Te*^*lan*v*jang

Oktober 24, 2009 pukul 8:18 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Kalau mau dikatakan demikian, tragedi, yang paling menyedihkan adalah kejatuhan manusia atas dosa. Keterpisahan dengan ALLAH, dan rusaknya kemuliaan yang diberikan kepadanya.

Kejadian 3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka te***lan***jang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Yah, efek pertama dari kejatuhan itu adalah… adanya rasa malu akibat ke-te***lan***jang-an.

Rasa malu itu sejurus saja menjadi saling lempar tanggung jawab,

Kejadian 3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

Selebihnya adalah kutuk dari TUHAN.

dan seterusnya dari malu, lempar tanggung jawab dan kutuk, hanya menunggu satu generasi untuk melahirkan amarah, iri, amarah dan iri melahirkan rencana jahat dan pembunuhan,

Kejadian 4:8 Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.

Dari pembunuh menjadi pembohong, kurang ajar..

Kejadian 4:9 Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”

dan kekurangajaran itu menambah kutuk lagi:

Kejadian 4:11 Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.

dan hanya beberapa generasi ke depannya, manusia sudah membuat peraturannya sendiri, mengambil dua istri, dan kelancangan-kelancangan di dalam diri Lamekh

Kejadian 4:24 sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.”

dan seterusnya, dan seterusnya….

Dari semua tragedi-tragedi itu, setelah “memakan buah” itu, efek pertama adalah rasa malu, atau pengenalan akan keberdosaan, melihat sesuatu yang lain dari yang biasanya, melihat ke-te***lan***jang-an…

Sehingga orang yang belum bisa melihat ke-te***lan***jang-annya, memang tidak akan ada rasa malu di depan Yang Benar, Yang Suci,…. kata Tuhan Yesus:”Aku datang untuk orang berdosa”.

Dan demikianlah mereka dalam ke-te***lan***jang-annya berusaha menyemat “baju”, menghilangkan rasa malunya, tetapi TUHAN bertindak, menyematkan “baju” yang dari TUHAN, …kata TUHAN:”Akulah Penebusmu”, “Aku tidak berkenan atas segala usahamu”,….

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: