Relatifitas?, O.. No

Oktober 27, 2009 pukul 8:54 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 4 Komentar
Tag: ,

Ketika manusia mengaku semakin cerdas maka ilmu pengetahuan juga semakin meningkat.
Akan sangat lucu bahwa ternyata ada ilmu evolusi phikology yang mengatakan jiwa toleransi, jiwa altruis dari manusia adalah suatu penyakit, betapa anehnya buat kita yang terbiasa dan disebut dengan kebudayaan timur bukan.

Dan ada batas absolute yang lebih parah lagi, bahwa benar menurut kamu belum tentu benar menurut saya. Dan sebaliknya dan seterusnya. Sungguh sebuah tamparan bagi yang mengaku beragama, dan lucunya kita juga yang mengaku beragama banyak setuju dalam beberapa hal.

Kita tidak menafikan bahwa banyak hal yang dapat kita pergunakan dari “ilmu dunia” ini, tetapi yang menjadi masalah adalah ketika “ilmu” itu menjadi bahan baku, rumus baku untuk menggariskan segala sesuatu dalam satu pedoman tunggal. Dengan dalih yang sama pemikiran ini juga menuduh kaum agama yang cenderung terpecah juga melakukan hal yang sama, mengklaim Ultimate One pada pihak tertentu saja, dan tetapi dan menjadi relatif terhadap kelompok atau agama yang lain.

Sekali lagi, bagi saya itu sangat mudah saja, bumi hanya satu, maka TUHAN hanya satu, tuhan yang lain pasti menciptakan dunia saja. Dan persimpangan perbedaan bumi dan dunia itu pasti ada di titik tertentu, dan pertemuannya jelas banyak diberbagai hal, menjelaskan bahwa ada faktor X yang ada, tetapi rusak dan ternoda, sehingga faktor X itu bisa jadi masih melekat padanya, sehingga ada X-1 atau X+1.

Lalu bagaimana menghancurkan pemikiran relatifitas terhadap The Ultimate One ini? yaitu dengan mengenali Hukum Tabur-Tuai (Galatia 6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya).

Imamat 19:19 Kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku. Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan.

Jangan menggabung-gabungkan ajaran-ajaran, jika sudah maka Anda akan mendapat pemikiran hybrid. Jangan menanam dua ajaran, jangan menanamkan dua pemikiran, jangan ada kepribadian ganda, jangan ragu dengan yang satu, sekali Anda ragu, maka Anda akan menuai kebimbangan.
Dan terakhir,
Jangan menyelimuti kemuliaan Anda dengan dua kemulian, jangan bersembunyi dalam dua muka, peliharalah dirimu dari kesucian dan kesetian.

Jangan berburuk sangka terhadap saya, agama-agama lahir dari semua pelanggaran di atas.

4 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. I am keep thinking and asking, “apa hubungan Relatifitas dengan hukum tabur tuai”,

    Could you please give me more explanation?

    Many thanks in advance

    • Relatifitas ada, kemungkian/kecenderungan menyebabkan “penurunan” standard Benar.

      Dan penurunan standard benar itu, disebabkan oleh kompromi manusia terhadap sesuatu yang tidak dapat ia tolak, terpaksa, atau memang sengaja setuju, cari sensasi.

      Kompromi ini menjadikan manusia sebagai penabur “keabu-abuan”,
      dan untuk itulah manusia itu sendiri menuai hasil yang sangat membingungkan, yaitu kaburnya sama sekali arti The Ultimate One.

      Tetapi bukan Kristen namanya kalau tidak dapat melihat faktor X dari setiap X-1 dan X+1, karena Tuhan berkata:”Aku sanggup merekakan yang tidak baik menjadi kebaikanmu”.

      Artinya dengan memelajari apa-apa yang ditabur oleh pikiran relatifitas, atau dengan melihat apa-apa yang dituainya kita bisa menjelaskan bahwa relatifitas ini salah kaprah.

      Hukum Tuai-tabur ini benar-benar telah menjawab banyak hal di dalam pikiranku.

      salam juga, saudari ester, GBU

  2. @ Parhobas
    berkata : Hukum tabur tuai :
    Galatia 6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya).

    saya akui itu laeku.. karena Allah tidak pernah menghukum atas apa yang kita perbuat. Dia hanya memberi dua pilihan :
    1. Hukum Berkat
    2. Hukum Kutuk

    Hanya yg kita ketahui bhw Allah dari hatiNya paling dalam memohon dan meminta supaya kita memilih hidup dalam berkatNya. Tetapi kita sendiri yg menghukum diri kita dengan memilih jalan Kutuk. Dan yg paling ngeri saya rasa laeku adalah jikalau Allah telah menyerahkan kita kepada keinginan kita yg jahat. Bayangkan laelah kalau sekiranya anak-anak kita yg masih kecil dan dalam kenakalannya memilih bermain-main ke sungai yg deras dan dalam . Kita sbg org tua sudah mengingatkan spy jgn bermain kesitu tetapi mereka tetap memilih utk tdk menaati perintah orang tuanya. Akhirnya mereka tenggelam terseret arus air sungai tsb. Padahal kita org tuanya sangat jatuh sakit krn sedih dan menangis atas kehilangan mereka. Bisa lae bayangkan demikianlah Allah kita jikalau anak-anakNya selalu bahkan sengaja melanggar perintahNya… Saat kita mati dalam dosa-dosa kita sebenarnya Allah begitu rupa menangis dalam kesedihan krn kehilangan anak-anakNya. Oh Tuhan Allahku yg Pengasih dan Penyayang Terpujilah namaMU

    sHAloM MA LAeku

  3. Dan yg paling ngeri saya rasa laeku adalah jikalau Allah telah menyerahkan kita kepada keinginan kita yg jahat.

    ya lae ngeri banget…

    mungkin Firaun dulu begini juga yah…
    “maup maupla kau”, kata Tuan kita itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: