Menang melawan TUHAN

September 2, 2009 pukul 10:23 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 7 Komentar
Tag: , , ,

Banyak kekeliruan memang di dalam pemikiran manusia. Terkadang kekurangtahuan bisa membuat kekeliruan. Bahkan perbuatan yang tidak sesuai dengan pemikiranpun bisa melahirkan kekeliruan-kekeliruan berikutnya.

Terlebih di berbagai diskusi, maya, kepercayan-kepercayaan diserang, ideologi-ideologi, agama-agama, bahkan TUHAN diserang. Yang mengaku beriman kuat akan melemahkan iman yang lemah.
Dan orang yang mengejar kemenangan akan puas diri, hati-hatilah iblis telah menjerat Anda dengan kekang kesombongan.
Dan orang yang sekali lagi harus terus belajar mensejajarkan pemikiran dengan kelakuannya akan terlihat bodoh.

Ketika kita mencaci maki orang dalam pemikiran imannya, kita telah mencaci maki TUHANnya.
Dan kita menang terhadap TUHANnya.

Kepikirankan kalau kita ternyata mencaci maki TUHAN YANG BENAR?
Konsekuensi inilah berita hebat kepada kita.
Kalau ada TUHAN yang berkata, bahwa setiap kemenangan itu mendapat imbalan, maka TUHAN itu harus kita kalahkan. Kita harus menang dengan TUHAN yang seperti itu.
Kalau hanya Anda yang merasa menang, maka Anda akan kelihatan bodoh, sebab berhikmat di dunia ini beda dengan hikmat sorgawi.

Kalau ada TUHAN yang berkata, berargumenlah dengan lemah lembut untuk menerangkan imanmu, maka TUHAN inilah yang harus mengalahkan kita semua. Dan kita harus dimenangkan oleh TUHAN yang seperti ini.
Walaupun Anda kelihatan bodoh, tetapi hikmatmu akan terus diperbaharui.

Siapa TUHAN yang kita kalahkan?, bagi kita sangat gampang, segampang meneliti pertanyaan ini,
Siapakah Nama ALLAH?

Iklan

7 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. JESUS

  2. Allah SWT (Subhana Wa Ta’ala)

  3. Saya pernah berdiskusi dengan Bapak Iaones Rakhmat soal yang mirip dengan ini .
    Tertulis di dalam salah satu kisah, seingatku Yakub menang berkelahi melawan Allah di sungai

    Lha tulisan itu kadang dipakai dalam debat2 antik antar agama. Allah kok kalah sama manusia ?

    Lha salah satu jawaban yang bisa kubaca termasuk tulisannya jelasnggak tercinta adalah begini : Kalo kamu perang2an sama anak TK terus kamu ngomong : Wah papa kalah ? Apakah kamu beneran kalah atau mengalah ?

    Lha kalo memang ada sisi Allah pernah mengalah pada manusia. Para Nabi juga bisa kamu baca dimana-mana – masih bisa bernegosiasi dengan Allah yang humanis —

    Mengapa sisi itu juga tidak dilihat bahwa ada ruang untuk berpikir , ruang untuk mempertanyakan bahkan “berkelahi” . Dan dalam perkelahian itu toh masih ada kemungkinan Allah entah kalah atau mengalah terhadap makhluk yang mudah-mudahan memang dikasihiNya itu.

    Kalo Allah memang memberi ruang, mengapa justru kita dengan dalih iman menutup ruang itu ? 🙂

    SALAM

    • itulah yang disebut:
      1. Rancangan Allah bukan rancangan kita,
      2. Kadang-kadang kita mengalahkan Tuhan. (kalah dalam arti sebenarnya)
      3. Yang mengalahkan (kalah dalam arti sebenarnya) Tuhan didunia tunggulah waktunya.

      kalah dalam arti sebenarnya,
      TUHAN di jaman anugerah ini tidak seperti di jaman Gehazi yang langsung menghukum, tetapi DIA beri waktu. Dan TUHAN tidak mengharapkan kita “memasuki suatu agama” tetapi mempunyai relasi dengan TUHAN. Tetapi agama menjadi penting karena relasi yang baik dengan TUHAN terlihat jelas di dalam relasi terhadap sesama yang mengaku percaya kepada TUHAN yang sama.

      • Tetapi agama menjadi penting karena relasi yang baik dengan TUHAN terlihat jelas di dalam relasi terhadap sesama

        ===> Menarik menarik…Sip Markusip

      • ya.. pandanglah agama (yang saya sebut di atas) sebagai relasi ke sesama manusia, bukan agamanya, badan hukumnya, d.l.l

        contohnya, saya Kristen (berbadan hukum Kristen), tentu cara paling efektive menunjukkan relasi saya baik dengan Tuhan ya dengan menujukkan relasi saya ke sesama Kristen terlebih dahulu, karena saya sudah berada di sana, tanpa menjadi ‘orang lain’ kalau berelasi dengan orang apapun, original dan berintegritas…

        hehehe

      • Yang yang namanya perhatian itu ya normal bila pada pihak yang dekat-dekat dulu. Perhatian semua orang juga pasti kepada lingkaran terdekatnya dulu, terus kalo bisa tambah luas , tambah lebih lebar jangkauannya.

        Kalo sedikit melakukan perbandingan agama, kan ada juga konsep persaudaraan seagama, sebangsa dan ada juga persaudaraan sebagai sama-sama manusia : Ukhuwah islamiyah, wathoniyah dan basyariyah.

        Saya rasa normal-normal saja itu, baik-baik saja. Yang agak nggak normal itu jika fokusnya kebangeten pada satu sisi saja dan membuang banyak sisi yang lainnya. Teorinya mestinya gitu. Meskipun prakteknya memang nggak segampang itu 🙂

        Siplah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: