Paulus vs Mahkamah Agama

September 2, 2011 pukul 8:01 am | Ditulis dalam Pemikiran | 2 Komentar
Tag: , , , , , , ,

Dalam Perjanjian Baru kita akan menemukan kata-kata Sanhedrin, Mahkamah Agama, Majelis Agama. Dalam hubungannya dengan YESUS dan murid-murid serta Kristen awal sepertinya ketiganya adalah sama. Terjemahan Bahasa Indonesia memang tidak terlalu jelas menampakkan mana yang singular mana yang plural, mana yang nomina dan mana yang bla bla yang lain. Untuk seterusnya kita memakai kata Sanhedrin saja.

Menurut beberapa kamus Alkitab, Sanhedrin berasal dari kata “sun” = bersama, “hedra” = duduk. Jika kita membaca detik-detik Salib, dan peristiwa-peristiwa persidangan Petrus, Paulus, maka anggota-anggota Sanhedrin selalu duduk bersama, untuk merembukkan dan untuk memutuskan suatu tindakan yang akan dilakukan untuk menjawab masalah sosial atau hukum dan lain-lain. Sanhedrin memang ditempatkan oleh kekaisaran Romawi di wilayah Yudea yang secara khusus mengurusi wilayah sendiri yang nantinya bertanggung jawab kepada Gubernur Wilayah.

Menilik sejarah umat Israel maka pembentukan Sanhedrin bisa ditelusuri sampai kepada peristiwa keluarnya Israel dari Mesir, dimana TUHAN memerintahkan Musa membentuk sekelompok tua-tua untuk membantu Musa dalam menyelesaikan masalah-masalah umat (Baca Bilangan 11:16-24). Setiap perkara yang dihadapi badan ini akan diselesaikan oleh mereka dan jika terlalu berat akan dilaporkan kepada Musa, dan seterusnya Musa akan menghadapkannya langsung kepada TUHAN. Kita pasti tahu badan ini segera “menemui umurnya”, sampai suatu waktu ketika mereka kembali lagi dari pembuangan Babel. Hampir 7 abad berikutnya, kemungkinan Ezralah yang merestorasi kembali badan ini. Jika kita melihat pola-pola yang dituliskan Perjanjian Baru, maka itu sangat identik. Ada 70 anggota (ibrat tua-tua) dan 1 sebagai ketua (ibarat Musa).

Melihat pengangkatan 70 orang oleh Musa di gurun, kita tahu betul bahwa 71 orang itu Satu Roh, sebab ROH dari Musa diberikan kepada 70 orang yang lain, ada kesatuan diantara mereka. Kita tidak tahu bagaimana Ezra merestorasi kembali badan ini, tetapi kita bisa melihat bagaimana badan ini pada masa YESUS.
Pada masa YESUS Sanhedrin diisi oleh beberapa haluan keagamaan. Saduki adalah mayoritas, dan Farisi adalah minoritas. Meski minoritas, pendapat mereka selalu dipertimbangkan dengan baik.
Satu hal Saduki tidak mempercayai kebangkitan dari kematian, tidak mempercayai muzijat, sementara Farisi sangat kontras, mereka mempercayai kebangkitan yang akan datang ketika TUHAN datang dalam kemulianNYA, dan mereka tentu sangat percaya kepada muzijat. Di sini kita melihat tidak ada kesatuan ROH diantara mereka.

Tiadanya satu Roh itu dapat kita lihat pada berbagai peristiwa waktu YESUS disidangkan dan ketika orang-orang kudus lainnya disidangkan.

Kita ambil contoh Rasul Paulus. Info awal, Paulus dari latar belakang Farisi.
Sebelum Paulus menjadi Kristen murid-murid YESUS telah dengan berani mengabarkan tentang YESUS, berani karena YESUS telah bangkit dan naik ke Sorga.

(Kisah Para Rasul 4:2) Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati.

Orang-orang di sini adalah beberapa orang Saduki dan imam-imam kepala, dan pengawal Bait Suci,.. melihat jabatan ini pasti memiliki hubungan erat dengan Sanhedrin. Terlihat mereka menentang akan kebangkitan, apalagi dalam nama YESUS yang telah pernah mereka salibkan.
Bagi Paulus hal demikian bukanlah sesuatu yang asing, sebab Faris mempercayai hal-hal yang demikian.
Dalam suatu perbincangan dengan para ahli filsafat Yunani, kita mengetahui bagaimana Paulus memberitakan tentang kebangkitan dalam Nama YESUS:

(Kisah Para Rasul 17:18) Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: “Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?” Tetapi yang lain berkata: “Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing.” Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya.

Bagi filsafat Yunani hal-hal demikian memang aneh, makanya Paulus dipanggil si peleter, si banyak omong, si cerewet.

Jika kita baca Kisah Para Rasul 23, kita akan menemukan bagaimana sidang Sanhedrin mengadili Paulus.
Dan dalam sidang ini ia mengemukakan akan kepercayaannya kepada pebangkitan. Dan karena Sanhedrin berisi Saduki dan Farisi, maka hebatlah perpecahan diantara mereka, sehingga Paulus dianggap TUHAN berani bersaksi di Yerusalem sedemikian ditugaskan oleh YESUS untuk bersakdi ke ROMA, pusat Kekaisaran.

Beberapa Skeptis menilai Paulus ini pemecah belah, karena ia mengadu domba Saduki dan Farisi, tetapi makna sebenarnya bukan di situ.
Jika kita membaca seluruh persidangan-persidangan yang dilakukan oleh Sanhedrin, mereka selalu mengedepankan tentang Hukum Taurat. Jadi landasan pemikiran adalah Hukum yang mereka yakini berasal dari ALLAH sendiri. Namanya Sanhedrin adalah berupa wakil-wakil, perantara-perantara ALLAH untuk mengadili umatNYA. Mereka memang ditugaskan oleh TUHAN, tetapi syarat yang harus dilalui adalah adanya kesatuan ROH. Satu pengetahuan tentang ALLAH, satu iman dalam kuasa ALLAH, satu bimbingan. Ternyata syarat untuk melayani TUHAN dalam tugas mahkamah itu tidak dipatuhi, lalu bagaiman bisa menelurkan keputusan-keputusan yang benar? Jika Taurat adalah landasan, lalu mana roh yang sama? Dalam bahasa gaul dikatakan: “Bisa ngga sech?”.

Ucapan YESUS tentang ini adalah..

(Matius 7:3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Sanhedrin menghakimi dengan Taurat, tetapi syarat utama dari keanggotaan itu adalah kesatuan ROH, yang mana tidak dapat ditemukan pada badan itu, yang ada malah kesatuan pikiran untuk menyelamatkan diri sendiri dari aib ketatanegaraan di hadapan Romawi di dalam perasaan-perasaan tersembunyi.

Meski begitu baik YESUS, murid-murid, Rasul-rasul tidak ada satupun yang mengumandangkan tentang pembubaran Sanhedrin. Di negara kita, sedikit-sedikit kata bubarkan begitu mudah keluar, jika tidak mampu turun saja, dan sebagainya. Tetapi orang-orang Kudus tidak demikian. Orang-orang kudus dipersenjatai oleh kekuatan dalam misi memurnikan. Sanhedrin memang telah membuat keputusan-keputusan yang keliru, keputusan keliru itu karena mereka tidak memiliki ROH yang sama, tetapi beberapa diantara mereka harus dimurnikan, sehingga Injil dapat meraih jiwa-jiwa. Diantara mereka pasti ada domba-domba yang bisa mendengar suara Sang Gembala. Sedemikian panggilan-panggilan, suara-suara domba memanggil harus kita pekikkan kepada sesama “domba-domba” yang lain, sebagai wakil Sang Gembala kita wajib bersuara, sehingga yang dalam dirinya tertanam “roh domba”, akan merespon, dan akan menemukan kebangkitan di dalam NamaNYA.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.