hanya menyebut pasti beragama. Agama berisi iman, dan iman menuntut keseriusan.

Tidak dapat disangkal, Pancasila, berdiri di atas kaki, Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, Ketuhanan menjadi pola pembentuk, pondasi yang kokoh atas berdirinya Indonesia itu sendiri. Kebudayaan yang kaya. Saripati kehidupan dituangkan kepada dasar negara ini, salah satunya keimanannya.

Tetapi, adakah yang memuliakan dasar itu? atau paling tidak menunjukkan bukti ketuhanannya?, dalam hal ini sampai segi yang sangat dalam sekali?
Sehari-hari saya melewati kemacetan yang super macet, setiap hari. Saya menyaksikan, meneliti, dan terkadang timbul kata memahami, kenapa orang bisa sampai rela berdarah-darah demi ongkos ribuan saja. Keserakahan, adalah pola utama, dan seterusnya itu dikembangkan oleh roh tidak tertib.
Bis-bis contohnya akan mendapat penumpang di perapatan, terminal-terminal dipenuhi calo-calo yang mengais seribuan sampai lima ribuan dari setiap penumpang yang masuk. Tiap persimpangan jalan dipaksa ‘menggelontorkan’ dana untuk talangan kehidupan preman atas sehisap dua hisap rokok. Bahkan si seragam coklat ini, di jaman ini masih ada yang dihargai dengan sepulu ribu rupiah.
DIMANA TUNTUTAN AGAMA?…

Bahkan pengendara motor berlari kencang, beradu dengan pelototan mata Polwan-polwan, atau Polisi-polisi. Dua jari mereka menuntun, agar pengendara roda dua mengambil jalur lambat, tetapi… wuuusss, kekeraskepalaan, roh tidak tertib sudah memimpin lebih kuat. Berontak sajalah, jalur cepat lebih menolong, karena perut menunggu untuk dipuaskan.

Bahkan seorang kepala instansi anu, setelah menerima beberapa juta langsung memberi ceramah agama, di tempat ibadah anu. DIMANA TUNTUTAN AGAMA?

Kalau masih kurang, urutan negara terkorup di dunia tidak pernah lepas dari 100 ke bawah.
DIMANA TUNTUTAN AGAMA?

Pribadi-pribadi harus memuliakan TUHANnya, masing-masing, buktikan pengetahuan agama Anda dengan hidup Anda sehari-hari. Kenali batas terluar di dalam keadaan Anda sebagai manusia sosial. Lalu tuntutan agamapun ringan dan benderang mencahayai orang. Terlalu ideal, dan memang ideal, dan seharusnya ideal.
Dan tidak perlu menjadi bekicot untuk membuktikan orang lain bunglon.

Indonesia, saya bermimpi, saya berharap, menjadi satu-satunya negara yang jujur, memainkan peran sebagai negara yang memang memuliakan TUHAN.

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Alangkah indahnya kalau keimanan beragama dinyatakan dalam perbuatan. Yang menjadi Pe-eR adalah bagaimana memaknai keagamaan itu????

    • pe-er besar itu,…

      sebenarnya bukan pe-er, kalau boleh seh…
      bagaimana orang mengenal TUHAN dengan barrier agama hehehe
      mungkin banyak yang tidak setuju tuh

  2. Lha Agama itu pagar atau jembatan ? Ya kadang jadi pagar kadang jadi jembatan. 🙂

    • idealnya, mengenal TUHAN maka memiliki agama,
      sebaliknya kebanyakan orang dari bawah dulu, mengenal agama baru mengenal TUHAN,…
      inilah yang saya sebut barrier

  3. @ Ester
    said :
    Alangkah indahnya kalau keimanan beragama dinyatakan dalam perbuatan. Yang menjadi Pe-eR adalah bagaimana memaknai keagamaan itu????

    .
    .

    memang benar itu sdrku yg terkasih ..
    Di dalam suatu negara yg sekuler maka pemerintah yg bersangkutan akan berusaha menyediakan suatu wadah dan kelembagaan yg mengatur tiap-tiap kepercayaan rakyatnya. Sehingga timbullah suatu agama yg bertujuan mengatur tata hidup kerelijiusan warga negaranya dalam menyembah sesuatu keyakinannya. Nah, tergantung siapa yg dipercayai maka diharapkan orang yg memiliki kepercayaan yg disahkan negara akan menjadi pelaku agama yg baik menurut keinginan negara itu. Itulah yg menjadi peer kita bersama. Masalah keselamatan pribadi yg yg dipercayaain seseorang itu adalah masalah lain lagi.

    Salam Kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: