Dosa Massal

Juli 30, 2009 pukul 4:12 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | 8 Komentar
Tag: , ,

Dunia Turun Angkot

“Taaat”,..”Tiit”…
“Kaki kiri, kaki kiri…”
“Brikit.. Brikit…”
(Brikit = Buruan sedikit)
…”Heh goblok, jauh banget sech turunnya”, dilanjutkan
lagi dengan nada menggerutu…
“.. jadi jauh neh jalan, angkot berikut di sana, turunnya
di sini..”

Si supir bukannya tidak paham gerutuan tadi, bahwa setiap
hari dia juga terhitung ratusan kali melanggar rambu,
tetapi yang terjadi adalah seorang polisi berdiri di lampu
merah sehingga ia tidak berani menurunkan penumpang di
sana.

Itulah gambaran kecil, turunnya penumpang di salah satu
jalan protokol di Jakarta.
Tentu idealisme berbunyi, turun dan naik penumpang adalah
di Halte. Di lampu merah jangan menurunkan penumpang.

Tetapi…
Jika Haltenya tata letaknya tidak benar, sehingga kita
harus berjalan ratusan meter untuk mendapatkan angkot
berikutnya atau terkadang kita menunggu di Halte malah
tidak dapat angkot sama sekali, untung-untung mendapat
angkotnya dengan konsekuensi kita harus berdiri sampai
berjam-jam dan dirapatkan dengan “density dua
puluh orang per satu meter satuan luas kali satuan tinggi orang-orangnya”.
Belum lagi faktor “malas” jalan para penumpang yang budiman, sehingga begitu
senangnya kita menunggu angkot di perapatan jalan.

Saya juga melihat, bahwa Pak Polisi yang gagah itupun bisa tunduk dengan uang berwarna kemerahan itu.

Intinya kacau bukan ?

Bayangkanlah jika dunia “turun angkot” ini dilakoni para penatua agama, para baik hati, para preman dan lain para yang lain…

Masih membayangkan,..
bayangkanlah dunia luar sana, di luar dunia turun angkot, betapa mega super kacaunya kalau dipikirkan bukan ?
Dan oleh karenanya telah lahir jaring laba-laba, jaring tarantula (meminjam kata Nietzsche).

Maka di negara yang semrawut seperti ini terciptalah dosa massal.

Sebelum berteriak atas kesalahan Bapak Pemimpin itu, bertanyalah :”Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

Iklan

8 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Melihat kesalahan diri sendiri itu memang baik. Lha orang yang kebanyakan menasehati , mengkritik, dsb tetapi sama jeleknya dengan yang dikritik atau malah lebih parah, sering digelari manusia munafik, dalam bahasa Jawa : Jarkoni : Iso ujar ora iso nglakoni alias omdo : omong doang.

    Lha masalahnya adalah jika kita menunggu kita beneran baik, sebagai manusia sampai kapanpun kita tidak pernah terlalu baik 🙂 akibatnya maka kita tidak bisa saling mengingatkan Lha itu kan dilema tersendiri…

    Jadi jalan tengahnya : Kayaknya keduanya tetap harus dilakukan. 😀 Menurutku sih gitu.

    Kritik saja pemerintah sekeras-kerasnya karena mereka lebih dari layak untuk diprotes, tetapi juga sadarilah bahwa mereka juga manusia sama seperti kita semua dengan potensi kelemahan manusiawinya.

    SALAM

  2. Melihat kesalahan diri sendiri itu memang baik. Lha orang yang kebanyakan menasehati , mengkritik, dsb tetapi sama jeleknya dengan yang dikritik atau malah lebih parah, sering digelari manusia munafik, dalam bahasa Jawa : Jarkoni : Iso ujar ora iso nglakoni alias omdo : omong doang.

    Lha masalahnya adalah jika kita menunggu kita beneran baik, sebagai manusia sampai kapanpun kita tidak pernah terlalu baik 🙂 akibatnya maka kita tidak bisa saling mengingatkan Lha itu kan dilema tersendiri…

    Jadi jalan tengahnya : Kayaknya keduanya tetap harus dilakukan. 😀 Menurutku sih gitu.

    Kritik saja pemerintah sekeras-kerasnya karena mereka lebih dari layak untuk diprotes, tetapi juga sadarilah bahwa mereka juga manusia sama seperti kita semua dengan potensi kelemahan manusiawinya.

    SALAM …Par

  3. Waduh komentarku malah ilang

  4. @lovepasword

    “mu” itu bisa individu, bs jg individu-individu

    jadi sebelum “mu” mengkritisi “mu” yang lain, mari memperbaiki “mu” sendiri.

    dampaknya itu luas koq, cuman memang “mu” lebih mudah melihat abu-abunya “mu” yang lain daripada hitamnya “mu” sendiri…

    dan karena itu lebih mudah, dan lebih suka dilakukan oleh pikiran sesat, maka lihatlah dunia dengan segala warnanya itu.

    btw, comment sing e’ndi sing “modyar” hehehe

    • Kayaknya kalo yang ini kebanyakan “mu” deh , jadinya malah kayak lagu keroncong.

      aku mau mandi – ingat kamu
      aku mau makan – ingat kamu.

      Ingat kamu melulu lama-lama.. 🙂

      jadi sebelum “mu” mengkritisi “mu” yang lain, mari memperbaiki “mu” sendiri.
      ===> Kalo nunggu aku harus baik dulu baru boleh ngedumel Par… alama x – lah aku ini sebagai manusia kapan pernah benar2 baik ? Rasanya ya nggak bakal bisa beneran baik. 😀

      Jadi yah harap maklum kalo sesama manusia yang sama2 penuh kekurangan kadang saling samber. Masalahnya kalo nunggu sempurna dulu ya emang nggak akan pernah sempurna. Karena manusia itu sering lupa dan salah.

      Harap maklumlah…dikit… 😀

      SALAM

      • @lovepassword

        yang bilang nunggu saya baik dulu baru mengkritisi orang lain itu siapa kawan? Waddduh… hehehe

        di dalam bhs umumnya itu disebut jangan saling menghakimi, artinya
        kalau Anda mencuri maka jangan menghakimi orang, jangan mengkritisi orang..

        alias jangan mengkritisi orang lain jika kamu ternyata melakukan dosa yang sama. OK.

        nah sekarang, ada kan yang lulus misalnya di dosa berbohong, jadi ia bisa menasehati orang supaya jgn berbohong, tetapi ada orang yang sepanjang hidupnya tidak bisa lulus dari berbohong, nah orang seperti ini jgn sampai menghakimi atau mengkritisi pembohong lainnya, karena ia melakukan dosa yang sama…

        contoh lain,
        jangan menuduh orang lain korupsi, sementara di bangku kelas/kuliah setiap kali ujian ia ngerpek (ngerti toh ngerpek), sebab jika si siswa/mahasiswa ini duduk di bangku penguasa, ia akan melakukan dosa yang sama, korupsi.

        tetapi manusia memang tidak ada yang sempurna, makanya perlu ada persektuan, persahabatan, sehingga saling menasehati, sama seperti Paulus menasehati Petrus, dia nasehati dengan keras, karena Paulus tidak munafik, dan Petrus munafik, tetapi karena Petrus mengakuinya, maka mereka tidak berantem, kan gitu…
        lain hal, karena ada orang yang dinasehati tetapi malah marah-marah dan tidak pernah berobah, contohnya adalah Anda, dinasehati dimana2 untuk tidak sering OOT tetapi masih berulang hehehehe….

  5. Sudah dibilangi aku itu nggak OOT, cuma untuk mengegolkan bola ke gawang, kadang perlu drible ke kanan, kanan perlu goyang dombret di kiri , kadang perlu umpan lambung, kadang perlu umpan silang. Lha itu bukan OOT dong… 🙂

    alias jangan mengkritisi orang lain jika kamu ternyata melakukan dosa yang sama. OK. ===> OK apanya . Kalo bicara bohong semua manusia pernah berbohong, kalo bicara nakal semua anak ya nakal. Lha apa jika dulu orangtua semasa kecil nakal terus dianggap menufik ketika orang tua mengingatkan anaknya supaya tidak nakal ? Jadi yah lagi2 nggak selalu gitu kan .. Semua manusia pernah bersalah, lha kalo yang salah nggak boleh mengkritik ya memang rada repot

    SALAM 🙂

    • @lovepassword

      nah itulah yang disebut dengan bertumbuh, sehingga orang Kristen cenderung berkata, “semakin mengenal Kristus”, “diperbaharui setiap hari”, dan kata yang lain, itu namanya bertumbuh, saya kira sudah pernah kita diskusikan di artikel lain, yaitu menganai “seperti anak-anak”.

      Jadi kalau hari ini ada dosa berbohong, besok minta ampun pada TUHAN, IA akan mengampuni, tetapi….. usahakan jangan diulangi, karena itu ibarat melanggar janji…
      Jadi kalau hari ini Anda masih seperti anak-anak di dalam hal beriman, besok harus tambah dewasa dan semakin dewasa…. dewasa di dalam Kristus, supaya kalau menasehati maka iblis akan dibungkam, tidak ada yang menjadi batu sandungan. Cara seperti itu akan mengurangi seranga balik.
      Contoh serangan balik adalah….ketika kita menasehati seorang belia misalnya, masalah kesehatan, merokok,trus dia akan berkata :”Ahh kamu ajah merokok”, kang gitu,

      coba Anda lihat gambar dari parhobass.wordpress.com berikut, sebagai gambaran…

      Dung balga ho sotung diulaho marisap ate (Kalau kamu nanti besar jangan merokok ok)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: