Siapakah aku?

September 4, 2009 pukul 11:30 am | Ditulis dalam Pemikiran | 2 Komentar
Tag: ,

Idealisme menggariskan keras akan segala yang di luar agar sebaris dengan aku.

Jika aku masih mengakui bahwa setiap manusia adalah unik, maka akan terbenturlah idealisme-idealisme.
Garis-garis itu bisa saja menjadi carut marut, karena selalu ada garis yang mengikat harfiah “Jalan Lurus”, tidak ada getah-getah toleransi yang mengikat kehidupan terhadap sesama.
Dan kalau aku masih mengakui sedemikian maka tidak ada organisasi yang hanya berisi satu garis, tidak ada golongan, kelompok atau apapun namanya dari sekumpulan manusia yang di dalamnya tanpa warna dan bentuk garis yang berbeda.

Sedemikian sehingga pemersatu bukanlah datang dari aku, bukan datang dari idealisme tertentu yang dominan, bukan dibentuk oleh idealisme dengan toleransi adaptif, yang meskipun semuanya itu harus diakui bisa terjadi, tetapi yang paham arti roh, yang paham semua yang rohaniah, maka tidak ada kata lain yang mempersatukan kita hanyalah Roh.

Dan kalau aku sudah tahu dipersatukan oleh Roh, yang mana mengartikan bukan oleh kuat gagahku, apakah aku masih sanggup bertindak atas nama “menghakimi”, sebab ternyata aku juga melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sama? atau apakah aku masih bisa menyadarkan pikiranku bahwa di mata Yang Kudus, adalah tidak ada satupun dari ciptaanNya yang bisa masuk ke dalam standard Kudus?
Jika Tuhan penuh toleransi lalu dimana letak ADILNYA?,
Akupun hanya bisa bersyukur atas sebuah Anugerah, hanya Yang Kudus yang bisa menguduskan yang tidak kudus. Dan karena aku masih di dunia ini, masih di dalam ikatan ketidakkudusan, maka aku harus mengakui bahwa Dia yang adalah Kudus akan mengubahkan aku kelak di dalam standard kekudusanNya. Syukurku adalah IA telah memilih aku, menempatkan aku di dalam “penjara miniatur” ke kudusan kelak di dalam KerajaanNya.

Bahwa ternyata TUHAN tidak mau, dan memang, Ia tidak mau di sogok.
IA tidak mengikat aku dengan aturan-aturan baku, penjara semacam ini bukanlah penjara yang Ia tempatkan aku di dalamnya.
Penjara Jalan Lurus adalah Penjara yang mengakui bahwa di dalam aku ada Roh Kebaikan, Roh yang senantiasa ingin kupancarkan sinar dan garamNya kepada semua orang yang tinggal di sekitarku.
Terkadang sinar itu kuhalangi, garam itu kucampur dengan air tawar, sedemikan maka aku semakin mengenal arti pengampunan di dalam pertobatan. Pertobatan adalah untuk membuka lebar, selebar-lebarnya agar cahaya Kristus yang di dalam ini memancar keluar, dan mencampur semua makanan hikmat ini dengan garam-garam kebajikan.

TUHAN yang hidup adalah TUHAN yang sudah Ada, yang Ada dan Yang akan Ada.
IA tidak berdiam saja, IA aktif… artinya IA tidak dikungkung oleh aturan yang berlaku di dunia.
IA adalah IA.

Siapakah aku ini TUHAN?
Ampunilah aku… aku adalah sebagaimana ku ada, ada yang seharusnya di isi oleh adaNya Kristus.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Salam kenal.
    Sedang kontemplasi ya?

    GBU

  2. Kontemplasi buat setiap “aku”
    salam kenal juga

    GBU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: