Errornya dimana?

Oktober 30, 2009 pukul 7:02 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 11 Komentar
Tag:

Ada pemikiran lucu…
TUHAN tidak masuk logika,
atau
TUHAN bertentangankah dengan logika

pada titik tertentu, secara kasar orang bisa mengartikan bahwa TUHAN tidak masuk logika,
pada titik tertentu, secara kasar orang bisa mengartikan bahwa TUHAN bertentangan dengan logika,

nah kembali ke awal…

TUHAN adalah PENCIPTA.
artinya apa?
artinya ada sesuatu yang IA buat menjadi landasan dasar, hukum, yang serta merta tidak dapat IA labrak sendiri.
Tetapi semisalpun IA anggap itu penting, IA dapat mengubah dasar, hukum itu dimana cara atau jalanNya di luar logika kita, di luar pemahaman kita.

contoh:
Percepatan gravitasi di bumi rata-rata = 9.8 m/s2

maka ketika TUHAN menjadi manusia, IA harus tunduk kepada hukum gravitasi itu.
Buktinya, IA di dalam Yesus, bisa berjalan dan melangkah di bumi.

Tetapi ketika IA sedang melakukan sesuatu yang dianggap penting untuk merubah hukum itu terhadap diriNYA, maka IA yang adalah Pencipta gravitasi itu, maka IA berotoritas terhadap gravitasi, maka IA bisa membuat gravitasi itu tidak berefek kepadaNYA,
contohnya:
IA terangkat ke awan-awan, naik ke sorga.

bagaimana caraNYA? kita tidak tahu. Karena hanya ROHNYA yang TAHU pikiran ALLAH.

Ada yang sedang berpikir?
TUHAN koq menjadi manusia?
itulah TUHAN, kalau IA berkata: “Aku penting untuk menjadi manusia”, di luar jangkauan pikiran kita, entah bagaimana caraNya, IA bisa, IA mampu dan IA mau.
TUHAN koq dilawan, kan DIA Pencipta?, koq kita ngatur-ngatur DIA mau menjadi manusia?

error?

Kitalah yang error mengartikan landasan berlogika.

11 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tulisan anda ini benar tetapi tidak komprehensip

    Karena di dalam agama samawi setahuku Tuhan juga dibatasi oleh hakekatnya sendiri. Jadi masalahnya kita harus melihat juga dari sisi ini. Bukan cuma sisi Tuhan Maha Kuasa saja yang dilihat.
    Lha sudut pandang banyak agama dalam melihat dua sisi itu memang berbeda.

    Ada agama yang mengartikan bahwa Tuhan menjadi manusia itu wajar karena Tuhan Maha Kuasa. Lha menjadi manusia itu belum termasuk melanggar batasan hakekat Tuhan. Batasan itu memang ada tetapi bukan itu batasannya . Yang melanggar batasan itu kalo dosa.
    Lha kalo TUhan jadi manusia yng tidak berdosa berarti belum melanggar aturan main diri Tuhan sendiri.

    Ada juga agama yang mengartikan bahwa Tuhan menjadi manusia itu nggak mungkin, bukan karena Tuhan tidak Maha Kuasa. Tetapi karena itu dipandang telah melanggar batasan aturan yang Tuhan buat sendiri.

    Logika mungkin nggak mungkinnya kurang lebih masing-masing pihak seperti itu.

    Pada satu sisi ada pendapat : Tuhan bisa dong menjadi manusia , masak nggak bisa lha wong Dia Maha Kuasa.

    Pada sisi lain ada juga pendapat : Bahwa justru karena Tuhan Maha Kuasa, tentu juga Tuhan tidak harus menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Lha wong Tuhan kok harus jadi manusia ? Siapa yang mengharuskan Tuhan ?

    Kalo kita bicara logika yah saya rasa perspektifnya seperti itu. Lha dari sudut pandang logika semata tentu saja ini aduhai kompleks memang ๐Ÿ˜€

    SALAM Saudara Parhobass

    • @Lovepassword;
      pemikiran harus selangkah lebih maju lagi,
      ketika kita mengaku IA berkuasa, dan ketika IA penting menjadi manusia, maka pertanyaannya bukanlah IA “melawan” kodratNYA dalam hal menjadi manusia, tetapi apa perluNYA IA menjadi manusia.

      TUHAN tidak dapat melabrak kodratNYA tepat,
      sekarang pertanyaan selangkah lebih maju lagi,
      kodrat apaNYA yang IA labrak sewaktu menjadi manusia?

      Ketika kita berkata IA Pengampun, kodrat apaNYA yang TUHAN lambrak? sampai IA selalu dan memang esa pada Sang Nama yang kita sebut “PENGHANCUR”

      kembali ke kata awal, kitalah yang error, memasaksa otak kita sejajar dengan ROH KUDUSNYA yang mengerti segala pikiran TUHAN.

  2. @ LPW,

    Karena di dalam agama samawi setahuku Tuhan juga dibatasi oleh hakekatnya sendiri.

    Emangnya dengan menjadi manusia Tuhan melanggar hakikat-Nya sendiri?

    Masak?

    Bukankah Tuhan tetap tidak berubah bilamana Dia menjadi manusia (100% Allah masih terpelihara, dan 100% manusia utk kesementaraan waktu) , lainlah kalo Dia berubah, dari Tuhan menjadi bukan tuhan (hanya manusia 100%).

    Semoga anda mengerti.

    Salam kasih.

  3. @ Par,

    Jadi Allah tidak melawan kudrat-Nya bilamana Dia menjadi manusia SEBAB kudrat-Nya Tetap Terpelihara, Terjaga & Kekal.

    Karena itulah Allah tetap tidak berubah bilamana menjadi manusia dan tidak bercampur baur kudrat-Nya dengan kudrat manusia.

    @ LPS,

    Jadi dibagian mana Allah melawan kudrat-Nya?

    Salam kasih.

    • itulah yang sedang aku tanyakan kepada Lovepassword, kalau LP mendalami point2 proof di atas, maka seharusnya ia bisa melihat..

  4. @ CosmicBoy

    Shalom pak..

    Jikalau Roh Kudus belum bekerja di hati orang yg belum percaya maka JALAN, KEBENARAN dan HIDUP itu belum akan mereka ketahui. Roh itu sendiri yg akan mengisyafkan mereka sehingga mereka akan dimerdekakan dari pikiran yg masih dibutakan ajaran kelahiran mereka. Sama seperti Imam yg masuk ke Tebernakel sekali setahun utk penyucian dosa demikian juga mereka yg tidak percaya Yesus masih menganggap hal itu bhw Allah itu tidak boleh dihampiri seperti Bapa kpd anakNya karena dosa kemanusiaan mereka masih melekat.

    Shalom mas

  5. He He he. Sip Sip deh.

    Tentu saja saya bisa melihat itu yah ๐Ÿ˜€

    Inti omonganku tuh gini yah :

    Ada dua kelompok gampangannya Islam dan Kristen.

    Masing2 kelompok ini percaya Tuhan Maha Kuasa Benar yah ???

    Masing2 kelompok ini juga percaya bahwa meskipun Tuhan itu Maha Kuasa tetapi Tuhan dibatasi oleh hakekatNya sendiri/kodratNya sendiri dan sejenisnya . Dalam Kristen ada ayat Tuhan tidak bertentangan dengan hakekatNya. Dalam Islam ada ayat tidak ada perubahan pada apa yang sudah digarisken (Sunnatullah )

    Saya masih benar lagi yahhh ?

    Intinya dari persepsi umat kedua agama : Tuhan itu Maha Kuasa tetapi meskipun Maha Kuasa kekuasaan Tuhan bukannya tak terbatas – tetapi dibatasi hakekatNya atau sifat-sifatNya sendiri.

    Sampai di sini ada titik temu bagus antara Islam dan Kristen. Ocree yah ?

    Selanjutnya next : Tetapi meskipun secara esensial kedua umat sama2 percaya Tuhan Maha Kuasa dan mengiyakan adanya batasan akibat Sifat2 Allah, ada perbedaan pendapat diantara kedua umat ini.

    Perbedaan pendapatnya dimana ? Perbedaannya terkait dengan dimanakah batasannya itu . Lha point intinya sebenarnya di sini .

    Memang ada batas . Tetapi dua tetangga ini berbeda dalam menentukan dimana tepatnya batasan itu.

    Umat Islam kadang salah persepsi dengan mengaitkan ini dengan Allah versi Kristen boleh berbuat seenakNya.

    Sebaliknya umat Kristen salah persepsi dalam hal seolah-olah mengatakan bahwa Allah versi Islam tidak Maha Kuasa , karena tidak bisa jadi manusia.

    Padahal point intinya bukan di situ . Point intinya adalah ada perbedaan persepsi dimanakah batasan itu.

    SALAM

    • @ LPS,

      Sip, sip juga.

      Poin yg bagus untuk direnungkan bagi dua umat beragama ini.

      Salam mas.

  6. @ Par & RAS,

    BETULLLLLLL, tapi itu bukan hal yg mudah bagi org yg sejak kecil lagi hanya meliat Allah dr satu sisi, kebesarannya.

    Anadikan mereka bisa meliat kasih Allah yg besar & luas serta tak terukur, maka hal ini menjadi mudah.

    Karena keadilan, maka Allah menghukum dosa Adam dan keturunannya TAPI Allah tidak berhenti di sana. Kalo Dia berhenti di sana, percumalah penciptaan-Nya, bukan sifat Allah menciptakan lalu membinasakan spt pikiran sebagian orang. Itu pemahaman yg salah.

    Jadi, Allah menyediakan jalan. Itu semua karena kasih-Nya. Tapi kasih-Nya itu harus lewat sejalan dengan keadilan, iaitu memuaskan tuntutan keadilan Allah. Allah tidak boleh menarik kata/perintah-Nya kpd Adam, “Jka kamu memakannya nescaya kamu akan mati.” Kata/perintah/hukum Allah disaksikan berlaksa2 malaikat bahkan oleh Iblis dan para malaikat. Ya, Allah bisa mengata kpd Adam, ngga papa, dosamu akan diampuni, taubat aja. Wah, kalo gituh, iblis & pengikutnya juga mau hal yg sama. Jadi tidak bisa begitu, hukuman harus dilaksanakan. Hukuman harus ditegakkan. Itu ialah nyawa ganti nyawa. Darah ganti darah.

    Nah, kalo Firman kekal, tidak diciptakan, bukan makhluk dengan rela mau menebus/membayar/qisas hukuman Adam itu, caranya bagaimana? Dengan menjadikan diri-Nya sebagai Adam kedua, sesuci dan sebersih Adam spt sebelum Adam jatuh ke dalam dosa. Dengan itu ia dengan setimpal membayar qisas dengan menyerahkan nyawa-Nya supaya manusia dapat dikembalikan ke asalnya, spt sebelum dosa, spt di Taman Aden. Dengan demkian manusia menerima kembali hidup kekal dengan syarat harus memandang kepada Adam kedua, Yesus & menjadikannya Juru Selamat & Penebusnya.

    Salam.

  7. @ CosmicBoy

    Mantap mas uraiannya…
    Saya pun sependapat dengan mas ..

    Shalom Allelujah

    • @CosmicBoy & Lae Sihotang
      Yup, mantap…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: