Warning kepada Orang Batak

Oktober 6, 2009 pukul 8:32 am | Ditulis dalam Saya melihat | 13 Komentar
Tag:

1 Timotius 5:8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Orang Batak, sepanjang pengamatan penulis, memang terkenal dengan pertalian “darah”nya. Jika sudah merantau jauh, apapun agamanya, “darah” itu memanggil dan berkata:”Kita saudara”, apalagi kalau satu marga, jangan ditanya.

Kita fokuskan dengan si Zekong yang tinggal di kampung sana…

Kalau kita perhatikan acara-acara penguburan orang-orang yang dianggap tua, oppung-oppung, perhatikanlah, pestanya sangat meriah. Ada sanak saudara yang bergelimang emas di jari, menari (manortor) menghantarkan sang Oppung ke kubur, ada isak tangis, musik (gondang), dan banyak lain hal yang wah.
Lalu orang sekitarpun berkata :”Na mora do pinompar ni si Zekong-i bah“. (Wah sudah makmur ternyata keturunan-keturunan dari si Zekong).

Analepsis, paling tidak 5 tahun dari hari penguburan…
Si Zekong sangat menderita, hutang sana sini untuk menghidupi dirinya sendiri, harus bertengkar dengan tetangganya yang sudah coba-coba “mangeahi” (menjajah) tanahnya. Dia sendiri dan pedih, sanak saudara semua sibuk mengurus dirinya sendiri. Bahkan ia mengeroposkan badannya dengan batuk-batuk yang parah tanpa menenggak sebutir obatpun.

Inilah orang yang merhargai orang mati daripada kehidupan, kesombongan dan keangkuhanlah yang mengikuti.
Peringatan keras kepada semua orang yang puas terhadap diri sendiri, dan fokus di sana.

Tidak semua orang Batak demikian, tetapi banyak yang mengalami hal yang sama.

1 Timotius 5:8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

13 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sudah saya alamin sendiri kejadian tsb laeku…
    Saat opung saya meninggal dunia dalam usia 86 tahun. Saya adalah pahopu panggoaran. Jujur walau keadaan keuangan kami sangat sulit dan perekonomian sangat pas-pasan tetapi pihak keluarga dikampung memaksakan spy penguburan opung harus sangat meriah dan memotong kerbau. Semua keluarga hampir tidak mau mengerti kesulitan dan kesusahan pd kami. Mereka hanya mau menunjukkan bhw keluarga jangan kalah dari orang lain, dan mengatakan itu sudah menjadi adat Batak. Kami menangis bukan karena kepergian opung tetapi sangat sedih karena berpikir bagaimana harus membayar utang dikemudian hari akibat dari pesta penguburan opung kami tsb.

    • ya.. tragis emang lae…

  2. @ par & Robinson,

    Maap mas, saya bukan org Batak tapi saya pengen nanya, inti tradisi itu membawa ke mana?

    Kebaikan atau kejahatan?

    Mungkin tujuannya ialah kesatuan, mungkin juga siratulrahim, mungkin juga saling menguatkan, iya kemungkinan lain2 juga ada.

    Jadi, saya pikiran kalo ada yg baik, kenapa sih ditolak?

    Saya khawathir dibilang org, Kristen anti budaya, anti adat padahal Al-Kitab penuh dgn adat2 Yahudi…

    Mohon pencerahan.

    Salam kasih.

    • @CosmicBoy

      Tulisan ini bukan untuk mengkritisi budaya (pesta penguburan dan prosesi adat lainnya), yang saya kritisi adalah:
      1. Ketika si Zekong meninggal barulah sanak keluarganya menunjukkan bahwa Zekong adalah seorang yang keturunannya sudah makmur.
      2. Padahal semasa hidupnya, paling tidak 5 tahun sebelum ia meninggal, Zekong mengarungi hidup dengan pahit dan getir.
      3. Kalau kita masih memiliki orang tua (sanak saudara yang kekurangan), maka buatlah yang terbaik kepada dia semasa hidupnya, bukan pada saat beliau meninggal.

      Semoga menjawab;
      Parhobass/Hakadosh

  3. @ cosmic boy
    Maap mas, saya bukan org Batak tapi saya pengen nanya, inti tradisi itu membawa ke mana?

    Kebaikan atau kejahatan?

    >>> Salam kasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Untuk pertanyaan ini saya hanya dpt menggambarkan dari iman Kristen ya mas. Bahwa di adat Batak itu, jikalau yang sudah mati itu memiliki anak laki2 dan anak perempuan dan semua sudah menikah. Kemudian dikaruniai lengkap cucu2 yang lengkap pula maka digolongkan kpd Saurmatua. Sehingga menurut adat di Batak penguburannya harus besar, dengan menghadirkan semua pemangku adat Dalihan Na Tolu. Upacara tsb menelan biaya yg sangat besar dan menguras energi yang begitu banyak. Tetapi itulah tuntutan adat yang terakhir kali dituntut dari para keluarga segenap yang berhubungan dengan upacara kematian tsb. Nah itu inti judul post lae Parhobas kali ini.

    Nah, secara pribadi… saya kurang mendukung bahwa adat dipelihara untuk memuaskan segelintir orang-orang yang gila hormat dan haus pujian dari orang-orang. Jujur ya mas, kebanyakan di tanah Batak sana orang-orang sudah tertutup mata hatinya dengan landasan Cinta Kasih Kristus. Mereka lebih mementingkan upacara adat yang melambangkan keangkuhan dan persatuan kepada orang lain tanpa mau mengerti bahwa Kasih di antara mereka sudah tidak ada.

    Tragis memang…. bhw adat Batak di jaman sekarang adalah arena dalam mempertontonkan kemuliaan keluarga. Jauh dari iman Kristen yang menghendaki untuk berpikir realistis dan selalu hidup penuh kerendahan hati.

    Iman Kristen tidak melarang adat Batak itu untuk hidup. Tetapi saya melihat sekarang ini Iman Kristen sudah dipaksa harus mengikutin kemauan adat Batak. Padahal antara IMAN dan ADAT sangat jauh beda kualitasnya.

    Shalom

  4. @ par & RAS,

    Thanks atas pencerahannya.

    Tuhan memberkati.

    Horas.

    • @ par & RAS,

      Saya pikir hampir semua budaya, soal penguburan, SAMA koq.

      Jadi, kalo dalam doanya dan dalam upacaranya nama Yesus diangkat dan dimuliakan, itu udah satu kemenangan.

      Tapi itulah, kita umumnya kalah sama budaya/adat.

      Salam.

      • Bro CosmicBoy;
        Kebenaran adalah Milik TUHAN.
        Nah TUHAN menciptakan manusia untuk benar..
        tetapi karena manusia itu berontak maka benar nya itu rusak…
        rusak di sini sepertinya usaha untuk benar itu selalu ada… nah inilah yang paling tidak dimiliki oleh bangsa2 yang dinyatakan berbudaya…

        jadi di dalam budaya itu sendiri sisa “BENAR” itu masih ada…
        tetapi benarnya itu tentu ada juga yang rusak, contohnya (khusus BATAK dululah) memakan orang,… budaya batak memakan orang sudah kalah dengan KASIH Kristus, itu luar biasa,… budaya perang sesama huta itu sudah dikalahkan budaya SALING MEMAAFKAN Kristus, dan banyak lagi, termasuk seperti kata Anda, doa, ya doa kepada debata mulajadi nabolon (DEWATA ALAM SEMESTA) telah dikalahkan oleh ROH KUDUS yang mengajari berdoa kepada Tuhan Yesus…

        Salam

  5. Kalau bicara tentang budaya, jangankan yang Batak dalam budaya saya misalnya tradisi Agama nenek moyang saya yang Hindu masih dijalankan sampai sekarang oleh keluarga saya dan orang-orang yang se suku dengan saya. Walaupun sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam, tapi tetap dilaksanakan sebagai melestarikan budaya.

    • maaf Fitri, ini bukan masalah budaya,
      tetapi masalah setiap orang, yang pada contoh di sini adalah orang Batak, yang lebih menghargai kematian daripada kehidupan itu sendiri

  6. […] Note: Artikel juga berhubungan dengan artikel:Warning kepada orang batak […]

  7. saya pribadi berpendapat bahwa upacara kematian adat Batak sampai ‘semewah’ itu tidak perlu mutlak dilaksanakan, karena hanya merupakan unsur budaya. menurut saya, lebih baik diadakan kebaktian saja jika orang meninggal, karena itu lebih esensiel dan tidak memberatkan.
    mak ku sering bilang, orang hidup itu lebih penting untuk diurusin ketimbang orang (yang sudah) mati. pengalaman kami beberapa tahun lalu oppung doliku meninggal dan dipestakan (walaupun secara ekonomi keluarga kami mampu) tapi kami tidak lupa bahwa oppung boru masih hidup, beliaulah yang lebih penting mendapat perhatian apalagi sudah tua dan sakit2an ketimbang oppung doli yang sudah almarhum.

    • @sectio

      tepat sekali itu amang, yang penting adalah himat berjalan..
      ada kalanya penting ada kalanya tidak,
      tetapi yang terutama dan harus adalah kita seharusnya lebih menghargai yang hidup daripada waktu dia sudah mati..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: