Sedikit menyangkal tuduhan Korupsi

Januari 4, 2010 pukul 5:33 pm | Ditulis dalam Apologet | 6 Komentar
Tag:

Ini bukan tentang penyakit korupsi yang mem-budaya di negeri ini. Tetapi hanya sedikit upaya untuk memperjelas ketidakkorupsian Alkitab. Caranya?
Yaitu dengan menjelaskan bahwa Alkitab itu sendiri sedari awal sudah banyak terjemahannya, dan suatu terjemahan tidak akan menjadi mudah untuk dirubah secara keseluruhan, karena masalah geografis dan sosiologis (tidak usah ngomong doktrin dulu dah, karena terlalu tidak mungkin malah)

Versi Alkitab, sedikit membingungkan memang, kosa kata ini kadang-kadang merusak anak-anak pemula. Versi seenaknya telinga kita musti diartikan,.. terjemahan menurut.. Suatu terjemahan amat sangat jarang dilakukan oleh satu orang saja. Contohnya NIV diterjemahkan oleh lebih dari 100 pakar (tak kurang dari 95 persen adalah bergelar Doktor Theologia, sumber Preface NIV), atau mungkin kita bisa mengingat LXX (70 orang)…

Inilah versi-versi Alkitab (terjemahan-terjemahan Alkitab) awal:
Yunani:
Septuaginta; Aquila; Theodotion; Symmachus; d.l.l

Versi-versi dari Septuaginta:
Vetus Itala atau Old Latin; Egyptian atau Coptic (Bohairic, Sahidic, Akhmimic, and Fayûmic, seperti Middle Egyptian atau Bashmuric); Ethiopic dan Amharic (Falasha, Galla); Gothic; Georgian atau Grusian; Syriac; Slavic (Old Slavonic, Russian, Ruthenian, Polish, Czech atau Bohemian, Slovak, Serbian atau Illyrian, Croation, Bosnian, Dalmatian); Arabic; Armenian.

Versi-versi dari Ibrani:
Chaldaic; Syriac (Peschitto); Arabic (Carshuni); Persian; Samaritan Pentateuch; Vulgate; d.l.l.

Versi-versi Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani

Versi-versi dari sumber-sumber yang bercampur-campur:
Italian; Spanish; Basque; Portuguese; French; German; Dutch and Flemish; Scandinavian (Danish, Swedish, Norwegian, Icelandic); Finnish (Estonian, Laplandish); Hungarian; Celtic (Irish, Scottish, Breton atau Armoric, Welsh atau Cymric).

Versi-versi lain:
Aleutian; Aniwa; Aneitumese; Batak (diterjemahkan langsung dari Yang berbahasa Ibrani dan Yunani); Benga; Bengali; Chinese; Gipsy atau Romany; Hindu; Hindustani; Japanese; Javanese; Mexican; Modern Greek.

Versi-versi berbahasa Inggris

sumber: newadvent.org

Iklan

6 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kamu tuh kadang2 aneh juga. Korupsi itu maksudnya apa lagi? Di artikelmu nggak terlalu jelas maksudmu.

    Lha wong sejak awal yang ada kan memang seleksi. Dari tumpukan naskah banyak, diseleksi. Lha dalam proses seleksi itu yah pastilah ada yang terbuang barang. Kalo yang gituan dianggap korupsi ya nyatanya emang gitu. Di seleksi, kemudian diputuskan yang mana kanon yang mana deutrokanonika, dsb. Lha dalam proses itu pasti ya ada pengurangan kalo sudut pandangnya kumpulan ceceran naskah2 yang ada.

    Proses seleksi itu kan logikanya gini : Jangan sampai ada yang kitab2 meragukan masuk. Kurang lebih miriplah sama seleksi mana hadis yang shahih. Lha kalo ada meragukan entah meragukannya dari sisi apa ya mendingan tidak dimasukkan daripada dimasukkan. gampangannya kan gitu. Dari sisi ini aslinya sih selalu terbuka peluang bahwa masih ada ceceran ayat yang diakui tetapi memang aslinya ya tulisan nabi2 itu. Itu kan sangat mungkin.

    Seleksi sifatnya lebih menjamin bahwa hasil seleksi itu gampangannya baik. Tetapi seleksi tidak bisa menyimpulkan bahwa yang tidak lolos seleksi pasti jelek, sesat, dsb. Cuma meragukan . Itu saja.

    • bahasan Anda itu mungkin ke Kanon, Anda bisa membuka, Alkitab, karena tulisan di atas menjelaskan apa yang di-kanon-kan, lalu dituduh di korupsi.

      contohnya:

      Menurut Penulis NKJV, untuk kata “Tuhan Yesus Kristus” saja NIV telah menghilangkan sebanyak 24 buah, tetapi menambahkan kata “Yesus” saja sebanyak 292 buah

      nah di mata orang itu bisa jadi korupsi. Tetapi dengan mengerti arti ‘version’, dan metode penerjemahan, itu bisa teratasi.

  2. Dari sisi ini aslinya sih selalu terbuka peluang bahwa masih ada ceceran ayat yang diakui tetapi memang aslinya ya tulisan nabi2 itu. Itu kan sangat mungkin.

    ==> Salah ketik, maksudnya tidak diakui. 🙂

    • Anda mungkin lebih baik mencari informasi tentang KANON

  3. Coba kamu ingat2 dulu deh proses diakui Kanon itu seperti apa. Dari yang banyak, terus diseleksi dipilih-pilih kan. Logika pemilihannya gimana ? jangan sampai yang bukan asli masuk? Bener kan?

    saya rasa logikanya sederhana ya mister Parhobas tercinta . Di dalam suatu seleksi antara barang yang dianggap baik dari yang tidak baik, ibaratnya kamu mau memisahkan kumpulan beras yang tercmpur dengan kerikil, kalo kamu mengharapkan kualitas terbaik :

    Mendingan ada beras yang tercecer tidak masuk ke ke penyimpanan beras daripada ada kerikil yang tercecer masuk ke penyimpanan beras.

    Lebih baik ada tulisan Nabi yang tidak masuk daripada ada bukan tulisan Nabi ( tulisan yang meragukan ) yang masuk.

    Dalam seleksi pasti terjadi seperti itu. Kalo ada yang mengaitkan dengan korupsi, ya jawab saja itu seleksi. Hi Hi hi.

    Apakah seleksi bisa memasukkan semua yang baik dan membuang semua yang jelek ? Filosofinya kalo terpaksa tidak bisa mengambil semua yang baik , lebih baik menghindari semua yang jelek masuk.

    Dalam kaidah agama itu disebut : Mencegah kemungkaran lebih baik daripada berbuat baik. Itu saja persoalannya sih. Hi Hi hi. Jadi kalo itu diartikan korupsi dalam arti pasti tidak semuanya masuk, ya jawaban jujurnya ya mustahil semuanya bisa masuk. Apakah ada yang berpotensi baik yang terbuang ? Jawabannya iya , karena penekanannya itu agar yang “tidak baik atau meragukan” jangan sampai masuk. Lah akibatnya ya pastilah sangat mungkin ada juga yang baik2 yang asli tetapi bisa saja dianggap meragukan. Dari sisi inilah mungkin ada pendapat korupsi segala macam. Lha jawaban atas logika korupsi itu kan ya gampang? Memang ada yang dibuang pasti itu, tapi semua seleksi ya seperti itu lengkap dengan dilemanya.

    Kalo masalah terjemahan, secara umum ya memang ada persamaan nuansa. Tetapi dalam kasus2 tertentu , dalam topik tertentu memang ada jawaban bahwa oh itu terjemahannya yang kurang tepat segala macam. Mau diterjemahkan seribu pakar pun karena ini kaitannya dengan beda budaya, bisa saja pada satu kasus ada gap bahasa yang sulit diterjemahkan antara bahasa yang satu dengan yang lain, diterjemahkan secara enak atau minimal suasana kebatinannya agak mirip dengan aslinya.
    Tapi asal muasalnya itu mungkin bukan di situ : Karena da preseden penyimpangan agama pada masa lalu dimana ada monopoli keagamaan pada satu kelompok, maka kemudian ada perlawanan atau antitesa dimana kemudian ada upaya supaya monopoli itu tidak perlu ada, bagaimana supaya Alkitab bisa dijangkau ke banyak lapisan termasuk yang tidak paham bahasa2 aslinya. Saya rasa asal muasalnya kan gitu.

    SALAM

    • @lovepassword,
      sekali lagi bahasan Anda ke kanon, tetapi tidak apa2, begini:

      untuk PB
      perhatikan penulisan surat Paulus contohnya, surat kepada Jemaat Tessalonika, artinya surat ini awalnya buat Jemaat Tessalonika saja, akan tetapi setelah kemudian hari, nasehat itu juga perlu dibagikan ke Jemaat-jemaat lain, contohnya jemaat di Roma, yang jaraknya ratusan kilometer perjalan darat, maka surat Tessalonika itu di surat ulang, mungkin dengan tulisan yunani atau latin, sesuai keperluan,… seterusnya yang ternyata asli ini kemungkian hilang atau rusak, sehingga yang tersisa yang latin atau yunani ini. Semua jemaat sudah mengenal surat-surat ini, baik dari Paulus, Yudas, Yohanes, d.l.l, karena sering digunakan diibadah-ibadah, tetapi mereka belum membukukan itu semua, sampai seorang Marcion d.l.l berusaha membukukannya (usaha Marcion sebenarnya bisa menjadi kanon pertama, tetapi usaha dia yang mau menghilangkan PL membuat ia tidak diterima), tetapi jumlah buku yang sama juga dipelihara oleh bapa-bapa gereja awal, sampai Eusibus, Origen d.l.l mengkanonkan secara pribadi, dan kanon pribadi inilah yang diteliti oleh Bapa-bapa gereja berikutnya di abad 3 melalui konsili, dan semuanya diterima. Kalaupun ada maka biasanya dimasukkan ke apochrypa saja.

      mengenai tuduhan ada surat yang sebenarnya tetapi tidak diterima, itu kemungkinan bisa saja, tetapi segera bisa ditutup karena, kanon PB adalah surat-surat yang paling tidak ditulis harus lebih kurang dari tahun 100M dan tak lebih dari tahun 30-an Masehi (itulah makanya Wahyu Kristus ke Yohanes menjadi penutup, karena ditulis paling tidak tahun 90-an Masehi), sehingga adapun surat2 yang diatasnamakan rasul atau bahkan oleh Paulus sendiri tidak akan diterima.

      untuk PL
      -semua kitab-kitab yang disebut Yesus masuk kanon Kristen yang berarti kitab rujukan Yesus paling tidak menggunakan LXX, yang artinya kanon Yahudi sama dengan Kanon Kristen, hanya berbeda urutan saja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: