Banyak Jalan Menuju Roma, ilah chaos

Oktober 14, 2009 pukul 5:40 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , ,

“Banyak jalan menuju Roma”, sudah sangat sering didengar tentunya.
Saya orang Batak, yang dahulu tinggal di Tarutung, maka paling tidak akan menempuh jalan berliku menuju Roma. Harus menuju Medan, ditempuh sekitar tujuh jam, Polonia memang Bandara Internasional, tetapi sepertinya tidak melayani penerbangan langsung ke Roma, jadi saya harus ke Jakarta dulu, dua jam penerbangan. Dari Jakarta mungkin ada flight ke Roma, tetapi harus transit di beberapa bandara tertentu dulu, bisa di Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong, atau mungkin Dubai,…. panjang, lama dan berliku.
Kebayang kan kalau orang yang harus berangkat dengan jalan darat?, “Gille benner”, celetuk orang Betawi. Atau lebih galak lagi,” Modiaar wess”, Jawatimuran.

Nah, setelah itu di Roma banyak orang berkumpul, dan ternyata banyak yang tidak bisa masuk, masing-masing dengan masalah yang berbeda-beda. Ada tentunya orang yang merasa sudah sangat menderita, sudah berjalan jauh, sudah mengorbankan seluruh hartanya demi bisa menuju Roma, ia merasa layak masuk Roma. Bahkan ada orang kaya yang sudah banyak mengeluarkan uang untuk membeli pernak-pernik Roma, supaya tampil lebih Roma dari warga Roma sendiri. Bayangkan satu juta orang berteriak dengan kemauannya masing-masing, tujuannya sama, masuk ke kota Roma. Setelah ada satu juta orang, maka akan datang berjuta-juta lagi, sebab mereka sama saja, berpegang pada prinsip, “Banyak jalan menuju Roma”.

Chaos, ….. lama-lama akan terjadi chaos.

Roma, Romawi, jaman dahulu adalah bisa dikatakan “penjajah”, mereka merentangkan tangannya ke semua daerah di sekitarnya. Macedonia adalah salah satu daerah di luar Roma, tetapi Roma “mengangkat” daerah ini menjadi bagian dari Roma. Dan orang Macedonia menjadi “orang” Roma.
Bayangkan jika Roma “mengangkat” Tarutung menjadi salah satu propinsi Roma, maka sayapun tidak perlu menjalani jalan berliku menuju Roma, sebab… saya sudah menjadi warga Roma.

Timbul pertanyaan, tetapi sayakan tidak akan pernah menginjak kota Roma?,… lho kan sudah menjadi warga Roma, bangun sendirilah kota Romamu… gimana? mau?. Yang di kota Roma sudah memberikan buku panduan, sudah diberikan blue print, banyak contoh dan banyak prototype diberikan… gimana? Tetapi ingat, lakukan juga hukum Roma, jangan sudah menjadi warga Roma, kamu masih berlaku seperti orang Batak lain yang suka jadi rentenir, kasar dan copet, jadilah Batak yang berbau Roma.
hmmm ingat Paulus?, untuk menghadapi “hakim” ia dibawa ke Roma, karena ia warga Roma, jadi nanti ada waktunya anda menuju kota yang asli, kalau “Persidangan” sudah dibuka.

Dipilih-dipilih… sayang anak dipilih….. warga Roma melahirkan anak Roma juga.. dipilih-dipilih… sayang anak dipilih, sudah sore… dipilih-dipilih

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: