Buktikan padaku

Desember 31, 2013 pukul 9:33 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Kata-kata yang paling menggelitik di dunia sekuler sekarang adalah..”Mana buktinya“.
Bahkan sekiranya kita memberi “bukti”, atau katakanlah sanggahan, maka paling-paling akan dibalas dengan seruan: “Tapi itukan iman…“.

Mungkin reduksi kata “iman”, sedikit dipraharakan dengan kata “meyakini”.
Kita, orang percaya, meyakini bahwa Alam semesta diciptakan ALLAH.
Kita, para murid sekolah, atau katakanlah pengagum fisika, meyakini bahwa rumus energi adalah E = mc2
Kenapa disebut meyakini?, karena dua “kita” di atas tidak menyaksikan sendiri perihal object yang diyakini, melainkan diterima sebagai suatu kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Meyakini, kita tahu itu benar, jadi tidak usah diganggu gugat.

Atau dalam istilah penemu, banyak penemu. Nama-nama disematkan untuk mengingat penemu-penemu itu.
Oleh karena suatu temuan tertentu, maka seorang akan terkenal, dan tidak perlu lagi seorang yang lain mengerjakan hal yang sama untuk menemukan hal yang sama.
Sederhananya, si A menemukan A, jadi tidak perlu si B bekerja keras untuk menemukan A, karena A sudah ditemukan si A.
Si B hanya bisa meyakini bahwa si A telah menemukan A, mungkin hanya dalam mengolah beberapa pola saja sampai si B menemukan B dari pengembangan A oleh si A. Katakanlah si B mengkorfirmasi temuan si A.

Gampangannya lagi, kita tidak musti membawa laboratorium tingkat mutakhir untuk selalu meneliti kadar nasi, supaya dapat dimakan 3 kali sehari, ya toh?, yakini saja bahwa nasi adalah makanan sehari-hari, khususnya di Indonesia.

Iman Kristen dalam banyak hal didasarkan pada pola ini.
Kita perhatikan tulisan Rasul Yohanes berikut:

1 Yohanes 1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Bukankah itu pola-pola yang digunakan para penemu, dalam kolom ilmiah yang akan ia gunakan dalam mengungkapkan suatu argumentasi modern?
Ya betul, mereka mendengar, melihat, meraba, … mengolah data-data dalam statistik-statistik, rumuspun tercipta dengan pendekatan-pendekatan segresi…
Kita tinggal menggunakan hasil temuan itu, tanpa harus menjadi “penemu lagi”.

Jadi didasarkan oleh buktilah pondasi Kekristenan didirikan,….
Yakinilah hal itu,… tetapi Kristen adalah antikemapanan, kita tidak bisa stagnan di titik itu saja, kita harus jauh menyelami keyakinan itu, sampai bisa ke dalam konteks kekinian, yaitu kita turut serta merasakan, mendengar, meraba… tentang Firman Yang telah menyelamatkan itu.

Anak-anak tidak usah dibawa-bawa dalam ranah penemuan smartphone tercanggih, selain menerima bahkan beberapa game ia mainkan di sana, sudah ada khusus team lain pengembang smartphone. Artinya ada memang beberapa orang yang tidak usah repot-repot menanyakan bagaimana sesuatu itu bisa ada, melainkan realistis dengan keadaan itu, lalu menggunakannya sedemikian rupa.

Jadi kalau ada kata: “Buktikan padaku”….
Apa yang perlu dibuktikan, semua sudah terbukti,…

Jikalau semuanya harus diperjelas, satu-satunya cara adalah melalui perbuatan kita, kita tunjukkan karakter kita sebagai bukti bahwa TUHAN ada di dalam kita.

Yohanes 10:37-38 Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku,
tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”

Orang tidak selamanya bisa melihat ALLAH,… tetapi orang bisa melihat sesamanya, jika sesamanya adalah kita, yang percaya Kristus, maka baiklah orang melihat pekerjaan-pekerjaan kita, Oleh pekerjaan itu iman kita dibuktikan dengan sendirinya.

“Buktikan padaku”, …..

Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Orang tidak selamanya mengerti iman kita, tetapi orang bisa melihat karakter kita..
Bahwa para nabi, rasul dan bapa-bapa pendahulu, telah membuktikan Jalan Keselamatan itu.
Tidak ada lagi cara-cara untuk membuktikan itu selain kita meyakini apa yang sudah benar..

Buktikanlah

YESUS ke Tirus dan Sidon

September 8, 2011 pukul 8:07 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , ,

Jika kita membaca Alkitab, maka ada janji buat Abraham, bahwa keturunannya akan diberikan tanah Kanaan.

(Kejadian 10:19) Daerah orang Kanaan adalah dari Sidon ke arah Gerar sampai ke Gaza, ke arah Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim sampai ke Lasa.

Itulah salah satu batas daerah utara Kanaan pada masa purba di Alkitab. Sidon.
Sebelum bangsa Israel memasuki tanah Kanaan itu, mereka terlebih dahulu mengundi suku-suku dan menetapkan daerah mana yang akan mereka tinggali. “Mengundi” dalam tradisi Alkitab selalu berkaitan/dimaknai dengan keputusan TUHAN yang diutamakan, bukan keputusan manusia. Bahkan di gunung Nebo, sebelum Musa mati, kepada Musa telah diperlihatkan Tanah Perjanjian itu.


(Ulangan 34:1-4) Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, Tanah Negeb dan lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar….

Dan kalau kita sampai kepada masa-masa Hakim-Hakim, masa setelah Yosua mati, maka Sidon tidak pernah dikuasai oleh Israel.
Pada masa Yosua diperkirakan peta Israel adalah sbb:

Tetapi pada masa Hakim-Hakim, dapat kita perhatikan petanya menjadi sbb:

(Hakim-Hakim 1:31-32) Suku Asyer tidak menghalau penduduk Ako, penduduk Sidon serta Ahlab, Akhzib, Helba, Afek dan Rehob, sehingga orang Asyer itu diam di tengah-tengah orang Kanaan, penduduk asli di negeri itu, sebab orang-orang itu tidak dihalaunya.

Terlihat Sidon tidak masuk wilayah Israel.
Bahkan ketika masa kejayaan Salomo, dimana masa itu Salomo memperluas wilayahnya, ia tidak juga pernah mengusai Sidon. Sidon di luar Israel. Pada masa itu Sidon telah dikuasai oleh orang-orang Fenesia.


Pengaruh Salomo yang sampai Damascus tidak berpengaruh ke Fenesia. Daerah itu disebut wilayah Lebanon pada waktu itu.

Bahkan setelah 12 suku terpecah belah oleh dosa-dosa mereka, wilayah Israel dihancurkan oleh penjajah. Dan bahkan oleh ulah jahat keturunan Raja Salomo, Israel Raya terpecah menjadi dua bagian. Utara dan Selatan atau lebih dikenal sebagai Israel dan Yudea.

Pada masa perpecahan oleh penjajah-penjajah, maka Israel telah terpecah belah, dan kemudian dikuasai oleh beberapa kerajaan.
Sekali lagi Sidon tidak masuk wilayah Israel/Yudea lagi. Bahkan Israel sendiri telah terhilang dalam sejarah penebusan. Tanah mereka bahkan telah diisi oleh orang-orang yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Penebusan TUHAN, tanah Israel, yang sering disebut Samaria pada maa YESUS telah sejak dahulu dihuni orang-orang yang disuruh Raja Asyur untuk tinggal disana. Dan dalam masa Ezra kita ketahui mereka ini mengaku menjadi bagian dari orang Yudea, atau orang Israel secara umum dalam iman, karena mereka menyembah ALLAH Israel (Baca Ezra 4:2)

Pada masa pelayanan YESUS, peta Palestina, ya daerah itu telah dikuasai oleh kekaisaran Romawi.

Terlihat hampir seluruh wilayah Israel Kuno telah dikuasai oleh Romawi. Kita tidak tahu bagaimana Romawi membagi wilayah, apakah berdasar sejarah atau hal lain, tetapi pada masa pemerintahan mereka Yudea pernah dijadikan menjadi sebuah Propinsi tersendiri, diperkirakan sekitar tahun 6 M. Tanpa menyebutkan Samaria lagi, yang dapat dipastikan Sidon menjadi bukan bagian dari Yudea.

Peta berikut adalah peta propinsi-propinsi Romawi pada tahun tertentu:

Terlihat bahwa Sidon dan Tirus tidak termasuk pada Yudea lagi, melainkan masuk ke Propinsi Siria.
Berikut peta Propinsi Yudea;

Sejarah yang sangat panjang, hampir 2000 tahun mengatakan bahwa Sidon dan Tirus berada diambang batas Kanaan, tidak lagi termasuk kepada wilayah Israel, Yudea.

Sehingga suatu saat seorang perempuan Kanaan, yang kemungkinan salah satu dari orang yang diangkut orang Raja Asyur untuk tinggal di daerah Israel Kuno, bertemu YESUS …

(Matius 15:22-25) Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.”
Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.”
Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.”

Terkadang kata-kata hanya umat Israel akan sering dipermainkan oleh banyak orang untuk menyelipkan maksud lain, demi kebutuhan allah lain.
Kata bergaris bawah di atas akan dapat dimengerti jika dibaca dalam iman, Israel yang dicari adalah Israel sejati.
Suatu waktu YESUS pernah mengabarkan Injil jauh sampai ke daerah Sidon. Berikut peta pelayanan tersebut:

Jika kita perhatikan maka YESUS berkeliling di wilayah yang bukan wilayah Israel, baik Israel kuno maupun Israel masa itu, bahkan Israel modern sekarang sekalipun.
Peta Israel modern:

Wilayah Sidon dan Tirus masuk wilayah Lebanon.

Bahwa YESUS merespon wanita kanaan itu oleh karena imannya, dan karena YESUS ternyata juga melayani sampai jauh ke Sidon dan Tirus (bulan wilayah Israel), maka kita dapat mengerti dan sedemikian oleh iman dapatlah juga kita semakin jelas memahami oleh makna dari tulisan di Kitab Perjanjian Baru berikut:

(Roma 2:29) Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

Oleh ROH Kudus, yang mengenal segala pikiran dan hati dan dapat memilah pertimbangan-pertimbangan seseorang, IA dapat mencari dan mengumpulkan kita Israel Sejati. IA adalah Penginjil Ulung, dapat dipastikan oleh pekerjaan ROH KUDUS-lah Perjanjian Baru dapat ditulis, oleh DIA-lah segala pengajaran YESUS dapat diingat kembali oleh murid-murid yang kemudian menuliskan Kitab Injil.
Dan ROH KUDUS, ROH PENGINJIL, masih dan akan masih ada bersama kita, meraih, membuka, mengetok setiap kita yang mengenal DIA dalam ROH dan Kebenaran.
Jika YESUS sampai ke Sidon dan Tirus, jauh dari Israel, maka ROH Kudus telah menjangkau sampai ke ujung-ujung dunia.

Pada masa Penginjilan pertama oleh murid-murid pasca kenaikan YESUS ke sorga, oleh Roh KUDUS ditambahkan orang-orang yang percaya kepada YESUS hampir 3000 orang, dan daerah mereka mencakup daerah-daerah yang luas, dari ujung timur Israel, daerah Mesopotamia sampai Elam (Iran sekarang), sampai ke ujung Barat (daerah Romawi) dan ke selatan (daerah Mesir, dan Arabia)

(Kisah Para Rasul 2:9-11) kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.”

Yang digaris bawahi harus diperhatikan baik-baik, bahwa target penginjilan Roh KUDUS yang diutus oleh KRISTUS, mencakup seluruh orang, seluruh dunia, sampai Maranatha.

Inilah wilayah yang sementara dijangkau oleh Penginjil Agung, paling tidak sampai sekarang, dan semoga persatuan cara pandang iman semakin diperlihatkan dan bukan hal-hal yang duniawi:

Karena di dalam ROH dan Kebenaran, maka kita harus membaca dalam roh, dalam iman. TUHAN tidak akan sampai bersusah payah mengusai dunia ini dalam bentuknya yang lahiriah, jika suatu saat nanti dunia ini akan IA berhentikan, kiamat. Tetapi karena dunia ini akan berlalu, terbakar habis, maka IA menginginkan kita kembali ke hadiratNYA, kita seharusnya ke sana, yaitu ke Kerajaan Sorga, tempat Israel sejati menyembah dan hanya menyembah ALLAH-nya.

sumber gambar:

http://www.preceptaustin.org,

http://www.bible-history.com,

http://en.wikipedia.org,

d.l.l

Bukan yang itu bosss

September 6, 2011 pukul 8:32 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , ,

Pengetahuan memang penting. Sangat perlu mengajarkan Injil jika dibareng dengan pengetahuan-pengetahuan yang memadai.
Beribadah ke Gereja juga penting, semangat persaudaraan harus ditunjukkan sedekat mungkin, jika saudara kita tidak kita kasihi, bagaimana kita mengasihi orang lain.
Banyak hal lain yang penting, mendirikan Gereja juga penting, kadang-kadang memakai kalung salib juga penting, sebagai penanda bahwa kita sudah percaya kepada Kristus.
Membaca Alkitab juga penting, untuk melihat pekerjaan TUHAN atas kita.
Banyak hal penting yang dapat kita lakukan sehingga orang lain dapat berkata: “Ohh dia itu orang Kristen”.

Kristen di sini bisa dipandang sebagai agama maupun sebagai cara hidup di hadapan TUHAN.
Kristen disebutkan kepada orang yang percaya kepada Kristus, karena percaya maka mereka mengikuti Kristus. Diikuti karena DIA adalah TUHAN.

Kristus memuridkan, sehingga pengikutNya juga harus memuridkan. Itu juga penting.
Dalam hal memuridkan berarti ada dampak sosial, bahwa murid-murid harus berhadapan dengan yang tidak murid. Murid menjangkau yang belum murid, sehingga sekiranya Roh TUHAN bekerja maka hati yang membuka ketokan Kristus, murid barupun akan mensukakan sorga dan dunia. Satu orang bertobat sorga bersuka ria, kata Kitab Suci.

Ada berbagai cara untuk dapat memuridkan. Dan pondasi utama adalah kembali ke “laptop”, yaitu kita benar-benar mengikuti Kristus.

(Yohanes 13:3435)
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

Pertanda utama dari pengakuan kita sebagai pengikut Kristus, Kristen, bukanlah kemampuan kita melakukan hal-hal yang relijius, tetapi jika kita saling mengasihi.
Dan karena ini sangat penting maka sampai tiga kali kata “inilah tandanya..” diulang-ulang oleh Penulis 1 Yohanes, yang semuanya mengatakan tentang perintah untuk mengasihi.

(1 Yohanes 2:3-4) Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.

(1Yohanes 3:10-11) Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.
Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi;

(1Yohanes 5:2) Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.

Mengenal ALLAH identik dengan menuruti perintahNYA, dan perintah YESUS adalah mengasihi.
Mengasihi adalah identik dengan menuruti perintahNYA, dan mengenal YESUS adalah menuruti perintahNYA.
Menuruti perintah ALLAH identik dengan mengasihi, dan mengasihi ALLAH adalah pokok/hukum yang terutama.

Gedung gereja bisa megah dan menjulang, tetapi kalau tidak ada kasih, maka bukan itu murid YESUS.
Salib besar dari emas dan permata di leher tetapi kalau tidak ada kasih, maka bukan itu murid YESUS.
Semua yang bersifat duniawi kalau tidak ada kasih, maka bukan itu bosss.

Kaleb anak Yefune

Agustus 24, 2011 pukul 9:22 am | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , , ,

Kaleb yang kita bicarakan di sini adalah Kaleb si pengintai. Jika demikian maka Kaleb ini umumnya disebut sebagai Kaleb bin Yefune, atau Kaleb keturunan Yefune dari orang Kenas.

Kenas ditekankan di sini untuk menjelaskan asal muasal darah, atau kemanusiaan dari Kaleb. Kita harus kembali mundur sekitar 400 tahun dari masa Kaleb untuk dapat menelusuri asal usul orang Kenas.

(Kejadian 36:11) Anak-anak Elifas ialah Teman, Omar, Zefo, Gaetam dan Kenas.

Dari sini kita tahu bahwa Kenas adalah anak dari Elifas. Dan untuk mengetahui siapa Elifas kita harus melihat ayat di atasnya lagi yaitu:

(Kejadian 36:15-16) Inilah kepala-kepala kaum bani Esau: keturunan Elifas anak sulung Esau, ialah kepala kaum Teman, kepala kaum Omar, kepala kaum Zefo, kepala kaum Kenas, kepala kaum Korah, kepala kaum Gaetam dan kepala kaum Amalek; itulah kepala-kepala kaum Elifas di tanah Edom; itulah keturunan Ada.

Jadi sekarang kita ketahui Elifas adalah anak sulung Esau yang disebut EDOM, dan Elifas melahirkan kaum Kenas, dan seterusnya kaum kenas melahirkan Yefune dan Yefune melahirkan Kaleb. Dan karena masing-masing nama di atas telah melahirkan puak-puak atau mungkin marga-marga, maka sering diambil marga yang paling terdekat, sehingga Kaleb disebut Kaleb bin Yefune orang Kenas.

Dalam Kitab Bilangan disebut seperti berikut:
(Bilangan 13:6) dari suku Yehuda: Kaleb bin Yefune;

Kaleb bin Yefune dari suku Yehuda. Bahkan kalau merujuk ke ayat sebelumnya:
(Bilangan 13:3) Lalu Musa menyuruh mereka dari padang gurun Paran, sesuai dengan titah TUHAN; semua orang itu adalah kepala-kepala di antara orang Israel.,
maka Kaleb bin Yefune orang Kenas keturunan Esau orang Edom telah menjadi salah satu ketua suku dari suku Yehuda keturunan Yakub orang Israel.

Nama kaleb baru timbul pada saat akan memasuki Kanaan. Dalam perhitungan pertama orang Israel di Dekat Gunung Sinai namanya tidak ada. Waktu itu Nahason bin Aminadab-lah sebagai kepala bagi marga Yehuda. Itu karena pada saat sudah di Kanaan usianya sekitar 40 tahun, yaitu ketika ia disuruh menjadi salah satu pengintai. Dengan demikian ia masih balita ketika Israel keluar dari Mesir dan ketika sensus Israel diadakan oleh Musa atas perintah TUHAN di Sinai.

Nama Kaleb bin Yefune selalu ditekankan tentang asal puaknya, yaitu Kenas, kita akan tahu kenapa demikian.
Contoh ayatnya adalah sbb:

(Bilangan 32:12) kecuali Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, dan Yosua bin Nun, sebab keduanya mengikut TUHAN dengan sepenuh hatinya.

(Yosua 14:6)
Bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal. Pada waktu itu berkatalah Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, kepadanya: “Engkau tahu firman yang diucapkan TUHAN kepada Musa, abdi Allah itu, tentang aku dan tentang engkau di Kadesh-Barnea.

(Yosua 14:14) Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.

Beberapa petunjuk mengatakan Kabeb dimasukkan menjadi salah satu bagian dari Israel karena perkawinan kepada salah satu suku Israel (suku Yehuda).
Ada juga yang mengatakan bahwa pada saat Israel keluar dari Mesir ada juga banyak orang yang bukan keturunan Israel ikut keluar, dan mereka-mereka ini dimasukkan bergabung ke suku Yehuda, sehingga tidak menjadi suatu keheranan suku Yehuda melonjak jumlahnya ketika dihitung pertama kali di sekitar Sinai. Suku Yehuda menjadi yang terbanyak dari semua suku Israel yang keluar menuju Kanaan. Dari sekitar lima orang keturunan Yehuda yang masuk Mesir, setelah sekitar 430 tahun di Mesir melonjak menjadi 74.000 orang (tujuh puluh empat ribu orang), dan bahkan setelah dihajar habis-habisan di gurun selama 40 tahun suku ini masih mengalami pertumbuhan, pada saat akan memasuki Kanaan, jumlah mereka menjadi sekitar 76.000 orang. Asal tahu saja itu baru orang-orang yang paling tidak berusia 20 tahun ke atas.

Sering sekali di ALkitab dikatakan bahwa seseorang menjadi “Israel” karena mengikuti ALLAH yang disembah oleh orang Israel. Setelah jaman Musa, maka kita akan menemukannya di Kitab Ruth, ketika salah satu janda anak Naomi mengikuti Naomi ke Betlehem tanah Yehuda dengan mengatakan: “Allahmulah Allahku”. Dia menjadi bagian dari iman yang diwarisi oleh karena iman, karena dilahirkan dari ROH yang sama.

Sedemikian juga Kaleb bin Yefune orang Kenas keturunan Esau orang Edom, karena ia takut dan percaya kepada TUHAN, Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub maka ia diperhitungkan sebagai salah satu keturunan Israel, bahkan dianggap sebagai kepala suku dari suku terbesar yaitu Yehuda. Karena iman ia menjadi anak cucu Abraham. Sehingga janji kepada Abraham tentang banyak keturunan kembali dingatkan kepada kita. Oleh Iman Abraham menjadi bapa kita. Menjadi bapa kita karena imannya turun kepada kita, sekali lagi itu karena dilahirkan dari ROH yang sama.

EDOM atau Esau (mungkin diucapkan Isa) menjadi ejekan dari beberapa orang Israel karena menyepelekan janji TUHAN, karena lemah, karena imannya tidak ada, tetapi ketika salah satu keturunannya dipilih TUHAN, dan mempercayai TUHAN maka ia dicangkokkan kepada YEHUDA, kepada Israel, bahkan karena kegigihannya dalam mempercayai janji ia dipercayakan sebagai kepala suku. Karena iman. Ia memiliki iman dan ia buktikan dengan gigih, salah satu contoh adalah ketika 10 pengintai lain kecut, maka karena seolah ia telah menggenggam Kanaan karena percaya Janji TUHAN atas Kanaan kepada keturunan Abraham, maka ia berani berkata: “Majulah, TUHAN telah menyerahkannya kepada kita”.

Sebuah ironi tentunya, keturunan Yakub (Israel) secara daging malah binasa di padang gurun iman, sementara keturunan Israel karena iman (Israel sejati, bandingkan dengan Roma 2:9) mendapat hidup dan kuasa.

Kaleb menjadi sebuah pelajaran bahwa: “TUHAN mencari dan menyebarkan kasihNYA kepada hanya dan hanya kepada ISRAEL”.

Iman melahirkan ketekunan

Agustus 8, 2011 pukul 8:47 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , ,

(Kejadian 50:23 [ITB])
Jadi Yusuf sempat melihat anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga; juga anak-anak Makhir, anak Manasye, lahir di pangkuan Yusuf.

Efraim artinya adalah berbuah duakali lipat.
Jika menilik Ayat di awalnya, kita dapat mengerti kenapa anak kedua Yusuf diberi nama Efraim.
Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.”
(Kejadian 41:52)

Yusuf menyebut Mesir sebagai negeri kesengsaraan. Padahal kita tahu ia di Mesir adalah seorang “bangsawan”. Ia mendapat perlakuan yang baik dari “atasannya” dan juga dari rakyat Mesir kala itu.
Tepat, ia memang mengalami semua itu, tetapi dalam iman ia sadar bahwa mereka, bangsanya, sebenarnya adalah dalam negeri pengasingan.

Kedekatan dia dengan Yakub ayahnya, dan menurut beberapa ahli Perjanjian Lama, Yusuf yang sering ditinggal oleh saudara-saudaranya kala masih tinggal di Kanaan, membuat ia sering diceramahi oleh kakeknya Ishak dan tentu Yakub sendiri. Bukan sembarang ceramah, tetapi ceramah mengenai janji ALLAH yang dituturkan dari nenek moyangnya mengenai tanah Kanaan, dari Abraham, turun ke Ishak dan sekarang turun ke ayahnya, Yakub.

Iman sehebat itulah yang dapat kita lihat pada Yusuf sampai-sampai keberadaannya yang nyaman sebagai bangsawan disebutnya sebagai negeri kesengsaraan. Meski mereka sekarang sedang dipengasingan, dan sepertinya belum ada titik terang kapan bangsanya kembali ke Kanaan, ia tetap beriman, bahwa pada waktu TUHAN janjiNYA akan ditepati.

Dan oleh iman seperti inilah ia dapat berkata dengan bijaksana, ketika saudara-saudaranya yang menjual dia berjumpa lagi dengan dia.

(Kejadian 50:20 [ITB])
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Iman tanah Perjanjian membuat dia percaya bahwa walau jalan apapun yang dianggap orang adalah penderitaan dan kesengsaraan dan kemustahilan, dalam TUHAN, dapat direkakan menjadi kebaikan. Sebab TUHAN beserta kita, Imanuel.

Memaafkan dan melupakan adalah sepaket, kata Charless R Swindoll. Itu kita lihat dari Yusuf. Ia tekum menjalani segala “jalan berliku”, karena ia memiliki iman. Ia belum melihat bagaimana caranya bangsanya kembali ke Kanaan, Tanah Perjanjian, tetapi ketika ia mau meninggal ia berkata, “Kalian harus membawa tulang belulangku kembali ke Kanaan”. Karena ia yakin bahwa bangsanya suatu saat nanti pasti kembali ke Kanaan.

Kembali ke Efraim. Pada saat Yakub akan meninggal ia terlebih dahulu memberkati cucunya. Efraim dan Manasye, dua-duanya adalah anak Yusuf. Manasye adalah anak pertama, dan Efraim adalah anak ke dua. Yusuf menghadapkan dua anaknya itu kepada Yakub, ia mengurutkan mereka sesuatu kesulungan lahiriahnya. Tetapi Yakub menyilangkan tangannya, dan menyerahkan hak kesulungan kepada Efraim. Yusuf awalnya “protes”, tetapi Yakub berkata: “Aku tahu Yusuf”. Ada apa?, sebab Yakub telah melihat di dalam iman jauh ke depan, sehingga ia memberkati Efraim sebagai yang sulung.

Dari kutipan di atas dapatlah kita lihat salah satu buktinya. Suatu waktu TUHAN berjanji bahwa keturunan Yakub/Israel akan banyak. Dan kalau kita perhatikan Yusuf, ia sampai melihat keturunan ke tiga dari anaknya Efraim, dan kemungkinan besar lebih diberkati ketimbang dari Manasye. Dan untuk lebih hebatnya lagi, kedua anak Yusuf malah dihargai Yakub sebagai anaknya, dengan memberi “marga” baru bagi Israel, Efraim dan Manasye.

Efraim melahirkan anak cucu, dan kita tahu bahwa keturunan kesekian dari Efraim adalah panglima perang Israel yang gagah berani, sekaligus pengganti Musa, Yosua. Beberapa penulis Alkitab menulis nama Yosua sebagai Yehoshua, Yesohua, Yesua, atau Oshea (Hosea). Beliaulah yang menyeberangkan bangsa Israel menuju Kanaan. Tanah yang dirindukan Musa, tetapi tidak dapat ia injak/masuki.

Anak cucu Efraim dekat dengan Yusuf, dan mereka dapat kita pastikan selalu diwarisi tentang Perjanjian TUHAN, TUHAN yang dikenal dan menyebut Nama DiriNYA menurut nama nenek moyang mereka, yaitu ALLAH ABRAHAM, ALLAH ISHAK, ALLAH YAKUB.

Jika saya dapat berspekulasi, maka iman Yusuf yang ditaburi kepada anak cucunya, dan diteruskan kepada generasi selanjutnya, itulah yang tertanam pada Yosua, sampai-sampai hanya Yosua dan Kaleblah yang gagah berani mengatakan, “Kanaan telah diserahkan TUHAN kepada kita”, meski mereka sadari Kanaan kala itu sedang dikuasai oleh orang-orang yang perkasa, bersenjata lengkap, tangguh dan mengerikan.

Ketekunan didapat karena ada Janji yang akan sedang dinyatakan kepada kita, pasti akan ADA/TERJADI meski kita belum dapat menggenggamnya sekarang, belum nyata. Dan karena kita yakin PASTI ADA/TERJADI maka kita menantikannya dalam iman. Iman melihat dengan nyata, dan kita melihat dengan nyata karena dicangkokkan kepada JANJI yang sama dari bapa-bapa iman kita. Iman melihat dengan nyata, seperti bapa-bapa leluhur melihat dengan nyata akan Tanah Perjanjian meski jalan berliku-liku di hadapan mereka, dan karena melihat dengan nyata maka ada keberanian untuk mengggapainya, dan karena waktu TUHAN adalah waktu kebijaksanaan, maka kita menuggu dengan tekun. Orang beriman adalah orang yang tekun menanti waktu TUHAN. Dan kesabaran menanti dalam iman itu melahirkan ketekunan.

Allamaaak bagaimana ini?

Agustus 2, 2011 pukul 7:38 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , ,

Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?”
(Markus 8:4)

Jika rencana TUHAN sudah begitu jelas di depan mata, maka perkara-perkara mustahil akan dapat kita lihat nyata dalam hidup kita.

Sekian kali memang kita selalu diingatkan, bahwa memang “di luar” sana ada suatu hal yang sama sekali “bekerja” di luar hal-hal yang biasa yang dapat terima akal, kita menyebutnya dengan kalimat sederhana, luar biasa, di luar kebiasaan.

Dalam perumusan-perumusan matematis untuk mendapatkan pedoman-pedoman fisis maka selalu ada “partikel-partikel” nisbi atau menuju nol yang dihadapkan, sehingga sesuatu yang begitu amat sangat kompleks menjadi terlihat sederhana, dapat ditelaah.

Perlu memang ditanamkan, pada perhitungan yang diharapkan seakurat mungkin di jaman modern ini, bahwa selalu ada faktor X yang harus diperhitungkan. Group sepak bola yang dianggap hebat, ternyata bisa saja kalah dengan team yang baru promosi. Itu contoh kecilnya.

Dalam segi memandang pesimis untuk menyelesaikan masalah yang mustahil, maka umumnya orang batak di Medan, atau orang Medan saja, akan berteriak: “Allammaaak bagaimana ini”.
Itu ungkapan ketidaksanggupan, ketidakmampuan, atau bisa jadi ketidakrelaan kita membuka jalan lain.
Sama seperti murid-murid YESUS, ketika mereka akan sedang merencanakan “resepsi” kotbah YESUS di tempat sepi. Orang sangat banyak, dan mereka sedang berada di tempat yang sunyi senyap (alias jauh dari pasar dan sejenisnya yang sanggup menyediakan makanan instan, lagipula mana sanggup “gerombolan” kecil ini membiayai orang sebanyak itu),… sekali lagi: “Allamak maccammana pulak ini”. Untuk logat untuk lebih kentara tentunya.

Sementara para murid yang nyata-nyata melihat YESUS masih saja berteriak begitu, apalagi kita yang tidak dapat melihat dan hanya dapat merasakan dalam iman, ya toh?

“Bagaimana kamu mengasihi ALLAH yang tidak dapat kamu lihat, sementara saudaramu sendiri yang dapat kamu lihat tidak kamu kasihi”… itu sebuah kalimat keras dari Kitab Perjanjian Baru.
Meski tidak melihat dengan mata kepala, tetapi jika kita percaya, dalam iman, kita malah bisa diperhitungkan sebagai yang didahulukan, sebab ada juga tertulis “yang belakangan didahulukan”, atau ada juga tertulis: “berbahagialah mereka meski tidak melihat tetapi percaya”.

Tidak ada bahagia yang terbesar kalau kita paling tidak dapat merasakan salah satu dari sekian perkara mustahil yang menjadi kenyataan dalam hidup kita bukan?.
Carilah perkara-perkara mustahilmu, lalu lihatlah rencana TUHAN didalamnya, bisa jadi mukjizat sedang akan terjadi, dan kemudian saking bahagianya kita berteriak: “Allamaaakk ruaar biasa kali TUHAN ini BAH”.

Ketika kesaksian kita membutuhkan penerjemah iman

Januari 11, 2011 pukul 8:17 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: ,

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.
(Matius 28:1)

Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.
(Matius 28:8)

Ada sebuah dasar, 2 atau 3 orang saksi maka suatu perkara dapat dikatakan sah..
bicara saksi, kita jangan sampai terkontaminasi dengan pengertian saksi yang berdusta, meski ada potensi untuk berdusta, tetapi seseorang dikatakan saksi maka “kepercayaan” dapat disematkan kepada dia.

2 atau 3 Maria menjadi saksi kebangkitan YESUS,…
jadi dalam konteks ini, KEMATIAN dan KEBANGKITAN YESUS itu sudah sah dan benar-benar terjadi.

Namun, ketika saksi ini disuruh untuk menyaksikan kepada murid-murid yang lain ada “setting” yang harus dilalui. Bahwa ternyata mereka adalah perempuan, dan kita harus mengerti bagaimana kedudukan perempuan pada budaya tradisional ketimuran, apalagi kebudahaan suku-suku Yahudi pada masa itu.
Dan jangankan seperti itu sampai sekarang atas dasar kebudayaan, perbuatan dan tindak tanduk orang yang menamakan dirinya Kristen maka kesaksian KEMATIAN dan KEBANGKITAN Kristus akan terus dipertanyakan, padahal KEMATIAN dan KEBANGKITAN itu sendiri sudah jelas dinyatakan saksi awal (2 atau 3 Maria) itu telah terjadi, benar dan akurat…
Sehingga kesaksian yang terkadang lemah oleh karena “wajah”, atau karena perilaku saksi-saksi tertentu itu harus diterjemahkan oleh iman. Iman kita menjadi pondasi dan dasar yang kuat, iman di dalam TUHAN, yang kita kenal di dalam Nama YESUS KRISTUS, TUHAN YANG MULIA.

Jika murid-murid beriman kepada YESUS pra kebangkitanNYA, maka tidak perlu mereka menerjemahkan secara apappun lagi ketika menerima kesaksian 2 atau 3 Maria,… tetapi apa yang terjadi telah memberikan gambaran kepada kita, bahwa memang manusia pada umumnya terlebih dahulu menerjemahkan sesuatu dengan logikan dan perasaan, politis, kebimbangan dan lain lain ketimbang menerjemahkan dengan iman.

Jika ada orang yang tidak bisa menerjemahkan kesaksian kita, ada kemungkinan lain, salah satunya adalah bahwa beliau tidak ada iman di dalam TUHAN. Keraguan dan kebimbangan bisa dijawab jika ternyata diri kita sendiri menjadi saksi kesekian. Tetapi kita tidak selalu bisa menjadi saksi jika iman tidak ada. Karena iman Thomas pada akhirnya bersaksi dan tunduk di bawah kaki YESUS. Tetapi jika sedikit iman tidak ada maka pada akhirnya kita akan menghujat Yang Kudus di Sorga.

Imanmu harus dikerjakan

September 21, 2010 pukul 2:03 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag:

(Iman 11:1 [ITB])
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

YESUS adalah iman kita, sebab DIA adalah dasar harapan kita, dan IA adalah bukti dari segala sesuatu dari yang tidak kita lihat…IA adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, dan karena IA adalah Jalan dan Hidup maka kita ada harapan untuk bisa bertemu ALLAH, kita belum melihat segala sesuatu, tetapi karena saksi-saksi terlebih saksi ROH adalah kuat bahwa YESUS telah duduk di sebalah kanan BAPA, artinya YESUS telah berkuasa, ESA kembali dengan ALLAH setelah manusiaNya dibangkitkan dari mati, maka oleh Jalan itu kita dapat menjadi Semua di dalam Semua.. IMANUEL… Karena KRISTUS telah memulai maka betapa besarnya keyakinan dan percaya kita dan dasar kita itu…

Seperti Nama TUHAN, bukan seperti nama manusia yang tidak berkuasa, tetapi Nama TUHAN memiliki tenaga, kuasa, dan bekerja…yang hajya dapat dijelaskan singkat sebagai “IA ADA”, dan berotoritas dengan Nama “AKU ADALAH AKU”, dan benar-benar hadir di dalam kehidupan kita dengan Nama “ALLAH ABRAHAM, ALLAH ISHAK, ALLAH ISRAEL”… d.l.s…

..sehingga, iman yang dianugerahkan kepada kita yang dikerjakan oleh ROH ALLAH, harus juga dikerjakan, supaya lengkap hakekat dari tenaga, kuasa dan kerja Kristus di dalam kita…

(Yakobus 2:17-18 [ITB])
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

dan akhirnya keberadaan kita itu dapat dilihat, kasih kita dapat memancar, dan pengharapan kita jelas, dan semoga bukan karena dapat dilihat oleh manusia tetapi sebaiknya dan hakekatnya dilihat oleh Bapa, ALLAH kita.

(1Tessalonika 1:3 [ITB])
Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

Ketika kita dibawa pulang

Juli 8, 2010 pukul 12:44 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: ,

(1Petrus 2:25 [ISH])
Dahulu kalian seperti domba yang tersesat, tetapi sekarang kalian sudah dibawa kembali untuk mengikuti Gembala dan Pemelihara jiwamu.

Alkitab memberi gambaran yang sangat jelas akan Ada-nya TUHAN. Apa yang terjadi pada orang-orang, tokoh-tokoh Alkitab adalah sebagai bukti kepada kita bahwa TUHAN juga akan menjawab doa-doa kita di masa kini, bagi doa-doa orang sepanjang jaman. ALLAH adalah kasih, Yochana, dan karena setiap manusia berbeda dan unik dan TUHAN adalah Maha, maka terkadang orang bisa salah mengerti bagaimana caranya DIA menangani masing-masing individu, yang bisa dipandang kontradiksi oleh orang yang tidak memiliki kasih. Kasat mata, tanpa rohaniah, ALLAH yang menolong Ayub bisa dikatakan “lain” dari ALLAH yang menolong Yunus, ALLAH yang menjawab doa Petrus bisa dianggap “lain” dari ALLAH yang melihat dosa Ananias dan istrinya Safira, dan sebagainya dan seterusnya, tetapi Shema telah kuat dan kokoh, bahwa TUHAN Allah kita adalah Esa.

Jika Nuh dapat pertolongan, maka Abraham beriman juga bahwa ia akan mendapat pertolongan seperti Nuh, jika Abraham mendapat pertolongan, maka Ishak mengimani hal yang sama bahwa ia akan mendapat pertolongan seperti Nuh dan seperti Abraham, Yakub, …Israel… dan seterusnya, ya semua mereka memiliki iman.

Iman bukan meletakkan tubuh,roh dan jiwa pada kalkulasi, kepada kebijaksanaan, kepada apapun produk dunia ini,… apa yang dihasilkan manusia memang bisa menjawab segala pertanyaan, tetapi hanya sementara saja, akan timbul pertanyaan baru… dan seterusnya dan sebaliknya, tetapi iman memberi landasan yang kuat yaitu DIA YANG KEKAL adalah jawaban segala sesuatu, karena IA MAHA TAHU maka IA bisa menjawab segala sesuatu, kita memang terkadang tidak bisa melihat jawaban TUHAN, tetapi oleh iman kita percaya itu ada, dan bisa jadi baru dinyatakan jauh setelah kita meninggalkan dunia ini… itulah yang dimiliki Abraham, iman,… itulah yang dimiliki Ishak, iman… itulah yang dimiliki Yakub, iman…. itulah yang seharusnya kita warisi… iman, yaitu berani memandang ke sesuatu yang tidak terlihat, yang TUHAN sediakan,…. kita bisa langsung meluncur ke (Ibrani 11:1) Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Landasan kita adalah iman, kenapa? karena iman mengatakan kepada kita untuk selalu berkomunikasi dengan TUHAN, bukan memerangi logika kita dengan logika sendiri, bukan mengadukan perasaan dengan ratio, bukan memperlebar catatan-catatan mengenai kalkulasi rugi dan untung, bukan perkara banyak menyimpan akan kaya, bukan kalkulasi itu, bukan air menjadi teh, bukan itu semua, bukan perkara seberapa pengetahuan kita mengenai Kitab Suci, seberapa lama kita berkecimpung di dunia relijiusitas, bukan perkara banyaknya pengetahuan tentang ALLAH, bukan soal agama, tetapi perkara kita meletakkan segalanya kepada DIA Yang adalah PENCIPTA,.. jika kita percaya IA SANGGUP menjadikan matahari dari ketiadaan matahari, apa susahnya bagi DIA untuk menyelesaikan pertanyan-pertanyaan yang membuat engkau gundah? apa susahnya bagi DIA menolong masalah keuangan? apa susahnya bagi DIA menolong masalah keluarga? dan sebagainya, IA PENCIPTA,… IA JUGA PENYEDIA, IA bukan allah yang buta yang tidak bergerak, IA ALLAH YANG mau bekerja, IA ALLAH YANG berfirman tetapi juga turut serta merasakan keadaan kita…. Itulah ALLAH KITA,…. tempat kita menyandarkan tubuh, roh, dan jiwa kita,…. itulah iman,… sebab ALLAH tidak terlihat, tetapi dengan iman kita bisa melihat kegemilangan yang IA sediakan buat kita….

Alkitab telah mencatat itu semua, karena ALLAH adalah kasih, maka Alkitab menuliskan banyak perjalanan hidup dari orang-orang yang berbagai tipe, dari rakyat jelata sampai penguasa-penguasa kerajaan… bukti begitu banyak, jadi jangan ragu untuk memalingkan wajahmu kepada KASIH Yang IA sediakan sejak kekal ke kekal…

Dan karena kita bukan anak gampangan, maka TUHAN juga mempunyai cara untuk mendewasakan kita…kalau manusia telah melawan, TUHAN memiliki cara untuk menyelesaikannya…
IA memilih satu bangsa untuk menyelamatkan DUNIA,… ISRAEL…yang daripadanya MESIAS dilahirkan, IA adalah Gembala untuk suku-suku bangsa yang telah sejak dahulu kalau “merantau” dari damai sejahtera ALLAH, yang berjuang untuk hidup demi alasan-alasan fana, demi menyambung nafas hidup di dunia, …. sedemikian lama Israel memiliki iman seperti itu, saking jelasnya mereka melihat Masa Kristus yang akan datang itu, mereka rindu berada satu masa denganNYA,… mereka merana karena rindu…iman yang luar biasa…

Sekarang semua sudah ada, semua sudah tersedia, kita tidak melihat apa yang terjadi, tetapi oleh iman, kita memiliki dasar yang kuat, bahwa apa yang terjadi di masa yang lampau, kita juga akan beroleh hal yang sama….dan apa yang dijanjikan kelak kita dapat memilikinya, kita tidak melihatnya, tetapi kita memegangnya sebagai pengharapan yang hidup,… ya jiwa kita merana akan rindu bertemu dengan YESUS yang duduk di Singgasana KerajaanNYA, SORGA KEKAL….

sehingga kita pun bisa mengurangi gundah kita, apa gunanya kita mengerti semua jawaban-jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaan fana kalau ternyata tidak ada iman, apa gunanya kita merangkul begitu banyak pengetahuan kalau ternyata tidak ada iman…karena Sang Penjawab adalah TUHAN, maka berhubunganlah denganNYA….Karena dulu kamu, bahkan kita, tersesat, bukankah Israel anak Ishak, bukankah Yakub anak Ishak anak Abraham, tetapi oleh persatuan iman, oleh kesatuan roh yang dilahirkan dari ROH YANG SATU, maka kita menjadi Israel baru, Israel sejati, anak Abraham….dan kitapun menjadi anak-anak ALLAH, anak-anak yang menjadi satu di dalam Penggembalaan Sang Gembala. Dan karena kita adalah anak-anak ALLAH, maka itulah yang disebut dengan dibawa pulang, sama seperti Adam dahulu disebut anak Allah,… ketika ia berdosa, ia “merantau” ke gunung pasir kegersangan rohani,… dan setelah itu TUHAN kembalikan kehausan itu kepada kepuasan minuman rohaniah….maka marilah memiliki iman, karena iman mengajari kita untuk selalu berhubungan dengan ROH ALLAH, bukan dengan dunia……dan kitapun disebut sebagai orang yang dibawa pulang… jika kita berani percaya kepada sesuatu yang tidak dapat kita lihat itu…

Itu Baik

Juni 25, 2010 pukul 1:41 am | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , , , ,

(Yakobus 2:19 [ITB])
Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

Sepanjang pasal dua Yakobus menulis nasehat-nasehat yang sangat berat, keras, tegas, mendidik dan mengajar…

Singkat cerita, siapa saja bisa menjadi Kristen, pengikut Kristus, atau jika itu terlalu berat buat dia, siapa saja bisa mengaku bahwa ALLAH adalah ESA, dan tidak ada yang setara dengan DIA,…yang bahkan setan-setan, roh-roh gentayangan, iblis, percaya dan gemetar akan DIA,…
apapun status itu, jika tidak ada perbuatan, semuanya hanya pemanis bibir saja… sama seperti iblis, sama seperti setan-setan, sama seperti si ular beludak.

Salah satu contoh yang diberikan Yakobus adalah:

(Yakobus 2:16 [ITB])
dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

Kalau kita percaya dan menjadi penganut agama yang damai, tetapi kelakuan kita tidak ada damai, apa gunanya itu?
Kalau kita percaya dan menjadi penganut agama yang kasih, tetapi kelakuan kita tidak ada kasih, apa gunanya itu?

dan lain sebagainya…

Anda mengetahui damai, Anda mengetahui kasih, dan lain sebagainya, itu semua baik, itu baik, tetapi apa gunanya itu jika hanya dipengetahuan dan bukan dilakukan. Dibuktikan, dipraktekkan, dilaksanakan.

Aku adalah terang adalah cahaya, katamu, tetapi jika ternyata kegelapan yang ada, artinya kamu adalah pendusta, dan pendusta sudah dekat kepada kebinasaannya.

(Lukas 6:46 [ITB])
“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

Apa yang Yesus katakan, diulang dan ditegaskan oleh Yakobus, demikian

(Yakobus 1:22 [ITB])
Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

Harap diingat dengan tegas,
(Matius 7:21 [ITB])
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Kehendak Bapa?

(Matius 7:23 [ITB])
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Ya, Bapa menghendaki kita supaya tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat, caranya?
yaitu berlaku benar, seperti Kristus adalah Benar…

(1 Yohanes 3:7 [ITB])
Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;

Ada TUHAN koq semakin menderita?

April 26, 2010 pukul 6:06 pm | Ditulis dalam Pemikiran | 9 Komentar
Tag: , ,

Yesaya berkata: “TUHAN seperti tukang periuk dan kita tanah liatnya”.
Tentu kita tahu prosesnya, bahwa tanah liat harus dilumat-lumat, kemungkinan diinjak malah. Dihancurkan, dihilangkan yang tidak perlunya, dan… untuk hasil akhir harus dibakar, diukir lagi, dipoles, diwarnai… dan sebagainya, semua itu proses yang “menyakitkan”. Masih ada enaknya kalau kita tanah liat, sebab dikasih air bisa melembek dan mudah dibentuknya, bayangkan jika kita adalah batu keras, besi karatan. Tetapi harus diingat, batu yang keras memang memerlukan perhatian khusus, karena hasilnya akan jauh lebih tahan lama dan jauh lebih memukai ketimbang olahan tanah liat, tentu kita harus memandang maksud TUHAN, sebab kita adalah anggota-anggota dengan peruntukan khusus dan unik. Banyak anggota tetapi satu tujuan, yaitu demi kemuliaan TUHAN.

Memikirkan yang sebaliknya tentu sangat berbanding terbalik dengan kasih TUHAN. Dan mengasihani diri sendiri adalah sifat individual yang cengeng. Segala sesuatu pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan, jika kita dimampukan melihat dan menyelami kasih TUHAN.

Karena kita memang dipanggil, terpanggil untuk memikul salib, dan memikul salib membutuhkan latihan, latihan itu akan membuat otot iman yang semakin teguh dan pengharapan yang semakin nyata.

Jadi, di hadapan orang beriman penderitaan, salib, adalah bukti bahwa TUHAN ada, dan membentuk kita,
di hadapan orang lemah penderitaan menjadi batu sandungan…malah bisa bias menjadikan dia jauh dari TUHAN, bagaimana tidak? sebab ia mengasihani dirinya sendiri..

Hukum Taurat-Injil-Yesus

November 2, 2009 pukul 2:39 pm | Ditulis dalam Apologet, Pemikiran, Saya melihat | 2 Komentar
Tag: , , ,

Galatia 3:19-29

Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran–sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu–dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara.

Tidak ada pelanggaran yang diperhitungkan sebagai dosa, jika TUHAN tidak memperhitungkan itu sebagai dosa. Dan karena manusia itu sudah jatuh ke dalam dosa, dan kecenderungan tidak tepat sasaran, dan memang sudah tidak tepat sasaran, maka TUHAN membuat hukum, supaya nyata bahwa apa yang dilakukan manusia itu sudah telah menjadi pelanggaran-pelanggaran semata, moral yang rusak.
Dan semua harus menyadari bahwa standard Hukum itu adalah sebatas TUHAN itu sendiri. Tidak akan ada yang sanggup melaksanakannya. Tetapi kita melihat bahwa banyak manusia, bapa-bapa iman, yang mempoleh hidup. Apakah mereka mendapat itu karena melaksanakan Hukum? BUKAN. Tetapi semua hanya karena kasih karunia. Abraham bukan karena menaati Hukum taurat, karena Taurat belum ada pada saat Abraham, tetapi ia beroleh hidup karena kasih karunia. Sehingga manusia yang mengenal Taurat diharapkan mengenal betapa berdosanya ia, dan betapa besar Kasih Karunia penghapusan dosa yang diterimanya di dalam pengorbanan Kristus.

Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu.

Ketika TUHAN menunjukkan kasih karunia, khususnya bukti penghapusan itu, maka TUHAN sendiri jugalah yang akan melaksanakannya, bukan allah yang lain. Sebab TUHAN adalah ESA. Yesus disebut sebagai pengantara, pengantara buat Yahudi dan pengantara buat Yunani dan pengantara buat semua manusia, karena Ia adalah Tuan. Ia yang memberi kasih karunia kepada bapa-bapa iman sebelum Taurat adalah sama dengan Ia yang memberi kasih karunia di dalam pengurbanan Yesus. Dan manusia tidak dapat mewakili dirinya sendiri, ia tidak dapat, ia tidak sanggup melakukan apapun untuk dapat disamakan dengan standard TUHAN.

Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat.

Hukum Taurat diberikan supaya manusia mengenal standard Kudus TUHAN, dan berakibat langsung kepada mengakui betapa TUHAN memiliki kasih yang luar biasa sampai IA rela menjadi perantara karena TUHAN-lah Kehidupan dan memampukan yang tidak kudus dan benar menerima KUDUS dan BENAR. Artinya kenalilah dosa-dosamu!!! Bagaimaan Anda mengenai dosa? kenallah Hukum!!! Sebesar kutuk yang harusnya Anda terima dari melanggar Hukum itu, sebesar itulah Kasih karunia yang akan Anda terima.

Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.

Artinya Dosa apapun tidak pernah terlewatkan oleh TUHAN, IA tidak pernah tidak melihat bagian paling tersembunyi sekalipun, IA sudah nyatakan semuanya di dalam Kitab Suci. IA jelas sekali melihat keterpisahan kita dari DIA, jadi apakah kita melihat? yang melihat tentu akan mengenal siapa YESUS.

Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.

Abraham adalam bapa orang beriman, ia beriman bahwa kasih karunia hanya ada pada TUHAN, ia tidak melihat Kristus Yesus, tetapi ia yakin dan percaya dan menjadi bukti dari apa yang tidak ia lihat, bahwa Kasih karunia itu nyata. Iman itu telah nyata, di dalam Yesus, maka kita juga harus beriman bahwa keterpisahan kita dengan Allah sudah disambung kembali, itulah kasih karunia yang sama yang didapat bapa Abraham. Keterpisahan itu hanya dapat dilihat jika kita melihat pelanggaran-pelanggaran kita, yang melihat keterpisahannya menjadi penuntun pengenalan akan Kristus

Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

lalu kita memiliki iman yang sama dengan iman Abraham, kita menyebutnya bapa, rohaniah, tentu kita bukan keturunan Abraham secara langsung, yaitu seperti ia beriman atas Kasih karunia hanya dari DIA, Kasih karunia itu telah datang walaupun Abraham tidak melihatNYA tetapi ia percaya, Yesus, maka kita beriman kepada kasih karunia yang kita percaya sudah diselesaikan oleh Yesus, kita tidak melihat Jalan itu, tetapi kita beriman Jalan itu ADA dan kita sudah mendapatkanNYA, tepatnya, kita sudah ditangkapNYA. Apalagi yang kurang dari sebuah iman yang mempercayai ALLAH yang memanggil mereka anak-anakNYA?
.

Tidak dilihat mata

Agustus 20, 2009 pukul 10:30 am | Ditulis dalam Apologet | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,

Bacalah berita sekarang ini. “Yah orang itu sangat baik di mata warta”, dilanjutkan lagi, “mereka taat beragama”.
Itulah tema yang sering kita lihat dan dengar, menjurus ke berita teroris di Indonesia tentunya.

Dari Alkitab PB, BIS:
Ibrani 11:1 Beriman berarti yakin sungguh-sungguh akan hal-hal yang diharapkan, berarti mempunyai kepastian akan hal-hal yang tidak dilihat.

Yah, segala janji TUHAN yang menjanjikan kesejahteraan kita, janji damai dalam kasih Kristus, semuanya itu haruslah dipegang sungguh-sungguh, Tuhan menjamin semuanya bagi kita.
Kita mengharapkan semuanya itu, sebab sudah pasti diberikan bagi orang yang melakukan segala yang baik, segala yang TUHAN perintahkan.
Hiduplah berdamai dengan segala orang, firman Tuhan.
Kita hidup dalam damai, bukan untuk mendapatkan segala janji tadi, tetapi karena kita yakin bahwa pada saatnya semua itu sudah menjadi milik kita.

Janji damai sejahtera di dalam Kristus. Lihat pelan-pelan, banyak janji memang, tetapi hanya satu janji damai sejahtera. Ada janji surgawi tetapi kepuasan duniawi yang ditawarkan, hati-hatilah.
Sebab janji Allah memuaskan hal-hal rohaniah, mencukupi roh kita. Karena itulah semuanya itu tidak kelihatan. Dan yang tidak kelihatan ini tidak dikenal dunia yang serba melihat segalanya. Menang dalam perang itu kelihatan, terusirnya penjajah itu kelihatan, menjatuhkan pemerintahan itu kelihatan, menurunkan pemimpin zalim itu kelihatan. Siapa dapat melihat kemenangan Kristus atas maut di salib?
Siapa dapat melihat kemenangan para martir di tiang gantung?

Kemenangan di dunia yang ditawarkan adalah kemenangan atas diri sendiri.
Roh kita menguasai segala kedagingan kita.
Sehingga pemazmur berkata menguasai diri lebih dari seorang pahlawan yang merebut suatu kota berkubu.
Dan hanya orang rohaniah yang bisa melihat garam dan terang dunia.

Zombie

Agustus 4, 2009 pukul 1:14 pm | Ditulis dalam Pemikiran, Saya melihat | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Iman tanpa perbuatan adalah mati.
Dari perbuatan kita bisa melihat iman seseorang.
Paling tidak itulah yang ditekankan oleh Yakobus dalam Perjanjian Baru.

Tubuh atau daging yang tunduk terlihat dari perbuatan yang sejajar dengan imannya tadi.

Jadi jika kita pengetahui sesuatu, berbuat baik salah satunya, dan tidak melakukannya, maka kita adalah orang mati.
“Orang mati koq bernapas?”, tanya orang lain.
“Ya, ia telah mati, tetapi hidup”.

Tambah pusing toh?..

Zombie, ya namanya Zombie. Dagingnya hidup, tetapi rohnya telah mati.

Dan terkadang pikiran kita bisa melampaui perbuatan kita.
Sehingga sangatlah kita menderita untuk memenangkan roh kita atas suatu pelanggaran.
“Jangan teriak-teriak, jangan marah-marah, dia itu orang tuamu”, bisik hati.
Tetapi pikiran kita keras berkata,”Ia harus menerima semua konsekuensi ini, sebab dia telah mendidik saya dengan tidak benar, ia telah menipu saya, ia telah.. ia telah.. ia telah…”.
Apa susahnya mengingat,”Ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga menyampuni orang yang bersalah kepada kami”. Tetapi oleh pikiran yang melesat kencang dan cepat, iman, bisikan roh, bisa kita abaikan.

Zombie, ya namanya Zombie. Dagingnya hidup, tetapi rohnya telah mati.

“Jika Anda mau hidup, ikutlah Aku”, kata Kristus, “sebab Akulah kehidupan”.
Ya..marilah berjuang untuk hidup, mengikis semua potensi untuk menjadi Zombie.
Jika Anda dikatakan datang kepada Kristus, maka yang datang bukanlah daging/tubuh Anda saja, tetapi jiwa, tubuh dan roh. Lengkap untuk tidak menjadi Zombie.

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.