Mengasihani diri sendiri?

Desember 1, 2009 pukul 10:40 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 3 Komentar
Tag: , , ,

Sering kita menganggap layak menerima sesuatu, menerima penghargaan dari orang lain, karena kita telah melakukan sesuatu yang layak untuk disebut menghargai.
Kita juga sering beranggapan hal yang sama, kita layak mendapatkan “nilai” dari semua yang telah kita usahakan dan lakukan, dari Tuhan. Dan ketika apa yang kita terima itu tidak setara, tidak sesuai, kita protes dan kecewa, terlebih terkadang kita mengharapkan apa yang kita beri maka timbal baliknya harus melebihi semua itu.

Mengasihani diri sendiri?

Tidak.
Kita dipanggil untuk bekerja….untuk melakukan yang baik dan benar… untuk AGAPE, untuk memancarkan terang, karena kita telah dimampukan sebagai sumber terang, karena Sumbernya telah ada di sini, di dalam hati.

Yoh. 12:46 Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. <— Mat. 5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Iklan

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ketika realita tidak tersentuh oleh imaginasi lahirlah mengasihani diri sendir….

  2. @ Parhobas

    Sangat benar perkataan sahabatku lae yg terkasih ini. Betapa mudah kita berTuhan jikalau segala kasih setia dan kemurahanNya berkecukupan dlm hidup ini maka secara itu pula hidup kita dipenuhi ucapan syukur dan rasa hormat kepada Dia. Tetapi kebanyakan dari kita yg percaya kpdNya lebih dari 3/4 akan goyah saat penderitaan , realita hidup penuh kepahitan yg tidak sesuai dgn hati mendatangin kehidupan ini.
    Apakah kita tidak diperbolehkan mengasihi diri sendiri.. ? Diperbolehkan.. , karena Kristus juga menyuruh kita tetap mengasihi diri sendiri. Tetapi yg Kristus inginkan dari kita adalah penyangkalan atas keegoaan kemanusiaan kita. Seperti yg DIA tunjukkan dgn kerendahan hatiNya mengosongkan diriNYa sbg Allah, Dia melupakan kesetaraanNya dgn Allah spy dapat memuliakan Allah BAPANYA dgn menjadi seorang manusia yg sangat hina. Jadi , segala realita yg tidak berkenan di hati hanyalah alat untuk kita semakin memuliakan Allah, walau banyak yg tidak menyukainya. Karena justru dalam kelemahan kita maka Allah itu sangat nyata bagi orang-orang yg melihat peran utama Allah memainkan ucapan tindakan dari belakang layar kehidupan kita , akhirnya semua orang hanya memuliakan Siapa yg kita sembah dan muliakan, walau pd akhirnya kita mengetahuinya hanya dibelakang hari

    Shalom ma laeku terkasih ….

    • @Lae Sihotang

      shalom lae

      sungguh dalam ulasan lae,…

      seperti lilin lae memancar di kegelapan yang malah lebih luas dari dia..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: