Mengidolakan Tuhan

Juli 29, 2009 pukul 9:25 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag:

Sebuah team sepak bola yang terkenal sejagad melakukan pertandingan final kejuaraan di tingkat benua.
Dua team tentunya akan beradu di sana.
Kedua team ini memiliki para penggemar-penggemar sejati. Bahkan penggemar sejati yang lain sudah lebih dulu merasakan sakit hati karena teamnya tumbang di babak-babak awal.
Sebelum perhelatan dimulai, maka akan begitu banyak kalimat-kalimat dari kedua kubu yang akan saling menyerang, mengungguli, melemahkan dan tentunya bahasa-bahasapun terkadang melewati nalar.
Seorang penggemar tanpa mengenal, tanpa “melihat” hanya menonton dan membaca dari media akan memberi penilaian melangit untuk pemain tertentu yang bisa jadi adalah seorang yang bertalenta tinggi.
Dia telah menjadi idola. Dan si penggemar telah mengidolakan si pemain dengan amat sangat.

Di dunia lain juga hadir idola-idola, di dunia musik, di dunia film dan lain sebagainya.
Mereka tumbuh dan hilang, terkadang ada juga yang menua melewati waktu.

Jika diperhatikan orang-orang yang telah mengidolakan seseorang, pada usia tertentu mungkin faktor kecepatan menyerap lebih tinggi, maka lambat laun pola hidup, gaya sang idola bisa mengubah, bahkan bisa sampai total, dari pola hidup si penggemar.
Orang yang sudah berubah telah menciptakan gambaran yang lebih dari apa yang terlihat.
Dan karena ia hanya menonton dan membaca dari panca indera turunan maka tentu banyak informasi yang keliru, banyak kejadian yang terlepas, dan banyak interaksi yang salah.
Terlebih jika ternyata sang idola adalah kekeliruan yang lain, maka bukankah akan terbentuk kekeliruan-kekeliruan yang lain yang lebih gelap?

Sekarang marilah melihat yang satu ini.
Seseorang yang telah mengidolakan Tuhan, apakah yang sanggup ia berikan untuk sang idola?
Bahkan untuk “kesalahan” tertentupun maka si penggemar akan membela mati-matian sang idola, jangankan nyawa, dunia inipun akan diberangus untuk itu.

Maka kitapun tersadar, atau mungkin kita harus menilik dalam ke hati, ke iman kita.
Apakah Tuhan kita pandang sebagai idola?
atau kita melihat, merasakan, atau menjunjung Tuhan sebagai Tuhan?

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: