Organisasi dalam Pelayanan

Agustus 24, 2009 pukul 11:32 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Devosi, ribuan devosi. Ada dimana-mana. Memang ada doktrin yang berbeda menjadikan pehaman yang berbeda. Jalan tempuh terbaik, dari segala yang bentuk damai, memang memisahkan diri, tetapi tidak jarang hanya karena perselisihan pendapat dalam hal keorganisasian, meski doktrin sama maka akan begitu mudah menyulut lahirnya devosi baru.

Kita memang tidak memungkiri firman, tidak ada satupun yang suci, tidak ada satupun yang benar, tidak ada satupun yang kudus, tidak ada satupun yang baik atau tidak ada satupun yang sempurna selain DIA yang kita sebut TUHAN. Tetapi, ketika kita dituntut agar semakin sempurna, semakin serupa di dalam Kristus, maka ada tuntutan tertentu yang harus diperlihatkan bahwa kita sudah mengenal bahkan kita sudah dipilih oleh Kristus.
Semangat oikumene hanyalah khayalan tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya satu di bawah naungan Sang Raja Gereja, Kristus TUHAN.

Yang pada akhirnya sebuah pelayanan akan menciptakan organisasi, kepengurusan demi kelangsungan segala yang disebut efektifitas, keteraturan dan mengena kesasaran.
Saya melihat, kepengurusan dibutuhkan oleh pelayanan. Dan kepengurusan itu dilahirkan oleh pelayanan itu sendiri. Sepertinya hanya tabiat, tidak ada yang suci,tidak ada yang benar, tidak ada yang kudus (lihatlah contohnya Yudas Iskariot) yang dapat memecah belah pelayanan seperti ini.
Di waktu-waktu sekarang begitu banyak kepengurusan, organisasi, melahirkan pelayanan. Mereka bisa berdiskusi berjam-jam untuk sebuah kata sepakat dari donasi dan pendanaan, tetapi memberi tiga menit untuk memutuskan bahwa diakonia untuk jemaah berkekurangan hanya memerlukan sumbangan sukarela.

Ketika organisasi mengatur pelayanan maka sangat sulit bagi kita untuk mengenal manusia-manusia yang telah dipilih setan untuk merusak, tetapi pelayanan yang membentuk organisasi akan begitu gampang melihat kelakuan setan yang gentayangan di tubuh, jikalau masih mau dikatakan demikian, Kristus.

Dan pada akhirnya, organisasi yang melahirkan pelayanan-pelayanan luar biasa kemungkinan besar hanya menimbulkan sektarian-sektarian baru. Ekslusif.
Ketika kita dituntut untuk melayani, memuridkan dan dimuridkan, maka cara efektif adalah organisasi di bawah Sang Kepala Gereja, dimana sering diambil alih oleh perorangan dalam yayasan-yayasan, kelompok orang-orang, organisasi-organisasi. Singkatnya hebat di dalam organisasi( di dunia?) belum tentu taat sebagai hamba di dalam Kristus.

Semua orang hanya bisa memilih bentuk kebenaran, seperti pertanyaan Pilatus kepada Yesus dalam persidangan “salib”, “Apa itu kebenaran?”.
Ya sebab Pilatus melihat kebenaran di dalam Yesus yang harus dibayar dengan bogeman, dengan ludahan, dengan caci maki, dengan hinaan, bahkan akhirnya salib. Sementara kebenaran menurut dia, menurut dunia, adalah kuasa akan negara, kuasa akan orang-orang, kuasa akan organisasi, kuasa atas keadaan. Baginya kebenaran menjadi tidak berarti jikalau ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: