Referensi saya adalah…

Oktober 15, 2009 pukul 10:34 am | Ditulis dalam Pemikiran | Tinggalkan komentar
Tag:

Buku atau katakanlah artikel dari seorang yang bertanggung jawab tentunya akan merefer ke orang lain dikala orang lain itu lebih expertis di bidang yang sedang dibahas dan kita menemui nisbi pokok bahasan kita, atau ketika sudah ada kesimpulan mutlak sehingga tinggal mengambil saja, atau ketika kita setuju akan suatu hal dengan orang lain…

Tentu buku atau artikel itu adalah hasil dari pikiran kita, yang secara tidak langsung merupakan representasi diri dari kita,.. (terkecuali bagi orang yang “musang berbulu domba”).

Bagaimana kalau ternyata referensi kita salah?
Jika kita sudah menyelami begitu dalam akan suatu referensi maka kita dituntut untuk melakukan pembelaan bagi mereka-mereka yang mengkounter atau menuduh. Maksud saya, ketika pengetahuan semakin berkembang kita akan susah menemukan kesalahan, karena suatu yang salahpun bisa diputarbalikkan menjadi sesuatu yang benar. Jadi dua kebenaran harus berani membela dirinya dan harus siap menerima “vonis” salah.
Itulah yang bertanggung jawab. Kalau saya bilang :”Bumi hanya satu, bumi yang diciptakan orang lain pasti dunia”.

Bagaimana kalau ternyata kita salah dalam menerjemahkan referensi?
Itulah gunanya memahami konsep. Kita bisa menurunkan rumus-rumus luas lingkaran misalnya dengan integral dimensi dua, itu lebih dalam dan berarti daripada harus mengingat-ingat πr2, sebab dengan mengenal konsep integral kita bisa tahu bahwa setiap perkataan πr2 masih ada sisa error yang tidak mungkin bisa dipungkiri dalam pengalian-penglian raksasa.
Maksud saya adalah kita tidak akan menjadi salah kalau kita mengerti patokan, pondasi dasarnya, saya sedang tidak mengatakan bahwa kita bisa mengerti segala sesuatu, tetapi ada hal-hal yang umum yang semestinya sangat mendasar yang harus kita tahu. Ketika kita tiba-tiba memasuki di suatu titik tertentu, maka usahakanlah melangkah mundur untuk menancapkan pondasi, dan melajulah ke depan kencang dengan aman dan berani karena pondasinya sudah kuat. Ingat semakin tinggi “antena”, semakin banyak “sinyal” yang didapat, tetapi juga semakin kencang anginnya.

Luangkanlah waktu untuk merenung, mungkin kita memang salah, sebab Yang Benar hanya Satu.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: