Permainan (kalau bisa dikatakan demikian) kosa kata…

September 8, 2009 pukul 8:32 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

Seorang turis tersesat di pedalaman hutan belantara. Seminggu setelah bertahan dengan kejam dan kerasnya hutan ia bisa bertemu dengan sekelompok manusia, manusia pedalaman.

Apa yang terjadi?
Si turis tentu sudah paham apa yang sedang terjadi, bahwa segala yang ia tahu kemungkinan besar tidak akan diketehui oleh manusia-manusia pedalaman tadi. Dan tentu ada sebagaian besar pengetahuan manusia-manusia pedalaman tadi yang tidak diketahui oleh sang turis.
Yang terutama adalah masalah bahasa.
Si turis mengenal mereka dengan manusia pedalaman, suku yang tidak terjamah, atau ada kosa kata kasar lagi, manusia pra sejarah… dan saya pun harus terjerambab di dalam kosa kata ini karena memang itulah lajim yang digunakan, dan memang tidak ada yang salah dengan itu semua. Sedang si manusia pedalaman tidak mengenal kata “turis”, mata, kulit, rambut dan sebagainya bisa dimiliki bersama, tetapi semua serba berbeda, terlebih bertandang ke negeri yang sama sekali beda itu jarang dilakukan, lalu apa yang akan mereka sebutkan terhadap orang seperti ini?, melangkah saja ke wilayah yang bukan suku mereka tentu konsekuensi nyawa menjadi taruhan…. ya mereka tidak memiliki kosa kata “turis:, lalu mereka menyebutnya “si bontar mata”. Kita sebut saja si Togar.

Yang tidak memahami sejarah, point, tentunya kelak setelah manusia-manusia pedalaman itu sudah berubah menjadi sejenis perkotaan, akan menimbulkan pertanyaan…
Turis sama dengan si bontar mata?
sebab ada juga turis lokal, semua sama, dari fisik, tingkah polah, dan lain-lain, maka dengan logika ini
pasti Turis tidak sama dengan si bontar mata. Kita sebut saja si Tegar.

Selanjutnya, apakah keduanya benar? Togar dan Tegar?
yah keduanya benar, sebab yang satu menilik sejarah terjadinya kosa kata itu, yang satunya lagi bertahan pada apa yang telah terjadi sekarang ini.

Yang salah adalah kalau keduanya mempermainkan kosakata, seolah Tegar telah menjelaskan semua sejarah si bontar mata, dan Togar yang bertahan pada poin sejarah tadi tidak mau melihat bahwa kenyataan penjelasan cara pandang berbeda bisa terjadi.

Penekanan di sini adalah hanya fokus pada cara pandang manusia modern, yang segar ke dalam dialog-dialog yang cenderung menimbulkan permainan-permainan kosa kata saja.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: