Bibelon

Oktober 28, 2009 pukul 8:52 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Bibelon (bhs Batak, diambil dari kata Bible, Alkitab. Bibelon=Melulu Bible), adalah sebuah penyakit yang melulu membaca Alkitab, dan membaca demi menambah pengetahuan semata, sehingga cenderung eksklusif terhadap sesamanya (paling tidak begitulah kasarannya).

Bibelon menjadi topik saya di sini karena sering diucapkan saudara terkasih Robinson Sihotang, sehingga saya menjadi terpacu mendalaminya.

Turpuk di hita saonari (Ayat acuan kita sekarang) adalah
Matius 15:1-6
Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata:
“Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.

dan

Yohanes 5:39-40
Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Kita tidak membahas taurat dan tidak membahas adat istiadat. Tetapi coba kita perhatikan point yang Yesus berikan dalam hal “kasih” kepada bapa dan ibu yang telah dipelintir oleh Ahli Taurat, “Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah”, dan yang lebih parah adalah orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya..

Apa hubungannya dengan Bibelon?
Yaitu: ketika orang cenderung “merasa” dekat kepada Allah hanya karena mendalami dan membaca Alkitab, mempraktekkannya secara keliru kemungkinan ada, sehingga hubungan ke sesamanya tidak perlu lagi. Jadi hubungan ke Allah itu benar, tidak ada yang salah, yang menjadi salah adalah ketika kita mengasihi Allah, yang tidak kelihatan, sementara yang kelihatan, yaitu bapa dan ibu kita, tidak kita kasihi. Degan kata lain, kita bisa mempraktekkan mengasihi Allah dengan melakukannya di dalam kehidupan kita sehari-hari, tanpa menjadi eksklusif karena mengetahui banyak hal tentang Bibel (Alkitab).
Dan ayat Yohanes di atas menjelaskan lebih dalam lagi, ikutlah Yesus, ajakNya. Yesus adalah TUHAN di dalam daging, IA mau menjadi sama seperti kita, kalau IA kita panggil Tuan dan kita hambaNYA, masak kita tidak menjadi harus sama dengan Tuan? Ikutlah teladan Yesus yang “membaur” untuk menjelaskan sesuatu yang ada di dalamNYA, yaitu Firman ALLAH, sama seperti itulah kita, karena firman yang dilakukan setiap hari menjadi tulisan paling nyata bagi setiap orang untuk dibaca dan ditiru.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: