Budaya yang merajai

Agustus 6, 2009 pukul 9:44 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

bu·da·ya n 1 pikiran; akal budi: hasil –; 2 adat istiadat: menyelidiki bahasa dan –; 3 sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yg –; 4 cak sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah;

adat n 1 aturan (perbuatan dsb) yg lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala: menurut — daerah ini, laki-lakilah yg berhak sbg ahli waris; 2 cara (kelakuan dsb) yg sudah menjadi kebiasaan; kebiasaan: demikianlah — nya apabila ia marah; (pd) — nya; 3 wujud gagasan kebudayaan yg terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yg satu dng lainnya berkaitan menjadi suatu sistem; 4 kl cukai menurut peraturan yg berlaku (di pelabuhan dsb);

Tentu, ada budaya atau adat istiadat yang diwarisi leluhur kita yang begitu luhur.
“Menghormati orang yang lebih tua”, itu ada baiknya.
“Kalau sedang makan jangan ngobrol”, itu ada baiknya.
“Jangan menghitung uang di malam hari”, itu ada baiknya, sebab si jahat yang menginginkan uang lebih tidak kelihatan di malam hari.
“Parboru sebaiknya duduk di dekat dapur”, itu ada baiknya, supaya mereka dengan lugas dan tanpa penghalang bisa bekerja mempersiapkan hidangan yang sampai sekarang biasanya diletakkan di dapur.
atau..
“Kalau menyapu rumah jangan pada malam hari”, itu ada baiknya, karena debunya bisa masuk kemata.
..dan banyak lagi kebaikan-kebaikan yang lain.

Timbul masalah…

Seorang sobat dari India, dia Kristen, mau menikah. Dia kelihatan bingung.
Lalu sobat dari “budaya” barat menyeletuk, “Ada apa?”

Akhirnya ketahuan, bahwa ada budaya/adat istiadat lokal yang harus dia lakoni dalam prosesi pernikahannya, dan itu sangat bertentangan dengan imannya.
Si Barat hanya bertanya keheranan, “Tetapi Andakan Kristen?, kenapa harus mengikuti budaya daerahmu?”

Jawabannya terlihat sederhana. Tetapi…
Itulah yang terjadi, ketika kita mengatakan menjadi seorang Kristen, terutama yang masih kental dengan adat lokal, hati-hatilah, sebab banyak budaya, adat-istiadat kita, yang terus menjadi raja atas Kristus.

Posisi, Kenyamanan, Harta, dan semua yang membubung tinggi itu terkadang menjadi harga tebusan dari sebuah kata “aku percaya”.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: