Batas Kekuatan Manusia

Januari 4, 2010 pukul 2:47 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag:

Banyak hal-hal yang rohaniah terkadang menjadi sebuah tuntutan kepada kita. Dan kelemahan tubuh menjadi sebuah lecutan yang menyakitkan atas seringnya kita terjatuh terjerambab di dalam dosa-dosa yang sering dilakukan, sadar maupun tidak.

Kita bisa saja mengatakan bahwa kita telah melakukan begitu banyak tuntutan, yang bertujuan baik, agamawi, demi hidup kelak. Sebab manusia sudah sejak awal menyadari bahwa ada kehidupan setelah kehidupan sekarang. Kematian hanya pintu gerbang. Tetapi lucu juga kalau terkadang kita ber-apologetika melawan ke-TUHAN-an dengan vonis mati sebagai ujung. Sadar tidak, bahwa ada batas terluar yang membalikkan arah, selalu tidak sanggup kita lewati.

Adalah baik berkata, berikan bantuan, sumbangan, sedekah, atau apapunlah namanya, tetapi kita tentu terbatas oleh kita yang masih memiliki perut, bisa saja kita melupakan sekat harga diri, tetapi dinginnya di malam yang berhujan memaksa kita memungut juga sehelai selimut yang untuk itu menyisakan titik pemberian tadi, dan…. semakin banyak yang kita lihat, semakin banyak tuntutan. Mata harus ditutup dengan gelas kaca mata, plus atau minus, 1 jutaan menjadi berkurang dari pemberian. Atau baju seorang pembicara besar haruslah sediki lebih berwarna dari jemaat, sepatu, sandal, angkutan, dan lain-lain, 3 jutaan terkurang dari pemberian…. seterusnya, 100 juta dari harta 1 milyard adalah pemberian yang begitu beratnya….
Tidak memandang bulu, dari Raja, sampai jelata, Alkitab mencatat, soal kedagingan tidak ada satupun yang lolos untuk disebut sempurna (tentu Yesus menjadi selalu pengecualian, bagi yang melihat dengan nyata, pasti).

Kata-katapun sering lolos dari lidah kita, kata-kata yang merusak, memuaskan amarah, demi, yang bisa jadi, yang kita percayai. Tentu pengetahuan bisa mengeraskan hati. Tetapi pengetahuan di dalam keingintahuannya sering membuat orang menemukan batu keras, terjal, … keculasan tidak akan pernah menjadi kemauan kita, tetapi demi iman, kepercayaan, itu sering ditempuh.

Manusia ini begitu terbatas. Kekuatannya tidak lebih dari, atau malah bisa saja, seperti penyakit kronis, artinya dia hanya menjadi benar-benar membubung jika sudah dikumpulkan sedemikian banyak. Otak bisa menampung banyak, tetapi bukan semua. Hati bisa terbuka lebih luas, tetapi perut bisa menjadi pembatas.
Bahkan anugerah bisa berjatuhan setiap detik, tetapi kecenderungan terlihat WAH masih bisa saja lolos. Apalagi waktu sekarang, sebab semakin banyak informasi yang kita lihat, maka semakin susah kita menilai. Semakin benar seseorang, semakin susah kita mengatakan TUHAN-lah yang benar. Semakin banyak obat dikenal, semakin pudar ingatan kita atas kata TUHAN adalah Tabib, dan semakin banyak pengajar yang terikat dosa-dosa tersembunyi, maka semakin pudar kita membaca terjemahan kasih sayang TUHAN.

Betapa jahatnya manusia-manusia sekarang ini.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. @ Parhobas

    Betapa jahatnya manusia-manusia sekarang ini.
    .
    .

    Itulah yg saya maksudkan membaca posting lae ttg Kasih di bulan Oktober thn lalu , dimana kasih kebanyakan orang di jaman ini sudah semakin tidak ada lagi berbekas.
    https://hakadosh.wordpress.com/2009/10/29/kasih-2/
    .
    .
    Sehingga pd intinya sesuai dgn posting lae di bulan November thn lalu , maka bijaksanalah kiranya orang yg senantiasa tetap merendahkan hatinya di hadapan Allah sekalipun dunia dan segala isinya sekarang sudah teramat kacau dan makin membuat kita yg beriman makin muak.
    https://hakadosh.wordpress.com/2009/11/26/bijaksana/

    Salam Kasih lae,,

    Tetap semangat ma di laeku naburju

    • mauliate lae…

      ah, mansai radot do lae marningot sude angka surat-hon ateh…

      tepat semangat terus juga di lae-ku na burju, lae Sihotang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: