Aku membawa Pedang

Agustus 6, 2009 pukul 1:51 pm | Ditulis dalam Apologet | 19 Komentar
Tag: , ,

Pedang…bayangan kita langsung terpatri dengan salah satu bentuk di bawah ini…
sword-elendil
sumber gambar : http://www.aceros-de-hispania.com

dalam suatu konteks Yesus berkata:
Matius 10:34 Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

Pedang itu adalah….
Ibrani 4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Efesus 6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

Klaim, bahwa dengan menggunakan pedang ini kita bisa mengalahkan Iblis? tuhannya pedang?
Roh Tuhan, firman TUHAN jadi komoditas?

Hmmm…, firman TUHAN kita lakukan setiap hari. Maka iblispun mundur dari kita. Sekalipun dia berusaha untuk mengacau, maka teruslah kuat, peganglah pedang itu, lakukan terus kebaikan, kebenaran.
Pedang ini bukanlah untuk diselipkan di pinggang, sebab Dia bukan tuhannya pedang, yang kita bicarakan bukan materi, tetapi Pedang ini seharusnyalah berada di hati, untuk dilakukan dan dilaksanakan, sebab Dia adalah Roh.

Iklan

19 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Intinya yang memegang pedang itu akan masuk neraka. 😀

    • pedang roh atau pedang beneran?

  2. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang ===> Saya rasa ayat dalam Matius itu lebih cocok diartikan sebagai pedang yang sesungguhnya atau pedang beneran ketimbang diartikan Roh atau macem-macem. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan konteks ayat tersebut.

    Substansinya gini : Agama mau tidak mau membawa perbedaan . Lha perbedaan itu menciptakan keterpisahan dengan dunia, dan sebagainya – dengan orang yang tidak percaya.
    Konsepnya mungkin rada mirip seperti penghancuran berhala pada masa Ibrahim .

    Bagaimana menurutmu ?

    • @ Lovepasword

      Saya rasa ayat dalam Matius itu lebih cocok diartikan sebagai pedang yang sesungguhnya atau pedang beneran ketimbang diartikan Roh atau macem-macem. Lebih-lebih bila dikaitkan dengan konteks ayat tersebut

      .
      .
      Kristus dlm ayat itu Lov , menegaskan ttg kedatangan Nya itu memang akan membawa PEDANG. Pedang itu adalah perlambang akan dimulainya pemisahan antara yg percaya dn tidak percaya. Antara yg mengakuiNya dan yg tidak mengakuiNya. Pedang itu juga melembangkan tidak akan ada perdamaian dimulai dari kedatanganNya ke dunia sampai Dia akan datang kedua kali. Yesus Kristus menegaskan Dia adalah Tuhan penjelmaan dari Allah yg Maha Kuasa . Untuk melakukan itu Allah tidak mesti spektakuler dan luar biasa melakukannya. Tetapi yg spektakuler dan dahsyat utk melakukannya adalah kepercayaan kita untuk menerimaNya sbg Tuhan. Sehingga tergenapin lah satu ayat yg mengatakan Yesus Kristus itu adalah batu penjuru (kiblat) yg menentukan poros satu-satunya arah kepercayaan yg benar. Barangsiapa percaya kpd Dia akan diselamatkan. Barangsiapa tidak percaya kpd Dia maka akan binasa dgn pedang Roh yakni FIRMAN ALLAH itu sendiri

      • Masalah pemisahan itu sudah tak tulis . Terus yang kamu protes bagian apanya … ???

        hi hi hi

    • @om eko arryawan
      gini lho om,,,apa iya, perbedaan itu harus selalu diselesaikan dgn pedang? asumsi dari mana? pedang itu (dalam arti sesungguhnya) adalah cara primitif untuk menyelesaikan persoalan,,,

      sedangkan pedang yang dimaksud oleh Yesus, (seperti yg disampaikan olh parhobass) adalah tepat pedang roh. pedang yang tak terlihat wujudnya, namun jauh lebih tajam dari pedang besi, yang sanggup membawa orang melihat terang Allah yang mulia dan memberikan keselamatan,,

      lagipula, mana ada ayat (satupun) di Alkitab yang menyuruh untuk menyelesaikan perbedaan (orang percaya dgn yg BELUM percaya) dengan pedang (dalam arti sesungguhnya),?? hanya orang barbar yang menyelesaikan segala sesuatunya dengan pedang (peperangan)
      😀

      • gini lho om,,,apa iya, perbedaan itu harus selalu diselesaikan dgn pedang? asumsi dari mana? pedang itu (dalam arti sesungguhnya) adalah cara primitif untuk menyelesaikan persoalan,,,

        ==> Gini ya Mas Dokter, belajarlah memahami omongan orang. Kalo paham saja nggak gimana membedakan antara homo homoni lupus dan lainnya. Hik Hik Hik..

        Emangnya aku ngomong apaan pak dokter ? Aku ngomong soal pemisahan. Antara yang percaya dan yang tidak percaya. Apa aku ngomong soal setiap perbedaan mesti gebuk-gebukan… Yang bener saja bos…

        Lha masalah pemisahan itu adalah sesuatu yang aslinya sering dibahas dalam banyak agama. Misalnya ada kisah Ibrahim mesti berpisah dengan kaumnya dengan keluarga orang tuanya dsb.

        Jadi pedang itu lebih masuk akal jika dirtikan sebagai pedang beneran dalam arti perumpamaan.

        Seperti kisah onta masuk lubang jarum itu lho. Lubang jarum di situ ya lubang jarum beneran bukan nama gerbang – tapi maksudnya perumpamaan gitu. kata pedang disini ya lebih masuk akal diartikan sebagai pedang beneran. Menurutku sih gitu..

        SALAM Mas Dokter

  3. Pedangnya keren 😎

  4. @ Love

    Saya copas kan dulu utkmu ttg kesaksian Atheis ttg PEDANG yg dikatakan dlm posting sdr Parhobas

    .
    Alkitab dapat mengubah hidup manusia, seperti yang disaksikan di bawah ini oleh seorang bernama Dr. N. Jerome Stowell, seorang pakar dan ilmuwan nuklir, yang sampai sekarang ini selalu memberikan kesaksiannya kepada ribuan orang di California Selatan. Dalam pembicaraan radionya baru-baru ini, beliau mengatakan bahwa, “Di dalam jaringan syaraf otak kita, terdapat tempat emosi kita. Dengan alat yang sangat peka yang kami rancang, kita dapat mengukur panjang gelombang otak. Baru-baru ini kami mengadakan pemeriksaan otak seorang wanita yang akan mati. Dia senantiasa berdoa, dan yang kami peroleh tentang dirinya ialah bahwa pada saat ia lebih dekat kepada Tuhan, maka jarum penunjuk menunjukkan angka 500 positif.” “Pada rumah sakit yang sama saya mengukur gelombang otak seorang yang mengutuk Tuhan, ternyata saya dapatkan jarum menunjukkan angka 500 negatif. Ini adalah dua ekstrem yang telah diindikasikan oleh alat tersebut.”

    “Kita sekarang ini adalah dalam batas penemuan rohani. Tidak seorang pun yang dapat mengukur dalamnya tarikan seseorang Kristen apabila ia berada dalam hubungan dengan Tuhan. Ini adalah sesuatu yang nyata.”

    Dr. N. Jerome Stowell mengakui, “Pengalaman ini telah membawa saya berpaling kepada Tuhan. Saya telah menjadi seorang Kristen hanya dalam waktu singkat walaupun saya tahu sedikit saja tentang jalan Kekristenan. Namun yang saya ketahui ialah perkara yang berhubungan dengan Tuhan itu adalah sesuatu yang positif. Saya akan berusaha untuk memlihara hidup saya jauh di atas indikator nol. Dunia sedikit sekali menyadari tentang pengaruh doa yang penuh kepercayaan. Ini adalah sesuatu yang bergerak dari sumber-sumber yang pasti.”

    Lebih lanjut Dr. Stowell menjelaskan tentang percobaannya yang telah mengubah dia dari seorang ateis menjadi seorang yang mempercayai Tuhan dengan sepenuhnya: “Saya bisa dikenal seorang ateis yang sungguh-sungguh. Saya tidak mempercayai Tuhan lebih dari sekadar satu kumpulan pikiran semua orang yang digabung menjadi satu, serta kebaikan mereka masing-masing. Dan saya tidak percaya bahwa Tuhan ada, berkuasa, dan mencintai kita semua. Mempunyai kuasa yang melebihi segala sesuatu.”

    “Tetapi suatu kali saya membuat percobaan yang benar-benar telah membuat saya berpikir. Saya berada dalam laboratorium Patologi yang besar dan kami mencoba untuk menemukan panjangnya gelombang otak. Kami mendapatkan bukan hanya panjangnya gelombang otak, melainkan satu kenyataan bahwa panjangnya gelombang setiap otak manusia berbeda daripada sidik jari setiap manusia. Ini adalah satu perkara yang harus diingat: Sesungguhnya Tuhan dapat memelihara catatan pikiran pribadi kita di surga sebagaimana FBI Washington DC dapat mencatat sidik jari kita.

    Kami ingin membuat percobaan untuk menemukan apa yang terjadi di otak pada saat seseorang dalam masa transisi dari kehidupan kepada kematian. Kami pilih seorang wanita yang telah dikirimkan keluarganya ke rumah sakit jiwa, namun telah dikeluarkan dari sana. Para dokter tidak mendapat apapun yang salah padanya kecuali suatu fakta bahwa ia memiliki kanker otak. Hal ini telah mengganggu keseimbangan badannya saja, sedangkan kesadaran pikiran dalam keadaan yang sangat baik. Kami mengetahui bahwa ia akan meninggal dan kami sampaikan padanya bahwa ia akan meninggal.

    “Dalam kamarnya kami mengatur sebuah peralatan khusus untuk memastikan apa yang terjadi dengan otaknya dalam masa peralihan dari kehidupan kepada kematian. Kami pun meletakkan sebuah pengeras suara yang kecil, sebesar uang satu sen, dalam ruangan tersebut, supaya kami dapat mengetahui apa yang ia katakan jikalau ia ingin menyampaikan sesuatu.

    “Kami semua adalah ilmuwan yang keras kepala, dan mungkin saya yang paling keras kepala dan yang paling atheis dari rombongan dokter; semua dalam keadaan siap dengan alat kami untuk melihat apa yang akan terjadi. Alat penunjuk kami mempunyai angka nol (0) di tengahnya. Menuju ke sebelah kanan terdapat penentuan ukuran menuju ke angka 500 positif; sedangkan untuk ke sebelah kiri terdapat angka menuju 500 negatif. Sebelumnya kami telah menggunakan alat ini untuk mengukur stasiun pemancar radio berkekuatan 50 kilowatt untuk memancar ke seluruh dunia; ternyata jarum menunjukkan angka 9 positif.

    “Pada bagian akhir wanita ini, ia mulai berdoa dan memuji Tuhan. Ia meminta kepada Tuhan untuk berbelas kasihan kepada mereka yang telah membencinya. Kemudian ia mulai mengukuhkan imannya kepada Tuhan, dan berkata kepada-Nya bahwa ia mengenal Dia sebagai satu-satunya Kuasa dan Ia adalah Kuasa yang hidup. Ia berkata kepada Tuhan bahwa ia menyadari bahwa selalu ada masa yang lalu dan akan tetap ada masa yang akan datang. Ia memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya untuk kuasa-Nya dan untuk pengetahuan tentang adanya Tuhan. Ia sampaikan kepada-Nya bahwa ia mencintai Dia.

    Kami para ilmuwan telah demikian terpesona dengan doa wanita tersebut hingga kami lupa percobaan yang sedang dibuat. Kami melihat satu sama lain, dan melihat air mata mengalir dari wajah seluruh ilmuwan. Saya tidak pernah mengalirkan air mata seperti itu sejak masa kecil.

    Tiba-tiba saya mendengar satu bunyi “klik” dari alat percobaan yang kami telah lupakan tersebut. Kami lihat kepada jarumnya yang menunjukkan angka 500, dan kelihatan jarum ingin naik lebih tinggi lagi, namun angka 500 positif adalah angka yang tertinggi.

    Dengan percobaan yang nyata ini, kami telah mencatat bahwa otak seorang wanita, yang sendirian dan dalam keadaan hampir mati, dalam komunikasi dengan Tuhan tercatat mempunyai kekuatan 55 kali lebih besar dari alat pemancar radio yang berkekuatan 50 kilowatt yang memancarkan siaran ke seluruh dunia.

    Setelah itu kami ambil keputusan untuk mencoba kasus yang bertentangan dengan yang pertama. Kami pilih seorang lelaki yang terbaring sakit dengan penyakit yang mematikan. Otaknya telah menciut sampai kepada titik kematian. Sebenarnya ia sudah benar-benar mengalami gangguan kejiwaan dan dapat dikatakan gila. Segera setelah kami meletakkan peralatan khusus tersebut, kami meminta seorang perawat untuk melawan pasien gila ini. Melalui tipu muslihatnya ia coba menarik perhatian lelaki itu kepadanya, kemudian mengatakan kepadanya bahwa ia tidak mau melakukan apapun untuk dia. Lelaki tersebut kemudian mulai marah kepada perawat tersebut, dan jarum mulai bergerak ke arah negatif. Kemudian ia mulai mengutuknya, dan juga menggunakan nama Tuhan dengan sia-sia. Secara tiba-tiba terdengar bunyi “klik” dan ternyata jarum telah tiba ke angka 500 negatif.

    Dengan percobaan ini kami dapat langsung melihat apa yang terjadi dengan otak seseorang bila ia melanggar salah satu dari Sepuluh Hukum Allah, janganlah menyebut nama Allah denga sia-sia, yaitu keadaan yang negatif.

    Jikalau kami sebagai ilmuwan dapat mencatat semua ini, kami percaya dengan sepenuh hati bahwa Tuhan dapat pula mencatat semua yang terjadi di dalam pikiran kita. Ia mempunyai lebih banyak kuasa daripada kita dan dapat mencatat jauh lebih teliti daripada pencatat apapun yang ada di dunia ini.

    Dengan kehadiran Tuhan di dalam diri kita, Ia dapat memberikan kuasa kepada kita, yang mahabesar tanpa pengecualian apapun.” Kemudian Dr. Stowell mengatakan, “Sekarang saya adalah seorang ilmuwan yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Saya mau Anda berdoa untuk saya, agar saya akan selalu berpikir, berkata dan berbuat perkara yang positif yang Tuhan kehendaki aku pikirkan, katakan dan lakukan, dan aku tidak akan berpikir berkata dan berbuat sesuatu perkara yang negatif, yang telah membuat aku dibutakan dan dikurung untuk sekian tahun lamanya.

    Jadi kesimpulannya amangboru

    Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (Ibr 4:12).” Dengan kuasa firman Allah itulah yang dapat mengubah manusia. Anda pun bukanlah satu pengecualian!
    .
    .
    Nah itu yg saya maksudkan wahai love …

    • @RAS tercinta : Saya membaca contoh kasus ateismu serta juga membaca ayat yang kamu posting.

      Apa yang kamu tulis itu menarik tetapi jelas bukan hal yang baru dan tidak aneh, karena semua agama juga punya kisah serupa, bahkan ateis juga bisa menunjukkan kisah konversi semacam itu.

      Jika kamu tertarik mempelajari kisah mualaf dari ateis ke Islam, mungkin kamu bisa membaca buku2nya Jeffrey Lang. aku rada lupa judulnya , mungkin bisa salah judul – tapi seingatku salah satu judulnya : Aku beriman maka aku bertanya. Versi Indonesianya juga ada.

      Itu salah satu buku agama paling bagus, karena isinya nggak kebanyakan jualan kecap, pameran ayat yang terlalu berlebihan – dsb.

      Buku tersebut juga menampilkan sisi simpati profesor Lang terhadap ateis. Sebagai mantan ateis dia tahu rasanya jadi ateis, bisa merasakan suasana kebatinannya, suasana psikologisnya , kendalanya dsb – sehingga tidak semata2 berpikir : Matilah kau di neraka, tetapi bisa merasakan kendala-kendala, hambatan psikologis, trauma, kemarahan , pengalaman pahit, dsb.

      Buku itu menjadi penting justru karena sisi manusiawinya , sebagai penyeimbang penulisan buku-buku agama yang seringkali mengambil sudut pandang seolah penulisnya adalah Tuhan sendiri.

      Saya sarankan kamu membaca buku-buku semacam itu.

      Dari sisi ini, kisah yang kamu kemukakan rasanya oke-oke saja tetapi juga tidak terlalu luar biasa, karena siapa saja bisa pindah agama. Ateis bisa jadi beragama atau sebaliknya beragama juga bisa jadi ateis.

      Masalah kedua : Ayat yang kamu posting itu saya rasa agak out of topic ya…Konteks ayat yang dikatakan Yesus itu jelas lain dengan konteks Ibrani yang kamu kutip itu.

      Penekanan omongan Yesus pada saat itu adalah pada kemungkinan orang percaya dikucilkan, dimusuhi dsb. Lha sebagai sebuah kemungkinan itu disampaikan. Cuma itu saja intinya…

      Lah kalimat pernyataan semacam itu juga masih cukup wajar dalam standard agama manapun. Karena dalam agama ada konsep pemisahan antara yang haq dan yang bathil.

      Lha apa yang kamu kutip pada ayat lain, membahas hal yang lain lagi. Saya rasa gitu ya..

      SALAM

  5. @ Love

    Dari sisi ini, kisah yang kamu kemukakan rasanya oke-oke saja tetapi juga tidak terlalu luar biasa, karena siapa saja bisa pindah agama. Ateis bisa jadi beragama atau sebaliknya beragama juga bisa jadi ateis.

    Masalah kedua : Ayat yang kamu posting itu saya rasa agak out of topic ya…Konteks ayat yang dikatakan Yesus itu jelas lain dengan konteks Ibrani yang kamu kutip itu.
    .
    .
    Bukan masalah pindah agama wahai love yg terkasih ttg posting yg saya maksudkan di atas . Tetapi ttg Firman Allah yg lebih tajam dari pedang yg kamu artikan itu seperti yg sesungguhnya. Pedang yg di bawa Kristus itu adalah perbedaan yg ada yg menolak dan yg menerimanya. Kesaksian itulah yg menggerakkan yg tidak mempercayainNya sbg Tuhan untuk akhirnya percaya. Pedang itu
    adalah firman Allah yg jauh lebih tajam dari pedang bermata dua sekalipun
    gitu lov

    • Yang saya katakan adalah : Tiga ayat atau setidaknya dua ayat paling atas yang diposting itu konteksnya jelas beda. Pengambilan sudut pandang dan apa yang diomongkan juga jelas beda.

      Pada Matius, Yesus bicara soal pemisahan , dalam bahasa gamblangnya, dalam contoh kasus mudahnya – mungkin gini :

      Keluarga kamu semuanya ateis, lha kamu mendadak karena sesuatu hal masuk Kristen, maka kamu sangat mungkin terkucil di keluargamu. Sangat mungkin kamu dimusuhi , setidaknya kemungkinan untuk itu ada. Lha kaitannya dengan tradisi Yahudi waktu itu, maka murid2 Yesus termasuk Yesus sendiri seringkali berbenturan dengan tradisi pemuka agama Yahudi. Karena itulah ada kemungkinan bahwa mereka akan dikucilkan, bahkan sangat mungkin dimusuhi dicueki oleh keluarganya sendiri.

      Itu adalah fenomena sosiologis, hambatan psikologis, sosial dsb yang memang mungkin terjadi terhadap semua mualaf, semua orang yang baru pindah agama dsb. Intinya jika kemungkinan itu terjadi siaplah. Itu saja substansinya.

      Lha itu cocoknya jika kamu sambungken dengan ayat sejenisnya , misalnya ayat yang menunjukkan bahwa ketika murid dipanggil , bahkan ngubur , minta ijin ortu dsb dianggap kesuwen. 🙂

      Substansi ayat itu ya itu. Konteksnya begitu.

      Lha masalah Ibrani itu pembahasannya jelas lain dengan apa yang dikatakan Yesus.

      Masalah firman Allah lebih tajam dsb, silahkan-silahkan saja – tetapi yang saya katakan adalah : Itu nggak ada kaitannya dengan kata pedang di Matius . Gicu lho…

      Lha kalian ketularan , semua hal kalian sambungken pake selotip. Padahal jelas beda konteks…

      Tapi nggak cuma firman Allah, bahkan mulut manusia, pena manusia, dsb juga lebih tajam daripada pedang. Karena itulah ada pepatah pena lebih tajam dari pedang.

      SALAM RAS

    • Yang saya katakan adalah : Tiga ayat atau setidaknya dua ayat paling atas yang diposting itu konteksnya jelas beda. Pengambilan sudut pandang dan apa yang diomongkan juga jelas beda.

      Pada Matius, Yesus bicara soal pemisahan , dalam bahasa gamblangnya, dalam contoh kasus mudahnya – mungkin gini :

      Keluarga kamu semuanya ateis, lha kamu mendadak karena sesuatu hal masuk Kristen, maka kamu sangat mungkin terkucil di keluargamu. Sangat mungkin kamu dimusuhi , setidaknya kemungkinan untuk itu ada. Lha kaitannya dengan tradisi Yahudi waktu itu, maka murid2 Yesus termasuk Yesus sendiri seringkali berbenturan dengan tradisi pemuka agama Yahudi. Karena itulah ada kemungkinan bahwa mereka akan dikucilkan, bahkan sangat mungkin dimusuhi dicueki oleh keluarganya sendiri.

      Itu adalah fenomena sosiologis, hambatan psikologis, sosial dsb yang memang mungkin terjadi terhadap semua mualaf, semua orang yang baru pindah agama dsb. Intinya jika kemungkinan itu terjadi siaplah. Itu saja substansinya.

      Lha itu cocoknya jika kamu sambungken dengan ayat sejenisnya , misalnya ayat yang menunjukkan bahwa ketika murid dipanggil , bahkan ngubur , minta ijin ortu dsb dianggap kesuwen. 🙂

      Substansi ayat itu ya itu. Konteksnya begitu.

      Lha masalah Ibrani itu pembahasannya jelas lain dengan apa yang dikatakan Yesus.

      Masalah firman Allah lebih tajam dsb, silahkan-silahkan saja – tetapi yang saya katakan adalah : Itu nggak ada kaitannya dengan kata pedang di Matius . Gicu lho…

      Lha kalian ketularan , semua hal kalian sambungken pake selotip. Padahal jelas beda konteks…

      Tapi nggak cuma firman Allah, bahkan mulut manusia, pena manusia, dsb juga lebih tajam daripada pedang. Karena itulah ada pepatah pena lebih tajam dari pedang.

      SALAM RAS
      SALAM

  6. @ Lovepasword

    .
    .

    <kalau begitu apakah kamu percaya bhw Yesus Kristus adalah Tuhan yg telah mati dan bangkit itu dan percaya Dia sbg Juruselamatmu yg hidup

    • @Ras tercinta : Konsep Juru Selamat itu asalnya dari mana ? Mengapa konsep Juru Selamat itu ada ?
      Kurang lebih jawabannya gini : Karena manusia pertama dianggap berdosa besar luar biasa sehingga setelah makan buah larangan itu maka langsung terputus total hubungannya dengan Allah.

      Saya tidak merasa kalian berhasil menjelaskan sisi itu dengan baik. Mengapa manusia harus kita anggap berdosa besar sedemikian besar luar biasa jika buah itu diberikan oleh Allah sendiri yang Maha Tahu ? Tidak ada penjelasan yang cukup memuaskan diriku …
      Allah jelas tahu kalo buah itu bakal dimakan. Dan buah itu malah sengaja diberikan. Itu dilemanya…

      Jika dosa besar itu sesungguhnya tidak ada, apakah memang seorang Juru Selamat dibutuhkan ?

      Aku malahan sedang berpikir jangan-jangan Adam makan buah itu adalah rancangan Allah agar manusia belajar dari tiap-tiap kesalahannya … Itu lebih masuk akal menurutku…

      Jika manusia makan buah adalah kehendak Allah, apakah seorang Juru Selamat menjadi dibutuhkan ? Itu pertanyaan serius buat kalian…

      Aku sedang menilai ini dari segala sudut pandang , apa relevansi konsep juru selamat jika juru selamat itu tidak diperlukan karena sedari awal, manusia memang sudah dirancang sebagai makhluk yang berkehendak bebas dan harus mempertanggung jawabkan kebebasannya tanpa takut berlebihan untuk bertindak.

      Kalo manusia makan buah yang diberikan Allah kemudian putus total hubungannya bahkan dikaitkan dengan konsep dosa asal barang, kalo menurutku sih itu rada lebay.

      Setiap tindakan ada konsekuensinya tetapi jangan takut bertindak . Mungkin gitu.

      Tetapi setidaknya baguslah Ras, kamu konsisten… dan penuh semangat…

      Tetapi sedikit saranku RAS : Jika kelak kamu mungkin berdebat keras lawan keras dengan teman-teman ateis, kayaknya semangat saja tidak cukup…

      SALAM RAS
      GBU

  7. terimakasih parhobas jd makin tambah pengetahuanku 🙂

    • @siahaan

      terimakasih sudah mampir…
      TUHAN memberkati kita semua…

      salam

  8. tERIMA KASIH SUDAH MEMBERKATI SAYA DENGAN MEMBACA INI. mAJU TERUS DALAM tUHAN.

    • Terimakasih atas kunjungannya…
      mari saling mendoakan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: