Tuhan Yang Maha Kuasa

Agustus 5, 2009 pukul 5:33 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 1 Komentar
Tag: , ,

Setiap orang yang menulis Alkitab, setiap orang yang tertulis kehidupannya di sana, kita bisa melihat.
Mereka adalah orang-orang biasa seperti kita. Artinya dalam hal dicobai dan diuji.
Jatuh dan bangun di dalam Tuhan.

Adakah sesuatu yang baik keluar dari sesuatu yang tidak baik?
Dalam hal ini, adakah orang yang tidak baik bisa menuliskan yang baik di dalam Alkitab yang baik?

Tuhan Maha Kuasa, hanya itu yang bisa menjawab.
Entah bagaimana Ia bisa menggunakan Salomo si poligamist sejati itu,
entah bagaimana Ia bisa menggunakan Bileam si nabi itu,
entah bagaimana Ia bisa menggunakan Yunus yang keras kepala itu…
Ya Dia Maha Kuasa. Dia mengendalikan segalanya.
Atau semakin nyatakah bahwa memang Alkitab diinspirasikan oleh Roh Tuhan?

Dia berfirman, Firman ini… Kitab Suci ini.. Alkitab ini.. jangan kamu tambahi jangan kamu kurangi…
Yang baik ini jangan ditambahi, jangan dikurangi..

jika,
B = Baik, Alkitab

maka: B+1
atau: B-1
bukanlah Baik, itu sudah tidak murni, itu sudah melenceng.

Tuhan Yang Maha Kuasa, bisa dikenal, bisa diikuti, bisa mengilhami hanya dengan melihat, merasakan, mendalami dari yang B.

Iklan

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tulisanmu seperti biasa bagus-bagus saja, romantis, keren – tetapi tentu saja perlu juga kita lihat lebih lanjut.

    Banyak konsep beginian di dalam banyak agama. Menjalankan agama secara kafah tidak menambahi dan tidak mengurangi dan sebagainya. Apa yang dihalalkan Tuhan tidak boleh diharamkan manusia begitu juga sebaliknya.

    Saya katakan itu bagus-bagus saja. Tetapi bagaimana kita melihat apa yang kamu tulis sebagai B yang tidak plus dan juga tidak min itu .

    Kita perlu melihat dari sisi perbuatannya atau dari sisi substansinya. Lha bicara substansi selalu sangat mungkin apa yang dianggap substansial oleh seseorang bisa saja dianggap tidak penting oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya.

    Bagaimanapun ada gap besar antara jaman saat Kitab Suci itu ditulis atau diturunkan dengan jaman sekarang. Lha karenanya : Kita harus selalu membedakan antara sisi yang memang terkait dengan jamannya serta sisi yang berlaku lebih universal.

    Ada sisi yang tetap dan pasti ada juga sisi yang perlu dibumikan sesuai perkembangan jaman dan latar belakang pelaksana ajaran itu.

    SALAM Saudara Parhobass


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: