Kesalahan kesekian

Desember 11, 2009 pukul 5:57 pm | Ditulis dalam Apologet | 5 Komentar
Tag: ,

Kesalahan kesekian dari cara membaca dan menafsirkan Alkitab adalah…

Mengambil satu bagian dari pengajaran tertentu yang seharusnya (yang benar), lalu menjumlahkannya dengan maksud penafsir, walau kelihatan agak mirip, tetapi hasilnya menjadi ngawur.

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kayaknya kamu layak nulis buku tafsir nih 🙂

    Yang saya bingung itu apa tulisan bedanya yang item sama yang merah ? 🙂

    • penerjemahan Alkitab, paling tidak pada titik tertentu telah masuk ke arah penafsiran. Jadi seseorang telah memiliki wawasan tertentu, lalu menerjemahkan Alkitab. Contohnya, Alkitab Perjanjian Baru, kita memiliki 4 manuscript sebagai acuan untuk menerjemahkan, Alexandria, Western, Caesarean dan Vaticanus. Nah jika LAI misalkan menerjemahkan dari Western, maka text yang ada di Vaticanus bisa juga dimasukkan untuk menekankan makna atau konteks, tetapi ditulis di dalam tanda kurung [ dan ].
      Tetapi ternyata ada terjemahan yang benar-benar beda dari tradisi maupun konteks, entah bagaimana, tetapi yang pasti “wawasan”penerjemah telah masuk ke dalam.

      Jadi Y di atas bisa bernilai sama, tetapi yang satu (yang merah) adalah Majority Text sementara Y yang lain (Y hitam), telah terkontaminasi, meskipun maksudnya sama.

      Note:
      Memang tidak ada kitab yang asli, dalam arti kitab yang pertama sekali ditulis, tetapi tulisan-tulisan itu telah diajarkan ke jemaat-jemaat awal, dan 4 manuscript di atas dipelihara oleh satu-satunya Gereja yang memelihara tradisi para rasul, Gereja Katolik Ortodox. Gereja Ortodox di dalam kebaktiannya ada prosesi membaca kitab suci yang berisi (di bahasa Arab disebut pembacaan Quran, Quran ini berisi kutipan-kutipan Alkitab, terutama Perjanjian Baru, saya pernah kebaktian sekali di Qatar), nah dari kutipan-kutipan inilah Perjanjian Baru telah diselamatkan sebanyak lebih kurang 80 persen dari total ayat-ayatnya.
      dan yang terpenting, kalau orangnya baik, tentu ia akan mengkopi yang paling benar atau paling sesuai dengan yang umum digunakan, contohnya kalau saya mengkutip ayat Alkitab tentu akan saya ambil dari terbitan LAI, bukan yang lain.

  2. Ini salah satu omongan yang keren. Di saat banyak manusia kebanyakan gaya dengan mengatakan Kitab Suci tidak perlu ditafsirkan, secara mendasar kamu mengatakan bahwa dalam menerjemahkan pun sebenarnya ada sisi penafsiran di situ.
    Yah tentu saja ini benar, bahkan Sola Scriptura Protestan yang dianggap perlawanan terhadap tafsir mutlak ala Katholik – juga sama sekali tidak berarti tidak perlu ada penafsiran 🙂

    • Saya tidak tahu siapa yang Anda maksud, tetapi saya mau katakan, kenapa sampai ada sekolah-sekolah theologia alasan-alasan tertentunya adalah karena Alkitab memang perlu tafsiran, karena tidak semua orang akrab dengan Alkitab, tidak semua orang terjun di dalam pelayanan jemaat, dan jemaat yang ‘booming’ juga perlu pengetahuan mendasar tentang pengajaran, yang kegunaannya salah satunya adalah untuk apologet.

      Kenapa perlu?
      contoh utamanya adalah penulisan CAPSLOCK.
      di dalam Yunani maupun Ibrani tidak ada Capslock, tetapi penafsiran dan wawasan tentang ajaran itu telah memampukan kita menulis (di dalam bahasa Indonesia saja sebagai contoh) TUHAN bukan tuhan, umatNya bukan umatnya, Roh Kristus bukan roh Kristus, d.l.l

      • Saya tidak tahu siapa yang Anda maksud ? Yah tentu saja murid TKku junior itu. Siapa lagi kalo bukan cah manisku tercinta si jelasnggak. Hi Hi Hi. Kamu kan juga sudah kenalan sama dia kan? Anak manisku itu, kesayanganku. 🙂

        Lha lebih parah lagi dia itu katanya Katholik. Lha mengapa lebih parah? Lha kalo Protestan biarpun ada manusia yang seperti kamu tapi memang ada juga yang dengan dalih sola scriptura kemudian menganggap bahwa semua orang bisa menafsirkan Alkitab. Atau dalihnya biasanya gini : Roh Kudus akan membantu menafsirkan Alkitab.
        Ini seolah diidentikkan dengan perlawanan terhadap hegemoni tertentu.

        Lha kalo Katholik, lha tafsir saja diperiksa resmi kesalahannya dicek satu demi satu secara hierarkis, nihil obtatnya ada, juga ada pengesahan imprimaturnya.

        Eh cah TKku tercinta malah dengan heroiknya mengadu antara azbabun nuzul ( sejarah diturunkannya ayat ) dalam Alquran dengan Alkitab yang katanya demikian terang benderang tidak perlu ditafsirkan.

        Lha kalo aku lagi nggak mules yah malah ngakak geli guling-guling. Bocah manisku itu emang rada bikin stress tapi juga bikin geli. Hi Hi Hi.

        Bagaimana kalo kamu saja yang ngajari murid TKku itu? Mau nggak ? Tapi yah berbaik hatilah sedikit , nggak ada bayarannya soalnya. 😀

        Yang jelas : Yang namanya tafsir Kitab Suci itu mau Islam, mau Katholik, mau Protestan ya tetap diperlukan. Mengapa ? Soalnya kan ada beda jaman, ada beda budaya, disparitas ini perlu didekati dengan ilmu sejarah, bahasa, budaya dsb. Sehingga nuansa saat ucapan atau tulisan itu ditulis bisa diketahui sedekat-dekatnya. Lha saya jelas tentu saja setuju dengan kamu.

        SALAM

        Met Natal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: