Proof by Contradiction

Oktober 30, 2009 pukul 11:37 am | Ditulis dalam Apologet | 24 Komentar
Tag: ,

Proof by Contradiction adalah, sebuah alur pembuktian yang mengikuti alur penyanggah, dan kalau diikuti maka alur penyanggah itu menjadi kontradiksi dengan premis awal.

Kira-kira begitulah kasarannya.

Studi kasus Yesus:

a. Yesus adalah manusia
Jika kita mengikuti alur ini, maka kita harus memisalkan bahwa: Yesus bukan manusia.
Jika Yesus bukan manusia, ada kontradiksi yaitu:
– 4 kitab Injil yang menceritakan kelahiran Yesus, Yesus lapar, Yesus berdoa, Yesus menangis, d.l.l
– Petrus, Yohanes dan Paulus menulis, Yesus mati

dari kondisi ini didapat kesimpulan bahwa Yesus adalah manusia.

b. Yesus adalah Tuhan
Jika kita mengikuti alur ini, maka kita harus memisalkan bahwa: Yesus benar bukan Tuhan.
Jika Yesus bukan Tuhan, ada kontradiksi yaitu:
– 4 kitab Injil yang menceritakan kuasa Yesus, Yesus menghapus dosa, Yesus mengklaim I AM, Yesus menghardik laut/angin, Yesus adalah Jalan d.l.l
– Petrus, Yohanes dan Paulus menulis, Yesus bangkit
– Yohanes mendapat Wahyu, bahwa Yesus adalah Alfa dan Omega, d.l.l

dari kondisi ini didapat kesimpulan bahwa Yesus adalah Tuhan.

Kendala:
Orang tidak mengakui a berkolerasi dengan b, dan sebaliknya, karena :
– Ignorance Fallacy
– Authority Fallacy
– Genetic fallacy
– Melulu melihat Yesus di dalam a
– Melulu melihat Yesus di dalam b
– Tidak mengakui Yesus mati dan bangkit

24 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sebuah cara menganalisa yang cerdas menurut saya, simple and easy to understand.

  2. @ Parhobas

    Ada org yg sangat membanggakan agamanya. Mereka berkata ” Agamakulah yg benar dan sempurna krn agamaku yg muncul paling akhir.” Bahkan org Kristenpun kadangkala terjebak dgn kebanggaan dgn agamanya. Agama memang mengajarkan yg baik, tetapi agama hanyalah usaha manusia dalam mencari Allah. Sedangkan Kekristenan adalah tindakan Allah mencari manusia, dan bila manusia itu meresponinya maka org itu akan menerima anugerah keselamatan.
    Jadi bagaimanapun pembuktiannya atas penolakan Kristus bagi sebagian orang, maka Tuhan sudah memberi jawabannya :
    ” Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asalKu ; namun Aku datang bukan atas kehendakKu, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal” ( Yoh 7:28) . Jadi Yesus datang bukan atas kehendakNya sendiri tetapi karena inisiatif Allah. Allah berinisiatif mencari manusia berdosa untuk diselamatkan.
    Bayangkan Dia merancangkannya jauh-jauh hari sebelum dunia dijadikanNya ( 1 Petr 1:20). Berarti bukankah Yesus itu adalah Allah !!!

    Kesimpulannya:
    Oleh sebab itu percayalah kepada Yesus Kristus sebab Dia adalah Mulut ( Firman ) Allah.
    Jangan meragukan keilahian Yesus Kristus

    Begitukan laeku yg terkasih

    Shalom ma laeku

  3. Sekali lagi dalam agama manapun memang ada kontradiksi :

    Jika kedatangan Yesus sudah dirancang sebelum dunia dijadikan, padahal kedatangan Yesus terkait dengan penebusan dosa. Apakah dosa yang akan ditebus Yesus juga sudah dirancang sebelum dunia dijadikan 😀

    SALAM Para Teman.

    • paradox bukanlah kontradiksi…

      1Pe 1:20 Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.

      di sinilah letak keadilan ALLAH

      Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan
      artinya sebelum hukum diberikan kepada manusia, TUHAN tetaplah TUHAN, IA adalah Pencipta, pencipta keselamatan, penebusan dan IA mau melakukannya sebagaimana IA mau untuk mencipta alam semesta.

      apa hukum yang pertama?

      yaitu: “Jangan makan buah pengetahuan itu, nanti kamu mati”.
      konsekuensi dari pemberian hukum adalah kemungkinan yang sama besarnya antara menuruti dan melanggarnya.

      Jadi TUHAN ADIL, menjaga hadiratNYA yang KUDUS “jika” ciptaan itu memilih salah satu pilihan atas hukum itu, yaitu melabrak. dan memang manusia memilih melabrak, sementara KUDUS tetaplah KUDUS, maka TUHAN sudah siap dan ADA untuk menguduskan yang tidak kudus akibat melabrak hukum….

      tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.
      di sinilah letak KUASA TUHAN kapan menunjukkan ke-ADIL-anNYA…
      jika Romawi tidak ada maka tidak ada istilah salib, jika wordpress tidak ada maka lovepassword tidak akan menulis kalimat “disetiap agama ada kontradiksi”,… dan di situpulalah letak rahasianya, bahwa waktu TUHAN bukanlah waktu manusia, artinya hikmatNYA melampaui hikmat kita.
      dan itupulalah NamaNya disebut AKU ADA… AKU adalah AKU…
      kalau bahasa gaul jakartanya, “Aku mau begeni lo mau apa?”, lucu? ya kalau kita curiga terhadap AKU ini memang penghinaanlah yang ada, tetapi kalau AKU kita percaya adalah ALLAH, dan memang AKU ADA adalah ALLAH, maka kita percaya semua Yang Ia buat adalah demi kebaikan kita.

    • Shalom shalom

      Yesus datang untuk menggenapi bangkitnya Yerussalem kedua setelah Musa dan menebus dosa Israel, namun karena Israel akan membuat kerusakan 2 kali, maka Yerussalem dibangkitkan kembali oleh Ahmad.

      Mr. Love ada disini rupanya

      @Parhobass, apa kabar sobat, saya mengundang saudaraku ke sini
      http://qarrobin.wordpress.com/2009/11/01/hukum-pergantian-kekuasaan-di-muka-bumi/

      dan disini
      http://qarrobin.wordpress.com/2009/10/31/hari-jumat-dan-hari-sabat/

      sudilah kiranya untuk mampir, dibukakan pintu untuk menjalin kedamaian

      • Shalom saudaraku Qarrobin,
        saya akan mampir ke alamat saudara….

        seeep, DAMAI-lah negeriku, DAMAI-lah bangsaku…

        “..No more blood”, Yitzak Rabin 1995

      • Salam Mas Qarrobin… 😀

  4. ANdai pohon larangan tidak dibuat , bukankah manusia tidak akan makan buah larangan ?

    • lihat keterangan di atas…

      tetapi sebagai acuan pemikiran, karena manusia itu diberi moral, dan TUHAN berkata dari buahnyalah orang bisa dilihat beriman apa tidak, maka moral yang ada pada manusia itu harus diuji.

      tetapi mari melihat lebih dalam lagi, akan arti TUHAN YESUS menimpakan semua dosa dunia kepadanya..

      maka dengan kalimat Anda di atas, Anda juga telah menimpakan semua dosa itu kepada TUHAN Sang Pencipta…

      so TUHAN yang Mencipta itu paralel dengan YESUS, karena apa yang dilakukan BAPA itulah yang dilakukan ANAK. ANAK ditimpakan dosa akibat pelanggaran, dan BAPA ditimpakan dosa akan sebab akibat.

  5. @ LPW,

    Sebetulnya jangan jika gunakan kalimat ‘andaian’ kalo hal itu sudah terjadi.

    Jadi, itu iirelevants.

    Intinya ujian mas, bukan “pohon itu”.

    Jadi ‘andai tiada pohon itu’, ujian Tuhan tetap berlangsung, entah apa cara lain kita tidak tau.

    Tapi sebaiknya kupas apa yg telah terjadi. Itu lebih relevants.

    Hehehe…bukan begitu?

  6. Horas laeku

    Allah membawakan manusia akan pernyataan DiriNya supaya manusia mengenal hanya Dia lah ALLAH Yg Esa. Berbagai kontradiksi ajaran yang terjadi saat ini dengan berbagai pemahaman yg berbeda ditimbulkan oleh penafsiran yg menyimpang dari orang-orang jaman dahulu.
    Karena manusia segambar dengan Allah maka segala kehendak dan keinginan manusia itu dihormatin Allah. Sehingga manusia diciptakan Allah bukan supaya menjadi ” robotNya tanpa kehendak bebas ” tetapi supaya mereka menjadi wakilNya dimuka bumi dan bertanggung jawab penuh dgn hormat kepada Allah.
    Jadi sekalipun Allah meminta kita menguji setiap ajaran dari berbagai keyakinan tetapi DIA sudah mematok hanya ada 2 jalan menurut FirmanNya

    Jalan pertama Keselamatan krn AnugerahNya
    Jalan kedua Kematian krn menolak DIA.

    Berbagai ilmu apapun yg hendak mengujinya harus kita akuin hanyalah lebih kurang menjelaskan dari suatu hal tidak terjangkau akal dan budi pengertian manusia. Kita tidak salah menguji keyakinan kita selama ini karena Allah itu sangat menghormatin kebebasan kita sbg mahluk ciptaanNya. Tetapi untuk semua pengujian dan pembuktian itu hanya bermuara pd dua jalan. Karena itulah kita menyebut Dia ALLAH yang Kekal dan Yang Maha Kuasa karena sekalipun kita bebas menentukan kehendak dan apa yg kita percayain tetapi pilihan kita sudah Dia ketahui sebelum kita memilih pilihan itu. Karena Allah sudah jauh hari memilih siapa yang akan datang kepadaNya ( Predential). Hakekat kehendak Allah yg campur tangan di dunia ini hanya terbatas kpd di Penghakiman dunia nanti, sehingga sekalipun orang-orang jaman sekarang giat mencari Tuhan tanpa mau mengundangNya ke dalam hati masg-masg pribadi itu hanyalah pekerjaan sia-sia. Sebab Israelpun mengenal Yang Maha Kudus itu dan menyembahNya tetapi tidak pernah mau mengalami jamahan hadiratNya. Sehingga hingga sekarang Israel hanyalah takut dan berusaha menaati hal-hal lahiriah dari hal2 ber Tuhan (mungkin krn trauma yg beberapakali Allah membuang mereka kepembuangan) . Tetapi dalam keKristenan Allah yg berusaha sendiri mencari anak-manusia yg berdosa, sehingga kebenaran yang didapatkan hanyalah semata-mata 100% kebaikan Allah semata. Alkitab itulah sumber catatan dn keterangan tentang pernyataan ALLAH itu sendiri. Jadi Allah tidak mungkin kita kenal jikalau Alkitab itu tidak ada. Karena mulai pernyataan dari kitab Kejadian hingga Wahyu mencerminkan narasi yang sinergis dan 100% bersesuaian tanpa kontradiksi . Tidak percaya kpd Allah pasti tidak percaya dgn isi Alkitab. Begitu juga sebaliknya.

    Shalom ma laeku

  7. Kepada Yang tercinta semua teman yang hadir di sini : Saudara Parhobass, Cosmic Boy, Robinson Agus Sihotang.

    Saya sudah berdialog mengenai soal ini cukup lama : Di dalam Kristen ada pertanyaan model begitu. Dalam Islam juga ada meskipun tentu saja isinya sedikit lain karena sudut pandangnya lain.

    Lha jujur saja menurut saya belum ada jawaban yang cukup keren gicu yah soal ini 😀

    Terkait soal ini Ada dua jawaban klasik yang kemungkinan besar akan dikatakan oleh umat Kristen .

    Jawaban Pertama : Mengaitkan buah ini dengan Ujian bagi manusia .

    Jawaban Kedua : Mengaitkan jawaban itu dengan aktualisasi kehendak bebas yang diberikan Tuhan kepada manusia.

    Saya sudah membaca jawaban kalian. Dan jawaban kalian saya rasa kurang lebih identik dengan dua jawaban klasik ini.

    Saudara Parhobass menanyakan demikian :
    maka dengan kalimat Anda di atas, Anda juga telah menimpakan semua dosa itu kepada TUHAN Sang Pencipta…

    Saudara CosmisBoy :Intinya ujian mas, bukan “pohon itu”.

    Saudara Robinson Agus Sihotang : Sehingga manusia diciptakan Allah bukan supaya menjadi ” robotNya tanpa kehendak bebas ” tetapi supaya mereka menjadi wakilNya dimuka bumi dan bertanggung jawab penuh dgn hormat kepada Allah.

    – Jadi intinya jawaban kalian masih samalah yah dengan dua jawaban klasik yang sering dikatakan di berbagai blog dan forum. Jawaban klasik yang baik.

    ==============================

    Berhubung saya cukup yakin bahwa manusia-manusia di sini tidak ada yang perlu didinginkan kepalanya – karena berdasarkan reputasi kalian saya sangat yakin kalian sudah dingin-dingin semua dalam berdiskusi. 😀 . Mudah-mudahan saya nggak perlu kebanyakan mringis kebanyakan ha ha hi hi. Lama-lama bisa garing gigiku nanti. 😀

    Oke deh : Servis OVER : Saya rasa ada beberapa hal yang layak kita pikirkan bersama menyangkut hal ini.

    Yang Pertama : Bila ini , bila peristiwa makan buah itu kita lihat dari perspektif Tuhan Maha Tahu. Apakah saya tidak cukup pantas jika mengatakan bahwa Semestinya Tuhan tahu bahwa buah itu membahayakan keselamatan manusia. Lha jika Tuhan sudah tahu pasti itu , dan Tuhan tetap melaksanakan itu bukankah selayaknya dari sisi sebab akibat Tuhan juga memang harus bertanggung jawab akan hal ini ???

    Gampangannya jika dosa itu memang bagian dari rencana Allah, janganlah manusia secara ekstrim dianggap sedemikian jeleknya .

    Ilustrasinya seperti ini : Saya ini jelas bukan Maha Tahu tetapi saya toh dalam beberapa hal bisa memperkirakan.

    Saya memberikan pisau kepada anak saya yang masih kecil umur tiga tahun misalnya. Kemudian saya berkata kepadanya : Nak ini boleh kamu lihat , kamu bawa – tetapi kamu jangan memakai pisau itu untuk menusuk kamu atau menusuk teman kamu yah. Nggak boleh itu .

    Kemudian anak saya bermain pisau , endingnya dia menusuk dirinya sendiri .

    Lha dari perspektif keadilan yang berdosa saya atau anak saya ? Pun meskipun saya sudah menasehati anak saya jangan menusuk diri sendiri.

    Tidak ada manusia di dunia ini saya rasa yang menyalahkan anak saya. Yang salah ya saya : Masak nggak tahu kalo pisau membahayakan anak kecil. Lha saya tahu. Kalo tahu mengapa malah diberikan ?

    Jika anda sudah memperkirakan sesuatu akan membahayakan seseorang dan anda tetap memfasilitasi kejadian membahayakan itu . Bagaimanapun secara netral posisinya menurut saya : memang anda layak dianggap bersalah.

    Jadi rasanya sedikit tidak adil, jika anak kecil tadi disalahkan sedemikian ekstrim dengan dalih saya sudah mengatakan supaya jangan menusuk. Mengapa tidak adil ? Karena saya tahu apa yang akan terjadi dan saya memfasilitasi kejadian itu.

    ==============================

    Jawaban untuk Jawaban Kedua : Bila ini dikaitkan dengan sisi Kehendak Bebas manusia.

    Menurut anda apakah memang selalu Kehendak Bebas itu mesti terkait dengan potensi seseorang untuk bersalah ???

    Oke , anda2 mengatakan supaya manusia tidak seperti robot maka diberi kehendak bebas, gicu kan yah ? Lha akibat dari kehendak bebas itu maka manusia bisa berbuat dosa.

    Dalam bahasa teologia : Kehendak Bebas itu sendiri baik karena tujuannya agar membuat manusia bebas tidak seperti robot, meskipun faktanya kehendak bebas itu sendiri sebagai akibatnya berpotensi dosa.

    Pertanyaan saya : Menurut anda para temanku , kelak jika anda-anda semua memang beneran masuk Surga mudah-mudahan 😀 , apakah anda masih punya kehendak bebas atau Tidak ?

    Jika di Surga Kelak manusia tidak punya kehendak bebas, bukankah berarti gembar-gembor mengenai kehendak bebas itu baik cuma omong kosong belaka, karena endingnya toh kehendak bebas itu justru dihilangkan. Mengapa tidak sejak semula saja kehendak bebas dihilangkan?

    Jika di Surga kelak manusia masih punya kehendak bebas, yang berarti manusia bebas tidak seperti robot – berarti selalu ada potensi bahwa manusia akan berdosa dan berdosa kembali akibat adanya pilihan itu. Dari sisi ini untuk apa mengharapkan Surga jika kondisi Surga toh sama dengan Bumi yang dihuni oleh manusia yang ada yang jahat ada juga yang baik akibat kehendak bebas itu ???

    Dari sisi sudut pandang ini kata-kata kehendak bebas itu baik, dsb karena manusia tidak seperti robot – bisa diuji kebenarannya. Benarkah kehendak bebas sebaik itu sehingga potensi dosa dianggap lebih mendingan ketimbang tiadanya kehendak bebas ? Atau sebaliknya apakah kehendak bebas sebenarnya nggak terlalu keren tetapi digembar-gemborkan sebagai pemaaf, karena faktanya kemudian di Surga kehendak bebas tidak ada lagi.

    SALAM Semuanya
    Salam untuk teman-temanku tercinta

  8. kalau kita curiga terhadap AKU ini memang penghinaanlah yang ada, tetapi kalau AKU kita percaya adalah ALLAH, dan memang AKU ADA adalah ALLAH, maka kita percaya semua Yang Ia buat adalah demi kebaikan kita.

    ===> Saya sependapat dengan point ini. Tetapi masalahnya tentu tidak sesederhana itu. Jika suatu pembelaan terhadap paham Ketuhanan ternyata tidak cukup kuat, tentu bukan berarti kita perlu berpegang pada itu.

    Jika apologetika atau teodise yang anda percayai
    , atau anda terapkan tidak berhasil menjelaskan sesuatu hal dengan cukup baik. Tentu itu tidak selalu harus dipegang erat-erat. Bisa saja anda memakai aplogetika yang lain atau membuat apologetika yang lain yang bisa menyelesaikan itu. Kalo memang bisa diselesaikan. Tetapi pointnya adalah kritis terhadap teodise dan apologetika tidak mesti selalu dikaitkan dengan TIDAK Percaya Kebaikan Allah.

    Jadi konteks tulisan ini bukanlah untuk menyalahkan Allah – tetapi mengkritisi apologetika yang sudah lama ada . Lha dari interaksi ini tentu bisa saja timbul pemikiran baru.

    Salam

  9. @ LPS,

    Saudara Parhobass menanyakan demikian :
    maka dengan kalimat Anda di atas, Anda juga telah menimpakan semua dosa itu kepada TUHAN Sang Pencipta…

    Kamu ini ahhhh, disuruh jangan nulis yg panjang2, koq masih gituh.

    Bukan apa mas, capek membacanya.

    Lagian, kalo terlalu panjang, intinya sulit digali, jadi bisa membawa kepada salah pengertian.

    Jadi saran saya sekali lagi, nulis yg ringkas mas (masih belum kelewatan utk itu).

    Saran aja.

    Hehehe…

    Btw, kamu bilang sdr kita @Par percaya semua dosa berasal dr Allah Pencipta, saya pikir kamu salah baca kaleeee.

    Ini salah dan bukan teologi Kristen, Allah tidak menciptakan dosa. Sama spt tidak baik dtg dr luar Allah, karena dosa itu tidak baik maka itu juga dtg dari luar Allah. Itu iman Kristen ttg asal usul dosa.

    Salam mas.

    • Yah kamu ini Hi Hi Hi. Maksudku justru biar kalian nggak salah tangkep.

      Btw, kamu bilang sdr kita @Par percaya semua dosa berasal dr Allah Pencipta, saya pikir kamu salah baca kaleeee.

      Ini salah dan bukan teologi Kristen, Allah tidak menciptakan dosa. Sama spt tidak baik dtg dr luar Allah, karena dosa itu tidak baik maka itu juga dtg dari luar Allah. Itu iman Kristen ttg asal usul dosa.

      ==> Perasaan saya nggak ngomong bahwa Parhobass ngomong gitu. Saya sungguh tahu bahwa berdasarkan teologi Kristen dosa bukan berasal dari Allah. Sedikit banyak saya tahu. Lha saya itu justru sedang menimang nimang dimana kekuatan dan kelemahan apologetika model beginian, gicu ceritanya . Karena itu kemudian saya korelasikan ini dengan konsep Allah yang Maha Tahu.

      Salam Saudara Cosmicboy
      GBU

  10. @ Lovepasword

    mas yg penuh kasih dn humanitas..

    Pernyataan mas sangat dalam sehingga membutuhkan jawaban lumayan dalam.

    Saya mengerti kesadaran mas bahwa imanmu bertumbuh pada keyakinan yg berbeda dari yg kami percayai. Oh ya, baru kali ini pd blog sdr Parhobas kita berdialog dalam tingkat Theologia yg lumayan rumit. Sebenarnya pak CosmicBoy adalah pakarnya dan sdr Parhobas yg jauh lebih mengerti ttg itu. Tapi sebagai sahabat yg penuh cintai damai saya hanya memberi kulit luarnya ya mas…

    Lovepasword
    bilang :
    Bila ini , bila peristiwa makan buah itu kita lihat dari perspektif Tuhan Maha Tahu. Apakah saya tidak cukup pantas jika mengatakan bahwa Semestinya Tuhan tahu bahwa buah itu membahayakan keselamatan manusia. Lha jika Tuhan sudah tahu pasti itu , dan Tuhan tetap melaksanakan itu bukankah selayaknya dari sisi sebab akibat Tuhan juga memang harus bertanggung jawab akan hal ini ???

    saya jawab:
    Semestinya kalau mas bertanya ke arah itu, mas juga lebih bagus bertanya kenapa manusia harus diciptakan Allah kalau memang Allah tahu manusia itu jatuh ke dalam dosa. Ketika Adam dan Hawa diciptakan maka Allah menciptakan pribadi yg segambar dgn Dia, artinya Adam dan Hawa tidak dapat dipaksa Allah utk melakukan 100% keinginan Tuhan. (Maafkan saya jikalau ini pendapat saya). Di atas sudah saya terangkan bhw Adan dn Hawa itu tidak mempunyai tabiat dosa seperti kita saat jaman sekarang. Mereka berdua ciptaan Allah yg sangat sempurna sehingga mereka memandang Allah itu seperti kpd sesama teman. Jadi godaan utk memakan buah terlarang itu datangnya dr luar diri mereka sendiri. Siapa yg menggoda itu, dialah Iblis si Ular ( Kej 3:1). Jatuhnya manusia ke dlm dosa sbnrnya menerangkan bagaimana dosa merasuk umat manusia, dn bukan mengenai bgm kejahatan masuk ke dlm dunia.
    Jwban akhir dr pertanyaan yg mendlm ttg asal mula kejahatan terbungkus rapi dlm misteri yg hanya dpt diterangkan Allah.
    Mengapa Allah tdk mencegah spy kejahatan tidak masuk ke alam semesta ini, sebab bukankah Ia mengetahui lebih dahulu apa yg akan terjadi? Mengapa Dia tdk berupaya mencegah manusia itu berbuat dosa.
    >> DIA dapat melakukan hal itu, tetapi spt sy katakan di atas , maka kita ini bukanlah manusia yg mempunyai kebebasan utk memilih. Jika Allah mengatur secara 100% keinginan manusia itu maka itulah yg dinamakan melanggar KodratNya sbg Allah Yg Maha Kasih. Kita menjadi manusia yg tidak punyai kebebasan memilih. Kita akan menjadi robot-robot atau boneka yg dapat berbicara, yg selalu mengatakan kata-kata yg sama kalau ada orang menekan tombol on/off nya. Jadi krn kita segambar dgn Allah maka kebebasan mutlak ada di tangan kita. Nah bukan salah Allah jikalau kita memilih yg bukan menjadi kehendakNya. Anda sendiri yg bertanggung jawab penuh menjaga jiwamu dihadapan Allah nanti. Karena walau kebebasan ada ditangan kita tetapi hanya ada dua pilihan bg kita semua manusia yg hidup ini. Nah perumpamaan mas Love ttg anak yg mas beri pisau dapat mas jawab sendiri , bukan ?
    >> Allah bukanlah Pembuat dan Pencipta dosa. Dia tidak pernah mencobai dan dicobai siapapun. Tetapi semua yg terjadi sekarang adalah karena godaan Iblis serta keinginan nenek moyang kita itu. Seandainya nenek moyang kita itu menaatin Allah dgn sepenuh hati, maka dosa tidak akan pernah merasukin umat manusia.
    >> Akibat dr ketidaktaatan manusia itu terjadi dgn segera dn jelas.. PERPISAHAN dari Allah dan terus-terus menyadari kesalahan akan rasa bersalah. Kutuk yg dijatuhkan Allah atas umat manusia meliputin kematian jasmani, dan rohani, bumi juga terkutuk sehingga manusia harus bekerja keras dan hidup menderita dn ini yg hampir saudara Muslim tidak terima bhw jatuhnya seorang manusia pertama itu ke dalam dosa menyebabkan jatuhnya seluruh ciptaan Allah ( Rom 8:21-22)
    >> Dari uraian diatas, semuanya terjadi karena Allah telah berfirman jangan kamu makan buah yg ditengah taman itu karena Allah tahu itu akan mengakibatkan kutuk dan kematian bukan saja kpd Adam dan Hawa tetapi jauh melampaui mereka yakni melanda seluruh umat manusia. Sebab itu sama spt dosa telah masuk ke dlm dunia oleh satu org dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kpd semua orang karena semua org telah berbuat dosa (Rom 5:120).

    Nah secara jelas dpt kita lihat bhw manusialah yg tergoda Iblis sbg awal dari bencana dosa itu. Sebab sekalipun kita diberi akal dan budi pengertian tetapi kita juga dituntut harus bertanggung jawab penuh akan segala yg kita perbuat kpd Allah. Jadi Allah tdk akan pernah bertanggung jawab utk sesuatu pilihan manusia yg salah.

    semoga mas mendapat pencerahan
    Salam damai

  11. @Saudara Robinson Agus Sihotang yang baik : Jawaban anda sungguh baik dan menarik. Tetapi jika ini anda kaitkan dengan kehendak bebas manusia. Bukankah saya sebelumnya juga telah mempertanyakan argumentasi klasik ini .

    Sejauh mana sih kehendak bebas itu bisa kita anggap penting ? Sedemikian pentingkah sehingga potensi dosa yang ada bersama dengan itu terkalahkan ? Terus bagaimana posisi kehendak bebas ini di Surga kelak? Apakah masih ada atau tidak ?

    ===========================

    Semestinya kalau mas bertanya ke arah itu, mas juga lebih bagus bertanya kenapa manusia harus diciptakan Allah kalau memang Allah tahu manusia itu jatuh ke dalam dosa. ==> Iya tentu boleh-boleh saja kalo ada yang mau mempertanyakan itu. Apa sih sebenarnya posisi manusia dimata Tuhan ? Tentu aduhai rumit. Tetapi kalo memang ada yang mau membahas tentu juga menarik

    =============================

    Ketika Adam dan Hawa diciptakan maka Allah menciptakan pribadi yg segambar dgn Dia, artinya Adam dan Hawa tidak dapat dipaksa Allah utk melakukan 100% keinginan Tuhan. (Maafkan saya jikalau ini pendapat saya). Di atas sudah saya terangkan bhw Adan dn Hawa itu tidak mempunyai tabiat dosa seperti kita saat jaman sekarang. Mereka berdua ciptaan Allah yg sangat sempurna sehingga mereka memandang Allah itu seperti kpd sesama teman. Jadi godaan utk memakan buah terlarang itu datangnya dr luar diri mereka sendiri. Siapa yg menggoda itu, dialah Iblis si Ular ( Kej 3:1)

    ==> Saya rasa ada persoalan yang perlu juga kita lihat. Masalahnya bukan semata-mata sekedar menyalahkan pihak luar . Kalo sudut pandangnya kesalahan dikambing hitamkan penyebabnya selalu di luar, lalu bagaimana pula penjelasnnya : Siapa yang menggoda si Iblis itu atau siapa sih yang menggoda malaikat supaya memberontak ?

    Lha kalo sudut pandangnya semata-mata keadilan memang bikin repot. Lha kalo sudut pandangnya juga hanya dilihat sekedar kasih, juga pasti belum seimbang. Jika memang manusia bersalah dan Allah kemudian berupaya mencari cara untuk mendamaikan dirinya dan manusia. Dengan hasrat keadilan dan kasih yang sama Tidakkah selayaknya jika Allah juga mengasihi Lucifer dengan cara yang sama.

    Atas dasar apa Allah perlu mengistimewakan manusia dibandingkan dengan ciptaanNya yang lain yang sama-sama bersalah ? Mengapa ada pembiaran hukuman abadi untuk satu makhluk yang bersalah serta ada juga upaya Allah untuk menghindari hukuman abadi bagi makhlukNya yang lain ?

    SALAM Saudara Robinson Agus Sihotang
    GBU

  12. @ Lovepasword

    Mas yg penuh rahmat :

    Mas katakan :
    Sejauh mana sih kehendak bebas itu bisa kita anggap penting ? Sedemikian pentingkah sehingga potensi dosa yang ada bersama dengan itu terkalahkan ? Terus bagaimana posisi kehendak bebas ini di Surga kelak? Apakah masih ada atau tidak ?

    Saya Jawab:
    Kehendak bebas itu sangat penting saudaraku, karena itulah yg menyebabkan kita berbeda dari mahluk ciptaan Allah lainnya. Sekalipun Malaikat adalah mahluk ciptaan tertinggi dari manusia tetapi manusialah yg mendapat tempat paling mulia di hati Allah. Kehendak bebas inilah yg membuat manusia menjadi khalifah di muka Bumi ini atas segala ciptaanNya . Karena itulah kita ditempatkan dimuka Bumi ini dgn memberi kehendak bebas itu dan Dia meminta kita menggunakan dengan akal dan budi sesuai dgn perintahNya. Sudah pasti kita yg bertanggung jawab menurut kehendak Allah di dunia ini akan juga sama seperti itu keadaannnya di Surga yang jauh lebih mulia lg karena pikiran kita sudah lebih dimurnikan seperti pikiran malaikat.

    mas berkata :
    Apa sih sebenarnya posisi manusia dimata Tuhan ?

    saya jawab :
    Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yg segambar dengan diriNya. Jadi sudah tentu kita adalah mahluk yg sangat mulia di hadapan Allah. Seperti Allah demikian juga manusia menggambarkan Allah itu yg memeliki Tiga Esensi dalam satu tubuh. Allah dalam keKristenan itu dikenal sebagai Allah Bapa , Allah Anak dan Allah Roh Kudus tetapi ESa untuk diucapkan . Maka segambar dengan Allah itu demikian jua manusia memiliki Tubuh , Jiwa dan Roh tetapi satu penyebutan yakni manusia.

    mas katakan :
    Saya rasa ada persoalan yang perlu juga kita lihat. Masalahnya bukan semata-mata sekedar menyalahkan pihak luar . Kalo sudut pandangnya kesalahan dikambing hitamkan penyebabnya selalu di luar, lalu bagaimana pula penjelasnnya : Siapa yang menggoda si Iblis itu atau siapa sih yang menggoda malaikat supaya memberontak ?

    saya jawab :
    Di atas sudah saya katakan bahwa walaupun Malaikat adalah mahluk paling tertinggi derajatnya manusia karena keberadaan mereka langsung berada di dekat Allah maka sekecil apapun dosa yg mereka perbuat akan membuat mereka jatuh ke dalam dosa yg tidak terampuni. Jadi mas, saya tdk sependapat dgn anda yg mengatakan mengapa Allah tdk mengampuni kejatuhan malaikat kedalam dosa. Malaikat yg jatuh dalam dosa akan menyadari bahwa mereka selamanya akan dibinasakan dan dijauhkan kekal dari Allah. Nah, ketika Lucifer ( Malaikat sederajat Gabriel/Jibril) hendak menganggkat dirinya menjadi sama dgn Allah bukankah itu suatu pemberontakan yg sangat keji bg Allah. Maka diapun dibuang ke Bumi bersama-sama dgn malaikat pemberontak lainnya. Sehingga dgn pimpinan Lucifer ( IBLIS) itu maka mereka mulai menggoda manusia dan merusak setiap citaan Allah di muka Bumi ini. Jadi suatu kekejian jika mahluk surgawi spt Lucifer dgn pemberontakan demikian.

    mas katakan :
    Atas dasar apa Allah perlu mengistimewakan manusia dibandingkan dengan ciptaanNya yang lain yang sama-sama bersalah ? Mengapa ada pembiaran hukuman abadi untuk satu makhluk yang bersalah serta ada juga upaya Allah untuk menghindari hukuman abadi bagi makhlukNya yang lain ?

    saya jawab :
    Dalam hal pertanyaan ini saya merujuk kpd kedaulatan ALLAH yg Maha Kuasa. Dia memberikan pengampunan dan kasih setia kpd siapa yg Dia mau. Hanya jikalau mahluk Surgawi spt Iblis yg dahulunya adalah malaikat terang dan setiap harinya ada di dekat ALLAH YG MAHA KUDUS DAN MULIA tetapi berusaha menyombongkan dirinya dgn menyamakan dirinya dgn ALLAH YANG MAHA KUASA, maka tidak akan mungkin ada pengampunan kekal. Karena mereka adalah roh-roh Surgawi yg diciptakan hanya untuk menyembah dan melayanin ALLAH. Beda dgn manusia yg adalah terdiri dari daging, jiwa dan roh . Kita diciptakan untuk menjadi wakil Allah di muka Bumi ini sehingga Allah tidak mungkin menyamakan kasihNya dgn mahluk surgawi seperti malaikat itu. Sebab bagi mahluk-mahluk surgawi yg melihat Allah itu secara nyata berhadap-hadapan maka pasti tidak akan ada penyesalan dihati mererka bila berbuat sekecil apapun dosa yg mereka perbuat. Tetapi manusia oleh Allah adalah mahluk yg memiliki hati untuk menyesalin setiap kesalahan dan untuk itulah selalu ada pertobatan. Kita tidak dapat memahami mengapa Allah tidak mengampuni malaikat yg jatuh ke dalam dosa. Tetapi apa yg tidak dinyatakan Allah kpd kita itu hanya milik Allah tetapi apa yg dinyatakan Allah kpd kita itu adalah milik kita.

    Semoga mas mendapat pencerahan.
    Salam penuh damai…

  13. @lovepassword;
    saya kira semua pertanyaan saudara sudah terjawab di main post maupun di comment2..

    mengenai hukum pertama,… tentu TUHAN tidak menciptakan sesuatu yang bermoral untuk hidup bebas tanpa aturan…

    seperti TUHAN juga tidak ADA tanpa aturan..
    Aturan TUHAN adalah KODRAT-NYA…

    IA MAHA PENGASIH, tetapi IA juga dibatasi oleh kodratNYA MAHA ADIL.

    artinya tidak semua “pelanggaran kita” dapat diampuni sebagai IA yang KASIH, tetapi ada saatnya bahwa IA akan berhadapan dengan kita di dalam ADIL-NYA..

    • Masalah kasih dan adil, masalah pemberian hukuman dan memberi kesempatan, itu memang bagaimanapun saling membatasi – kadang kalo dipikirken menyeluruh bisa malah saling senggol malahan . Tetapi yah aslinya mungkin tujuannya saling melengkapi .

      Misalnya saja gini

      Coba kamu bayangkan : Kamu berbuat baik 10 tahun menemani orang tua patuh dsb. Adikmu minggat foya-foya nggak ngurusi orang tua, menghabiskan harta malahan mempermalukan orang tua. Lha ketika dia kembali malah dirayakan.

      Kalo sudut pandangnya semata-mata keadilan , tentu saja itu memang tidak adilkan. Kalo ada yang bilang adil ya maksa. Hi Hi Hi. Tetapi dari sudut pandang mengasihi memberi kesempatan tentu lain lagi.

      Sebenarnya secara esensial apa sih tujuan keadilan, ancaman hukuman dsb ???? Tujuannya adalah supaya orang tidak berbuat jahat . Jadi gampangannya JANGAN JAHAT , kalo jahat awas lho ada hukumannya kalo baik ada ganjarannya.
      JADI ESENSI KEadilan menurut saya adalah supaya mendorong manusia jangan berbuat jahat .

      Lha KASIH, pengampunan, taubat dsb secara esensial tujuannya apa ???? Tujuannya adalah supaya orang yang sudah terlanjur jahat memiliki kesempatan untuk kembali baik .

      Jadi INTINYa ada upaya mencover dari dua sisi :

      Yang baik dijaga supaya jangan jadi jahat
      Sementara yang jahat diberi kesempatan supaya jadi baik.

      Saya kira intinya itu.

      Lha masalahnya adalah dua konsep itu jadi repot kalo dikacaukan dibalik logikanya.

      Orang baik berbuat jahat karena merasa nggak papa deh toh ada kesempatan tobat, sementara yang sudah jahat karena merasa sudah terlanjur jahat nggak bakal selamat terus-terusan merasa tidak berguna memperbaiki diri.

      SALAM
      GBU

      • Tujuan utama hukum diberikan adalah supaya yang diberi hukum tau STANDARD yang memberi hukum.

        ADIL supaya manusia tahu TUHANnya adalah ADIL
        KASIH supaya manusianya tahu TUHANnya adalah KASIH..

        ketika seseorang mendapat ADIL/KASIH maka tak ada satupun standard di luar ADIL/KASIH itu yang sama dan setara dengan itu

        lalu dapatkah diartikan manusia menerima hukum dimana tak satupun yang dapat ia lakukan untuk memasuki standardNYA?
        akhirnya kita harus meletakkan segalanya di dalam arti manusia terbatas, kalau tidak mengakui keterbatasannya maka ia tidak akan pernah mengakui Pemberian TUHAN.

        lalu kita hanya menyetujui salah satu KASIH/ADIL itu anugerah atau usaha sendiri.

  14. Kalo semua hal dijawab dengan konsep Kedaulatan Allah memang dari sisi umat beragama masalah apapun langsung selesai. Meskipun tinjauannya malah jadi pertanyaan abadi andai saja yang mengkritisi itu bukan theis tetapi atheis.

    Mengapa A ? Karena Allah menginginkan itu. Mengapa B ? Karena Allah menginginkan itu.
    Itu hak Allah.
    Itu hak prerogatip Allah
    Itu kedaulatan Allah.

    Alasannya apa ? Cuma Allah yang tahu.

    Itu jawaban yang sungguh benar dan sungguh saya hargai.

    Masalahnya adalah kita tidak pernah melihat itu saat melihat agama lain kan yah ? 😀

    Manusia itu secara umum saja terlepas agamanya apa – kalo tidak bisa menjawab pertanyaan mengenai agama dia sendiri akan berpikir mungkin ini karena keterbatasan ilmu saya. Atau itu hak Allah sepenuhnya. Tetapi ketika melihat agama lain, sudut pandangnya : Agama apaan itu ? Agama aneh, nggak masuk akal kok ya dipercaya yah ? 😀

    Pada prinsipnya saya juga berpendapat selalu ada keterbatasan dalam penjelasan manusia. Bahkan keterbatasan itu juga sudah ditulis dalam Kitab2 Suci sendiri. Baik dalam Islam maupun Kristen kan ada juga ayat untuk menghindari pemikiran yang berpotensi menjauhkan seseorang dari Allah . Bukan berarti tidak boleh mikir, tetapi memang ada batas dalam setiap pemikiran.

    Jadi menurut saya , semua jawaban kalian aduhai baik .

    Karena ini kaitannya dengan Kedaulatan Allah, marilah kita menghargai kepercayaan setiap pemeluk agama mengenai kedaulatan Allah dalam persepsi mereka masing-masing.

    Terimakasih banyak semuanya .

    SALAM

    GBU

    • @lovepassword
      kata Anda
      Masalahnya adalah kita tidak pernah melihat itu saat melihat agama lain kan yah ? 😀

      kata saya:
      itulah inti hukum itu sendiri, kasihilah sesamamu, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri…
      lepas dari pengertian akan agama itu sendiri

      ketika saya berkata TUHAN tidak pernah membuat agama, tentu itu akan bertentangan dengan orang yang mempercayai agama itu adalah dari TUHAN… tetapi salah satu pastilah salah.

      kembali ke awal,
      ada kendala jika kita buat proof yang sama, terhadap agama…

      a. agama dari Tuhan
      b. agama buatan manusia

      coba lovepassword buat sendiri,..

      yaitu:
      – Ignorance Fallacy
      – Authority Fallacy
      – Genetic fallacy
      – Melulu melihat Agama di dalam a
      – Melulu melihat Agama di dalam b

  15. @parhobass : Lho justru itu . Siapa juga yang bilang kita perlu membuat proof yang sama. Intinya toleransi itu sebenarnya bukan terletak pada proof yang sama. Karena saat kita membahas agama dengan keunikannya, Kita memang selalu menemukan kesamaan tetapi juga perbedaan. Lha lihat saja itu secara proporsional itu sudah cukup. Sambil menyadari keterbatasan masing2. Karena keterbatasan diri kita toh selalu ada. Lebih-lebih dalam membahas Tuhan yang tidak terbatas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: